Heartbroken Sonata
Sasuke
-
DREAM
-
Waktu berjalan sudah lama sekali.
Rasanya sudah begitu lama aku pergi, meninggalkan segalanya. Melupakan semuanya. Mengubur dalam-dalam segala ingatan, segala kenangan yang kupunya, jauh ke dasar tanah.
Namun baru kusadari sekarang. Hatimu yang kecil, bagian yang selalu kau lupakan, tak akan pernah berbohong.
Setidaknya, itu menurutku.
Entah sudah berapa lama aku tak pernah lagi mengingat hal itu. Tak ada waktu bagiku. Dan aku pun tak menginginkannya. Waktu sudah berlalu, zaman sudah berubah. Aku ingin melupakan semuanya, dan terlahir kembali sebagai manusia baru. Aku tak ingin melihat ke belakang. Bagiku tak ada harapan, tak ada impian, tak ada mimpi.
Tapi, ternyata ada. Masih ada.
Sudah empat tahun berlalu, tapi tak kusangka akan ada kepingan yang muncul tiba-tiba. Dan mengapa yang ada harus kau?
Malam ini aku terjaga dari tidurku. Hanya untuk melihatmu sekilas dalam kelebat mimpiku. Selalu sama. Bayangan lama, yang mengingatkanku pada masa-masa kecil di mana aku masih belajar untuk hidup. Belajar untuk menerima orang lain dalam kehidupanku yang selama itu tertutup. Menemui kata-kata bernama persahabatan dan rasa sayang terhadap teman, juga bekerja sama dengan orang lain.
-
-
"Sasuke-kun."
-
-
-
REMINISCENCES
-
Aku sudah berkali-kali memejamkan mataku, namun hanya aku yang kembali. Hanya kau yang muncul. Lagi dan lagi. Dan yah, aku benci saat aku mengakui, bayanganku tentang dirimu selalu sama. Seorang gadis yang memiliki rambut berwarna merah muda. Sekali waktu, mencapai punggung.
Namun suatu waktu, dalam sekejap saja, dari sedikit pandangan yang bisa kudapatkan saat itu—rambutmu berjatuhan ke tanah. Dalam serpihan-serpihan, tebal, beterbangan; seperti kelopak Sakura yang gugur secara tiba-tiba.
Aku ingat. Aku mengutuk diriku sendiri saat itu. Karena aku tak bisa bangkit, walau hanya untuk menghalangi orang-orang itu melakukan sesuatu padamu. Untuk bangkit saja aku tak bisa. Hanya kemarahan yang terus memuncak dalam otak kian membuncah, menyebabkan kemarahanku tumpah.
Tetapi…
Kau tetap berlari, sekalipun air mata mengalir di wajahmu. Merengkuhku dengan segenap tenaga yang tersisa, meninggalkan jejak-jejak air mata di punggungku.
Ada sensasi hangat yang aneh saat itu. Tidak, bukan karena rasa amarah dan emosi yang menjalariku. Melainkan sensasi hangat yang lain. Yang membuatku ingat kembali akan apa yang tengah kulakukan. Yang menurunkan emosi dan mengembalikanku dari dunia yang lain.
-
"Kumohon… hentikan."
-
Padahal, hanya itu…
Saat itu aku mempelajari banyak hal. Perhatian dan rasa ingin melindungi. Melindungi sesuatu yang berharga… itulah yang kudapatkan. Bukan perhatian sekilas, bukan perhatian yang orang lain tujukan padaku; namun kau memperlihatkan aku bagaimana usaha sekuat tenaga untuk melindungi sesuatu yang berharga bagimu, sekalipun selama ini kau sellau dianggap lemah… bahwa kekuatan untuk melindungi bisa begitu besar.
Sebuah perhatian khusus yang tak kudapatkan dari orang lain, dan cukup bagiku untuk melihatmu sebagai gadis yang berbeda.
-
-
-
NEVER
-
Kumohon.
Jangan katakan bahwa kau mencintaiku, mencintaiku...
Karena tidak, aku tak akan pernah menjawabmu. Meskipun begitu sering kepalaku berdengung, memaksaku untuk mengatakan kata-kata yang tak terjangkau olehku. Tidak, aku tak akan membalasnya. Tak akan pernah.
Sekalipun batinku memaksa. Sekalipun kau selalu muncul. Ada. Membayang, dalam bentuk siluet. Mata hijaumu. Wajahmu yang senantiasa tersenyum. Suaramu yang tinggi jernih. Rambutmu yang berayun tertiup angin, atau langkahmu yang setengah melompat saat kau bersemangat. Lesung pipit yang muncul saat kau tertawa.
Aku tak ingin mengakuinya, namun ternyata, bahkan alam bawah sadarku pun tak ingin membuang seluruh memori itu meskipun sudah lama ingin kuhilangkan.
Sudah terlalu banyak dosa yang kulakukan padamu, dan tak akan pernah bisa kutebus sehingga hanya ada satu kalimat "terima kasih" yang keluar dari bibirku meski ada banyak sekali yang ingin kukatakan.
Sudah terlalu sering aku membuatmu menangis, dan tak akan pernah bisa kugantikan wajah sedihmu dengan senyum sehingga aku hanya diam tanpa mampu menghentikan air mata itu—bahkan menatap wajahmu saja aku tak mampu.
Karena aku sudah pergi, pergi jauh. Kau harus melupakan semuanya tentang aku. Lupakan. Dan hilangkan, lapisi dengan sesuatu yang baru, sesuatu yang akan lebih membuatmu bahagia. Bukan aku. Tak akan, semua tak akan pernah berubah.
Biarkan aku memohon padamu sekali saja.
Jangan mencintaiku.
-
-
FIN
"… the truth should be told, though it kill."— Timothy Thomas Fortune
-
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
About This Fic
Well. Fic ini adalah sebuah fic yang terbagi dua, dilihat dari sisi Sasuke dan sisi Sakura. Hampir mirip dengan fic saya yang berjudul Satu Malam—hanya saja, di sini menggunakan Sasuke's POV. Monolog Sasuke agak lebih emosional daripada sifatnya di luar, itu semata-mata karena menurut saya Sasuke yang jarang menunjukkan emosinya pada orang lain, mungkin memiliki emosi yang lebih mendalam dalam hatinya.
Line terakhir tentang Sasuke yang memohon adalah bagian yang paling saya suka. Untuk Sakura, yang saya suka adalah kalimat bahwa dia masih mencintai Sasuke. Yang mana yang kalian suka?
Semua bebas untuk memberi review. Sasuke dan Sakura, tak akan pernah bersatu, kecuali Kishimoto-sensei mengalami korslet otak. Tapi saya tetap cinta. Sasuke dan Sakura, keberadaan mereka berdua adalah sebuah kontradiksi. Tak ada yang sama dalam diri mereka, justru karena itulah mereka dapat saling mengisi. Sekalipun kenyataan itu pahit—ikatan mereka berdua ada. Cinta yang menyakitkan itu asyik. :D
Yosh! Setelah membuat angst (ngga begitu sih, tapi cukuplah), saatnya menyegarkan diri dengan fluff kembali—ide sudah muncul, nih…
Terima kasih sudah membaca.
©Blackpapillon
