Pain of Love

Romance, Drama

Naruto x Hinata

Bunga sakura gugur berjatuhan dengan indahnya, membuat seluruh jalanan yang dilewati berubah warna menjadi pink kemerahan. Seorang gadis bersurai indigo panjang berjalan melewati jalanan tersebut dengan senyum merekah di wajahnya.

Musim semi merupakan satu - satunya musim yang paling diidamkan oleh sang gadis, karena baginya sesuatu yang baik pasti akan terjadi tepat pada setiap musim semi dalam kehidupannya.

"Ne, Naruto kun coba lihat ini." ujarnya ceria sambil menunjukkan sebuah cincin emas yang bertahtahkan batu blue topaz; batu permata kelahirannya pada jari manisnya.

Sementara yang ditanya hanya tersenyum kecut. Pemuda itu enggan untuk menatap cincin itu lebih lama. Tangan kanannya yang merogoh kantong celananya tertahan, menggenggam sebuah kotak yang berisi cincin yang sama persis dengan yang dikenakan oleh sang gadis pujaannya.

"Naruto kun?" tanya sang gadis kembali saat melihat tak ada respon dari sahabatnya.

"Ya, cincin itu sangat cocok berada di jarimu Hinata." ujar Naruto dengan senyuman yang sangat dipaksakan. Hati pemuda itu hancur, namun Ia tak dapat berbuat apa - apa.

...

"Keadaan Hinata sudah mulai stabil. Hanya saja, Ia hampir kehilangan bayi kalian. Tampaknya Ia mengalami tekanan yang cukup berat." ujar Sakura; dokter pribadi, pemilik rumah sakit ternama di kota Tokyo, sekaligus sahabat Naruto dan Hinata dari kecil.

"Begitu, syukurlah." ucap Naruto lega.

"Apa ada sesuatu yang terjadi?" Naruto menggeleng lemah, Ia tak ingin semua orang tahu perihal masalahnya dengan sang istri.

Tentang bagaimana istrinya memperlakukannya dengan dingin, tentang bagaimana istrinya berulang kali melakukan percobaan pembunuhan terhadap bayinya yang belum lahir.

"Hah, baiklah jika kau tak ingin membicarakannya. Namun bisakah kau lebih memperhatikan kondisi istrimu? Dia dalam masa kehamilan yang sangat rawan dan rentan untuk keguguran."

"Aku berusaha Sakura chan. Aku berusaha." ujar Naruto lirih.

Pria itu sudah melakukan hampir segala cara untuk memperhatikan Hinata, mengajarkan pada wanita itu tentang bagaimana Ia harus menjaga kesehatan bayinya. Namun sikap Hinata yang keras membuat Naruto tak mampu berbuat banyak, apalagi Ia tak sanggup untuk memonitor Hinata selama dua puluh empat jam penuh mengingat tanggung jawabnya sebagai seorang Presdir.

Ia tak mungkin melalaikan perusahaannya. Tapi Ia juga tidak ingin sang istri terus menerus hidup dalam kondisi yang menyedihkan. Memang semua itu adalah kesalahannya, semua ini terjadi atas dasar keegoisannya.

Tapi, tak bisakah kau berikan kesempatan padaku untuk menebusnya, Hinata?

Melihat ekspresi kegalauan sahabat pirangnya saat ini, tanpa diberitahu pun Sakura sudah mengetahui bahwa ada suatu kejadian yang tidak beres yang terjadi pada kedua sahabatnya.

Sakura menepuk pundak Naruto tanpa mengatakan apapun. Wanita bersurai permen karet itu hanya mampu memberikan dukungan tanpa mampu membantu apa - apa. Lagipula Naruto juga sudah dewasa, wanita itu percaya bahwa Naruto akan bertanggung jawab apapun yang terjadi kelak.

"Aku akan kembali ke ruanganku, beristirahatlah." ujar Sakura seraya meninggalkan Naruto dan Hinata sendirian dalam kamar mereka.

"Hm, Arigatou Sakura chan."

...

Naruto menatap wajah Hinata yang terbaring lemah dengan intens, tatapan matanya memandang nanar wajah sang kekasih yang tampak begitu pucat. Sesekali pria itu mengibas poni Hinata yang menutupi dahinya, mengecup keningnya lembut dan menyisir surai indigo wanita itu dengan jari - jarinya.

"Apakah begitu sulit bagimu untuk mencintaiku, Hime?" lirih Naruto. Nadanya terdengar begitu pilu. Memang semua itu salahnya, keegoisannya yang telah menghancurkan masa depan Hinata.

"Aku begitu menginginkanmu sehingga tanpa sadar aku justru menghancurkanmu. Maafkan aku Hinata, maafkan aku." sesal Naruto.

Namun nasi telah menjadi bubur, percuma saja menyesal jika kau tak mampu memutar balik waktu dan mengubah kejadian apapun.

Tangan kanan Naruto menggenggam tangan sang istri dengan erat sambil terus membisikan kata maaf. Pria itu tak menyadari bahwa sedari tadi sang istri mendengar seluruh perkataannya, ucapannya, penyesalannya.

Hinata memejamkan matanya semakin erat, meredam air matanya sebisa mungkin agar tidak terjatuh. Ya, wanita itu sudah sadar namun Ia tak ingin Naruto mengetahui bahwa dirinya telah mendengar seluruh ucapan pria itu.

Hinata menegarkan hatinya kembali. Tak ingin terlihat dan terdengar lemah, tak ingin kalah dari rasa yang menyiksa batinnya agar memaafkan pria bejat yang telah menghancurkan hidup dan masa depannya.

Ingatan wanita itu berputar, kembali pada masa lalunya. Masa kecilnya yang bahagia, saat - saat indahnya bersama Naruto, waktu di mana Naruto selalu melindunginya.

"Hinata, aku akan selalu jadi malaikat pelindungmu."

Saat itu terasa begitu membahagiakan. Wajah Naruto terlihat begitu cerah bagaikan matahari yang selalu menerangi hidupnya. Naruto selalu ada untuknya, di saat suka maupun duka. Naruto selalu melindunginya, baik dari lelaki brengsek yang hanya mengincar tubuhnya maupun dari gadis - gadis iri yang terkadang membuli dirinya.

Naruto adalah malaikat pelindungnya. Satu - satunya orang yang dianggap lebih dekat daripada keluarganya sendiri. Satu - satunya pria yang Ia percaya tak akan mampu menyakiti dirinya bahkan hanya seujung kuku pun. Namun bayangan itu sirna tepat di malam dua hari setelah pertunangannya dengan Toneri.

Merayakan pesta pertunangannya, Hinata mengundang seluruh teman - teman lama mereka untuk berpesta di sebuah bar tak jauh dari rumahnya di pusat perbelanjaan terbesar di Shibuya.

Malam itu harusnya menjadi malam reuni sekakigus malam yang membahagiakan bagi Hinata. Mempunyai tunangan yang baik dan pengertian serta mampu meraih cita - citanya di usia yang tergolong cukup muda, hidup Hinata mendekati kata sempurna.

Namun semuanya berubah, di kala acara yang menyenangkan itu sudah mulai selesai. Hinata menawarkan diri untuk mengantarkan Naruto yang terbilang cukup mabuk. Keputusan yang membawanya pada penyesalan terbesar semasa hidupnya.

- Flashback -

"Apa tidak apa - apa, Hinata? Aku dan Sasuke kun bisa mengantar Naruto pulang." ujar Sakura saat melihat kondisi sahabat pirangnya yang tak begitu baik.

"Aku tidak apa - apa Sakura chan, lagipula rumah kami berdua cukup dekat. Lebih baik kau dan Sasuke kun cepat pulang. Ini sudah dini hari, kalian pasti lelah." jawab Hinata.

"Baiklah kalau begitu. Jangan lupa hubungi aku jika kalian sudah sampai di rumah." Sakura melambaikan tangannya, Ia menatap Hinata cemas. Pasalnya kondisi Hinata pun tak jauh berbeda dari Naruto.

Gadis itu lumayan cukup meminum banyak botor bir hanya saja Ia meyakinkan pada teman - temannya bahwa Ia adalah gadis yang kuat minum.

"Jaa Sakura chan, Sasuke kun." pamit Hinata. Gadis itu segera menaiki mobilnya setelah sebelumnya mendudukkan Naruto pada kursi penumpang di sebelahnya.

Lima belas menit perjalanan dan semua tampak baik - baik saja. Sebelum Naruto mendadak terbangun, memegangi kepalanya yang pusing dan menatap wajah Hinata yang berada di sebelahnya dengan intens.

"Hi.. Na.. Ta?" gumamnya lirih.

"Ah, kau sudah sadar Naruto kun. Sebentar lagi kita akan sam - " ucapan Hinata terputus saat merasakan kepala Naruto bersandar pada dadanya. Ya, lelaki itu merangkul tubuh Hinata dan menempelkan kepalanya pada dada Hinata, membuat sang gadis merasa agak risih.

Meskipun mereka dekat, tetapi jangan lupakan fakta bahwa mereka adalah dua pribadi berbeda jenis kelamin. Laki - laki dan perempuan. Bagaimana pun ini terlihat tidak begitu normal dan nyaman.

"Naruto kun? Bisa tolong lepaskan aku?" pinta Hinata.

"Hentikan mobil ini."

"A.. Apa?"

"Kubilang hentikan mobilnya, Hinata!" bentakan Naruto membuat Hinata sedikit terkejut. Gadis itu menghentikan mobilnya tepat di pinggir jalanan yang sepi. Ia kemudian melepaskan tangan Naruto dari pundaknya.

"Aku mencintaimu."

"Apa?" Hinata sedikit terkejut mendengar pernyataan Naruto. Cinta, tak pernah terbesit sedikit pun perasaan seperti itu pada sahabat masa kecilnya. Dan Ia juga begitu yakin Naruto hanya mabuk. Mereka sudah seperti keluarga.

"Kau mabuk Naruto kun." ujar Hinata setengah tertawa.

"Kenapa harus dia Hinata? Kenapa harus Toneri yang kau pilih?! Kenapa kau tidak memilihku?" Naruto menarik tangan Hinata kasar, membuat gadis itu memekik kesakitan akibat ulah kasar Naruto.

"Hentikan Naruto! Kau membuatku takut! Kau hanya mabuk! Lebih baik kita cepat kembali ke ru - Mpph." ucapan Hinata lagi - lagi terputus saat Naruto membungkam bibir peach itu secara brutal.

Mengobrak - abrik bagian dalam mulut Hinata, memainkan lidah dan mengabsen setiap deret bagian gigi Hinata. Ciuman yang harusnya hanya menjadi milik dari calon suami masa depannya, Toneri.

"Hinata, ngh. Aku mencintaimu." nafsunya membuncah, Naruto melepas pakaiannya sendiri, tak lupa Ia menurunkan resleting celananya, menampilkan benda kebanggaannya yang telah berdiri sempurna hanya dengan mencium bibir sang gadis pujaan.

Sementara Hinata masih bereteriak ketakutan, Ia berusaha meronta dan melawan saat tangan Naruto merobek gaunnya kasar.

"Hentikan! Kumohon hentikan Naruto kun! Jangan!" Hinata memberontak tak kalah kuatnya namun bukannya berhenti, tubuh Naruto justru semakin terangsang. Dengan tenaga yang lebih kuat, lelaki itu mendorong kursi kemudi Hinata ke belakang, Ia kemudian berpindah ke atas paha Hinata mengunci kedua tangan dan mengapit kedua kakinya.

"Akan kujadikan kau milikku selamanya Hime. Tak akan kubiarkan tunangan brengsekmu itu menyetuh setiap inchi dari tubuh indahmu." ujarnya dengan seringaian licik pada wajahnya.

Dengan perlahan pria itu menggesekkan ujung penisnya pada bibir vagina Hinata dan tanpa aba - aba maupun pelumas dan pemanasan, pria itu menyodokkan penisnya dengan kasar. Membuat Hinata berteriak kesakitan namun tak mampu meloloskan rasa sakitnya karena dengan sigap mulutnya ditutup oleh Naruto.

Nafasnya sesak, tusukan demi tusukan yang dilancarkan Naruto kepadanya membuat tubuh gadis itu hilang kendali. Rasa shock dan trauma serta rasa lelah yang dialaminya membuat matanya memburam. Tak hanya tertutup oleh genangan air mata, namun juga karena otaknya memaksa pikirannya untuk segera terlelap.

Agar tak lagi merasakan rasa sakit dan jijik serta penghinaan yang dilayangkan oleh sang malaikat pelindung kepadanya.

...

"Tidak! Hentikan! Hentikan Naruto!" Hinata terbangun, wanita itu memegang kepalanya, memjambak surai indigonya kasar. Ingatannya telah memutar kenangan buruk itu terlalu jauh. Membangkitkan rasa takit dan trauma yang masih belum hilang sepenuhnya dalam diri Hinata.

"Hinata? Apa yang terjadi? Tenanglah Hinata!" Naruto yang tengah berjaga tepat di samping Hinata pun sedikit tersentak mendengar teriakan histeris sang istri. Bagaimana tidak? Istrinya meraung dan menangis, berteriak - teriak bagai orang yang sedang kerasukan.

"Hinata - " Naruto memegang pundak sang istri, hanya untuk sekedar menenangkan sang istri yang masih berteriak histeris namun tangannya ditepis oleh Hinata dengan kuat.

"Jangan sentuh aku." ujarnya dengan tatapan sinis pada sang suami. Usahanya demi berbaikan dengan suaminya kini tertunda dan terasa sia - sia akibat memori masa lalu yang mendadak bangkit menghantui pikirannya.

Di mana dirinya diperkosa secara brutal bagai binatang. Bagaikan domba yang tengah digeret ke tempat penjagalan. Tubuhnya digerayangi dengan kasar, tak ada cinta, hanya hawa nafsu yang menjijikkan dan memuakkan.

Naruto menatap sang istri dengan tatapan cemas, Ia tak tahu apa yang tengah merasuki sang istri sehingga membuat wanita itu tampak begitu kesal dan marah.

"Hinata, jangan seperti ini. Kondisi ini tak baik bagi janinmu. Calon anak kita hampir celaka akibat menanggung beban pikiran Ibunya. Apa kau tidak kasihan padanya?" ujar Naruto berusaha menerangkan dengan lembut.

"Aku tidak peduli. Biar saja dia mati, toh dari awal tidak pernah ada yang menginginkannya." jawab Hinata ketus.

"Apa maksudmu Hinata? Aku menginginkannya, dia darah dagingku."

"Khe, apa kau lupa bagaimana awalnya dia bisa sampai ada di sini, Uzumaki Naruto? Kau tak ingat malam dingin di mana kau memperlakukanku bagai binatang? Atas dasar apa kau memperkosaku? Cinta? Aku meragukan hal itu. Anak ini hanyalah hasil pemuasan nafsu menjijikkanmu itu dan aku hanyalah wadah untuk menampung anak haram ini!" Wanita itu menaikkan nada suaranya menjadi lebih tinggi.

Tak mampu meredam air matanya. Terbesit sedikit rasa penyesalan akibat kata - katanya yang terdengar cukup kasar. Ini sangat berbanding terbalik dengan sifat aslinya yang lemah lembut dan penyayang. Ya, salahkan Naruto; pria di balik semua insiden buruk yang menimpa dirinya.

"Lantas, apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku Hinata?" suara Naruto melemah, pria itu menatap mata Hinata dengan tatapan penuh kasih. Tanda bahwa Ia mengatakan semua itu dengan tulus.

Hinata terdiam sesaat, berpikir tentang apa yang Ia inginkan dari suaminya. Sebuah senyuman kemudian tercetak pada wajah manisnya.

"Jika kau merasa begitu bersalah, Naruto kun. Kau bisa melakukan satu hal untukku."

"Ceraikan aku."

.

Tbc