All character (c) Masashi Kishimoto.
Fiction (c) Raawrrr.
WARN: (probably) OoC, Typo(s), dan kekurangan lainnya yang bisa Reader-san perhatikan sendiri.
Ide murni dari otak Saya, sungguh. Mohon maaf jika ada kesamaan ide, ya. ^^
Don't Like? Don't Read! ^w^
Happy Reading!
INO POV.
Aku terbangun, tepat saat sinar mentari menyusup masuk melalui celah-celah jendela kamarku. Entah kenapa, tapi aku terlalu malas untuk bangkit dari tempat tidurku yang nyaman ini. Lagipula, aku juga tidak berniat untuk masuk sekolah—lebih tepatnya malas bertemu 'dia'. Tapi akhirnya, rasa malas itu kubuang jauh-jauh. Lekas aku beranjak dari kasur dan menuju kamar mandi untuk bersiap-siap.
Setelah tiga puluh menit lamanya aku bersiap-siap untuk berangkat kesekolah, Aku menyempatkan diri untuk sarapan terlebih dahulu. Sendirian. Mungkin, Ayah sudah berangkat duluan. Tanpa menunggu waktu yang lama, dengan segera aku menghabiskan sarapanku dan pergi menuju sekolah.
NORMAL POV.
At Yamamoto International High School.
Dengan langkah gontai Ino memasuki kelasnya. Dengan tak bersemangat, Ia meletakkan tasnya dimejanya, dan duduk di bangkunya. Karin yang melihat Ino tidak seperti biasanya pun menghampirinya.
"Ino!" Karin menepuk pelan pundak Ino pelan. Ino melirik kearahnya sebentar.
"Doushite?" tanyanya.
Ino memaksakan diri untuk tersenyum. "Aku tidak apa-apa kok."
"I hate your fake smile, btw." Karin tersenyum. "Mau cerita?"
Ugh... Ino bimbang. Cerita atau tidak? Sejujurnya, Ia memang butuh seseorang untuk mendengarkan ceritanya—sekalian meminta saran kalau bisa. Tapi disisi lain, Ia tidak ingin ada seorangpun yang tahu bahwa Ia menyukai Sasuke sang pangeran sekolah. Ugh, ini sangat bukan Ino sekali. Memang bukan hal biasa jika para gadis menyukai Sasuke. Tapi tetap saja... ugh. Bahkan ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Ino menghela napas. Merasa ini hal yang terbaik, maka Ia memutuskan untuk— "Oke. Pulang sekolah diatap, ya?" – bercerita kepada Karin.
Karin mengedipkan sebelah matanya. "Oke, cantik. Kutunggu ceritamu."
.
.
Bel pulang sekolah pun berbunyi. Para murid mulai membereskan barang bawaannya.
"Pig," panggil Sakura yang duduk disebelahnya. "Mau pulang bareng?"
"Ah, gomen ne, Forehead. Tapi aku sudah ada janji dengan yang lain," tolak Ino dengan halus.
"Ah, begitu. Yasudah tak apa. Aku pulang duluan, ya!" Sakura beranjak dari tempat duduknya, Ia melambaikan tangannya pada Ino dan pergi meninggalkan kelas itu.
Karin menghampiri Ino. "Jadi?"
Ino mengangguk. "Tentu saja. Ayo." Ino berjalan lebih dulu, Karin menyusulnya dan ikut berjalan disebelahnya.
.
Saat ini mereka sudah berada di atap sekolah. Mata biru cerah milik Ino menatap kagum langit yang berada diatasnya.
"Langit begitu indah jika dilihat dari atap sekolah ternyata..." gumamnya pelan. Karin yang mendengarkan gumaman Ino hanya bisa tersenyum geli.
"Kau sedang tidak mencoba mengulur waktu agar aku lupa menagih ceritamu 'kan?"
"T-tentu saja tidak! Aku bukan orang yang suka ingkar janji," protesnya.
"Saa, kalau begitu ayo cerita."
"Jadi begini... etto, sebelumnya aku ingin bertanya. Apa salah menyukai seseorang yang menyukai sahabatmu sendiri?"
"Hmm." Karin menaruh telunjuknya didagunya. "Menurutku, tidak. Karena seseorang mempunyai hak untuk suka pada siapapun. Itu manusiawi. Memangnya kenapa?"
"Begini... aku menyukai Sasuke-kun." Ino menundukkan kepalanya.
"Kheh. Wajar jika kau menyukai Sasuke. Kalau boleh jujur, dulu aku juga pernah suka padanya."
"Ha? Kau pernah menyukainya?" tanya Ino kaget.
Karin mengibaskan rambutnya. "Tentu saja. Perempuan mana sih yang tidak suka padanya?"
"Iya sih. Dia memang Idola para wanita, hmph." Ino mengembungkan pipinya kesal.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan?" tanya Karin.
"Mou! Aku tidak tahu!" Ino menggenggam surai pirangnya, Ia mengacak-acak rambutnya frustrasi. – "Oh tidak! Rambutku kusut!" ucap Ino saat menyadari bahwa rambutnya kusut setelah Ia acak-acak.
"Kau ini." Karin sweatdrop.
"Aku bingung. Sasuke menyukai Sakura yang notabene adalah sahabatku. Ne, Karin. Apa aku harus mengalah pada perasaanku?"
"Ha? Apa aku tidak salah dengar? Tumben kau ingin mengalah! Biasanya kau keras kepala sekali."
"Habisnya aku bingung!" Ino menatap sinis Karin.
"Saranku sih, lebih baik kau bersaing secara sehat dengan Sakura—ah tapi memang kalian selalu bersaing 'kan?"
"Iya sih... tapi 'kan bukan dalam hal cinta, uh."
"Yasudah, lakukanlah apa yang bisa kau perbuat untuk cintamu. Masalah diterima atau ditolak, itu belakangan."
"Ah baiklah, terimakasih Karin! Bebanku sekarang berkurang." Ino tersenyum pada Karin. Karin membalas senyuman Ino.
"Ya. Jika kau ingin cerita lagi, cerita saja."
.
.
.
Rasanya bercerita pada Karin bukan hal yang buruk, buktinya sekarang bebannya sudah mengurang. Karin benar, Ia tidak boleh berhenti sampai disini, Ia harus bisa memperjuangkan cintanya. Ditolak atau diterima itu urusan belakangan. Lagi pula, Sakura juga tidak—atau belum— menyukai Sasuke 'kan? Jadi, peluang untuk menarik perhatian Sasuke masih banyak, benar?
"Yosh! Semangat, Ino! Kau pasti bisa!" Ino mengepalkan sebelah tangannya lalu meninju udara, mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri. Ia gadis yang kuat, dan Ia tidak akan menyerah sebelum bertempur, Ia bukan pengecut.
Dipeluknya guling yang terdiam bisu disebelahnya. Ah, ngomong-ngomong langit malam kini tengah menghiasi langit, bulan beserta para bintang membantu menerangi kanvas besar bumi. Malam, merupakan waktu yang tepat untuk mengistirahatkan diri setelah beraktivitas lebih dari dua belas jam. Dan kini Ino mengambil kesempatannya untuk beristirahat, terlebih Ia merasa bahwa matanya kini berat, maka Ia memutuskan untuk pergi berkelana ke alam mimpi.
Ia yakin bahwa sesuatu yang menyenangkan akan terjadi disana— dalam alam bawah sadarnya.
Hei, bersikap optimis tidak ada salahnya, 'kan?
.
.
.
"GAWAAAT! Aku terlambat!" Suara seorang gadis menggema dikediaman Yamanaka. Sudah dapat dipastikan bahwa yang berteriak itu adalah Ino, putri tunggal dari keluarga Yamanaka. Suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar, tak lama sesosok gadis cantik berambut pirang panjang yang diikat ekor kuda mulai dapat terlihat mata.
"Ah, tou-san!" sapa Ino ketika bertemu pandang dengan sang ayah yang sedang santai meminum secangkir teh hangat ditemani dengan sebuah koran dalam genggaman. Tumben sekali ayahnya tidak berangkat pagi seperti biasanya. Ah, tapi itu tidak penting sekarang. Yang penting, Ia harus sampai disekolah sebelum bel berbunyi.
"Yo, hime," sapa balik sang Ayah seraya mengalihkan pandangannya, yang semula menatap tiap-tiap kalimat yang tercantum didalam koran menjadi menatap Ino, sang putri kesayangan.
"Ittekimasu!" pamit Ino cepat, tak lupa Ia mencium pipi sang ayah sebagai salam, karena terburu-buru Ia tak sempat sarapan dahulu.
"Itterashai."
.
"Bodoh! Kenapa kau bisa telat bangun, duh, Ino?!" gerutunya disela-sela larinya. Iya, dia berlari, karena Ia tertinggal bus yang biasa Ia pakai sebagai alat transportasi ke sekolah. Oh, salahkan mimpi indah semalam yang membuatnya enggan untuk terbangun dan mengadapi dunia nyata.
Semburat merah tipis muncul menghiasi raut wajahnya mengingat mimpi semalam. Dimana Sasuke sang pujaan hati memberikannya seikat bunga mawar merah dan memintanya untuk jadi pacar Sasuke.
'Aaa, andai itu semua kenyataan. Aku pasti akan menjadi gadis yang paling bahagia didunia!'batin Ino mulai berdelusi.
"Oke lupakan hal itu!" Mata biru jernih Ino menatap jam yang melingkar dipergelangan tangan kanannya.
07:40 AM.
Oh sial. Kelas dimulai setengah jam lagi, dan saat ini Ia masih seperempat perjalanan. Kau tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai disekolah dengan berlari? Tepat dua puluh menit! Lama? Tentu saja, karena Ia perempuan dan sama sekali bukan seorang atlet.
Ia tidak terlalu berbakat dalam lari-berlari. Kalau soal fashion sih... Ino jagonya.
TIN! TIN!
"Ino?"
Sebuah klakson berbunyi, disusul dengan suara maskulin seorang pemuda yang sangat Ino kenal. Kepalanya tertoleh kesamping, dan menemukan sosok Sasuke Uchiha tengah berada diatas motor biru dongker miliknya.
"Butuh tumpangan?"
Oh, sepertinya Dewi Fortuna tengah memihak padanya. Buktinya Ia mengirimkan sosok malaikat tampan untuk menolongnya agar tidak telat sampai sekolah.
"Sangat! Boleh aku ikut denganmu?"
"Naiklah."
Tanpa basa basi, Ino pun langsung menaiki motor yang dikendarai oleh Sasuke.
.
.
.
Kekuatan dari sebuah mesin otomotif memang menakjubkan, ya. Tak lebih dari sepuluh menit akhirnya mereka telah sampai disekolah. Kini mereka tengah berjalan berdampingan menuju kelas. Sedari tadi Ino senyam senyum sendiri karena kelewat senang bisa bersama dengan sang pujaan hati, sedangkan Sasuke hanya cuek bebek seraya menempelkan raut muka datar sebagai penghias wajah.
Dengan begini sebuah tekad telah tertanam dalam lubuk hati Ino. Ia akan mendekati Sasuke dan mencoba untuk mendapatkan hatinya. Seperti saran yang diberikan Karin tempo hari, Ia akan bersaing dengan Sakura secara adil.
Dan ini merupakan tahap pertama; mengajak Sasuke pergi.
"Sasuke, pulang sekolah kau ada acara tidak?"
Misi dimulai.
Ngomong-ngomong, ambil langkah duluan itu adil, 'kan?
.
~o~ To Be Continue. ~o~
.
Cuap cuap Author,
Buahaha. Ini udah berapa tahun gak diupdate, ya. Maaf sekali baru bisa nyelesain sekarang.
Masih ada yang inget gak? (Answer: KAGAK!)
O-oke, aku rapopo kok. Rapopo.
Saya mau berterimakasih sebanyak-banyaknya buat kalian yang telah membaca dan memberikan Review + Fav untuk fiksi ini.
Guest: Ahaha, iya nyesek mungkin ya. :'D Ini sudah update, terimakasih atas reviewnya!
: Wah, sama juga ya? Kita senasib kalau begitu. Disini Sakuranya suka sama Sasuke juga tidak ya? Www, liat saja nanti. Terimakasih atas reviewnya! XD
yuzu misaki: Jadian tidak yaa~ Ahaha, tunggu saja kelanjutan kisah atas reviewnya! :3
Uchiha ulin: Asik deh yang penasaran. Memang belum terasa, 'kan masih awal-awal. Terimakasih atas reviewnya! :'D
Yosh, semangat! Ini sudah update. Dan, maaf (sangat) lama. Terimakasih atas reviewnya! :"D
lastri nara: Continued. Terimakasih atas reviewnya! :)
Yasudah, segitu saja yang mau diomongin. Sampai jumpa~!
Sign,
Raawrrr.
Review?
V
