"Hyung!" Jimin setengah berlari menyambangi sosok kakak tingkatnya. Yang dipanggil menoleh, tersenyum cerah secerah matahari. Mereka tidak begitu dekat. Tapi apa salahnya Jimin bersikap sksd. Hehe.
"Biar ku tebak, Bae Jimin?" tanya Hoseok separuh ragu. Yang di depannya terbahak.
"Pftt Bae Jimin? Ya Tuhan, Yoongi hyung tolong beritahu namaku pada Hoseok hyung" berbicara pada Yoongi sambil mengendikan dagunya pada Hoseok.
"Buat apa? Tidak penting"
Ketus. Ketus. Ketus.
Hampir saja Jimin menerima keketusan kakak tingkat kesayangannya ini, sayangnya Hoseok di sebelahnya malah balik terbahak.
"Sial" gerutu Jimin.
Puk!
Bibir tebalnya langsung saja Hoseok elus dengan topi brandednya. Baru kenal sudah berbicara seenaknya. Dasar anak sekarang tidak tahu sopan santun.
"Watch your mouth" itu Yoongi.
"M-maaf hyung, aku hanya keceplosan. Tidak bermaksud mengatai kalian, serius" Jimin menggigiti bibirnya. Nyalinya ciut, bung!"Jimin! Pendek sialan kau tinggalkan a-" bibirnya terkatup saat berhasil meraih tas Jimin.
Sial Sial Sial
Kenapa bisa ada pujaan hatinya?!
"Uh-m...maaf sunbae. Aku Jeon Jungkook, temannya Jimin" Jungkook hanya bisa menunduk. Hatinya berdetak tak karuan. Lalu ia mendongak sekilas. Ya Tuhan! Hoseok sangat tampan dalam jarak sedekat ini.
"Jungkook? Yang termuda itu?" tanya Hoseok.
"Apa?"
"Apa?"
krik...
"O-oh.. um iya aku yang termuda" ada semburat halus di pipinya.
"Umur berapa?" itu Hoseok lagi.
"14 tahun" lalu Hoseok tersedak ludahnya sendiri. 14 tahun?!
"Aku saja 17tahun"
"Tidak penting, Hos" sindir Yoongi.
"Ingin bicara apa? Cepatlah" ujar Yoongi yang melihat Jimin menatapnya terus. Yoongi jadi risih.
"Memang rejeki, orangnya ikut datang. Ada yang suka padamu, namanya Jeon Jungkook" lalu Jungkook melebarkan matanya dan Yoongi terbatuk kecil.
"Kelas berapa?" tanya Hoseok. Kemudian hening.
5 detik..
10 detik..
"Ohh dia?" sambil menunjuk ke arah Jungkook. Jungkook sendiri kaget bukan main. Dasar Jimin brengsek. Wajahnya merah padam sekarang
"Tak usah malu begitu, jadi makin manis" kata Hoseok sambil menunjukkan senyum manisnya.
Jungkook mengerjap bingung. Apa katanya?
"Jim apa aku tuli?" tanya Jungkook dengan polosnya. Sekali bodoh ya tetap bodoh.
"Tidak, kau buta." cuek Jimin.
Hoseok terkekeh pelan. Kenapa ia baru menemukan yang semenggemaskan ini?
Grep
Hoseok merangkul bahu Jungkook.
"Mau coba jalan denganku hari ini?" tawar Hoseok.
"Karena kau manis, siapa tahu aku suka"
"Apa?" jawab Jungkook. Bodoh sekali adik tingkatnya satu ini. Hoseok terkekeh lagi.
"Apa kau mabuk?" tanya Yoongi pada Hoseok.
"Why? Whats wrong?"
"Did you just ask him to date?"
"Aku hanya menawarinya jalan. Tidak usah cemburu begitu Yoongs" lalu Yoongi membuat gestur meludah.
Sementara Jungkook hanya diam. Apa Hoseok serius?
"Jalan kemana?" tanya Jungkook.
"Ke depan gerbang sekolah" lalu ketiganya tertawa. Jungkook cemberut.
"Hyung tidak usah memberi harapan kalau akhirnya aku hanya ditertawakan" Hoseok terdiam. Mungkin candaannya terlalu kasar tadi.
"Maaf. Aku hanya bercanda. Tapi serius, mau jalan?"
"Ke depan gerbang? Aku bisa sendiri atau bersama Jimin, tidak butuh kau" Ketus Jungkook sambil melepas rangkulan Hoseok.
Hoseok terkekeh kecil. Ya Tuhan, belum pacaran saja sudah ngambek begini. Jadi gemas Hoseok dibuatnya.
"Tempat ringan saja dulu, kedai ice cream" tawar Hoseok. Ia bisa lihat wajah Jungkook sumringah lalu kembali masam.
"Kau yang bayar atau aku?"
"Aku yang bayar, kau bisa makan sepuasnya"
"Hobi kau tidak lupa kan akan ke studio?" tanya Yoongi. Ups, sepertinya ada yang cemburu.
"Tidak, hanya akan sedikit telat" Hoseok sih hanya cengengesan, tak lihat sahabatnya bermuram durja. Tak peka sekali si Hoseok ini. Jimin hanya bisa menghela nafasnya. Sudah ia duga calon kekasihnya ini pasti suka dengan Hoseok.
"Memang mau ngapain di studio?" tanya Jimin yang mendadak oon.
"Main gundu" sahut Yoongi. Ingin rasanya ia mengumpat pada buntelan kentut ini. Memangnya apa yang bisa dilakukan di studio kalau buat membuat lagu dan semacamnya?
Ah bodoh!
"Pfftt" itu suara tahan tawa dari Hoseok dan Jungkook. Berbarengan. Sadar, Jungkook bersemu hangat di pipinya.
"A-ah dasar Jimin bodoh" ejek Jungkook. Sebenarnya ia tak niat mengejek Jimin. Hanya saja ia terlalu malu karena menahan tawa bersama Hoseok tadi. Padahal hanya menahan tawa tapi kenapa rasanya seperti dinobatkan ratu dan raja promnight?
"Jadi jalan?" tanya Hoseok tiba-tiba. Jungkook sampai sedikit terlonjak. Ya Tuhan, Hoseok membuat Jungkook banyak-banyak mengingat Tuhan hari ini.
"Choco atau vanilla?" Hoseok memegang dua cup ice cream dengan rasa berbeda. Ia lupa bertanya tadi apa mau Jungkook. Ia keburu kepanasan lalu buru-buru pesan ice cream.
"Strawberry" Hoseok terdiam. Wajahnya tak terbaca. Jungkook jadi gugup.
"H-hyung vanilla juga tak apa" sambil mengambil cup ice cream rasa vanilla.
"Kau yakin? aku bisa membelin—"
"Tidak usah! Ya, tidak usah" Jungkook mengutuk dirinya sendiri. Duh! Berisik sekali ia.
Hoseok hanya terkekeh. Apa ia terlalu lama di Jepang sampai melewatkan hal yang satu ini?
Keduanya terlarut dalam ice cream masing-masing. Yang satu makan dengan bersih, yang satu lagi belepotan. Tau sendirilah yang belepotan siapa.
"Kau berantakan"
"Hng?" Jungkook melebarkan matanya tak paham. Lalu merapikan rambutnya. Mungkin rambutnya berantakan tertiup angin.
Hoseok menunjuk sudut bibirnya sendiri. Wajah Jungkook memerah. Apa maksudnya? Ia menyuruh Jungkook menciumnya?
Dengan mengumpulkan nyali setengah mati. Jungkook mendekatkan wajahnya pada Hoseok. Dalam hati bersorak-sorai. Kapan lagi ia bisa mencium kakak tingkatnya.
Hoseok terkekeh menyadari kesalahpahaman Jungkook. Ia hanya menunjukkan di bagian bibirnya belepotan ice cream. Kenapa malah ia ingin mencium Hoseok?
sedikit lagi Jungkook, batinnya.
"Mau apa?" tanya Hoseok memecah keheningan. Jungkook langsung membuka kedua matanya. Kaget. Malu. Kecewa. Semuanya campur aduk.
Jungkook menggeleng cepat. Rasanya ia ingin pulang dan menangis di kamarnya. Ia malu setengah hidup. Pertama kali jalan sama doi, langsung salah paha begini. Ia takut Hoseok berpikir aneh-aneh tentang dirinya.
Hoseok bisa melihat sudut mata Jungkook berair. Sebentar lagi akan dibuka juga bendungannya. Salah Hoseok, sih! Seharusnya ia biarkan saja Jungkook menciumnya. Kasihan anak perawan coret bujangan bontot dibikin malu seperti ini.
Sepersekian detik kemudian Jungkook menangis. Tak ada suara, hanya air matanya mengalir deras.
"Kook, maaf aku tidak bermaksud membuat kau salah pah—"
"Aku duluan, terimakasih. Ice creamnya enak" Jungkook menyeka sudut matanya. Sial! Seperti anak gadis saja.
Jungkook menyambar tasnya kemudian berlari meninggalkan Hoseok. Pemuda berlesung pipi itu menghela napasnya. Kemudian mengusak rambutnya kasar.
Yoongi bisa melihat bayangan Hoseok dari pintu studionya. Telat 2 jam. Harusnya mereka sudah selesai dari tadi.
"Bagaimana kencan bodohmu? Lancar? Sampai mengabaikanku 2 jam lebih lama" Yoongi tak memandangnya. Terlalu fokus pada lirik-lirik lagunya.
"Memang kencan bodoh, aku mengacaukannya" Hoseok berbaring di sofa sebelah komputer Yoongi. Yoongi hanya menggelengkan kepalanya heran.
"Kenapa dan bagaimana kau mengacaukannya?"
"Aku tidak tahu, Jungkook salah paham hampir menciumku kemudian aku berbicara lalu dia malu sampai menangis kemudian pergi"
"Tolol" ejek Yoongi.
Hoseok mengendikan bahunya. Berpikir bagaimana cara menyapa Jungkook besok. Jungkook pasti canggung setelahnya.
"Sudah sampai mana?" tanya Hoseok pada akhirnya. Sebelah tangannya ia gunakan untuk menutupi wajahnya.
"Sudah selesai"
"Huh? Sendirian?" menyingkirkan tangan dari mukanya lalu terduduk antusias.
"Tidak, tadi aku bersama anak baboon. Cerewet sekali dia. Tapi dia lumayan membantu lirik laguku. Dia bercerita tentang kisah cintanya. Lalu aku ubah menjadi lagu" pensilnya mengetuk-ngetuk permukaan buku catatannya. Hoseok tersenyum penuh arti. Yoongi hanya memutar bola matanya malas.
"Coba ku lihat" Hoseok merebut buku catatan dari pemiliknya.
'Selalu terlihat bodoh di hadapanmu, walaupun aku ingin terlihat keren''Kau sedingin malam, dan aku bagai rembulan. Bercahaya seperti matahari namun tak bisa mengubah dinginnya malam seperti matahari yang mengubah malam menjadi terik'Hoseok hanya tertawa dalam hati. Ini sih sama saja Yoongi membuat lagu tentang dirinya sendiri. Yang diceritakan Jimin saja sudah pasti Yoongi orangnya.
