Hi, everyone!
Anne muncul lagi siap dengan chapter ke Dua. Kali ini kisahnya dominan ke hubungan paman sama keponakannya. Nah, ada yang punya paman favorit? Kayak Flo sama Harry? Anne punya, loh! Dulu waktu kecil ada salah satu Om yang deket banget. Apa-apa dibeliin, tapi kalo sekarang, ya, sudah enggak. Anaknya sendiri sekarang yang dimanja. Toh, Anne juga udah gede! Hehehe.. :)
Oh, ya, Anne terima kasih buat teman-teman yang sudah fav, follow, ataupun review seperti ninismsafitri, Afadh, DiahImbarsiwi15, , dan syarazeina, kalian luar biasa! Terima kasih! *peluk dari jauh* ^_^
Langsung saja, yuk!
Happy reading!
"Baiklah, kita akan berangkat sebentar lagi. Tapi," Harry merendahkan tubuhnya demi menyamakan tinggi sambil membenarkan poni depan sang keponakan. Ada keinginan baru melintas di kepala Harry jika suatu saat si bungsupun juga memiliki poni seperti Flo dengan rambut merahnya. Tapi itu nanti. Lily hanyalah bayi tiga bulan yang belum cukup memiliki rambut. Ya, meskipun sejak lahir Lily maupun kedua putra Harry lainnya, lahir dengan keadaan memiliki rambut yang tebal. Sudah jelas dari gen siapa.
Harry kembali berdiri dan menggandeng tangan kiri Flo. "Uncle mau mengembalikan berkas-berkas ini ke ruangan Uncle baru kita berangkat. Mau?" kata Harry. Flo menggangguk mau kemudian mengikuti langkah Harry masuk ke area kantor divisi Auror.
Beberapa meja kerja masih dipenuhi oleh beberapa Auror yang mempersiapkan diri untuk kembali pulang. Ada yang sedang mengganti seragam mereka, mengemasi kertas dan perkamen, menumpuk memo-memo, sampai menyempatkan bergosip bagi beberapa Auror wanita. Harry menyapa ramah mereka yang masih berada di sana.
"Selamat sore, semua! Belum pulang?" tanya Harry masih mengandeng Flo masuk.
Seseorang tersenyum pada Harry sambil menunjukkan tas kerjanya. "Aku sudah siap pulang, Mr. Potter. Dan.. aahh, itu putrimu? Bukannya dia baru lahir beberapa bulan yang lalu?" tanya Scoot, Auror yang sering bertugas sebagai penjaga arsip data-data penyerangan dan hal-hal penting Auror lainnya. Bisa dibilang, ia adalah sumber informasi bagi para karyawan di divisi Auror.
"Ow, tentu saja bukan. Ini keponakanku, Flo. Say hey ke teman-teman Uncle, sayang!" pinta Harry lembut. Flo melambaikan tangannya sambil memperkenalkan diri.
Satu lagi ikut menyapa Harry dan Flo dari arah pintu masuk. "Oh hi, Jerome. Masih ada berkas yang belum beres?" ekspresi Harry berubah cemas. Jerome, asisten Harry ketika rapat sebelumnya kembali menghadap.
Flo ikut khawatir jika Harry masih memiliki pekerjaan yang membuatnya harus sabar menunggu untuk segera berangkat. "Semua sudah beres, Sir. Saya hanya ingin mengantarkan lembar pengesahan laporan penyelidikan anggota saya yang tertunda beberapa hari lalu untuk Scoot." Kata Jerome sambil menenteng dua gulungan perkamen di tangannya.
"Nah, pantas tak ada di laciku. Sekarang cepat serahkan padaku. Kalau sampai tak ada arsip milikmu di tanganku dan suatu saat kau memintanya padaku, jangan harap kau bisa tidur tenang karena memang aku tak punya. Disiplin, Jero!" teriak Scoot dari kejauhan menantang mata Jerome yang melotot tak suka. Scoot memang dipilih sebagai pemegang segala arsip Auror karena ketelitian dan juga kedisiplinannya dalam mengorganisir segala data. Harry tidak ragu lagi saat ia memberikan mandat itu pada Scoot.
Harry dan semua Auror yang mendengar pertengkaran Scoot dan Jerome sontak tertawa. Begitu pula Flo. Ia bersembunyi di balik punggung Harry sambil menahan tawanya. "Kerja bagus, Scoot. Itu namanya tanggung jawab." Kata Harry. Scoot mengangguk bangga sambil menarik tangan Jerome mendekat ke meja kerjanya.
Di dalam ruangan Harry, Flo memilih duduk di salah satu sofa sambil menunggu Harry mempersiapkan segalanya sebelum mereka pergi. Ia memperhatikan Harry menata buku-buku, berkas kerja, dan gulungan perkamen yang berjajar di atas meja kerjanya. Mata Flo beberapa kali memperhatikan susunan organisasi kepemimpinan Auror yang tertera di salah satu sudut ruangan. Meski Flo masih kesulitan dalam membaca, ia tahu bahwa susunan nama yang tertera paling atas dalam struktur organisasi itu mirip dengan tulisan nama di depan pintu ruangan Harry.
"Uncle!" panggil Flo.
"Ya, Flo?"
Flo terbatuk pelan, "sebenarnya, Uncle bekerja sebagai apa, sih? Kenapa banyak foto-foto orang aneh yang seperti di kantor polisi tempat teman Dad bekerja. Aku pernah ke sana, loh, Uncle. Apa Uncle juga polisi?"
Dua meter di depan Flo, Harry sudah selesai dengan berkas-berkas yang ia simpan kembali ke beberapa rak dokumen. Terakhir, Harry mengambil kunci mobilnya dari lanci meja kemudian menghampiri ke tempat duduk Flo.
"Benar. Auror itu semacam polisi di tempat kita, Flo. Inti pekerjaannya hampir sama dengan polisi. Kau sudah tahu, kan, apa tugas dari seorang polisi?"
"Hem, polisi itu bekerja menangkap orang-orang yang nakal dan menyusahkan banyak orang. Bukan begitu, Uncle?" jawab Flo dengan wajah menggemaskan.
Harry tak kuasa untuk mencubit pipi gembul keponakannya itu. Jika dilihat lebih dekat, Harry melihat Flo seperti melihat Dudley dalam versi perempuan. Flo sangat mirip dengan Dudley ketika masih kecil. "Pintar!" puji Harry.
"Tapi, Uncle. Aku sering takut kalau melihat polisi dengan seragamnya itu. Mereka seperti orang galak. Tidak seperti Uncle dan teman-teman Uncle itu. Mereka lucu," Flo menutup wajahnya menahan tawa. Kikikannya lucu seperti kartun-kartun anak yang pernah Harry tonton bersama James.
Sejenak, Harry berpikir keras, mengapa anak ini sangat lucu dan menggemaskan, jauh berbeda dengan ayahnya dulu. "Seragam? Ah, tentu saja—" kata Harry sangat pelan, tapi Flo sempat mendengarnya.
"Kenapa, Uncle?" tanya Flo.
"Kau benar, sayang. Banyak orang yang takut melihat polisi dengan seragamnya. Uncle dan teman-teman Uncle di sini bersahabat pada siapapun. Kami sama seperti polisi juga, Flo. Kami bisa juga galak jika menemui orang-orang yang nakal. Jadi, Flo jangan jadi anak nakal, ya."
Flo memeluk tubuh Harry lantas berbisik, "tentu. Kata Mum, aku tak boleh nakal, Uncle. Aku harus jadi anak yang baik." Kata Flo penuh keluguan. Harry akhirnya tahu, dari siapa sifat Flo itu diturunkan. "Untung Dudley memiliki istri yang baik," batin Harry.
"Apalagi, Flo sebentar lagi akan jadi kakak. Jadi jangan nakal apalagi dengan adikmu nanti. Mengerti? Flo harus jadi kakak yang baik." Tutur Harry begitu terlihat ia sangat menyayangi Flo seperti anaknya sendiri.
Harry memilih untuk berganti seragamnya dengan kemeja yang ia gunakan saat berangkat dari rumah. Benar kata Flo, tidak hanya polisi, Aurorpun bisa ditakuti banyak penyihir jika menggunakan seragamnya. Sebentar lagi, Harry akan mengajak Flo ke tempat Parvati. Jika sore hari, sahabat Harry semasa sekolah dulu lebih menghabiskan waktunya di toko tanaman milik suaminya. Letaknya tak jauh dari toko George di Diagon Alley.
Kini, berdasarkan hasil analisi sederhana Flo, Harry sudah melepas jubah Aurornya, tinggal mengenakan kemeja berwarna beige motif dot abu-abu kecil dengan celana jins biru panjang. Ayah muda itu siap untuk pergi.
"Hai, Harry!"
Suara lonceng di atas pintu toko membuyarkan fokus Parvati pada bunga mawar putihnya di atas meja. "James menghancurkan tembok mana lagi?" tanyanya sambil menyalami Harry.
Sebelum mengajak Flo, Harry sempat membawa James, putra sulungnya, kepada Parvati. Tentu dengan tujuan yang sama, menetralkan sementara kekuatan sihir anaknya agar mampu terkendali. Ya, jika Flo mampu merubah gulingnya menjadi separuh tikus, dengan kekuatannya James mampu menghancurkan tembok dapur hingga membentuk lubang besar antara dapur dan halaman belakang.
"Meski dia mirip kau, Harry, James memiliki kekuatan ledakan seperti ibunya. Kau harus mempersiapkan asuransi untuk rumahmu jika suatu saat nanti James bisa melakukan lebih dari ini," kata Parvati ketika selesai menetralkan kekuatan James.
Harry tertawa, "bukan, James sudah anteng sekarang. Nah, oleh karena itu, aku punya satu pasien lagi untukmu," Harry menunjukkan Flo yang berdiri di belakangnya.
"Hai, gadis cantik!" sapa Parvati. "Siapa dia, Harry?"
"Namanya Florence Dursley. Panggil saja Flo. Dia keponakanku," kata Harry. Tanpa diminta sebelumnya, Flo langsung memperkenalkan dirinya pada Parvati. "Ah, manis sekali!" kata Parvati menerima salam Flo.
Setelah saling memperkenalkan diri dan bertemu Shane, suami Parvati, Harry dan Flo diajak menuju ruang kerja suami Parvati di lantai dua. Parvati harus bekerja di tempat sunyi saat membantu menetralkan kekuatan Flo nanti. Sama seperti James dulu.
"Nah, Flo. Sekarang kau duduk di sini, ya. Aku akan ambil tongkatku." Parvati menuju salah satu lemari kayu dan mengeluarkan tongkat yang masih dibungkus kertas di dalam kotaknya. Terlihat sekali jika tongkat itu digunakan hanya untuk urusan khusus.
Wajah Flo memucat. Ia tiba-tiba takut seperti saat ia bertemu dokter gigi yang mencabut giginya dulu. "It's OK. Uncle di sini, sayang," bisik Harry menenangkan. Tangan Flo terasa dingin di telapak tangannya.
"Yups, jadi, apa yang sudah si cantik Flo ini buat?" Parvati menarik satu kursi dan menududukinya. Ia letakkan setengah meter di depan Flo lantas mencari jawaban melalui Harry di belakang Flo.
"Flo melakukan transfigurasi pada gulingnya sendiri, Aunt Parvati. Merubahnya menjadi setengah tikus." Jawab Harry menjadikan dirinya sebagai keponakannya.
Flo mengangguk. "Iya, dia tikus itu bisa mencicit juga," lanjut Flo. Ada nada ketakutan ketika kembali ia mengingat kejadian semalam.
"Baiklah, sekarang kau tenang, ya, sayang. Coba ulurkan tangan yang biasa kau buat menggambar?"
Parvati menerima tangan kanan Flo dan membuka telapak tangannya. Mengelusnya pelan dan mengayunkan tongkatnya itu di atas telapak tangan Flo. Cahaya kuning mencul dari ujung tongkatnya kemudian menjalar menuju tangan dan bergerak ke tubuh Flo.
"Pejamkan matamu jika kau takut, sayang. Tetaplah tenang," kata Parvati berkonsentrasi. Flo lansung menutup matanya ikut berkonsentrasi. Di belakangnya, Harry semakin mendekat dan berjaga-jaga untuk menahan tubuh Flo jika anak itu terhuyung ke belakang seperti James dulu.
Dan benar. Beberapa menit setelah cahaya kuning itu sampai ke kepala Flo, tubuh Flo berubah lemas hampir terjatuh. Untung Harry sempat menahan tubuh Flo sebelum ia benar-benar jatuh. "Terima kasih, Uncle Harry," kata Flo lemas.
"Sama-sama, sayang," jawab Harry yang kini memeluk tubuh lemas Flo.
"Tidak begitu parah, Harry. Aku sudah mengontrol kekuatannya agar tak berlebihan. Ini akibat imajinasi Flo yang tinggi, Harry. Aku yakin, ia bisa menjadi penyihir yang hebat. Oh, ya, orang tuanya di mana?"
Harry tertegun. Mengalihkan perhatiannya sejenak ke arah Flo kemudian menjawab, "kedua orang tuanya Muggle. Mangkanya aku yang antar," jawab Harry.
Harry memilih untuk menunggu sejenak sambil memastikan Flo kuat untuk kembali berjalan.
Hampir setengah jam beristirahat akhirnya Flo merasa dirinya telah kembali segar meski sedikit..
"Lapar?" tanya Harry. Mata biru Flo dari turunan Dudley membulat. "Pasti!" Harry yakin.
Harry berpamitan pada Parvati dan suaminya sebelumnya meninggalkan toko. Harry sangat yakin jika Flo merasa lapar setelah penetralan energi tadi. Dulu, James langsung meminta untuk menuju Florean Fortescue's Ice Cream Parlour setelah dari Parvati dan mungkin, Flo juga ingin.
"Ice cream? Di sini ada?" tanya Flo bersemangat.
Harry mengangguk semangat, "tentu saja. Ice cream di sini sangat enak, nama pemiliknya hampir mirip sepertimu. Flo dari Florean. Kau mau ke sana?" tawar Harry.
Dan tentu saja, itu adalah tawaran yang luar biasa bagi anak-anak seusia Flo.
Di Florean Fortescue's Ice Cream Parlour, Flo memesan satu mangkuk besar ice cream sundae penuh dengan permen warna-warni dan biskuit besar menancap di atasnya. Untuk mengimbangi, Harry pun ikut memesan ice cream yang sama.
"Selera makanmu seperti Daddy!" canda Harry. Ya, lagi-lagi gen Dudley menurun pada Flo.
Saat keduanya menikmati sendok demi sendok ice cream, tiba-tiba kilatan cahaya terang menahan suapan ice cream Flo ke mulutnya. Jress! Kilatan sinar dari salah satu bidikan kamera seseorang yang datang menghampiri meja Harry dan Flo membuyarkan ketenangan keduanya.
"Oh, jangan sekarang!" gerutu Harry menyaksikan dua orang jurnalis menghampiri mejanya. "Selamat sore, semua!" sapa Harry ramah, lebih tepatnya terpaksa ramah.
"Selamat sore, Mr. Potter. Sedang liburan keluarga? Tapi di mana istri dan anak-anak Anda? Siapa anak perempuan ini? Apakah anak Anda juga? Lalu siapa ibunya—"
"Stop! Sabar. Satu-satu pertayaanya. Ini Flo, keponakan saya dan kami di sini baru saja mengunjungi salah satu toko sahabat sekolah saya di bagian barat sana. Dan sebelum pulang kami memutuskan untuk makan ice cream di sini. Hanya itu saja—"
Dua wartawan Daily Prophet sedikit-sedikit mengorek-korek informasi tentang kemunculan Harry sore ini. Ya, sangat bisa dipastikan, akan ada berita –walaupun rubrik kecil—yang bercerita tentang kedatangan Harry di Florean Fortescue's Ice Cream Parlour bersama keponakannya, Flo.
"Sudah selesai? Kita pulang, ya! Kita ambil dulu pesanan yang tadi sekalian membayarnya." Ajak Harry untuk bisa melepaskan diri dari paparazi sihir itu. Flo menyendok es krim terakhirnya lantas bergegas berdiri mengandeng tangan Harry.
"Yups, kami mau membayar dulu dan segera pulang. Ini sudah hampir malam. Terima kasih, ya—" kata Harry sambil berjalan menuju meja kasir.
Setelah mengambil pesanan es krim sekaligus membayarnya, Harry mengajak Flo kembali menuju jalur Leaky Cauldron untuk menuju mobil mereka. Sepanjang jalan, Flo mengamati beberapa penyihir yang berpapasan dengan mereka. Tidak ada satupun yang tampak diam ketika mereka bertemu dengan Harry.
"Uncle," panggil Flo. "Kenapa mereka begitu ramah denganmu? Sejak tadi di kantor, banyak sekali yang menyapamu. Sepertinya mereka semua sangat mengenalmu. Kau terkenal, ya, Uncle?" dengan mata berbinar khas anak-anak, Flo begitu penasaran dengan jawaban Harry tentang keanehan banyak penyihir di sekitar mereka.
Harry tersenyum. Tangannya bergerak menuju pundak Flo agar lebih dekat. "Menurutmu?" tanya Harry menantang.
"Emm, ya! Bahkan paman yang memfoto kita tadi begitu memaksa bertanya. Apakah kita akan masuk TV?" Flo berhenti tepat di depan toko properti sihir dan non-sihir.
"Mungkin hanya masuk koran. Ya, cukup koran saja, Flo. Kalau untuk terkenal atau tidaknya Uncle, itu bukan masalah besar." Tiba-tiba Harry melihat satu benda di belakang Flo. Ia tahu ia akan membeli sesuatu di toko itu. "Ah, mungkin kita masuk ke toko itu dulu, ayo!" ajak Harry masuk ke toko properti di belakang mereka.
Langkah kaki Harry menyusuri lorong-lorong bersih sambil terus memperhatikan tulisan-tulisan petunjuk di dinding. Ponsel di tangannya bertuliskan nama ruangan dan alamat rumah sakit yang dikirimkan Ginny beberapa jam yang lalu.
Ya, Harry dan Flo kini sedang berada di rumah sakit. Ginny mengirim pesan setelah berkali-kali tidak bisa menghubungi lewat telepon. Sarah melahirkan. Setelah dari toko properti di Diagon Alley untuk membelikan guling baru untuk Flo, Harry langsung memutar mobilnya menuju rumah sakit tempat Sarah melahirkan.
"Kenapa kita ke rumah sakit, Uncle?" tanya Flo sambil memeluk guling merah muda barunya. Guling itu sengaja Harry belikan karena saat guling Flo berubah menjadi separuh tikus, Harry meledakannya hingga guling Flo hangus terbakar. Jadi, Harry memiliki beban tersendiri untuk membelikan penganti guling itu.
"Kita mau melihat adikmu, Flo." Jawab Harry.
"Adik? Adikku sudah lahir?" Flo bingung, Harry mengangguk membenarkan.
Tepat di kamar bertuliskan angka 307, Harry memutar gagang pintu di depannya dan tampaklah Dudley, Ginny, dan Hermione berkumpul menemani Sarah yang tampak lemash di atas ranjang. Ah, jangan lupa sosok mungil dibalik selimut biru yang sedang digendong oleh Sarah.
"Daddy!" teriak Flo berhambur ke pelukan Dudley.
"Ow, sayang! Bagaimana harimu?" tanya Dudley diliputi binar kebahagiaan.
Harry langsug menuju ke sisi Ginny. "Uncle Harry sudah mengajak aku ke Aunt Parvati, langsung kita makan es krim yang lezat dan—" Flo menunjukkan guling barunya, "Uncle Harry membelikan guling baru untukku, cantik, kan, Dad?" tanyanya.
Flo melihat sosok kecil di pelukan ibunya. Ia penasaran lantas mendekat, "Edward is here!" bisik Sarah di dekat Flo. Dudley membantu putrinya agar naik ke atas ranjang bersama ibunya.
"Ed?" ulang Flo mengucap sebagian nama adiknya. Ajaibnya, sang adik seolah dipanggil. Bayi kecil itu membuka matanya dan menatapke arah Flo.
"Wah, dia mendengar panggilanmu, Flo." Kata Hermione.
Flo mengangguk senang. Akhirnya ia menjadi kakak. Harry mendekat ke arah Sarah lantas bergantian menggendongnya. "Nah, sekarang kau sudah menjadi kakak, Flo. Itu artinya—"
"Aku tak boleh nakal, seperti kata Uncle tadi," ucap Flo mendekat ke arah Harry yang kini menggendong Ed. Tidak sedikitpun Harry terlihat kaku ketika menggendong bayi. Seringnya ia mengurus anak-anaknya sendiri dan kedekatannya dengan anak-anak orang lain, membuat Harry begitu lihai dalam urusan menggendong.
Dudley tersenyum ke arah Harry. "Dia sempurna, Dud!" puji Harry.
"Thanks, Harry.. for everything!" bisik Dudley pelan. Harry terkesima. "Terima kasih sudah ikut membantu kami. Flo. Semuanya. Aku tak tahu harus bagaimana pada Flo jika kau—"
"Flo adalah keponakanku sendiri. Begitu juga Ed. Aku ikut bertanggung jawab menjaganya juga, Dudley. Aku janji aku akan membantumu." Kata Harry terharu.
Dudley kembali tersenyum menatap Harry dan beralih menatap putranya di gendongan Harry. "Maaf jika selama ini aku—"
"Cukup, Dudley. Sudah saatnya kita perbaiki semuanya. Dengan adanya anak-anak, kita tidak perlu lagi menjadi kekanak-kanakan. Sudah saatnya kita berpikir dewasa untuk mereka."
Harry tersenyum memperhatikan Flo yang begitu senang melihati adiknya. Ia sudah meletakkan kembali ke dalam box bayinya agar Ed nyaman dalam tidurnya. "Percayalah!" lanjut Harry.
"Yeah, dan aku semakin yakin padamu, Harry." Dudley lantas beralih melihat papan identitas bayinya di sisi box. Harry ikut mengekor pandangannya ke sisi box tidur Ed. Papan berwarna putih bertuliskan nama lengkap putra Dudley tercetak jelas di sana.
Edward Harry Dursley. Harry membacanya dengan mata berkaca-kaca.
"Congratulation, Big D!" Harry memeluk erat sang sepupu bangga.
- TBC -
#
Nah, bagaimana? Anne nulisnya sambil dengerin Ayu Ting-Ting nyanyi sambalado.. *lah, nggak nyambung* Oke lupakan! :P
Bagaimana? Masih di awal-awal. Nanti di chapter selanjutnya, Flo siap mau berangkat ke Hogwarts, nih. Bagaimana kisahnya?
Anne tunggu reviewnya, ya, teman-teman! Maaf kalau masih ada typo! Anne sayang kalian! :D
Thanks,
Anne
