Disclaimer: Cardfight Vanguard belongs to Bushiroad and Akira Itou-sensei. Kamisama no Inai Nichiyoubi belongs to Kimihito Irie. Author tidak mengambil keuntungan sedikit pun dari fanfic :)
Pair: Koutei-Ren & Kai-Aichi
Kami Inai verse. OOC and typos, just let me know
-cCc-
"Maafkan para pengawal yang menahanmu tanpa penjelasan." Itu yang dituliskan Aichi pertama kali untuk menyambut Kenji yang dibawa ke dalam kastil, permohonan sang 'tuan putri' sendiri agar bisa meminta maaf secara pribadi.
"Tidak apa-apa, aku juga salah melanggar batas wilayah." Balas Kenji gugup dan juga, berani dia katakan, kaget mengetahui sosok berpengaruh di Ortus memiliki penampilan unik dengan mata dan mulut yang ditutup. "Ano...kenapa mata dan mulutmu harus disembunyikan?" Rasa penasarannya membuat dia bertanya tanpa sempat berpikir dulu apa yang sudah diucapkannya.
Dan Kenji sudah menanyakan hal yang salah, sangat salah, karena tatapan dingin menusuk sekarang diarahkan tepat padanya yang berasal dari sepasang mata hijau, pengawal setia Aichi yang terus berjaga di sisi pemuda berbadan kecil itu dengan kedua tangan disilangkan depan dada. Kaki Kenji tanpa sadar mengambil satu langkah mundur dan bibirnya mengeluarkan tawa gugup, tidak tahu harus bereaksi apa di bawah tekanan mata yang seakan bisa membekukan api itu.
"Tatapan dan suara Aichi tidak pantas ditunjukkan pada orang biasa." Marah Kai dengan suara tidak kalah dingin dari sorot matanya.
"Kai-kun, jangan bicara seperti itu." Ada beberapa tekanan di atas kertas yang ditunjukkan Aichi, menunjukkan bahwa dia sendiri tidak suka jika dirinya dianggap terlalu spesial, tapi Kai hanya memberi guman pelan tidak peduli. Aichi memang sering mengingatkan Kai agar memperlakukannya setara tapi di waktu sama dia juga menyerah, tahu Kai akan terus memberikan perlakuan spesial, sama seperti penghuni kastil lain. Dia membuat gestur seakan menghela nafas lalu membalik selembar kertas, menunjukkan kalimat yang sudah dituliskan sebelumnya pada Kenji. "Senang bertemu denganmu, namaku Sendou Aichi, kau Mitsusada Kenji kan. Ren-san memberitahukan namamu." Gerak kepala Aichi memberitahu dia tengah tersenyum.
"Senang bertemu denganmu juga, Aichi-kun." Balas Kenji ramah dan lagi-lagi mendapat tatapan tidak setuju dari Kai.
"Apa Ren-san juga di sini?"
"Ren...seharusnya dia ada di sini juga, tapi mungkin sekarang dia melihat-lihat Ortus." Kenji memutar kepala mengitari aula tempat mereka berbicara, tapi dari lantai hingga langit-langit tidak ada sosok dengan rambut merah panjang yang ikut mendengar percakapan mereka. Mencari seseorang tanpa wujud fisik yang solid tidak pernah menjadi hal mudah, dalam satu detik orang itu bisa terlihat di sisi mereka dan detik berikutnya sudah hilang menembus langit-langit.
"Aku di sini." Sosok Ren mendadak muncul melayang di belakang Kenji, menumpukan kepala, yang tentu saja hanya menembus, pada bahu kiri Kenji, membuat Kenji sedikit berjengit karena perubahan suhu mendadak di bagian bahu. Berapa kali pun ini terjadi, Kenji masih saja tidak terbiasa bersentuhan mendadak dengan tubuh Ren. "Kita bertemu lagi, Aichi-kun."
Aichi mengangguk iya.
"Kau yang tadi di tempat Aichi?" Tanya Kai.
"Siapa lagi." Jawab Ren santai, berbeda dengan Kenji, Ren sama sekali tidak menunjukkan reaksi dari tatapan es Kai, dia masih tersenyum usil dan melayang tenang. "Jadi apa hubunganmu dengan Kai, Aichi-kun? Pengawalmu?"
"Kai-kun pengawal dan juga pengajarku. Tidak ada sekolah di Ortus sehingga aku harus mempelajari banyak hal sendiri di perpustakaan, tapi Kai-kun selalu menemaniku setiap aku belajar dan menjelaskan hal-hal yang tidak kumengerti, biarpun dia sedikit galak." Tangan kanan Aichi terangkat menutupi bagian mulut, tanda bahwa sekarang dia tertawa kecil meski tanpa suara, kepalanya ditolehkan ke sisi kiri tempat Kai berdiri. Segera Kai membuang muka dan membuat wajah tengah terganggu tapi itu justru membuat gerakan bahu Aichi semakin kuat meski dia tidak bisa melihat.
"Waktumu istirahat Aichi, kau tidak boleh lelah." Kai mengingatkan, masih dengan sikap berpura-pura terganggu.
"Sampai nanti, Ren-san, Mitsusada-san." Aichi mengangguk ke arah Kenji dan Ren sebelum mengikuti Kai.
Kenji sendiri diantar oleh pelayan menuju kamarnya untuk beristirahat malam ini sebelum meninggalkan Ortus besok, dia juga diminta untuk tidak meninggalkan ruangan karena akan ada Upacara Penerimaan dan tidak boleh diganggu oleh pihak luar. Waktu selama di dalam kamar dihabiskan dengan berbaring termenung menatap langit-langit, pikirannya melayang jauh memikirkan sesuatu, sementara Ren, sekali lagi hantu itu menghilang entah kemana, mungkin diam-diam pergi ke kamar Aichi untuk berbicara lagi. Sepertinya Ren senang bisa berbicara dengan sesama generasi terakhir, anak-anak yang dilahirkan sebelum Pencipta meninggalkan dunia ini, dan mereka bisa dikatakan 'langka'. Tentu saja, dengan tidak ada lagi yang lahir dan orang semakin menua, perbandingan mereka yang muda dan yang tua semakin besar bahkan hanya perlu menunggu waktu sampai tidak ada lagi kemudaan yang bisa dibandingkan.
Bosan tanpa ada yang bisa dikerjakan, Kenji beranjak dari tempat tidur, meraih panah-panah untuk papan dart yang diletakkan di dalam kamar. Satu demi satu panah itu menancap di titik tengah papan, bahkan untuk panah yang dilemparkan secara asal.
Barulah saat panah terakhir dilemparkan tidak mengenai tepat di target tengah, menancap di lingkaran kedua terdalam. Dari bibir Kenji terdengar tarikan nafas kaget begitu sadar lemparan terakhirnya meleset. Dia mendekati papan dart untuk memastikan penglihatannya dan memang benar, panah terakhirnya berada di lingkar kedua biarpun dengan posisi sangat dekat dengan tepi menuju lingkar terdalam.
"Mitsusada." Seru Kai dari balik pintu dan mengetuk keras, suara gerutuan Ren juga terdengar. Begitu pintu terbuka separuh Kai sudah mendorong sesuatu, bukan, seseorang ke arahnya. "Jangan sampai aku melihatnya berada di koridor lagi malam ini." Kai mengingatkan.
"Hah?" Kenji masih bingung sampai akhirnya sadar Renlah yang didorong oleh Kai tadi. Ren dengan fisik solid selayaknya manusia normal, ditambah akibat didorong, Ren masih bersandar pada badannya, bagian dada tepatnya.
"Tidak perlu membawaku seperti kucing." Marah Ren dalam gerutuan.
"Aku sudah mengingatkan kembali ke ruanganmu, bukan berbicara di ruangan Aichi." Kai tak kalah dalam menunjukkan protes. "Sepertinya kau memilih waktu yang tidak tepat untuk membuat fisikmu solid."
Ren berdecak kesal dan menggerakkan bibirnya, menggumankan sesuatu tanpa suara, kalimat yang mungkin menjelaskan kondisi fisiknya tapi tidak diutarakan pada lawan bicara, hanya didengarkan pada dirinya sendiri.
"Maaf. Akan kupastikan Ren tidak keluar lagi." Lerai Kenji sebelum perselisihan antar dua pemuda keras kepala dan tidak mau mengalah itu semakin parah. Kai memberi guman puas sementara Ren menjulurkan lidah, isyarat untuk Kai bahwa dia masih belum menyerah dan kalah dengan gampang walau percuma karena segera saja Kenji memberi larangan untuk Ren dan mengunci pintu.
"Aku juga tidak setuju kau berjalan-jalan di Ortus tanpa pengawasan." Ada sedikit nada tidak suka ditunjukkan Kenji dalam suaranya. Ren bersikap tak acuh dengan kata-kata itu. Lebih memilih menjatuhkan diri di atas satu-satunya tempat tidur di ruangan yang mereka tempati daripada mendengarkan Kenji. "Ren, di sini di bawah tanah, tidak ada sinar matahari yang menjadi penanda waktu, terlebih kita berada di Ortus, kota bagi mereka yang mati. Kau beruntung malam tiba saat kau di kastil bukan di kota, apa yang akan terjadi jika mereka yang mati sadar ada satu yang hidup di antara mereka." Kenji kembali mengingatkan dengan nada lebih berat.
Kali ini ucapan Kenji berhasil mendapat perhatian Ren, pemuda dengan mata ruby itu menolehkan kepala, menatapnya tanpa mengucapkan apa pun.
"Kumohon jangan bertindak ceroboh selama kita di Ortus, Ren." Pinta Kenji.
Ren masih menatap dalam diam lalu mengalihkan pandangannya menuju papan dart. "Are...itu semua panah yang Koutei lemparkan?" Ucap Ren yang sekaligus mengalihkan pembicaraan sebelumnya. "Meleset satu?" Dengan wajah heran dia melangkah mendekati papan dart, memastikan memang ada satu panah yang tidak mengenai target. "Hmm..." Tanpa peringatan Ren melempar dua panah dart menuju Kenji yang dengan cepat ditangkap sebelum mengenai mata.
"Ren..." Kenji memasang wajah pasrah. "Aku tidak akan mengatakan 'jangan ulangi lagi' karena kau pasti tidak akan mendengarkan, aku hanya minta jangan target mataku lagi."
"Koutei pasti bisa menangkapnya, sampai sekarang juga. Satu panah yang meleset pasti karena faktor luar."
"Aku juga mengira seperti itu, tapi siapa?" Kenji melempar ulang salah satu panah dart di tangannya, tepat berkumpul di lingkaran tengah seperti panah yang lain. Seulas senyum lemah menghias bibir Kenji. "Dan kupikir sudah hilang." Tambahnya dalam guman.
Ren memperhatikan dari sudut mata dengan tatapan berbeda setelah Kenji mengucapkan kalimatnya, penuh keseriusan dan ada yang disembunyikan di balik kilat mata ruby tapi tidak lama Ren menghilangkan ekspresi kaku itu, kembali berganti dengan wajah anak kecil seperti biasa. "Koutei, aku boleh pergi kan."
"Nanti pagi, sekarang Upacara Penerimaan masih berlangsung." Tolak Kenji.
"Justru karena itu aku ingin melihat bagaimana mereka menyembunyikan kematian di depan 'tuan putri' yang masih hidup."
Hening lama.
"Aichi-kun...hidup? Dia 'simbol' Ortus." Kenji akhirnya bisa mengeluarkan kata-kata. Memang di masa seperti ini tidak akan mudah membedakan mereka yang mati dan hidup kecuali kau Gravekeeper, apalagi dengan teknik pemumian Ortus, jangan kaget jika seseorang dengan kondisi sehat dan bugar ternyata sudah mati bertahun-tahun lalu. Memang hanya petinggi Ortus saja yang mendapat teknik pemumian yang rumit sekaligus memakan biaya ini dan sampai Ren mengatakan Aichi hidup, Kenji percaya Aichi sama seperti penduduk Ortus lain, mati.
"Memang butuh waktu karena aku bukan Gravekeeper tapi Aichi-kun memang hidup. Sosok penting Ortus ternyata masih memiliki detak jantung, menarik untuk diikuti kan."
Kenji berusaha menahan Ren tapi kepalanya mendadak diserang oleh rasa sakit kuat disertai sekujur tubuh yang tidak bisa digerakkan. Dia hanya bisa menjulurkan tangan sia-sia melihat Ren dari pandangannya yang semakin buram melangkah keluar ruangan. Sekarang terjawab rasa sakit tusukan jarum yang Kenji dapat saat Ren bersandar di badannya. Ren memang sejak awal berencana tidak duduk diam di kamar hingga pagi.
Dengan senyum dan mata tertutup, Ren melambaikan tangan pada Kenji lalu perlahan menutup pintu kamar. Sekarang di mana jalan menuju aula selatan tempat Upacara Penerimaan dilakukan. Ren berdecak sesal tidak mencari tempat itu saat fisiknya masih berupa hantu, tidak bisa menembus dan melayang untuk mencari ruangan di kastil besar sangat tidak praktis.
Minim penerangan di koridor kastil tidak menyusutkan keinginan Ren, dia sudah terbiasa dengan kegelapan yang menjadi resiko mengikuti Kenji yang selalu mengelilingi berbagai tempat di dunia temasuk di dalamnya melewati tanah kosong, juga kondisi seperti ini justru memudahkannya untuk bersembunyi jika dia bertemu orang lain, namun sejauh ini Ren tidak bertemu dengan siapa pun. Sama sekali tidak ada tanda-tanda aktivitas di sepanjang lorong membuatnya tidak mendapat petunjuk untuk menemukan lokasi aula selatan, sampai dia mendengar banyak suara langkah kaki di kejauhan. Asal suara itu dari sekelompok manusia memakai mantel lusuh berjalan masuk ke bangunan terletak di luar kastil. Lagi-lagi Ren berdecak, tidak ada waktu untuk berjalan memutar, satu-satunya jalan terdekat hanya memanjat menara dekat jendela tempatnya berdiri yang terhubung dengan menara aula selatan. Kenapa Pencipta senang memberinya kesusahan, ah, coret itu, Dia sudah mengabaikan dunia ini, karma terdengar lebih masuk akal.
Ren berhati-hati meniti dinding sempit yang menjadi satu-satunya pijakan menuju aula selatan. Dia memang senang melayang tinggi di udara tapi mempertahankan keseimbangan di atas dinding batu rapuh dengan tak hanya satu dua batu kecil jatuh akibat pijakannya itu hal yang sangat berbeda. Paling tidak kau tidak perlu merasa sakit hantaman tanah jika salah menginjak saat tubuhmu tidak solid. Dua menit yang, bagi Ren, sangat merepotkan, terlewati dan kini Ren sudah menginjak pondasi batu lebih kuat di menara aula selatan.
Baik, Ren harus sedikit berterima kasih pada karma karena menara tempatnya berdiri sekarang berseberangan dengan altar lebar yang lebih tinggi dari tanah aula tempat Aichi berdiri, orang-orang yang tadi memasuki aula semua berdiri menghadap altar itu. Penerangan dari obor yang diletakkan di penjuru aula memungkinkan Ren yang berada di ketinggian melihat jelas sosok Aichi di depan altar.
Setelah para petinggi Ortus turun dari arena, Kai berjalan ke belakang Aichi. Kai melepas semua ikat kulit cokelat yang melilit Aichi lalu straitjacket yang menutupi baju ungu tua dibaliknya dengan dua strap, satu menggantung di bahu sementara satu menjuntai di lengan atas, celana berwarna sama yang dikenakan menutupi tiga perempat paha, boot yang dikenakan Aichi panjang hingga mencapai lutut. Penutup mata Aichi menjadi benda yang dilepas selanjutnya dan yang terakhir adalah perban putih yang terjatuh pelan. Setelah semua benda yang mengikatnya terlepas barulah Aichi membuka kelopak matanya. Sepasang iris biru menatap orang-orang di aula dan juga sebaliknya. Orang-orang di bawah altar memberikan reaksi sama, memegang jantung mereka dan terjatuh tidak sadarkan diri tapi setelah beberapa saat mereka kembali bangun, tidak ada yang berbeda tapi semua di ruangan itu, kecuali Aichi, tahu bahwa kehidupan sudah bukan menjadi bagian mereka lagi.
Aichi menatap menara tempat Ren berdiri, biru dan merah bertemu tak lebih dari sedetik dalam keterkejutan. Ren yang mengakhiri kontak mata saat jantungnya terasa sakit tapi tidak seperti orang-orang dibawahnya, dia tetap sadar dan hanya terjatuh ke lantai.
"Oya..." Hanya itu yang terlontar dari bibir Ren melihat tubuhnya menjadi transparan, kembali menjadi hantu. "Tidak masalah, masih ada besok."
"Ren-san..." Ucap Aichi yang masih terkejut terlebih wujud fisik Ren yang dia yakin melihat Ren semula seperti manusia biasa sekarang menjadi transparan dan melayang di udara.
"Melihat apa?" Tanya Kai yang hendak memasang perban kembali, ikut mengarahkan pandangan pada apa yang menarik perhatian Aichi. "Ren." Lanjutnya kesal mendapati sosok berambut merah melayang di atas menara sebelum menghilang.
Di dalam ruangannya, efek dari obat penenang yang diberikan Ren mulai menghilang dan dia sendiri mulai bisa melawan rasa kaku di sekujur tubuh. Masih membutuhkan tumpuan, Kenji berdiri perlahan dari lantai, tapi dia tidak bisa berdiri lama dan segera duduk di tepi tempat tidur dengan memegangi kepala. Semakin lama Ren semakin tidak bisa dia kendalikan, tidak cukup dengan menjadi Whisper, sekarang dia bermain-main dengan 'kematian'. Memang sejak awal tujuan Kenji dan Ren berbeda dan sekarang perbedaan itu semakin terlihat tapi dia tidak menyangka perbedaan itu akan membawa masalah yang membesar.
"Aku sudah memperingatkanmu kan." Komentar Kenji yang sudah pasrah melihat Ren yang melayang menembus dinding kamar. Ren memutar mata yang sekaligus menjawab dalam diam, 'tidak perlu dibahas'.
"Menurutmu apa yang terjadi kalau aku memberitahu Aichi-kun?" Tanya Ren, melayang tepat di atas Kenji dalam posisi berbaring.
"Apa Aichi-kun akan senang dengan kenyataan yang akan dia dengar? Tidak semua bisa menanggapinya dengan baik." Mengabaikan rasa dingin yang akan dirasakan, Kenji menyentuh tangan kiri Ren yang dibiarkan terjuntai dekat pipi kanannya.
Ren berguman pelan, refleksi di mata sendunya bukan atap ruangan tempat pandangannya jatuh, melainkan sebuah jendela berdaun ganda yang terbuka lebar dengan tirai putih berkibar tertiup angin, sekeping ingatan dalam kepalanya.
"Dan tidak akan kubiarkan." Dengan suara keras pintu yang dibanting, Kai berdiri tegak di depan pintu kamar mereka dengan pistol metalik terarah lurus pada Kenji.
-cCc-
A/N: maaf kalau chap ini banyak yang kurang m(_ _)m sebenarnya gak mau dipotong sampai sini tapi nanti kepanjangan jadi author pilih untuk motong chapter *dibunuh yang baca*
buat yang masih tanya-tanya apa yang dimaksud Koutei Ren itu Whisper dan kenapa Ren bisa punya wujud solid, nanti dijelaskan ^^ (tapi untuk penjelasan fisik Ren itu sepertinya masih lama *lagi2 dibunuh*)
untuk kondisi Aichi, dia satu-satunya di Ortus yang hidup (minus Koutei dan Ren yang cuma tamu di Ortus) dan dia tidak tahu sekelilingnya mati, kenapa bisa tidak tahu, silahkan tunggu chapter depan~ *dilempar kaleng* 1 lagi, ada yang tahu kata apa lebih pas buat gantiin kata 'singlet' (dan gak mungkin tanktop buat Aichi, biarpun tangan author gatel mau nulis itu *dibakar naga*)
