Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Characters: Tenten, Neji, OC
Genre: Family
Rated: T
Warning: AR!Canon, sedikit OOC, alur cepat
"Neji, kau nakal sekali," ucap Tenten sambil mencubit pelan Neji yang berbaring di sebelahnya.
"Hei, aku kan hanya menciummu dengan lembut, lalu kau saja yang memancingku untuk melakukan 'yang lebih'," elak Neji.
"Tapi, tetap saja kau harus menahan nafsumu. Siapa sangka seorang Hyuuga yang sedingin es sepertimu bisa tumbang karena hawa nafsu," kata Tenten tidak mau kalah.
"Huh, terserah," kata Neji sambil memalingkan wajahnya yang memerah.
Tenten pun terkekeh pelan melihat reaksi rekan satu tim—ralat—kekasihnya.
"Neji, peluk~" ujar Tenten manja sambil merentangkan kedua tangannya.
"Huh, baiklah, dasar manja," kata Neji sambil memeluk Tenten.
Tenten yang sudah dipeluk Neji pun tersenyum dengan girang.
"Tenten..." panggil Neji memecah keheningan.
"Iya?" jawab Tenten.
"Kalau kita punya anak nanti, aku tidak mau dia mempunyai segel di dahi sepertiku," ujar Neji.
"Eh? Kenapa kau bicara seperti itu?" kata Tenten kebingungan.
"Tidak apa."
Flashback off
'Neji, aku takut keputusanku salah...'
Karena terlalu banyak berpikir, Tenten pun mulai tertidur di samping Iyuen.
Keesokan harinya...
"Xiao Yiyuan, kau sudah mempersiapkan barang-barangmu?" tanya Tenten kepada Iyuen.
"Sudah, ma. Baju dan mainanku sudah kumasukkan ke dalam tas," jawab Iyuen.
"Baiklah, kalau begitu, kita akan pergi sekarang," kata Tenten.
"Ma, aku boleh membawa ini?" tanya Iyuen sambil menunjukkan bingkai foto Tim Gai.
"Tentu saja boleh."
"Yeay, terima kasih, ma," ucap Iyuen dengan ceria.
Setelah itu, Tenten dan Iyuen pun segera keluar dari rumah, sekaligus toko, milik mereka. Sambil berjalan ke kediaman Hyuuga, mereka sambil mengobrol tentang apa pun karena Tenten tahu mereka akan sulit bertemu jika Iyuen sudah diserahkan ke klan Hyuga.
"Nah, kita sudah sampai," kata Tenten tepat di depan rumah tradisional Jepang yang terdapat tulisan 'Hyuga'.
"Nanti aku akan tinggal disini?" tanya Iyuen.
"Iya, sayang."
'Sekarang aku harus bagaimana? Aku tidak mungkin langsung masuk dan membuat kehebohan karena ada seorang Hyuga yang lahir di luar nikah kan? Lagipula, aku tidak pernah masuk ke kediaman Hyuga tanpa ditemani Neji,' batin Tenten kebingungan.
"Tenten-san," tiba-tiba, seseorang memanggil Tenten.
Tenten pun menengok ke arah suara tersebut, "Ah, Hinata... dan Boruto-chan!"
"Kau sedang apa di sini?" tanya Hinata.
"Aku... aku berubah pikiran. Kupikir, jalan terbaik bagi Yiyuan adalah dengan menyerahkannya ke Klan Hyuga," jawab Tenten.
"Begitu? Kebetulan sekali aku sedang mau mengunjungi tousama, jadi aku bisa mengantar kalian sampai ke dalam," ucap Hinata.
"Omong-omong, Boruto-chan sekarang sudah umur berapa? Pasti Hiashi-sama senang sudah mempunyai cucu seperti Boruto-chan," kata Tenten sambil mencubit pipi Boruto yang langsung menyembunyikan wajahnya di balik baju Hinata.
"Umurnya baru setahun," jawab Hinata.
"Berarti, beda tiga tahun denganku," sahut Iyuen.
Tenten pun mengelus rambut Iyuen dengan lembut, "Wah, anak mama pintar sekali," puji Tenten.
'Persis Neji-niisan,' batin Hinata.
"Ah iya, mari aku antar kalian ke dalam," kata Hinata mengalihkan pembicaraan.
"Hinata, aku... aku mengantar Iyuen sampai sini saja..." kata Tenten sambil menghela nafasnya.
"Loh? Kenapa, Tenten-san?" tanya Hinata penasaran.
"Tidak apa-apa," jawab Tenten dengan senyum yang dipaksakan.
'Aku hanya belum siap bertemu dengan Hyuga yang lain'
Seakan mengerti maksud Tenten, Hinata pun berkata, "Baiklah, Tenten-san. Ayo, Iyuen, baachan akan mengantarmu ke dalam."
Iyuen makin mengeratkan genggaman di tangan Tenten, kemudian menatap ke arah Tenten. Tenten mengangguk dengan pelan seolah mengizinkan Iyuen pergi bersama Hinata. Dengan berat, Iyuen melepaskan genggamannya di tangan Tenten, lalu menggenggam tangan Hinata.
"Kalau begitu, kami permisi, Tenten-san," kata Hinata sambil berjalan ke dalam kediaman Hyuuga.
Tenten pun mulai meneteskan air matanya.
'Neji, semoga saja keputusanku tidak salah'
"Tadaima," ucap Hinata saat masuk ke kediaman Hyuuga. Meskipun dia tidak tinggal lagi disini, tapi dia tetap menganggap kediaman Hyuga sebagai rumahnya.
"Hinata, okaeri," sambut Hiashi, "Tumben sekali, biasanya kau datang saat akhir pekan."
"Boruto kangen denganmu, tousama," kata Hinata.
"AAAAHHH~~ BORUTO-CHAN~ JIICHAN JUGA KANGEN DENGANMU~~!" seru Hiashi dengan OOC-nya sambil mengambil Boruto dari gendongan Hinata.
"Gya ... hahahaha," Boruto tertawa kesenangan saat digendong oleh kakeknya.
"Lalu, ada hal penting yang harus kubicarakan."
"Apa itu?" tanya Hiashi yang sudah kembali IC.
Hinata pun menghela nafasnya pelan, "itu... tentang anak ini," katanya sambil menunjukkan Iyuen.
Hiashi pun terkejut melihat Iyuen.
"Hinata... dia bukan anakmu 'kan?" tanya Hiashi.
Hinata pun menggeleng pelan.
Di ruang pertemuan Hyuga yang cukup luas, hanya terdapat Hiashi dan Hinata yang duduk saling berhadapan.
"Jadi, anak itu adalah anak Neji yang lahir di luar nikah?" tanya Hiashi setelah mendengar cerita Hinata.
"Iya, tousama," jawab Hinata.
"Kami-sama, seharusnya aku sudah menyadari kalau Neji ada hubungan yang lebih dengan rekan satu timnya," kata Hiashi sambil memijat pelipisnya.
"Tousama, maafkan saya," ucap Hinata sambil membungkukkan badannya, "saya sudah tahu sejak awal kalau Iyuen adalah anak mendiang Neji-niisan, tapi saya malah merahasiakannya. Saya hanya tidak tega melihat Iyuen terpisah dari ibunya. Sekali lagi, saya minta maaf."
Hiashi pun beranjak dari tempat duduknya, "Tak apa lah, nasi sudah menjadi bubur. Yang penting kita sudah mengetahuinya dan bisa melindungi byakugan dari musuh-musuh kita," katanya sambil berjalan ke arah pintu dan menggesernya.
'Berarti, Iyuen akan mendapat segel itu saat anak Hanabi berumur 3 tahun,' batin Hinata.
"Oiya, tolong antarkan anak itu ke rumah bunke," pinta Hiashi sebelum keluar dari ruang pertemuan tersebut.
"Boruto-chan, ayo kita main ninja-ninjaan. Aku punya kunai dan shuriken mainan yang dibuat oleh mamaku," ajak Iyuen ke Boruto.
"Wawawa ... nai ... iken," celoteh Boruto sambil mengambil kunai mainan milik Iyuen dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Waaaaa! Boruto-chan, itu bukan makanan!" seru Iyuen dengan panik.
Hinata yang melihat anak dan keponakannya yang bermain bersama hanya dapat terkekeh pelan. Hinata pun berjalan mendekati Iyuen dan Boruto.
"Kalian sedang main apa?" tanya Hinata.
"Kami mau main ninja-ninjaan, baachan. Tapi, Boruto malah menggigit kunai dan shuriken milikku," jawab Iyuen.
Hinata pun terkikik pelan.
"Iyuen mau baachan antar ke kamarmu?" tanya Hinata.
"Aku punya kamar sendiri?" Iyuen balik bertanya dengan nada antusias.
Hinata pun mengangguk pelan.
"Waahh ... aku tak menyangka aku bisa punya kamar sendiri," di rumah Tenten, Iyuen memang tidak punya kamar sendiri karena Tenten tidak bisa jauh-jauh dari Iyuen, bahkan saat tidur sekali pun.
"Mari, baachan antar ke kamarmu."
"Baik, baachan."
"Nah, Iyuen. Ini adalah kamarmu," kata Hinata setelah membuka sebuah pintu kamar di rumah bunke.
Iyuen pun langsung masuk ke dalam kamarnya dan melihat-lihat.
'Wah ... keren,' katanya dalam hati.
"Dulu, ini adalah kamar ayahmu," kata Hinata lagi.
"Kamar ini dulu milik papa?" tanya Iyuen.
Hinata pun mengangguk, "Iya, dulu kamar ini dimiliki oleh papamu. Jadi Iyuen harus menjaga kamar ini dengan baik supaya papa senang, oke?"
"Oke, baachan," ujar Iyuen sambil menunjukkan jempolnya.
Hinata hanya dapat terkekeh pelan karena dia tiba-tiba ingat dengan seseorang.
"Nah, sekarang, Iyuen istirahat dulu ya. Nanti, baachan akan kembali lagi," pinta Hinata.
"Baik, baachan."
Hinata pun keluar dari kamar Iyuen dan menutup pintunya. Lalu, Iyuen kembali melihat-lihat kamar barunya. Pandangannya tertuju pada meja yang terletak di samping kasur.
'Itu sama seperti yang kubawa,' batinnya saat melihat bingkai foto yang berada di atas meja.
Iyuen pun berinisiatif untuk mengambil bingkai foto dari tasnya dan meletakkannya di sebelah bingkai foto (yang dulunya) milik Neji.
'Supaya aku bisa makin sering melihat mama dan papa,' katanya dalam hati dengan polos.
Sebulan kemudian...
Setelah sebulan tinggal di kediaman Hyuga, Iyuen terus belajar dan berlatih taijutsu. Dia menyerap informasi bagaikan sebuah spons. Sehingga, tidak diragukan lagi kalau kejeniusan Neji menurun ke Iyuen.
Sekarang, Iyuen sedang tidak ada latihan atau pelajaran sama sekali. Yang sekarang dia lakukan hanyalah duduk di balkon sambil memandangi rumput. Hiashi kebingungan melihat Iyuen karena biasanya Iyuen adalah anak yang ceria, tetapi sekarang dia terlihat murung. Hiashi pun berinisiatif untuk menanyai Iyuen.
"Iyuen, apa boleh aku duduk di sebelahmu?" tanya Hiashi.
"Tentu saja, jii ... Hiashi-sama," jawab Iyuen.
Hiashi pun duduk di sebelah Iyuen.
"Kau terlihat murung. Ada apa? Apa ada yang jahat kepadamu? Ayo ceritakan lah ke jiisama," selidik Hiashi.
"Aku kangen mama," jawab Iyuen sambil meneteskan air mata.
"Kalau begitu, kau mau pulang?"tanya Hiashi.
Iyuen pun menggeleng pelan sambil menyeka air matanya, "kalau aku pulang, aku tidak bisa seperti papa."
"Kalau kau ingin bertemu dengan ibumu, pulang lah."
"Lalu, bagaimana kalau aku ingin belajar atau latihan?" tanya Iyuen.
"Datang lah ke sini sesuka hatimu, jiisama akan selalu membantumu," ujar Hiashi.
"Benar kah!?" seru Iyuen dengan senang, "yeay, terima kasih, jiisama," lanjutnya sambil memeluk Hiashi.
Hiashi pun menepuk kepala Iyuen.
"Kalau begitu, aku boleh pulang sekarang?" tanya Iyuen dengan antusias.
Hiashi pun terdiam sebentar sebelum menjawab, "Besok, kau boleh pulang."
Malam itu, di ruang pertemuan kediaman Hyuga...
"Apa kau yakin dengan keputusanmu, Hiashi?" tanya seorang tetua Hyuga.
"Ya, saya yakin dengan keputusan saya. Lagipula ini untuk melindungi byakugan dari musuh-musuh kita," jawab Hiashi.
"Baiklah, terserah dirimu saja, keputusan ada di tanganmu. Kami, para tetua, hanya dapat memberimu saran."
Keesokan harinya saat subuh-subuh...
Iyuen dapat mendengar kamarnya diketuk beberapa kali. Dengan langkah yang gontai, Iyuen melangkah ke pintu dan membukanya. Sambil mengucek mata, Iyuen dapat melihat Haruna—seorang anggota Bunke—berada di hadapannya.
"Iyuen, ayo ganti baju. Ada upacara penting," kata Haruna.
"Baik, neesama. Tunggu sebentar," gumam Iyuen yang masih mengucek matanya sambil membuka lemarinya.
Karena Iyuen masih belum sepenuhnya sadar, akhirnya Haruna membantu Iyuen memakai baju tradisional Hyuga. Dengan digandeng Haruna, Iyuen berjalan menuju sebuah ruangan di kediaman Hyuga. Haruna dan Iyuen pun masuk ke ruangan tersebut. Di ruangan yang hanya diterangi cahaya lilin tersebut, Iyuen dapat melihat anggota semua anggota Souke berkumpul. Mereka duduk membentuk lingkaran dengan Hiashi yang berada di tengah-tengah lingkaran tersebut.
"Haruna, tolong tinggalkan ruangan ini," perintah Hiashi.
"Baik, Hiashi-sama," kata Haruna sambil membungkuk sebelum keluar dari ruangan tersebut.
Setelah yakin Haruna sudah ke luar daru ruangan tersebut, Hiashi membuka mulutnya, "Iyuen, duduklah di hadapanku."
Iyuen pun mengangguk pelan. Meskipun sedikit takut, dia tetap menuruti perkataan Hiashi. Setelah Iyuen duduk di hadapan Hiashi, Hiashi menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya.
"Baik, sekarang kita akan mulai upacara kita," kata Hiashi.
Iyuen yang tidak mengerti apa-apa tentang 'upacara' tersebut, hanya dapat melirik ke kanan dan ke kiri sambil terdiam. Padahal, biasanya Iyuen adalah sosok yang selalu ingin tahu dan cerewet.
Hiashi pun mulai memperagakan beberapa segel tangan. Lalu, menempelkan telapak tangan kanannya di dahi Iyuen dan berkonsentrasi dengan penuh.
Setelah upacara pemasangan segel selesai, Haruna kembali dipanggil ke ruangan tersebut untuk membalut dahi Iyuen dengan perban.
"Hiks ... hiks ... sakit," keluh Iyuen.
"Iyuen, jangan menangis ya? Anak lelaki 'kan tidak menangis," hibur Haruka.
"Hiks ... hiks ... mama..." isak Iyuen.
Setelah tenang, Iyuen pun akhirnya di perbolehkan pulang dengan diantar oleh Hanabi. Tidak sulit mencari rumah Tenten karena toko senjata Tenten cukup terkenal.
Klining. Sebuah lonceng berbunyi saat Hanabi membuka pintu toko.
"Selamat da..."
"Mama!" seru Iyuen sambil berlari ke arah Tenten.
Tenten yang terkejut langsung meneteskan air matanya, "Astaga, anakku..." katanya sambil berjongkok dan memeluk Iyuen.
Setelah puas memeluk Iyuen, Tenten pun melepaskan pelukannya, 'Perban? Ja ... jangan-jangan...' Tenten mulai berperasaan tidak enak saat melihat perban di dahi Iyuen.
Dengan tangan gemetar, Tenten membuka perban di dahi Iyuen. Betapa hancur hatinya saat melihat segel kutukan yang persis seperti milik Neji.
"Kami-sama..." katanya sambil meneteskan air mata.
"Tak apa, ma. Tidak sakit, kok," hibur Iyuen.
"Ehem," dehem Hanabi.
"Eh, Hanabi. Maaf kami mencuekkanmu," ucap Tenten.
"Tak apa. Kalau begitu, aku permisi dulu," katanya sambil melangkahkan kakinya dari toko.
"Tunggu!" cegah Tenten, "Ke-kenapa mereka memberi segel ke Iyuen? Padahal, belum ada calon pewaris Hyuga yang baru."
"Itu kami lakukan untuk melindungi byakugan," jawab Hanabi.
"Maksudnya?" tanya Tenten lagi.
"Itu adalah pilihan terbaik bagi kami. Kalau ternyata dia diculik atau bahkan dibunuh, byakugan akan tetap aman," jelas Hanabi.
"Iyuen tidak akan terbunuh dengan mudah! Kenapa kau bicara seperti itu?" seru Tenten.
"Neesan tidak mengerti!" bentak Hanabi.
Tenten pun terkejut karena bentakan Hanabi.
"Dulu ... dulu, aku juga berpikir seperti itu tentang Neji-niisan," nada bicaranya kemudian melembut, "tapi, nyatanya..." Hanabi kemudian menghentikan kata-katanya karena menangis.
"Hanabi..."
"Maaf," kata Hanabi sambil menyeka air matanya.
"Iyuen, mulai sekarang kau boleh datang ke kediaman Hyuuga untuk berlatih," ucap Hanabi sambil menepuk kepala Iyuen.
"Baik, terima kasih, Hanabi-sama."
"Kalau begitu, saya permisi dulu," kata Hanabi sambil melangkahkan kakinya ke luar.
Setelah Hanabi pergi, Tenten pun kembali ke belakang konter diikuti dengan Iyuen.
"Mama, di sana aku belajar tentang banyak hal, loh!" ucap Iyuen dengan bangga.
"Oh ya? Iyuen belajar tentang apa saja?" tanya Tenten dengan antusias.
"Aku belajar tentang..."
Iyuen pun berceloteh tentang segala pelajaran dan latihan yang dia dapatkan di kediaman Hyuga. Kadang, dia juga mengulang beberapa hal yang sudah dia ceritakan. Tenten sungguh merasa bangga saat mendengar cerita Iyuen yang ternyata mengingat banyak hal.
'Neji ... maafkan aku, keinginanmu tidak dapat terwujud karena keputusan dari anggota Souke Hyuga. Tapi, aku berjanji kalau Iyuen tidak akan terbebani oleh takdirnya'
END
OMAKE
8 tahun kemudian...
Di pemakan Konoha, terlihat seorang pemuda berambut coklat panjang yang dikepang, mengenakan changsan berwarna beige, dan celana selutut berwarna hitam, berdiri di hadapan sebuah nissan bertuliskan 'Hyuga Neji'.
"Papa, hari ini aku lulus akademi dengan nilai tertinggi," katanya seolah-olah ada seseorang di hadapannya.
"Aku memang kesulitan saat tes taijutsu, tapi aku dapat nilai sempurna saat tes menggunakan senjata."
"Oiya, mama juga sering mengeluh karena toko makin sering sepi. Jadi tolong bantu lah aku agar aku bisa cepat mendapatkan misi, supaya aku bisa membantu mama."
"Mama sebenarnya sering ditawarkan Hiashi-sama untuk tinggal di kediaman Hyuga, tapi mama selalu menolak. Katanya, dia lebih suka tinggal berdua denganku."
"Habis ini, aku mau berlatih bersama Hiashi-sama dan Hanabi-sama. Aku ingin berlatih taijutsu agar aku dapat sehebat dirimu."
"Papa, tolong berkati lah aku agar aku bisa menjadi jenius seperti dirimu."
A/N: Hai, bagaimana fic ini? Bagus? Hohohoho. Jujur aja, aku masih galau banget karena di antara temen-temen Boruto, ga ada bocah yang punya byakugan dan ahli senjata alias anaknya NejiTen. Jadi, karena kegalauan tersebut, akhirnya fic ini pun dibuat. Maaf ya, kalau alurnya terlalu cepat karena aku kurang bisa alur lambat. Terus, proses upacara penyegelan sepenuhnya imajinasi saya karena di anime atau manga sama sekali ga pernah diperlihatin upacara itu. Oiya, sebenernya fic ini ada sequel-nya, malahan sequel-nya yang duluan selesai diketik sebelum fic ini selesai wkwkwkwkwk. Mungkin beberapa hari lagi bakal aku publish, ehe.
