Kuimani menulis adalah cinta…
Terinspirasi dari novel Jepun Negerinya Hiroko karya Nh. Dini.
.
.
.
THE DIPLOMAT'S WIFE
Of Frederik and Joonmyeon's Past
.
.
.
SuLay
.
.
.
Genderswitch for Xingxing
.
.
.
"Aku tidak sehebat itu. Joonmyeon Oppa memilihku, mungkin karena saat itu dia tidak punya pilihan lain."
-Zhang Yixing to Frederik T.W. Søndergaard
.
.
.
-000-
Salah satu rekan kerja suaminya di Kementerian Luar Negeri pernah mengatakan, "Kim Joonmyeon Wegyogwannim (Tuan Diplomat), siapa pun setuju bahwa dia brilian. Pemain utama dalam tim, juga petarung ulung di meja perundingan. Tipikal lawan debat yang melelahkan. Kekurangannya? Sangat-sangat rewel (tertawa), terlalu perfeksionis, dan ambisius. Dia bekerja keras lebih dari siapa pun. Cukup mengejutkan melihatnya menikah setelah selama ini dia terlilit ikat pinggangnya sendiri*. Dia bekerja terlalu keras, Yixing-ssi, sampai-sampai kami sempat mengira dia berkomitmen untuk menikahi pekerjaannya alih-alih perempuan."
Yang lainnya mengatakan, "Yixing-ssi, Anda masih sangat muda dan cantik. Anda juga pastinya berjiwa besar, karena bersedia menikahi kakek yang rewel seperti Kim Joonmyeon Wegyogwannim (tertawa) kami."
Brilian, tetapi sangat-sangat rewel, terlalu perfeksionis, ambisius, bekerja keras lebih dari siapa pun.
Apa yang dikatakan rekan-rekan kerja suaminya di kantor Kementerian Luar Negeri beberapa bulan lalu seolah terulang kembali, hanya saja kali ini berasal dari mulut yang berbeda. Yixing tiba-tiba merasa gugup ketika wanita-wanita cantik di sekelilingnya mulai mengganti topik pembicaraan di meja makan dan menyasar suaminya yang merupakan pendatang baru di Kedutaan Besar Republik Korea untuk Kerajaan Denmark, Kim Joonmyeon.
"Suami saya bilang Kim Wegyogwannim adalah keberuntungan besar bagi Daesagwan (Kedutaan), Yixing-ssi. Sangat cerdas dan teliti, tetapi keras, perfeksionis. Brilian."
Kim Jaejoong menatapnya dengan ramah, salah satu hal yang disukai Yixing dari sosok istri Sang Duta Besar Republik Korea untuk Kerajaan Denmark. Senyum seindah seroja tampak menghiasi bibir ranum milik Sang Nyonya Duta Besar, ibaratnya bonus untuk Yixing.
"Suami saya juga sependapat dengan Daesanim (Duta Besar), Yeosanim (Nyonya)," salah satu istri diplomat yang dikenali Yixing sebagai Kim Ryeowook menimpali. "Bahkan menurut suami saya, bekerja dengan Kim Wegyogwannim seperti mengemudikan pesawat tempur. Sangat cepat dan cenderung menegangkan karena beberapa kali harus melakukan manuver," dia terkekeh.
"Sepertinya julukan Mawang (The Devil) dari Sajik-ro (merujuk pada lokasi kantor Kementerian Luar Negeri di Seoul) memang tepat untuk Kim Wegyogwannim. Suami saya bilang, Kim Wegyogwannim itu… Mengerikan," pungkas Ryeowook dengan nada jenaka, mengundang senyum di bibir para istri personel korps diplomatik Republik Korea untuk Kerajaan Denmark yang tengah berkumpul di ruang makan bergaya Denmark klasik milik rumah dinas Duta Besar ini.
Yixing turut tersenyum, hanya saja senyumnya menjurus gugup. Membicarakan suaminya seperti ini memang membuatnya gugup. Ada kekhawatiran yang muncul dalam hati Yixing, kalau-kalau rekan-rekan seperjuangannya memulai penilaian baru terhadap dirinya dengan suaminya sebagai tolak ukur. Sungguh, jika dibandingkan dengan suaminya, Yixing merasa seolah tidak ada apa-apanya!
"Suami saya mengagumi kinerjanya yang luar biasa." Kali ini giliran nyonya diplomat yang duduk paling ujung angkat bicara. Dari sepuluh orang yang hadir, nyonya satu ini memiliki penampilan paling mencolok lewat pilihan busananya yang serba glamor, mulai dari syal Burberry hingga jaket tweed cokelatnya yang sekali lihat bisa ditebak keluaran rumah mode sekelas Gucci atau Prada. Kacamata Ray-Ban hitam dipilih menjadi pelengkap, bertengger gaya menghiasi rambut panjang bergelombang yang dicat ash brown. Seakan belum cukup untuk membuatnya tampil lain dari yang lain, Sang Nyonya memilih tata rias yang menjurus tebal dan 'sangat Denmark', menghindari warna-warna netral khas tren tata rias di Korea yang masih setia dianut Yixing dan nyonya-nyonya lain. Dia satu-satunya yang merias mata dengan eyeliner tebal berwarna cokelat, juga satu-satunya yang memilih warm colors sebagai warna dominan untuk make-up, tepatnya rose gold dan warm brown. Sekilas penampilannya mirip beauty blogger lokal Denmark semacam Sandra Willer. Penampilannya yang mencolok jelas menarik perhatian dan Yixing tidak bisa untuk tidak mengagumi rasa percaya diri milik nyonya yang satu ini.
"Juga mengagumi kebiasaan Kim Wegyogwannim yang selalu pulang paling akhir, padahal Kim Wegyogwannim masih pengantin baru dan memiliki istri secantik Yixing-ssi. Suami saya bilang, local staff yang bernama Oh Sehun bahkan harus berkali-kali mengingatkan Kim Wegyogwannim untuk pulang ke rumah hampir setiap harinya karena dia masih bertahan di meja kerja, paling cepat hingga pukul delapan malam," tambahnya tanpa melepaskan tatapan dari paras manis Yixing yang mulai merona merah.
"Kalau begitu jelas sudah Kim Wegyogwannim kita memang keberuntungan bagi Daesagwan, juga Kementerian Luar Negeri berkat dedikasinya yang luar biasa dalam bekerja, Baekhyun-ssi," nyonya yang duduk persis di sebelah Yixing menyeletuk, menyebutkan nama Si Nyonya Glamor. "Saya dengar dari salah satu kolega di Seoul, Kim Wegyogwannim bahkan tidak mengambil cuti untuk berbulan madu. Suami Anda benar-benar luar biasa, Yixing-ssi." Dia beralih kepada Yixing.
Yixing meringis. 'Betapa cepatnya pergerakan arus berita dari Seoul,' dia membatin. Mendadak Yixing kehilangan selera terhadap honsesalat yang tengah memenuhi piringnya. Terus terang, percakapan semacam ini membuatnya tidak nyaman.
"Kim Wegyogwannim adalah contoh yang sangat baik bagi rekan-rekan sesama diplomat dalam mempertimbangkan pengambilan cuti. Suami saya bilang, para diplomat hendaknya lebih bijaksana dalam mengambil cuti, apalagi disaat Daesagwan sedang sibuk-sibuknya membahas kelanjutan kerja sama bilateral dengan Denmark terkait proyek green growth seperti sekarang ini, misalnya," Kim Jaejoong menanggapi dengan bijak dan Yixing bersyukur untuk itu.
"Kalau menurut suami saya, Kim Wegyogwannim dengan segala kelebihannya itu seharusnya ditempatkan di PBB," nyonya yang duduk di sebelah Jaejoong sekonyong-konyong menyeletuk, "atau Tiongkok. Kita memerlukan diplomat-diplomat dengan tipikal F-16 yang memiliki manuver tajam khas Kim Wegyogwannim untuk menghadapi saudara yang rewel seperti Tiongkok."
Mendengar ini, Yixing seakan ditampar keras-keras. Sesuatu dirasakan Yixing menohok tepat di ulu hatinya. Yixing tersinggung. Memang benar saat ini KTP dan paspornya mencatatkan namanya sebagai warga negara Republik Korea, tetapi di dalam hatinya seorang Zhang Yixing tetaplah Tiongkok. Yixing bahkan selalu mengingat-ingat pesan pamannya sebelum dia berangkat ke Copenhagen.
"Berusahalah mempertahankan nilai-nilai Tiongkok meski sekarang status kewarganegaraanmu berubah dan kau tinggal di luar negeri, Sayang."
Yixing tersinggung, terus terang saja, tetapi dia masih mencoba berbaik sangka. Mencoba menyugesti diri bahwa nyonya yang barusan menyinggung Tiongkok mungkin lupa bahwa istri Kim Joonmyeon adalah perempuan Tiongkok yang dinaturalisasi menjadi warga negara Republik Korea.
"Dan kita semua jelas-jelas tahu kehebatan Kim Wegyogwannim dalam menaklukkan Tiongkok. Saya dengar sebelumnya sudah banyak senior di Sajik-ro yang menawarkan gadis-gadis kita kepada Kim Wegyogwannim, tapi tak ada satu pun yang berhasil. Ternyata yang dipilih justru orang jauh dan sekarang Yixing-ssi ada di sini. Bukankah itu bukti otentik bahwa diplomasi Kim Wegyogwannim terhadap orang jauh seperti Yixing-ssi ini begitu luar biasa?"
Yixing benar-benar kaget mendengar celoteh Sang Nyonya. Rupa-rupanya perempuan cantik itu sama sekali tidak lupa bahwa akar seorang Zhang Yixing adalah Tiongkok. Hati Yixing seketika berdenyut sakit. Frasa 'gadis-gadis kita' dan 'orang jauh' yang dilontarkan nyonya itu seakan menjelma tembok pemisah, menegaskan status Yixing sebagai nonKorea. Ada perasaan tersisih datang menyergap Yixing. Yixing sadar, status kewarganegaraan saja tidak cukup. Nyatanya masih ada yang menganggap dirinya 'orang jauh', 'orang asing'.
Suasana di meja makan berbentuk persegi panjang ini mendadak canggung. Yixing merasakan tatapan-tatapan milik para nyonya di sekitarnya berpindah-pindah antara dirinya dengan nyonya yang barusan mengusik masalah Tiongkok.
"Orang jauh? Rasanya kurang tepat menyebut keluarga sendiri sebagai orang jauh, Kyuri-ssi."
Suara ramah milik Kim Jaejoong berubah sedikit tegas, seketika mengambil alih fokus Yixing. Tampak olehnya Sang Nyonya Duta Besar melirik tajam Kyuri, nyonya yang mengusik masalah Tiongkok.
"Yixing-ssi sudah jadi orang kita sekarang," Jaejoong menambahkan, terdengar semakin tegas.
Yixing benar-benar berterima kasih pada Kim Jaejoong. Sang Nyonya Duta Besar sukses membesarkan hatinya. Jaejoong memilih frasa 'keluarga sendiri' dan 'orang kita' untuk merujuk pada Yixing, sedikit banyak mengobati rasa sakit di dalam hati Yixing.
Jika Yixing merasakan hatinya mulai terobati oleh pernyataan Jaejoong, maka Kyuri merasa dirinya seakan kena sabet. Wajah nyonya itu memerah, tetapi dia tidak mengatakan sepatah pun. Diamnya Kyuri membuat suasana di meja makan terasa semakin canggung dan agaknya para nyonya bingung, juga ragu-ragu untuk mengambil inisiatif memperbaiki suasana.
"Salah satu diplomat Austria yang saya kenal di Praha beristrikan orang Perancis dan mereka pasangan yang sangat romantis. Sepertinya saya beruntung karena sekali lagi diizinkan bertemu pasangan internasional, kali ini Kim Wegyogwannim dan Yixing-ssi. International marriage sangat menarik menurut saya."
Diluar dugaan, nyonya yang bernama Baekhyun menjadi pelopor pemecah keheningan di meja makan. Nyonya glamor itu kembali menatap Yixing seraya tersenyum kecil.
"Saya setuju, Baekhyun-ssi," Jaejoong menjadi yang pertama menanggapi. "Berbicara tentang Kim Wegyogwannim dan Yixing-ssi, saya sangat senang menyambut mereka di Copenhagen. Kim Wegyogwannim bergabung dengan Daesagwan adalah sebuah keberuntungan, Yixing-ssi," dia beralih kepada Yixing.
"Suami saya merasa sangat terbantu, bahkan merasa suasana Daesagwan jauh lebih bersemangat berkat kehadiran Kim Wegyogwannim. Saya pribadi juga senang sekali Yixing-ssi bergabung dengan kami. Menyenangkan sekali memiliki personel yang masih begitu muda. Rasanya ada semangat baru bagi ajumma seperti saya ini." Jaejoong tersenyum manis, tulus.
Sekali lagi, Yixing benar-benar berterima kasih pada Kim Jaejoong. Wanita yang tengah memasuki usia paruh baya itu benar-benar ramah dan hangat terhadapnya, membuat Yixing merasa benar-benar diterima. Jaejoong mengingatkan Yixing pada sosok bibinya di Seoul, seorang perempuan Korea yang baik hati murni dan penuh kasih sayang.
"Saya… Saya juga sangat senang bisa bergabung dengan nyonya-nyonya sekalian," Yixing cepat-cepat menanggapi, tak ingin kehilangan momentum untuk memupus suasana canggung yang masih kental terasa. "Ini pertama kalinya saya mendampingi suami bertugas di luar negeri. Rasanya gugup, juga waswas, khawatir tidak bisa memenuhi ekspektasi tentang sosok istri diplomat yang ideal," katanya terus terang, mengerahkan segenap keberaniannya.
"Tetapi sepertinya saya tidak perlu merasa gugup dan waswas lagi karena saya memiliki keluarga baru yang begitu hangat dengan para unnie yang luar biasa." Yixing mengedarkan pandang berkeliling dengan canggung.
Ucapkan selamat pada idenya menyebut para nyonya dengan sebutan unnie, pasalnya tak diduga-duga kekehan kecil dari para nyonya langsung menyambutnya, kecuali Kyuri yang terlihat masih kurang nyaman. Suasana canggung di meja makan perlahan-lahan tergusur, seolah-olah sentilan kecil soal Tiongkok tadi tidak sempat eksis dalam interaksi para nyonya di meja makan.
"Yixing-ssi, Anda benar-benar menggemaskan, tahu tidak? Benar-benar saling melengkapi dengan Kim Wegyogwannim yang serius dan tegas. Yixing-ssi, Anda harus lebih ceria dan bersemangat. Kim Wegyogwannim bekerja terlalu keras. Pastikan dia benar-benar rileks saat di rumah."
Kali ini yang bicara adalah Kwon Yuri, nyonya diplomat yang duduk di sebelah Baekhyun. Celetukannya sukses memancing tawa kecil berderai di meja makan.
Untuk pertama kalinya sejak bergabung di meja makan ini, Yixing bisa tersenyum lega, terang-terangan memperlihatkan lesung pipitnya yang dalam. Rasa sakit hatinya akibat perkataan Kyuri sebelumnya mulai terlupakan, digantikan perasaan rileks yang mengalir perlahan-lahan. Kecuali Kyuri, Yixing merasa berterima kasih pada para unnie-nya ini, juga bersyukur bisa mengenal mereka. Sebagai wujud rasa syukur, Yixing berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia bakal mengundang para unnie-nya untuk makan siang bersama di apartemennya, sesuai dengan usulan Joonmyeon saat sarapan pagi tadi.
Ah, Joonmyeon. Menyebutkan nama suaminya dalam hati tak dinyana mengingatkan Yixing pada senyum nyaris samar-samar yang terukir di bibir pria itu pagi tadi. Mengingat senyum Joonmyeon, entah kenapa Yixing merasakan semangat baru memenuhi dadanya hingga senyuman di bibirnya semakin merekah, tanpa dia sadari menambah manis parasnya yang terlihat begitu belia untuk ukuran usia dua puluh empat.
-000-
Acara makan siang di rumah dinas Duta Besar berakhir pada pukul setengah tiga waktu Copenhagen. Berbeda dengan para unnie-nya yang tampak santai-santai saat berpamitan, Yixing justru terlihat sangat buru-buru. Maklum, Yixing masih memiliki tugas lain untuk ditunaikan. Terpujilah Kim Joonmyeon yang mengirimkan pesan lewat KakaoTalk. Jika tidak, bisa dipastikan Yixing bakal melupakan tugasnya yang paling krusial hari ini.
Laogong
Frederik akan datang pukul setengah tujuh.
Frederik. Nama itulah yang mengingatkan Yixing tentang tugas krusialnya untuk mengadakan jamuan. Walhasil nyonya diplomat yang satu ini nyaris terkumpal-kampil berlari mencari persewaan sepeda terdekat dari rumah dinas Duta Besar. Beruntung Yixing memilih celana hipster dan wedges shoes, mengeliminasi opsi rok dan high heels saat hendak berangkat ke rumah dinas Duta Besar beberapa jam yang lalu. Seandainya saja Yixing memilih rok dan high heels, bisa dipastikan dia mau tak mau naik taksi. Taksi jelas bukan pilihan bijaksana mengingat suaminya masuk tipe hemat anggaran. Sepeda adalah pilihan terbaik dan di Copenhagen sama sekali bukan hal yang memalukan untuk naik sepeda ke mana-mana. Copenhagen dengan budaya bersepedanya sekali lagi menghadirkan rasa syukur luar biasa di hati Yixing. Selain untuk menghemat anggaran, Yixing pun bisa membakar kalori yang masuk saat makan siang tadi. 'Ilseokijo', demikian menurut peribahasa Korea yang bermakna 'sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui'.
TIIN TIIN
Yixing terkejut. Suara klakson mobil mendadak memenuhi udara, memandunya untuk berhenti berlari dan menolehkan kepala. Sebuah Bentley Continental berwarna hitam metalik tampak menepi ke sisi kiri jalan, persis di sebelah Yixing. Kacanya perlahan turun, menampilkan seraut wajah yang familiar.
"Baekhyun… Unnie?" kaget Yixing begitu memastikan dia tak salah mengenali orang. Napasnya terengah-engah lantaran habis berlari.
"Halo, Sweetie," Baekhyun melemparkan senyum lebar yang bersahabat. "Kenapa lari-lari? Naiklah. Biar kuantar kau pulang."
Byun Baekhyun memang luar biasa glamor secara penampilan, tetapi raut wajah dan caranya berbicara sama sekali tidak menunjukkan gelagat kesombongan. Yixing langsung menyukainya sejak pertama kali mereka bertemu. Menurutnya Baekhyun menarik dan sikapnya yang ramah tercatat dengan huruf A di dalam hati Yixing.
Yixing tersenyum manis setelah berhasil menormalkan pernapasannya. "Saya naik sepeda saja, Unnie," tolak Yixing sopan, halus. "Lumayan untuk membakar kalori," Yixing menambahkan dengan nada canda.
"Badan sekecil itu, untuk apa membakar kalori segala?" Tatapan Baekhyun sekilas memindai tubuh mungil lagi ramping milik Yixing. "Naiklah. Tidak perlu sungkan. Satu hal lagi, aku tidak biasa ditolak."
Yixing agak terkejut mendengar Baekhyun mengubah ragam bahasanya ke dalam ragam informal, tetapi anehnya dia merasa tidak tersinggung. Alih-alih tersinggung, Yixing justru merasa sedikit lebih akrab dengan Baekhyun.
"Tunggu apa lagi? Naiklah. Kalau tidak, kita tidak berteman lagi, Yixing Yeosanim."
Ancamannya memang tak serius, tetapi nyonya glamor itu memasang ekspresi tak bisa dibantah. Yixing pun bingung. Mau menolak tidak enak, tidak menolak pun sama-sama tidak enak. Walhasil dia hanya diam saja dan itu membuat satu alis Byun Baekhyun terangkat ke atas.
"Perlu kubukakan pintu, Yixing-ah?"
'Yixing-ah'. Wow, sejak kapan dia dan Byun Baekhyun jadi begini akrab?
Memutuskan untuk tidak membuat Baekhyun tersinggung, Yixing akhirnya memilih untuk menerima tawaran Baekhyun. Dia bergegas memasuki mobil mentereng milik Baekhyun, menghadirkan senyuman yang sarat kepuasan di bibir empunya mobil.
"Well," Baekhyun membuka pembicaraan begitu Yixing selesai memasang sabuk pengaman. "Mau langsung pulang saja?"
"Unnie bisa menurunkan saya di persewaan sepeda dekat apartemen," Yixing menjawab, mempertahankan ragam bahasa formal.
Baekhyun mengerutkan kening. "Kenapa begitu? Memangnya kau mau kemana?" Berbeda dengan Yixing, Baekhyun tetap memilih ragam informal.
"Saya harus berbelanja," jawab Yixing. "Ke Asian Market, agak jauh dari apartemen."
"Kalau begitu sekalian saja kuantar kau kesana," kata Baekhyun. "Kebetulan aku tahu tahu tempatnya."
"Jangan Unnie, nanti Unnie repot," tolak Yixing. "Biar saya naik sepeda saja."
"Kau ini kenapa sungkan sekali padaku, sih?" Baekhyun meliriknya disela aktivitasnya mengemudikan mobil, kedengaran protes. "Dan tolong jangan gunakan ragam formal padaku. Rasanya kaku dan itu membuatku merasa sangat tua. Kita hanya selisih enam tahun, okay? Kau bahkan tak perlu memanggilku Unnie. Baekhyun sajalah."
"Eh, tapi Unnie sa—"
"Baekhyun," Baekhyun mengoreksi. "Percayalah, Xingxing. Aku hanya menghabiskan lima tahun di Korea. Sisanya kuhabiskan di luar negeri. Panggilan unnie dan bahasa Korea formal terlalu kaku untukku. Panggil aku Baekhyun, okay?"
Xingxing? Oh ya ampun, Baekhyun ini benar-benar sesuatu. Yixing ingat betul ini pertama kalinya mereka bicara berdua saja, tetapi Baekhyun seenaknya memberikan nama panggilan tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu. Baekhyun yang seperti ini seketika menghadirkan suasana yang terasa akrab, seakan-akan mereka sudah bersahabat selama bertahun-tahun.
Yixing segan, jujur saja. Akan tetapi, di sisi lain dia merasa senang dengan keakraban yang ditawarkan Baekhyun. Menurut Yixing itu terasa natural, mengalir begitu saja. Apa adanya.
"Baiklah. Baekhyun." Menuruti Baekhyun, Yixing akhirnya memilih mengganti ragam bahasanya ke dalam ragam informal dan memanggil nyonya itu dengan namanya saja meski masih ragu-ragu.
"Good girl," Baekhyun memujinya, terlihat puas bukan main. "Well, Xingxing, mau dengar musik? Lagu-lagu Denmark lumayan asyik meski aku masih belum bisa mengikuti liriknya. Tiga tahun di Copenhagen, yang kutahu hanyalah godmorgen (selamat pagi) dan tak (terima kasih). Bahasa Denmark terlalu sulit untukku."
Yixing terkekeh. Dalam hati dia menyetujui pendapat Baekhyun soal sulitnya bahasa Denmark, sementara Baekhyun bergegas memutar sebuah lagu. Penge På Dig dari Vild Smith, salah satu grup rap populer di Denmark.
Byun Baekhyun tak dinyana adalah teman seperjalanan yang menyenangkan. Yixing beberapa kali dibuat tertawa saat nyonya diplomat glamor itu mencoba menyanyikan lirik Penge På Dig dengan ngawur. Entah bahasa apa yang digunakannya, yang jelas benar-benar kocak menurut Yixing. Selain berbakat mengocok perut dengan tingkahnya yang konyol, Baekhyun termasuk asyik diajak bercakap-cakap. Yixing merasa seperti menemukan teman lama. Benar-benar sebuah keberuntungan bagi Yixing.
"Jadi suamimu mengundang teman lamanya makan malam di rumah?" tanya Baekhyun setelah mendengar alasan Yixing pergi berbelanja.
Yixing menganggukkan kepalanya.
"Wah, kalau aku jadi kau, sudah pasti aku tidak mau. Aku paling tidak senang menggelar jamuan di rumah. Merepotkan. Kalau pun Chanyeol memaksa, aku tak bakal mau masak sendiri. Lebih baik kupesan di restoran Korea saja."
Yixing terheran-heran mendengar pengakuan Baekhyun. Dia langsung membayangkan bagaimana jika dia meniru Baekhyun dengan menolak mentah-mentah rencana Joonmyeon menjamu tamu. Sayang, Yixing bahkan tak berani untuk sekadar membayangkan seperti apa reaksi Joonmyeon jika dia melakukannya!
'Joonmyeon menginginkan nyonya diplomat teladan, Zhang Yixing,' Yixing berbicara dalam hati kepada dirinya sendiri. 'Nyonya diplomat yang terampil menggelar jamuan dan memukau tamu-tamu yang diundang.'
"Aku salut padamu," Baekhyun sekonyong-konyong memberitahu Yixing. "Perempuan yang masih begitu belia sepertimu mau saja menikahi laki-laki berumur seperti Kim Wegyogwannim, apalagi dia seorang diplomat. Kau tahu? Aku bahkan menyesal menikahi Park Chanyeol," beber Baekhyun dengan entengnya, menyebutkan nama lengkap suaminya dengan nada kurang simpatik.
"Kenapa begitu?" Yixing tak kuasa menutupi keterkejutannya.
"Karena menjadi istri diplomat membuatku tidak bebas," jawab Baekhyun. "Aku harus mengorbankan karirku di modeling, padahal saat itu aku belum lama bergabung dengan agensi besar di Amerika dan sedang terikat kontrak dengan Diane Von Furstenberg."
Yixing mendadak paham kenapa Baekhyun tampil begitu berbeda dengan style glamornya, bahkan menyetir sendiri Bentley Continental yang masuk jajaran mobil mewah. Rupa-rupanya istri Diplomat Park Chanyeol itu mantan model kelas atas di Amerika. Tadinya Yixing sempat heran, mengira-ngira darimana birokrat seperti Park Chanyeol memperoleh banyak uang untuk memfasilitasi segala kemewahan yang melekat pada sosok Byun Baekhyun. Gaji Chanyeol sebagai pegawai negeri pastinya tak lebih banyak dari Joonmyeon yang jauh lebih senior. Yixing jelas tahu itu.
"Jatuh cinta pada diplomat sungguh sialan. Aku terpaksa mengorbankan karir karena Chanyeol menolak usulan long distance marriage yang kutawarkan. Mau tak mau aku mengalah, mendampingi Chanyeol bertugas dari satu negara ke negara lain. Mulai dari Ceko, Finlandia, lalu sekarang Denmark," cerita Baekhyun.
"Tetapi yang jauh lebih menyebalkan adalah Chanyeol menyetir pergaulanku. Kau tahu? Dia melarangku masuk lingkaran socialite di negara-negara tempatnya bertugas. Alasannya sangat menyedihkan, soal uang. Dia tak sanggup membiayai gaya hidup socialite, padahal aku sama sekali tak pernah meminta uangnya untuk modal kehidupan sosialku. Demi Tuhan, aku masih bisa membiayai diriku sendiri, bahkan sangat-sangat mampu seandainya dia mengizinkanku terjun ke modeling lagi."
Satu hal yang menarik dari Baekhyun, dia menceritakan semuanya tanpa ada kesombongan baik dalam nada bicaranya maupun ekspresi yang terpeta di wajah cantiknya. Alih-alih kesombongan, Baekhyun justru kentara benar frustrasi. Jelas sekali nyonya diplomat itu sama sekali tak menikmati kehidupannya sebagai istri diplomat dan Yixing diam-diam merasa bersimpati padanya.
"Seandainya waktu bisa diputar ulang kembali, aku memilih tidak bertemu Park Chanyeol," Baekhyun mengesah. "Lebih baik aku menikahi kekasih Amerika-ku dulu."
Yixing diam saja, tak tahu bagaimana sebaiknya menanggapi Baekhyun.
"Bagaimana denganmu?" Baekhyun tiba-tiba menanyai Yixing.
"Aku?" Yixing agak kaget karena tiba-tiba ditanyai.
"Ya. Kau. Menikahi Kim Wegyogwannim, apa kau senang? Kau masih sangat muda, tetapi memilih menikahi diplomat yang jauh lebih berumur seperti Kim Wegyogwannim. Dan karir? Bagaimana dengan karir yang kaukorbankan?"
"Aku…" Yixing menggigit bibir. "Aku tidak tahu bagaimana menjawabnya, Baekhyun-ah," kata Yixing terus terang.
"Kenapa? Jangan bilang kau tidak mencintai Kim Wegyogwannim? Kudengar dari Chanyeol kalian dijodohkan oleh Moon Hee Joon Wegyogwannim, diplomat sepuh yang sekarang ditempatkan di The Hague."
Yixing meneguk ludah. Tidak mencintai Joonmyeon? Ya ampun, bahkan dia sendiri masih bingung mendefinisikan perasaannya terhadap Joonmyeon!
Yixing bingung, sungguh! Ada keinginan berkata jujur tentang alasannya menikahi Joonmyeon, tapi Yixing sadar itu bukan hal yang pantas untuk dikatakan pada orang lain. Bagaimana pun Yixing harus menjaga nama baiknya dan suami.
"Joonmyeon Oppa… Dia sungguh-sungguh serius tentang pernikahan, jadi aku memilihnya," Yixing menjawab dengan hati-hati, berusaha untuk jujur meski tak mendetail. "Tentang karir, aku memang harus mengorbankan karirku karena menikah dengan Joonmyeon Oppa, tapi aku berusaha untuk tidak menyesalinya. Itu konsekuensi dari pilihanku terhadap Joonmyeon Oppa. Selain itu, aku tak ingin membebani diriku sendiri dengan penyesalan."
"Wow, pemikiranmu benar-benar dewasa dan bijak, Xing," Baekhyun berkomentar dengan nada takjub, juga setengah tak percaya. "Waktu umurku dua puluh empat, yang kupikirkan hanya senang-senang saja."
"Tidak juga. Aku masih harus banyak belajar untuk benar-benar dewasa dan bijak," Yixing merendah, disambut kekehan kecil dari Baekhyun.
"Kau tahu?" Baekhyun lagi-lagi bertanya.
"Apa?"
"Aku senang sekali menemukan nyonya diplomat Korea yang jauh lebih muda dariku di Copenhagen ini," kata Baekhyun. "Apalagi yang manis dan polos sepertimu. Terus terang saja, aku kurang leluasa mengobrol dengan ajumma-ajumma tadi. Mereka rata-rata baik, tetapi tak bisa membuatku nyaman. Berbeda denganmu. Aku seperti punya teman sebaya, juga adik perempuan yang bisa kuajak berbicara dari hati ke hati. Aneh, ya? Padahal kita baru dua kali bertemu. Nantinya kuharap kita bisa sering-sering mengobrol, Xing. Ya, selama kau bisa menoleransi kecerewetanku. Terus terang saja, tak banyak yang betah berlama-lama denganku karena menurut mereka aku terlalu banyak bicara, juga mengeluh."
Yixing tertawa kecil menanggapi Baekhyun. Menurutnya cara bicara Baekhyun sangat lucu. Yixing menyukainya. Dia benar-benar merasa seperti sudah bertahun-tahun berteman dengan Baekhyun. Unnie yang satu ini membuatnya merasa nyaman, juga terhibur.
"Aku juga seperti menemukan teman sebaya sekaligus kakak perempuan," balas Yixing. "Dan dia sangat lucu," tambahnya dengan terus terang.
Baekhyun tertawa mendengarnya dan Yixing tanpa sadar ikut tertawa. Kedua nyonya diplomat ini terlihat ceria dan santai, dua jenis ekspresi yang tak terlihat dari mereka berdua sepanjang acara makan siang di rumah Duta Besar tadi. Nampaknya benih-benih persahabatan mulai tumbuh di antara kedua nyonya diplomat ini, setidaknya demikian yang diharapkan Yixing.
-000-
Menjamu tamu berarti kerepotan tersendiri. Yixing harus berjibaku memasak hidangan khas Korea di dapurnya. Kendati pihak Daesagwan menyediakan jasa asisten rumah tangga yang sewaktu-waktu bisa dipanggil untuk dimintai bantuan, Yixing kali ini memilih untuk tidak memanggil Stine, nama asisten yang dimaksud. Bukan apa-apa, hanya saja Yixing memang tidak terbiasa menggunakan jasa asisten rumah tangga. Lagipula jamuan kali ini hanya dihadiri satu tamu saja. Berbeda dengan lima hari yang lalu saat Joonmyeon mengundang hampir sepuluh orang rekan-rekan kerjanya di Daesagwan untuk makan malam di rumah. Pada saat itu, Yixing mau tak mau meminta bantuan Stine.
Yixing mematuhi arahan Joonmyeon untuk menyiapkan kimchijjigae dan bulgogi. Sebagai pelengkap adalah haemulpajeon (pancake seafood dan daun bawang), japchae, dan kimchi jenis kkaktugi (kimchi dari lobak yang dipotong kotak). Untuk hidangan penutup, Yixing memilih almond jelly khas China. Bagaimana pun dia ingin memasukkan unsur Tiongkok dalam jamuan dan Yixing cukup percaya diri bahwa Joonmyeon tak bakal keberatan.
Hidangan telah tersaji manis di atas meja makan tepat pukul enam petang. Sebagai nyonya rumah, Yixing tak lupa menghias diri, mengganti pakaian rumahan dengan flared dress lengan pendek berwarna marun yang cocok dengan nuansa musim gugur. Dia terlihat segar dan memesona berkat pilihan busananya itu. Terkesan sedikit dewasa tetapi manis, mengingat pada dasarnya Yixing memiliki paras yang kelewat belia untuk usianya saat ini. Rambut sebahunya yang hitam legam disisir rapi dan dibiarkan tergerai indah. Sebagai sentuhan akhir adalah tata rias di wajahnya yang manis. Berhubung dia bakal menghadapi jamuan makan malam, Yixing berinisiatif memilih warna lipstik yang bold, yakni cranberry red. Seketika bibirnya yang memang sudah ranum terlihat lebih penuh dan bahkan sensual, membuatnya jadi malu sendiri. Yixing bermaksud menghapus lipstiknya dan menggantinya dengan warna lain yang lebih soft, tetapi urung lantaran perhatiannya teralihkan oleh suara pintu apartemennya dibuka.
Joonmyeon memasuki apartemen mereka dengan tas kerja di tangan kanan dan tas belanja dari kain di tangan kiri. Diplomat tampan itu menolehkan kepala begitu mendengar suara langkah kaki Yixing memasuki ruang tamu.
"Oppa sudah pulang," Yixing menyapa suaminya sembari melangkahkan kaki mendekati Joonmyeon. Senyum manis yang terkesan canggung terukir di bibirnya yang tampak sensual berkat pulasan matte lipstick warna cranberry red.
Seperti biasa Yixing mengulurkan kedua tangan untuk menerima tas kerja Joonmyeon, tetapi laki-laki itu tak bergeming.
"Oppa, tasnya— Oh, apakah ini bir?" Yixing hampir mendongak untuk menatap Joonmyeon ketika netranya tanpa sengaja tertumbuk pada tas belanja di tangan Joonmyeon.
"Biar sekalian kutaruh di lemari es."
Alih-alih menyerahkan tas kerja beserta tas belanja pada istrinya, Joonmyeon justru mematung. Diplomat tampan itu menatap istrinya lekat-lekat. Tatapan matanya yang tajam seakan-akan scanner, memindai istrinya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Oppa?"
Tidak adanya respon dari Joonmyeon memandu Yixing untuk sedikit mendongak menatap Joonmyeon. Melihat suaminya tengah menatapnya lekat-lekat, Yixing langsung merasa grogi.
"Ehm, Oppa, tasnya…"
Joonmyeon tampak kaget, seakan-akan baru tersadar dari lamunan. Kata 'tas' memandunya untuk cepat-cepat merespon dengan menyerahkan tas kerjanya kepada Yixing.
"Tas belanjanya biar kubawa sekalian," Yixing buru-buru menambahkan dengan canggung.
"Apa semua sudah siap?" Joonmyeon sekonyong-konyong bertanya. Lelaki itu berdeham pelan dan menggosok-gosok dagunya dengan gaya maskulin yang indah dipandang mata setelah menyerahkan kedua tas kepada Yixing.
"Sudah," Yixing menjawab, masih merasa canggung. "Oppa sebaiknya mandi dulu. Masih ada waktu lima belas menit sebelum Frederik datang kemari."
Yixing tidak menatap suaminya, memilih untuk menunduk, mengintip isi tas kertas di tangannya. Tatapannya segera tertuju pada empat kaleng bir merek Mikeller yang tengah populer di Denmark. Yixing sengaja berlama-lama menunduk lantaran masih merasakan grogi sebagai efek tatapan Joonmyeon barusan.
"Baiklah. Aku mandi dulu."
Joonmyeon bergegas meninggalkan istrinya di ruang tamu dengan langkah tergesa. Laki-laki itu sama sekali tak tahu bahwa istrinya menghembuskan napas lega begitu sosoknya menjauh dari ruang tamu.
"Joonmyeon Oppa… Kenapa dia menatapku seperti itu?" Yixing bergumam. Entah kenapa pipinya terasa panas dan ritme detak jantungnya mendadak lebih cepat dari biasanya. Cara Joonmyeon menatapnya tadi benar-benar membuatnya grogi. Biasanya Yixing hanya sedikit gugup jika ditatap Joonmyeon, tetapi kali ini sensasinya sungguh jauh berbeda.
"Ah, apa yang kupikirkan? Ada-ada saja kau ini, Zhang Yixing!"
Yixing buru-buru menepis asumsi-asumsi konyol yang mulai bermunculan di dalam otaknya, memilih mengalihkan fokus pada jamuan untuk tamunya nanti, Frederik.
-000-
Sosok jangkung yang berdiri persis di depan pintu apartemen no. 1807 tepat pukul setengah tujuh petang diperkenalkan tuan rumah kepada nyonya rumah sebagai Frederik Taekwoon Winther Søndergaard, bujangan empat puluh tahun yang berprofesi sebagai diplomat di bawah naungan Kementerian Luar Negeri Kerajaan Denmark. Pertama kali melihat Frederik, Yixing tidak bisa untuk tidak mengagumi penampilan fisik laki-laki itu.
Sungguh, jika saja Joonmyeon tak memberitahu Yixing tentang profesi Frederik, Yixing mungkin bakal mengira lelaki Denmark berambut cokelat pasir yang disisir tinggi-tinggi ke belakang itu seorang model. Frederik tinggi menjulang, memiliki sepasang bahu yang kokoh dan dada bidang yang tercetak jelas di balik t-shirt putih bertuliskan HYGGE. Dia tampan, tentu, bahkan ketampanannya terasa unik berkat nuansa Asia Timur yang melekat pada sepasang matanya. Mata Frederik memiliki bentuk menjurus sipit seperti orang Asia Timur kendati maniknya mengingatkan Yixing pada The Heart of The Ocean, liontin safir biru yang menghiasi kalung milik Rose DeWitt Bukater dalam Titanic. Garis rahangnya tegas, memancarkan aura maskulin yang begitu kuat. Kesan seksi turut melekat kuat pada sosok Frederik berkat kulitnya yang memetakan bercak-bercak kemerahan khas ras Nordik. Hampir dua minggu tinggal di Copenhagen, Yixing merasa bahwa standar tampan menurut versinya mulai bergeser mengikuti standar tampan menurut versi Denmark. Yixing merasa warna kulit dengan bercak-bercak kemerahan jauh lebih seksi dari kulit putih mulus bak porselen milik orang-orang Asia Timur, khususnya Korea. Lupakan wajah mulus licin tanpa noda berkat lapisan BB hingga CC cream. Bare face yang segar dengan bercak-bercak kemerahan alami seperti milik Frederik justru terlihat lebih seksi di mata Yixing.
Frederik tampan, seksi, menggoda. Yixing bahkan sampai bertanya-tanya dalam hati, kira-kira ada berapa banyak stok diplomat hot macam Frederik di Kementerian Luar Negeri Denmark!
Frederik tersenyum lebar kepada Yixing, memperlihatkan deretan giginya yang putih berkilau bak bintang iklan pasta gigi. Diplomat tampan itu menyodorkan buket bunga calla lily dan stock putih yang cantik kepada Yixing.
"Calla lilies dan stocks, untuk pengantin baru yang cantik dan berbahagia," kata Frederik dalam bahasa Inggris, menyebutkan makna dibalik bunga-bunga yang dia pilih untuk Yixing. Suaranya empuk, enak didengar. Yixing jadi penasaran ingin mendengar seperti apa suara Frederik saat menyanyikan sebuah lagu.
Yixing tidak bisa untuk tidak tersipu oleh kalimat manis Frederik yang sama sekali tidak kedengaran menggombal, malah terasa tulus. Malu-malu, Yixing menerima buket pemberian Frederik seraya mengucapkan, "Tusind tak (terima kasih banyak)," dengan pelafalan bahasa Denmark yang nyaris sempurna.
Sepasang manik biru safir milik Frederik bersinar-sinar. "Taler du Dansk (Anda bisa bicara bahasa Denmark)?" tanyanya antusias.
"Sedikit," Yixing sekonyong-konyong mengganti bahasa ke dalam bahasa Inggris. "Saya baru dua minggu ini belajar bahasa Denmark," jawabnya malu-malu.
"Wow, tapi yang tadi itu benar-benar bagus untuk ukuran pemula. Apalagi pemula yang secantik Anda, Yixing. Bahasa apa pun yang Anda gunakan, semua terdengar sempurna bagi kami, The Danes."
"Fred, yang kauajak bicara itu istriku, ngomong-ngomong."
Yixing lagi-lagi tersipu-sipu, tetapi kali ini bukan karena Frederik, melainkan karena Kim Joonmyeon. Mendengar Joonmyeon menegur Frederik kendati nadanya main-main, Yixing tak bisa menampik bahwa hatinya terasa berbunga-bunga. Lewat teguran main-mainnya terhadap Frederik, Joonmyeon secara tidak langsung menunjukkan klaimnya sebagai seorang suami. Katakanlah Yixing kita ini konyol. Jelas-jelas dia dan Joonmyeon memang suami-istri. Akan tetapi, untuk pernikahan yang berangkat dari perjodohan seperti pernikahan Yixing dan Joonmyeon, 'klaim' sederhana semacam ini terasa spesial bagi Yixing. Sungguh, Yixing merasa sangat dihargai sebagai seorang istri di depan tamunya.
Frederik tertawa renyah mendengar teguran Joonmyeon.
"Wah, wah, cemburuan sekali. Aku jadi iri. Teganya kau Joon, mempertemukanku dengan wanita bersuami yang secantik ini," guyon Frederik seraya menepuk bahu Joonmyeon. "Tillykke (selamat), Bung. Kau sukses membuat bujangan sepertiku merana dalam sekejap."
"Siapa suruh tak lekas menikah," balas Joonmyeon. "Jangan mengikuti jejakku yang sangat terlambat untuk menikah, Fred. Segeralah jatuhkan pilihan. Ada ribuan perempuan cantik di Denmark."
"Mudah saja kau bicara seperti itu, mentang-mentang sudah berhasil menyunting bidadari yang muda belia." Frederik lagi-lagi tertawa renyah, mengundang senyum terukir di bibir Joonmyeon dan Yixing sekaligus.
"Beritahu aku, Joon, kebajikan apa yang kaulakukan hingga berhasil mendapatkan bidadari, huh?"
Joonmyeon terkekeh menanggapi Frederik. "Ayo masuk, Bror. Istriku sudah menyiapkan masakan Korea yang spesial untukmu. Nanti keburu dingin jika kau memaksaku menyebutkan kebajikan-kebajikan yang pernah kulakukan."
Joonmyeon merangkul teman lamanya itu, membimbingnya memasuki apartemen. Yixing sebagai nyonya rumah mengucapkan, "Velkommen," yang bermakna 'selamat datang' begitu Frederik memasuki ruang tamu, sekali lagi berbuah pujian dari Frederik yang menganggap pelafalan Yixing nyaris mirip orang Denmark asli.
Satu hal yang dipelajari Yixing dari Frederik, lelaki Denmark itu sangat mudah tertawa. Frederik adalah pribadi yang sangat-sangat santai, berbeda dengan Joonmyeon yang cenderung kaku. Frederik menggulung lengan blazer biru tuanya yang modis dengan santai, bercakap sambil menikmati makan malam bersama Yixing dan Joonmyeon dengan lahap. Bercakap-cakap dengan Frederik terasa lepas dan menyenangkan kendati Yixing beberapa kali mengerutkan kening saat Frederik melontarkan lelucon khas Denmark yang sama sekali tak bisa dipahaminya, tak peduli Frederik menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris.
Rasanya ajaib melihat Joonmyeon yang kaku memiliki teman dengan pembawaan super santai macam Frederik, tetapi Yixing turut senang untuk Joonmyeon, pasalnya teman semacam Frederik sangat-sangat ampuh untuk melepas stres. Yixing tak henti-henti memperhatikan mereka berdua secara diam-diam, membandingkan sosok dua lelaki tampan yang memiliki kepribadian bertolak belakang itu. Dia tak dapat memungkiri bahwa dirinya berharap Joonmyeon memiliki karakter yang menyenangkan seperti Frederik.
Yixing beberapa kali tersenyum dan ikut tertawa saat Frederik menceritakan masa mudanya dengan Joonmyeon, tepatnya saat mereka mengikuti exchange program di University of Edinburgh, Skotlandia. Joonmyeon digambarkan Frederik sebagai sosok yang 'terlalu serius, seolah-olah menanggung beban seisi dunia'.
"Yang dia pikirkan bukan party atau kencan di waktu senggang, melainkan kesempatan untuk magang di konsulat Korea yang ada di Edinburgh. Bahkan di usia dua puluh dia sudah memantapkan pilihan untuk meniti karir menjadi diplomat," Frederik memberitahu Yixing.
"Dia bilang padaku, "Fred, setelah ini aku punya rencana melanjutkan studi ke School of International and Public Affairs di Columbia University. Aku harus lulus di usia dua puluh empat dan di usia dua puluh lima nanti aku harus lolos seleksi masuk Kementerian Luar Negeri"," Frederik menirukan Joonmyeon.
"Dan hasilnya? Voila, semua sesuai dengan rencana. Tak ada satu pun yang meleset. Luar biasa."
Yixing meringis. Dalam hati dia sama sekali tak kaget, mengingat Joonmyeon adalah salah satu planner terbaik di dunia yang dia kenal. Sama sekali tidak aneh jika suaminya itu telah membuat perencanaan karir yang matang di usia dua puluh dan sungguh-sungguh merealisasikannya sesuai rencana.
"Ini enak sekali, Yixing." Frederik menunjuk potongan haemulpajeon di mangkuknya setelah puas bercerita tentang masa mudanya bersama Joonmyeon di Edinburgh. Itu potongan ketiga yang mampir di mangkuk Frederik jika Yixing tak salah hitung.
"Jauh lebih enak dari buatan nenekku yang asli Daegu," Frederik lagi-lagi melontarkan pujian untuk Yixing sekaligus memberikan petunjuk darimana darah Korea-nya berasal. Dia tampak sangat menikmati hidangan yang disajikan Yixing, menghadirkan kepuasan tersendiri di hati Sang Nyonya Rumah.
"Terima kasih. Syukurlah kalau cocok dengan lidah Anda," balas Yixing hangat, lengkap dengan senyum manis menghiasi bibir.
Sebagai nyonya rumah, Yixing cukup baik menjalankan perannya dalam jamuan. Dia terlihat luwes berhadapan dengan Frederik, memberikan tanggapan dengan antusias tetapi sopan, juga cukup pandai melibatkan diri dalam pembicaraan kendati Joonmyeon tetap yang lebih banyak bicara. Yixing sangat bersyukur Joonmyeon tidak memonopoli Frederik, memudahkannya untuk berinteraksi dengan Sang Diplomat Denmark.
"Kau harus hati-hati, Joon," Frederik menoleh ke arah Joonmyeon. "Istrimu begini pandai memasak. Kutebak beberapa bulan lagi perutmu pasti membuncit."
Joonmyeon terkekeh. "Kurasa tidak juga, selama Pak Dubes tidak menarik kembali alat fitness di loteng Kedutaan."
"Menggunakan alat fitness di kantor berarti mengantre. Itu sangat menyebalkan. Ketika giliranku tiba, tiba-tiba masuk kawat diplomatik dan ujung-ujungnya aku gagal fitness," cerita Frederik. "Lebih baik menyempatkan waktu pergi ngegym. Beruntung sekarang aku ditugaskan kembali di Denmark. Pengalaman bertugas di Suriah kemarin, rasanya tidak ada hari tenang bahkan untuk sekadar berolahraga."
Percakapan dengan Frederik terus mengalir di meja makan, mempertahankan suasana yang terasa hangat dan akrab.
"Aku sangat menyukai cara kalian mendekor ruangan ini," Frederik berkomentar saat tengah menikmati almond jelly khas Tiongkok sebagai hidangan penutup.
"Kaligrafi China dan sepasang boneka pengantin Korea, juga bambu hoki." Tatapannya menjelajahi ruangan, mulai dari kaligrafi dalam Hanzi yang dipajang di dinding, kemudian sepasang boneka pengantin Korea yang mengenakan hanbok dan dua vas kaca berisi bambu hoki yang menjadi aksesoris pemanis meja kecil di sudut ruangan.
"Unsur budaya Korea dan China diperlihatkan dengan sangat harmonis, berdampingan dengan Tuan Diplomat yang berdarah Korea dan istri cantiknya yang berdarah China. Sebuah perpaduan yang indah. Ironis rasanya jika mengingat di luar sana hubungan bilateral antara Korea dan China justru tengah memanas. Terus terang saja aku sangat prihatin dengan THAAD. Ideologi dan politik memang sangat mengerikan, tapi kalian berdua membuktikan bahwa perbedaan kebijakan politik dan ideologi sama sekali bukan masalah. Cinta memang luar biasa, bukan? Seandainya semua orang menyadari itu, mungkin lagu Heal The World dari Jacko tak hanya jadi sekadar lagu."
Frederik terang-terangan menyatakan keprihatinannya. Tampak ekspresi di wajah tampannya sedikit mendung saat menyebutkan konflik THAAD, bahkan suaranya berubah lirih.
Mendengar penuturan Frederik, Yixing mendadak menggigit bibir. Sungguh, kalimat demi kalimat yang meluncur dari bibir Frederik terasa menyentuh hatinya hingga ke lubuk yang terdalam.
"Situasi yang semacam ini tentu tidak mudah untuk Anda, Yixing, bukankah begitu?" Frederik sekonyong-konyong menanyainya.
"Apalagi Anda bersuamikan seorang diplomat Korea. Mungkin ada kalanya muncul perasaan tidak enak hati terhadap saudara dan teman-teman di China, juga perasaan terasing di lingkungan baru yang notabene komunitas Korea. Tetapi aku percaya status darah dan kewarganegaraan bukan sesuatu yang patut dibesar-besarkan. Semua orang bersaudara, bukankah begitu? Dan Yixing, aku mengagumi keberanian Anda untuk mengganti kewarganegaraan. Itu bukan pilihan mudah dan sangat layak untuk diapresiasi. Luar biasa menurutku."
Demi Tuhan, Frederik benar-benar membuatnya tersentuh, juga terharu!
Sungguh, rasanya sangat mengharukan mendengar kalimat-kalimat bijak seperti itu terucap dengan tulus dari bibir seorang teman yang baru dikenal kurang dari dua jam. Frederik di satu sisi mewakili suara hatinya tentang status darah dan kewarganegaraan, juga kecemasan-kecemasan, perasaan terasing sebagai perempuan Tiongkok yang menikahi diplomat Korea. Di sisi lain, Frederik seakan mengobati lara hati Yixing yang kembali muncul lantaran mengingat komentar Kyuri soal China dan Korea saat makan siang tadi. Ada ketulusan yang tak dapat ditutup-tutupi oleh Frederik, juga rasa setia kawan yang entah sejak kapan melekat. Yixing tanpa sadar meneteskan air mata. Terharu.
"Yixing-ah, kau menangis?"
Suara suaminya ibarat alarm. Yixing terperanjat, kaget bukan main. Dia bahkan baru sadar kalau air matanya menganak sungai, memetakan jejak-jejak basah di pipinya yang mulus.
Terlambat. Yixing tak sempat meraih tisu untuk menyeka air mata dan berdalih bahwa dia tidak menangis. Kecemasan di wajah Joonmyeon dan Frederik telah memerangkapnya lebih dulu, sesaat membuatnya mematung saking tak tahu apa yang harus dilakukan.
Yixing terlalu kaget, sampai-sampai dia tak menyadari bahwa ini pertama kalinya Joonmyeon menunjukkan kecemasan melalui ekspresi milik wajahnya yang tampan.
-000-
Yixing benar-benar merasa konyol.
Konyol, ya. Konyol karena menangis di depan tamu. Demi Tuhan, itu benar-benar melanggar etiket. Dia menyesal, sungguh, tetapi apa daya ketika sisi sensitifnya terlanjur mengambil alih karena ketulusan yang diberikan seorang Frederik melalui kalimat-kalimat nan bijak?
Yixing tak berani membayangkan seperti apa reaksi Joonmyeon saat pulang nanti. Suaminya itu tengah mengantar Frederik, kemungkinan sampai stasiun S-Tog (S-Train) mengingat Frederik bilang hendak menginap di rumah kerabatnya yang menempati wilayah Karlslunde di barat daya Copenhagen, lumayan jauh dari lokasi apartemen Yixing di Charlottenlund. Yixing tahu Joonmyeon pasti kecewa padanya. Seorang nyonya rumah seharusnya menampilkan wajah ceria sepanjang jamuan, bukannya menangis seperti Yixing tadi. Kendati Joonmyeon sempat terlihat cemas saat melihatnya menangis, laki-laki itu segera memperlihatkan raut datar bahkan hingga Frederik pamit pulang sekitar setengah jam yang lalu.
Harap-harap cemas adalah jenis perasaan yang melanda Yixing selama menantikan kepulangan Joonmyeon, sampai-sampai dia kurang berkonsentrasi saat mencuci piring. Beberapa kali nyaris dia menjatuhkan piring atau mangkuk. Beruntung refleksnya masih cukup baik. Jika tidak, dijamin hingga Joonmyeon pulang nanti dapurnya masih dalam keadaan kacau.
Yixing tengah mencuci tangannya ketika suara langkah kaki terdengar memasuki apartemen. Pemilik paras manis ini seketika terkesiap hingga gerakan tangannya refleks terhenti. Joonmyeon pulang!
Sekujur tubuh Yixing terasa tegang, hatinya bukan main cemas. Yixing benar-benar tak tahu apa yang sebaiknya dia katakan jika Joonmyeon menyinggung masalah dia menangis pada saat menjamu Frederik tadi.
"Yixing-ah…"
Kemunculannya sukses mengejutkan Yixing, tetapi sepertinya itu belum cukup. Yixing syok bukan main melihat suaminya melangkah ke arahnya, tampak terhuyung-huyung.
"O-Oppa…" Suara Yixing mendadak tercekat. Ada apa dengan Joonmyeon?
"Yixing-ah…"
Joonmyeon nyaris terjatuh seandainya saja kedua tangannya tak cepat-cepat bertumpu pada kedua bahu istrinya hingga Yixing terdorong ke belakang, membentur tepian wastafel.
"Yixing-ah…"
Joonmyeon agak kacau. Wajahnya pucat, tatapannya sayu. Namun, yang paling mengejutkan Yixing tentu saja bau alkohol yang menguar dari mulutnya.
Demi Tuhan, Joonmyeon mabuk!
Rasa sakit di bagian belakang tubuhnya yang barusan membentur tepian wastafel seketika terlupakan. Paras manis Yixing berubah pucat pasi mendapati suaminya mabuk seperti ini. Yixing sama sekali tak habis pikir kenapa Joonmyeon sampai mabuk. Seingatnya Joonmyeon hanya meminum sekaleng Mikeller saat berbincang dengan Frederik usai makan malam tadi dan dia terlihat normal-normal saja saat meninggalkan apartemen untuk mengantar Frederik pulang. Lantas kenapa suaminya mendadak mabuk begini?
"Oppa, apakah tadi Oppa minum bir lagi?" Yixing bertanya dengan takut-takut. Perasaannya bukan main waswas seiring cengkeraman Joonmyeon di bahunya yang semakin menguat. Ini pertama kalinya Yixing melihat Joonmyeon mabuk, walhasil dia sama sekali tak tahu-menahu bakal jadi seperti apa suaminya itu saat mabuk.
Alih-alih menjawab, Joonmyeon yang menatapnya dengan sayu justru menggerakkan kedua tangannya ke atas, menangkup pipi Yixing hingga istrinya ini membelalakkan matanya karena kaget.
"Kenapa… Kau menangis di depan Fred, hmm?" Joonmyeon sekonyong-konyong bertanya, tampak tidak fokus. Suaranya lirih, tetapi efeknya teramat mengejutkan bagi Yixing.
Yixing meneguk ludah. Dia ketakutan. Prediksinya sama sekali tak meleset. Joonmyeon menyinggung masalah yang sangat ingin dilupakan Yixing saat ini!
"Oppa, ak—"
"Apakah begitu sulit…" Joonmyeon memotong. "Menjadi istriku… Yixing-ah?"
Sekujur tubuh Yixing terasa kebas. Lidahnya terasa kelu. Pertanyaan Joonmyeon… Getir. Terdengar getir di telinga.
"Apakah begitu sulit?" Joonmyeon mengulangi pertanyaannya. "Hingga kau menangis di depan Fred? Hmm? Menjadi istri diplomat Korea… Apa begitu sulit?"
Yixing tak kuasa menjawab. Dia bisa melihat kekecewaan mendalam dalam tatapan sayu laki-laki itu. Joonmyeon yang biasa kaku, Joonmyeon yang biasa penuh wibawa, malam ini tak dinyana memperlihatkan sisi yang rapuh dalam dirinya. Sisi rapuh yang selama ini terkunci dalam-dalam, kali ini mendobrak keluar. Hati Yixing seketika terasa nyeri bagai dipilin. Dia sadar, dia benar-benar sukses mengecewakan Joonmyeon malam ini.
"Begitukah?"
Yixing benar-benar tak kuasa menjawab dan entah kenapa dia merasa kesulitan bernapas lantaran baru sadar bahwa jarak antara dirinya dan Joonmyeon menipis dengan begitu cepat.
"Sesulit itukah… Yixing-ah?" Nada bicara Joonmyeon terdengar semakin getir.
Yixing masih tak menjawab. Alih-alih jawaban, sepasang mata indahnya justru berkaca-kaca.
"Yixing-ah… Zhang Yixing…"
"Joonmyeon Op—mmph!"
Kali ini sepasang mata indah milik Yixing membola. Dia sama sekali tak menduga bahwa Joonmyeon kini meniadakan jarak tanpa aba-aba, membungkamnya lewat kecupan penuh tepat di bibir. Sekujur tubuh Yixing mendadak lemas begitu merasakan bibir Joonmyeon yang terasa panas melumat bibirnya, membalurkan rasa yang tak dikenali Yixing sebagai Mikeller atau merek bir lain. Yixing refleks menumpukan kedua tangannya di bahu Joonmyeon seiring lumatan yang semakin dalam dari Sang Suami di bibirnya.
Ciuman Joonmyeon dirasakan Yixing semakin bertubi-tubi, juga semakin dalam. Bibirnya terus-menerus bergerak melumat bibir atas dan bawah Yixing, sama sekali tak menyadari bahwa lipstik cranberry red Yixing berceceran di bibirnya. Joonmyeon bahkan menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, mencoba mencari posisi terbaik untuk melumat habis bibir ranum milik Yixing.
Yixing yang merasakan tubuhnya mendadak lemas sama sekali tak sanggup untuk berontak, bahkan merasa tidak ingin untuk memberontak. Kegetiran Joonmyeon, juga kekecewaan laki-laki itu sukses memerangkapnya dalam perasaan bersalah. Jika ciuman ini adalah kompensasi untuk Joonmyeon, maka Yixing rela, bahkan sangat rela.
Yixing pasrah menahan sakit di bagian belakang tubuhnya akibat semakin terdesak dengan pinggiran wastafel seiring gerakan tubuh Joonmyeon yang semakin memepetnya.
"Yixing-ah… Zhang Yixing…"
Joonmyeon sesaat melepaskan tautan bibirnya dengan Yixing, menyebutkan nama istrinya lewat nada yang terdengar frustrasi. Tak memberikan kesempatan bagi Yixing untuk menanggapi, Joonmyeon kembali menempelkan bibirnya dengan bibir ranum Yixing, melumatnya lagi dalam-dalam.
Yixing terkesiap ketika kedua tangan Joonmyeon menjauh dari pipinya, bergerak turun dan merayap ke punggung. Dirasakannya jari-jemari Joonmyeon meraba-raba di sana, mencari-cari zipper milik flared dress yang masih melekat di tubuhnya. Yixing memang belum mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan lantaran merasa tanggung.
Jari-jemari Joonmyeon yang berhasil menemukan zipper-nya dan menurunkannya perlahan menyadarkan Yixing bahwa suaminya bermaksud memilikinya malam ini. Jantung Yixing seketika berdebar liar. Selama ini Joonmyeon selalu dalam keadaan sadar ketika menyetubuhinya. Laki-laki itu bahkan selalu meminta izin dengan kaku saat hendak membuka pakaiannya, menciptakan suasana canggung sebelum bibirnya melumat bibir Yixing dengan ragu-ragu. Persetubuhan mereka selama ini selalu terasa canggung dan hati-hati, tetapi sepertinya malam ini Joonmyeon bakal membuatnya terasa berbeda. Bahkan ciumannya malam ini sangat-sangat berbeda, terasa lepas dan agresif hingga Yixing kewalahan.
Yixing di satu sisi merasakan ketakutan ketika jari-jemari Joonmyeon membelai punggungnya yang menyisakan tali bra, tetapi di sisi lain dia tak kuasa menolak Joonmyeon. Ciuman laki-laki itu terasa semakin menuntut hingga Yixing seakan tak punya pilihan lain selain balas melumat bibir Joonmyeon. Perempuan manis ini benar-benar memilih pasrah, memilih menuruti suaminya. Yixing hanya berharap Joonmyeon yang mabuk masih bisa berlaku lembut di atas ranjang nanti.
Yixing pasrah seiring bukti gairah suaminya yang mulai terasa menekan perut. Joonmyeon sungguh-sungguh ingin memilikinya malam ini, itu sudah pasti.
-000-
Teman-teman sekelasnya di Københavns Sprogcenter alias Copenhagen Language Center tampak khawatir melihat wajahnya yang pucat, tetapi Yixing meyakinkan mereka bahwa dia baik-baik saja.
"Aku hanya kurang tidur," Yixing memberitahu Mireille Chastain dan Annette van Nistelrooy, dua dari teman sekelasnya yang tak henti-henti menanyakan apakah dia baik-baik saja.
Yixing sama sekali tak berbohong pada Mireille maupun Annette, gadis-gadis asal Bordeaux dan Rotterdam yang paling dekat dengannya di kelas bahasa Denmark. Dia memang kurang tidur lantaran kemarin malam Joonmyeon menyetubuhinya hingga dini hari menjelang subuh. Joonmyeon yang mabuk ternyata justru jauh lebih bertenaga dan bergairah, tetapi masih bisa bersikap lembut, satu hal yang sangat disyukuri Yixing dari momen panas mereka kemarin malam.
Ah, mengingat momen panas mereka kemarin malam, Yixing sungguh tak bisa mendefinisikan seperti apa perasaannya saat ini. Joonmyeon benar-benar lain dari biasanya. Laki-laki itu sama sekali tak menahan diri. Yixing bahkan tak bisa menghitung berapa kali suaminya itu mencapai pelepasan di dalam tubuhnya. Sungguh, Yixing tak akan kaget jika dua atau tiga minggu lagi dia bakal mendapati dua garis merah di testpack, karena Demi Tuhan, dia tengah berada dalam masa subur!
Persetubuhan mereka sangat-sangat panas, tetapi jauh di dasar hatinya, Yixing merasakan sesuatu yang mengganjal dan itu adalah kegetiran serta kekecewaan Joonmyeon terhadap dirinya yang menangis di depan Frederik saat jamuan makan malam. Yixing tidak berani membahas soal itu apalagi meminta maaf. Suasana teramat canggung yang menyergap saat dia membangunkan Joonmyeon pagi tadi, mendapati suaminya itu menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak, semuanya membuat Yixing tak sanggup berkata-kata.
Yixing ingin sejenak menepis perasaan tidak nyaman itu dengan mencoba bersenang-senang bersama teman-temannya, maka sebisa mungkin dia mencoba meyakinkan Mireille maupun Annette bahwa dia baik-baik saja. Yixing berkeras bahwa dia sangat sehat untuk ikut rombongan teman-teman sekelasnya melancong ke Nyhavn seusai kelas bahasa Denmark. Kendati Yixing sudah dua kali ke Nyhavn bersama Mireille dan Annette, bepergian full team bersama teman sekelasnya terlalu sayang untuk dilewatkan.
Mireille dan Annette akhirnya mengizinkan Yixing bergabung. Jadilah Sang Nyonya Diplomat bergabung dengan teman-teman sekelasnya, beramai-ramai menaiki S-Tog dari Copenhagen Central Station. Tampak Sang Nyonya Diplomat bercengkrama dengan teman-temannya di salah satu gerbong. Siapa pun yang melihat Yixing tak bakal menyangka bahwa dia berstatus nyonya diplomat. Bagaimana tidak? Saat ini Yixing mengenakan t-shirt putih dan jaket tweed terakota, dipadukan dengan jeans hitam dan sepatu kets putih. Tas ransel dan modul pembelajaran bahasa Denmark adalah atribut yang sukses menggiring asumsi publik bahwa dia hanyalah salah satu dari ribuan mahasiswa asing asal Asia yang bertebaran di bumi Copenhagen.
Nyhavn merupakan entertainment district yang menjadi salah satu ikon Copenhagen. Dalam bahasa Denmark, nyhavn berarti 'pelabuhan baru'. Wilayah ini memang merupakan pelabuhan dan sangat terkenal dengan panorama kanal yang tepinya menyuguhkan dua lajur bangunan-bangunan bergaya klasik, masing-masing bangunan dicat dengan warna yang berbeda-beda. Yixing dan teman-temannya sepakat untuk berjalan-jalan menyusuri jalur pedestrian, menikmati deretan bangunan aneka warna yang difungsikan sebagai hotel, restoran, kafe, hingga bar. Warna-warni mulai dari merah bata hingga kuning, hijau hingga biru benar-benar memanjakan mata. Sembari berbincang-bincang bersama teman-temannya, Yixing mulai menyusuri deretan bangunan bernomor ganjil, mencoba menemukan rumah nomor 67 yang pernah ditempati maestro dongeng asal Denmark, Hans-Christian Andersen.
"Kau tidak apa-apa 'kan, Poppy? Wajahmu masih saja pucat. Atau sebaiknya kita mampir minum kopi dulu?"
Annette van Nistelrooy yang asli Rotterdam lagi-lagi menanyakan hal yang sama pada Yixing. Nona berambut pirang keriting itu kentara benar khawatir. Dia memang paling perhatian pada Yixing, bahkan bisa dibilang menyayangi nyonya diplomat yang dipanggilnya 'Poppy'. Jangan heran kenapa Annette memanggil Yixing demikian, pasalnya menurut Annette perawakan mungil Yixing dan parasnya yang manis benar-benar mirip pop alias boneka dalam bahasa Belanda.
Yixing meringis mendengar pertanyaan Annette yang mulai terdengar membosankan. Annette kentara benar tak percaya bahwa dia pucat semata-mata karena kurang tidur.
"Minum kopi di sini terlalu mahal, barangkali kau lupa." Alih-alih menjawab, Yixing justru mengomentari usulan minum kopi dari Annette. "Oh, ayolah, Annette. Kita ke sini untuk bersenang-senang." Yixing menggandeng teman Belanda-nya itu, memasang aegyo hingga Annette mau tak mau tersenyum.
"Aku hanya tak mau kau sakit, Poppy. Kau begitu kecil mungil, kasihan sekali kalau jatuh sakit."
Yixing tertawa menanggapi Annette. Teman Belanda-nya itu selalu saja membahas perawakannya yang digambarkan dengan adjektiva 'kecil mungil'. Yixing maklum saja, pasalnya dibandingkan Annette yang punya tinggi badan 185 senti dan postur tegap menjurus kekar hasil kegemarannya ngegym, dia seperti liliput jika berjalan bersisian seperti ini.
"Aku tidak sekecil itu," Yixing pura-pura protes sambil mencebikkan bibir, mengundang tawa gemas dari Annette.
"Kau ini benar-benar menggemaskan. Persis pop!"
"Hei, kalian! Bisa jalan lebih cepat sedikit, tidak? Ayolah, kita belum berfoto di depan rumah Andersen!"
Suara itu milik Angelos Michailidis, cowok Yunani yang juga teman sekelas mereka di sprogcenter (language center). Angelos tampak tidak sabar melihat Annette dan Yixing yang berjalan lambat-lambat, pasalnya dari lima belas personel kelas bahasa Denmark yang ikut dalam pelancongan kali ini, Angelos-lah yang paling bersemangat untuk mengunjungi Nyhavn. Cowok itu sudah tak sabar untuk berfoto di depan rumah yang pernah ditempati Hans-Christian Andersen.
"Woo-hoo, sabar sedikit, Bung! Rumah Andersen tidak punya kaki, dia takkan pergi kemana-mana," Annette menyahut dengan enteng, disambut kekehan kecil dari Yixing.
Tak ingin membuat Angelos senewen, Yixing bergegas menarik Annette untuk menyusul teman-teman mereka yang lain. Sekali lagi Mireille Chastain menanyainya apa dia baik-baik saja dan Yixing harus mengulang jawaban yang sama.
Pelancongan kali ini cukup menyenangkan bagi Yixing. Pesona Nyhavn dan interaksi bersama teman-temannya sedikit banyak bisa mengalihkan perhatiannya dari sosok Kim Joonmyeon dan momen-momen kemarin malam. Setidaknya dia bisa sejenak bernapas lega sebelum kembali bertemu Joonmyeon malam ini.
Teman-temannya berinisiatif mengunjungi Fisken, salah satu pub di Nyhavn yang menyuguhkan suasana pelabuhan Copenhagen abad-17. Mereka ingin menikmati bir Denmark setelah merasa lelah berjalan-jalan menyusuri Nyhavn, sekalian ingin menghangatkan badan lantaran udara Copenhagen lumayan dingin di musim gugur seperti sekarang. Yixing pribadi tidak suka minum alkohol dan dia teringat jadwal memasak makan malam untuk Joonmyeon sehingga memilih untuk absen dari acara ngepub. Keputusannya ini didukung oleh Annette dan Mireille yang masih yakin bahwa Yixing kurang sehat.
Jadilah Yixing menyingkir dari teman-temannya, memilih mendatangi Stasiun Østerport untuk menjangkau S-Tog di line C yang bakal membawanya ke Stasiun Charlottenlund di Hellerup. Sang Nyonya Diplomat menempuh perjalanannya sendirian, memilih iseng membaca modul bahasa Denmark-nya. Salah satu penumpang di S-Tog menanyainya setelah melihat judul modul yang tengah dia baca, mengawali percakapan yang mengalir begitu saja di antara mereka berdua sampai S-Tog mencapai Stasiun Charlottenlund.
Melambaikan tangan pada Ingrid—teman seperjalanannya yang mengajak bercakap-cakap—Yixing turun dari S-Tog, bergabung dengan arus manusia yang cukup padat lantaran saat ini memasuki jam pulang kerja. Yixing sudah familiar dengan stasiun ini hingga langkah kakinya terasa mantap dan tidak ada lagi sosok canggung Zhang Yixing yang bisa ditemukan hampir dua minggu yang lalu saat pertama kalinya dia mengunjungi Stasiun Charlottenlund.
"Hej (hai), Yixing!"
Yixing terkejut. Sebuah tepukan lembut mendarat di bahunya, mengiringi namanya yang disebutkan oleh satu suara yang familiar.
"Frederik?"
Frederik Taekwoon Winther Søndergaard memamerkan senyumnya yang paten, sesaat mengingatkan Yixing pada visualisasi sempurna Paul Wesley hingga Ian Somerhalder dalam salah satu serial Amerika favoritnya.
-000-
Jujur saja, Yixing agak bingung mendapati dirinya berada di salah satu meja milik Starbucks, duduk berhadapan dengan sosok tampan yang necis dalam balutan blazer berwarna hitam. Dia bahkan tak kepikiran untuk minta izin kepada suaminya terlebih dahulu, memilih mengikuti sosok tampan yang bernama Frederik Søndergaard. Frederik sejatinya berencana kembali mengunjungi kerabatnya di Karlslunde, tetapi memutuskan untuk menundanya lantaran ingin berbincang dengan Yixing. Jadilah dia membawa Yixing ke Starbucks. Frederik yang mentraktir, ngomong-ngomong.
"Jujur saja, aku kaget melihatmu menangis kemarin malam," kata Frederik setelah menyesap americano-nya. "Aku sama sekali tidak bermaksud apa-apa, Yixing, sungguh. Itu murni pendapatku saja. Sama sekali tidak ada maksud lain."
Berbeda dengan kemarin malam, Frederik kelihatan lebih nyaman bercakap-cakap dengan Yixing. Bahasa Inggris-nya pun terasa lebih kasual, mengisyaratkan bahwa Yixing tak lagi asing baginya.
"Tidak apa-apa, Fred. Bukankah sudah kubilang kemarin? Aku hanya tersentuh, juga terharu," Yixing menenenangkan Frederik yang masih terlihat tidak enak hati.
"Aku justru senang mendengar kalimat semacam itu, rasanya aku memiliki teman baru yang penuh pengertian." Dia tersenyum kecil, memperlihatkan dimple-nya yang menggemaskan.
"Tapi sepertinya Joon berpikiran lain. Dia terlihat kecewa. Seumur-umur mengenal Joon, itu kali pertama aku melihatnya memasang ekspresi demikian. Sepertinya dia sangat tersinggung padaku. Aku benar-benar merasa bersalah dan tidak enak hati, sampai-sampai aku meminta maaf berkali-kali padanya," beber Frederik.
Yixing sedikit tersentak mendengar Frederik mengatakan bahwa Joonmyeon terlihat kecewa. Perasaan bersalah lagi-lagi menerjang hatinya. Yixing tahu, bukan Frederik yang membuat Joonmyeon kecewa, melainkan dirinya, nyonya rumah yang menangis di hadapan tamu!
"Tidak, Fred. Joonmyeon Oppa tidak tersinggung padamu," sanggah Yixing buru-buru. "Dia kecewa padaku karena aku menangis di depan tamu. Itu bukan sesuatu yang pantas, semua orang juga tahu."
Frederik mengerutkan kening. "Benarkah? Tapi aku tidak merasa seperti itu, Yixing."
Yixing lagi-lagi tersenyum. "Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Aku tidak apa-apa. Joonmyeon Oppa juga," dustanya, mencoba terlihat semeyakinkan mungkin.
"Anggap saja tidak pernah terjadi. Sungguh, aku merasa sangat konyol kemarin malam." Yixing mencoba bercanda.
Frederik masih terlihat tak enak hati, tetapi dia cukup tanggap terhadap situasi. Diplomat Denmark itu tersenyum, manis. Agaknya dia sungguh-sungguh ingin memperbaiki suasana yang kurang nyaman.
"Ngomong-ngomong soal Joon, aku tak menyangka dia akhirnya memilih untuk menikah," ujar Frederik. Dia benar-benar pengertian dengan mengambil inisiatif untuk mengganti topik pembicaraan.
"Kau hebat, Yixing. Bisa menaklukkan lelaki yang begitu kaku dan serius seperti Joon. Det er fantastisk." Frederik mengerjapkan matanya yang bermanik biru safir. Pujiannya bernada kagum.
"Aku tidak sehebat itu. Joonmyeon Oppa memilihku, mungkin karena saat itu dia tidak punya pilihan lain." Alih-alih tersanjung, Yixing justru terlihat ragu-ragu.
"Yang kutahu, saat itu orang tua Joonmyeon Oppa sudah memberikan ultimatum, memintanya cepat-cepat menikah. Kebetulan saat itu aku yang diperkenalkan padanya."
"Menurutku tidak seperti itu," Frederik sekonyong-konyong menyanggah. "Joon memilihmu, kurasa karena kau bisa mengalihkan dunianya dari Jenny. Joon yang kukenal bukan tipe orang yang bisa disetir orang lain."
Satu nama perempuan yang disebutkan Frederik memandu satu alis Yixing terangkat dengan raut keterkejutan kembali terpeta di wajahnya.
"Jenny? Jenny siapa?"
'Jenny. Siapa dia?' Batinnya ikut bersuara.
Frederik yang tengah menyeruput americano-nya gantian terkejut.
"Joon tidak cerita padamu?"
Yixing menggeleng. Jantungnya mendadak berdentam liar.
-000-
'Jenny Kim. Keturunan Korea-Skotlandia yang menempuh pendidikan di University of Edinburgh. Aku dan Joon sama-sama tertarik padanya semasa kami ikut exchange program. Kebetulan kami ikut organisasi yang sama.'
'Aku dan Joon berusaha untuk mendekati Jenny, tetapi dia bukan tipe yang mudah didekati. Lama-lama aku menyerah, tetapi Joon tidak. Bahkan yang membuatku terkejut, Joon hampir selalu menyempatkan diri mengunjungi Jenny saat liburan, termasuk saat dia kuliah di Columbia. Aku tahu karena komunikasi di antara aku, Jenny, dan Joon tetap terjalin meski aku dan Joon sudah kembali ke negara masing-masing. Joon seringkali menceritakan usahanya untuk mendekati Jenny, yang sayangnya tidak kunjung berhasil.'
'Joon sama sekali tidak menyerah mendekati Jenny. Bahkan setelah dia mulai disibukkan dengan aktivitasnya sebagai diplomat, dia sempat memberitahuku via surel tentang rutinitasnya menghubungi Jenny. Jenny juga sempat curhat padaku, mengatakan bahwa Joon masih saja 'mengganggunya'. Saat itu aku benar-benar terkesan, juga tak menyangka Joon benar-benar serius pada Jenny. Joon bahkan berencana melamarnya setelah Kementerian Luar Negeri menerbitkan Surat Keputusan untuk menempatkannya di UK. Sayang, pada saat Joon ditempatkan di London, Jenny justru menikahi profesor dari St Andrews University. Bisa kaubayangkan seperti apa perasaan Joon saat itu. Dia pastinya sangat hancur, apalagi yang kutahu Joon sudah menyiapkan cincin untuk Jenny.'
'Jenny menikah sepuluh tahun yang lalu. Sepuluh tahun pun berlalu tanpa cerita Joon tentang Jenny, juga tanpa undangan pernikahan dari Joon. Kupikir Joon serius tak akan menikah karena patah hati berkepanjangan. Untung saja dua bulan yang lalu akhirnya datang undangan pernikahan kalian, sayangnya aku tak bisa datang karena kesibukanku di Suriah.'
Suara Frederik ibarat OST, terngiang-ngiang di telinga mengiringi langkah gontai milik nyonya diplomat yang terlihat pucat di bawah langit remang-remang milik Copenhagen.
Jenny. Jenny Kim.
Nama itu seakan-akan menghantui Yixing. Jenny Kim. Cinta sejati Joonmyeon.
Hati Yixing entah kenapa terasa nyeri mengetahui kisah masa lalu Joonmyeon yang dituturkan Frederik di Starbucks tadi. Nyeri yang memilin-milin lantaran mengetahui bahwa suaminya mencintai perempuan lain selama dua puluh tahun. Kim Joonmyeon, laki-laki itu mencintai Jenny Kim selama dua puluh tahun, bahkan mungkin sampai sekarang.
"Ah, apa yang kupikirkan?" Yixing menggumam dengan getir, begitu lirih hingga nyaris tak terdengar. "Bukankah seharusnya kau tak perlu kaget, Zhang Yixing? Kau jelas-jelas tahu Kim Joonmyeon memilihmu karena dia tak punya pilihan lain."
Yixing tersenyum miris. Sepasang matanya mulai memanas. Pujian Frederik tentang kehebatannya menaklukkan Joonmyeon bagi Yixing hanyalah basa-basi belaka. Yixing sadar betul bahwa dia dan Joonmyeon menikah karena perjodohan. Terlalu muluk-muluk rasanya untuk beranggapan bahwa Joonmyeon menikahinya semata-mata karena cinta.
"Kim Joonmyeon menikahimu karena dia membutuhkan nyonya diplomat yang bisa menjamu tamu-tamunya. Dia tidak membutuhkan seorang istri. Dan kemarin malam, dia hanya membutuhkan pelampiasan sebagai laki-laki normal."
Sekarang air matanya tak bisa ditahan-tahan lagi. Air matanya mulai berjatuhan dan Yixing harus menggigit bibir untuk menahan isak tangisnya agar tak keluar. Nyeri dalam hatinya berubah sakit tak tertahankan mengingat bagaimana Joonmyeon menggagahinya kemarin malam, juga malam-malam yang sudah terlewat. Hatinya sakit membayangkan Joonmyeon melakukannya dengan membayangkan sosok Jenny Kim alih-alih murni melihatnya sebagai Zhang Yixing.
Seorang bibi berambut cokelat pasir seperti rambut Frederik yang kebetulan satu lift dengannya tampak kaget melihatnya menangis.
"Apa kau baik-baik saja, Nak?" tanyanya pada Yixing dalam bahasa Inggris. Dari aksennya, Yixing bisa menebak bahwa bibi itu asli Denmark.
Yixing mendongak, mendapati seraut wajah yang menunjukkan kekhawatiran milik seseorang yang sama sekali asing baginya.
"Apa kau baik-baik saja?" Dia kembali menanyai Yixing.
Yixing menganggukkan kepalanya.
"Kau ingin ke lantai berapa? Kau belum menekan tombolnya."
"18. Please," Yixing menjawab dengan suaranya yang serak.
Bibi Denmark itu berbaik hati membantu menekan tombol bertuliskan angka 18. Dia sekali lagi menanyai Yixing apa Yixing baik-baik saja dan Yixing hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Mereka berpisah di lantai 18 lantaran Bibi Denmark yang baik hati itu akan turun di lantai 20. Yixing mengucapkan sampai jumpa sebelum melangkahkan kakinya keluar dari lift. Langkahnya bukan main terasa berat hingga Yixing terkesan seperti menyeret kakinya menuju nomor 1807.
"Yixing-ah!"
Yixing nyaris terlonjak karena kaget. Dia baru saja membuka pintu apartemen ketika satu suara menyeru namanya, disusul kemunculan satu sosok yang sejatinya tak ingin Yixing temui saat ini.
"Kau kemana…"
Kim Joonmyeon mendadak terdiam. Ada keterkejutan menghiasi raut wajahnya yang tampan begitu netranya melihat wajah manis istrinya tampak sembab dengan air mata masih mengalir di pipi.
"Yixing-ah, apa yang terjadi? Kau… Kenapa menangis?"
Kim Joonmyeon melangkah mendekati istrinya. Diplomat tampan yang masih mengenakan pakaian kerjanya itu lagi-lagi terkejut lantaran melihat istrinya melangkah mundur ketika dia mendekat.
"Yixing-ah?" Joonmyeon mengerutkan kening. "Apa terjadi sesuatu? Apa terjadi sesuatu sampai kau pulang terlambat dan tak bisa dihubungi, hmm?"
"Aku…" Yixing sesaat menggigit bibir. Dia menolak menatap Joonmyeon. "Aku tidak apa-apa. Oppa tidak perlu khawatir," suaranya yang serak nyaris tercekat.
"Aku tidak akan membuat masalah." Yixing berusaha keras menabahkan hatinya selagi dia bicara. "Aku berjanji… Tidak akan membuat masalah. Ya, aku… Akan menjadi nyonya diplomat yang baik. Tidak akan menangis lagi di depan tamu. Menjadi nyonya diplomat yang bisa kaubanggakan. Bicara bahasa Denmark, memiliki banyak teman, aktif di berbagai kegiatan… Semuanya. Sesuai keinginanmu. Karena itu yang kauinginkan. Karena itu alasanmu menikahiku. Aku… Akan melakukannya."
Joonmyeon seperti kena tampar keras-keras di wajahnya. Raut wajah diplomat tampan itu serta-merta berubah tegang.
"Kau… Apa yang kaukatakan…" Joonmyeon mengangkat satu alisnya.
"Yang Oppa butuhkan adalah nyonya diplomat, bukankah begitu?" Suara Yixing mulai bergetar. "Nyonya diplomat, bukan istri. Karena yang Oppa butuhkan adalah nyonya diplomat, maka aku akan berusaha memenuhinya."
Yixing melangkah maju. "Akan kusiapkan makan malam." Yixing menghapus air matanya dengan punggung tangan. Dia memberanikan diri berjalan melewati Joonmyeon.
GREP
Satu tangan yang kukuh tak diduga-duga menarik tangannya. Yixing terkejut dan limbung, tetapi yang jauh lebih mengejutkan lagi adalah mendapati tubuhnya berada dalam dekapan Joonmyeon saat ini. Yixing refleks berontak, tetapi Joonmyeon dengan mudah memerangkapnya, memanfaatkan kekuatan milik kedua lengannya yang kekar.
"Aku tahu sangat sulit bagimu untuk menyesuaikan diri denganku, Zhang Yixing, tapi satu hal yang harus kautahu, aku tidak menikahi seseorang hanya untuk mengisi status Nyonya Diplomat Kim Joonmyeon. Sama sekali tidak. Jika kau beranggapan demikian, maka kau salah besar. Yang kuinginkan, itu seorang istri dan itu Zhang Yixing, bukan yang lain."
Kim Joonmyeon memeluk istrinya erat-erat, membisikkan kalimat yang nyaris kedengaran mengintimidasi di telinga istrinya. Laki-laki itu terlihat sangat tegang, bahkan napasnya memburu.
Zhang Yixing mendadak mematung dalam pelukan suaminya. Sepasang matanya membelalak. Apa yang baru saja Joonmyeon katakan?
"Aku mungkin bukan suami yang baik. Aku terlalu kaku, terlalu serius, tak bisa membuatmu nyaman apalagi bahagia. Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku sudah terlalu lama mati rasa, Yixing-ah. Sepuluh tahun lebih mematikan perasaanku, mengubah diriku jadi seperti ini. Sepuluh tahun aku mati rasa, sampai akhirnya ada yang berdenyut lagi di dalam sini saat Moon Hee Joon Seonbaenim memperkenalkanku pada gadis dua puluh empat tahun yang bahkan tidak berani menatapku saat pertama kali bertemu. Ada yang berdenyut lagi di dalam sini, semakin lama semakin kencang, tapi batinku belum siap. Apa kau bisa merasakannya, Yixing-ah? Sangat kencang. Selalu seperti ini sejak empat bulan yang lalu. Sejak Moon Hee Joon Seonbaenim membawamu padaku."
Yixing ingin memekik ketika tubuhnya baru menyadari bahwa jantung Joonmyeon berdegup dengan sangat kencang, seakan-akan ingin mendobrak keluar dari rongga dadanya. Yixing terkesiap merasakan degup jantung suaminya seolah-olah turut memukul-mukul dadanya lantaran dadanya dan dada Joonmyeon menempel saking eratnya pelukan laki-laki itu.
"O-Oppa…" Yixing lagi-lagi tercekat.
"Batinku belum benar-benar siap. Terlalu lama aku mati rasa. Aku terlanjur tersugesti bahwa aku tak akan bisa mencintai siapa pun lagi, tapi ternyata aku salah. Aku jatuh cinta lagi, pada perempuan yang kupeluk saat ini. Aku jatuh cinta lagi, tapi perasaanku terlalu lambat untuk mengingat sensasi saat dulu aku pernah mencintai seseorang. Bahkan saat menyentuhmu, aku masih terlalu ragu-ragu. Dan kemarin malam, aku tidak tahu. Aku tak bisa mengingatnya. Yixing-ah, maaf. Aku baru belajar untuk beradaptasi. Untuk mencintai sekali lagi, tapi itu tidak mudah."
Joonmyeon seakan-akan baru saja mengikuti lari marathon. Jantungnya berdegup kencang, napasnya memburu dan dia bicara dengan sangat cepat sampai-sampai Yixing nyaris kesulitan untuk menangkap kalimat demi kalimat yang terlontar dari bibirnya.
"Yixing-ah. Maaf. Aku minta maaf."
Yixing terlalu kaget, juga terlalu bingung. Semuanya begitu tiba-tiba. Perasaannya kacau balau hingga dia melampiaskannya dengan cara menangis di pelukan suaminya.
"Yixing-ah."
Isak tangis Yixing memandu Joonmyeon untuk melepaskan pelukannya. Jika tadi Joonmyeon terlihat tegang, sekarang diplomat tampan itu tampak terpukul melihat Yixing menangis terisak-isak hingga wajah manisnya merah padam.
"Yixing-ah, maaf. Maafkan aku."
Joonmyeon tahu istrinya tengah terguncang, maka dia memilih untuk kembali memeluk Yixing, berharap bisa sedikit menenangkannya.
-000-
"Oppa mencintaiku?" Yixing menanyai lirih laki-laki yang tengah berbaring di sampingnya sambil memeluknya erat.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam waktu Copenhagen, tetapi Yixing dan laki-laki yang ada di sampingnya ini belum berhasil memejamkan mata.
"Aku sedang berusaha," Joonmyeon menjawab, sama lirihnya dengan Yixing. "Karena sangat tidak mudah untuk memulai lagi dari awal. Aku pernah mencintai seseorang, tapi berakhir pahit. Ada semacam trauma. Terus terang, aku merasa sedikit takut untuk mencintai lagi."
"Oppa tidak perlu memaksakan diri." Yixing memberanikan diri menyentuh dada bidang Joonmyeon dengan telapak tangannya. "Aku bisa menunggu Oppa, karena aku juga masih belajar untuk mencintai Oppa."
"Kenapa kau menerimaku, Yixing-ah?" Terdengar Joonmyeon bertanya. "Aku terlalu tua untukmu. Terlalu kaku, terlalu serius. Aku bukan calon pendamping hidup yang menarik untuk gadis dua puluh empat tahun."
"Oppa ingin aku menjawab dengan jujur?" Yixing mendongak, mempertemukan tatapannya dengan Joonmyeon.
"Tentu."
"Aku menerima Oppa, yang pertama karena tak ingin mengecewakan paman dan bibiku," kata Yixing terus terang. "Mereka yang mengasuhku sejak aku jadi yatim-piatu. Aku tak ingin mereka kecewa, apalagi mereka sahabat baik Moon Hee Joon Wegyogwannim."
Joonmyeon sedikit terkejut mendengar penuturan Yixing, tetapi tidak lama. Raut wajahnya kembali tenang.
"Yang kedua?" pancing Joonmyeon.
"Yang kedua," Yixing tiba-tiba menunduk, "karena aku yakin Oppa serius tentang pernikahan. Aku mengagumi visi dan misi pernikahan yang Oppa sampaikan padaku waktu itu. Oppa bahkan sudah mengestimasi kapan sebaiknya kita menikah, kapan sebaiknya kita punya anak. Oppa sudah begitu siap. Kupikir kapan lagi aku menemukan laki-laki seperti Oppa, jadi—"
Joonmyeon tiba-tiba terkekeh, memotong kalimat Yixing.
"Oppa tertawa?" Yixing mendongak. Dari caranya menatap Joonmyeon, Yixing seakan-akan melihat sesuatu yang unik dan ajaib. Takjub, demikian yang terlihat jelas.
Joonmyeon menatapnya dalam-dalam, lembut. Jenis tatapan yang selama ini bahkan tak berani dibayangkan Yixing dari Joonmyeon. Tatapan Joonmyeon yang semacam ini benar-benar langka, seperti mimpi bagi Yixing.
"Aku masih manusia, Yixing-ah." Joonmyeon tampak geli menyaksikan ekspresi istrinya. "Aku hanya baru sadar, kau begitu menggemaskan saat bicara panjang dan lebar seperti ini."
Yixing merasakan pipinya memanas. Lagi-lagi dia menunduk, tak ingin Joonmyeon melihat rona merah yang pasti mulai menjalar di pipinya.
Joonmyeon tersenyum kecil menyaksikan tingkah Yixing yang menurutnya menggemaskan. Entah keberanian dari mana, Joonmyeon membelai rambut sebahu Yixing dengan hati-hati.
"Sering-seringlah bicara panjang lebar seperti ini, Yixing-ah. Jangan sungkan-sungkan lagi. Aku janji akan mengimbangimu."
Suara Joonmyeon terdengar lembut, menghangatkan hati. Yixing sesaat ragu, apakah laki-laki ini benar Kim Joonmyeon? Mawang dari Sajik-ro?
Ah, persetan. Yang pasti, Yixing sangat mensyukuri perubahan dari Joonmyeon. Bagaimana pun Joonmyeon suaminya. Joonmyeon berubah lembut tentu saja disambut positif oleh Yixing.
"Aku juga akan mengimbangi Oppa," balas Yixing lembut. "Semua orang mengagumi kehebatanmu sebagai diplomat. Aku tentu saja tidak boleh kalah. Aku harus jadi nyonya diplomat yang membanggakan."
"Kau tidak perlu merasa terbebani karenaku," Joonmyeon membesarkan hati Yixing. "Aku tidak menuntutmu macam-macam. Aku hanya ingin kau bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Bicara bahasa Denmark dan punya banyak teman, semua itu juga demi kebaikanmu sendiri. Aku tak ingin kau kesepian, Yixing-ah. Memiliki banyak teman, apalagi dengan latar budaya yang berbeda-beda tentu sangat menarik, juga menyenangkan. Hari-harimu tak bakal membosankan."
"Aku tahu maksud Oppa baik," kata Yixing. "Tapi tak ada salahnya berusaha membuat Oppa bangga padaku, 'kan?"
"Kita berusaha bersama-sama kalau begitu." Joonmyeon beralih menepuk-nepuk bahu Yixing.
"Ya." Yixing mengangguk. "Kita berusaha bersama-sama."
Untuk pertama kalinya sejak upacara pernikahan mereka dilangsungkan, Kim Joonmyeon mengecup puncak kepala istrinya. Terkesan ragu-ragu pada awalnya, tetapi berakhir lembut, sepenuh perasaan. Ada kehangatan yang memenuhi hatinya, memandu bibirnya mengulas senyum sekali lagi, kali ini jauh lebih manis.
Kehangatan yang sama pun turut dirasakan Zhang Yixing. Untuk pertama kalinya sejak resmi menjadi istri Kim Joonmyeon, Yixing tidak bertanya-tanya dalam hati apakah keputusannya menikahi Joonmyeon adalah benar atau tidak. Yixing sudah menemukan jawabannya sekarang. Keputusannya adalah benar dan dia hanya perlu sedikit kesabaran dan ketulusan untuk menggiring kata benar itu menuju makna baru: bahagia.
Yixing hanya berharap ini bukan mimpi. Berharap Joonmyeon akan sama lembut esok hari.
Dan dia merasa cukup percaya diri untuk itu.
.
.
.
FIN
.
.
.
Terlilit ikat pinggangnya sendiri: Ungkapan untuk menggambarkan seseorang yang terlalu sibuk bekerja.
.
.
.
Kkuljaemi
.
.
.
Hamdalah, selesai juga ff cheesy satu ini. Semoga menghibur yaa^^
