Ch2 - Kamu Tahu? Aku Menunggumu

#D-Day

04:00 - Markas Shinsengumi

Markas Shinsengumi cukup gaduh pagi ini. Semua sibuk mondar-mandir mengerjakan bagiannya masing-masing, begitu pun Hijikata.

"Wakil Komandan, ini laporan yang saya dapat dari warga sekitar," Yamazaki menyerahkan dokumen yang berisi catatan-catatan hasil investigasinya kepada Hijikata.

Hijikata membaca dengan seksama dokumen itu sambil menghisap rokok di bibirnya.

"Baiklah, aku akan serahkan ini pada Kondo-san."

Seluruh anggota sudah berkumpul di depan halaman. Ketua-ketua divisi berdiri di paling depan barisan menghadap Komandan mereka, Kondo. Hijikata pun bergabung dengan mereka dan menyerahkan dokumen yang diserahkan oleh Yamazaki tadi.

Hari ini, pagi-pagi sekali telah terjadi pengeboman di suatu tempat hiburan yang memakan 5 orang korban jiwa dan 20 orang luka-luka. Dari kelima orang yang meninggal, salah satunya adalah orang penting (penjabat). Shinsengumi dipercayakan untuk mengurus kasus ini karena pelakunya adalah buronan yang sudah lama dicari-cari dan telah melakukan banyak kejahatan.

Kondo dan Hijikata memberikan pengarahan mengenai penangkapan pelaku pengeboman yang kebetulan informasi tentang pelaku tersebut sudah didapatkan oleh Yamazaki dan yang lainnya. Semua memperhatikan dengan baik, walaupun wajah mereka terlihat sedikit kelelahan.

Begitu pun Hijikata. Tidak peduli hari ini hari apa, atau janji apa yang sudah ia buat dan dengan siapa, ia akan fokus melaksanakan misi penangkapan besar-besaran ini. Karena itulah tugas Shinsengumi.

Saat pasukan dibubarkan untuk menjalankan tugasnya masing-masing, Sougo mendekati Hijikata yang tengah menatap kosong entah kemana.

"Apa tidak apa-apa?" Tanyanya setengah berbisik.

"Maksudmu?"

"Hari ini hari liburmu bukan? Pastikan jangan membuat kesalahan atau kau akan mati."

Sougo langsung kabur begitu Hijikata hendak menjitaknya. Kini, pikiran Hijikata kembali fokus.

Benar. Apa pun yang terjadi aku harus menangkap teroris itu dan membereskan semuanya, jangan memikirkan hal yang tidak berguna.

06:00 - Yorozuya

Gintoki terbangun dari tidurnya. Setelah melakukan peregangan otot ringan, ia beranjak dari futon dan menuju ke dapur untuk mengambil susu stroberi kesukaannya dari kulkas dan melahap selembar roti tawar yang sudah diolesi selai stoberi sebelumnya.

Mata merahnya terfokus pada kalender yang menempel di dinding.

05 Mei XXXX. Hari ini ya?

Ia pun tersenyum memikirkan sosok yang sudah seminggu lamanya tidak ia jumpai. Maklum keduanya sibuk akhir-akhir ini. Tapi kenyataan bahwa ia akan segera menemui sosok itu sudah cukup membuatnya senang.

Gintoki berjalan menuju ke ruang tamu dan duduk di kursinya. Ia meraih dan membuka laci meja untuk melihat sebuah kotak yang diletakkan di sana sejak beberapa hari yang lalu. Setelah menyentuh singkat kotak itu dan memastikan keadaannya masih sama seperti sebelumnya, ia menutup kembali laci meja dan menyalakan televisi.

...terjadi pengeboman di salah satu tempat hiburan di tengah kota. Pengeboman ini memakan 5 orang korban jiwa dan 20 orang luka-luka. Shinsengumi masih melakukan investigasi atas kasus ini. Diperkirakan...

Melihat berita itu, Gintoki tak bergeming. Tatapannya kosong dan mendadak sekelilingnya terasa sunyi. Suara televisi tidak lagi ia dengar, hanya kehampaan.

"Begitu yah, dasar orang sibuk," gumamnya.

Tak lama kemudian pintu rumah bergeser, Shinpachi masuk dan menyapa Gintoki, namun yang disapa tetap diam, sibuk dengan pikirannya.

Shinpachi pun melakukan kegiatan rutinnya, memasak, membersihkan rumah, sembari membangunkan Kagura. Gintoki tidak peduli dengan sekitarnya, ia tetap diam dikursi sambil memejamkan matanya sesaat, berharap bisa tertidur lagi.

"Gin-san!" panggil Shinpachi dari dapur, entah untuk yang keberapa kali. "Telponnya berbunyi, tolong diangkat aku sedang memasak," lanjutnya.

Gintoki tidak sadar telpon di sebelahnya berbunyi kalau saja Shinpachi tidak meneriakinya seperti emak-emak yang membangunkan anaknya karena kesiangan. Ia pun mengangkat telpon itu, "Halo, Yorozuya Gin-san disini?"

Setelah berbicara untuk beberapa menit, ia pun menutup telpon. Sekarang Kagura sudah duduk di sofa dengan wajahnya yang masih mengantuk.

"Dari siapa, Gin-chan?" tanya Kagura yang heran dengan sikap Gintoki yang mendadak diam.

Gintoki tidak langsung menjawab, hanya meminum sisa susu stoberinya yang sudah tidak dingin.

"Hari ini kita kedapatan misi," katanya kemudian sambil membersihkan bekas susu stoberi dari bibirnya.

"Eh, tapi bukannya hari ini kita libur? Kamu bilang ada perlu?" tanya Kagura lagi. Shinpachi yang penasaran pun bergabung ke ruang tamu.

"Apa tidak apa-apa, Gin-san?" tanya Shinpachi.

"Mau bagaimana lagi."

Dengan malas, Gintoki berjalan ke kamar mandi. Kagura dan Shinpachi pun saling bertatapan bingung.

"Bagaimana ini?"

Shinpachi membalas dengan gelengan singkat lalu kembali ke dapur.

18:00 - Lokasi Penyerbuan

Puing-puing sisa kegaduhan yang disebabkan oleh Shinsengumi dan perlawanan dari pihak teroris tersebar di mana-mana. Misi kali ini sukses seperti biasa tanpa memakan korban dari pihak Shinsengumi dan warga sekitar. Meskipun begitu, beberapa anggota mengalami luka ringan akibat terkena tembakan, sayatan maupun rembesan reruntuhan.

Penampilan Hijikata sendiri tak bisa dibilang bersih seperti saat pertama kali ia memberi arahan bersama Kondo kepada para anggotanya. Di wajahnya terdapat sisa darah entah dari korban pedangnya yang mana, bajunya pun kotor dan lusuh. Jas Shinsenguminya ia selempangkan di bahu kiri, sementara tangan kanannya memegang sebatang rokok.

Ia menatap langit yang berwarna keoranyean, yang kemudian membuatnya teringat akan sosok itu.

Dimana dia sekarang? Apa yang sedang ia lakukan?

Hijikata menghembuskan asap rokok, ia meraih ponsel dari saku celana dan melihat layarnya.

Sudah jam segini, huh?

Belum sempat memasukkan kembali ponselnya ke saku celana, Kondo menepuk bahunya.

"Toshi, beristirahatlah."

Hijikata menggeleng lalu tersenyum, "ada yang masih harus aku periksa."

"Kalau semuanya sudah beres, kau harus kembali. Jangan memaksakan dirimu," setelah berkata begitu Kondo mengusap rambut Hijikata pelan lalu pergi meninggalkannya.

Tidak memakan waktu lama untuk Hijikata dan Yamazaki memeriksa beberapa barang bukti. Wajah mereka terlihat begitu lelah, tentu saja.

"Wakil Komandan, semuanya sudah beres, perlu aku siapkan mobilnya sekarang?"

"Tidak, kamu balik lah duluan."

"Eeeh?! Tapi bagaimana dengan Anda?"

"Ada tempat yang mau aku datangi, pergilah," kata Hijikata sambil melangkah meninggalkan anak buahnya itu yang bingung akan sikapnya.

Hijikata pun berjalan menuju markas Shinsengumi, berharap selama di perjalanan ia bertemu dengan sosok yang ia cari.

Ia memandangi sekitar, toko-toko, rumah, padang rumput, sungai dan matahari yang sudah tenggelam. Tapi berkali-kali ia mengedarkan pandangannya dan menajamkan fokusnya, tidak sekali pun ia menemukan si pria berambut perak keriting itu. Hingga akhirnya sampailah ia di depan markas Shinsengumi.

18:40 - Markas Shinsengumi

Hijikata menyusuri pintu masuk, anggota-anggota yang berpapasan dengannya memberi salam namun sama sekali tidak ia gubris. Pikirannya kacau sekarang, ia hanya ingin bertemu orang itu. Untuk menenangkan diri, ia pun memutuskan untuk mandi sebentar.

Di dalam kamar mandi, Hijikata melucuti seragam Shinsengumi kebanggaannya yang kondisinya sudah kacau itu dan melemparnya ke keranjang jerami di sisi ruangan. Kini sudah tidak ada sehelai pun kain yang menutupi kulitnya yang putih.

Ia berjalan pelan menuju shower untuk membasuh dirinya yang cukup kotor. Ia mencuci rambutnya yang hitam lurus dengan sampo seadanya. Setelah itu, ia menyabuni tubuhnya perlahan mulai dari wajah, leher, lalu menuju ke bahunya yang cukup lebar sampai ujung kedua tangannya. Kemudian jemari-jemari itu menyusuri dadanya, punggung, lalu perut. Sampai di sini ia berhenti sebentar untuk merasakan sensasi di sana. Selanjutnya ia menyabuni terus ke bawah sampai ke ujung kaki. Setelah seluruh tubuhnya disabuni, ia menyalakan shower dan membiarkan dirinya diguyur di bawah hujanan air yang hangat untuk beberapa saat.

"Gomen..." gumamnya lirih sambil memejamkan mata.

Sudah cukup lama Hijikata mengguyur tubuhnya, untungnya dengan air hangat. Bila tidak, mungkin dia sudah terkena flu sekarang. Ia merasa sangat malas untuk beranjak dari bawah shower sampai Yamazaki memanggilnya dari luar kamar mandi.

"Hijikata-san, Kondo-san memanggilmu," kata Yamazaki cukup keras agar suaranya tak tenggelam suara air.

"Ya," jawab Hijikata asal sambil mematikan shower. Ia pun bergegas mengeringkan tubuh lalu mengenakan kimono hitamnya. Ia tidak mengenakan seragam Shinsenguminya karena seragam itu ada di ruangannya.

Setelah berpakaian, Hijikata pun membuka pintu kamar mandi...

"Otanjoubi Omedetou, Wakil Komandan!" teriak semua anggota Shinsengumi yang sudah berdiri di depan kamar mandi, menunggu Hijikata keluar.

Di hadapannya, Yamazaki memegang kue ulang tahun yang bertuliskan namanya dan dihiasi lilin-lilin kecil yang menyala. Kondo memberi aba-aba agar para anggota mulai bernyanyi. Mereka dengan penuh semangat dan keceriaan menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Hijikata.

Selama nyanyian ulang tahun berkumandang, yang berulang tahun pun hanya diam, sembari menahan malu yang teramat sangat.

Sempat-sempatnya mereka merayakan ulang tahunku. Lagi pula, hiasan apa itu yang mereka kenakan? Aneh! Tidak cocok dengan umur!

Kondo-san, cukup! Kenapa kamu menangis?! Dan ingus itu...!

Argh! Suara cempreng Yamazaki menusuk telinga. Kue ini tidak terbuat dari anpan bukan?

Silau! Silau! Percuma saja kamu pakai topi kerucut itu, Harada!

Shi-Shimaru! Apa yang kamu ucapkan? 'Zzz'?! Tidur saja sana!

Are...? Sepertinya ada yang kurang...

Belum sempat ia menoleh, Sougo sudah menembakinya dengan meriam.

"Omedetou, Hijikata-san," kata Sougo polos setelah menyemprotkan cairan mayones dengan mariam ke wajah Hijikata.

Semestinya Hijikata senang disemprot dengan makanan favoritnya itu, tapi entah kenapa yang ada ia semakin kesal dan ingin sekali menghajar si pelaku.

"Teme...!" Hijikata berteriak. Belum sempat menghajar Sougo, Kondo menahannya dan merangkulnya.

"Sudah-sudah, Toshi. Sekarang ayo tiup lilinnya," sembari berkata demikian, ia menarik Hijikata agar mendekati kue dan memandunya meniup.

"Tunggu, Hijikata-san, buat permohonan dulu!" Yamazaki menutupi lilin dengan tangannya yang lain.

Entah kenapa, setelah melihat wajah memohon para anak buahnya, hati orang yang di sebut-sebut sebagai Wakil Komandan Iblis ini pun luluh. Ia pun mengikuti perkataan Yamazaki dan mulai memejamkan mata sebentar sebelum akhirnya meniup lilin.

"Hayooo... siapa yang kau pikirkan saat membuat permohonan tadi?" goda Sougo yang membuat Hijikata mengerenyitkan dahi.

Seluruh anggota Shinsengumi bersorak-sorai setelah Hijikata meniup lilin, melihat kebahagiaan di wajah teman-temannya itu, Hijikata mengurungkan niat untuk menghajar Sougo.

Malam ini pun, Shinsengumi mengadakan pesta untuk merayakan ulang tahun Wakil Komandan tersayang mereka sekaligus merayakan kesuksesan misi kali ini.

23:40 - Markas Shinsengumi

Suasana masih ramai karena pesta. Ada beberapa anggota yang mabuk, ada yang bercanda gurau, ada yang saling curhat, bahkan ada yang ngegosip. Hijikata mendadak terdiam, pikirannya kembali terisi dengan sosok itu. Tidak, mungkin sejak awal memang isi pikirannya orang itu saja.

Dimana dia? Kenapa dia tidak datang?

"Hijikata-san, aku lihat Yorozuya pergi ke Yoshiwara pagi tadi. Kira-kira, apa yang mereka lakukan di sana ya?" kata Sougo tiba-tiba, memecah lamunan Hijikata.

"Siapa yang tahu? Itu bukan urusanku."

Hijikata mengambil sebotol sake dan satu gelas sake kosong lalu beranjak menuju ruangannya.

"Heeh... Seperti biasa kau gampang ditebak, Hijikata-san." Sougo pun memasang penutup matanya dan berbaring.

Ruangan Hijikata tampak gelap dan kosong. Hijikata melangkah masuk perlahan kemudian menggeser pintu sedikit untuk memberi celah agar sinar bulan dapat merambat masuk ke ruangan.

Ia terduduk di dalam ruangan itu, sendirian. Perlahan, dituangkannya sake ke gelas lalu diminumnya cepat. Terus begitu untuk beberapa saat sampai sake di botol tersisa setengah, pikirannya terus tertuju pada sosok yang ia rindukan. Ia merogoh lengan kimononya untuk mencari rokok dan korek. Dikeluarkan sebatang rokok dari kotak (yang kebetulan tersisa satu), dinyalakan dengan pemantik berbentuk botol mayones kesayangannya, lalu ia hirup.

Tanpa ia sadari, rokok itu sudah habis ia hirup. Kemudian ia meneguk segelas sake lagi lalu diletakannya gelas yang kosong di lantai, ia sudah tidak berniat minum.

Kalau pun ada yang ingin ia sentuh, hanya orang itu saja. Ia ingin menyentuh wajahnya. Ia ingin mengecup bibirnya. Ia ingin berada dalam dekapannya yang hangat dan nyaman.

Tatapan Hijikata tertuju pada bulan yang putih.

Gintoki...