AN/ Terima kasih untuk responnya dan sorry for long waiting.

DcherryBlue, Guest elfitri, izumi,ZIKHO,aL, alexis, Andreanibebe, Guest, Kya Potter: akhirnya ini update

Nay: baca chapter ini

Swift: terima kasih

A New Chapter

Harry Potter belong to JK ROWLING

Chapter 2.

Hermione menatap wajahnya di cermin. Dia hampir tidak mengenali dirinya sendiri di cermin. Wajahnya tampak cantik sekali, bahkan dia tidak menyangka setelah melahirkan dua anak dia masih bisa memakai baju pengantin itu. Dia tidak begitu ingat selalu merawat diri, dia cukup berterima kasih karena menjadi Healer membuat tubuhnya tetap terjaga, bagaimanapun dia adalah wanita ingin terlihat cantik.

Bajunya yang putih keperakan sangat kontras dengan kulitnya yang putih, tapi dia yakin akan sangat bagus jika bersanding dengan draco yang pucat. Hermione teringat ketika dia menikah dengan Theo, tidak banyak tamu yang datang hanya beberapa kenalan di universitas dan kolegan Theo. Upacaranya cukup sederhana, bahkan mereka menikah di gereja muggle. Pernikahan mereka bukan pernikahan sihir, bukan pernikahan yang akan dia lakukan bersama Draco.

Alexander menatapnya dengan pandangan yang sedikit berbeda. Hermione memiringkan kepalanya sehingga mereka bisa saling menatap.

"Kau cantik, mummy," kata Alexander.

"Kau yakin?" tanya Hermione berjalan menghampiri putrannya dan berjongkok untuk agar sejajar dengan Alexander.

Alexander. "Sangat cantik."

"Terima kasih, aku yakin. Lalu kenapa kau tidak terlihat senang?" tanya Hermione

Alexander memberengut. "Kenapa kau berdandan? Biasanya kau akan berdandan jika aku yang memintanya?" tanya Alexander.

"Hem, karena aku akan menikah. Wanita yang akan menikah harus berdandan dengan cantik," kata Hermione menjelaskan.

"Tapi kau sangat cantik. Jauh lebih cantik dari pada biasanya kau berdandan," kata Alexander merengut.

"Ya suatu saat nanti ketika kau menikahi seorang wanita, dia akan berdandan sangat cantik untukmu," kata Hermione.

"Jadi kau berdandan sangat cantik karena papa?" tanya Alexander, tapi Hermione mengenali nada suara itu. Putranya merasa cemburu.

Hermione menggeleng.

"Aku berdandan sangat cantik, untukmu juga untuk louise. Supaya jika fotoku masuk ke koran, kalian tidak malu, karena aku terlihat cantik," kata Hermione.

"Benarkah?" tanya Alexander bingung.

Hermione mengangguk. Alexander ikut mengangguk.

"Mummy, kenapa Daddy tidak pulang? Apa kita akan terus menginap di rumah ini?" tanya Alexander.

Hermione menahan nafas, dia akan menangis melihatnya.

"Daddy tidak akan pulang, dia sudah berada tempat yang indah. Dekat dengan tuhan," kata Hermione lembut mengusap rambut putranya.

"dimana? Kenapa kita tidak ke sana juga? Kenapa Daddy pergi ke sana?" Tanya Alexander. Hermione mengerti walaupun keberadaan Draco menutupi lubang yang ditinggalkan Theo, tapi Theo tetaplah ayah yang membesarkan anak-anaknya.

"Di sana adalah tempat yang indah sekali. Jika kita sudah ke sana, maka kita tidak bisa kembali. Tapi tidak sembarangan orang bisa ke sana. Kita perlu mendapatkan tiketnya terlebih dahulu. Dan Alexander juga mummy belum mendapatkannya," kata Hermione mencoba menjelaskan.

"Dan Daddy sudah?" tanya Alexander.

Hermione mengangguk.

"Aku tidak ingin ke sana," kata Alexander. "Aku tidak ingin meninggalkanmu. Dan kau juga jangan pergi ke sana Mummy."

"Bagaimana jika tiketnya datang?" tanya Hermione.

"Kita akan pergi bersama-sama. Aku tidak ingin pergi tanpamu, juga louise, jenna," kata Alexander. "dan Papa," kata Alexander kemudian.

Hermione agak terkejut mendengarnya. Begitu cepat Alexander dekat dengan Draco kadang membuatnya takut.

"Jadi kau dan Papa sangat baik?" tanya Hermione.

Alexander mengangguk. "Yep, dia teman baikku. Dia pintar menggambar, dia bisa bermain bola, dan dia suka MU," kata Alexander ceria.

Hermione tertawa kecil. Satu hal yang tidak bisa diubah dari seorang Malfoy adalah cara mereka memikat wanita. Bahkan Hermione yakin bahwa walaupun Alexander masih kecil tapi dia berbakat alam memikat wanita. Jauh berbeda dengan Louise, walaupun putranya sama manisnya, tapi louise tidak dengan cepat menarik hati. Kau perlu mengenalnya, dia kemudian akan terbuka dan baru kau akan menyukainya. Teman-temanya bisa menjadi saksi.

"Herrmione kau siap?" tanya Harry

Hermione mengangguk dan mengandeng Alexander.

.

.

Kemeriahan pesta perkawinan mereka tidaklah semeriah hati mereka masing-masing. Draco menatap istrinya yang memberikan senyum terpaksa. Draco merasa bersalah karena ternyata pernikahan mereka tidak sesederhana yang di inginkan Hermione.

Upacara pernikahan mereka sangat elegan dan cantik. Hermione terlihat sangat cantik dalam gaunnya. Rambutnya terurai menampilkan gelombang cantik. Draco bahkan tidak pernah menyadari bahwa Hermione begitu sangat cantik. Draco tau bahwa Hermione cantik, tapi dia tidak pernah mengira bahwa bisa secantik ini. Atau mungkin karena bukan itu yang membuat Draco mencintai Hermione. Mereka hanya berdansa satu kali sebagai formalitas, karena setelah itu Hermione meminta untuk duduk. Dan di sinilah mereka sekarang, hampir dua jam duduk dalam diam, memberi senyum pada tamu yang menghampiri dan memberikan selamat.

Perlahan Draco menarik tangan Hermione dan mengenggamnya. Wanita itu protes namun Draco tidak melepaskannya, yang kemudian membuat wanita itu menengadah kepadanya.

"Bisakah kau lepaskan!" kata Hermione tegas.

Draco menggeleng. "Tidak akan pernah," kata Draco keras kepala. Dia malah mengumam mengikuti irama lagu dan semakin mengeratkan tangannya.

"Kau menyebalkan," kata Hermione.

"I love you too," jawab Draco. Draco tau bahwa Hermione sedang memandangnya, mungkin terpukau. Dia tidak yakin pada dirinya sendiri apakah dia pernah mengatakan mencintai Hermione sebelumnya.

"Draco, selamat atas pernikahnmu," kata Daphne menghampiri mereka, dan kemudian memberikan ciuman pipi kiri dan kanan.

"Terima kasih, daphne," jawab Draco. Daphne sudah dia anggap adik sendiri, bahkan hubungan mereka tidak terganggu dengan kejadian sebelumnya. Daphne sama kehilangan Theo, tapi dia masih punya hati untuk mengambil pengasuhan Louise.

"Selamat, mate," kata Blaise. Draco hanya mengangguk dan memberikan pelukkan singkat.

"Selamat Granger," kata Daphne membeerikan senyum, namun Hermione hanya memberinya senyum tipis yang dipaksakan.

Melihat itu Draco mencoba mencairkan suasana. "terima kasih sudah datang, aku tau kalian sibuk dan undangannya mendadak," kata Draco.

"Tenang mate, tentu kami akan datang. Terutama aku ingin melihat Mrs. Malfoy yang baru, bukan begitu Granger?" tanya Blaise.

"Tentu, Zabini," kata Hermione dinggin.

"Katakan padaku Granger. Apa kau begitu maniak pada darah murni? Setelah Theo kemudian Draco?" tanya Blaise mengejek.

Sebelum hermione sempat menjawab, Draco dengan dinggin berkata.

"Sekali lagi kau menghina istriku, aku tidak akan segan-segan menghabisimu, Blaise."

"Tenang mat, aku hany-"

"Kau sudah kuperingatkan," kata Draco mengeretak. Draco merasakan bahwa tanggan Hermione sedikit menariknya. Blaise menganggukkan kepala sedikit, kemudian mengajak Daphne meninggalkan pasangan pengantin itu.

"Apa maksudnya itu?" tanya Hermione berbisik.

Draco melotot tak percaya. "Kau istriku, Hermione. Sudah tugasku untuk menjagamu, termasuk dari hinaan orang-"

Hermione tertawa mengejek, "Kau yakin, tidak terlambat?"

Draco menahan amarahnya, mungkin sekarang dia sudah menjadi orang suci karena terlalu sering menahan amarah. "Hermione, aku minta maaf. Dengan apa yang aku lakukan dulu. Aku berjanji padamu, bukan? Aku tidak akan menyakitimu lagi. Aku minta maaf karena aku terlambat, tapi beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku sungguh-sungguh."

Hermione menatapnya tidak nyaman. Draco menangkup kedua pipi Hermione dan memijatnya sedikit dan berbisik "Walaupun kau sudah mengatakan bahwa kau mencintai Theo, tapi aku yakin kau masih mencintaiku. aku berjanji padamu aku tidak akan memaksamu, tapi aku akan, sedikit demi sedikit aku akan mengumpulkannya lagi."

Hermione membalasnya dengan senyum menyeringai melepaskan tangan Draco dari pipinya, "Kau harus sangat bersabar."

Mata Hermione mengatakan bahwa dia tidak setuju dengan Draco. Mata itu berusaha untuk menolaknya. Draco mengerti bahwa jalannya masih sangat panjang untuk mendapatkan hati Hermione kembali, tapi dia yakin Hermione masih mencintainya.

"Darling," panggil Narcissa dan Jenna menghampiri mereka. "Darling, sudah waktunya kalian mengucapkan selamat tinggal pada tamu-tamu. Dan setelah para tamu pergi, kalian bisa ke ruangan kerja Lucius. Satu lagi tradisi keluarga yang perlu kalian lakukan," kata Narcissa lembut.

"Baiklah, Mother."

Setelah menutup acara dan semua undangan pergi, tentu setelah memastikan Alexander dan Louise sudah tidur di kamar mereka. Keduanya tampak lelah dengan banyaknya orang yang hadir dan tidak biasa berada pada keramaian. Draco membawa Hermione ke ruang kerja ayahnya, mungkin hanya perasaaannya saja, tapi Draco merasa bahwa ada yang berbeda dari ruang kerja ayahnya yang biasa. Auranya terasa berbeda.

"Mother? Ada apa ini?" Tanya Draco penasaran.

Lucius dan Narcissa sudah berada di ruangan itu menunggu mereka. Narcissa tersenyum menyambut mereka, sedangkan Lucius tampak dingin seperti biasa. Hermione bergidik di sampingnya, tapi penuh tekad, yang Draco tidak mengerti kenapa wanita itu memasang ekspresi seperti itu. Draco mengikuti arah pandang Hermione, di atas meja di belakang punggung ayahnya. Ada kuali kecil di atas tungku yang masih menyala dan asap mengepul di atasnya.

"Bukan apa-apa, Son. Ini hanya tradisi yang biasa di lakukan oleh pengantin baru Malfoy. Ini ramuan yang diberikan secara turun-temurun. Kalian hanya perlu memberikan darah kalian ke kuali itu dan ramuannya akan sempurna setelah itu kalian bisa meminumnya, cukup setetes," jawab Narcissa.

"Dan itu ramuan apa?" Tanya Draco, alis nya naik tidak percaya.

"Ramuan untuk kesuburan dan kesehatan. Tradisi terus menurun, cepat berikan darah kalian dan selesaikan segera. Kalian pasti tidak sabar melanjutkan malam pengantin kalian," kata Lucius menyeringai.

Draco merasa wajahnya panas. Dengan enggan dia menggoreskan tongkat sihir ke jarinya untuk mengambil darah dan memasukkannya ke dalam kuali. Asap biru mengepul setelah darah itu masuk ke dalamnya. Draco menengok kepada Hermione, memberinya kesempatan untuk memasukkan darahnya.

"Hermione," panggil Draco pelan. Tapi Draco merasa ragu ketika wanita itu menatapnya dengan mata yang menyala. Apa yang salah? Apakah Hermione menolak melakukan tradisi ini? Ini bukan sebuah hal yang besar, bukan begitu?

Hermione memandang pada Lucius dingin.

"Kesuburan? Kesehatan?" tanyanya lirih. Kemudian Hermione berpaling pada Narcissa. "Berapa kali kau mengalami keguguran, Narcissa? Apakah itu kesuburan yang dibutuhkan? Dan apakah kau semakin sehat setelah itu? Tidak juga. Kenapa aku harus melakukannya?" Tanya Hermione.

Draco menarik tangan Hermione membuat wanita itu melihatnya. "Ini hanya tradisi biasa. Tidak bisa kah kita menyelesaikannya segera tanpa keributan?" pinta Draco lebih tak ingin ada pertengkaran. Dia bosan dengan perselisahan yang terjadi dengan ayahnya karena pernikahan ini. Dia lelah dengan pertentangannya dengan Hermione. Lebih, dia tak ingin mengecewakan ibunya yang mendukung dan membantunya sehingga akhirnya dia bisa menikahi Hermione.

"Kau pikir ini hal yang sederhana? Hidup tidak semudah yang kau impikan, tuan muda Malfoy!" kata Hermione membuat Draco membeku. Draco bisa merasakan kemarahan dalam suara Hermione. Bahkan lebih menakutkan daripada kemarahannya waktu Hermione menamparnya dulu.

"Kenapa kau tak menjawab Lucius? Bukankah kau tau ramuan apa itu! Dan kau masih ingin memberikannya padaku? Pada putramu?" Tanya Hermione mendesis.

"Apa ini? Dari mana kau mengetahui kalau aku pernah mengalami keguguran? Lucius?" Tanya Narcissa menyela pada Hermione dan Lucius.

"Aku minta maaf Narcissa, tapi suamimu yang terkasih yang bisa memberikan jawaban yang lebih baik," jawab Hermione menantang Lucius.

Keduanya saling menatap benci. Mungkin jika hanya mereka berdua dalam ruangan itu, mereka akan saling mengacukan tongkat dan mantra-mantra sudah bertebrangan saling beradu.

"Bicth," kata Lucius mengeram.

"Father," kata Draco memperingatkan, bahkan dia tidak sadar ketika dia sudah mengacungkan tongkat sihirnya pada ayahnya, hal itu membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut, bahkan dirinya sendiri.

Tapi seperti tidak peduli dengan semua tensi yang semakin tinggi, Hermione malam membalas. "Bastard. Kau bisa tenang. Aku tidak ingin berhubungan sexual dengan Draco, Kau tidak akan memiliki cucu perempuan squib. Tapi jika hal itu sampai terjadi, aku lebih baik memiliki anak seorang squib dibandingkan meminum ramuan itu, kenapa? Karena itu adalah hukuman karena menikahi keluarga terkutuk ini," kata Hermione dingin, membalikkan badan dan meninggalkan ruangan.

Draco masih merasa syok dengan apa yang di dengarnya. Telingganya mungkin tidak mendengar dengan benar apa yang di katakana Hermione tadi. No sex, squib, ramuan, apa ini semua? Merlin sedang bercanda dengannya. Tapi keheningan itu di pecahkan oleh suara pecahan kuali dari ramuan yang ada di atas meja.

Narcissa mengacungkan tongkat sihirnya ke meja dimana kuali di atasnya. "Mum," bisik Draco.

"Bagaimana mungkin kau tega melakukan hal itu padaku, Lucius?" tanya narcissa lirih.

Draco tidak pernah melihat ibunya menatap ayahnya seperti itu. Marah dan sedih bercampur menjadi satu. Dan ayahnya menatap ibunya dengan memohon, hal yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.

"Aku tidak mengetahuinya Narcissa," kata ayahnya, yang Draco dan Narcissa tau adalah kebohongan.

"Walaupun kau tidak tau dulu, tapi kau tau sekarang. Dan kau mencoba membuatku melakukannya pada Draco? Kau gila," teriak ibunya di ikuti dengan suara ledakan yang Draco ketahui kemudian ayahnya sudah terjungkal ke belakang menabrak rak buku dan ibunya ke luar ruangan dengan menangis.

"Bersedia menjelaskannya padaku?" tanya Draco memandang ayahnya.

Lucius berdiri dari tempatnya terjatuh dan menyibak setetes darah di sudut bibirnya. Memberikan pada Draco sebuah buku tua kulit biru usang. Draco menerimanya dengan bingung.

"Lebih baik kau membacanya sendiri," kata Lucius ke luar dari ruangan mengikuti istrinya.

Apa yang baru saja terjadi seakan sebuah lelucon aneh untuknya. Mengambil wiski api dari rak, meminumnya segelas penuh Draco mulai membuka buku itu dan mulai membacanya.

.

.

Draco menyelesaikan buku itu dengan cepat, kurang dari satu jam. Hanya berupa catatan tangan berisi kutukan yang ada di keluarga malfoy, beberapa nama keturunan mereka yang squib dan ramuan yang membuat mereka terlindungi dari generasi wanita.

Tidak pernah dia merasa bahwa akan tiba waktunya dia membenci di lahirkan dari keluarga Malfoy. Hal yang tidak dia rasakan bahkan ketika keluarganya terbukti bersalah karena telah menjadi pengikut pangeran kegelapan.

Dia bisa memahami perasaan ibunya. Dia tau bahwa ibunya mengalami keguguran tiga kali sebelum mengandung dirinya. Tapi bagaimana jika tidak ada ramuan itu, mungkinkah Draco memiliki tiga kakak perempuan? Atau mungkin dia tidak pernah di lahirkan? Bukankah itu sangat kejam?

Perlahan Draco kembali ke kamarnya. Hermione sudah tidur di salah satu sisi ranjang mereka. Baju pengantin yang dia kenakan tadi sudah tergantung di salah satu sudut ruangan. Rasanya ini semua lucu. Harusnya ini adalah malam pengantin untuknya, bukan begitu? Tapi nyatanya ini adalah malam paling menyedihkan untuknya.

Dia tidak membayangkan akan dengan cepat berbaikan dan membuat Hermione jatuh cinta lagi padanya, dan mengkonsumsi pernikahan mereka, menjadi pasangan suami istri pada umumnya. Keluarga malfoy biasanya hanya memiliki satu keturunan pria dalam satu generasi. Draco tidak pernah memikirkan bahwa mungkin dia memiliki keturunan lagi selain Alexander. Tapi setelah semua kejadian ini, dia menjadi memikirkan, bagaimana jika dia memiliki anak perempuan. Berambut pirang sepertinya tapi keriting seperti Hermione, senyumnya yang polos seperti Alexander. Tapi dia tidak akan pernah mendapatkan itu bukan?

Bahkan kalau seandainya dia bisa dan kemudian anak itu menjadi squib, bagaimana dengan putrinya? Apakah dia akan baik-baik saja hidup diantara keluarganya yang memiliki kekuatan sihir, putrinya pasti akan merasa terasing dan sedih. Atau apakah dia akan mengikuti tradisi dan tega meninggalkannya di dunia muggle? Hermione pasti tidak akan setuju dan dirinya sendiri mungkin tidak akan pernah tega. Bahkan dia masih tidak sanggup membayangkan Alexander yang di besarkan pria lain, bukan dirinya.

Draco merasa sangat lelah hari ini. Melepas sepatunya, jas dan dasinya, Draco merangkak menaiki ranjang tanpa memberikan tubuhnya yang terasa amat lelah. Menarik selimut dan menutupinya ke tubuhnya, Draco ragu menatap punggung Hermione, sebelum akhirnya memeluk istrinya itu dari belakang.

Hermione mencoba melepaskan diri dari pelukkannya. Istrinya belum tidur dan nampaknya tidak bisa tidur juga. Tapi Draco tak ingin melepaskannya.

"Kau bilang, kau tak akan memaksa," kata Hermione.

"Please, hanya malam ini saja," kata Draco tetap memeluk Hermione.

Hermione tampaknya memahami apa yang sedang di rasakan Draco, dia bisa merasa ada air yang membasahi pundaknya. Dan tanpa sadar dia mengusap rambut Draco sampai pria itu tertidur.