.Happy Read.
op: Your Nameスパークル (Original Soundtrack Kimi no nawa)
¤Uchida Tokugawa¤
-Present-
.Naruto belong's Masashi Kishimoto.
Naruto © Kishimoto M.
.Highschool DxD belong's Ichie Shibumi.
Highschool DxD © Ichie Shibumi
.
.
Note: Bagian ini menceritakan kilas balik setelah Naruto kembali ke dunia asalnya.
.
.
.
.Present.
.
.
.
(Before&After)
Sret!
Sret!
Sret!
Suara ujung pena bergerak pelan membentuk setiap huruf menjadi kalimat disebuah kertas berada diatas meja sang hokage yang saat ini sedang mengisi berkas berkas penting tentang urusan dalam desa maupun urusan kerja sama kepada desa lain.
Tok!
Tok!
Naruto menghentikan gerakan menulisnya kemudian menatap kearah pintu ruangannya saat menderita suara ketukan pelan dari arah luar yang dibalas Naruto dengan nada pelan.
"Masuk"
Cklek!
Naruto sesaat menatap terkejut kearah seorang pemuda raven yang barusan membuka pintu ruangannya dan melangkah masuk, dirinya sudah sangat lama tidak bertemu pria dihadapannya ini.
"Sasuke? Sejak kapan kau kembali?" Naruto menaruh pena ditangannya kemudian bangkit dari duduknya melangkah kearah Sasuke yang menatapnya datar.
"Beberapa saat lalu" Balas Sasuke singkat, kedua iris onyx nya menatap intens Naruto beberapa saat, "kudengar kau sempat koma selama 2 bulan Naruto? Sebenarnya apa yang terjadi?" Sambungnya datar membuat Naruto hanya tertawa pelan.
"Tumben kau berbicara panjang lebar teme" Naruto tertawa melihat sifat langka Sasuke barusan karena sangat jarang pemuda Uchiha ini berbicara panjang lebar bahkan kepada Sakura selaku istrinya saja masih sangat irit bicara.
Raut wajah Sasuke seketika menjadi semakin datar, entah mengapa Hokage sableng dihadapannya ini mempunyai tingkah menyebalkan sedari kecil dulu dan sekali lagi dirinya menyesal karena sempat merasa khawatir kepada Naruto ketika mendengar bahwa pemuda tersebut koma selama 2 bulan.
"Aku pergi" Desis Sasuke datar kemudian shunshin meninggalkan Naruto yang menatapnya bengong.
"Hah? Ayolah Sasuke! Semakin tua emosimu malah semakin cepat ngambekkan ya hahahaha!" Naruto menatap kearah Sasuke yang telah pergi dengan pandangan bengong, dirinya tak menyangka rivalnya tersebut marah hanya karena godaannya barusan.
Set!
Naruto melangkah pelan kembali ke kursi hokagenya kemudian duduk sambil memutar kursinya menghadap kearah jendela menatap langit biru cerah serta hamparan bangunan desa yang terlihat indah dari atas sini, entah mengapa perasaanya menjadi campur aduk seperti ini ketika Sasuke mengatakan Koma 2 bulan membuatnya kembali mengingat tentang Asia.
"Sudah 5 bulan kah?"
Iris safir Naruto menerawang jauh menatap langit, dirinya hingga saat ini entah mengapa selalu dan selalu saja teringat akan gadis pirang manisnya tersebut dan berharap untuk bertemu dengannya lagi meskipun itu adalah hal mustahil sebab Naruto tidak tahu dengan pasti dimana tempat ataupun dimensi Asia berada bahkan sudah ratusan jurus ruang dan waktu dirinya coba namun hasilnya nihil.
"Bagaimana kabarmu disana Asia?" Ucap pelan Naruto memejamkan kedua irisnya erat saat merasakan kedua matanya memanas karena mengingat hal yang paling disesali karena harus berpisah dengan gadis yang dicintainya sekaligus hal yang paling membahagiakannya karena berhasil menyelamatkan gadis tersebut dari mimpi buruk yang selalu dimimpikannya sebelum berada didunia tersebut.
Dirinya selama lima bulan ini entah mengapa kehidupannya selalu terasa semu tanpa warna kehidupan bahkan hatinya serasa hampa padahal hampir setiap hari selalu ada wanita dari desa maupun luar desa yang memberinya hadiah dan melamarnya bahkan beberapa ratu dari negeri luar juga datang melamarnya meskipun selalu Naruto tolak dengan halus dan juga meskipun tidak etis jika dirinya seorang pria dilamar oleh seorang wanita namun memang ia tidaklah memikirkan hal tersebut dan tidaklah tertarik sama sekali sebab seluruh hati dan cintanya telah diambil sepenuhnya tanpa sisa sedikitpun oleh seorang gadis pirang dengan senyuman manisnya yang selalu membuat dirinya tenang, meskipun berbeda tempat dan waktu namun Naruto selalu dan selamanya berharap bisa kembali bertemu dengannya walaupun hanya sesaat.
Tes!
Naruto tersentak saat merasakan bahwa entah sejak kapan aliran air matanya telah mengalir melalui ujung matanya dengan pelan mengalir melewati kedua pipi berhiaskan whiskernya tersebut dan menetes diatas meja kerjanya.
Set!
"Kuharap kita bisa bertemu kembali" desis Naruto mengusap lelehan air matanya pelan kemudian tersenyum lembut menatap kearah gelang tali ditangan kanannya, sebuah harta paling berharga yang dimilikinya sebagai tanda bukti bahwa cintanya nyata dan gadis yang dicintainya nyata karena teman dan kerabatnya hanya menganggap ceritanya mengenai gadis dan desa yang ditemuinya ketika dirinya koma selama 2 bulan hanyalah sebagai omong kosong belaka.
-Asia Place-
Sedangkan beralih menuju Desa Itomori sebuah desa yang indah dimana sepanjang mata memandang hanyalah terlihat sawah sawah serta hamparan rumput luas dan juga desa yang seharusnya telah hilang dari peradaban akibat komet tiamat yang setiap 1500 tahun sekali melintas di bumi tidak jadi jatuh dan menghancurkan desa tersebut akibat seorang pemuda pirang yang telah menghancurkan komet tersebut ketika akan jatuh dan menyelamatkan semua nyawa penduduk desa, meskipun mereka tidak mengetahui kalau telah diselamatkan oleh seorang pemuda namun ada seorang gadis Miko bersurai pirang yang mengetahui dengan jelas siapa pemuda penyelamat tersebut dan terlebih pemuda tersebut adalah cintanya yang telah pergi kembali kedunianya akibat resiko menyelamatkan desanya.
Disebuah bukit kecil dimana dibagian tengah bukit tersebut terdapat pohon sakura yang dengan suburnya tumbuh disana terlihat seorang gadis bersurai pirang yang melangkah pelan dari bahwa bukit menaikinya hingga kebagian atas dan berdiri tepat disamping pohon sakura tersebut menatap kearah langit senja yang mulai berwarna orange.
Set!
Asia menyentuh batang pohon sakura disampingnya pelan, kedua iris hijaunya meredup sesaat ketika mengingat seorang pemuda pirang yang dulu dengan bodohnya menyatakan cinta ditempat ini kepadanya, pemuda bodoh yang telah merebut seluruh cinta dihatinya dan pemuda yang sangat bodoh yang melanggar perintahnya untuk tidak kembali ke desa ini ketika akan hancur dihantam komet namun dengan bodohnya pemuda tersebut kembali serta mengorbankan segalanya hanya untuk menyelamatkannya yang kemudian dengan seenaknya sendiri pula pemuda tersebut pergi meninggalkannya seorang diri membawa semua cinta dihatinya.
Tes!
Tangan kecil Asia bergetar pelan memegang batang sakura disampingnya, dirinya tau bahwa Naruto berkorban dan rela berpisah dengannya untuk menyelamatkannya dan seluruh warga desa namun bisakah ia egois kali ini? Egois dimana ia memiliki Naruto tanpa harus kehilangannya dan persetan dengan seluruh warga desa sebab hanya Naruto seoranglah yang menjadi semangatnya untuk hidup.
Grep!
Dirinya mengenggam erat gelang tali yang terpasang ditangan kanannya erat, seolah menyalurkan rasa rindunya yang teramat besar ke gelang tersebut dan berharap tersalurkan dan sampai kegelang satunya yang dibawa oleh Naruto.
"N-naru" Asia tergagap menahan isakannya sambil meremas gelang ditangannya, entah mengapa rasa kesal dan penyesalan selalu menggapai hatinya, menyesal karena telah kehilangan pria yang dicintainya dan kesal karena waktu itu ia tidak bisa berbuat apa apa dan hanya menonton kejadian dimana Naruto menyelamatkan desa serta dirinya.
"Bolehkah aku juga berharap sama sepertimu Naru? Jika suatu saat nanti bahkan hingga ajal menjemput tetap berharap bisa bertemu denganmu kembali?"
Ckit!
Asia menatap bingung ketika Naruto tiba tiba menghentikan sepeda yang mereka tumpangi didepan sebuah bukit kecil dengan sebuah pohon sakura yang menghiasinya dibagian puncak bukit tersebut, dirinya ingin bertanya perihal Naruto menghentikan kayuhan sepedanya.
"Ada apa Nar-!"
Set!
Seketika wajah Asia memerah bahkan perkataannya terhenti saat Naruto dengan tiba tiba memegang tangannya serta memandang dengan kedua iris safir teduhnya.
"Mungkin kau bisa mengatai aku gila atau semacamnya Asia" Ucap Naruto menatap kedua iris Asia dalam, dirinya berpikir mungkin Asia akan menganggapnya aneh atau hal lainnya namun sesuatu dihati kecilnya mengatakan bahwa hal yang dilakukannya ini benar, "namun asal kau tahu kalau aku sangat mencintaimu, entah saja kapan perasaan ini muncul bahkan hampir 15 tahun perasaan ini tidak pernah kurasakan seperti yang kuceritakan padamu saat itu Asia, namun percayalah sejak bersamamu semuanya berubah" sambung Naruto pelan menatap wajah Asia yang menunjukkan reaksi shock, dirinya yakin gadis pirang tersebut akan mengatakan bahwa hal ini terlalu cepat dan sebagainya, namun entah mengapa perasaan dihatinya seolah mengatakan bahwa ini adalah hal benar.
Kedua tangan Asia memutih saat rematannya semakin menguat dan perlahan posisi tubuhnya yang awalnya berdiri merosot terduduk sambil menunduk menahan punggungnya yang bergetar menahan isakannya ketika mengingat ingatan indahnya dulu bersama Naruto.
Naruto tersentak kaget kemudian buru buru melepas kedua tangan Asia dari genggaman tangannya ketika melihat sebuah liquid bening mengalir pelan dari sudut mata Asia yang semakin lama semakin deras.
"A-asia kenapa kau menangis?!" Naruto bergerak panik melihat Asia yang menangis, padahal niat awalnya hanya ingin menyampaikan perasaanya namun malah membuat gadis dihadapannya ini menangis, "Maafkan tingkahku tadi jika membuatmu menang-!"
Grep!
"A-aku menangis karena bahagia baka!" Asia terisak pelan didada Naruto sehabis dirinya memeluk erat pemuda tersebut, "Kau tahu? Aku juga merasakan hal sama seperti yang kau rasakan Naruto, aku mencintaimu sangat mencintaimu, sekarang dan selamanya" sambung Asia mengeratkan pelukannya membuat Naruto tersenyum lembut, perlahan tangan kanannya terangkat kemudian mengusap Surai pirang Asia lembut.
Tubuh Asia semakin bergetar kencang saat kilas kilas memori indahnya bersama Naruto entah mengapa terlintas dipikirannya membuat luka pedih dihatinya akibat rasa rindu semakin membesar.
Naruto tersenyum lebar melihat perkataan Asia barusan kemudian dirinya merentangkan kedua tangannya menghadap kearah hamparan lembah hijau dihadapannya.
"Aku! Benar! Benar! Mencintaimu Asia Argento! Dan jika Legenda bahwa menyatakan cinta dibawah pohon Sakura benar maka kabulkan lah wahai Kamii-sama!" Teriak Naruto lantang kearah hamparan lembah dihadapannya membuat Asia tertawa kecil melihat tingkah Naruto yang kekanakan barusan kemudian dengan gemas gadis pirang tersebut mencubit pinggang Naruto.
"Jangan berteriak Naru-kun, kau menggangu hewan hewan yang tidur! Hahaha" Asia pura pura marah namun tertawa diakhir kalimatnya kearah Naruto yang merintih akibat cubitan dipinggangnya.
Naruto tertawa pelan diikuti Asia yang juga tersenyum saat mereka saling pandang, menyampaikan perasaan yang saling mencintai dan mengasihi, kemudian dengan lembut Naruto menarik tubuh Asia dan memeluknya dalam diam, hanya suara hembusan angin serta gesekan ranting pohon sakura yang dapat didengar saat ini, Naruto dan Asia berpelukan erat dalam diam saling merasakan luapan rasa cinta dihati mereka dan hanya bulan, bumi dan langit yang menjadi saksi kisah cinta yang telah mereka jalin.
"A-apanya yang cinta abadi? Apanya Kamii-sama?" Asia bergumam pelan dengan nada serak seolah bertanya mengapa kamii-sama memberikannya takdir seperti ini? Apakah ia tidak pantas untuk bahagia? Dan jika akhirnya seperti ini mengapa? Mengapa kamii-sama mempertemukannya dengan Naruto?.
Dirinya menghentikan langkahnya beberapa meter dihadapan Naruto, menatap tubuh pemuda yang dicintainya tersebut perlahan terurai menjadi partikel seketika membuat air matanya yang sudah susah payah dirinya tahan sedari tadi langsung mengalir deras.
"K-kenapa Naruto?" Lirih Asia perlahan melangkah mendekati Naruto berniat memegang tubuh pemuda tersebut namun yang dirinya dapat hanyalah tangannya yang menembus tubuh Naruto layaknya pemuda tersebut hantu.
"Aku sangat mencintaimu Asia" ucap Naruto pelan, mengangkat sebelah tangannya menangkup sebelah pipi Asia meskipun tidak dapat merasakan hangatnya kulitnya saat bersentuhan akibat tubuhnya yang layaknya hantu saat ini, dirinya tersenyum lembut berharap gadis dihadapannya ini mengerti betapa besarnya rasa cinta dihatinya, "namun aku sadar bahwa disini bukanlah tempatku dan juga aku sangat bahagia bisa melihatmu hidup tidak seperti mimpi buruk yang kualami, namun percayalah aku akan selalu mencintaimu selalu dan selamanya" sambung perlahan menempelkan dahinya ke dahi Asia sebelum seluruh tubuhnya benar benar terurai menjadi partikel kecil, meninggalkan Asia seorang diri disana.
"A-aku juga sangat mencintaimu Naru" lirih Asia pelan kemudian menatap kearah tali gelang yang sepasanganya Naruto berikan kepadanya tadi, dirinya menggenggam tali tersebut erat dan perlahan isakan kembali terdengar.
"Hik-Hiks-aahhhhh!" Asia mendongakkan wajahnya menatap langit senja kemudian berteriak nyaring melampiaskan semua perasaan sedihnya dihatinya, dirinya tidak menyangka akan sesakit ini jika kehilangan Naruto pemuda yang dicintainya, dirinya menghiraukan lelehan air matanya semakin deras mengalir dikedua pipinya karena ingatan ingatan indahnya bersama Naruto semakin berputar cepat dibenaknya.
"K-kenapa! Kenapa Naruto! Kau rela berkorban hanya untukku!" Asia berteriak nyaring kearah hamparan Padang rumput serta matahari yang mulai tenggelam menyinarinya dengan cahaya orange dan mulai digantikan oleh sinar redup rembulan, "Dan Kamii-sama! K-kenapa?! Kenapa takdirku seperti ini!?" Sambung Asia nyaring namun diakhir kalimat suaranya memelan dan semakin pelan hingga akhirnya hanya suara isakan yang kembali didengar.
Bruk!
Asia memukul tanah berumput dihadapannya kuat dengan kedua tangannya membuat posisi layaknya bersujud.
"K-kumohon Kamii-sama! Suatu saat nanti bahkan jika waktu telah tiba K-kumohon pertemukan aku dengan Naruto w-wal-" Asia dengan suara seraknya akibat terlalu banyak menangis kemudian bersujud memohon kearah Kamii-sama berharap agar dirinya bisa bertemu dengan pria yang dicintainya kembali dan bukankah Naruto juga berharap sama seperti dirinya? Bisakah kamii-sama mendengar doa mereka berdua?, "W-walau hanya sebentar namun kumohon Kamii-sama" sambung Asia melanjutkan kalimatnya yang sempat terputus akibat isakannya.
Wussh!
Entah seolah sang kamii-sama yang mendengar semua doa gadis pirang tersebut ataukah hanya reaksi alam yang ikut bersedih dengan kisah Asia namun sesudah gadis tersebut mengucapkan kalimat harapannya, sebuah angin pelan menerpa bukit tersebut membelai lembut tubuh Asia seolah doanya telah didengar oleh Kamii-sama.
Tap!
Tap!
Seorang wanita tua melangkah pelan dan berdiri tidak jauh dari tempat Asia, dirinya paham apa yang dirasakan oleh gadis tersebut sejak beberapa bulan lalu dimana sifat Asia yang dulu periang entah mengapa berubah menjadi murung dan banyak melamun membuatnya bingung dengan perubahan tersebut hingga akhirnya ia sadar bahwa pemuda pirang yang sempat tinggal bersama Asia entah kemana menghilang membuatnya bertanya tanya apakah Asia dikhianati atau apa? Namun yang jelas ia sadar bahwa Asia sangatlah mencintai pemuda tersebut.
"Asia-chan! Mari bersiap" Nenek tersebut mengeraskan suaranya memanggil kearah Asia yang tersentak dan segera bangkit karena tidak menyadari kehadirannya membuat dirinya tersenyum kecil, ia memilih untuk tidak mencampuri urusan gadis tersebut dan membiarkannya karena urusan cinta anak muda jaman sekarang lebih rumit daripada cinta dijamannya dulu.
"B-baiklah Obaa-san!" Asia buru buru bangkit saat mengingat bahwa malam ini dirinya harus kembali tampil sebagai Miko desa untuk acara penghormatan atas kuasa dewa menyelamatkan desanya dari komet tiamat meskipun sebenarnya adalah jasa Naruto yang telah menyelamatkan mereka semua namun Asia lebih memilih diam karena ia sebenarnya sudah pernah mencoba menjelaskannya namun warga desa hanya tertawa mendengar penjelasannya seolah yang dirinya katakan hanyalah lawakan dimana tentang Naruto yang menghancurkan komet dan menyelamatkan desa.
-Naruto Place-
Sedangkan dikonoha saat ini juga sama seperti didesa Asia, dimana sekarang desa yang didirikan oleh Hashirama Senjutsu dan Madara Uchiha tersebut sedang merayakan hari jadi sang Hokage 8 Uzumaki Naruto yang ke 7 tahun.
Sepanjang mata memandang dijalan Konoha hanya terlihat banyak lampu lampu yang bervariasi bentuk serta warna dan juga jejeran kios pedagang yang menyajikan makanan serta ratusan orang yang memenuhi jalanan, dimana mereka orang tua, remaja, ayah dan ibu serta anak anaknya tertawa dan berbahagia bersama merayakan hari jadi Naruto.
Dibagian gedung Hokage saat ini telah hampir dipenuhi oleh ratusan warga penduduk Konoha yang saling berdesakan menunggu acara utama yaitu pembukaan yang dibawakan langsung oleh sang hokage 8 Uzumaki Naruto dan juga pahlawan besar perang aliansi Shinobi.
Tap!
Tap!
Tap!
Naruto yang berada dilantai atas gedung Hokage perlahan melangkah mendekati pagar pembatas gedung tersebut dan ketika sampai dirinya dapat melihat ratusan warganya yang memandangnya dengan raut senang dan bahagia kearahnya, sebuah raut wajah yang sejak dulu dirinya ingin raih, yaitu raut wajah pengakuan ya pengakuan ia sejak kecil selalu berbuat onar karena hanya ingin diakui oleh warga desanya dan hingga akhirnya saat ini semua impiannya menjadi kenyataan.
"Naruto-sama!"
"Hidup Hokage-sama!"
"Naruto!"
"Hokage-sama!"
Naruto tersenyum kecil memandang hiruk pikuk warga dibawah sana, perlahan dirinya mengangkat tangan kanannya keatas mengisyaratkan untuk tenang dan seketika para warga yang melihatnya mulai tenang mengikuti isyarat Naruto.
Set!
Naruto memegang ujung topi Hokagenya dan perlahan melepasnya membuat semua warga disana dapat melihat wajah tampan Naruto dengan kedua iris safir teduhnya yang menatap mereka semua dengan senyuman.
"Wahai para warga Konoha! Terimakasih atas dukungan kalian semua kepadaku selama ini! Entah apa yang akan terjadi jika saja aku memimpin desa ini tanpa dukungan dan bantuan kalian semua namun dari lubuk hati terdalam aku Uzumaki Naruto berterimakasih kepada kalian semua yang ada disini" Kedua iris safir Naruto memandang seluruh warga Konoha dengan serius selagi ia mengucapkan pidatonya membuat beberapa teman seangkatannya dulu waktu di akademi menatapnya kagum.
"Naruto telah berubah" Kiba tertawa pelan melihat sikap berwibawa Naruto.
"Kurasa sipirang konyol dan penuh kejutan telah berubah menjadi sipirang keren dan berwibawa" Shikamaru yang berada disampingnya tersenyum kecil membalas perkataan Kiba.
"Tidak seperti dirimu yang masih bersikap kekanak-kanakan Kiba"
Kiba melotot mendengar cibiran Ino barusan, entah mengapa sejak diakademi dulu wanita cerewet ini selalu dan suka adu mulut dengannya sedangkan yang lainnya hanya tertawa mendengar cibiran Ino.
"Kurasa mau tidak mau Naruto memang harus merubah sifatnya, sebab ia seorang Hokage saat ini" Shino yang berada di samping Shikamaru berucap pelan sambil menatap kearah Naruto yang masih berpidato diatas gedung Hokage, "pemuda tersebut sudah terlalu banyak menderita dulu dan sekarang saatnya ia memetik hasil kebahagiaannya" sambung Shino pelan membuat suasana disana menjadi sunyi memikirkan perkataan ninja aburame tersebut.
Sedangkan dipintu gerbang Konoha terlihat Sasuke yang melangkah pergi berniat kembali melanjutkan perjalanannya dan juga urusannya didesa ini telah usai namun dirinya menghentikan langkahnya kemudian menatap kearah Naruto yang berada di gedung Hokage sesaat.
"Dobe" Sasuke tersenyum tipis kemudian berbalik pergi.
.
.
"Dengan ini festival resmi kubuka! Silahkan dinikmati!"
Kalimat terkahir Naruto dari pidatonya membuat sorak Sorai warga semakin nyaring terdengar, sedangkan Naruto hanya tersenyum kecil kemudian melangkah mundur sambil menghela nafas pelan karena sebenarnya dirinya sejak awal sudah merasa gugup karena harus berpidato dihadapan banyak warga.
"Kerja bagus Naruto"
Dirinya mengalihkan pandangannya menatap kearah seorang pria dewasa bersurai silver serta ciri khas tak asing lagi yaitu memakai masker sebagai penutup wajahnya, siapa lagi kalau bukan Hatake Kakashi Jounin pembimbingnya sejak lulus akademi.
"Haah ini melalahkan Kakashi-sensei" Naruto mendesah pelan sambil melepaskan jubah Hokagenya yang hanya ditatap Kakashi dengan senyuman tipis.
"Ma~ aku mengerti perasaanmu Naruto namun ini adalah tugas Hokage" Kakashi tertawa pelan dari balik maskernya karena tidak lebih dirinya mengerti perasaan Naruto sebab dulu ia juga sering melakukan tugas seperti ini, "Jadi? Kau ikut berkumpul bersama teman seangkatanmu atau apa?" Sambung Kakashi yang ditatap Naruto sesaat.
"Sepertinya aku memilih untuk beristirahat sebentar Sensei" balas Naruto kemudian berlalu pergi meninggalkan pria bermarga Hatake tersebut yang memandangnya dalam diam.
"Apa yang sebenarnya terjadi Naruto" ucap Kakashi pelan saat menyadari sifat Naruto sedikit berubah beberapa bulan terkahir ini.
Beberapa saat kemudian terlihat Naruto yang melangkah pelan menyusuri jalanan desa bagian timur atau lebih tepatnya pinggiran desa tempat nya dulu sering berlatih seorang diri ketika masih kecil, kedua iris Naruto memandang lapangan berumput tempatnya sering berlatih dulu belumlah berubah sama sekali sejak terkahir ia kesini dulu bahkan tiang kayu tempatnya dulu sering berlatih melempar Kunai maupun shuriken masihlah sama.
"Pengakuan? Hokage? Entah mengapa semua itu terasa semu"
Naruto mendongak menatap kearah bulan purnama yang saat ini dimana langit bersih tanpa awan menampakkan ribuan bintang yang menyebar dilangit serta bulan purnama yang bersinar terang.
"Cinta abadikah?" Naruto tersenyum kecil mengingat dulu waktu dirinya menyatakan cintanya kepada Asia sama seperti ini suasananya, jam dan waktunya, dimana bulan bersinar terang serta udara yang berhembus pelan menerpa lembut tubuhnya dan tubuh Asia yang berada di pelukannya.
Naruto mengerenyitkan dahinya menahan rasa sesak yang kembali muncul dihatinya jika saat ia harus kembali mengingat tentang Asia, dirinya akui sebenarnya ia sangat tidak ingin waktu itu untuk berpisah dengan Asia namun jika tidak dirinya lakukan maka mimpi buruk yang selalu menghantuinya akan menjadi kenyataan dan jalan satu satunya adalah dengan memutus ikatannya dengan dunia Asia.
Terkadang dirinya bertanya tanya apa yang sebenarnya Kamii-sama rencanakan untuk takdirnya mengapa selalu berakhir seperti ini? Apakah dirinya tidak pantas untuk merasa bahagia? Sejak kecil orang tuanya telah gugur saat penyerangan Kyuubi dan kemudian cinta pertamanya gugur juga saat perang dan akhirnya cinta keduanya juga harus kembali terpisah dengannya.
"Sebenarnya apa yang kau rencanakan untukku Kamii-sama?" Ucap pelan Naruto menyandarkan tubuhnya disebuah bangku usang yang berada dibagian pinggir lapangan tersebut dan tempat favoritnya sejak kecil dimana dari tempat ini dirinya bisa melihat hamparan luas rerumputan serta tempat teraman bagianya karena dulu waktu kecil hampir seluruh warga Konoha membencinya dan beberapa suka menghajarnya.
-Asia Place-
Sedangkan didesa Itomori saat ini juga terlihat ramai dibagian kuil desa dimana mereka para penduduknya merayakan perayaan kepada dewa atas berkahnya untuk menyelamatkan desa ini dari kehancuran beberapa bulan lalu.
Terlihat dibagian altar kuil tersebut ada beberapa orang yang duduk dibagian pinggir memainkan alat musik kecapi/harpa dengan nada seirama dan detik berikutnya terlihat seorang gadis bersurai pirang melangkah dari bawah altar perlahan mulai menaiki anak tangga dengan gemulai hingga akhirnya berdiri tegak diatasnya menatap seluruh warga desa dengan senyuman tipis.
Krincing!
Krincing!
Asia perlahan mulai bergerak seirama dengan alunan nada yang dimainkan oleh pemain harpa/kecapi yang berada dibagian pinggir altar, gadis pirang tersebut bergerak gemulai sesekali menggerakkan tongkatnya membuat suara merdu menenangkan jiwa setiap penonton yang mendengarnya.
Dengan senyuman manis dirinya bergerak mengikuti irama musik yang dibawakan namun jauh didalam lubuk hatinya sebenarnya Asia harus kembali merasa sedih ketika mengingat dulu waktu ketika dirinya menari seperti ini ada Naruto pemuda yang dicintainya menatap dirinya hanya dirinya seorang dari bagian bangku depan membuat dadanya kembali dipenuhi rasa sesak.
Krincing!
Deg!
Asia melebarkan kedua iris hijaunya ketika dengan pasti bahkan dirinya sangat yakin kali ini kalau yang dirinya lihat saat ini bukanlah ilusi, dimana ia melihat jauh disana atau lebih tepatnya dibagian gerbang raksasa kuil terdapat pemuda bersurai pirang yang menatapnya dengan senyuman tipis, pemuda yang membuatnya sedih dan pemuda yang membuatnya mengenal apa itu cinta dan kasih serta membuat luapan rindu yang selama ini terpendam dihatinya kembali meluap hebat.
Trak!
Hampir seluruh penonton disana menatap bingung kearah Asia yang entah mengapa menjatuhkan tongkat Miko miliknya kemudian dengan tergesa gadis tersebut berlari menuju gerbang kuil seolah sedang mengejar sesuatu.
Tap!
Tap!
Tap!
"Naruto!"
Asia berteriak nyaring berharap dapat didengar oleh pemuda tersebut namun, gadis pirang tersebut melebarkan kedua irisnya saat melihat Naruto yang malah tersenyum tipis kearahnya kemudian berbalik melangkah keluar menjauh dari kuil seolah juga menjauh darinya.
"N-naruto! Tunggu!"
Asia mulai panik ketika melihat Naruto yang malah melangkah pergi bahkan tanpa mengatakan apapun dan hanya tersenyum tipis kearahnya, apakah dia sudah tidak mencintai dirinya? Tapi mengapa? Mereka hanya baru terpisah selama 5 bulan, kenapa Naruto? Dan dengan langkah semakin cepat Asia mengejar Naruto.
Entah mengapa dapat Asia rasakan kalau Naruto semakin menjauh dan jauh padahal sedari tadi ia sudah berlari kencang menghiraukan kakinya yang tidak memakai alas apapun serta baju Miko yang dikenakannya terasa berat.
"K-kenapa" Asia menatap sedih kearah Naruto yang semakin jauh didepannya, padahal dirinya berlari sedangkan Naruto hanya melangkah biasa namun kenapa? Ia tidak bisa menggapai pemuda yang dicintainya tersebut.
Namun langkah kaki Asia terhenti ketika melihat Naruto juga menghentikan langkahnya tidak jauh dari hadapannya kemudian berbalik memandangnya masih dengan senyuman tipis dan Asia menyadari bahwa saat ini Naruto berdiri tepat disamping pohon sakura yang berada diatas bukit tempatnya dulu bersama pemuda tersebut menjalin kasih.
"N-naruto?" Asia mencoba memanggil nama pemuda tersebut lirih dan perlahan liquid bening mulai turun mengalir dari sudut matanya, merasa bahagia karena kembali bertemu dengan pria yang dicintainya namun pemuda tersebut hanya tersenyum tipis tanpa berniat membalas perkataan Asia bahkan ketika gadis tersebut berlari kencang kearahnya, dirinya tetap dengan ekspresi tersenyum.
Grep!
Wush!
Asia melebarkan kedua iris hijaunya sesaat akan memeluk tubuh Naruto dirinya hanya menembusnya layaknya pemuda tersebut hantu dan dapat dirinya lihat perlahan tubuh pemuda tersebut memudar dan hanya masih menatapnya dengan senyuman.
"K-kenapa Naruto?" Asia hanya bisa menatap nanar kearah pemuda pirang tersebut, mengapa? Mengapa bisa seperti ini?, "Kau Naruto kan? Pemuda yang kucintai?" Sambung Asia lirih kearah Naruto yang hanya memejamkan kedua iris safirnya sambil masih tersenyum sebelum seluruh tubuh pemuda tersebut akhirnya memudar meninggalkan Asia yang kembali terisak seorang diri dibukit tempat yang menjadi saksi bisu cintanya dengan Naruto.
-Naruto Place-
Sedangkan ditempat Naruto saat ini terlihat pemuda tersebut berlari kencang menyusuri jalan setapak desa yang sunyi karena memang warga desa hampir seluruhnya masih berkumpul ditengah desa untuk merayakan festival tahunan perayaan hari jadi Hokage.
Tap!
Tap!
Tap!
Naruto berlari kencang mengikuti seorang gadis yang juga melangkah pelan jauh dihadapannya namun anehnya dengan kecepatannya saat ini entah mengapa masih tidak bisa mengejar gadis atau lebih tepatnya Asia yang sulit dipercaya namun dengan mata kepalanya sendiri Naruto melihatnya memanglah seorang Asia Argento yang entah mengapa bisa berada didunianya bahkan gadis tersebut tidak mempunyai chakra menandakan bahwa memanglah seorang Asia gadis pirang manisnya.
"Asia!" Naruto berteriak nyaring kearah gadis pirang yang melangkah jauh dihadapannya dan hanya tersenyum kecil kearahnya ketika mendengar teriakkannya barusan.
Tap!
Tap!
Tap!
Langkah Naruto terhenti ketika dirinya berada tepat disebuah bukit kecil yang berada tidak jauh dari desa Konoha, dirinya dapat melihat Asia yang juga menghentikan langkahnya tidak jauh dari tempatnya menatapnya dengan senyuman.
"A-asia?"
Kedua iris safir Naruto menatap penuh rindu kearah gadis tersebut, gadis yang selama ini selalu memenuhi pikirannya dan membuatnya merasakan perasaan yang hampir hilang dihatinya sejak kematian Hinata.
Set!
Asia membentangkan kedua tangannya lebar membuat Naruto menatapnya bingung, namun detik berikutnya kedua iris safir pemuda tersebut kembali melebar sempurna saat melihat tubuh Asia mulai memudar menghilang sambil masih menatapnya dengan senyuman.
"J-jangan" Naruto mengulurkan tangannya yang bergetar pelan kearah Asia yang mulai memudar, "Jangan bercanda Asia!" Sambungnya nyaring diikuti langkah cepat berlari kearah Asia, jangan bercanda dengan semua ini, mengapa gadis tersebut muncul dan malah harus menghilang kembali? Apakah ini permainan takdirmu Kamii-sama?.
Dengan langkah cepat Naruto berlari kearah Asia dan saat jaraknya dekat dengan sekuat tenaga dirinya berniat menggapai gadis tersebut.
Wush!
Namun iris safirnya kembali melebar saat tangannya hanyalah menembus tubuh gadis tersebut layaknya hantu membuat Naruto seketika mematung bahkan dirinya hanya diam mematung menatap tubuh Asia selama beberapa saat hingga akhirnya menghilang meninggalkannya seorang diri dibukit tersebut.
"I-ini bercandakan?"
Brukh!
Naruto jatuh berlutut sesaat menatap kejadian dihadapannya dalam diam dan perlahan wajahnya mendongak menatap kearah langit malam diikuti tangan kanannya yang terangkat kemudian mencengkram wajahnya frustasi.
"K-kenapa? K-kenapa?"
Sebuah liquid bening mengalir melalui sela sela tangan yang menutupi wajahnya, dirinya hanya bisa mengulang kalimat 'Kenapa' entah kepada siapa namun yang pasti mengapa kamii-sama selalu mempermainkannya seperti ini? Apakah dirinya tidak berhak bahagia?.
"K-kenapa Naruto?"
Naruto terdiam sesaat, apalagi yang barusan dirinya dengar? Suara milik Asia? Palingan hanyalah ilusinya otaknya karena terlalu memikirkan gadis pirang tersebut.
"K-kenapa kau menghilang Naruto?"
Deg!
Naruto seketika menegangkan tubuhnya saat kembali mendengar suara lirih milik Asia barusan, dirinya sangat yakin bahwa yang barusan bukanlah halusinasi otaknya ataupun apa dan dengan cepat dirinya menatap sekelilingnya mencari keberadaan Asia namun hasilnya nihil.
"Asia!" Ucap Naruto nyaring berharap gadis tersebut dapat mendengarnya.
-Asia Place-
Sedangkan ditempat Asia seketika gadis tersebut tersentak ketika mendengar suara teriakan Naruto dengan jelas dikedua telinganya dan dengan cepat dirinya berdiri kemudian menatap sekelilingnya berharap menemukan Naruto namun hasilnya sama seperti yang Naruto lakukan didunianya yaitu nihil.
"N-naruto! Kaukah itu? Kumohon jawablah?" Asia berteriak lirih entah kearah mana namun dirinya berharap pemuda yang dicintainya tersebut dapat mendengarnya.
-Naruto Place-
"N-naruto! Kaukah itu? Kumohon jawablah?"
Naruto menatap sekelilingnya cepat saat kembali mendengar suara balasan dari Asia barusan, dirinya yakin barusan adalah suara balasan dari Asia gadis yang dicintainya dan dari mana serta dimana gadis yang dicintainya tersebut, dengan cepat Naruto bangkit dan berlari menyusuri bukit tersebut mencari keberadaan Asia.
"Asia! Kau bisa mendengarku?! Kau dimana?" Teriak Naruto nyaring membuat Asia yang mendengarnya seketika memandang setiap sudut tempat dibukit itu namun tidak menemukan pemuda pirang tersbut sama sekali.
"N-naruto! Kau dimana? Iya! Aku bisa mendengarnya dengan jelas!" Asia seketika berlari mengelilingi bukti tersebut mencari keberadaan Naruto namun hasilnya sama seperti yang Naruto lakukan untuk mencari keberadaan nya, "Hiks K-kumohon Naruto keluarlah! Aku tidak suka bercanda seperti ini! Hiks!" Sambung Asia sambil terisak pelan berlari pelan mengelilingi bukit tersebut mencari keberadaan Naruto yang entah mengapa tidak dapat dirinya temukan namun suaranya dengan jelas dapat didengarnya.
"Aku tidaklah bercanda Asia! Aku juga saat ini mencari kau ada dimana namun entah mengapa hanya suaramu yang dapat kudengar" Naruto menghentikan langkahnya pelan sambil terengah kemudian memandang sekelilingnya dengan pandangan putus asa.
"Kumohon untuk sekali saja A-asia" desis Naruto pelan menatap kedepannya sendu seolah olah Asia sedang berada dihadapannya membuat Asia yang tidak bisa juga melihat Naruto dan hanya dapat mendengar suaranya serta juga tepat berada dihadapan pemuda pirang tersebut jatuh berlutut kemudian menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"M-mengapa aku hanya bisa mendengar suaramu Naruto?" Lirih Asia pelan, dirinya yakin saat ini Naruto berada tidak jauh dari tempatnya karena suara pemuda tersebut sangatlah jelas terdengar namun mengapa ia tidak bisa melihatnya? Dan hanya bisa mendengar suara pemuda yang dicintainya tersebut.
Naruto terdiam mendengar kalimat Asia barusan, dirinya merasakan hal yang sama dengan gadis tersebut, yaitu hanya bisa mendengar suara Asia tanpa melihatnya entah mengapa membuat hatinya harus kembali merasa sesak.
"Akupun juga sama Asia" Ucap Naruto pelan menatap sendu kearah depannya dan perlahan tangan kanannya yang terdapat gelang tali dari tali Miko milik Asia terulur kedepan seolah ingin mengusap wajah Asia, meskipun ia tahu bahwa usahanya hanya sia sia.
Set!
Deg!
Naruto menegangkan tubuhnya saat merasakan tangannya mengusap wajah ya meskipun dirinya tidak melihat siapapun dihadapannya saat ini namun dengan jelas dirinya dapat merasakan telapak tangannya saat ini memegang wajah seseorang, begitupula Asia yang saat ini tersentak saat merasakan sebuah tangan menangkup wajahnya lembut, dirinya kenal sensasi nyaman ini dan juga mengenal siapa pemilik tangan ini.
"N-naruto?" Asia memandang dalam diam kearah depannya saat merasakan sebuah usapan diwajahnya lembut dan perlahan dengan tangan bergetar dirinya berusaha menggapai tangan Naruto yang mengusap wajahnya.
Grep!
"Hiks! Hiks!"
Asia kembali terisak nyaring saat dirinya berhasil dapat merasakan sebuah tangan kekar pria yang dicintainya, ya dirinya dapat menggenggam lengan Naruto erat meskipun tidak dapat melihatnya namun dirinya dengan nyata dapat merasakan lengan kekar dan hangat milik Naruto saat ini berada digenggaman kedua tangan kecilnya.
"N-naruto! Ini benar benar kau!" Aliran air mata Asia semakin deras mengalir saat merasakan lengan Naruto dan dengan erat dirinya memeluknya menyalurkan rasa rindunya begitupula dengan Naruto yang menatap lirih kearah Asia yang sedang memeluknya saat ini, ia dapat dengan jelas merasakan pelukan gadis yang dicintainya tersebut namun mengapa? Dirinya tidak bisa melihatnya?.
"Aku mencintaimu Naruto" Ucap Asia dalam pelukan Naruto membuat pria pirang tersenyum tipis kemudian perlahan tangan kanannya terangkat mengelus Surai pirang Asia lembut.
"Jika kau mencintaiku maka aku sangatlah lebih mencintaimu Asia" bisik Naruto pelan perlahan iris safirnya tidak bisa menahan liquid bening yang dirinya tahan membuat sebuah aliran kecil menuruni pipinya.
Set!
"N-naru kau menangis?"
Asia mengusap wajah Naruto lembut dan dapat dirinya rasakan sebuah aliran hangat turun perlahan dari kedua iris safir indah milik Naruto menandakan bahwa pria tersebut menangis dalam diam sedari tadi.
"Aku bukanlah manusia super yang bisa menahan beban ini seorang diri Asia"
Grep!
Asia dengan erat memeluk pemuda tersebut, dirinya pun saat ini juga menangis sama sepertinya dan ia juga paham bagaimana perasaan Naruto saat ini, hanya dengan memeluknya Asia dapat rasakan rasa rindu teramat besar seperti rasa rindunya saling tersalurkan satu sama lain.
"Kumohon kali ini jangan pergi" bisik lirih Naruto semakin membuat tangis Asia semakin deras mengalir karena sebenarnya dirinya juga tidak mau berpisah dengannya namun entah mengapa seolah takdir inilah yang memisahkan mereka.
"Akupun tidak ingin berpisah denganmu Naru" balas Asia pelan.
Wush!
Naruto tersentak begitupula dengan Asia dimana tubuh yang sedang dipeluk tiba tiba menghilang membuat mereka Naruto/Asia menjadi memeluk udara kosong, seketika membuat Asia panik dan Naruto yang tersentak kemudian menatap sekelilingnya.
"Asia kau dimana?"
"N-naruto!"
Naruto dan Asia saling berteriak nyaring namun nihil, hanya kesunyian yang membalas teriakan mereka barusan, Naruto maupun Asia tidak dapat mendengar teriakannya.
"Kumohon Asia, jawablah!"
"Kumohon Naru"
Mereka berdua saling menatap kedepannya tempat mereka tadi sempat berpelukan dengan pandangan sedih, mengapa? Mengapa semua ini sangat cepat berlalu? Mereka masihlah belum ingin berpisah.
Perlahan tangan kanan Naruto yang terdapat gelang tali terlurur ingin mencoba kembali menggapai Asia begitupula dengan Asia mengangkat tangan kirinya yang juga terdapat gelang tali sepasang dengan Naruto.
Set!
"Asia!"
"Naru!"
Naruto serta Asia tersentak ketika tangan mereka saling bersentuhan dan dengan cepat Naruto berusaha menggapai tubuh Asia dihadapannya ketika merasakan tangan kanannya menggenggam tangan Asia namun hasilnya nihil, dirinya tidak dapat menggapai apapun dan hanya udara kosong begitu pula dengan Asia yang juga tidak bisa memeluk apapun dihadapannya dan hanya memeluk udara kosong.
"K-kenapa? Kenapa tidak bisa?" Asia menatap sendu kearah tangannya yang saat ini digenggam erat oleh Naruto.
Sedangkan Naruto hanya diam menatap kearah depannya sedih, dirinya paham mungkin waktu mereka yang diberi oleh Kamii-sama untuk bertemu telah habis namun mengapa? Mengapa pertemuan seperti ini? Bukankah harapannya adalah untuk bertemu dengan Asia? Bukanlah seperti ini.
Namun perlahan Naruto terdiam dan lebih memilih bersyukur karena Kamii-sama masihlah memberinya kesempatan untuk bertemu dengan Asia meskipun dengan cara seperti ini namun jauh dalam lubuk hatinya, ia sudah amat sangat bersyukur.
Set!
Perlahan Naruto mengendorkan genggamannya membuat Asia mulai panik namun terdiam saat merasakan Jari telunjuk Naruto seperti menulis suatu huruf ditelapak tangannya seolah ingin mengajak nya berbicara.
"Kurasa - Waktu - Kita - Untuk - Bertemu - Sudah - Habis"
Asia melebarkan kedua iris hijaunya ketika mengeja setiap kalimat yang Naruto tulis ditelapak tangannya dan dengan cepat dirinya membalik telapak tangan pemuda tersebut kemudian menuliskan sesuatu.
"Aku - Tidak - Mau - Kembali - Berpisah - Denganmu - Naru"
Naruto terdiam kemudian menatap sendu kearah depannya saat merasakan setiap goresan jari Asia yang menulis sebuah kalimat ditelapak tangannya, dirinya pun sebenarnya tidak ingin berpisah dengan gadis tersebut, namun Naruto yakin bahwa suatu saat doanya akan dikabulkan oleh Kamii-sama untuk bertemu dengannya kembali.
Sedangkan Asia hanya diam menatap telapak tangannya menunggu Naruto menuliskan kalimat disana.
"Kumohon - Percayalah - Bahwa - Suatu - Saat - Kita - Akan -Bertemu - kembali - Asia"
Asia menatap tidak percaya kearah telapak tangannya saat merasakan tulisan yang Naruto buat disana, apakah dia tidak ingin bersamanya? Mengapa berkata seperti itu?.
"Jangan - Berpikir - Seperti - Itu - Mungkin - Saat - Ini - Bukanlah - Waktu - Yang - Tepat - Bagi - Kamiisama - Untuk - Mengabulkan - Doa - Serta - Harapan - Kita"
Brukh!
Asia jatuh berlutut seusai merasakan dan mengerti kalimat tulisan Naruto ditelapak tangan barusan, bukanlah waktu yang tepat? Tapi kapan? Dirinya sudah sangat menderita hanya 5 bulan terpisah dengan pemuda tersebut.
"Tapi - Kapan? - kapan - Doa - Tersebut - Terkabul"
Naruto menahan tangannya yang bergetar mengikuti getaran tubuhnya akibat menahan tangis, dirinya pun tidak tahu pasti kapan namun percayalah bahwa suatu saat dirinya akan berusaha mencari cara untuk bertemu dengan nya bahkan jika dunia ini berakhirpun ia tetap berharap dan berusaha untuk menemuinya.
"Percay-!"
Naruto yang sedang menulis ditelapak tangan Asia seketika oleng kedepan saat tangan Asia yang dipegangnya seketika menghilang menjadi udara kosong begitupula Asia yang tersentak saat merasakan genggaman Naruto tiba tiba menghilang.
"Waktu habiskah?" Ucap Naruto menatap lirih kearah depannya saat merasakan dirinya sudah tidak bisa mendengar bahkan menyentuh Asia kembali, begitu pula saat ini Asia yang jatuh berlutut tepat dihadapan Naruto.
Gadis tersebut terisak karena harus kembali berpisah dengan pemuda yang dirinya cintai, apakah hanya seperti ini? Mengapa? Mengapa waktu terasa sangat singkat? Rindu dihatinya belumlah terpuaskan mengapa semua ini harus berakhir?.
Naruto memejamkan matanya menahan rasa sesak dihatinya ketika harus kembali berpisah dengan gadis yang dicintainya, dirinya tidak bisa berbuat banyak dan juga mungkin ini adalah yang terbaik bagi dirinya maupun Asia namun bisakah ia kembali berharap? Kalau ia bisa bertemu dan bersama kembali dengan Asia suatu saat? Bukan seperti ini namun bersama hidup bahagia seperti pasangan seperti umumnya hingga usia tua.
Sedangkan Asia saat ini hanya bisa terisak pelan sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, mengapa harus berpisah kembali? Tidakkah Kamii-sama mengetahui betapa besarnya perasaanya terhadap Naruto? Apakah ini takdirnya? Namun detik berikutnya Asia terdiam sesaat ketika mengingat kalimat yang Naruto tuliskan ditangannya beberapa saat lalu, dirinya mencoba untuk percaya bahwa suatu saat entah kapan Kamii-sama akan mengabulkan harapannya untuk bisa bertemu dengan Naruto.
"Kumohon" Ucap Asia lirih perlahan punggung kecilnya kembali bergetar menahan isakannya karena sekuat apapun dirinya menahannya tetap saja rasa pedih dihatinya sangat begitu terasa, "kumohon pertemukan aku dengan Naruto kembali Kamii-sama, entah itu kapan" sambung Asia menangkup wajah dengan kedua tangannya untuk menahan kesedihannya.
.
.
.
-20 Years Later-
Dua puluh tahun kemudian terlihat sekarang desa Konoha atau lebih pantasnya disebut kota Konoha dimana bangunan bangunan menjulang tinggi telah berdiri kokoh disetiap blok desa tersebut serta beberapa kendaraan berlalu lalang bahkan beberapa bangunan memasang LCD besar dibagian depannya sebagai tempat iklan promosi produk untuk penduduk, sedangkan bukit tempat pahatan patung Hokage terlihat didinding batu tersebut telah terpahat 8 wajah Hokage, dimulai dari Hashirama, Tobirama, Sarutobi, Minato, Tsunade, Kakashi, Naruto dan yang terakhir adalah Konohamaru yang Naruto sang Hokage ke 8 memilihnya sebagai penerus nya untuk memimpin Konoha untuk kedepannya.
Sedangkan dengan Naruto sang mantan hokage 8, pria tersebut sekarang terlihat tua dengan tubuhnya yang mulai mengurus akibat faktor usia serta penglihatannya yang mulai rabun dan Surai kuningnya tak seindah dulu, Surai tersebut terlihat kuning pucat saat ini dimana dirinya telah berusia 54 tahun, teman teman seangkatannya juga sudah banyak yang pergi mendahuluinya, dimulai dari Rocklee yang telah wafat 2 tahun lalu kemudian disusul Kiba dan yang terakhir sahabat terbaiknya Shikamaru telah wafat bulan lalu, sedangkan Sensei yang melatih mereka dulu waktu masih genin hampir semuanya telah tiada dan hanya meninggalkan Kakashi yang masih hidup sampai sekarang menjadi kakek renta.
Naruto melangkah perlahan dengan tubuh tuanya menaiki sebuah bukit kecil dibagian timur desa Konoha, bukit yang menjadi tempat favoritnya sejak 20 tahun lalu, tempat yang menjadi pelepas rindunya saat mengingat bayangan seorang gadis bersurai pirang yang tersenyum manis kearahnya, beberapa saat kemudian dirinya sampai diatas bukit yang terdapat sebuah pohon Sakura yang memang dirinya tanam dan merawatnya setiap hari sejak dua puluh tahun lalu hingga sekarang.
Naruto melangkah pelan mendekati pohon sakura tersebut kemudian sebelah tangannya yang mulai berkeriput perlahan terangkat menyentuh batang besar pohon Sakura dihadapannya tersebut.
"20 tahun telah berlalu"
Ucap Naruto pelan menatap lirih sebuah gelang yang masih terpasang dipergelangan tangan yang sedang memegang batang pohon tersebut, "bagaimana kabarmu disana Asia? Kutebak kau musti sudah tua seperti saat aku sekarangkan? Hehe tapi tenanglah menurutku kau masihlah terlihat cantik meskipun berkeriput sepertiku saat ini dan kau tau Asia? Meskipun telah berlalu lama namun aku masih selalu berharap jika suatu saat nanti kita bisa kembali bertemu, berharap bahwa harapanmu dan harapanku akan dikabulkan oleh Kamii-sama." Sambung pelan Naruto diakhir kalimatnya kemudian memejamkan kedua iris safirnya mencoba mengingat kenangan dirinya dulu bersama Asia, mungkin jika ada yang melihat, dirinya akan dianggap gila karena berbicara dengan sebuah pohon Sakura namun hal ini telah sering dilakukannya sejak dulu jika perasaan rindu dihatinya meluap maka Naruto selalu akan melakukan kegiatannya seperti saat ini.
Tes!
Deg!
Naruto seketika membuka kedua iris safirnya cepat saat kembali merasakan sensasi aneh yang tidak asing lagi bagi dirinya, sensasi yang 20 tahun lalu membuatnya koma dan terlempar ke dunia lain dan benar saja saat dirinya melihat tangannya yang masih menempel ke batang pohon, terlihat tangannya tersebut tidak ada lagi keriput layaknya lansia pada umumnya serta entah mengapa tubuhnya terasa berbeda saat ini dan tanpa disadari seorang gadis manis bersurai pirang melangkah pelan mendekati Naruto kemudian berhenti beberapa meter dibelakangnya.
"Naru.."
Tubuh Naruto menegang saat mendengar sebuah panggilan seseorang yang dirinya rindukan selama ini namun detik berikutnya ketika sadar akan apa yang telah terjadi, dirinya tersenyum lebar dan tanpa disadarinya sebuah liquid bening mengalir pelan dari kedua iris safirnya kemudian dirinya berbalik menatap rindu gadis pirang yang berdiri tidak jauh dihadapannya saat ini yang juga menatapnya sambil terisak pelan.
"Kurasa legenda tentang menyatakan cinta dibawah pohon Sakura adalah nyata" Naruto menggeleng kan kepalanya pelan sambil tertawa kecil diiringi langkahnya kearah gadis pirang dihadapannya.
"benarkan...Asia?"
-Owari-
-Kimi no Nawa-
.Dont Like Dont Read.
.THANKS FOR READ FIC UCHIDA.
.Ame No Hoshi (Nagareboshi) Belong's Uchida Tokugawa.
.Keep calm and read fic Uchida tokugawa.
-SAYONARA-
