SYMBOL OF REVENGE
Chapter#2
MURID PINDAHAN
Rate: T
.
.
.
Disclaimer: Naruto [Masashi Kishimoto], High School DxD [Ichie Ishibumi]
Genre: Fantasy, Adventure, Action, Romance, Drama, Martial Art
Warning: Typo, gaje mungkin, masih jauh dari kata sempurna, OOC
Pairing: ?
Summary:
Penyelamat? Pahlawan? Ksatria? Tidak… Aku tidak tertarik menjadi sesuatu semacam itu… Hanya dendam.. Dendam yang kubawa sejak perang besar antara Kerajaan Kerajaan besar.. Perang yang menghancurkan kebahagiaanku… Dendam ini berubah menjadi sumber kekuatan.. Dan dengan kekuatan ini, akan kutuliskan namaku di kepala para Raja itu.. diriku sebagai symbol pembalasan dendam..
Don't Like Don't Read
Ide ini muncul setelah author mendengarkan lagu opening No Game No Life.. Entah kenapa.. Padahal gak ada hubungannya sama cerita ini..
Jangan lupa review, favorite follow!
.
.
.
.
.
NARUTO POV
Ultear sekarang menarik tanganku menuntunku ke tempat yang dimaksudkannya. Entah apa yang terjadi hingga seperti kata Ultear barusan, Ulquiorra sedang bermasalah dengan salah satu murid terkenal di Akademi. Ah, siapa namanya tadi.. Senju Kyubi. Menyebutkan nama keluarganya saja sudah benar benar ingin membuatku kesal. Aku tidak tahan harus berhadapan dengan mereka. Sulit menahan egoku bila harus bertemu dengan orang orang bangsawan itu apalagi jika terkadang aku melihat kelakuan sombong mereka.
Tak perlu ditanyakan lagi alasan kenapa aku membenci para bangsawan karena jelas merekalah yang bertanggung jawab atas kematian 'Bunda' saat perang. Andaikan saja mereka tak menjadikan wilayah itu sebagai zona pertempuran. Apa mereka tidak tahu kalau disana ada sebuah desa dimana orang orang tinggal dan menggantungkan kehidupan disana?
Bahkan mereka tidak terima hanya karena ada orang lain yang mengungguli mereka. Contohnya gadis bernama Kyuubi itu. Dia bahkan sampai menantang Ulquiorra hanya karena mereka berada dalam satu peringkat yang sama. Lagipula kita tahu juga siapa yang lebih kuat di antara mereka.
"Tidak usah terburu buru, Ultear.. Aku yakin Ulquiorra pasti juga bisa menanganinya,"
Kataku datar kepada Ultear yang berjalan di depanku. Dia Nampak tergesa gesa. Dugaanku adalah gadis itu tak sendirian, dia pasti membawa teman temannya untuk bersama sama melawan Ulquiorra. Jika mengingat siapa kami di Akademi ini, maka tak heran juga kalau sekarang murid murid lainnya akan menyingkir ketika kami melewati mereka.
Di sepanjang lorong menuju ke arena latihan, yang kulihat adalah murid murid yang memberikan jalan kepada kami yang terlihat sedang terburu buru. Mereka pasti tahu kami dari ujian terakhir kali.
"Kita tak bisa santai bila si gadis Senju itu juga membawa Kaguya! Apa kau lupa kalau mereka berdua itu Tuan Putri Kerajaan ini!?"
Kali ini Ultear memarahiku dan aku hanya bisa diam sekarang. Meski begitu, semuanya sesuai dugaanku… Kami berdua yang baru saja sampai di arena latihan sudah disuguhkan pemandangan belasan murid laki laki tergeletak di arena sedangkan Ulquiorra dengan wajah datar berdiri di tengah tengah arena.
Ultear terdiam melihat pemandangan itu, lalu kukatakan padanya, "Sudah kubilang, kan? Tak usah terburu buru.."
Kutolehkan pandanganku ke salah satu sudut di bangku arena dan aku menemukan gadis Senju itu sedang berdiri di sana dengan kedua teman? Atau pengawal?
"Kau bisa mengalahkan murid laki laki lain dengan mudah.. Kurasa kau memang berbeda, tapi aku tetap tidak sudi disamakan denganmu,"
Kata gadis itu dari bangku arena, Ulquiorra yang memasang tatapan datar menoleh ke arah Kyuubi masih dengan tatapan yang sama.
"Bukannya kau mengajakku duel? Lantas kenapa orang orang lemah ini yang harus bertarung denganku?" tanya Ulquiorra datar.
Aku bisa melihat dari sini… Para murid laki laki yang menjadi lawannya sekarang tengah meringis kesakitan disana. Tak satupun dari mereka mampu bangkit kurasa dan akhirnya aku memutuskan untuk naik ke atas arena menyusul Ulquiorra disana. Aku bisa merasakan kalau Ultear juga mengikutiku dari belakang. "Apa yang terjadi disini..?"
Tanyaku dengan nada datar hanya untuk sekedar basa basi sekaligus ingin tahu lebih jelas mengenai kronologinya. Dan begitu kulihat wajah gadis Senju itu… Wajahnya memerah…
"N-N-N-Naruto-san!?"
Ucapnya memanggil namaku terputus putus. Entah apa yang terjadi pada gadis itu hingga tiba tiba wajahnya memerah. Dia terkena demam atau apa?
"Kyuubi-hime… Kumohon hentikan ini, lagipula kenapa kau sangat ingin bertarung dengan Ulquiorra?"
Tanya Ultear yang langsung mendapat tatapan tidak suka dari gadis Senju itu. Seakan cuaca merubahnya, tiba tiba saja wajah merahnya hilang seketika digantikan dengan tatapan merendahkan. Apa gadis ini salah minum obat?
"Aku tidak suka jika orang seperti kalian disamakan peringkatnya denganku!"
Jika kuingat ingat lagi, aku memang mengenal nama gadis itu di papan peringkat. Dengan usaha serta ambisiku, tentu saja aku berada di peringkat teratas disusul dua nama di urutan kedua dan ketiga yaitu Otsutsuki Kaguya lalu Uchiha Sasuke. Posisi keempat secara tidak sengaja diduduki oleh dua orang yaitu Ulquiorra dan gadis ini. Dan tentu saja posisi kelima diduduki oleh Ultear.
"Memangnya kenapa kalau kau disamakan dengan kami..?" tanyaku dengan nada dingin dan sedikit tidak suka mendengar ucapan Kyuubi.
Dia tersentak kaget, wajahnya kembali memerah tiba tiba. "T-T-Tidak ma-masalah bila Naruto-san.. t-tapi… dua orang itu,"
Jawaban yang tidak jelas. Dia memalingkan pandangannya dari kami ketika bicara. Kukira dia memang benar benar sombong. Kugenggam erat pedangku bersiap mengeluarkannya dari sarung pedangnya namun tangan Ultear menghentikanku. "Jangan bertindak seenaknya…"
Aku kembali menyarungkan pedangku dan melepas genggamanku. Sedangkan kulihat ke arah lain setelah mendengar suara langkah kaki beberapa orang. Di pintu masuk arena, kulihat seorang gadis dengan rambut perak serta kulit putihnya baru saja datang dan mendapat sambutan dari seisi murid yang sedang berada di arena latihan.
"Kaguya-sama!"
"Kaguya-sama!"
Dan dialah gadis terkuat di angkatan ini, setidaknya itulah yang orang orang ketahui karena sebenarnya aku yakin Ultear mungkin sebanding dengan gadis ini. Dia melangkahkan kakinya mendekat ke arah kami dan ketika dia dan beberapa teman? Anak buah? Atau pengawalnya tiba di hadapan kami, dia mengeluarkan suara, "Apa yang terjadi disini?"
Tanyanya kepadaku tanpa kuberikan jawabanku. Setelah itu dia menoleh ke arah Kyuubi yang ada di bangku arena. Gadis itu sekarang tampak ketakutan melihat kehadiran gadis dari Otsutsuki ini. "Maaf, Kaguya-hime.. Kyubi-hime menantang Ulquiorra dalam pertandingan persahabatan untuk menentukan siapa yang terbaik di antara mereka,"
Ultear mengucapkannya sambil menundukkan kepalanya. Dan itu membuatku muak melihatnya. Kutatap dingin kepada gadis bangsawan ini. Mungkin sementara aku akan berada di bawah perintah Kerajaan tapi untuk sekedar menundukkan kepala di hadapan gadis dengan keturunan bangsawan ini… Kurasa tidak… Dia sama seperti kami, seorang siswa. Jangan hanya karena dia berasal dari Otsutsuki, kami harus menundukkan kepala seperti itu.
"Ultear-san.. Kau bisa memanggilku Kaguya.."
Dia meminta Ultear untuk mengangkat kepalanya. Setelah itu dia menoleh ke arahku memberikan tatapan yang sama kepada Ultear tadi. "Naruto-san.. Bagaimana kabarmu..?"
Kurasa perlakuannya kepadaku memang tak buruk. Atau mungkin dia hanya menjaga sikapnya karena aku berada satu peringkat di atasnya? "Cukup baik.. Aku tak datang kesini untuk bicara denganmu, aku hanya ingin menjemput temanku.. Jadi, jika boleh… Setelah ini aku dan kedua temanku akan pergi dari arena latihan,"
Aku hanya ingin bicara terus terang tapi Ultear yang berdiri di sebelahku memberikan tatapan menakutkan seakan dia menyuruhku untuk menjaga sikap. Yah.. Aku tahu, aku tahu!
"Mohon maaf kelancanganku, tapi kami bertiga benar benar harus pergi.."
Kataku mengulang kembali permintaanku. Dan Setelah itu aku melihat Kaguya tersenyum lalu mengangguk pelan. "Ya, silahkan.. Tidak perlu terlalu formal seperti itu, Naruto-san!"
"Kurasa tidak sopan bila aku bicara dengan anda seperti itu jika mengingat anda adalah seorang bangsawan…" kataku dengan nada sedikit tajam.
Dan begitu kulihat wajahnya, ekspresinya tampak sedikit sedih. Dalam hati aku bertanya tanya, 'Apa apaan ekspresinya itu..?'
"Ya, tentu saja silahkan…"
Kugenggam tangan Ultear dan Ulquiorra lalu menarik mereka untuk pergi dari sana tanpa mendengar pendapat mereka sedikitpun. Kutolehkan pandanganku ke belakang melihat ke arah gadis Otsutsuki itu sambil bertanya dalam hati, 'Sebenarnya apa tujuan gadis ini datang kesini?'
Sudahlah, lagipula aku juga tak harus peduli dengan urusan mereka. Ada urusan yang lebih penting ketimbang sekedar ingin tahu tujuan gadis itu. "Jika bukan karena kita belum memiliki kekuatan yang cukup untuk menghancurkan Kerajaan ini, aku tidak akan membiarkan gadis itu bersikap seenaknya.."
Kataku dingin kepada Ulquiorra dan Ultear. Tangan mereka sudah kulepaskan dan sekarang mereka mengikutiku dari belakang. Selama aku berjalan di lorong ini, perhatianku terpusat kepada beberapa orang yang paling menarik perhatian disana. Murid murid lainnya juga terlihat menaruh perhatian mereka kepada beberapa orang itu.
"Shion-sama!"
Senju Shion dan beberapa temannya. Dia adalah kakak kandung gadis tadi maksudku.. kakak dari Senju Kyubi dan merupakan murid tahun kedua di Akademi ini. Aku mengenalnya saat pertama kali masuk Akademi karena dia adalah salah satu murid yang memberikan pidato sambutan dari perwakilan tahun kedua. Dan tentu saja, dia sendiri merupakan salah satu murid unggulan dari tahun kedua di Akademi.
Aku, Ultear dan Ulquiorra menunggunya lewat karena jika kami seenaknya lewat di sampingnya kurasa itu akan menarik perhatian lebih banyak orang… Dan aku tidak begitu suka itu. Lagipula aku juga tidak ingin berurusan dengannya sekarang. Bukan hanya dia, seingatku masih ada beberapa murid unggulan di tahun kedua. Nama nama yang bahkan dikenal sampai ke negara tetangga seperti Arthur Pendragon yang berasal dri keluarga bangsawan terhormat yang melahirkan bakat bakat ksatria besar bahkan pengguna pedang suci legendaris, [Excalibur Ruler] seperti dirinya lalu nama lain yang juga sering muncul seperti Tobio Ikuse yang dikenal karena memiliki salah satu senjata purbakala [Longinus] yaitu [Canis Lykaon]. Dan di antara mereka juga terdapat jenius dari Uchiha yaitu Uchiha Itachi yang dikenal dalam usianya sekarang bahkan sudah membangkitkan sihir khusus milik keluarganya berupa elemen api hitam. Yah masih ada beberapa lagi di tahun kedua…
Sedangkan di tahun ketiga, juga terdapat beberapa nama seperti Ketua Dewan Siswa saat ini, Dulio Gesualdo.. murid terkuat di Akademi Aincrad sekaligus pemilik senjata purbakala [Longinus] yaitu [Zenith Tempest]yang tertanam dalam tubuhnya. Lalu ditemani dengan kedua gadis di dalam Dewan Siswa, Sara-senpai dan Koyuki-senpai. Mereka bisa dikatakan sebagai Dewan Siswa terkuat sepanjang sejarah berdirinya Akademi ini.
"Shion-senpai… Dia memang menarik banyak sekali perhatian…" kata Ultear sambil melihat Shion dari kejauhan. Aku tak harus menganggapnya sebuah bahan obrolan karena pada kenyataannya mungkin Ultear hanya kagum saja kepada gadis Senju itu.
Reaksi nya yang berlebih membuatku sedikit terganggu jadi kuperingatkan padanya, "Jangan terlalu kagum padanya.. Pada akhirnya dia juga akan menjadi target balas dendam kita, Ultear.."
Ultear menoleh ke arahku dengan tatapan yang mengatakan kalau dia paham. Aku kembali mengalihkan pandanganku ke depan menatap sebuah kerumunan penuh dengan orang orang yang tidak kumengerti… Sebuah pengumuman yang membuat mereka tertarik untuk mendengarkannya. Pada saat itu pula kuhentikan langkahku disana dan kuputuskan untuk mendengar pengumuman yang akan disampaikan oleh salah satu murid.
"Kalian tahu… saudari Sasuke-sama akan masuk ke Akademi ini besok, kudengar dia sangat cantik,"
Begitu mendengar berita tersebut, aku langsung menaikkan alisku kesal. Jadi berita yang kutunggu hanyalah berita semacam itu..? Berita tak penting… tapi aku tak menyangka kalau laki laki bangsawan Uchiha itu memiliki seorang saudari. Terlebih, kenapa Uchiha baru memasukkannya di awal semester kedua? Menggelikan.. Jika dia orang biasa, tak mungkin dia bisa seenaknya masuk ke Akademi ini tanpa mempedulikan waktu.
"Jadi, Uchiha Sasuke itu memiliki seorang saudari?" tanya Ulquiorra masih dengan tampang datarnya.
Jujur saja, saat dia mengatakan itu dengan tatapan datar itu sudah sangat biasa bagiku tapi mungkin bagi orang lain yang melewati kami dan tak sengaja mendengarnya akan terdengar sedikit aneh. Mau bagaimana lagi.. sejak kecil dia memang sudah minim sekali dengan yang namanya 'ekspresi'.
"Tak ada gunanya kita berlama lama disini.. Akan lebih baik kalau kita kembali ke kelas sekarang, masih banyak yang harus kupelajari seputar sihir sihir di dunia ini,"
Satu satunya alasan kenapa aku sungguh tertarik dengan sihir saat ini karena dengan sihir lah.. Aku bisa membalas dendam. Sihir yang mengendalikan dunia, sihir yang menciptakan perang Kerajaan dan karena peranglah.. 'Bunda' terbunuh. Dan pada akhirnya karena sihir jugalah… Kerajaan ini akan musnah. Ironis sekali..
.
.
.
.
.
xxx0xxx
"[Ice Make: Cannon]!"
Ultear menembakkan meriam yang ia ciptakan dengan sihir [Ice Make] miliknya. Sihir itu adalah sihir khusus miliknya dimana dia bisa membuat segala benda dengan sihirnya itu. Bisa dikatakan kalau sihirnya itu adalah sihir memanipulasi es. Jika kalian bertanya kenapa dia menggunakan sihirnya itu untuk membuat meriam es.., Itu karena kami sedang berlatih tarung. Tak hanya di akademi saja kami mengasah kemampuan kami, tapi hampir setiap sore kami berlatih di tempat ini.
Tempat ini adalah tak akan dikunjungi oleh siapapun… Ya.. Kami berlatih di bawah tanah rumah tempat tinggal kami. Sebelumnya perlu kujelaskan bahwa sebelum masuk ke Akademi ini kami telah berkelana ke banyak tempat dan mencuri, berdagang dan melakukan banyak hal hingga kami bisa membangun tempat rahasia ini di bawah tanah rumah besar yang kami beli di pinggiran kota.
Tentu saja kami tak mungkin menggunakan sihir sihir yang memiliki daya hancur besar di bawah sini. Jika kami berniat menguji sihir dengan daya hancur besar kami akan berpindah tempat ke sebuah hutan, pedalaman hutan yang tak bisa dijangkau manusia biasa…
"[Demonic Sword Art: Talon Strike].."
Dengan pedangnya, Ulquiorra menebas meriam yang datang kepadanya. Begitu mudah baginya untuk menghancurkan segala sesuatu yang datang kepadanya dari Ultear. Dengan gerakan yang bagaikan kilat, Ulquiorra memberikan Ultear berbagai serangan pedangnya dan beruntungnya bagi Ultear dia selalu sigap menggunakan [Ice Make] miliknya.
[Demonic Sword Art] dan [Ice Make].. Bisa dikatakan kalau kedua sihir itu merupakan sihir orisinil milik mereka. Lebih dari itu, [Demonic Sword Art] lebih terlihat seperti seni pedang untuk para pengguna pedang iblis. Entah dia terinspirasi dari para pengguna pedang Iblis atau apa.. tapi yang jelas.. pedang yang digunakannya hanyalah pedang biasa namun dengan seni pedangnya, dia mampu menciptakan daya hancur yang setara dengan pedang iblis ataupun pedang suci. Aku terkadang bertanya tanya.., bagaimana jika dia menggunakan pedang iblis? Kulihat Ulquiorra menghunus pedangnya di hadapan Ultear, dan ini adalah pemandangan yang cukup langka… Ulquiorra sampai menghunus pedangnya.. Artinya dia benar benar serius.
Karena sesame pengguna pedang dan sering berlatih dengannya karena kami tumbuh bersama.. Aku benar benar mengetahui kemampuannya. Jika ada yang bertanya siapa orang yang paling pantas menjadi lawanku di angkatan kami.. bukan Sasuke ataupun Kaguya jawabannya…, jawabannya adalah Ulquiorra.
"[Demonic Sword Art: Dark Slash].."
Mungkin dia sudah benar benar kelewatan kali ini… Dengan cepat, aku bergerak ke arah Ultear sebelum serangan Ulquiorra kali ini membuat Ultear dalam bahaya. Kutarik sedikit pedangku keluar dari sarungnya.
JRAAAAAASHHHHH
Pertahanan pedangku kali ini dapat menetralkan tebasan Ulquiorra barusan hingga pada akhirnya dia dengan tampang datarnya hanya bisa menghela nafas.
"Apa aku terlalu berlebihan lagi?"
Tanyanya datar dengan wajah tak bersalah. Wajahnya benar benar menjengkelkan.. Ini semua salahmu.
"…Apa perlu kujawab? Kau hampir membahayakan Ultear dan bisa saja membuat gempa kecil di tempat ini, kau tahu?"
Pandangan Ulquiorra tiba tiba saja terarah ke pedangku. Pedang ini sama sekali tak meninggalkan bekas tebasan yang diterima dari serangan Ulquiorra barusan. Ultear yang ada di belakangku juga memeriksa keadaan pedang milikku. "Apa kalian sengaja melakukan ini untuk mengetes pedangku?"
Tanyaku begitu sadar kalau barusan yang terjadi hanyalah sebuah umpan agar aku menggunakan pedang ini disaat Ulquiorra menggunakan tebasannya.
"Kurasa aku menang taruhan ini, Ultear.. Tebasanku tak meninggalkan bekas sama sekali pada pedang itu,"
Kata Ulquiorra datar kepada Ultear. Sedangkan Ultear maju selangkah sambil menyipitkan matanya kesal.
"Benar benar pedang yang mengerikan.."
Pedang ini adalah pedang yang kuciptakan sendiri dengan material khusus yang kudapat dari berkelana ke berbagai daerah dan menemukan banyak bahan dari harta karun yang kami temukan di reruntuhan kuno. Pedang ini kuberi nama [Sword of Revenge]. Sesuai dengan tujuanku.. Pedang ini juga harus mewakili tujuan besarku dalam pembalasan dendam ku kepada Kerajaan ini. Aku bahkan cukup percaya diri kalau pedang ini mampu menandingi senjata purbakala [Longinus] terkuat, yaitu [True Longinus] atau [Holy Spear].
"Kau sudah menguasai sihir elemen api dan elemen petir, terlebih kau memiliki pedang ini serta empat sihir khusus milikmu yang lain.. Lalu apa yang kita tunggu lagi?"
Tanya Ultear kepadaku. Dia pasti mengira kalau kekuatanku yang sekarang cukup untuk memusnahkan Kerajaan ini. Tidak secepat itu, bagaimanapun kita juga kalah jumlah terlalu jauh. Tujuanku memang ingin balas dendam tapi aku tidak sebodoh itu…, membalas dendam hanya dengan kekuatanku yang sekarang sama saja bunuh diri. Satu hal yang belum kuberitahu pada mereka adalah niatanku untuk mencari pengikut setia.
"…Kekuatanku masih belum cukup.. Oleh karena itu, sebenarnya sudah dari lama aku berniat mencari pengikut dan mendirikan sebuah sekte.."
Mendengarkan niatanku itu, Ulquiorra dan Ultear tidak terkejut.
"Ya… Kami sudah mengira kalau kita akan membentuk sesuatu semacam itu.. memiliki pengikut dan lain lain,"
Jadi sejak awal mereka memang sudah menduga rencanaku ya? Memang tak ada yang bisa kusembunyikan dari kedua orang ini. Hari ini aku berniat menguji kedua dari empat sihir ciptaanku. Yang pertama dan mungkin yang paling sering kugunakan di antara keempatnya.. [Crow Vision]. Sebenarnya sihir ini tak bisa kukatakan sihir sepenuhnya.. [Crow Vision] dapat meningkatkan kelima indraku hingga 250%, dan membuat kecepatanku meningkat hingga 200%.. Sebenarnya mungkin bisa lebih namun level yang kucapai dengan [Crow Vision] baru sampai disana.
Kedua, kuberi nama [Perfect Illusion]. Kenapa? Sihir ini memungkinkanku untuk memanipulasi tebasan pedangku menjadi transparan selama beberapa saat bagaikan sebuah ilusi. Tak bisa dihentikan oleh sihir pertahanan apapun. Ya.. Tak bisa dihentikan. Dan tak hanya itu, sihir ini merupakan sihir yang kukembangkan dari sihir ilusi pada dasarnya. Aku dapat membuat bayangan diriku seolah nyata dan tebasannya pun juga serasa nyata.
Sedangkan untuk dua sihirku yang lain.. Sebisa mungkin aku tidak akan menggunakannya… resiko yang kudapat dari kedua sihir itu… terlalu besar… Tak hanya dampak fisik, namun kemungkinan besar jiwa serta kutukan akan datang kepadaku…
NARUTO POV END
.
.
.
.
.
.
xxx0xxx
ULQUIORRA POV
Namaku Ulquiorra.. Uhmm..? Ya hanya Ulquiorra. Aku tidak melakukan hal hal merepotkan seperti yang Naruto dan Ultear lakukan. Kemarin saat latihan, mereka menguji sihir sihir ciptaan Naruto. Aku menghormatinya sebagai saudara angkatku dan sesame pendekar pedang. Dia juga menguasai dua elemen alam, api dan petir serta berbagai sihir dasar oleh karena itu dia bisa mendapat peringkat satu. Ultear menguasai elemen angin dan elemen air sedangkan aku.. Aku sangat mahir dalam penggunaan elemen angin.
Yah lagipula aku juga tak menggunakan elemen anginku terlalu banyak. Aku lebih memfokuskan kekuatan ku kepada seni berpedangku. Untuk saat ini lupakan hal itu dulu… Hari ini Ultear dan Naruto meninggalkanku dan berangkat lebih dulu. Menyebalkan saat kau ditinggalkan..
"Eh, Kau sudah lihat saudari Sasuke-sama yang baru saja masuk?"
Tak sengaja aku mendengar bisikan gadis gadis yang berjalan melewatiku ketika aku berada di gerbang Akademi. Mereka tengah membicarakan gadis baru yang baru masuk di semester dua ini. Dan seperti yang kami dengar kemarin.. gadis itu adalah saudari Sasuke.
"Kau lihat rambut peraknya yang indah itu?"
Rambut perak? Bukankah seluruh anggota Uchiha memiliki rambut hitam? Yah aku tak begitu peduli, tapi jika membicarakan rambut perak indah seorang gadis membuatku teringat dengan seseorang di masa lalu… orang yang seharusnya saat ini kami cari keberadaannya dan dia adalah salah satu alasan kami ingin balas dendam.
Kira kira sedang apa dia sekarang ya? Sudah cukup lama juga kami tek bertemu dengannya.. kami penasaran dengan keadaannya.. Apakah dia sehat? Apakah dia juga merindukan kami. Maaf kami tak bisa menemukanmu lebih cepat…
"Kalau tidak salah namanya adalah Rossweise.."
…Rossweise.
A-Apa? Nama yang barusan mereka sebutkan…? Aku segera menoleh ke arah gadis yang melewatiku barusan. Dia baru saja mengatakan nama yang benar benar kukenal. Nama yang tak asing di telingaku.
"Maaf, jika boleh tahu.. Apa kalian sedang membicarakan murid baru itu?"
Tanyaku kepada kedua gadis yang baru saja kuhampiri itu. Mereka terlihat terkejut dengan kedatanganku.. Aku tak menyalahkan mereka juga. Karena awalnya aku yang tiba tiba mengajak mereka bicara padahal mereka tidak mengenalku.
"U-Uhm.. Memangnya ada apa?"
"Siapa nama gadis pindahan itu?"
Tanyaku dengan nada yang sedikit serius. Aku tahu kalau mereka ketakutan tapi saat ini benar benar saat serius.. Bahkan aku bisa keluar dari zona wajah datarku karena ini. Semuanya… semuanya… rambut perak.. serta nama yang barusan mereka ucapkan. Kedua gadis itu bergetar ketakutan sedangkan bisa kurasakan kalau orang orang yang datang melewati kami sedang melihat kami heran.
"N-Namanya Rossweise.."
Rossweise! Aku benar benar yakin kali ini! Tidak mungkin! Tidak mungkin ada Rossweise lain dengan ciri ciri sama persis berupa rambut peraknya itu. Apakah akhirnya kami menemukanmu!?... Rossweise?
"Di-Dimana aku bisa menemukan murid baru itu!?"
Tanyaku dengan nada yang sedikit tinggi karena terkejut.
"K-Kami tidak tahu.. Aku hanya melihatnya tadi… Dia bersama Uchiha Sasuke-sama, kudengar dia adalah saudara perempuan Sasuke-sama…"
Aku ingat! Gadis pindahan itu dikenalkan sebagai keluarga Uchiha!... Tapi bagaimana bisa!? Kenapa Rossweise yang menghilang beberapa tahun lalu bisa kembali sekarang dan bersama dengan keluarga Uchiha yang notabene nya merupakan salah satu keluarga bangsawan penyebab perang!? Ini tidak masuk akal? Atau justru hanya kebetulan? Bagaimana bisa Uchiha mengangkat seorang anak perempuan yang bahkan mereka tak ketahui identitasnya!?
Aku harus segera menemukan Rossweise.. Jika benar dia baru saja datang bersama dengan Uchiha Sasuke… maka aku harus menemukannya lebih dulu daripada Naruto ataupun Ultear. Akan terjadi hal gawat jika mereka dulu yang menemuinya dan bicara seenaknya tanpa memikirkan resikonya. Tidak, mungkin lebih buruk. Bahkan aku yang selalu menunjukkan ekspresi datar di Akademi bisa terkejut sampai seperti ini lalu bagaimana dengan Naruto!?
"Terima kasih!"
TAP TAP TAP TAP
Dengan berlari meninggalkan kedua gadis itu, aku mencari keberadaan Uchiha itu dan juga Rossweise..
Pertama aku menccari ke kelas dan ke lorong sekolah namun tak juga kutemukan… Dimana aku harus mencarimu!?
"Disini tidak ada…"
Kutelusuri segala tempat, lorong masuk.. kelas kelas.. Aku kembali berlari menuju ke arah taman yang biasanya sepi disaat jam pelajaran belum berlangsung. Langkah kaki ku ketika berlari di lorong menuju taman terasa sangat panjang… sangat lama… sangat menegangkan…
Dan akhirnya aku sempat bertanya kepada salah seorang murid lain apakah dia melihat Sasuke atau tidak… Dan jawabannya.. Benar.. Dia ada di taman bersama dengan murid baru bersurai perak panjang bernama Rossweise..
Apakah benar kalau dia Rossweise yang kita cari? Semua jawabannya ada di jalan keluar yang terang itu…
"Taman ini benar benar indah, Sasuke…"
"Sudah kuduga kau akan menyukai bersekolah disini lagipula kau memiliki bakat yang baik tentang sihir…"
Aku membulatkan mataku tak percaya dengan apa yang kulihat. Gadis berambut perak panjang yang indah dan memiliki senyuman yang kukenal dengan baik. Tak terasa kalau dia, aku, Naruto dan Ultear sudah dewasa… Dia tidak berubah… tawanya masih sama hanya sekarang dia lebih tinggi sama seperti Ultear.. Kami bertiga menganggap dia sebagai yang paling harus dilindungi. Setelah beberapa tahun tak bertemu dan dia muncul dengan identitas baru… Identitasnya sebagai Uchiha. Saat itu aku benar benar ingin menghampirinya dan mengatakan kepadanya kalau kami benar benar merindukanmu terutama Naruto. Tapi laki laki yang bersamanya kini membuatku ragu untuk mendekat.
Entah kenapa… Dia terlihat lebih bahagia sekarang. Jika aku mendekat… Apakah aku akan menghancurkan kebahagiaannya sekarang..? Tapi apakah dia sadar kalau keluarga yang menjadi tempatnya tinggal merupakan salah satu keluarga yang sudah membuat tempat tinggalnya yang lama hancur? Senyumnya dan tawanya bukanlah kebohongan… Dia benar benar bahagia disana. Hanya ada dia dan Uchiha disana… Mereka hanya berdua dan terlihat benar benar akrab. Bagaimana reaksi Naruto melihat ini?
Rossweise… Katakan padaku… Kau masih hidup dan tinggal bahagia bersama Uchiha… tapi apakah kau masih mengingat kami..? Atau kau benar benar sudah melupakan kami hingga tak memiliki niat sedikit pun mencari kami…? Kami selalu mencarimu… tapi bagaimana denganmu? Aku sekarang melihatmu dan kondisimu benar benar baik.. Kulit yang benar benar terjaga, tak berubah sejak dulu seperti yang kukatakan sebelumnya.. hanya badanmu saja yang bertambah tinggi namun…
Apa hatimu masih sama..? Apa kau masih mengingat kami..? Keluarga lamamu?
Aku semakin ragu untuk menghampirinya begitu melihat keakrabannya dengan Uchiha semakin terasa. Bahkan saking bahagianya… dia dan Uchiha masih belum menyadari keberadaanku yang tak jauh dari mereka. Aku kembali mengambil satu langkah mundur masuk ke dalam sisi gelap di dalam lorong Akademi dan berpikir sejenak sambil menundukkan kepala…
Jelas tidak mungkin aku menyembunyikan ini dari Naruto dan Ultear…
Lalu harus bagaimana aku sekarang?
TBC
.
.
.
Ya saya update fic yang ini.. Maaf kalo nunggu satu bulan lebih. Tapi selanjutnya update akan satu minggu sekali… Maaf juga klo fic nya gaje. Di fic ini cuma ada satu ras yaitu manusia, mungkin Magical Beast ada nanti ke depannya tapi disini Cuma ada satu ras yaitu manusia. Gak akan ada Sacred Gear disini, oleh karena itu Longinus juga aku jadiin senjata purbakala dan bukan Sacred Gear. Maaf klo ada kesalahan atau hal hal semacamnya karena aku juga baru baca LN DxD sampe volume 17 akhir.. waktu Qlippoth pimpinan Rizevim nyerang surga.. dan waktu mau baca volume 18 entah kenapa aku males ngelanjutin baca padahal aku udh baca lama.. mungkin klo ada waktu aku akan baca lanjutannya biar pengetahuanku juga lebih banyak lagi tentang DxD nggak cuma sampe volume 17.
Jika respon chapter dua ini positif, saya akan lanjutkan tapi kalau banyak respon negatifnya ya mungkin akan berhenti…
Jangan lupa tinggalkan review, kawan!
