Chapter 02.

"Kalaupun memang ada orang lain selain kita disekolah ini…dimana dia sembunyi..dan apa tujuannya!?" Batin mereka semua secara bersamaan.

Apa benar ada orang lain selain mereka di dalam sekolah? Kalaupun ada, apa tujuan orang itu sebenarnya? Dan kemanakah Rivaille yang menghilang secara misterius?

.

.

.

"Kalau ada orang lain kita di sekolah ini, sekarang dia sembunyi dimana, dan apa tujuannya?" Ujar Jean yang sudah lebih tenang.

"Entahlah…jangankan mencari pelakunya, aku bahkan masih tidak percaya kalau Marco…" Perkataan Armin langsung saja membuat semua teman-temannya diam sambil menundukkan kepala.

Bayangkan saja, seorang dari teman mereka telah tewas mengenaskan, dan wali kelas mereka menghilang secara misterius. Adakah yang lebih buruk lagi?

Sepertinya ada selama pelakunya berkeliaran di sekolah ini.

"Bagaimana kalau…kita periksa lagi sekolah ini?" Ujar Mikasa sambil terus menenggelamkan wajahnya di dalam syal merahnya.

"Haah!?" Connie langsung shock pangkal Colossal ",Kalau kita bertemu dengan pelakunya, gimana!?"

"Aku setuju dengan ide Mikasa, tapi menurutku kita mengelilingi sekolah ini dengan terbagi dalam dua kelompok dan tidak ada yang boleh jalan sendirian." Jelas Armin sambil bersiap mengelilingi sekolah.

"Eren, kamu bisa berdiri?" Ujar Mikasa kepada saudara tiri kesayangannya yang sedang duduk lemas di samping Connie.

"S-sepertinya bisa—" Saat Eren mencoba berdiri, dia malah jatuh duduk kebelakang karena kakinya lemas.

"O-oi Eren, kau baik-baik saja?" Jean yang tumben peduli pada Eren, membantu anak berkepala coklat itu untuk berdiri.

"A-ah..aku baik-baik saja, hanya..sedikit lelah.." Jawab Eren sambil melempar fake smile.

"Masalahnya, aku hanya punya satu senter saja…" Ujar Armin sambil mengorek-ngorek tasnya, siapa tahu ada benda yang bisa dipakai untuk penerangan lagi. Tapi hasilnya nihil.

"Kita bisa pakai ponsel kita masing-masing untuk penerangan. Mikasa pergi dengan Armin, dan Eren pergi dengan Connie." Jean mengeluarkan ponselnya dan berjalan keluar dari aula menuju lorong.

"Lalu kau bagaimana, Jean?" Tanya Mikasa kepada Jean yang langsung memasang ekspresi 'dia-khawatir-sama-gue-oh-my-god'.

"Aku akan pergi sendiri, kalian tidak perlu khawatir."

"Kalau ada apa-apa, bagaimana!? Kau mau mati, hah!?" Teriak Connie sambil memasang ekspresi dafug.

"Aku bisa jaga diri. Ayo kita mulai keliling." Ujar Jean yang kemudian langsung saja pergi mendahului teman-temannya.

"Jean pasti merasa sangat sedih…tapi dia berusaha untuk menyembunyikannya." Batin Armin sambil berjalan menyusul Jean.

.

.

.

"Marco…" Lanjut Jean sambil mengambil posisi jongkok di sebelah tubuh Marco yang sudah kaku dan dingin "Karena aku tidak bisa melindungimu, kau jadi seperti in..kh..aku berjanji, Marco…aku akan menangkap pelakunya dan memberinya pelajaran!"

"Aku takut…itu tidak akan terjadi." Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari belakang Jean.

"Eh—"

.

.

.

"Ahh…kita tidak bisa menemukan Rivaille-sensei maupun pelakunya.." Ujar Armin sambil terus berjalan di samping Mikasa.

Setelah beberapa saat berjalandi dalam kegelapan bersama Armin, Mikasa menghentikan langkahnya secara tiba-tiba dan terdiam di tempat.

"Mikasa? Ada apa?" Tanya Armin kepada Mikasa yang terlihat terkejut.

"Itu..Jean.." Mikasa menunjuk kearah pinggir lorong dekat toilet tempat Marco ditemukan, dan saat Armin mengarahkan senternya ke pinggir lorong, mereka melihat Jean—

"J-Jean…!"

—Yang sudah tidak bernyawa, duduk di pinggir lorong dengan pisau yang menembus jantungnya dari depan.

"I-ini…tidak mungkin…" Lanjut Armin sambil menarik tangan Mikasa "Ki-kita harus cepat bergabung dengan Eren dan Connie!"

Sedangkan Mikasa yang masih shock hanya bisa diam dan mengikuti Armin yang berada di depannya.

.

.

.

"Oi Eren, apa kau benar baik-baik saja? Kau dari tadi berjalan sambil melamun, loh." Ujar Connie sambil memperhatikan wajah Eren yang seperti boneka kosong tidak bernyawa.

"Itu cuma perasaanmu saja, aku baik-baik saj—" Baru saja Eren berbicara, dia tiba-tiba terjatuh ke belakang karena tergelincir karena sesuatu yang licin di lantai.

"Eren, kau tidak apa-apa!?"

"I-iya, sepertinya aku baru tergelincir karena sesuatu—" Begitu Eren melihat benda yang tadi menyentuh kakinya, dia langsung speechless karena benda itu adalah sebuah sarung tangan putih dengan bercak darah yang melapisi bagian luar sarung tangan tersebut.

"I-itu—"

"Kenapa? Kau melihat sesuatu—" Connie yang langsung mengarahkan handphonenya kearah sarung tangan itu, langsung ikut speechless seperti Eren.

"I-i-itu..sarung tangan..dengan bercak darah…" Connie gemetar setengah mati sampai tidak sanggup bicara lagi.

"S-sarung tangan itu pasti milik pelakunya, ternyata pelakunya memang ada di dalam gedung sekolah ini…." Ujar Eren sambil masih duduk lemas di lantai.

"Ka-kalau pelakunya masih ada di sini, kita harus cepat-cepat bertemu dengan Armin dan Mikasa! Bisa saja mereka berada dalam bahaya! Ayo cepat, Eren!" Kemudian Connie membantu Eren berdiri dan mereka segera berlari untuk mencari Armin dan Mikasa.

Saat Connie berniat berbelok disebuah ujung lorong, dia bertabrakan dengan seseorang—

"Aduh!"

"Awwh..Co-Connie?"

"Armin, Mikasa!?"

—Yang ternyata adalah Armin yang sedang memgangi dahinya yang bertabrakan dengan dahi Connie dan Mikasa yang berdiri diam dibelakang Armin.

"Hei, dengar! Tadi kami menemukan sepasang sarung tangan yang dipenuhi darah! Kurasa itu milik pelakunya! O-oh iya, mana Jean? Bisa bahaya kalau dia jalan sendirian."

Hening.

"Armin, Mikasa? Ada apa? Mana Jean?" Ujar Eren kepada kedua teman baiknnya yang saling bertatapan dengan ragu.

"Tadi..kami menemukan Jean sudah meninggal..karena jantungnya ditusuk dengan menggunakan pisau…"

Hening lagi.

"Apa!? J-Jean…" Connie langsung memasang ekspresi Sparta.

"Tidak..bahkan Jean juga.." Pandangan Eren terlihat kosong, dan wajahnya terlihat agak pucat.

"Eren, kau harus tenang." Ujar Mikasa sambil memegang pundak saudara tirinya itu.

"Aku tahu itu, kau tidak perlu khawatir, Mikasa.."

"Oh iya Connie, apa kau membawa sarung tangan itu denganmu?" Ujar Armin sambil menatap Connie yang masih berusaha mengatur nafasnya sehabis lari tadi.

"Eh? Tidak, karena terkejut, aku dan Eren lari meninggalkan sarung tangan itu."

"Bagaimana kalau kita coba lihat lagi sarung tangan itu? Mungkin kita bisa menemukan petunjuk.."

Setelah semuanya setuju, mereka dengan perlahan berjalan bersama menuju lorong tempat mereka menemukan sarung tangan itu, tapi mereka tidak melihat ada sarung tangan di sepanjang lorong.

"L-loh!? Sarung tangannya kemana!?" Connie kembali panik.

"Apa kalian yakin melihat sarung tangan itu disini?" Ujar Mikasa dengan nada bicara datar.

"Yakin! Bahkan tadi aku sampai terpeleset karena sarung tangan itu!" Eren berusaha meyakinkan Mikasa dan Armin bahwa dia dan Connie tidak berhalusinasi.

"Sepertinya sarung tangan itu tadinya memang ada disini, lihat," Lanjut Armin sambil menunjuk kearah bercak darah yang ada dilorong "Mungkin pelakunya mengambil kembali sarung tangan ini saat Eren dan Connie pergi mencariku dan Mikasa.."

"Jadi..sekarang apa yang harus kita lakukan?" Ujar Connie dengan sedikit lesu.

"Aku juga tidak tahu, tapi yang penting kita tidak boleh berpisah satu sama lain."

"Aku..tidak kuat lagi.." Gumam Eren pelan.

"Eh?"

Tiba-tiba, tanpa basa basi lagi, Eren langsung saja berlari menuju aula meninggalkan teman-temannya.

"E-Eren!? Kau mau kemana!?"

Eren tidak menjawab dan terus saja berlari seenak jidatnya.

.

.

.

"Bahkan Jean juga dibunuh…apa ini akan terus berlanjut sampai kami semua mati terbunuh!?" Gumam Eren sambil memegangi kepalanya.

"Tenang saja…sebentar lagi, kau akan terbebas dari penderitaan ini."

Sama seperti kasus Jean, tiba-tiba terdengar suara seseorang dari belakang Eren yang sedang putus asa.

"Eh? Ap—"

.

.

.

"A-aah!" Mendadak Armin panik sendiri.

"Kau kenapa, Armin?" Tanya Connie yang kaget.

"A-aku baru sadar….kita harus cepat menyusul Eren!" Kemudian Armin langaung saja berlari menuju aula dan membuat Mikasa dan Connie refleks ikut berlari.

"Armin, memangnya kenapa kita harus cepat-cepat menyusul Eren?" Ujar Mikasa sambil berlari disebelah Armin yang terlihat panik.

"Eren dalam bahaya, karena—"

-TO BE CONTINUED-

Yo minna~ Alice'ssu~

Akhirnya Alice bisa publish chapter dua *nangis gegulingan*

Alice agak lama publishnya karena Alice enggak terlalu bisa bikin fic mistery -w- ini pun udah dibuat berulang-ulang kali karena alurnya enggak jelas dan terlalu gampang ditebak, tapi Alice udsah ber-tatakae'ssu~~

Kurosawa Alice.