Terbakar


Citadel dilalap api berkat ulah empat Toudan yang tak tahu cara memasak nasi dengan benar. (terinspirasi dari suatu art random mereka berempat yang ditemukan beberapa saat yang lalu)


.

.

.

Di pagi hari yang cerah, riuh dari Citadel kecil yang tua di suatu lembah yang terpencil nan sunyi terdengar dari seluruh penjuru arah. Sepertinya hari ini mereka akan sibuk.

Lantaran ada suatu Event baru, mencari kunci untuk membuka beberapa peti mati yang jika beruntung para Saniwa sekalian akan mendapatkan pedang terkutuk lainnya, Sengo Muramasa.

Kayanya perasaan dimana-mana petinya yang dicari, bukan kuncinya. Tapi sudahlah.

Setelah menyiapkan para Toudan dengan pasukannya serta formasi, akhirnya mereka pun berpetualang mencari Sengo yang terjepit di antara peti-peti mati di kastil Edo.

Akan tetapi, sang Saniwa merasa khawatir karena tidak membawa dua Toudan andalannya, Mustunokami dan Doudanuki meninggalkan sebuah amanah untuk menjaga diri mereka baik-baik, keduanya pun di beri tugas untuk memasak hari itu juga di karenakan Toudan yang jago masaknya lagi ikut ekspedisi mencari pasokan resos hingga esok pagi.

Dari sinilah malapetaka Toudan-Toudan Ghaib ini di mulai saat...

"Oi."

Mutsu menolehkan kepalanya kepada Tanuki yang sedikit agak pendek darinya.

"Memangnya kau tahu bagaimana cara memasak nasi dengan benar?"

Pertanyaan itu sekilas membuat Mutsu sedikit meragukan kemampuannya dan keduanya pun kebingungan, Tanuki hanya sebuah pedang yang di ciptakan untuk bertarung, sedangkan dirinya sendiri pun tak jauh berbeda dengan Tanuki.

Mana mungkin mereka pernah diajarkan cara memasak nasi?

Bahkan, kemarin saja Mutsu membakar beberapa pohon hanya dengan memanggang ubi bakar, penyebabnya dia lupa memadamkan apinya.

"Uuuuhh..." Mutsu menggaruk-garuk belakang kepalanya, padahal dirinya tidak merasakan gatal.

"Toudan yang lain pun sedang sibuk dengan urusan masing-masing, bagaimana bisa kita meminta bantuan?", celetuk Tanuki.

Belum beberapa saat setelah Tanuki selesai berbicara, dua Toudan lainnya, Namazuo dan Gokotai memasuki dapur sambil tertawa kecil.

"Ah, kebetulan sekali kalian berdua datang!", Mutsu berseru menyambut kedua Toudan random tersebut.

"Iya, karena pekerjaan kami telah selesai jadi kami pikir untuk pergi ke dapur agar bisa membantu kalian memasak." Jelas Namazuo sambil mencuci tangannya, sepertinya dia bisa diandalkan.

"Haah, baguslah kami sangat tertolong ... kalian datang di saat yang tepat." Mutsu pun menghela napas lega, mereka bisa sedikit tenang, tapi...

"Uum, a-anu Namazuo-san, memangnya kau bisa memasak...?" Gokotai dengan gugupnya bertanya pada Namazuo, nah ini nih yang agak meragukan juga.

Namazuo terlihat kebingungan.

"Y-yah aku sebenarnya bisa, tetapi sejak aku kehilangan ingatanku, jadi..."

Para Toudan di dapur itu pun hanya bisa terdiam.


"Ya sudahlah, daripada tidak ada yang bisa dimakan lebih baik kita paksakan diri untuk memasak, ayo kita mulai!" Sergah Mutsu, walau dia tahu akhirnya mungkin nasinya gosong.

Akhirnya Namazuo dan Mutsu pun mencuci beras dan meninggalkan Gokotai dengan Tanuki untuk menyalakan api.

"Baiklah, aku akan nyalakan kompornya." Tanuki berbalik dan menghadapi kompor modern model jaman-jaman sekarang.

Maklum Sang Saniwa dengan ajaibnya mengubah dapur kecil tradisional itu menjadi lebih modern dengan adanya kulkas dan kompor gas serta perkakas lainnya yang tak bisa disebutkan satu-satu. Karena dia tak ingin merepotkan Toudan-Toudan-nya dan dia juga tidak mau di wajah para Toudan terdapat abu-abu sisa kayu bakar.

Tapi yang membuat masalah, hanya Mitsutada dan Hasebe yang mengerti bagaimana cara menghidupkan kompor gasnya.

Jujur, Tanuki sebetulnya kebingungan dengan benda modern tersebut dihadapannya, tapi akhirnya dia pun melakukan yang pernah dia lakukan untuk menyalakan api. Memakai kayu bakar.

Akhirnya Tanuki pun selesai menumpuki kayu bakar di atas kompor gas yang tak bersalah nan malang tersebut.

Menumpuk kayu bakar di atas kompor gas padahal aslinya tinggal ctek, selesai.

"Selesai, tinggal menyalakan-"

"Tunggu, aku rasa itu bukan cara yang benar untuk menyalakan kompornya..." Gokotai memotong pekerjaan Tanuki.

"Lalu, bagaimana yang benarnya?"

Gokotai pun mendekat dan memutar tuas di kompor gas tersebut, tetapi anehnya apinya tidak keluar, Gokotai berjalan mundur menjauhi kompor dan membiarkan tuasnya tidak kembali.

"Uuh, aku rasa seperti itu caranya ... Aku pernah melihat Hasebe-san menyalakan api dengan cara itu, tapi aku rasa itu salah..." Gokotai menutupi mukanya dengan malu menahan tangis, Tanuki hanya menghelakan napasnya.

"Bagaimana dengan apinya?" Mutsu dan Namazuo akhirnya kembali dengan membawa panci berisi beras yang telah dicuci dengan sabun serta pemutih pakaian, ini seriusan loh mereka mau ngeracunin satu citadel atau apa?

"Sedikit lagi, aku akan menyalakan apinya..." Tanuki menyalakan korek api di tangannya,Gokotai duduk dengan lesunya di pojok dapur dekat pintu masuk sambil terisak-isak.

"Kok baunya menyengat-" Sebelum Mutsu bisa menyelesaikan kata-katanya, api menyulut ke kayu bakarnya, tetapi bukan hanya kayu bakarnya saja, api itu juga menjalar ke tabung gasnya.

DUAR!

Ledakan hebat di dapur kecil itu tidak dapat dihentikan.


Sayangnya di jaman kuno seperti ini sirene pemadam kebakaran tidak akan ada.

Api melahap bulat-bulat dapur kecil kesayangan citadel, merah menyala di tengah sore hari membuat seorang Namazuo hanya bisa menatapi si Jago Merah dengan kosongnya.

Isak tangis dari Gokotai yang digendong oleh Mutsu, terlukis pucat pasi di wajahnya, lalu ratapan Tanuki yang di sertai omelan para Toudan tersisa di citadel menyertai di langit sore merah menyala karena kobaran api yang cukup besar.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, tetapi para Toudan yang selamat harus menjadi korban dari amukan Sang Saniwa.

- bersambung -


A/N : Hai, Nyan kembali lagi~

Kali ini saya akan menotis /plak review kalian selama membaca cerita lucknut ini /plak

hi-hibiya yo : yep, nirfaedah itu lebih kaya unfaedah yang maksudnya tidak berfaedah /plak

Iya nih ccp kalo latah emang gak nahan dah wwwww, dan semoga doa dari dewa samonji juga menyertaimu /dibuang

Terimakasih telah meluangkan waktunya untuk membaca fic yang nirfaedah ini! m(_ _)m

Mohon tunggu chapter selanjutnya!