oOo
Main cast : Luhan, Sehun, Kai
Rate : M
Gendre : Hurt, Drama, Family, Romance
Length : Chapter
PS : FF ini HunHan / KaiLu buat yang ga suka sama main castnya ga di saranin untuk baca^^ pemain lainnya akan muncul dengan bertambahnya chapter,FF ini hasil imaginasiku sendiri jadi untuk yang baca review ya..aku nerima kritikan tapi menolak bash,happy reding,semoga kalian suka :*
.
.
.
.
.
Luhan tersadar dari pingsannya dalam keadan yang lemah.
Hal pertama yang bisa Luhan tangkap dengan matanya adalah kamar di mana ia di baringkan terlihat sangat luas dan mewah.
Luhan mencoba mendudukkan tubuhnya yang terasa begitu lemas sambil memegang kepalanya yang masih berdenyut nyeri.
Luhan menatap kesekitar, tidak ada siapapun.
Luhan melihat tubuhnya dan sedikit menghela nafas lega karna sudah tidak dalam keadaan telanjang.
"Aku di mana?" Luhan bergumam lirih, Luhan kembali merasakan ketakutan.
Dia tidak tahu berada di mana dan kenapa bisa ada di tempat ini, Luhan tidak ingat apapun setelah lelaki itu yang menghantamkan kepalanya di lantai.
Luhan menekuk kakinya dan memeluk lututnya dengan tubuh gemetar, isakan Luhan kembali terdengar memilukan, matanya dengan ngeri manatap takut pada ruangan ini.
"Sehuun" Luhan berbisik dengan bibirnya yang bergetar.
"Sehun kau di mana?" Luhan memegang gelang yang terpasang di tangan kanannya, berharap Sehun akan datang memeluknya.
"Sehuunn" Luhan membenamkan wajahnya pada lututnya untuk meredam isakannya.
Luhan tidak percaya hidupnya harus berada di titik seperti ini di tangan orang yang tidak dia tahu siapa dan kenapa melakukan hal sekejam ini kepadanya.
Harusnya Luhan tengah berbahagia dengan Sehun.
"Sehun.. aku merindukanmu.." Luhan mencengkram erat gelangnya dengan hati yang teramat terasa sesak.
.
.
FLASHBACK.
Tujuh hari sebelum Sehun membawa Luhan untuk bertemu orang tuanya adalah hari yang sangat membahagiakan untuk Luhan.
Sehun terus mengendarai mobilnya dengan Luhan yang duduk manis di sampingnya, Luhan membuka sedikit kaca mobil Sehun untuk mendapatkan kesejukan udara Seoul di malam hari.
"Kita sebenarnya mau kemana Sehun?" Luhan menoleh dan bertanya dengan kesal pada Sehun yang mengajaknya pergi tanpa memberi tahu akan kemana.
"Kita sebentar lagi akan sampai Luhan" Sehun tersenyum kecil dan mengusap rambut Luhan.
"Kau sudah mengatakan itu sejak tiga puluh menit lalu"
Sehun tertawa mendengar gumama Luhan.
Tak lama setelahnya mobil Sehun berhenti tepat di depan sebuah taman.
Luhan menyeringit.
-Taman Seonyudo? Bukankah taman ini tutup saat jam 6PM, lalu kenapa Sehun bisa masuk- Luhan berguman bingung dalam hati, namun tak lama suara decihan keluar dari belah bibir cherry Luhan.
"Seorang pangeran bisa melakukan apapun bukan?" Nada suara Luhan terdengar mengejek, membuat Sehun tergelak karnanya.
"Seorang pangeran melakukan ini hanya untuk orang yang di cintainya Luhan" Sehun tersenyum lebar membuat mata sipitnya menjadi kian menyipit.
Luhan memutar bola matanya malas, Luhan sudah kebal dengan semua rayuan Sehun.
Luhan keluar dari mobil, menyusul Sehun yang sudah lebih dulu keluar.
Luhan memandang kesekitar, tidak ada siapapun selain kegelapan yang tertangkap oleh matanya.
"Jadi apa yang akan kita lakukan di sini Tuan Oh?" Luhan bertanya dengan bingung pada Sehun yang hanya terus tersenyum.
Sehun mendekat dan memeluk Luhan dari belakang.
"Hanya berjalan kedepan dan kau akan tahu" Sehun berbisik dan menggigit kecil telinga Luhan.
Luhan menurut, Luhan mulai melangkahkan kakinya dengan Sehun yang terus memeluknya dari belakang.
Sesekali Luhan akan tertawa geli pada sehun yang terus menciumi tengkuknya dengan gemas.
Saat merasa mereka sudah berdiri di tempat yang tepat, Sehun menghentikan langkahnya.
"Sudah sampai?" Luhan bertanya dengan kebingungan yang masih ia rasakan.
Di sini tidak ada bedanya dengan jalan yang sudah mereka lalui. Gelap dan tidak ada siapapun.
Sehun mengangguk tepat di samping telinga kiri Luhan.
"Beri aku ciuman jika ingin mengetahui apa yang sudah aku siapkan untukmu"
Luhan berdecih mendengar permintaan Sehun, namun Luhan tetap menuruti Sehun.
Tampa keraguan Luhan menengokan wajahnya pada Sehun, Luhan menutup matanya dan membuka sedikit belah bibirnya untuk menyambut bibir Sehun.
Sehun tersenyum kecil dan langsung mencium bibir Luhan dengan sedikit lumatan di sana.
Sehun memegang tengkuk Luhan untuk lebih menghanyutkan Luhan dalam ciuman mereka dan saat di rasa sudah cukup, Sehun melepaskan ciumannya dari bibir Luhan yang terlihat menjadi sedikit basah.
"Bukalah matamu Luhan.." Sehun berbisik tepat di depan bibir Luhan.
Perlahan Luhan membuka matanya dan hal pertama yang ia lihat adalah senyum indah Sehun.
Luhan ikut tersenyum.
"Ini yang kau siapkan?"
Sehun menggeleng, membuat Luhan memincingkan matanya.
"Lihatlah kedepan" Sehun mengecup bibir Luhan, Luhan mengangguk dan kembali melihat kedepan.
Sebuah senyuman indah tercipta di bibir Sehun saat melihat Luhan yang tidak berkedip, Sehun mengeratkan pelukannya pada Luhan yang tengah menatap pada seluruh arah dengan keterkejutan.
Taman yang semula gelap kini penuh dengan cahaya cahaya lampu kecil berwarna kuning yang tertata dengan begitu indah.
Semua hal yang ada di taman ini terbentuk rapih dengan lampu lampu kecil itu, bahkan setiap pohon di lingkari dengan lampu lampu kecil itu, begitupun dahannya, tidak ada satu dahanpun yang tidak memancarkan cahaya.
Mungkin orang akan salah mengira jika melihat pepohonan di sini dari jauh, karna semua pohon di sini begitu terlihat berkilau, seperti emas yang tengah menganggantung di setiap dahan.
Luhan melangkah maju untuk melihat pada area lain, perasaannya begitu terasa bahagia dan tersentuh.
Sehun tersenyum kecil di tempatnya, membiarkan Luhan berjalan melewati jembatan berkilauan untuk menuju titik tengah dari taman ini.
Luhan berjalan semakin dalam dan terhenti saat sesuatu yang bercahaya menyala tak jauh di depannya.
Luhan menutup mulutnya untuk menutupi keterkejutannya, air mata Luhan menggenang yang di sebabkan oleh kebahagian yang ia rasakan.
Dengan matanya yang berkaca kaca Luhan menatap tidak percaya pada sebuah kata 'I LOVE YOU LUHAN' yang terjejer rapih di depannya, lampu berwarna merah berkelap kelip mengitari tulisan besar itu, kilauannyanya memancar dengan terang, membuat setiap hurufnya terlihat lebih indah.
"Kau menyukainya?" Sehun berdiri tepat di depan Luhan dengan sebuah senyuman.
Luhan melepaskan tangannya yang menutupi mulutnya dan menatap Sehun dengan pandangan penuh rasa terimakasih.
Sehun tersenyum penuh rasa kepuasan saat melihat pancaran kebahagian di mata Luhan.
Sehun berdehem kecil untuk mengurangi rasa gugupnya, dengan cepat Sehun mengeluarkan sebuah kotak bludru dari saku jaketnya dan membukanya tepat di hadapan Luhan.
Luhan menatap isi kotak itu, sebuah cartier bracelet berwarna perak.
"Luhan.. maukah kau menikah denganku?" Sehun berucap dengan penuh keyakinan.
Luhan sontak mendongak pada Sehun, hati Luhan bergemuruh mendengar permintaan Sehun.
"Aku ingin kau menikah dengan ku Luhan" Sehun memasangkan gelang itu di tangan kanan Luhan .
Air mata Luhan menetes dengan sebuah kekehan.
"Aku bahkan belum menjawabnya.."
Sehun tertawa mendengar ucapan Luhan.
"Seorang pangeran tidak pernah menerima penolakan"
Luhan ikut tertawa mendengar jawaban Sehun, Luhan mengarahkan pandangannya pada gelang yang sudah terpasang dengan pas di tangannya.
Indah. Hanya itu kata yang tepat untuk menggambarkan gelang ini.
"Ini adalah sebuah pengikat untukmu agar tidak bisa lepas dariku, aku akan memasangkan cincin untukmu di hari pernikahan kita nanti" Sehun kembali memeluk Luhan dari belakang, Sehun sangat menyukai mendekap tubuh mungil Luhan seperti ini.
"Terus pakai gelang itu Luhan" Sehun berbisik di telinga Luhan.
"Ya.. aku akan selalu memakainya" Luhan tersenyum, tangan kirinya terus mengelus gelang pemberian Sehun.
Kini mata Sehun dan Luhan tertuju pada tulisan 'I LOVO YOU LUHAN ' di depan mereka.
Luhan tersenyum kecil saat merasakan Sehun kembali menciumi tengkuk dan lehernya, Luhan sudah terbiasa dengan ini, karna hampir setiap saat Sehun akan mengecupi tengkuknya.
Tapi hanya sebatas itu, Sehun tidak pernah menyentuhnya melebihi cumbuan manis di leher.
"Sehun"
"Hemm" Suara Sehun teredam di lehernya.
"Sudah empat tahun kita menjadi kekasih, apa kau tidak ingin memiliki ku?"
Sehun terkekeh kecil di ceruk leher Luhan, membuat Luhan menyikut perut Sehun dengan pelan karna kesal.
Sehun melepaskan cumbuannya dari leher Luhan dan mengistirahatkan dagunya di bahu kecil Luhan.
"Setiap detik setiap menit, aku selalu ingin memilikimu Luhan"
"Lalu kenapa kau tidak melakukannya?"
Sehun terkekeh mendengar pertanyaan yang baru kali ini ia dengar, Luhan tidak pernah menanyakan hal itu selama empat tahun ini.
"Kau ingin aku melakukannya?"
Luhan mengangguk.
"Beritahu aku alasannya"
Luhan mengelus dua tangan Sehun yang melingkari perutnya.
"Karna hanya itu yang bisa aku berikan padamu untuk menunjukan kalau aku sangat mencintaimu sehun, aku tidak mempunyai hal lain yang bisa aku berikan padamu" Luhan bergumam lirih.
Sehun membalikkan tubuh Luhan untuk menghadapnya dan mengelus pipi kanan Luhan.
"Kau mempunyai semua hal yang aku inginkan Luhan, di dunia ini aku tidak membutuhkan apapun selain dirimu dan untukku kau adalah sebuah permata yang sangat berharga, aku adalah pria yang tidak akan menyentuh permata yang belum sepenuhnya menjadi milikku .."
Luhan menatap Sehun dengan mata yang kembali berkaca kaca, hatinya benar benar tersentuh dengan ketulusan cinta yang Sehun miliki untuk dirinya.
Luhan sangat bersyukur memiliki Sehun di dunia ini.
"Yang harus kau lakukan untukku adalah tetap berada di sisiku.. sebarat apapun jalan yang harus kita lalui,berjanjilah kau akan tetap bersamaku Luhan" Sehun mengecup punggung tangan Luhan dengan lembut.
"Ya.. aku berjanji Sehun, sesedih apapun nanti, aku akan tetap mencintaimu"
Sehun tersenyum mendengar ucapan Luhan.
"Terimakasih Lu dan jika kau ingin memberikannya padaku, jagalah itu sampai aku memintanya di malam pertama kita" Sehun berbisik tepat di depan bibir Luhan, membuat Luhan merasa tersipu mendengarnya.
Sehun tersenyum dan memberi kecupan kecil pada bibir Luhan.
"Aku akan menjaganya untukmu Sehun"
Sehun merapatkan tubuh Luhan padanya, tangan Sehun mengelus tengkuk Luhan dengan pelan.
"Aku sangat mencintaimu Luhan"
Luhan tersenyum.
"Akupun sangat mencintaimu Sehun.."
Sehun menarik tengkuk Luhan dan kembali membuat penyatuan manis itu terjadi.
FLASHBACK END.
.
.
Airmata Luhan mengalir saat teringat dengan malam itu.
"Maafkan aku Sehun, aku tidak bisa menjaganya untukmu" Nafas Luhan tersengal sengal karna isakkannya yang seolah menutup jalan paru parunya untuk bernafas.
Suara pintu terbuka terdengar memekakkan telinga.
Luhan mendongak, isakannya tercekat di tenggorokan saat melihat seorang pria mendekatinya.
Pria itu menatap tajam pada Luhan yang tetap memeluk lututnya dengan tubuh bergetar.
"Kau Luhan?"
Luhan menyeringit saat mendengar pria di depannya berbicara menggunakan bahasa mandarin.
Apa itu berarti Luhan tengah berada di China?.
"Jawab aku! Apa kau Luhan?" Suara pria itu terdengar semakin meninggi membuat Luhan kian merasakan takut.
Luhan mengangguk dan lelaki itu tertawa karna senang.
"Kau bisa bahasa mandarin?" Pria itu duduk di hadapan Luhan dengan tatapan tidak percaya.
Luhan kembali mengangguk.
"Aku kira akan sulit untuk berkomunikasi denganmu, aku sudah akan menyiapkan peneterjemah mengingat aku baru pertama kalinya memiliki seseorang dari korea" Pria itu terkekeh.
Luhan menatap lekat pria di hadapannya, Luhan merasa aneh pada sikap pria ini yang bisa berubah secara cepat.
"Ka.. kau siapa?" Luhan mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
"Aku Kris Wu.. sekarang aku adalah pemilikmu Luhan" Kris tersenyum dengan terus mendekati Luhan yang menggelengkan kepalanya.
Luhan tidak bodoh untuk mengerti arti dari kata memiliki.
"Kau tidak perlu takut Luhan, karna aku akan bersikap baik jika kau menurutiku" Kris tersenyum lebar yang justru terlihat mengerikan di mata Luhan.
"Tidak! Jangan dekati aku!" Luhan dengan cepat turun dari ranjang.
Kris tertawa mendengar bentakan Luhan.
Luhan memundurkan langkahnya dengan perasaan berdebar saat melihat Kris mendekatinya.
"Kau tidak perlu takut Luhan"
Luhan menggeleng, nafas Luhan tercekat saat kakinya membentur meja rias.
Kris terkekeh, melihat tidak ada jalan untuk Luhan bisa lepas darinya.
Luhan dengan tangannya yang bergetar, mengambil satu botol kaca berisikan parfum yang tak jauh dari jangkauannya dan saat Kris semakin mendekat, dengan cepat Luhan melemparkan botol berukuran sedang itu pada Kris yang tepat mengenai keningnya.
Kris menjerit merasakan perih pada dua matanya karna isi botol itu mengenai kelopak matanya.
Melihat ada kesempatan untuk keluar Luhan dengan cepat berlari menuju pintu, namun langkahnya terhenti saat melihat tiga laki laki dengan tubuh berotot menghadangnya di depan pintu.
Suara tawa Kris terdengar di belakang Luhan.
"Jangan mengira kau bisa lepas semudah itu dariku Luhan"
Kris menarik belakang rambut Luhan membuat Luhan mengerang dengan keras, namun Kris tidak memperdulikannya, Kris menggered Luhan kembali memasuki kamar dan menjatuhkan Luhan ke ranjang dengan kasar.
Kris melepas sabuk yang ia gunakan dan melilitkannya pada genggaman tangannya.
"Kau akan medapatkan hukuman atas apa yang sudah kau lakukan di hari pertamamu Luhan!" Kris menyeringai dan menghujamkan sabuk itu tepat di kaki Luhan.
Bunyi cambuk terdengar sangat keras di barengi tawa Kris yang begitu kencang.
Luhan meremas seprai dengan airmata yang kembali mengalir saat merasakan perih pada dua kakinya.
Nafas Kris tersengal saat melemparkan sabuknya, tatapan Kris begitu puas melihat Luhan yang tidak berdaya di depannya, Kris menghampiri Luhan dan menjambak rambut Luhan, memuat Luhan mendongak dengan wajah basah oleh keringat dan airmata.
Luhan meringis kecil merasakan jambakan Kris terasa sangat kuat di kulit kepalanya.
"Ini baru permulaan! Kau akan mendapatkan hukuman lebih dari ini jika berani melawanku" Nada bicara Kris penuh dengan ketegasan dan ancaman, Kris melepaskan cengkramannya pada rambut Luhan dan berjalan dengan angkuh menuju pintu keluar.
Begitu Kris menghilang dari balik pintu, Luhan menegakkan tubuhnya dan meringis saat melihat luka lebar di kakinya, Luhan menggigit bibir bawahnya saat merasa perih pada bagian kakinya saat di gerakan.
Tak lama seorang lelaki lain masuk, menghampiri Luhan dengan membawa satu baskom berisikan air dan handuk.
Luhan menatap takut pada lelaki berlesung pipi di depannya.
"Kau tidak perlu takut, aku Zhang Yixing.. aku yang terpilih untuk menjadi asistenmu"
Luhan memincing tidak mengerti dengan ucapan Yixing.
"Aku adalah orang yang akan mengurusi semua keperluanmu selama di sini Luhan" Yixing tersenyum dan berjongkok tepat di depan kaki Luhan.
Yixing meringis melihat luka di kaki Luhan yang terlihat lumayan parah, bahkan celana yang Luhan kenakan sudah sobek karna cambukan itu.
"Aku akan mengobati lukamu" Yixing mulai membersihkan luka Luhan dengan handuk yang ia celubkan pada air hangat.
Luhan dengan kuat menggigit bibinya merasakan perih yang teramat pada kakinya.
.
.
Sehun mengetuk ngtukkan jarinya di meja kerjanya dengan fikirian resah.
Sudah satu minggu sejak kejadian itu dan Luhan sama sekali menjadi tidak bisa Sehun hubungi, nomornya mati dan Luhan tidak pernah datang lagi ke toko tempatnya bekerja.
Apa Luhan pergi dengan pria itu?
Sehun menggeleng mencoba menepis pemikirannya.
Sehun menghela nafas, dengan cepat mengambil coatnya dan berlalu dari kantornya.
Tuanya adalah rumah Luhan.
.
.
Sehun mengendarai mobilnya dengan cepat, Sehun hanya ingin menagih penjelasan yang Luhan tawarkan malam itu.
Saat itu fikiran Sehun tengah kalut karna kekecewaan dan emosi yang menguasainya sehingga membuat Sehun buta dan tidak menghiraukan apapun.
Dan saat Sehun merasa sudah dalam kondisi bisa mengontrol amarahnya, Sehun berniat menemui Luhan untuk meminta kejelasan tentang siapa pria itu.
Sehun menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Luhan yang terlihat sepi, Sehun turun dari mobilnya dan memasuki area rumah Luhan.
Sehun mengetuk pintu rumah Luhan, namun tidak ada sahutan, pintunya terkunci.
Apa Luhan tengah keluar?.
Sehun menengok ke bawah saat merasa kakinya menginjak sesuatu.
Sebuah amplop.
Sehun mengambilnya dan membuka amplop itu yang berisi ijazah S1 Luhan.
Sehun menyeringit.
"Apa Luhan tidak datang di hari wisudanya?"
Sehun merasa ada yang aneh di sini, dengan cepat Sehun berlari menuju mobilnya bersiap untuk menemui Baekhyun, yang ia tahu adalah teman Luhan di toko.
.
.
Sesampainya sehun di tempat kerja Luhan, Sehun langsung menghampiri Baekhyun yang tengah memasukan roti di dalam pelastik untuk di berikan pada pembeli.
"Baek.."
Baekhyun menengok dengan mata melebar melihat Sehun berada di depannya.
"K..kau Se.. sehun?" Baekhyun berucap gagap karna merasa terkejut melihat Sehun yang memanggil namanya.
"Kau teman Luhan?" Sehun tidak menghiraukan keterkejutan Baekhyun yang hampir membuatnya seperti orang gagap.
"Ya.. a aku teman Luhan"
"Kau tahu Luhan berada di mana?"
Baekhyun sontak merasa sedih saat di tanya tentang keberadan Luhan.
"Aku tidak tahu.. terakhir dia masuk kerja adalah satu minggu lalu dan aku belum bisa menghubunginya sampai saat ini" Raut wajah baekhyun terlihat sendu.
"Shi!t" Sehun menggeram, dengan cepat Sehun kembali memasuki mobilnya.
Sehun tidak mempunyai tujuan lain, dia hanya ingin menenangkan dirinya lebih dulu sebelum memulai lagi mencari Luhannya.
-Apa pria itu benar benar membawa Luhan pergi?- Sehun bergumam dengan kesedihan dan kekesalan yang kembali ia rasakan.
.
.
Yixing menghembuskan nafasnya dengan kesal, saat lagi lagi mendapati Luhan berbaring dengan luka baru yang kali ini ia dapatkan di punggungnya.
Yixing tidak merasa kesal karna harus merawat luka Luhan dia hanya sedih melihat luka luka di tubuh Luhan yang tidak berkurang dan justru samakin bertambah.
Yixing mengambil P3K yang selalu ia sediakan dengan lengkap di kamar Luhan dan duduk di sisi Luhan yeng tengah tengkurap.
"Luka mu yang lain bahkan belum mengering dan kau sudah mendapatkan yang baru"
Luhan terkekeh mendengar gerutuan yixing,dia sudah terbiasa dengan yixing yang selalu seperti ini jika harus mengobati luka lukanya.
Yixing menuangkan alcohol pada kapas dan mulai membersihkan luka di punggung Luhan dengan hati hati.
Luhan hanya diam, Luhan bahkan sudah merasa kebal dengan rasa perih yang menjalar di tubuhnya.
"Kenapa kau selalu mendapatkan ini Luhan?" Yixing bertanya penasaran, karna Luhan tidak pernah keluar tanpa luka baru di tubuhnya setelah bertemu Kris.
"Karna aku tidak mau melayaninya dan inilah yang aku dapatkan"
Yixing menyeringit mendengar jawaban Luhan.
"Bukankah kau di sini untuk itu, jadi kenapa kau tidak mau melayani Kris?"
"Bukan aku yang menginginkan untuk berada di sini, takdir yang membawaku ke sini, sepertinya seseorang menjualku pada Kris"
Raut wajah Yixing sontak berubah sedih mendengar nasip malang Luhan.
"Kau tidak tahu siapa yang menjualmu?"
"Aku mempunyai gambaran satu seorang pria tapi aku tidak tahu siapa namanya"
Yixing menghembuskan nafasnya, merasa prihatin pada Luhan.
"Nasipmu benar benar kejam Luhan, sekarang kau harus terkurung dalam dunia palsu Kris"
Luhan menyeringit mendengar gumaman lirih Yixing.
"Dunia palsu?" Luhan merasa tidak yakin dengan apa yang ia dengar.
Yixing mengangguk.
"Kau adalah orang ke empat kris selama dua tahun ini"
"Jadi ada orang lain sebelum aku, lalu kemana mereka apa mereka sudah di bebaskan?" Luhan berharap yixing menjawab iya, karna itu artinya dia mempunyai kesempatan untuk bebas, tapi Yixing jutru menggeleng sebagai jawaban.
"Mereka semua meninggal karna di bunuh"
Tubuh Luhan sontak menegang mendengar jawaban Yixing.
"Di bunuh?" Luhan mendudukkan dirinya dan menghadap Yixing dengan tatapan tidak percaya.
"Kris Wu adalah salah satu pemilik perusahaan besar di Beijing dan image yang kris miliki di dunia luar adalah 'SI TAMPAN BERHATI MALAIKAT" Yixing mendecih saat mengatakannya.
"Mereka hanya tidak tahu betapa busuknya sifat Kris dan jika mereka semua di bebaskan dengan keadaan hidup maka tidak ada yang bisa menjamin kalau mereka akan tutup mulut, Kris akan membunuh mainannya saat sudah merasa bosan"
Yixing menggenggam tangan Luhan dan menatap mata Luhan penuh permohonan.
"Karna itulah.. turuti saja apa yang Kris mau Lu.."
Luhan mendesah.
"Bukankah dua duanya akan berakhir sama, aku akan mati di tangan Kris"
Yixing menggeleng dengan cepat.
"Kris sudah memiliki tunangan bernama Jessica dan sebenatar lagi mereka akan mengadakan pernikahan, tidak ada yang tahukan.. mungkin setelah itu Kris akan membebaskanmu"
Luhan menatap bingung pada Yixing.
"Kalau Kris sudah memiliki tunangan lalu kenapa dia seperti ini?"
Yixing mengedikan bahunya.
"Entahlah.. mungkin Kris merasa tidak puas dengan Jessica, karna itulah dia membangun tempat khusus di Nanjing untuk menyimpan kebusukannya agar tidak terendus dunia luar, Kris biasanya akan datang satu bulan satu kali untuk mengunjungi orang keduanya"
Luhan mengangguk mengerti.
"Lalu bagaimana jika Kris tidak melepaskanku?"
"Setidaknya kau bisa mengulur waktu untuk mencari cara agar bisa keluar dari sini, jika kau terus melawan mungkin Kris bisa lebih cepat membunuhmu Lu.. walaupun itu akan sangat sulit untuk keluar karna penjagaan di luar sangat ketat tapi tidak ada salahnya untuk mencoba"
Luhan tersenyum, dia sungguh beruntung bertemu orang seperti Yixing di tempat ini.
"Aku akan membawamu pergi denganku"
Yixing melebarkan bola matanya mendengar ucapan Luhan.
"Benarkah?"
Luhan mengangguk dan Yixing langsung memeluk Luhan.
"Terimakasih Lu, aku akan terus berdoa untukmu"
"Untuk kita Zhang"
Yixing terkekeh dan mengangguk.
"Ya untuk kita"
Luhan membalas peluka Yixing, dia tahu kalau Yixingpun ingin keluar dari sini.
.
.
"Sehun" Oh in hwa memasuki kamar Sehun yang terlihat mewah dan berclass.
Sehun tengah mengerjakan beberapa pekerjannya dan tidak menyahut panggilan Ibunya.
Mood Sehun sedang buruk hanya untuk sekedar bertemu seseorang.
In hwa menghampiri Sehun dan memijat pundak Sehun dengan palan.
"Kau sedang sibuk..?"
"Ya"
"Kau kenapa Sehun, beberapa hari ini moodmu terlihat buruk, apa ada masalah?" In hwa duduk di sofa yang berada di kamar Sehun.
Sehun hanya diam, dia tidak menjawab.
"Apa kau bertengkar dengan Luhan?"
Gerakan jari Sehun terhenti pada keyboard leptopnya saat mendengar nama Luhan di sebut.
In hwa tersenyum kecil tanpa Sehun ketahui.
"Kau bisa menceritakannya pada Ibu Sehun, mungkin Ibu bisa membantumu"
Sehun menoleh pada Ibunya dan menghembuskan nafasnya.
"Luhan menghilang" Sehun bergumam lirih.
"Benarkah?" In hwa menunjukan wajah penuh keterkejutannya pada Sehun.
"Kenapa bisa seperti itu Sehun? Bukankah kau bilang akan menikahinya"
Sehun mengedikkan bahunya dan mulai menceritakan dari awal pertemuannya dengan Kai.
In hwa berdiri dan memeluk Sehun dari belakang saat selesai mendengarkan cerita Sehun, In hwa mengelus rambut Sehun dengan sebuah senyuman licik tergambar di bibirnya.
"Kau harusnya lebih berhati hati dalam memilih kekasih Sehun, kau harus ingat kalau kau bukan dari kalangan biasa dan siapapun bisa membodohimu untuk mendapatkan keuntungan darimu"
Sehun terdiam mendengar ucapan Ibunya, Sehun menjadi kembali teringat dengan perkataan Kai.
Selama hampir lima tahun mengenal Luhan, Sehun tidak pernah berfikir bahwa Luhan adalah orang yang seperti Ibunya dan kai katakan.
"Sudahlah.. lupakan Luhan, dia bukan orang yang pantas untuk kau tangisi" In hwa menangkup pipi Sehun dan mengelusnya dengan penuh kasih sayang.
Sehun menatap mata Ibunya dan mengangguk dengan pelan.
"Aku akan mencoba melupakan Luhan"
-Walalupun aku tahu itu tidak akan pernah bisa aku lakukan- Sehun melanjutkan ucapannya di dalam hati.
In hwa tersenyum dan menyenderkan kepala Sehun di dadanya.
"Ibu akan membantumu untuk melupakan Luhan"
.
.
Sebuah pesta perayaan di langsungkan dengan sangat mewah, para media berkerumunan untuk meliput para tamu yang datang di malam perayaan ulanag tahun ke 30th TC'ent.
Sederet artis, actor, penyanyi dan kalangan entertainment lainnya silih berganti berjalan di red carpet yang di sediakan dan berpose di depan camera dengan pakaian terbaik yang mereka pesan pada designer terbaik korea maupun dunia.
Semua wartawan berteriak dan saling mendorong untuk mendapatkan posisi paling depan saat melihat salah satu penyanyi yang tengah tenar di Korea datang mengenakan gaun panjang berwarna gold yang memiliki belahan rendah di bagian dadanya dan aksen pernak pernik batu berlian kecil yang mengitari perutnya.
Wanita itu berpose di red carpet dengan senyum manis di depan camera yang mengabadikannya, rambutnya terkeuncir dengan begitu rapih, memamerkan leher mulusnya yang telihat polos tanpa hiasan apapun.
Wanita itu membungkuk sebagai ucapan terimakasih dan berlalu dari hadapan para media.
"ITU OH SEHUUN!" Salah seorang wartawan berteriak saat melihat Sehun dengan Oh in hwa turun dari mobil mewah mereka.
Sontak para media dengan cepat berlari mendekat untuk bisa mengambil gambar terbaik pewaris Hyundai heavy industries.
Sehun sesekali tersenyum kecil dan In hwa melambaikkan tangannya pada para media, Sehun dan In hwa berjalan menuju red carpet dengan di kawal lima bodyguard untuk menjaga mereka dari kerumunan media.
Kedatangan Oh Sehun memang sudah sangat di nantikan oleh para media yang bahkan rela menunggu dari pagi demi mendapatkan tempat yang strategis untuk meliput.
Sehun dengan long coatnya berpose di red carpet bersama Ibunya yang terlihat anggun menggunakan gaun panjang berwarna biru tua yang membentuk lekuk tubuhnya idealnya.
"Nyonya..di mana tuan oh?" Salah satu wartawan bertanya pada In hwa.
"Dia tidak bisa datang.." In hwa menjawab penuh dengan keramahan.
Sehun sedikit membungkuk dan berjalan mendahului Ibunya untuk memasuki area pesta.
In hwa tersenyum kecil pada para media melihat kelakukan Sehun yang terkesan tidak ramah dan dengan segera In hwa menyusul Sehun kedalam.
"Kau harusnya tidak seperti itu Sehun" In hwa berbisik pada Sehun.
Sehun menghentikan langkahnya dan menatap Ibunya penuh dengan tatapan jengah.
"Ibu tahu aku akan melakukan itu jadi seharusnya Ibu tidak memaksaku untuk ikut"
In hwa menghela nafasnya, merasa percuma jika berdebat dengan Sehun.
"Bibi in hwa"
In hwa menoleh saat namanya di panggil dan tersenyum ketika melihat seorang wanita mengenakan gaun berwarna gold melangkah menghampirinya.
"Soojung.. bagaimana kabarmu sayang?"
Soojung sedikit membungkuk dan balas menatap In hwa yang tersenyum padanya.
"Baik Bi.."
"Apa Ibu dan Ayahmu tidak ikut?"
Soojung menggeleng dengan senyum kecil.
"Mereka tengah berada di Jepang untuk mengurus beberapa hal"
"Ah itu sangat di sayangkan, bukankah ini waktu yang sudah di persiapkan" In hwa bergumam kecil.
Sehun menyeringit menatap kedekatan Ibunya dengan wanita di hadapannya.
Sejak kapan Ibunya berteman baik dengan wanita dan bahkan orang tua dari wanita ini?
"Kau sehun?" Soojung mengalihkan perhatiannya pada Sehun.
"Ya aku Sehun"
In hwa tersenyum lebar melihat Sehun berjabat tangan dengan Soojung.
"Aku Soojung atau orang lebih mengenalku dengan nama Krystal"
Sehun mengangguk mengangguk mengerti.
Walaupun Sehun tidak tahu siapa wanita ini tapi beberapa kali Sehun pernah mendengar namanya saat tengah menonton teve.
"Ingin minum bersamaku?" Soojung menatap penuh harap pada Sehun.
"Tentu, tentu Soojung, Sehun pasti akan senang untuk menemanimu, benarkan Sehun?" In hwa menyahut dengan nada gembira, mengabaikan Sehun yang tengah memelototkan mata padanya.
Soojung tersenyum dan tanpa segan menggenggam tangan Sehun agar mengikutinya.
In hwa melambai dengan senyum lebar pada Sehun yang hanya bisa menggerutu dalam hati.
Semua pasang mata terlihat memperhatikan Sehun dan Soojung penuh kekaguman dan rasa iri saat sehun dan Soojung berjalan melewati mereka, para wanita yang ada di pesta itu hampir semuanya mengutuk soojung dalam hati yang tengah tersenyum tersipu di samping Sehun yang hanya menatap datar pada semua orang.
.
.
Sehun dan Soojung sudah menghabiskan waktu mereka berdua untuk mengobrol dengan duduk di kursi yang sudah di siapkan.
Soojung selalu tersenyum saat melihat Sehun yang duduk di depannya, Soojong benar benar merasa sudah terjerat oleh pesona seorang Oh Sehun.
Sehun terus menundukkan kepalanya dengan memainkan minuman di dalam gelasnya, Sehun bukanlah pendominasi di sini, dia hanya berusaha menjadi pendengar yang baik untuk Soojung, dia tidak bisa menolak ajakan Soojung, mengingat Ibunya sangat dekat dengan soojung.
"Tuan Sehun dan nona Soojung anda di minta untuk ikut menghadiri pressconference di depan"
Seorang waiters datang mengalihkan perhatian Sehun dan Soojung.
Soojung mengangguk sementara Sehun merasa bingung mendengar ucapan waiters itu.
Soojung jelas wajar jika ikut menghadiri pressconference karna dia adalah penyanyi di agency ini, lalu Sehun?.
-Kenapa aku harus ikut?- Sehun bergumam dalam hati dengan kebingungan yang ada di benaknya.
"Sehun.. ayo,semua orang sudah menunggu kita"
Soojung sudah berdiri dan dengan malas Sehunpun bangkit dari kursinya.
Sehun berjalan dengan Soojung yang menggapit lengannya, sontak para wartawan yang sudah bersiap meliput berjalannya presscon mengalihkan camera mereka pada Sehun yang datang dengan Soojung di sampingnya.
Flash camera tidak ada hentinya menyoroti sehun dan Soojung sampai mereka sudah duduk di kursi yang telah di sediakan.
Sehun duduk tepat di tengah In hwa dan Soojung,dan sekarang Sehun benar benar merasa tidak mengerti dengan situasi ini.
"Apa yang akan kita lakukan di sini bu?" Sehun berbisik pada In hwa yang hanya terus tersenyum pada para media tanpa menjawabnya.
CEO dari TC'ent mulai mengucapkan beberapa sambutan dan rasa terimakasih pada para tamu dan harapan untuk TC'ent kedepannya.
Sehun mendengarkannya dengan terus menundukkan kepala, Sehun merasa benar benar ingin lari dari tempat ini.
"Dan aku sebagai CEO TC'ent yang menaungi Krystal ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting"
Semua wartawan bergemuruh merasa penasaran dengan apa yang akan di sampaikan.
Soojung tersenyum kecil dan sedikit melirik pada Sehun yang sudah menegakkan kepalanya karna cubitan dari In hwa.
"Karna orang tua Krystal tidak bisa menghadiri acara malam ini maka aku sebagai perwakilan akan memberitahukan, kalau Krystal akan segera menikah dengan Oh Sehun, putra dari pemilik Hyundai heavy industries"
Sontak para wartawan menjadi semakin bergemuruh karna mendengar berita yang tidak pernah mereka duga.
Sehun mendelik mendengar berita yang Tuan Cha umumkan, Sehun dengan segera ingin berdiri untuk membantah, tapi In hwa menarik tangannya untuk kembali duduk di tempatnya.
"Ibu akan menjelaskannya nanti" In hwa berbisik pada Sehun yang hanya terteguh di tempatnya.
Menikah? Satu kata it uterus berputar dalam benak Sehun.
"Lalu apa anda akan berhenti dari dunia hiburan? Karir nona Krystal tengah melejit, jadi apa yang membuatmu yakin untuk menikah dengan Tuan Sehun" Salah seorang wartawan mengajukkan pertanyan.
"Aku akan tetap ada di dunia hiburan jika itu memungkinkan dan Sehun memberiku izin dan apa yang membuatku yakin untuk menikah dengan Sehun adalah.. karna aku mencintai Sehun" Soojung menjawabnya dengan penuh keyakinan.
"Selama ini hubungan kalian tidak pernah tercium media, jadi sejak kapan kalian saling mengenal?" Wartawan lain bertanya.
Nyonya oh dengan cepat mengambil micnya untuk menjawab pertanyaan yang sebenarnya di tujukan untuk Sehun dan Krystal.
"Mereka sudah cukup lama saling mengenal dan berhubungan, hanya saja memang mereka menjalinnya dengan diam diam" In hwa tersenyum lebar pada camera media yang terfokus padanya.
Sehun mendengus dan menundukan wajahnya, Sehun tidak ingin wajah emosinya tersorot camera saat mendengar Ibunya mengatakan kepalsuan di depan dunia.
"Apa Tuan Oh tahu tentang ini?"
"Tentu dia tahu, dia bahkan sudah tidak sabar untuk menyaksikan pernikahan Sehun dan Krystal"
"Kapan pernikahan ini akan di adakan?"
"Secepatnya.." Krystal menjawab dengan sebuah senyuman yang di angguki oleh In hwa.
"Ya.. secepatnya"
"Tuan Sehun.. apa ada yang ingin anda sampaikan?"
Senyuman In hwa dan Krystal sontak lenyap, In hwa merasa wanti wanti dengan apa yang akan Sehun lakukan.
"Jaga kelakuanmu Sehun.." In hwa berbisik.
Sehun menarik nafasnya dengan kuat untuk meredam emosinya dan dengan sebuah senyuman palsu Sehun menatap para media.
"Hanya berikan doa yang terbaik untuk kami, terimakasih" Sehun berdiri dan sedikit membungkuk, sebelum akhirnya pergi dari tempat itu.
.
.
Sehun melemparkan coatnya begitu ia sampai di kamarnya, Sehun benar benar tidak menyangka dengan apa yang baru dia lalui.
Nafas Sehun masih tersengal sengal karna emosi yang ia tahan.
"Sehuun" In hwa memasuki kamar Sehun.
Sehun berbalik untuk menatap Ibunya.
"Ibu fikir apa yang sudah Ibu lakukan!" Nada bicara Sehun meninggi, Sehun benar benar merasa kesal dengan apa yang sudah terjadi.
"Ibu hanya ingin membantumu melupakan Luhan" In hwa mendekat dan memberi tatapan memohon pada Sehun.
"Tapi bukan seperti ini Bu.. aku bisa mengatasi masalahku sendiri jadi ibu tidak perlu mencampuri hidupku" Sehun membalikkan tubuhnya, membelakangi in hwa.
"Ini bahkan baru satu bulan sejak Luhan menghilang dan aku tidak akan pernah melakukan pernikahan itu!" Sehun mengepalkan tangannya dan besiap memasuki kamar mandi untuk menjernihkan fikirannya.
"Lakukan itu Sehun!" Suara ketus In hwa terdengar membuat langkah Sehun terhenti.
"Lakukan itu dan buatlah nama OH IN HWA menjadi tercoreng di mata dunia!"
In hwa berjalan dan berdiri di hadapan Sehun dengan tatapan tajamnya.
"Bukan hanya itu! Kau bahkan akan membuat nama besar OH mejadi bahan tertawaan di kalangan masyarakat, ingat Sehun! Berapa juta nasib orang yang akan terkena imbas dari setiap hal yang kau lakukan!"
Sehun mengaplkan tangannya dengan kuat mendengar apa yang In hwa katakan.
"Kau hidup bukan hanya untuk dirimu dan keluarga oh! Tapi kau hidup untuk berjuta juta nyawa lainya yang berada di bawah sayap Hyundai! Krystal memiliki popularitas yang bagus, dia cantik dan banyak di puja oleh masyarakat karna kebaikkannya,dan hanya orang seperti itu yang pantas bersanding dengan OH SEHUN.. PUTRA PEWARIS HYUNDAI HEAVY INDUSTRIES!" In hwa merasakan emosi yang tidak kalah besarnya dengan Sehun.
In hwa benar benar tidak menyangka Sehun bisa menjadi pria berotak dangkal Hanya karna si miskin Luhan.
"Dan apa kau akan terus menangisi lelaki itu yang sudah jelas jelas meninggalkan mu dengan pria lain?"
Sehun mendelik, dia jelas tahu siapa lelaki yang Ibunya maksud.
In hwa menarik nafasnya untuk menetralkan emosinya dan kembali memandang Sehun penuh dengan kasih sayang.
"Ibu tidak akan menganggap obrolan ini terjadi di antara kita, Ibu akan tetap menyiapkan pernikahan untukmmu dan Krystal" In hwa menggenggam tangan Sehun yang masih terkepal kuat dan perlahan membuka kepalan tangan Sehun, In hwa jelas tahu Sehun tengah berusaha meredam emosinya.
"Ibu tidak akan memberitahu hal ini pada Ayahmu.. jadi jangan kecewakan ibu sehun" In hwa memeluk sehun dan menepuk punggung sehun dengan pelan.
"Ibu mohon.. turuti apa yang ibu katakana jika kau masih ingin melihat ibu tersenyum"
Sehun mengusap wajahnya dengan kasar, sehun benar benar merasa frustasi saat ini.
Sehun bukanlah type anak penduharka, dia sangat menyayangi orang tuanya dan sangat lemah jika harus menghadapi ibunya seperti saat ini.
"Ibu menyayangimu sehun, kau adalah yang paling berharga untuk ibu"
Sehun menghela nafasnya dengan pasrah.
"Aku akan mencobanya bu" Sehun berbisik dan membalas pelukan in hwa.
In hwa tersenyum lebar, dia tahu sehun akan mudah dia luluhkan.
"Terimakasih sehun, pernikahanmu akan di adakan minggu depan"
Dengan lemah sehun mengangguk.
-Semuanya akan berubah ;uhan- sehun bergumam lirih dalam hati.
Hatinya benar benar terasa sesak, tapi Sehun tidak memiliki pilihan bukan?
Karna pilihannya sudah pergi meninggalkan dirinya.
-Aku merindukanmu luhan- Sehun memejamkan matanya dan mengeratkan pelukannya pada in hwa.
.
.
.
.
.
.
To be continue..
Loha loha..ga nyangka chap pertama kemarin bisa tembus sampai 30 review! Dan sesuai janji aku bawa chap dua untuk kalian..aku happy banget,MOODku langsung melonjak tinggi baca review kalian,dan di sini ada dua readers yang udah nebak nebak buah manggis jalan cerita ini,biar aku jawab beberapa review kalian^^
Lullaby : kamu Tanya luhan jadi macam pemuwas nafsu,dan kejawabkan di sini..dan kamu salah satu readers yang udah nebaknya tepat,kita satu pemikiran :*
Bambii : reviemu dua kali,bikin aku terhura..thanks ya udah baca FFku..
Ohse : buat KaiLu ada apa engganya liat nanti ya,itu masih rahasia perusahaan(?)
Guest : endingnya happy kah HunHan kah itu aku belum tahu..karna ni FF kan baru mulai..makasih ya kamu juga salah satu yang selalu ada di FFku.
thehunLuhanYehet : iya sehun di jodohin,kamu juga salah satu yang tebakannya jitu! jadi nikah apa engganya liat di next chap ya.
Cho ri rin : mau aku kasih nafas buatan ga biar bisa nafas hahaha..kai jahat kan tapi bakal berubah jadi baik atau engga liat di nanti ya..
Novey : jangan cepat terungkaplah,nanti tamat dong hehehe
Gyn125 : selamat datang..terimakasih ya udah review dan baca FFku ^^
Pokoknya I love you buat kalian,aku baca ko semua review kalian,buat yang baru baca FFku welcome makasih ya udah mau baca FFku,dan untuk yang udah ada dari jaman FF You got me,oh! Terimakasih banget udah tetep baca ngikutin dan review FFku..
THANKS pokoknya untuk yang udah review fol/fav ni FF,aku tunggu reviewnya untuk chap ini,semoga kalian yang udah review,review lagi ya..pai pai di next chap!
