Shefu no Ō

.

.

.

.

.

Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto

Genre : Fantasy, Comedy, Slice of Life, Drama, Romance(maybe)

Rated :

Warning : AU, OOC, Miss-typo(s), dont like? dont read then

Pairing : Naruto x …

.

.

.

.

.

"Narutoo.. cepat bangun-tebane!" teriak seorang wanita berambut merah

Naruto membuka matanya dengan kerutan di dahi karena suara nyaring itu. ia yakin ia tertidur di restoran, jadi kenapa ia ada dirumah? Saat ia sedang linglung dan bingung dengan kondisinya, Ibunya Uzumaki Kushina membuka mulutnya lagi.

"Apa yang kau lamunkan? Cepat bangun. Ini sudah pukul 10." Seru kushina

"….. 10? Sekarang sudah jam 10? Oh tuhan. Kenapa Kaa-san tak membangunkanku lebih pagi?" jawab bingung Naruto

"Apa yang kau ocehkan, kau sedang mengambil libur sekolah bukan?." Ujar kushina bertanya. Ia menatap bingung kepada putra sulungnya tersebut.

"Apa? Tak ada libur di restoran! Aku harus pergi bekerja!"

"Restoran? Bekerja? Hahaha Kau lucu sekali-tebane, apa kau bermimpi menjadi seorang chef atau sejenisnya? Sadarkan dirimu Namikaze Naruto! Kau adalah seorang mahasiswa!" Kushina kembali berujar kepada Naruto sambil tertawa.

Sedangkan Naruto hanya menatap bingung kepada Ibunya itu "…. Apa?"

Sebuah mimpi menjadi seorang chef? Ibunya mungkin mengatakan itu karena dia bekerja di restoran. Tapi seorang mahasiswa? Naruto tiba-tiba merasa aneh.

Naruto melihat sekitar rumahnya karena refleks. Kursi yang sudah patah tiga tahun lalu masih berdiri di meja, seolah tak ada yang terjadi. TV yang sudah mereka buang karena kualitasnya yang buruk masih duduk di ruang keluarga, seperti memang itu tempatnya. Naruto bertanya dengan suara linglung.

"Kaa-san, tahun…. Berapa ini?"

"Apa? Apa yang kau katakan. Apa kau baik-baik saja? Cepat bangun."

Sedangkan naruto keukeuh dengan pendiriannya itu, kemudian dia kembali bertanya lagi kepada ibunya "Tahun berapa ini?"

"Ini tahun 2017! Cepat cuci muka dan makan. Makanannya akan segera dingin." Jawab tegas Kushina. Kemudian ia meninggalkan Naruto yang sedang termenung.

Tahun 2017 Itu adalah saat dimana ia dibebas tugaskan dari tentara. Naruto mencuci muka dengan seenaknya, masih bingung dan keheranan. Karena desakan Ibunya Uzumaki Kushina, ia duduk di meja. Saat itu, sesuatu seperti layar komputer muncul dihadapan Naruto.

.

.

[Nasi Putih]

Kesegaran: 73%

Asal: Kyoto, Jepang

Kualitas: Tinggi

Skor Memasak : 5/10

.

.

"…. Hah?"

Naruto menggosok matanya, dan menatap kosong nasi yang ada. Apa yang aku lihat? Apa aku jadi gila? Atau aku masih berada di dalam mimpi? Ia hanya bisa berpikir seperti itu.

Tapi layar itu tak menghilang meskipun ia menutup matanya. Karena kebingungan, Naruto menengok dan menatap Sukiyaki. Kali ini juga, sebuah layar muncul.

.

.

[Sukiyaki]

Kesegaran: 90%

Asal: (tersembunyi)

Kualitas: Medium (bahan yang digunakan menengah)

Skor Memasak: 4/10

.

.

"Apa aku terlalu banyak membaca novel fantasi akhir-akhir ini…?" gumam Naruto, namun masih tetap bisa didengar oleh ibunya Kushina.

"APA! Kau membaca hal seperti itu dibanding belajar akhir akhir ini?" tanya garang Kushina sambil melotot ke arah Naruto dan jangan lupakan rambut merahnya yang melambai-lambai ke atas.

"A-ah, b-bukan. Kaa-san. Bukan itu yang maksudku….." jawab Naruto gelagapan, jujur saja dirinya sungguh takut ketika ibunya sudah masuk dalam mode Habaneronya. Jangan kan dirinya bahkan Ayahnya pun Namikaze Minato di buat ciut oleh sang Istri.

"Apa kau tak tahu seberapa kerasnya ayahmu bekerja? Gunakan waktumu dengan bijaksana untuk ayah dan ibumu!" tegur Kushina.

Begitu banyak omelan hanya karena membaca novel. Ini adalah sesuatu yang tak ia alami setelah lulus kuliah. Tapi ia kadang merindukan omelannya itu.

'Apa aku… kembali ke 7 tahun yang lalu?' gumam Naruto dalam hati

Ia mengingat percakapan dengan Ryōri no Sensei. Ia tak ingin mempercayainya tapi karena situasi konyol ini, ia hanya bisa menyimpulkan satu hal.

'Jadi ia mengirimku ke masa lalu.'

Saat ia memikirkan kesimpulan ini, ada alasan dibelakangnya. Ryōri no Sensei bertanya kepadanya kalau ia kembali ke masa mudanya, apa ia akan langsung terjun ke dunia memasak tanpa sedikitpun keraguan. Dan untuk pertanyaan itu Naruto menjawab ya. Kalau memasak adalah jalan untuknya.

Jujur saja, dibanding merasa senang, ia lebih kusut dan bingung. Tapi meskipun ia terus memikirkannya, tak ada apapun yang logis yang bisa ia temukan.

"Kenapa kau tak makan? Apa kau sudah mulai mengeluh dengan makanannya? Dan aku pikir kau akan menjadi lebih baik setelah melayani sebagai tentara…" Omel Kushina lagi.

Saat ibunya mengatakannya, sebuah pikiran mengerikan muncul. Kalau ia kembali lebih awal. Saat ia masih berumur 21 atau 22, saat itu adalah saat dimana ia masih menjadi tentara…..

'Terima kasih banyak, Ryōri no Sensei'. Apa yang aku katakan tentang memasak, aku akan menjadikannya kenyataan'. Gumam Naruto kembali dalam hati.

.

.

.

~ SnŌ ~

.

.

.

Waktu makan siang sudah selesai. Mungkin karena ia makan pukul 10 ia tak terlalu lapar. Jadi, ia bisa masuk lebih dalam ke dalam benaknya. Ia berumur 30 tahun. Ia adalah seorang guru bahasa inggris SMA, dan ingin menjadi seorang Chef. Dan sekarang ia berumur 23 tahun. Ia adalah seorang mahasiswa, dan bersiap kembali ke universitasnya.

"Hahh…. Apa yang harus aku lakukan." Naruto hanya bisa menghela nafas

Di saat ia kembali ke masa lalu, pikirannya sudah tetap. Ini adalah kesempatan terakhirnya. Ia tak ingin ragu kali ini dan terlambat terjun kedalam dunia memasak . tapi orang tuanya tak akan memperbolehkannya keluar dari universitas dan mengejar kehidupan Chef begitu saja. Pertama ia harus menunjukkan pada orang tuanya apa yang bisa ia lakukan.

Naruto pergi ke ruang keluarga. Ibunya Uzumaki Kushina masih melempit pakaian sembari menonton TV. Naruto kemudian mulai bicara.

"Kaa-san, apa kau ingin aku membuatkanmu camilan sederhana?" tanya Naruto kepada ibu tersayangnya

"Kau akan memasak?"

Naruto hanya mengangguk, kemudian kembali berbicara "Ummh, Ada sesuatu yang ingin aku coba buat."

"Baiklah, coba lihat seberapa baiknya kemampuan memasak anakku." Jawab Kushina sambil tersenyum ke arahnya.

Setelah ia mengatakannya, Naruto langsung pergi ke Dapur dan menuju kulkas. Meskipun Kushina tak begitu menikmati memasak. Ia masih memiliki 3 kulkas, satu adalah kulkas khusus untuk Kimchi. Karena itu, ada banyak bahan yang terdampar di kulkas dalam waktu yang lama. Ayahnya, Namikaze Minato, selalu mengeluh karena istrinya Uzumaki Kushina membuat semua makanan itu sia-sia.

"Coba lihat…." Naruto bergumam sambil melihat-lihat di dalam kulkas.

.

.

[Telur besar]

Kesegaran: 85%

Asal: Kyoto, Jepang

Kualitas: Medium

.

.

Layar yang tiba-tiba muncul tanpa pemberitahuan ini kadang-kadang membingungkannya. Pertama, Naruto menaruh telur ke dalam mangkuk. Dan ia mengambil lemon, gula, dan kanji. Ada masakan yang muncul dalam benaknya saat ia melihat telur itu. sebuah masakan yang cukup sederhana, tapi masih memerlukan sedikit kerja untuk mengolah. Souffle. Sebuah roti yang seperti Muffin, tapi lebih lembut dari Custard (puding susu manis).

Kualitas soufflé benar-benar bergantung pada kemampuan dari chef. Begitu banyak hingga ada yang menyebut kalau semua makanan lain di restoran yang bisa membuat soufflé enak juga pasti enak.

Ada masa dimana ia benar-benar sangat menyukai soufflé. Kalau ia tak memakan soufflé sebagai makanan penutup dalam tiga kali makan sehari, ia akan berpikir ia akan mati. Tentu saja, setelah membuat soufflé seperti tak ada hari esok. Ia sudah bosan. Tapi tetap saja, itu adalah resep yang setidaknya dibuat seminggu sekali.

Ia begitu percaya diri. Pertama Naruto memanaskan oven, dan kemudian memisah putih telur ke dalam mangkuk. Ia menggunakan dua telur untuk putih telurnya. Kemudian, ia menambahkan satu sendok besar gula, dan mencampurnya hingga rata. Berikutnya sederhana, ia mengaduknya seolah hidupnya bergantung pada adonan itu.

Suara yang muncul dari dapur membuat seorang Uzumaki Kushina penasaran. Ia menaikkan suaranya dan bertanya.

"Naru, apa yang kau buat hingga bersuara keras seperti itu?" tanya penasaran Kushina.

"Aku membuat roti."

"Hehh, Roti? Kau bisa membuat sesuatu seperti itu?" ucap remeh Kushina.

Naruto yang mendengar ucapan remeh dari ibunya itu pun hanya mendengus kesal. "Tunggu saja Kaa-san. Rasanya pasti enak." Jawab kesal Naruto

Naruto terus memutar lengannya. Kalau kalian terus mengocok putih telur, akan terbentuk gelembung. Kalau diaduk terus gelembung tersebut akan mengeras menjadi krim sebenarnya, itu adalah Meringue.

Meringueadalah kue kering yang manis dan ringan. Adonan dibuat dari putih telur yang dikocok hingga berbusa dengan gula halus hingga kaku. Kue di bentuk dengan bantuan kantong segitiga, dan dipanggang perlahan di oven. Kue ini sama sekali tidak memakai terigu, dan mudah larut di dalam mulut.

Apa yang sulit kalau hanya mengaduk telur?, sebenarnya tidak terlalu sulit, tapi membuat meringue memberi beban yang cukup besar pada otot tangan. Itu adalah adonan yang harus diputar/diaduk menggunakan tangan kanan, kemudian menggunakan tangan kiri kalau tangan kanannya mulai lelah. Tentu saja, kalian hanya bisa mengaduk dalam satu arah. Kalau kalian mengaduk pada arah berlawanan, gelembung yang sudah dibuat susah payah akan hilang.

Butuh empat menit untuk membuat meringue. Naruto mengambil nafas dalam dan melihat meringue miliknya.

.

.

[Meringue]

Kesegaran: 85%

Asal: (Disembunyikan)

Kualitas: Medium (Bahan menengah)

Skor memasak: 5/10

.

.

Naruto menggunakan seluruh tenaga untuk membuatnya, tapi skor memasaknya hanya 5/10. Tapi ia mengerti kenapa. Ia menambahkan gula dari awal, bukan mencampurkannya di tengah-tengah. Itu bukan cara standar untuk membuatnya.

Naruto menjilat bibirnya, dan kemudian memotong lemon menjadi dua. Ia kemudian menyaring sari lemon menggunakan saringan, kemudian mencampurnya kedalam Meringue. Perlahan warna meringue-nya berubah menjadi kuning cerah, dan mulai memberikan aroma segar dan kecut. Saat ini, makanan buatannya sudah setengah selesai.

Naruto mengoleskan mentega dan gula di sebuah mug, dan dengan seksama menuangkan Meringue yang sudah siap ke dalamnya. Ia berpikir kalau dua mug sudah cukup, tapi masih ada sisa sedikit jadi ia menempatkannya di gelas kopi. Langkah selanjutnya sederhana, Naruto menaruh Mug-nya di baki, dan memasukkannya pada oven yang sudah dipanaskan sebelumnya.

Langkah selanjutnya sederhana. Menambahkan gula dan pati kedalam pengaduk, dan membuat bubuk gula. Setelah beberapa waktu, ia mendengar suara beep oven, Naruto mengambil soufflé-nya, dan menaburkan bubuk gula melalui ayakan.

Ini adalah hasil akhirnya. Sebuah soufflé berwarna lemon cerah, dengan bubuk gula diatasnya,, seperti butiran salju. Naruto melihat layar yang muncul diatas soufflé.

.

.

[Lemon soufflé]

Kesegaran: 98%

Asal: (Disembunyikan)

Kualitas: Medium (Bahan menengah)

Skor Memasak: 6/10

.

.

6 poin. Naruto menyiapkan indera perasanya yang sedang menari, dan memakan sesuap soufflé di gelas terkecil. Soufflé-nya lembut seperti salju segar yang hancur saat diinjak sepatu, yang mana menambah rangsangan dalam lidahnya. Rasanya benar-benar bagian terbaik seperti biasanya. Campuran rasa asam dan manis, ini adalah salah satu rasa favoritnya.

Naruto membuka mulutnya.

"Kaa-san, sudah jadi." Ucap Naruto kepada ibunya

"Oke. Bawa kesini."

"…. Baiklah." Jawab naruto sekenannya. Kemudian ia berjalan mendekati ibunya sambil membawa kue hasil buatannya itu

Tak ada ketulusan meskipun ia menggunakan banyak usaha untuk membuatnya. Naruto membawa soufflé buatannya ke ibunya. Ia yakin kalau ibunya akan terkejut setelah satu gigit.

Dan harapannya tak sia-sia, mata Kushina terbuka begitu lebar, dan menatap bolak-balik antara soufflé dan Naruto.

"Kau membuat ini?" tanya kushina

"Apakah Kaa-san pikir para Maid yang membuatnya atau bagaimana?" jawab asal Naruto dengan diselingi nada bercanda

Kushina mengabaikan jawaban anak sulungnya itu, kemudian mengambil sendok selagi ia mengatakannya. Dan setelah ia menyentuh lemon soufflé-nya, ia melenguh.

"Wow…. Begitu lembut!" ucap Kushina memuji Naruto

Dan setelah satu gigitan. Itu adalah akhirnya. Kushina mengunyah soufflé-nya, dan mengambil satu gigit dengan cepat. kemudian menatap Naruto dengan kagum.

"…. Nee. Naru apa kau mengambil kelas memasak diam-diam?" tanya tegas kushina.

Sedangkan Naruto hanya meringis tanpa mengatakan apapun ketika Ibunya Uzumaki Kushina bertanya seperti itu kepadanya.

.

.

[Uzumaki Kushina kagum dengan 'lemon soufflé' buatanmu!]

[exp naik dengan cepat karena kemampuan memasak melebihi level saat ini!]

[level baking (membuat kue/membakar/memakai oven dst..dst) naik!]

[level memasak naik!]

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued !

A/N :

Yahhaha akhirnya beres juga chapter pertamanya :3 gimana masih mau dilanjut? Hehe okee ditunggu reviewnya :D

.

..

...

..

.

Balasan Review :

Azkya Saluja : hehe iya ini cerita baru :D etto... karena saya suka memasak mungkiin :p haha okee Arigatou :D

Evanescent173 : hehe Arigatou

Sai Akuto : okkkee..

Lin Xiao Li : pastinya sudah terjawab di chapter ini :p okee terimakasih reviewnya :D

Pratamamirai7 : hehe arigatouu.. siippp

Akairou Hoshi : ini udah lanjutt :D

Chika kyuchan : hehe arigatou. Terimakasih reviewnya :D