Four Hearts
.
By Ashura
.
Disclamer : Naruto Mr. Masashi Kishimoto
.
.
Pairing : Sasuhina and Narusaku
Slight : Gaahina, Itahina
Genre : Drama, Friendship, Romance
Rating : T
.
.
WARNING!
OOC akut, TYPO, lost on rule KKBI dan hal lainnya yang bikin reader kepengen nipuk author bikin story gaje lagi. Kayaknya bakalan ada sedikit humor. Tapi resiko garing kayak ba'wan yang di jual abang-abang depan gerbang komplek.
.
#My First Canon Story
.
.
#Special to someone for request this story#
.
"I hope you like this story."
.
Don't like? Don't read!
.
.
Summary'
Saat kau merasakan yang namanya sebuah cinta kau pasti akan melakukan apapun untuk bisa tetap menggegam perasaan itu untuk selamanya.
Cinta yang datang dari seseorang yang begitu membuatmu selalu tertarik untuk selalu didekatnya dan melihat begitu bahagianya ia saat bersamamu.
Hal itulah yang terjadi pada sosok sang playboy cap gagak yang jatuh cinta pada gadis musim dingin yang sama sekali tak pernah tertarik padanya yang justru lebih tertarik dengan sahabat pirangnya yang mencintai gadis musim semi yang justru dengan blak-blakannya mengatakan sangat mencintainya.
.
Bagaimana roda putaran cinta mereka akan berhenti?
Check it dot!
.
.
Happy Reading!
.
.
#2# Second
Hinata menonaktipkan byakugannya menghela napas lelah. Ia lantas berbalik memberikan tatapan bosannya pada putra sulung Uchiha.
"Kau hanya membuang-buang waktuku saja. Aku yakin saringan mu tidak rusak untuk menyadarinya keberadaan adikmu," bisik Hinata kesal. Ia sudah memberitahukan perihal terakhir kalinya ia memberitahukan Sasuke pada Itachi tapi, pria itu masih jika ia tidak menemukannya. Jika seandainya pria itu tidak mengiming-iminginya dengan sekotak manisan coklat sumpah Hinata tidak akan pernah sudi untuk menguntili pria yang kini masih berdiri diam di sampingnya. Kenapa hanya sekotak coklat, hey.. kalian tidak akan tahu coklat yang di maksud Hinata bukanlah coklat sembarangan. Coklat yang diminta Hinata adalah coklat buatan salah satu kelompok pembunuh bayaran. Coklat yang dibuat dengan campuran ramuan khusus yang berfungsi untuk meningkatkan stamina dan sebagai penyembuhan yang paling efektif. Hanya orang-orang tertentu yang bisa mendapatkan barang itu. Jika bukan orang yang berpangkat tinggi dengan koneksi kesana sini, kau harus jadi seorang bangsawan kaya yang dengan suka relanya membeli 1 kotak coklat dengan harga puluhan juta.
Hinata bisa saja mendapatkannya sayangnya, ia tidak mau kena masalah dengan ayahnya yang kadang suka cerewet menanyainya ini dan itu..
Dan aji mumpungnya Itachi menawarinya dengan syarat ia harus membantunya untuk menemukan Sasuke.
"..."
"Kau tidak mendengarkanku ya!"
Itachi masih tidak bergeming. Tatapannya masih tetap terarah kedepan seolah menerawang kedepan. Hembusan angin menrepa tubuh mereka yang berdiri di atas patung hokage ke 5. Poni panjang Itachi membingkai wajah tirusnya. Hinata memalingkan wajahnya yang sedikit merona.
Tampan.
Tidak heran keluarga Uchiha memang terkenal dengan keindahan fisiknya yang bagus. Itachi memang sangat tampan tapi, profesinya sebagai anbu membatasinya dalam bersosial hingga mungkin sedikit orang-orang yang mengenal Itachi sangat berbeda jauh dengan Sasuke yang pastinya sangat populer apalagi di kalangan perempuan. Cih. Uchiha satu itu mungkin memang spesies baru berhubung tidak ada satu pun pria Uchiha yang bertingkah semenyebalkan dia. Sikapnya yang selalu 'oke-oke' saja jika didekati perempuan. Godaan demi godaan pria busuk itu lencarkan pada setiap gadis cantik yang ditemuinya. Astaga.. Hinata sendiri muak jika mengingat seberapa mengesalkannya pria itu bersikap padanya. Memang bukan godaan rayuan dari mulut manis pahitnya itu, melainkan dari tindakan-tindakan yang terkadang membuat Hinata sangat risih.
Cih. Kenapa dia harus mengingat si playboy kadal hitam itu. Seharusnya Hinata mengingat Naruto saja. Lelaki pujaan hatinya itu jelas jauh lebih keren dari si playboy hitam itu.
Mengingat Naruto.. ngomong – ngomong sedang apa dia ya, sekarang? nya Hinata jadi ingin bertemu dengan sesorang yang berada di kantor Hokage sana. Tidak menyangka pada akhirnya lelaki pujaanya itu akhrnya mendapatkan impiannya selama ini. Tidak heran juga sich.. mengingat betapa gigihnya lelaki pujaannya itu dalam berjuang dalam jalan menuju impiannya itu. Hal itu justru membuat cinta Hinata pada lelaki itu semakin tumbuh besar.
Beda dengan Hinata yang nampak melamunkan lelaki pujaanya, lain Itachi yang nampak menghela napas perlahan saat pengamatannya sama sekali tidak membuahkan hasil apapun. Sasuke memang pintar dalam membunyikan apapun.
Beruntung Itachi telah mengirimkan satu kagebunshin-nya untuk datang ke pertemuan para anbu jadi, ia tidak perlu terlalu memikirkan hukuman dari para petinggi keamanan anbu. Sebagai gantinya kecemasan lainnya muncul dari kelompok lain yang mungkin justru akan membuat nyawanya terancam jika ia tidak menemukan topeng anbu kesayangannya itu.
"Hinata chan kita akan bergerak sekarang."
"..."
Itachi menatap penasaran saat Hinata sama sekali tidak menggubris ucapannya. Menyerngit heran ia tolehkan kepelanya hanya untuk menemukan Hinata dan lamunan yang membuat Itachi sedikit kesal karenanya.
"Hinata chan," panggil Itachi dengan nada yang sebiasa mungkin.
"..."
"Hinata!" Itachi sudah mulai hilang kesabaran lantaran Hinata sama sekali tidak berniat keluar dari impian imaginasinya.
"..."
Karena kesal masih tidak dihiraukan Hinata, Itachi lantas bergerak lebih dekat kearah Hinata dan..
"HINATAAA!" Berteriak tepat di telinga Hinata membuat sang empunya reflek melayangkan tinjunya ke rahan Itachi hingga pemuda Uchiha itu terpental menabrak dinding batu Hokage menciptakan retakan yang kasar di sekeliling mereka.
Hinata meringis merutuki refleknya yang tidak terkontrol. Ia beranjak membantu Itachi meminta maaf sekali karena bersikap berlebihan. Tidak sedikit pula ia menyalahkan tindakan Itachi yang membuat kaget.
"Itu karena kau terlalu fokus dengan dunia khawalmu itu. Lagipula dunia juga tahu jika Naruto sudah menambatkan hatinya untuk gadis medis pinky cantik itu."
Beletak!
Gubrak!
"Akh. Sakit! Apa-apaan kau, Hinata. Memang kau pikir pukulanmu tidak sakit."
Hinata membuang muka dengan perasaan dongkol. Perasaannya makin memburuk dan sangat kesal saat mendengar secara langsung dari kakak teman seangkatannya yang terkenal plyaboy itu. Dan apa-apaan dengan pujian itu? Semua orang juga tahu jika Sakura tidak memiliki bentuk tubuh wanita ideal. Tidak akan ada yang mengira jika rambut sebahu dengan warna yang selalu mencolok matanya itu adalah seorang wanita andaikan parasnya tidak sefeminim seorang perawat wanita. Sekali lagi apa coba yang dilihat Naruto dari wanita kerempeng macam Sakura dibanding dengan dirinya yang memiliki body yang bahkan guru alim seperti Jiraya sensei saja bisa terbengong kagum melihatnya.
Meski begitu, ia juga tahu jika Naruto memang suka memprioritaskan keberadaan gadis pinky itu dibandingkan dengan keberadaaannya yang secara terang-terangan memperlihatkan ketertarikan yang besar pada si pria hokage. Namun, sayangnya pria itu
Namun kembali, pria itu seolah menutup mata dan telinganya akan semua hal yang Hinata lakukan padanya. Mengingatnya saja membuat dadanya sesak.
"Lebih baik kita harus segera menemukan Sasuke, Itachi nii."
Itachi menggumam sambil membersihkan pakaian khas anbunya yang yang terkena debu. Hinata dan Itachi pun melesat pergi untuk menemukan keberadaan cakra besar khas Uchiha, Uchiha Sasuke.
..
Setelah beberapa lama pencarian Hinata dan Itachi, mereka akhirnya memutuskan untuk berpencar. Byakugan Hinata akhirnya mendeteksi cakra yang dicarinya setelah 5 menit pencariannya berakhir. Ia lantas melompat menuju sebuah pohon untuk kembali memastikan jika perkiraanya benar.
Sasuke dan Gaara disana. Namun, ada satu hal yang membuatnya menyipit tidak suka. Sesosok gadis bersurai buble gum juga ada disana.
Dengan wajah mengkerut masam seperti biasanya Hinata melompat dari pohon lantas berjalan tergesa-gesa menuju 3 orang yang masih belum menyadari keberadaannya.
Sakura nampak senang dalam pelukan Sasuke sedangkan Gaara hanya menggelengkan kepalanya lantas kembali menggeluti kegiatannya untuk menyeselaikan perbaikan rumah yang terakhir.
"Sasuke kun. Aku selalu mencintaimu. Kenapa kita tidak berpacar saja."
"Hm." Sasuke hanya menjawab sebagai gumaman tidak jelas membiarkan Sakura bergelayut manja, sesekali ia menerima suapan demi suapan makanan yang dibawa gadis itu untuknya.
"Ayolah kau selalu saja menjawab hal yang seperti itu saja jika ku tanya seperti itu."
Sreet.
Bruk.
"Aduh." Sakura mengerang kesakitan saat Sasuke tiba-tiba saja berdiri membuatnya tesenggol dan jatuh terduduk. Jangan lupa makanannya pun ikut terjatuh disampingnya.
"Maaf. Nampaknya aku mengganggu moment kebahagiaan kalian."
Sakura mengerang kesal saat mendengar seorang wanita berucap santai seolah tidak bersalah dengan apa yang diucapkannya, walaupun pada kenyataannya memang wanita itu tidak melakukan apapun selain mengejeknya dengan suara bernadanya.
"Kau.. Apa yang kau inginkan Hyuuga, huh?" tanya Sakura sengit.
"Hm? Tidak ada. Hanya ingin memberitahukan pada kekasihmu jika kakaknya sedang mencarinya."
"Ku kira kau yang mencariku."
Hinata dan Sakura menatap Sasuke yang tersenyum santai. Sakura jelas membalas senyuman Sasuke yang sebenarnya ditujukan untuk Hinata. Sayangnya Hinata hanya menganggapnya sebagai angin lalu.
"Maaf mengecewakanmu, tuan Uchiha. Tapi memang kakakmu yang mencarimu dan.. nampaknya kakakmu kesal karena kau tidak mengembalikan barang pribadinya yang kau pinjam tanpa izinnya."
"Hm. Baiklah. Nanti aku akan menemuinya. Tapi, sebagai gantinya aku..." Sasuke mengeluarkan setangkai bunga mawar kepada Hinata. "..Terimalah. Ini adalah bunga yang spesial untukmu."
"Apa?" Ini adalah suara Sakura yang tidak terima.
Hinata? Tentu saja ia hanya melihatnya sebentar tidak segera menerima bunga tersebut sampai Gaara membuka suaranya.
"Wah bunga yang cantik. Kau pasti melakukan ini kepada setiap gadis yang kau temui, Uchiha san." Gaara bersidekap memperhatikan Hinata. Dalam kepalanya bertanya-tanya apakah Hinata akan menerimanya atau tidak. Namun, hatinya bergemuruh cepat saat Hinata memang menerima bunga dari Sasuke.
"Kau benar Gaara san. Bunga yang sangat cantik." Hinata tersenyum yang disambut dengan senang oleh Sasuke tapi, tangan lembut Hinata justru meremas bunga merah tersebut lantas melemparnya dengan kasar memberikan tatapan tajamnya pada Sasuke.
"Apa yang kau..."
"Dengar, tuan Uchiha Sasuke! Mengacalah kau pada cermin yang ada dikamarmu. Aku benci dengan lelaki pembual, pembohong, dan perayu sepertimu. Kau tidak pernah merasakan sakit karena kau tidak pernah mencintai seseorang dengan sepenuh hati." Hinata bersidekap menatap nyalang pada Sasuke yang tidak bergeming ditempatnya.
"Apa kau tahu bagaimana perasaaan Sakura sekarang?"
Sakura terkejut saat namanya disebut-sebut dalam ucapan Hinata. Tapi, bukan itu yang membuat hatinya tercubit. Tiap kalimat Hinata yang seolah menyadarkan dirinya pada perasaan yang selalu bertepuk sebelah tangan.
"..."
"Kau tidak bisa menjawabnya karena kau punya kepala dengan ego sekeras batu. Tapi, aku lebih suka menyebutmu sebagai 'kepala hantu bodoh'. Satu hal yang harus kau ingat. Jika kau ingin aku menerima setiap bungamu, rubahlah tingkah laku penggodamu dan cintai hanya satu wanita terbaik saja. Sekalipun wanita itu adalah rivalku.." Hinata melirik Sakura yang masih menatapnya tajam, "..dengan senang hati aku menerima bungamu sebagai nakama seperti yang lainnya."
"Dan.. untukmu nona, Haruno. Jangan sekali-kali kau menggoda Naruto kun dibelakangku karena kau sudah punya Sasuke." Tambah Hinata membuat semua mata menatapnya terkejut.
'Blak-blakan sekali.'
"Si-siapa yang menggoda pria bodoh itu. Aku hanya mencintai Sasuke kun saja.." merah merona di pipi Sakura membuatnya terlihat manis. Hal itu dibenarkan oleh Sasuke dan Gaara namun, lainnya untuk Hinata yang terlihat bodoh dan konyol, menurutnya.
"Jadi kita sepakat. Naruto hanya untukku, kau harus menjauhi Naruto kun bagaimanapun caranya. Mengerti!"
"Tentu saja. Aku lebih memilih Sasuke kun karena.. aku memang tidak akan pernah mencintai Naruto kun."
"Apa?"
Deg.
Semua orang terkejut saat kedatangan seseorang yang menyeruakan suara pilu dan kekecewaan dalam nada baritonnya. Naruto sang Hokage masih terdiam terpaku tidak jauh dari 4 orang berbeda rambut disana. Baik Hinata maupun Sakura nampak khawatir saat melihat iris shapire yang terlihat kosong disana. Tubuhnya yang masih mengenakan jubah Hokage terdiam terpaku ditempatnya. Kedatangannya yang tiba-tiba jelas tidak terprediksinya sama sekali.
"Ja-Jadi, Sakura chan memang tidak pernah menganggapku selama ini."
"Ti-tidak itu..." Sakura nampak kebingungan untuk mencari alasan yang tepat untuk menjelaskannya pada Naruto.
"Pa-padahal aku selalu menjadikanmu prioritasku selama ini. Menjadi hal yang paling utama untukku dalam pengharapanku dapat membuka hatimu untukku Sakura."
Deg.
"Tapi, ternyata aku salah. Kau memang selalu mencintai si teme."
"I-ni bisa ku-ku jelaskan Naru..."
Sakura tidak bisa menyelesaikan kalimatnya saat pria itu justru melompat menjauhi mereka. Entah sadar atau tidak Sakura justru mengejar Naruto yang bergerak dengan kecepatan penuh serta kondisi cakra yang tidak teratur.
Hinata lantas melenyapkan urat-urat byakugannya. Ia lantas menghela napas lelah menyentuh sebelah matanya yang memanas. Memang benar.. Naruto tidak akan pernah bisa berpaling dari gadis musim semi itu. Tapi, rasa kecewanya benar-benar menyebalkan.
"Hinata kau tidak apa-apa?"
Hinata tersenyum tipis pada Gaara sebagai jawaban pertanyaan lelaki bersurai merah itu. Ia lantas mengalihkan tatapannya pada satu-satunya lelaki yang sama sekali tidak bereaksi apapun sejak tadi ia membentaknya.
Deg.
Satu perasaan aneh menggelitik perutnya saat menemukan mata onyxnya menatapnya intens. Yah baru disadarinya jika... mungkinkah lelaki itu masih menatapnya sejak kepergian Naruto atau mungkin sudah sejak sebelum itu.
"Apa lihat-lihat?" Hinata sengaja mengeluarkan suara judesnya seperti biasa namun, nampaknya ini sedikit... berbeda?
"Tidak apa-apa. Hanya ku pikir apa yang kau ucapakan tadi memang benar adanya."
Hinata menyerngit curiga saat tidak menemukan tatapan jenaka pria itu seperti sebelumnya.
"Kau..."
"Hinata!"
Hinata mengehentikan ucapannya saat seseorang meneriakan namanya dengan lantang dan keras. Itachi melompat tepat di hadapannya. Tanpa tendeng aling langsung menarik tangannya membawanya dalam dekapan dengan menggunakan sebelah tangannya.
"Hei! Apa yang..."
"Jangan banyak protes! Aku sudah menemukan Sasuke. Kita harus bergegas sebelum semua urusannya jadi berabe tidak terkendali."
Hinata hampir berteriak diwajah Itachi sebelum lelaki ini tidak melanjutkan ucapannya.
"Aku tidak mencari kagebunsinnya Sasuke, Hinata. Kita pergi sekarang."
Bersama dengan itu, Itachi lantas mengangkat dua jari telunjuk dan jari tengahnya. Setelahnya mereka berdua hilang meninggalkan bunyi 'Bupt' dengan kepulan asap kecil. Meninggalkan dua pemuda yang masih diam ditempatnya. Tak berapa lama mereka berdua lantas melemparkan tatapan kekesalannya sebelum akhirnya mendecih membuang muka satu sama lain.
..
..
Seorang pemuda dengan yukata Hitam tanpa lengan berdiri di dekat sebuah air terjun dengan air yang sangat jernih. Lambang kipas merah putih tersemat dipunggungnya menunjukan dari klan mana lelaki ini berasal. Sudah dapat ditebak rambut raven navy blue dan jangan lupakan postur tubuh tinggi berwajah tampan. Siapa lagi kalau bukan pemuda yang sering digandrungi oleh banyak wanita, Uchiha Sasuke.
Mata dengan mode saringannya telah di aktipkan. Ia lantas mengambil sebuah benda yang sedari tersembunyi dibalik yukatanya.
Ia menyeringai saat melihat sederet tulisan tipis sangat tipis jika kau bukan pengguna genjutsu khusu sepertinya. Segel tersembunyi yang selama di rahasiakan Itachi selama ini. Cih. Lihat saja jika sampai Itachi melakukan tindakan yang berpotensi adanya tindakan penghianatan terhadap desa maka ia tidak segan-segan untuk membongkar rahasia kakaknya itu. Kesan buruk ini akan membuat orang-orang menjauhinya termasuk dengan 'dia'.
Membayangkannya saja sudah membuat hatinya senang. Sasuke menyeringai puas.
Ia mengenakan topeng anbu milik sang kakak. Awalnya tidak terjadi apa-apa sampai ketika Sasuke melangkah gemuruh air mulai berubah. Terdengar gesekan batu yang bergerak yang ternyata itu menghentikan aliran air terjun. Sasuke mencoba melangkah masuk kearah gerbang yang terbuka dibalik air terjun.
"Kena kau Itachi." Bisiknya puas.
Saat kakinya telah berada di dalam gerbang tersebut, secara menakjubkan aliran air terjun tersebut telah menutup menyisakan Sasuke didalam ruangan gelap tersebut.
Tanpa ada keraguan apapun, Sasuke memasuki ruangan yang kini telah di terangi oleh obor-obor kecil disampingnya. Hatinya bertanya-tanya tentang apa sebenarnya kegiatan Itachi di ruangan sumpek seperti ini. Sasuke berjalan semakin masuk kedalam.
Satu hal yang tidak disangkanya saat sebuah shuriken melesat kearahnya. Beruntung ia mempunyai gerak reflek yang bagus. Menatap sekilas pada benda-benda kecil disampngnya ia dikejutkan dengan kedatangan orang-orang berjubah hitam yang menatapnya tajam.
"Hohoho... Lihatlah ada tamu lancang datang kesini, eh tunggu!" Seorang lelaki dengan rambut perak klimis datang menyambutnya dengan kalimat sindirannya, ia menengok kesamping mengedikan kepalanya kearah pemuda yang masih mengenakan topeng anbu salah satu anggotanya itu.
"Kita apakan tamu, tidak punya sopan-santun ini?" Tanyanya menunggu perintah dari lelaki bersurai jingga dengan wajah dipenuhi tindikan.
"Dia memakai topeng Itachi," balas lelaki yang kini memperhatikan pemuda didepannya penuh ketelitian.
"Dia sangat mirip Itachi, Pein kun."
"Aku juga berpikir seperti itu. Konan."
Sasuke masih memperhatikan dengan waspada melihat interaksi ke 7 orang didepannya. Sasuke menata pria bergigi ikan hiu disamping pria yang dipanggil pein. Seringainya terlihat ganjil saat mereka saling beradu pandang.
"Sepertinya aku mengenal pemuda ini, Hidan. Kau pun pasti sudah menebaknya bukan. Aku bahkan bosan saat Itachi selalu saja membicarakannya, topik yang membosankan."
'Kau benar, Kisame." Hidan menjilat sisi bibirnya yang tipis, "..aku pasti akan sangat menikmati darah yang hangat mengalir di kulitnya itu, uhhhh.."
"Brisik kau Hidan! Kakuzu, ambil kembali topeng itu darinya! Identitas kita tidak boleh diketahui oleh siapapun.''
"Hm."
Sasuke masih berdiri tenang menatap ketujuh orang berjubah hitam bercorak awan bersiap menyerangnya. Ia terasa familiar dengan corak pakaian yang dikenakan orang-orang didepannya. Sasuke mencoba menggali ingatan tentang penampilan misterius yang sedikit membuatnya penasaran.
Psyuuuut
Sasuke menghindar tepat waktu saat beberapa benda tajam melesat kearahnya. Sebuah boneka aneh berbentuk hewan telah memposisikan dirinya untuk bertarung.
"Sasori dia milikku! Jangan mengganggu!" teriak Hidan tidak terima.
"Kh. Siapa cepat dia dapat!" pria muda bersurai merah ini menyeringai puas saat melancarkan susulannya selanjutnya ke arah Sasuke.
Namun, kembali Sasuke dapa menhindarinya sayangnya ia kembali terdesak saat seorang pemuda cantik bersurai pirang melemparkan sebuah benda berbentuk serangga yang terbuat dari tanah liat di arahkan tepat ke arah Sasuke. Tanpa diduga sebuah ledakan bersar terjadi membuat arena pertarungan ini mendadak terang,
"Gotcha!"
"Deidara! Kau tidak bisa membunuhnya. Pein ingin dia ditangkap hidup-hidup."
"Memangnya aku perduli. Aku sangat senang bertemu lawan yang nampak kuat itu. Aku tidak ningin ketinggalan bagian, konan."
"Deidara!"
Menghiraukan teriakan Deidara kembali mengeluarkan peledak reflika miliknya lagi.
"Sugoi... ledakan memang seni yang indah. Hahaha..."
Sebuah ledakan lebih besar pun terjadi. Asap mengepul dalam ruangan yang sangat luas ini. Deidara masih memperlihatkan seringai kepuaasannya sampai ia melihat sebuah cakra ungu membungkus tubuh Sasuke. Bentuk susano level pertama menyelubunginya. Sasuke menghela napas lantas melepaskan topeng diwajahnya.
Dedara nampak mendecih kesal menemukan saringan yang menatapnya tajam. Ia jelas tahu hanya satu klan saja yang memimilki mata itu. Benar-benar merepotkan.
"Apa tujuanmu datang kesini?" Tanya Pein dingin saat Sasuke telah menghilangkan Susano ya.
"aku hanya ingin tahu kegiatan apa dilakukan Itachi disini. Sedikitnya hal itu akan mempengaruhi reputasinya sebagai anbu Konoha."
"Sepertinya perselisihan kakak adik. Aku enggan ikut campur." Ucap Hidan meninggalkan arena pertarungannya di susul oleh Kakuzu dan Kisame.
Kini tinggal 5 orang tersisa di ruangan ini. Sasuke menghilangkan wujud Susanonya lantas berjalan pelan menuju satu-satunya wanita di ruangan itu. Ia melepaskan topengnya masih tetap berjalan mendekat.
Entah didapat dari mana Sasuke memberikan setangkai bunga mawar merah pada Konan membuat wanita itu bingung namun rona merahnya jelas terlihat di kedua pipinya.
"Bunga tercantik untuk gadis tercantik disini," ucap Sasuke santai. Satu senyuman di lemparkan pada gadis dengan khas bunga kertas menjadi penghias surai ungunya.
"Arigatou," jawab Konan malu-malu. Pein yang menatapnya melotot tidak suka. Baik Deidara maupun Sasori nampak bosan melihatnya memilih pergi meninggalkan orang-orang yang nampak sibuk sendiri itu.
"Sama-sama. Hanya saja sebagai gantinya apakah kau mau menjawab pertanyaanku?" bisik Sasuke mengangkat dagu Konan untuk menghadapnya.
"Hei! Jangan coba-coba kau menyentuh sepupuku, Uchiha!" Pein yang melihat interaksi intim antara Sasuke dan Konan menjadi semakin geram. Ia lantas menarik kerah belakang Sasuke menjauhkan dari Konan lantas menyembunyikan sang sepupu dibalik punggungnya.
"Tidak apa-apa Pein niisan. Uchiha kun tidak menyakitiku," ucap Konan membuat Pein memberikan tatapan tajamnya kepada Sasuke. Pembelaan Konan justru membuat dada Pein mendidih marah. Nampak Konan telah terkena gentujsu pemuda Uchiha kurang ajar itu.
"Kau jangan membelanya Konan. Kau sedang terkena genjustu si kurang ajar itu."
Sasuke terkekeh pelan mengibaskan rambutnya kebelakang kepalanya namun kembali pada tatanan rambutnya yang sebelumnya, "nampaknya aku mengetahui kalian siapa." Sasuke tersenyum lebih tepatnya menyeringai sebelah tangannya bertolak pinggang. Memiringkan kepalanya untuk melihat Konan yang juga menatapnya masih bersemu.
"Akatsuki. Mempunyai 8 anggota dan 1 ketua. Terlibat dalam beberapa misi legal maupun ilegal. Dikenal sebagai kelompok penjahat bayaran."
"Cih. Bocah ingusan. Sebenarnya apa maumu datang kemari. Aku yakin topeng itu tidak akan diberikan padamu secara cuma-cuma oleh Itachi."
"Apa ya..." Sasuke bersidekap seolah benar-benar berfikit sebagi bentuk ejekan yang tentu dapat dimengerti oleh Pein, "..Tadinya ku pikir dengan mencari tahu sesuatu tentang topeng milik Itachi dapat memberikan keuntungan untukku. Tidak pernah terpikirkan olehku jika benda ini justru mempertemukanku dengan akatsuki yang terkenal dengan segala kerahasiaany."
"Jangan bercanda! Apa yang kau rencanakan sebenarnya?"
"Tidak ada. Hanya saja ku pikir dengan membuka rahasia kegiatan Itachi selain anbu membuatku tertarik untuk mencari tahu. Dan setelahnya ku tahu, ini sangat membosankan."
"..."
"Tapi, saat aku lihat sepupumu itu, pemikiranku berubah."
"..."
"Aku ingin bergabung menjadi tim Akatsuki."
"..."
"..."
"Ck. Jangan bermimpi kau Uchiha. Kami merekrut hanya mereka yang terpilih secara khusus saja. Kualifikasi yang utama sebagai syarat utama dan beberapa tahap pengujian yang tak sembarang orang mampu menjalaninya."balas Pein menatap puas pada pria yang kini mengkerut masam.
"Kenap aku kuat dan tangguh. Aku dari klan terpandang dan aku tampan. Aku jelas sudah melebihi kualifikasi kalian, bukan?"
"Hm. Kita lihat saja. Dalam perekrutan nanti, lulus atau tidak pembina trialmu yang akan menentukan."
"Hm. Seperti masuk sekolah akademi saja. Siapa trialnya?" tanya Sasuke santai.
"Aku!"
Sebuah suara lain menggema dalam ruangan membuat semua pasang mata menoleh untuk melihat 2 atau lebih tepanya pada 3 orang tamu tak asing berdiri tak jauh dari pintu masuk.
"Itachi?"
"Hinata kau..."
Yang terakhir adalah Sasuke yang terkejut dengan kedatangan orang yang tidak disangkanya.
.
.
To be continued
.
.
.
#Thanks to..
BYE-chan : Oke. Sabaku no Yanie : Arigatou.. Ha'i Update nih..TheTomatoShop : Nejinya udah ga ada nihh.. Moment sasuhina y dichap depan dibuat seheboh mungkin.. mungkin heheh..
..
Oke skip dach.
Thanks to for silent reader. And someone... you're borring for this story, right? But its really only story.. hehhe.. Conclusion ..
A..B..C..D..E..F..G
...?
#Bupt*gajenya kumat..*Abaikan!
...
Oke. semoga reader menikmatinya
.
Tapi, masihkah ada yang bertahan sampai 1 hingga 2 chap keborringannya lagi?
...
Nice..Plup*_*.. hahaha..
SEKIAN.
.
.
"See you next chapter.."
