Present
A DBSK and Super Junior Fanfiction
Throbbing Tonight
Disclaimer : All DBSK, Super junior, and other character belong to themselves
Throbbing Tonight © Koi Ikeno
Main Pair : Yunho x Jaejoong
Pair lainnya akan diketahui sejalan dengan cerita ini
-chapter 2-
My transformation, not bad
-still Jaejoong POV-
Apa yang terjadi pada diriku? Kenapa aku bisa berubah wujud menjadi Junsu? Kenapa?
Perlahan aku beringsut meninggalkan Junsu yang tengah terkapar di samping mobilnya.
Aku berlari kencang, menuruni bukit. Satu-satunya yang kubutuhkan saat ini adalah rumah dan bertanya pada Umma dan Appa kenapa aku bisa berubah wujud seperti ini, bukankah aku tidak punya kekuatan?
Tepat sebelum aku berbelok ke jalan setapak yang ditutupi oleh ilalang, tiba-tiba sebuah mobil limosin hitam berhenti tepat di sampingku. "Dolphin!" Hueh, Dolphin? Siapa yang mempunyai nama seimut itu?
Kaca mobil itu terbuka, gawat! Itu papanya Junsu, Kim Shindong! "Kenapa kau berlari-lari seperti itu Dolphin?" aku melongo selama sepersekian detik, jadi Dolphin itu Junsu toh! "Aniyo, aku hanya sedang berolahraga." Elakku
"Ayo naik, kau sudah janji akan makan siang bersama appa kan?" dengan kecepatan kilat, pintu mobil terbuka dan dia menarikku ke dalam. "Dolphin, appa merindukanmu!" oh, tolong… teddy bear besar ini sedang memelukku dengan sangat kencang! Rasanya aku tidak bisa bernafas.
"A..Ap..Appa!" panggil ku dengat tersendat-sendat. Teddy bear ini sedikit melonggarkan pelukannya. "Wae? Kau tidak suka appa peluk?" waduh! Apa yang harus aku katakan? "Aniyo appa, aku hanya sedikit tidak bisa bernafas." Aku mencoba bersikap senatural mungkin. Hhh~ jadi ini rupa asli dari sang gangsther terkenal di kota Seoul ini?
"Darimana appa tahu aku ada di sini?" Aku sangat penasaran, bagaimana Teddy bear ini bisa berada di sini, bukankah jalan menuju rumahku ini sangat jarang di lalui oleh orang.
"Dari GPS." Ujarnya santai, "Habisnya, dolphin appa tidak muncul-muncul juga. Jadi appa putuskan untuk menjemputmu. Dan… kau sendiri apa yang kau lakukan di bukit ini?"
"Aku hanya berolahraga kecil." Aku melihatnya mengernyitkan kening, apa alasanku salah? Ohh- kuharap dia tidak curiga;
"Terserah lah.. Kajja! Ayo kita pergi makan!"
Teddy bear ini kemudian menyuruh supir untuk memacu mobilnya dan membawaku ke sebuah resto terkenal. Lumayan nih, makan gratis!
"Pesan apa?" tanyanya ke arahku. Nah Loo! Harus jawab apa ya? "Yang biasa aja" jawabku tak yakin, tapi entah kenapa aku yakin kalau mereka berdua sering ke sini. "Okee! Nasi goreng dengan bawang Bombay ekstra kan? Itu kesukaan mu kan?" Gleekh.. bawang Bombay? Bagaimana ini! aku benci bawang Bombay! Sial!
-thazt-
Akhirnya setelah melewati penyiksaan ya di lakukan oleh teddy bear itu aku bisa juga lolos!
"Umma… Appa!" aku berteriak nyaring. Ku tendang begitu saja pintu depan rumahku. Bodo amat lah dengan pintu, yang terpenting sekarang ini apa yang tengah terjadi pada diriku? Gyaaa….Umma, Appa!
"Umma… Appa!" aduh… ini orang-orang rumah kemana sih? Gila.. ga ada satupun yang keluar.
Tak lama suara derap langkah terdengar, "Ada apa? Siapa yang berteriak nyaring hah?" Umma muncul dengan wajah panik sambil menggandeng Ryeowook turun.
"Umma!" aku berlari ke arah umma. "Siapa kau?" Tanya Umma, wajahnya memandangku dengan tatapan horror. "Ini aku umma, Jaejoong!"
Umma mengobas-ngibaskan tangannya. "Hee~ anakku tidak berwajah seperti ini!" Appa muncul dari balik ruangan kerjanya, "Ya Chullie! Anak itu yang membuatku menjadi seperti ini!" hah? Aku? Kupandangi appa dengan seksama, ia sedikit membungkuk dan berjalan tertatih-tatih. Kim Junsu apa yang sudah kau lakukan pada appa?
Umma langsung memandangku dengan tatapan horror, "Jadi anak ini yang sudah membuatmu seperti ini, Hyaaa—mati kau!"
Aku berkelit dari serangan mendadak umma. "Umma, ini aku anakmu Kim Jaejoong!" balasku. "Tiba-tiba aku aku menggigit orang dan aku berubah menjadi seperti ini!" jelasku.
"Tidak mungkin! Jaejoong ku tidak mempunyai kekuatan sama sekali. Pergi kau! Dasar penipu!" Umma menggeretku keluar, "Aduh Umma, ini aku Umma. Jaejoong mu. Gyaa,,, Ummaaa!" pekik ku sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Umma yang menarikku keluar.
"Aku tidak percaya!" balas Umma. Aku memegang ujung meja erat. Apa yang harus ku lakukan agar Umma percaya padaku?
"Hyung!" suara imut Ryeowook membahana di tengah kericuhan yang aku dan Umma ciptakan Umma melongo dan melepaskan cengkramannya. Langsung saja aku menghambur memeluk Ryeowook.
"Huwaaa—wookie kau percaya ini aku kan?" kupeluk tubuh mungil Wookie erat. "Hyung, kau berubah!" seru Ryeowook takjub. "Huuaah~ gomawo wookie, kau sudah mempercayaiku!"
"Jae? Ini benar-benar Kim Jaejoong?"Appa memandangku dengan takjub. "Ne!"
Tiba-tiba, entah muncul dari mana pita-pita dan balon muncul begitu saja memenuhi ruang tamu rumahku. Musik salsa pun ikut mengalun. Appa dan Umma berdansa dengan anehnya sambil bersenandung riang. Hee~ apa yang terjadi?
"Jaejoong, selamat atas transformasi pertamamu!" pekik Umma dan Appa berbarengan. Aku hanya melongo melihat mereka berdua, aneh sekali. Wookie menarik-narik ujung bajuku, "Bagaimana hyung akan kembali ke bentuk semula?" aku langsung menepuk keningku. Ya ampun, aku hampir lupa tujuanku pulang ke ruamah.
"Umma… Appa. Bagaimana caraku kembali ke wujud asliku?" pekikku kepada mereka yang sedang asyik orang tua kurang kerjaan!
"Ah iya, bagaimana ya?" aku hanya tersenyum kecut mendengar perkataan appa. "Ayo kita Tanya penyihir Changmin!" ujar Umma. Hah, itu ide yang bagus. Penyihir Changmin pasti tahu cara untuk kembali ke wujud asliku.
Tiba-tiba kepulan asap muncul. "Jangan khawatir, aku sudah di sini."
Gaah, ini penyihir seneng banget datang sendiri. Ia menepuk pundakku, inilah yang akan mengembalikan wujud mu. "Makurukara shintchiwatoiyo." Muncul kepulan asap di tangannya.
What? Merica? "Kenapa musti merica?" tanyaku heran. "Sudah diam saja!" perintahnya. Penyihir Changmin menaburkan bubuk merica itu ke arahku. Hidungku terasa sangat gatal. Huatchim!
BLOOM!
"Hyung, kau kembali!" Ryeowook meloncat-meloncat di depanku, sementara Umma dan Appa sibuk saling berpandangan sambil berkomat-kamit kalimat yang sama "Jaejoong sudah besar." Hello Umma… Hello Appa… aku memang sudah besar tahu!
"Changmin-ssi, bagaimana nasib orang yang ku gigit?" aku sangat cemas dengan nasib Junsu, apakah aku membunuh orang yang ku gigit atau tidak?
"Tenang saja, orang yang kau gigit hanya kehilangan kesadarannya setelah kau gigit. Setelah kau kembali ke wujud aslimu, dia akan terbangun dan melupakan apa yang terjadi." Syukurlah, aku tidak membunuh Junsu.
Perlahan tapi pasti aku beringsut dari ruang tengah. Tanpa memperdulikan adegan gak jelas yang terjadi di hadapanku, aku langsung berlari ke kamar. Tujuan utama? Tentu saja cermin! Hanya ingin memastikan saja.
Aku memandang diriku yang terpantul dalam cermin. Horree! Aku sudah tidak berwujud Kim Junsu lagi! Jadi untuk kembali ke wujud asli, aku harus bersin dulu ya. Hmmm… cara yang aneh.
Dengan kekuatan ini, aku bisa berubah menjadi apapun kan? Huaa~ berarti aku bisa berubah jadi burung dan bisa mengikuti Yunho ke rumahnya, atau menjadi bantalnya donk. Gyaa~ kekuatan yang sangat menyenangkan!
-end Jaejoong POV-
12.00 PM
Heechum mengendap-endap memasuki kamar Jaejoong. Kebiasaan yang sering dilakukannya.
"hihihihi… malam ini dia mimpi apa ya?" sebagian besar bangsa setan memiliki kemapuan untuk melihat mimpi seseorang da memasukinya. "Masushitaimaya Shiotochoi!"
BLUUMPH!
Segumpal awan muncul, awan itu adalah awan mimpi. Heechul melongokkan kepalanya. Bunyi desiran ombak dan matahari yang hampir terbenam ada di dalam awan itu.
-heechul POV-
Hee~ mimpi anak ini bagus juga. Tunggu! Siapa dua laki-laki yang duduk di pantai itu? Hmm- yang rambutnya pendek itu pasti Jaejoong, tapi siapa laki-laki berambut agak panjang itu?.
Cukup lama aku memandangi mereka dan mereka hanya mengobrol. Untunglah, apa yang kutakutkan tidak terjadi. Suasana di sini sangat pas untuk berciuman.
Kupandangi lagi dua anak manusia itu dan~ kenapa wajah mereka berdua semakin dekat? WAIT? Pose itu! Gyaaaaa! ANDWAE! Mereka tidak boleh berciuman! Joongie ku masih terlalu polos untuk itu!
-end Heechul POV-
"Kim Jaejoong! Apa yang kau lakukan hah?" Heeechul meloncat masuk ke dalam mimpi Jaejoong sambil berteriak. Yunho menjauhkan dirinya dari Jaejoong setelah mendengar teriakan tadi. Jaejoong menatapnya dengan tatapan horror. "Umma! Kau mengacaukan mimpi ku! Keluar sekarang juga!" Tubuh Jaejoong yang sedang tertidur menggeliat resah di rancangnya, wajahnya Nampak sangat tidak tenang.
Jaejoong langsung membuka mata sesaat setelah Umma-nya keluar dari mimpinya. "Umma, jangan masuk ke dalam mimpi ku lagi!" Jaejoong melempar berbagai barang ke arah Heechul unutk mengusirnya keluar, jelas saja Heechul langsung lari terbirit-birit keluar untuk menghindari benda-benda yang berterbangan ke arahnya.
"Hhhh~" Jaejoong mendesah pelan. Ia sunggu kesal, mimpi indahnya di kacaukan oleh Ummanya, padahal tinggal sedikit lagi! –blush- wajah Jaejooong langsung memerah mengingat mimpinya sendiri itu.
"Lebih baik tidur lagi saja, siapa tahu mimpi tadi bisa di lanjutkan." Ujarnya pelan, di rebahkannya dirinya lagi dan menutup mata.
Nampak di mimpi Jaejoong, Yunho melambaikan tangannya menjauh, "Maaf, kau sungguh tidak menarik." Ujar Yunho sambil berlalu menimggalkan Jaejoong yang menatapnya dengan syok, jika ini manga maka wajah Jaejoong saat itu akan bercucuran air mata sambil meratapi kepergian Yunho.
Tubuh Jaejoong kembali mengeliat resah karena mimpinya itu.
-thazt-
Matahari kembali menampakkan dirinya, sinar nya yang terang menerangi kamar Jaejoong dari celah-celah korden. Jaejoong menggeliat pelan ketika sinar matahri itu menyorot wajahnya. Jaejoong mengendipkan matanya beberapa kali, membiasakan diri dengan sinar matahari.
"Hoaamm," Jaejoong bangkit dari posisi tidurnya, dipandanginya jam weker di atas meja nakasnya.
07.00 AM
"Hari Minggu. Masih ada satu jam lagi sebelum Yunho berlatih tinju di Kim Boxing," ujar Jaejoong pada dirinya sendiri. Jaejoong turun dari ranjangnya, menyambar handuk dan berjalan menuju kamar mandi.
Ryeowook duduk di meja makan bersama Hankyung,"Umma, aku lapar." Ujarnya pelan, Heechul menoleh ke arah anak keduanya itu, "Sebentar lagi, sabar ya Wookie." Ryeowook ganti melirik ke arah Hankyung- Appanya yang sedang asyik meminum jus tomatnya. "Appa, kenapa kekuatan Jae hyung baru muncul sekarang? Sedangkan aku muncul di usia 5 tahun?"
Hankyung berhenti meminum jus nya, di pandanginya Ryeowook, ia sungguh terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Ryeowook. "Appa tidak tahu, mungkin tanpa sadar kakakmu menahan kekuatannya sehingga kekuatannya tidak pernah keluar."
Ryeowook tersenyum tipis, "Pengendalian diri yang hebat." Ujarnya pelan.
"Ohayou minna-san!" sapa Jaejoong dengan bahasa jepang, terkadang mereka sering berbicara dengan bahasa Jepang, menurut mereka bahasa Jepang itu menarik.
'Ohayou, aniki!" sapa Ryeowook riang. Jaejoong mengambil tempat di sebelah Ryeowook, "Umma, masih lama kah? Perlu aku bantu?" tanyanya pada Heechul yang masih sibuk berkutat di dapur. Tak lama, Heechul muncul dengan bermacam-macam potongan sandwich.
"Ya! Kau sejam berada di dapur dan yang kau buat hanyalah sandwich?" Hankyung melotot melihat apa yang di bawa oleh Heechul, bayangkan saja satu jam berada di dapur dan Heechul hanya membawa sandwich.
Heechul balas melotot ke arah Hankyung, "Cerewet sekali! Jangan makan saja sekalian!" Heechul menggebrak meja kesal, "Aku tahu, aku tidak sepintar Jaejoong dalam memasak, tapi hanya ini yang bisa kubuat pagi ini, bahan masakan hampir habis tuan Hankyung!"
Jaejoong dan Ryeowook mengambil sandwich bagian mereka dan perlahan beringsut dari meja makan menuju ruang tamu, mereka tidak mau terperangkap di pertengkaran konyol kedua orang tuanya itu. Lebih baik mereka pindah ke ruang tamu untuk menikmati sarapan pagi mereka dengan tenang.
"Enak ya jadi Jae hyung." Perkataan Ryeowook itu membuat Jaejoong menoleh ke arah adik semata wayangnya itu. Kening Jaejoong sedikit mengernyit mendengar hal itu, "Apa maksudmu Wookie?"
Ryeowook menunduk, "Aku iri pada mu hyung. Hyung bisa pergi ke sekolah, sedangkan aku tidak bisa." Ujarnya pelan, Jaejoong tersenyum lembut ke arah adiknya itu. "Aku akan bicara pada Umma, aku akan meminta padanya untuk memasukkanmu ke SMP di tahun ajaran berikutnya." Dengan lembut di tepuknya kepala Ryeowook lembut.
Dengan mata berbinar Ryeowook memandang kakak satu-satunya itu, "Jeongmal? Gomawo hyung!" pekik Ryeowook, ia melompat ke arah Jaejoong dan memeluknya. Jaejoong terjungkal kebelakang karena berat Ryeowook yang menubruknya secara tiba-tiba. Untung saja mereka sedang duduk di sofa, jika tidak Jaejoong mungkin sudah jatuh ke lantai.
"Hahaha~ tentu saja Wookie, kapan aku akan berbohong padamu. Tapi Wookie, kau berat." Ryeowook langsung bangun dari tubuh Jaejoong yang ditindihnya, dia memamerkan senyum innocent nya "Mianhae hyung. Aku terlalu senang."
Pandangan Jaejoong jatuh tepat ke arah Jam dinding. Dia langsung membelalakkan matanya begitu melihat angka yang ditunjuk oleh jarum pendek.
08.30 AM
Hwaaat?
-thazt-
"Umma… Appa… aku pergi dulu ya!" Jaejoong berteriak sambil setengah berlari keluar dari rumahnya. Heechul melambaikan tangannya pada anak tertuanya itu, "Hati-hati!"
"Gege!" pekiknya keras, dari tangga terdengar bunyi derap langkah yang disusul suara dentuman keras. "Waeyo? Kenapa kau berteriak chullie?" Hankyung berlari tergopoh-gopoh ke arah istrinya itu. "Pergi sana! Ikuti ke mana Jaejoong pergi." Perintahnya dengan berkacak pinggang.
Hakyung melotot, "Enak saja! Ini sudah siang tahu! Lihat! Matahari sudah tinggi. Kau tahu kan, aku itu benci matahari! Kenapa tidak kau saja yang pergi!"
"Kalau aku pergi, siapa yangpergi berbelanja hah? Kau tak mau makan? Lagi pula kau bisa memakai jubah dan kacamata hitam kan? Sudah, jangan cerewet! Cepat pergi." Heechul balas melotot ke arah Hankyung bahkan telinga dan ekornya juga sudah muncul.
Melihat ekor dan telingan milik Heechul keluar, hankyung langsung bergidik ngeri. Jika ekor dan telinga milik manusia serigala keluar berarti mereka sedang marah. "Baiklah, aku akan menyusul Jaejoong sekarang." Hankyung langsung ngacir ke atas mengambil jubah, mantel, dan kacamata hitamnya.
Yunho melangkah pelan, langkahnya yang panjang menyusuri jalan menuju Kim boxing tempatnya berlatih tinju setiap hari minggu.
"Hari yang cerah." Ujarnya singkat. Sosok nya berhenti tepat di depan pintu sebuah bangunan bertuliskan KIM BOXING. "Hwaiting Jung Yunho!" ujarnya menyemangati dirinya sendiri.
Yunho mendorong pintu bangunan itu, "Selamat pagi" sapanya pada orang-orang yang ada di sekitar ruangan itu. Sejenak Jaejoong tersenyum lega, karena sosok yang biasanya mengganggu dirinya tidak muncul. Sayang, sepertinya tebakan Yunho sama sekali tidak tepat.
"Yuuunnnhhhoooo!" lengkingan suara milik seseorang yang tidak perlu ditanya lagi menyeruak di tengah-tengah keramaian ruangan berlatih. Yunho menutup kupingnya. Kenapa anak ini selalu muncul sih? Gerutunya. Tentu saja hal itu hanya bisa di lakukannya di dalam hati. Jika dia berani memarahi seorang Kim Junsu,pasti beasiswa tinju yang diperolehnya dengan susah payah akan dicabut begitu saja. Huh Payah!
"Aku kangen kamu!" tiba-tiba saja Junsu sudah bergelayut manja di lengan Yunho. Yunho terlihat tidak nyaman diperlakukan seperti itu terlebih ketika didengarnya siulan-siulan menggoda dari beberapa temannya. Yunho berusaha melepas tangan Junsu karena siulan-siulan itu semakin keras. Sayangnya Junsu malah tidak terganggu dan malah mengetatkan pelukannya pada lengan Yunho.
"Aish.. Junsu ah, aku harus berlatih." Dengan sekali sentakan Yunho melepaskan tangan Junsu dan berjalan cepat menuju ke atas, tempat latihannya.
Junsu merengut, "Ya Yunho-ah! Tunggu aku!" setengah berlari Junsu meengejar Yunho yang sudah sampai ke tempat latihannya.
Jaejoong melirik arloji yang ada di tangan kirinya, pukul 10 pagi. "Sebentar lagi Yunho akan selesai berlatih." Bisiknya pada diri sendiri.
Benar saja, tak lama kemudian Yunho keluar dari Kim Boxing sambil menenteng sarung tinjunya.
-Jaejoong POV-
Aku mengikuti Yunho dari belakang, mungkin tingkah ku ini bisa dibilang stalker. Tapi aku hanya mengikutinya sampai ke depan apartemen rumahnya, setelah itu aku akan langsung pulang. Aku bukan seorang maniak sampai-sampai rela mengikutinya, aku hanya mengagumi sosoknya dan juga aku jatuh cinta padanya.
Aku terus mengikutinya dari belakang dengan hati-hati supaya tidak ketahuan. Tapi tiba-tiba saja Yunho berhenti, apa dia menyadari keberadaan ku? Tidak! Jangan sampai aku ketahuan! Ku lihat sekelilingku, ada sebuah toko binatang. Ada sebuah sangkar burung yang berisi burung nuri berwarna hijau di gantung di depan toko
Sebuah ide terlintas di pikiranku. Aduh maaf ya burung, aku harus melakukan ini. Segera kugigit burung itu dan BLUSH! Berubahlah aku menjadi burung tadi, dengan begini aku tidak akan ketahuan kan? Hahaha… Kim Jaejoong kau memang pintar!
Aku memandangi Yunho yang entah mengapa masih diam mematung di tempatnya. Apa dia ragu-ragu untuk berbalik? Entahlah. Cukup lama Yunho terdiam, akhirnya dia melanjutkan juga langkahnya dan aku masih tetap terbang mengikutinya. Ternyata terbang itu enak juga ya!
Aku memandangi Yunho yang masuk ke apartemennya. Apa aku ikut saja? Saat ini kan wujudku seekor burung? Pasti tidak akan ketahuan. Baiklah.
Aku terbang pelan ke arah apartemen yang ditinggali berdua oleh Yunho dan ibunya, Park Leeteuk yang bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit besar di kota ini. Pasti kalian merasa aneh kan? Yunho memakai marga Jung sedangkan ibunya Park, menurut info yang ku dapat sih Yunho mendapat marga Jung dari ayahnya yang sudah meninggal.
Aku melihat Yunho sedang duduk bersandar di sebuah sofa. Hmm~ kemana ibunya? Apa hari ini ibunya ada shift kerja? Padahal setahu ku, ibunya bebas hari minggu. Jadi kemana ibunya pergi? Hhh—sudahlah, buat apa aku memikirkan hal ini?
-end Jaejoong POV-
Sebuah ketukan berirama di jendela membuyarkan Yunho dari alam mimpi yang baru saja didapatnya beberapa saat lalu. Sejenak, Yunho menghembuskan nafasnya kesal, Ia melangkahkan kakinya ke arah jendela. Ternyata seekor burung Nuri berwarna hijau yang melakukan itu, Yunho terperanjat melihat burung itu, dibukanya jendela dan membiarkan burung itu masuk.
Yunho kembali tertegun, karena burung itu dengan jinaknya mendekat ke arahnya bahkan hinggap di jari telunjuk yang ia julurkan. "kau jinak sekali." Ujar yunho sambil tersenyum, sekarang gantian sang burung yang tertegun melihat senyum Yunho. (Jae POV : Oh My God! Dia tersenyum!)
"Diam di sini, aku akan membawakanmu susu." Yunho meletakkan burung yang merupakan jelmaan Jaejoong itu di atas meja makan. (jae POV : beruntungnya aku hari ini. Gyaaa!)
Beberapa saat kemudian, Yunho kembali dengan semangkuk kecil susu. Diletakkannya susu itu di depan Jaejoong. Sejenak jaejoong mematung. Tapi dia langsung meminun susu itu. Yunho mengelus Jaejoong lembut sambil tersenyum. (Jae POV : Seandainya dia seperti ini kepadaku. Mungkin aku akan terbang karena terlalu senang.)
Yunho kembali mengulurkan telunjuknya yang kemudian dengan senang hati dihinggapi oleh Jaejoong. "Tunggu di sini ya, aku harus ke luar sebentar." Yunho meletakkan Jaejoong di dalam sangkar, (Jae POV : Yah yah.. mau kemana? Aish!)
Tanpa di sadari oleh Jaejoong sesosok pria dengan mantel hitam dan kacamata hitam terus bertengger di sebuah pohon. Pria itu terus memantau apa yang di lakukan oleh Jaejoong.
-Jaejoong POV-
Kupandangi punggung Yunho yang berjalan menjauh. Tanpa sadar aku terus memandangi pintu tempat Yunho keluar. "Hai cantik" aku tertegun, ku tolehkan kepala ku arah samping. "Sepertinya kau menyukai majikan kita." Seekor nurung nuri jantan berwana merah sedang hinggap di sebuah pipa yang digantung, Hiiyy, burung ini menyeramkan! Entah kenapa dia selalu mengedipkan matanya ke arahku.
Aku mendengus, "Bukan urusanmu! AKU TIDAK CANTIK" sahutku tajam. Nuri itu terbang ke sampingku, dengan pedenya dia merangkul bahuku. "Kau betina kan?" Segera ku tepis sayapnya itu. Aish! Ga sudi ya! "Aku laki-laki bego!" sahutku lagi.
"Aah, jangan berbohong, kau manis sekali. Tidak mungkin kau itu burung jantan! Oh ya, Kalau kau mengincar majikan kita menyerah saja, dunia kita berbeda dengan dunianya.!" Pede sekali burung ini, "Aku ini manusia tahu dan aku itu laki-laki!"
Dia tertawa, Gyaah! Aneh sekali burung ini. "Manusia katamu? Sadar dirilah, apa perlu ku bawakan kaca?" Dia kembali melancarkan kedipan mata genitnya itu. Dasar burung genit! Umpatku. Langsung saja tanpa pikir panjang aku meninju nya.
BAG BIG BUG BUAGH!
Aku memandang burung itu sinis, dia sudah terkapar tidak jelas di pojok kandang. Siapa suruh cari masalah duluan. Sangkar itu Nampak kacau karena pertarunganku dengannya, Bulu-bulu berterbangan di sekitarku. Sehelei bulu menggesek hidungku pelan. Aduhhh… Hidung ku gatal! Jangan sampai aku bersin di tempat ini.
Segera kututup hidungku, cukup lama akhirnya gatal itu pergi juga. Segera ku lepas tanganku yang menutup hidung. HATCHIIIMM!
BLOOMM!
-TBC-
Hehehe,, buat yang nunggu personil Super Junior nongol sabar yah^^
Mereka rata-rata akan muncul saat konfliknya mulai muncul.
Ini masih chapter awal-awal dan sepertinya fanfic ini akan panjang.
Mohon kritik dan sarannya
Okeh, mind to review?
