Hohoho... +plakkk+

Disclaimer: Hoshino Katsura

Rate: T

.

.

.

"Kanda," gumam Allen. Allen melangkah menuju bawah tanah. Melewati tangga yang baru saja ditemukannya. Satu. Dua. Tiga.

GREEKKK!

Saat Allen menginjak anak tangga ketiga, lemari itu bergeser menutup jalan untuk Allen keluar.

"Sial. Bagaimana aku keluar?" tanya Allen pada dirinya. Tapi Allen tetap berjalan maju, meski dirinya gemetar.

"Uwaaaa!" jerit Allen. Ia terpeleset jatuh oleh sesuatu –lumut mungkin?

"Aww. Sial tuh lumut diem di situ!" omel Allen. Tiba-tiba matanya silau oleh sesuatu. Ia melihat setitik cahaya di ujung jalan. Ia mencoba berdiri dan berjalan perlahan ke arah cahaya tersebut.

"Terang! Silau!" komentar Allen. Saat dia mulai terbiasa dalam terangnya ruangan itu, ia melihat sosok yang dicarinya tengah memunggunginya.

"Kanda!" panggil Allen, berlari menghampiri Kanda. Tapi Allen berhenti di detik berikutnya. Melihat Kanda berbalik badan dan menatapnya dengan tatapan kosong. Dan lagi, Kanda berlumuran darah segar.

"Kanda? K... Kau Kanda bukan?" tanya Allen. Kanda mendekati Allen. Namun Allen berjalan mundur.

'Bagaimana kalau dia zombie? Bagaimana kalau dia sedang lapar dan habis memakan Kanda? Bagaimana kalau itu terjadi? Bagaimana?' pikir Allen. 'Tidak. Tyki bilang hantunya anak kecil. Tidak mungkin anak kecil makan manusia,' pikir Allen lagi.

"Ka... Kanda. Kau pasti kerasukan," kata Allen. Dia merogoh kantongnya lagi dan mengeluarkan empat bungkus permen dan disodorkan pada Kanda. Kanda memukul tangan Allen hingga permen-permen itu terlempar. Allen kaget.

"Baka... Moyashi..." kata Kanda dengan tatapan yang masih kosong. Dua detik kemudian, Kanda jatuh. Allen menangkapnya.

"Dalam keadaan kerasukan pun, kau masih bisa memanggilku Moyashi," kata Allen sweatdrop. Allen duduk memegangi Kanda. Mencoba menelepon Tyki.

"Wah, ngga ada sinyal," kesal Allen. Tiba-tiba terdengar hembusan angin yang cukup membuat rambut Allen berkibar.

"Ini ruang bawah tanah, kenapa ada angin begini?" tanya Allen.

"Huuhuhuuhu..." terdengar suara tangis. Tepat di bawah tanah yang Allen injak. Allen cepat menggendong Kanda di punggungnya. Mendekati pintu yang berlawanan arah dengan tangga menuju dapur. Beberapa detik kemudian, muncul sesuatu dari dalam tanah. Tulang manusia! Allen masih sempat mengamatinya, sebelum tulang kaki itu menapak di tanah. Tulang manusia anak kecil. Ia mencoba membuka pintu itu –terkunci.

"Bagaimana ini?" tanya Allen, walau dia tahu takkan ada yang bisa menjawabnya. Allen merogoh kantongnya dan hanya menemukan satu permen.

"Sial. Semua permen yang ada kusimpan di tas Kanda," kata Allen. Allen melempar permen ke arah tulang-tulang itu. Mereka berebut mengambilnya. Kesempatan Allen untuk mendobrak pintu.

BRAKKK!

Terbuka! Allen langsung menutup pintu itu.

"Syukur pintu model kuno, mudah didobrak," kata Allen terus berlari menyusuri lorong hitam yang tak ia kenal. "Kanda selamat. Aku selamat," gumam Allen.

"Bodoh kau! Anak-anak itu harus kita bunuh! Kita hanya memerlukan organ tubuh anak-anak itu," teriak seseorang. Membuat langkah Allen berhenti. Ia tak tahu asal suara itu dari mana, tapi dia yakin, di antara tembok yang tak terlihat jelas ini, ada sebuah pintu yang menghubungkan sebuah ruang dengan lorong tempat Allen berdiam sekarang.

"Ta... Tapi orang dewasa saja. Aku tak begitu tega dengan anak kecil," kata orang yang lain. Allen berniat menguping saat sudah menyadari keberadaan pintu yang dicari Allen.

"Turuti saja! Ini perintah atasan," teriak orang itu.

"Ini benar-benar suara manusia? Bagaimana bisa ada manusia yang masih hidup di bawah tanah ini? Apa ada jalan lain menuju tempat ini selain dapur?" gumam Allen.

"Ba... Baik. Saya akan keluar mencari anak-anak itu sekarang," kata orang itu. Allen memasang ancang-ancang untuk menendang orang itu, karena tak mungkin Allen lari bersembunyi di lorong yang panjang walaupun gelap.

30 detik telah berlalu. Tak ada yang keluar. Karena penasaran, Allen mencoba membuka pintu itu.

"Kosong. Tapi lampu menyala walau redup. Mungkin aku hanya berhalusinasi. Lalu lampu ini, mungkin otomatis hidup saat pintu dibuka," kata Allen mencoba menjelaskan pada dirinya. Allen keluar dari pintu itu. Ia menutup pintunya kembali.

"Omong-omong, kenapa Kanda seberat ini ya?" tanya Allen sweatdrop.

SSSSSHHHH

"Suara aliran air?" pikir Allen. Ia melihat ke sela-sela di bawah pintu, terlihat cairan keluar.

"Kalo suasana horor kaya begini, jangan-jangan darah nih," kata Allen. Sweatdrop dengan ucapan sendiri.

BLARRR!

Tiba-tiba pintu terbanting. Luapab darah keluar dari dalam ruang itu. Seakan-akan mengejar Allen. Allen berlari sekuatnya. Terus berlari.

'Gawat! Kalau tidak cepat berlari, bisa-bisa aku ditelan darah-darah itu,' batin Allen. Ia melihat sebuah ruang dengan pintu terbuka.

"Ke sana!" kata Allen. Ia berlari menuju ruang itu, ujung dari lorong yang panjang.

"Yeah!" girang Allen saat hampir tiba di ruang itu. Setelah masuk, dengan cepat Allen menendang pintu itu agar tertutup. Saat kehilangan keseimbangan, Allen jatuh dan kepalanya terantuk meja. Dan jatuh ke tanah, tertindih Kanda.

"Sakittt!" erang Allen. Allen merebahkan Kanda di tanah. Ia melihat-lihat ruang itu. Penuh dengan rak buku. Mungkin ini yang dikatakan Tyki. Allen berniat menelepon Tyki, tapi segera menghentikan niatnya saat ingat tak ada sinyal. Ia melihat-lihat sekitarnya. Ruang yang besar, lebih besar dari kamarnya. Ia melihat sebuah buku terbuka di atas meja, meja di pojok. Allen tertarik melihatnya, dan membacanya.

"Wah, tentang yang dikatakan Mr. Tyki. Dia meninggalkan buku ini dalam keadaan terbuka," kata Allen. Ia membuka halaman-halaman lain.

"Daftar anak-anak yang diculik?" kata Allen. Matanya tertuju pada satu nama. Satu nama yang ia kenal.

"Ka... Kanda Yu? Kanda? Pernah diculik? Jadi maksudnya suasana malam itu, malam saat ia pernah diculik? Kanda?" kata Allen penuh dengan tanya.

"Wah, wah. Allen. Tak kusangka kau sampai di sini," kata seseorang sambil bertepuk tangan. Allen berbalik badan menatap sumber suara.

"Ty... Tyki!" teriak Allen kaget. "Kenapa kau di sini? Ini rumahku sekarang!" teriak Allen.

"Wah, kau saking kagetnya, jadi galak begitu," kata Tyki.

"Ma... Maaf. Aku minta maaf. Kenapa kau ada di sini?" tanya Allen.

"Aku menunggumu, sampai membaca buku itu," kata Tyki.

"Hah?" tanya Allen tak mengerti.

"Orang yang mengetuk pintu saat Kanda menghadapinya adalah anak buahku. Yang memecahkan kaca dan menulis 'trick or treat' adalah anak buahku. Yang menarik Kanda dari bawah kasur adalah anak buahku. Yang membuat kalian terjebak di sini adalah anak buahku!" kata Tyki. Allen tak percaya.

"Permainanmu selalu konyol," kata Allen.

"Aku serius. Aku melakukan semua ini karena satu tujuan. Aku harus membunuh Kanda di tempat ini. Di mana Kanda telah membunuh ayahku!" teriak Tyki.

"Membunuh? Kapan?" tanya Allen.

"Saat ia diculik, ia berusaha melepaskan diri. Dan tanpa sengaja, ia telah membunuh ayahku!" kata Tyki penuh emosi. Allen ketakutan.

"Kau iblis. Mengendalikan setan-setan itu untuk mengganggu kami," kata Allen. Ia melirik pada Kanda yang tertidur di belakang Tyki. 'Tuhan, semoga Tyki tidak melihat Kanda di sana,' batin Allen. Ia menjaga ekspresi takutnya.

"Tidak, aku manusia. Sama sepertimu dan temanmu yang ada di belakangku," kata Tyki. Allen kaget. "Hanya saja, aku sedikit spesial," kata Tyki berbalik badan. Menuju Kanda.

"Berhenti di sana! Atau ku bunuh kau!" teriak Allen.

"Fíloi mou óloi, ton skotó̱sei," kata Tyki tanpa berbalik badan. Tulang-tulang itu, perempuan yang kulihat di kamar Kanda, bahkan beberapa setan yang belum pernah kulihat, semua berkumpul. Berusaha menyerangku. Aku bingung. Takut. Gelisah.

"Kanda. Kita akan lihat, bagaimana caramu membunuh ayahku," kata Tyki mengeluarkan pedang. Allen yang melihatnya tak bisa berkonsentrasi pada musuh. Akhirnya tangan Allen tersayat pisau. Punggung Allen tertusuk tulang, walau tak terlalu dalam. Dan kaki Allen dibacok pedang. Allen terjatuh. Ia bingung. Kesakitan.

"Hanya takdir Tuhan yang bisa menolongku," kata Allen. Ia teringat sebuah film, tentang pembasmi iblis dengan kalung salib yang telah diimankan. Kebetulan saja ia memakai kalung salib, tapi ia tahu kalung itu tidak diimankan.

"Aku hanya ingin kau mati dalam keadaan sadar," kata Tyki menancap-nancapkan pedangnya di tangan kanan Kanda.

Allen melepas kalung salibnya, menggenggamnya.

"Tuhan. Dalam doaku, ampuni mereka semua. Biarkan mereka pergi ke alam sana dengan tenang. Tanpa perbudakan, tanpa penderitaan lagi. Sesungguhnya mereka hanya ingin kembali pada-Mu. Tuhan, berkati doa hamba," kata Allen. Ia menerobos pasukan setan itu dengan kalung salibnya. Mereka semua lenyap. Hilang. Allen sampai dibelakang Tyki. Luka yang didapat Allen masih berdenyut sakit.

"Wah, Allen Walker memang hebat," puji Tyki. "Tapi biarkan kami mengurusi masalah kami," lanjut Tyki.

"Tak akan," kata Allen.

"Lihatlah, Allen! Si̱ko̱theí apó ton ýpno sas!" kata Tyki. Saat itu juga, Kanda bangun.

"Arrgghh, tanganku kenapa sakit begini?" tanya Kanda memegangi tangan kanannya.

"Tyki! Kalau kau bisa membangunkannya, kenapa kau menusuk-nusuk tangan Kanda?" tanya Allen.

"Aku menunggumu beraksi," kata Tyki. Allen mengepalkan tangannya hendak memukul Tyki.

"Epivállo̱ sio̱pí̱ sas, O diávolos!" kata seseorang. Tyki menjadi kaku. Allen hanya melihat kakinya, dan saat ia melihat wajah orang yang mengeluarkan mantra tadi, Allen kaget.

"Haloo, Allen. Kau memalukan sekali di sini," katanya.

"La... Lavi! Kenapa di sini? Lalu... Apa kau sebangsa dengan Tyki?" tanya Allen.

"Ti... Tidak. Kebetulan mantra dan cara menggunakannya diajarkan kakekku. Itu bahasa Yunani. Tapi kalau hanya mengucapkannya saja, mantranya takkan berhasil," jelas Lavi.

"Memang apa lagi yang harus dilakukan?" tanya Allen.

Lavi mengedipkan mata, "Rahasia. Ngomong-ngomong, aku ke sini karena melihat Tyki keluar dari pesta. Aku mengikutinya. Dan sama seperti kata-katanya, aku menunggumu beraksi, baru aku menolongmu." Allen menggertakkan gigi.

"Hei, tolong aku!" teriak Kanda. Lavi menghampirinya. Allen tak bisa bergerak karena kaki yang dibacok setan-setan tadi.

"Ini luka yang diakibatkan oleh senjata setan. Masih bisa disembuhkan. Afairéste tis pli̱gés tou diavólou," kata Lavi. Dua detik kemudian, tangan Kanda sembuh.

"Wow!" kagum Kanda.

"Aku bagaimana? Padahal tanganku luka, punggungku, lalu kakiku. Kau jahat sekali," kata Allen ngambek.

"Wah, maaf Allen. Aku melupakanmu," kata Lavi menghampiri Allen. Afairéste tis pli̱gés tou diavólou," Enam detik kemudian, luka-luka Allen menghilang.

"Wow!" kagum Allen.

"Ayo kita pulang," kata Lavi.

"Tunggu. Tyki mau diapakan?" tanya Allen.

"Bunuh saja," kata Kanda.

"Kalian mau melihat atraksi?" tanya Lavi.

"?" Allen dan Kanda bingung.

"Na eíste éna skylí," ucap Lavi.

"Guk guk! Guk!" gonggong Tyki.

"Mantra untuk menjadikan orang anjing, ya?" tanya Allen cekikikan.

"Na eínai mia gáta," ucap Lavi.

"Miaww. Miaww!" meong Tyki.

"Kucing," kata Allen tertawa geli.

"Glyptikí̱ eínai," ucap Lavi.

SIGGHHH.

"Tak terjadi apa-apa," kata Allen.

"Itu mantra untuk membuat orang menjadi patung," kata Lavi. "Ayo, naik ke atas," kata Lavi. Mereka pergi. Sebelum pergi, Kanda mengintip dan berkata, "Sorry, Mr. Tyki."

.

Di lorong yang gelap.

"Wah, kau membawa lampu sorot. Persiapan yang hebat," kata Allen.

"Tentu saja," kata Lavi.

"Bagaimana kalau kita pindah rumah?" tanya Kanda. Allen dan Lavi melirik Kanda.

"Aku sudah terlanjur suka dengan rumah ini," kata Lavi.

"Kau takut, Kanda?" tanya Allen.

"Tidak. Hanya saja, sekarang aku ingat. Pantas saja ada deja vu rasanya saat aku tiba di rumah ini. Rumah yang menyimpan kenangan buruk," kata Kanda.

"Kanda, hal yang kau takutkan harus kau lawan," kata Allen.

"Benar. Lagi pula aku yang akan melindungi kalian kalau sampai terjadi hal seperti tadi," kata Lavi.

"Bodyguard gratisan?" tanya Allen dan Kanda kompak.

"Eh? Bukan itu maksudku," elak Lavi. Sedetik kemudian, mereka tertawa.

.

"Apelef̱théro̱si̱," ucap Tyki. Ia bergerak!

"Dasar, anak-anak bodoh," kata Tyki. "Ternyata ada Bookman. Aku harus waspada. Halloween depan, kalian akan kuincar. Tentu saja. Akan kubunuh Kanda yang telah membunuh ayahku. Lavi yang telah memperlakukanku seperti binatang. Dan Allen yang menghancurkan pasukanku. Awas kalian! Aku juga perlu waspada pada salib milik Allen," gumam Lavi. Ia pergi menembus tembok.

.

"Ngomong-ngomong, kenapa kau juga bisa menyembuhkan sakit yang diderita orang?" tanya Allen. Mereka masih di lorong.

"Tidak, aku hanya bisa menyembuhkan luka yang dibuat oleh senjata iblis. Dan senjata iblis itu hanya bisa disentuh iblis. Aku bisa menyembuhkan kalian karena luka kalian itu luka yang dibuat senjata iblis. Kalau dengan tenaga medis manusia, luka kalian akan tambah parah," kata Lavi.

"Ya... Yang benar? Tapi tadi kulihat Kanda dilukai oleh Tyki. Apakah dia..." kata Allen menggantung.

"Be... Benarkah itu Kanda?" tanya Lavi.

"Aku pingsan waktu itu," kata Kanda.

"Kenapa kau ikut gugup, Lavi?" tanya Allen.

"Kalau aku memasang mantra pada iblis, jika dia iblis tingkat tinggi, dia akan bisa melepas mantra itu!" kata Lavi. Ia berlari ke ruang tadi, diikuti Allen dan Kanda.

.

Terlambat. Tyki sudah hilang.

"Kelalaianku," kata Lavi.

"Ada surat dari Tyki!" kata Allen. Mereka melihatnya.

'Halo, teman-teman. Pesta kita sampai situ saja. Aku harus kembali pulang karena ayahku memanggil. Yeah, aku dan ayahku jadi iblis setelah mati. Aku dendam pada kalian. Kanda yang membunuh ayahku, Lavi yang mempermalukanku, Allen yang menghabisi pasukan terakhirku. Tapi yang paling ingin kubunuh adalah Lavi! Bookman musuh besar para iblis. Lalu Allen yang menerima berkat Tuhan lewat kalung salibnya! Yang bersekongkol dengan Tuhan juga musuh besar iblis. Kanda, kau yang terakhir saja. Sampai jumpa di Halloween berikutnya. Selamat Halloween, kawan-kawanku.'

"Sudah lupakan saja, dia hanya orang bodoh," kata Lavi melempar kertas ke belakang.

"Astaga, aku ngantuk sekali," kata Allen sambil menguap.

"Aku sudah buang-buang waktu malamku," keluh Kanda menghentak-hentak tanah. Mereka kembali ke atas dan mencoba melupakan semua masalah di malam Halloween.

The End

Semoga tahun depan saya inget ngelanjutin ini ya. Hahaha. Mohon maaf kalau agak kacau, otak saya lagi ngga konsen soalnya. Kalo ada salah, tolong tulis di review ya. Mohon reviewnya.