I don't own Naruto. Naruto is belong to Masashi Kishimoto

But, the story is mine

Please Enjoy. ^_^

.

.

.

Preview Chapter 1: Naruto tidak percaya cinta. Dia juga tidak percaya dengan wanita. Mereka hanya memberikan petaka bagi kehidupan tenangnya./ Sakura benci kehidupan sunyinya. Namun dia tidak bisa menyalahkan takdir./ "Aku sudah baik-baik saja Ino. Sudah 8 tahun sejak kejadian itu..."/ "Ano... Haruno san... apa kamu ini..."/ "...aku sudah yatim piatu sejak 2 tahun yang lalu."/"Ji-san... Kumohon, bertahanlah."/ "Apa Todai mengajarkan cara mengenali penyakit jantung sampai se-spesifik itu pada mahasiswanya, Haruno-san?"

.

.

.

.

.

2. The Lost Lover

.

.

"Yo."

Shikamaru melambaikan tangannya ke arah Ino. Gadis itu menghela nafas sebal. Apa sih yang ingin dilakukan pemuda berambut nanas ini?

"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Kudengar hari ini kau libur."

"Aku ingin tidur saja, Baka Shika. Kau pikir tidak lelah selama 1 minggu penuh tidak mendapat istirahat?" Ino membalikkan tubuhnya dan hendak berjalan kembali ke rumahnya. Namun, Ino kalah cepat dari Shikamaru. Tangan Shikamaru sudah menggenggam tangan Ino erat dan menariknya bahkan sebelum Ino melangkahkan kakinya.

"Ikut aku. Kau sendiri tidak akan bisa melewati hari ini tanpa menangis, Ino."

"Lepaskan. Baka Shika! Apa yang kau lakukan? Apa kau gila?"

"Kau pikir aku cukup bodoh sampai tidak ingat ini hari apa Yamanaka Ino? Kau tidak mungkin tidak menghabiskan saat ini dengan menangis. Jangan mencoba berbohong padaku!"

Tes.

Air mata sudah menetes di pipi Ino. Shikamaru sudah membuka luka lamanya. Laki-laki nanas yang jahat! Apa yang sebenarnya dipikirkan laki-laki ini sih? Kenapa Shikamaru tidak bisa tidak ikut campur dalam urusannya? Kenapa laki-laki ini tidak membiarkannya melewati hari ini dengan kesendirian saja?

"Ini sudah tahun ketiga. Aku tidak bisa menjamin kau tidak akan menangis seharian Ino. Aku tidak ingin melihat air mata tertahan itu lagi."terang Shikamaru. Tangan kirinya bergerak dan menepuk puncak kepala Ino dengan lembut. "Aku sahabatmu dan aku tidak suka melihatmu menangis."

Ino tidak bisa mengatakan apa-apa. Tangis sudah membanjiri dirinya. Mengambil alih ketegaran yang berusaha ditanamkannya sejak dia bangun tidur pagi ini. Tapi Shikamaru mengingatkannya lagi. Membuat Ino semakin tidak berdaya dengan takdirnya.

Oh, Ino tidak pernah ingin menyalahkan Kami-sama. Apa yang dirasakannya murni karena kesalahannya sendiri. Kalau saja hari itu dia tidak bertengkar dengan Sai. Kalau saja saat itu dia tidak meninggalkan Sai di tengah hujan badai setelah pertengkaran mereka. Kalau saja pertengkaran antar mereka tidak pernah ada. Kalau saja...

Mungkin saja... mungkin saja saat ini Sai masih berdiri di sampingnya. Tersenyum padanya. Dan mungkin saat ini sedang berdiri di hadapannya, menggenggam tangannya. Atau bahkan... Sai sedang mengusap air matanya.

"Ino, setelah tangismu selesai aku ingin mengajakmu berdoa sebentar di makam Sai. Setelah itu aku akan mengajakmu berjalan-jalan di wilayah Shinjuku. Tapi berjanjilah, ketika kau sudah ada di hadapan Sai, jangan meneteskan air mata lagi."

"Ba...baka Shika!" Ino mengetuk kepala Shikamaru. Sekalipun baru saja tenang dari tangisnya, Ino berusaha untuk mengukirkan senyum.

"Ya. Ucapkan kata itu sepuasmu Ino. Asalkan setelah ini kau bisa kembali menjadi Yamanaka Ino yang sangat mendokusai."tukas Shikamaru. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Ino.

Dalam keheningan, mereka melanjutkan perjalanan. Sesekali Shikamaru menepuk pundak Ino. Banyak hal yang sudah terjadi bagi mereka. Shikamaru hanya berharap kesedihan beruntun tidak akan membuat hubungan pertemanannya dengan Ino dan yang lain semakin renggang.

.

ooo

.

Gaara menatap gadis berambut merah muda itu. Namun, sepertinya si gadis itu menyadari kalau sedari tadi dia tengah memperhatikan apa saja yang gadis berambut pink itu.

"Sakura."panggil Gaara. Sakura menoleh dan tersenyum ke sumber suara.

"Gaara-kun."

"Aku ingin mengajakmu pulang bersama."

"Ara? Sekarang?" Sakura melihat jam tangannya. "Ah, aku lupa kalau sudah lewat jam jaga. Tunggu sebentar ya?"

Sakura menghilang selama beberapa menit dan muncul dengan tas yang sudah tersampir di bahunya.

"Kubawakan tasmu."

Selama beberapa menit mereka berjalan meninggalkan kawasan rumah sakit, Gaara dan Sakura hanya diam. Lebih tepatnya, Sakura tengah tenggelam dalam lamunan yang tidak dimengerti oleh Gaara.

"Sakura?"

Gadis itu sedikit tersentak. Ditatapnya mata laki-laki berambut merah di sampingnya. Laki-laki itu terlihat khawatir.

"Jangan melamun. Ini di jalan. Akan banyak kekacauan kalau terlalu sering melamun, Sakura."

"Oh... Bukan... Aku sedang memikirkan sesuatu."

"Apa yang kau pikirkan sampai air mata ini turun, Sakura?"tanya Gaara. Ujung telunjuknya mengusap air mata yang tergenang di ujung mata Sakura.

"Bukan apa-apa, Gaara-chan. Sungguh."

Sakura reflek melihat ke arah jari manis tangan kanannya. Di jari itu masih melekat cincin pemberian Sasuke sebelum laki-laki itu pergi. Entah bagaimana kabar Sasuke saat ini. Sakura merindukan masa-masa ketika Sasuke lah yang menghiburnya. Menyeka air matanya ketika Sakura menangis. Tertawa bersama ketika ada suatu hal yang menyenangkan.

Ketika Sasuke pergi, Sakura merasa separuh dari hatinya hilang. Parahnya, tak lama setelah itu ibunya ikut meninggal dunia. Separuh nyawanya seolah turut serta. Kini, rasanya tubuhnya hanya bisa bergerak sendiri. Tidak ada jiwa yang ikut mewarnai apa yang dilakukan oleh raganya.

"Kau pasti merindukan kekasihmu itu."gumam Gaara.

"Sudah lama sekali aku tidak melihatnya."

"Laki-laki itu beruntung sekali."

"Eh?"

"Maksudku, dia beruntung sekali karena ada gadis yang mencintainya dengan tulus. Dia harus mempertahankan orang sepertimu."

Sakura tersenyum lemah dan memandang jalan kembali. Dia tidak tau siapa yang sebenarnya beruntung. Dia kah? Atau Sasuke? Kalau memang Sasuke merasa seberuntung itu memiliki Sakura, laki-laki itu akan menghubunginya tidak peduli apapun yang akan terjadi.

Gaara mengetuk kepala Sakura.

"Aw!"

"Baka. Harusnya kau merasa sedikit terhibur dengan apa yang kukatakan, Sakura. Bukannya kembali melamun."

"Gomen. Tapi kalimatmu membuatku memikirkan banyak hal."

"Kau bisa bersandar kepada semua sahabatmu, Sakura. Jangan pernah sia-siakan keberadaan kami. Yah, sekalipun aku mengenalmu belum terlalu lama. Setidaknya, aku cukup peduli dengan apa yang terjadi denganmu."

"Hai. Kau benar-benar pemarah seperti Ino saja."

"Itu karena kami semua mengkhawatirkanmu, Baka."

"Aku tau. Karena itulah aku menyayangi kalian."

Gaara terdiam. Dengan sedikit susah payah, diukirnya sebuah senyuman. "Kita sudah sampai apartemenmu. Mau kuantar sampai depan pintu?"tawar Gaara.

Sakura mengangguk. Membiarkan Gaara memimpin jalan menuju apartemen tempat tinggalnya."Terima kasih sudah mengantarku, Gaara-chan."

"Masuklah."

Cklek!

"Sakura, okaeri."sapa gadis berambut panjang berwarna merah. Gadis itu sedikit terkejut ketika mendapati Gaara tengah berada di belakang Sakura.

"O...Ohayou Sabaku–san."sapa Karin secara reflek. Bibirnya mendadak kelu. Tatapannya terkunci pada sosok Gaara yang memandangi Sakura seolah tidak sadar kalau pintu apartemen sudah terbuka. Entah mengapa, rasa sakit menjalar di hatinya.

Seperti tersadar, Gaara menoleh ke arah Karin. "Ohayou Uzumaki-san."

"Ka..Kau.. Mengantar Sakura pulang. Terima kasih."

"Bukan masalah, Uzumaki-san."

"Etto..."

"Aku pulang dulu, Sakura. Setelah ini aku harus menyelesaikan laporanku. Jaa ne."

Gaara berbalik dan meninggalkan pintu apartemen. Dadanya sesak melihat kesedihan tak berujung yang dirasakan Sakura. Kalau saja dia memiliki hak untuk memeluk Sakura. Menghilangkan kesedihan yang dirasakan gadis itu. Tapi mungkinkah dia memiliki kesempatan itu jika Sakura tidak pernah menyadari keberadaannya?

Di lain tempat, Karin nyaris saja meneteskan air mata ketika punggung Gaara meninggalkan ruang pandangnya. Laki-laki itu mencintai sahabatnya. Sudah lama Karin tau tentang itu. Tapi bodohnya, Karin tidak bisa menghilangkan perasaannya. Bagaimana ini bisa terjadi? Mengapa lingkaran perasaan yang tidak ada habisnya ini mengepungnya?

.

ooo

.

"Tambah lagi!"

Naruto mengacungkan gelasnya ke atas. Membuat bartender yang berdiri di hadapannya begidik ngeri. Setidaknya, laki-laki itu sudah menghabiskan porsi alkohol nyaris 2 kali lipat alkohol yang dihabiskan pemabuk berat yang biasa dilayaninya.

"Ano, Tuan... Hari ini Tuan minum banyak sekali. Saya hanya kuatir nanti..."

"Aku akan bayar semua! Kenapa tidak kau berikan saja sih bir itu?!" Naruto menggebrak meja di hadapannya. Bunyi buk keras membuat semua mata pengunjung tertuju padanya.

"Bu...Bukan begitu Tuan..."

"Kau tuli ya?!"

Naruto maju, hendak menghajar bartender yang sudah mundur jauh dari jangkauan Naruto. Tiba-tiba, terselip tangan kokoh di lengan Naruto dan langsung membanting tubuhnya. Naruto mengerjapkan matanya selama beberapa saat. Pening dari alkohol yang dirasakannya hilang. Berganti dengan rasa nyeri di kepalanya yang terbentur lantai.

"Maafkan saya, Tuan. Ayah anda meminta saya untuk membawa anda pulang."ujar Kabuto dengan nada tenang.

"Pak Tua itu! Kenapa dia masih mengatur-atur hidupku sih?! Aku bukan lagi bayi kemarin sore yang seenaknya bisa dibawa kemanapun dia pergi. Aku bukan boneka!"

"Maafkan saya. Saya harus membawa anda."

Kabuto memberi kode kepada beberapa bodyguard keluarga Namikaze untuk mengunci gerakan Naruto dan membawanya ke mobil.

"Sudah kubilang aku tidak ingin pulang! Pak Tua sialan! Aku ingin minum sampai mati! Apa keinginanku itu tidak bisa dilakukannya?!"

Naruto ingin berontak. Tapi kuncian dari 5 orang sekaligus membuatnya tidak bisa bergerak. Lagipula, dia sedang dalam kondisi mabuk. Kalau saja dia dalam keadaan sadar, Kabuto mungkin harus membawa setidaknya 15 orang untuk mencegah Naruto kabur.

.

.

"Saya pulang Tuan."ujar Kabuto. "Dia tidak sadarkan diri begitu ada di mobil. Saya terpaksa harus membantingnya terlebih dahulu agar bisa bersikap tenang. Saya minta maaf."

"Sudahlah Kabuto. Anak ini sudah waktunya diluruskan hidupnya. Bagaimanapun, kekacauan dalam dirinya membuatnya melakukan tindakan bodoh."

"Ada beberapa luka yang dimiliki Tuan Muda. Sebaiknya segera diobati sebelum infeksi atau membengkak. Besok Tuan Muda ada pertemuan penting dengan klien di Kanto."

"Aku yang akan mengurusnya. Setidaknya, sekali dalam setahun aku harus melakuan ini. Kau diam saja. Pastikan semua orang yang ada di bar tidak mengingat kejadian ini. Kau boleh mengancam mereka sesukamu. Aku hanya tidak ingin nama buruk keluarga Namikaze sampai didengar orang lain."

"Baik Tuan."

Kabuto menunduk sebelum menginggalkan kediaman keluarga Namikaze. Hinata yang sedari tadi melihat ayahnya gelisah di ruang tamu mendekat. Menepuk lembut bahu ayahnya. Berharap apa yang dilakukannya bisa membuat ayahnya sedikit tenang.

"Tou-sama tidak boleh memikirkan banyak hal. Masih terlalu beresiko. Ingat penyakit Tou-sama."ujar Hinata. Minato menatap kedua mata putrinya yang berwarna lavender itu. Desahan berat keluar dari mulutnya.

"Percuma saja melakukan banyak hal kepada jantungku kalau kakakmu yang bodoh itu tetap melakukan hal yang sama. Dia bisa membuatku mati berdiri."

"Tou-sama... Nii-chan hanya..."

"Aku lelah Hinata. Urus luka-luka kakakmu itu. Aku tidak ingin berbicara apa-apa lagi tentang dia selama beberapa waktu. Kau mengerti?"

"Baik, Tou-sama."

Minato melangkah dengan sedikit terseret-seret menuju kamarnya. Dia tidak ingin terlihat lemah di mata putrinya. Minato merasa lemah. Hari-hari yang dilaluinya semenjak kematian Kushina benar-benar berat. Dia tidak sanggup menghadapi kenyataan sebagai Ayah tunggal. Dan lagi, tak lama setelah itu menantunya pergi meninggalkan rumah. Meninggalkan tanggung jawabnya dan menghilang entah kemana. Kalau saja Kushina ada di sampingnya, tentu Kushina akan mengetahui apa saja yang harus dilakukan.

.

.

"Nii-chan terus saja keras kepala seperti ini. Kalau saja dia tau bagaimana Tou-sama sangat mengkhawatirkannya."gumam Hinata dengan tangis yang terus meleleh di pipinya.

Tangannya memegang kasa yang digunakannya membersihkan darah kering di wajah Naruto. Selalu begini. Setiap tanggal yang sama, kakaknya kan semakin menjadi-jadi. Kenangan yang dilaluinya terlalu buruk.

Naruto mengaduh. Hinata sempat menghentikan kegiatannya dan menunggu reaksi kakaknya setelah itu. Tapi kakaknya justru meneteskan air mata dengan mata yang tertutup.

"Kau jahat sekali Shion... Rasanya sakit... Sakit sekali..."gumam Naruto.

"Nii-chan tidak boleh mengingat orang yang telah menyakiti kakak seperti ini. Kalau saja Nii-chan mau membuka sedikit saja hati Nii-chan untuk orang lain, tentu Nii-chan akan mendapatkan yang lebih baik. Tidak semua wanita melakukan hal yang sama Nii-chan. Tidak semua dari wanita meninggalkan orang yang dicintainya." Hinata berusaha menasehati. Namun Naruto tidak mendengarkannya. Laki-laki itu terlelap tanpa suara. Sekalipun sesekali air mata meleleh di pipinya.

.

ooo

.

Shikamaru berhasil mengantarkan Ino kembali ke rumahnya. Syukurlah... hari ini Ino tidak banyak menangis. Sekalipun masih kesulitan untuk tersenyum, setidaknya dia tidak bersedih sendirian.

Yah, sekalipun Shikamaru harus melakukan beberapa pengorbanan, rasanya sepadan dengan apa yang didapatkannya. Untuk ukuran peduli atau tidak, Shikamaru lebih sering terlihat acuh soal kondisi orang yang ada disekitarnya bila dibandingkan sahabat-sahabatnya yang lain. Tapi Shikamaru benar-benar bersumpah, dia tidak akan membuat sahabat-sahabatnya merasa sendirian dalam kesedihan.

Bicara soal sahabat, lama sekali Shikamaru tidak melihat Sakura. Terakhir kabar yang dia dengar, Sakura sudah menjual rumahnya dan tinggal di aparetemen yang cukup jauh dari tempat tinggalnya semula. Mungkin Shikamaru bisa menengoknya sebentar di Rumah Sakit. Kalau tidak salah, jarak rumah sakit ini tidak terlalu jauh dengan kediaman Yamanaka.

Baru kali ini dia menginjakkan kaki lagi di Rumah Sakit. Ayahnya sudah lama sembuh dari penyakitnya. 3 tahun sudah lamanya. Kalau bukan karena Ino, Sakura, dan juga Gaara harus di Rumah Sakit karena tuntutan studi yang mereka ambil, Shikamaru benar-benar tidak ingin kemari.

Langkah Shikamaru terhenti. Tepat di hadapannya, berdiri wanita berambut pirang berkucir empat. wanita itu memakai seragam serba putih dan terlihat sangat profesional. Sama seperti Shikamaru, wanita itu terlihat terkejut. Selama beberapa detik, mereka berdua hanya berdiri berhadapan.

"Shi... Shika..."

"Temari?"

"Ohayou."

Shikamaru hanya mengangguk. Matanya melirik jari manis kiri wanita itu. Ada cincin emas putih dengan berlian di atasnya. Rasa sakit langsung membuncah di dadanya. Di antara semua kemungkinan yang buruk, mengapa dia harus bertemu dengan wanita ini?

.

.

"Aku sangat mencintaimu Shika..."

"Lupakan saja... Cinta hanyalah mainan anak-anak Shika. Coba kau pikir, bagaimana aku bisa hidup kalau aku mempertahankan hubungan dengan laki-laki sepertimu?"

"Jangan bodoh! Aku tidak ingin menjalin hubungan lagi! Kenapa kau tidak juga mengerti Shika?!"

"Kau itu hanya laki-laki tanpa masa depan. Lihat dirimu! Apa yang bisa dibanggakan kecuali otak jeniusmu yang tidak berguna itu?"

"Apa kau gila? Kau memintaku menikah denganmu? Yang benar saja Shika! Aku baru saja lulus dari SMA. Sementara dirimu? Sekalipun lulus dengan nilai terbaik pun kau tetap laki-laki tidak berguna."

"Apa kau ingin aku merawat ayahmu yang cacat dan ibumu yang hanya pelayan di kedai? Kalau aku setuju menikah denganmu berarti aku setuju mesuk ke tempat sampah, Shika!"

"Laki-laki yang tidak melanjutkan sekolahnya tetap akan menjadi laki-laki yang tidak berguna. Sekalipun mendapatkan pekerjaan, kau tidak akan punya cukup uang untuk membiayai keluargamu karena uangmu yang sedikit itu kau pergunakan untuk merawat Ayah cacatmu itu!"

.

.

Shikamaru berusaha menahan emosi yang tiba-tiba bergejolak dalam dirinya. Segala kenangan buruk bersama dengan wanita yang berdiri di hadapannya berputar tanpa diminta. Wanita itu mencampakkannya, menghina keluarganya, dan menginjak harga dirinya. Dia ingat betapa dia sampai mengemis meminta wanita itu tetap tinggal di sampingnya ketika Ayahnya mulai mengalami stroke 6 tahun yang lalu.

Setelah menghina kondisi keluarga Shikamaru yang saat itu benar-benar sedang dalam keadaan tidak berdaya, wanita itu memutuskan untuk bertunangan dengan laki-laki yang 'pantas' menurut keluarganya. Dan wanita itu juga sudah mempermalukannya di depan kampusnya ketika Shikamaru ingin menemuinya. Temari membawa segelas kopi panas dan menyiramkannya di rambut Shikamaru.

"Sampai kapan kau akan sadar kalau loper koran sepertimu tidak akan pantas untukku, hah?!"

Setelah kejadian itu, Shikamaru bersumpah untuk mengubah hidupnya. Menjauhkan segala unsur yang berhubungan dengan Temari dari hidupnya. Membangun kehidupannya kembali.

Selama sekolah, Shikamaru adalah murid yang jenius. Di usianya yang ke 13 tahun, dia sudah menyelesaikan SMA nya. Karena kondisi keluarganya yang cukup sulit paska ayahnya, Nara Shikaku, di PHK dari perusahaan tempatnya bekerja, Shikamaru memutuskan membantu ibunya bekerja sebagai penjaga toko, loper koran, dan petugas POM. Mengubur mimpinya untuk kuliah. Beberapa tahun dalam masa bekerjanya itu, Shikamaru bertemu dengan Temari dan menjalin hubungan dengannya. Namun ketika tau kondisi Shikamaru yang sebenarnya, gadis itu mulai 'membencinya'. Dan pada penghinaan puncaknya itu, Shikamaru memutuskan untuk kuliah. Tidak peduli dia harus bekerja jauh lebih banyak dari yang dia sanggupi.

Shikamaru berhasil menyelesaikan kuliahnya 2 tahun. Setelah itu, dia melanjutkan studinya di Jerman untuk lebih mendalami tentang kontruksi transportasi dan mesin. Dia ingin menggabungkan teknologi Jepang yang mutakhir dengan penemuan material yang luar biasa dari Eropa. Setelahnya, dia pulang kembali ke Jepang dengan mengantongi gelar Profesor dan membuka perusahaan di bidang transportasi. Menjadi penasehat teknologi di banyak tempat. Tapi namanya tidak banyak bergaung karena dia sebisa mungkin menghindari pemberitaan. Harga dirinya sudah kembali. Dan dia tidak butuh apa-apalagi setelah ini. Shikamaru juga tidak pernah repot-repot merubah penampilannya dan menceritakan tentang pekerjaannya kepada para sahabatnya karena tidak ingin hubungan mereka semakin jauh. Cukup sahabatnya tau kalau dia sudah mendapat pekerjaan yang bisa membuatnya hidup tanpa kekurangan seperti dulu.

Tapi, bertemu dengan Temari lagi setelah semua hal menyakitkan adalah hal yang lain. Dia harus menahan diri untuk tidak marah pada dirinya sendiri karena pernah mencintai gadis seperti Temari.

"Shika... Aku... Kau sekarang..."

"Urusanku sudah selesai." Shikamaru berbalik dan hendak melangkah keluar.

"Tu...Tunggu Shika. Apa kau... mencariku?"

Tawa dingin keluar dari bibir Shikamaru. Ditatapnya Temari dengan tatapan terdingin yang dimilikinya.

"Apa harga dirimu terlalu tinggi sampai kau tidak bisa membedakan antara suka dan muak, Temari? Kau terlalu sombong karena menganggap dirimu lebih baik dari sebelumnya."

Shikamaru melangkah meninggalkan rumah sakit. Tidak peduli dengan tatapan penuh permohonan maaf yang diarahkan kepadanya. Maaf saja tidak akan cukup karena gadis itu sudah mematahkan hatinya dan membakarnya hingga tak bersisa.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Hai minna... Chiyo di sini. Sebelumnya Chiyo mau menyampaikan terima kasih buat yang review dan juga follow. Dukungan itu bikin tambah semangat buat melanjutkan ceritanya. Doumo arigatou, minna.

Nah, saya mau jawab salah satu review yang menanyakan soal kemana Sasuke di cerita ini. Sabar... Saya sudah bikin konsep ceritanya sampai chapter berikut-berikutnya. Untuk beberapa chapter ke depan, saya mau mengurutkan konflik utama yang dialami Sakura dan Naruto sebagai pairing utama terlebih dahulu. Berhubung semua teman-teman mereka terlibat, sekalian saya menceritakan konflik masing-masing dari mereka. Alurnya agak sedikit lambat biar semuanya bisa menikmati ceritanya.

Saya mau minta maaf sebelumnya buat semua penggemar pairing versi canon. Chiyo sudah menghancurkan pairing aslinya. Hehehe... Maaf ya... Tapi, ini hasil imajinasi saya. Saya sangat menghargai versi canon. Tapi, saya punya versi favorit sendiri. :)

Pairing SasuHina akan muncul sejak chapter 5. Kisah mereka akan mendominasi cerita selain pair NaruSaku. 2 pair ini saling berkaitan dan saling menyelesaikan masalah. Jadi, harap bersabar ya?

Sampai sini dulu. Semua kesalahan dalam cerita baik yang berupa typo atau lainnya, harap di tulis di kolom review. Review dari kalian semua sangat membantu. Arigatou... Jaa ne. :)