1

Everyone blasphemes you as a mistake, but you're definitely a miracle for me

.

.

.

Seorang pria berperawakan jangkung berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang lengang. Langkah panjangnya berhenti di depan sebuah pintu dengan plang nama seseorang beserta gelar di sisi tembok. Ia mengeluarkan sebuah kartu identitas dari saku snellinya dan menempelkannya ke passcode pintu. Suara kecil terdengar, dan jemari kurusnya membuka handle pintu.

"Yo!"

Sapaan khas itu membuat pria lain di dalam sana mengangkat wajah dari lembaran kertas dan pena hitam beraksen emas.

"Shiftmu selesai, Park?" Tanya pria itu, kembali berkutat dengan apa yang dipegangnya.

"Katakan saja begitu." Jawab pria Park itu sembari duduk di salah satu sofa.

Hening sejenak karena mereka sama-sama tak punya niat untuk bicara. Salah satu di antara mereka tengah memperhatikan yang lain, agar tahu bagaimana ia harus bersikap setelah ini.

"Kau serius dengan wanita itu, Sehun?"

"Apa maksudmu?" Sehun mengangkat wajahnya dan memberikan tatapan tak suka. Pria bersnelli itu hanya tersenyum kecil.

"Ini pertama kalinya aku melihatmu begitu gencar terhadap seorang wanita, terlebih dia sudah mempunyai seorang putri kecil. Bahkan kau membantunya mengurus kartu-kartu pentingnya yang hilang." Seringai lebar terlukis. "Kau serius?"

"Kali ini aku tak main-main, Chanyeol."

Ada kilatan berbeda pada dua mata tajam di sana, dan ia memilih diam dalam senyuman tipis.

"Aku penasaran, bagaimana caramu mengambil hati mereka." Sehun bangkit dari kursi kebesarannya dan berdiri di depan jendela besar tanpa tirai. Chanyeol menatap pria pucat itu dengan tatapan tak dapat diartikan.

"Shia menyukaiku, bagaimanapun juga dia masih sangat membutuhkan figur seorang ayah. Sementara Luhan, dia sebaliknya; keras dan sulit di dekati. Kau tahu apa yang dia katakan padaku beberapa hari lalu setelah aku mengantarnya dari supermarket? Dia memperingatkan aku untuk menjauh, sepertinya trauma masa lalunya begitu besar."

Chanyeol mengernyit, membuat gestur berpikir dengan jemarinya. "Perlu Baekhyun untuk dia?"

"Wanita itu?" Sehun mendengus kecil. "Tidak terimakasih."

"Chanyeoliiiee… Apa kau sedang sibuk sekarang?" Pintu terbuka kasar dan seorang wanita berpakaian modis menabrak pria Park dari belakang, membuat Chanyeol nyaris terjungkal kedepan. Sehun acuh tak acuh.

"Astaga, Baek… Apa yang kau lakukan?!" Chanyeol merasakan sesak nafas, berusaha melepaskan dekapan lengan Baekhyun di lehernya.

"Aku merindukanmuuu…" Kata Baekhyun sambil mengusak ujung hidung bangirnya pada sisi wajah pria jangkung itu.

"Hentikan suara menggelikanmu itu." Sehun berucap dingin dan Baekhyun langsung melepas pelukannya. Dengan elegan ia berjalan menuju sofa dan duduk melipat kaki dengan anggun. Chanyeol menghela nafas lega.

"Aku sudah menyelesaikan tugasku, jadi boleh kan, aku ke sini?" Kata wanita berbibir merah terang itu. Sehun tak menjawab, dan Baekhyun menyeringai cantik.

"Oh oh… Apa seorang Oh Se Hun sedang galau karena wanita bernama Luhan di sini? Aku tak pernah melihatmu se-mmph…" Baekhyun mendelik pada Chanyeol yang membungkam bibirnya, namun melihat tatapan serius Chanyeol, wanita itu mengangguk mengerti.

"Sebenarnya agak konyol melihatmu seserius ini dengan seseorang, terlebih pertemuan pertama kalian sungguh jauh dari ekspektasi."

"Pertemuan pertama? Jangan bercanda," Chanyeol nyaris meledak dalam tawa geli. "bisa dibilang itu pertama kalinya Sehun melihat wanita itu. Aku yakin Luhan samasekali tak tahu perihal itu."

Baekhyun menyeringai tipis. "Woah, kali ini kau benar-benar serius." Katanya. "Lantas bagaimana caramu mendekatinya? Perlu bantuan kami?"

Sehun menatap dua orang berbeda gender itu dengan tatapan kesal. "Aku akan melakukannya dengan caraku sendiri. Diamlah sampai aku berkata aku memerlukan kalian."

'Caraku sendiri' yang mana, maksudmu, Sehun? Baekhyun membatin kecil dengan senyum tersamarkan.

"Lebih dari itu, apa kau sudah menyelesaikan pasien gagal ginjalmu itu?" Sehun menatap Chanyeol serius, demi kredibilitas rumah sakitnya, tentu saja ia tak akan menyepelekan hal-hal semacam ini, terlebih yang ditangani oleh dokter bedah bermarga Park yang sedikit kekanakan ini. Kalau saja dulu Chanyeol tak berjuang bersamanya, mungkin ia sudah mendepak pria jangkung itu. Ah, tidak juga.

Chanyeol mengangguk kecil. "Kami akan melakukan operasi esok lusa. Kecocokan antara pasien dan pendonor sudah dipastikan, dan kemungkinan penolakan di bawah 20%."

Sehun tampak puas dengan jawaban singkat itu. Pria berambut hitam itu meraih jasnya yang tersampir dan keluar dengan membawa dompet dan kunci mobil.

"Aku pergi. Jangan sentuh barang-barangku."

Chanyeol melambaikan tangannya sambil berkata sesuatu tentang apa kau mau bertemu wanita itu dan Baekhyun mendengus kecil.

"Kau pikir kami berani melakukannya lagi? Maaf, aku benci lemparan gunting." Wanita nyaris seperempat abad itu mendecih kecil, membuat perhatian Chanyeol teralihkan.

Chanyeol mendekat dan meraih wajah mungil Baekhyun. Kecupan intens tercipta dari dua pasang bibir itu, membuat lenguhan kecil terdengar. Baekhyun mengalungkan tangannya ke leher kokoh beraroma maskulin.

"Tapi aku tidak janji akan mengotorinya atau tidak." Baekhyun berkata jenaka dan membuahkan tawa renyah dari pria Park di sana.

"Yeah, tidak ada yang janji."

.

.

.

Luhan terdiam saat mendapati Shia duduk diam di depan televisi menyala. Tak ada tawa dan kikikan kecil di sana, karena memang gadis kecil itu tidak sedang melihat tayangan kartun kesukaan di akhir minggu seperti biasa. Luhan tak tahu tayangan apa itu, tapi ada sepasang ibu dan anak yang tertawa ceria di sana, dan seorang pria dewasa yang ikut ke dalam lingkaran hangat mereka.

Luhan tertegun, tangannya nyaris menjatuhkan sepiring potongan buah dan saus coklat yang dipegangnya. Hatinya tiba-tiba sesak dan nafasnya serasa sulit ditarik, tanpa ia sadari setetes air mata sudah meluncur turun dari netranya yang basah dan panas.

Ia tahu benar apa yang dirasakan Shia, perasaan menyakitkan seperti apa. Tapi selama ini ia terus menutup mata dan berdalih; jika ia bisa melindungi Shia dan memenuhi semua kebutuhannya, mendidiknya dengan baik dan mencintainya sepenuh hati, ia pikir semuanya akan cukup.

Tapi tidak, bahkan seorang anak yang melihat ayahnya pulang sedikit terlambat dari biasanya akan bertanya 'ayah darimana saja?' Dan Shia, yang seumur hidupnya tak pernah mengenal figur seorang ayah, apa yang akan gadis kecil itu tanyakan padanya? Pernah suatu hari Shia bertanya, kemana sebenarnya pria yang seharusnya dipanggilnya ayah? Jika memang benar ayahnya sedang bekerja di tempat yang sangat jauh, mengapa sampai sekarang tak jua pulang, tidak rindu kah? Jika memang benar ayahnya sangat sibuk, apa benar-benar tak sempat menghubunginya via telefon? Ia melihat banyak teman-temannya melakukannya, bahkan bisa melihat wajah masing-masing dan berinteraksi di layar ponsel pintar.

"Mama, papa Shia kemana? Kenapa tidak pernah pulang? Apa Shia anak nakal sampai papa tidak mau pulang?"

Memang apa yang bisa ia katakan? Menjawab jujur dengan kumpulan kalimat pesakitan yang akan menghancurkan dirinya sendiri?

"Shia, Mama akan sedih jika Shia bertanya begitu."

Putri kecilnya terdiam kecewa, sebelum akhirnya tersenyum lebar dan mengatakan baiklah dengan sangat baik-baik saja. Luhan tahu Shia terpukul, kebingungan dan sedih. Tapi ia tetap menutup mata dan telinga, menepis semua itu dan beranggapan semuanya akan baik-baik saja.

Ia membiarkan putri kecilnya menjadi dewasa sebelum waktunya. Dan itu adalah cela terbesarnya sebagai seorang ibu.

"Tuhan, apa yang harus aku lakukan?"

Shia sudah mengetahui semuanya, ia tahu itu. Ia tahu putri kecilnya mengintip saat ia berbicara dengan seseorang di sambungan telefon, seseorang yang seharusnya Shia panggil dengan sebutan kakek. Kemarahan, caci maki dan kutukan yang diteriakkan dari seberang telefon terlampau keras, tapi Luhan melakukannya sebagai penebusan dosa yang tak akan pernah cukup, sekaligus melepas rindu dengan cara yang menyakitkan.

Kalimat-kalimat kasar dari sambungan telefon ketika sang Ibu menganggapnya sudah tertidur, fakta bahwa sampai sekarang ia tak pernah tahu siapa dan bagaimana rupa ayahnya, ibunya yang terus menghindari topik itu; membuat gadis kecil itu paham apa yang terjadi padanya.

Jika kau selalu memperkenalkan diri dengan nama pemberian tanpa marga; kau masih sebodoh itu untuk tahu apa yang terjadi?

"Hiks…"

Suara isakan kecil itu membuat Luhan tersadar. Ia mengerjapkan matanya yang basah dan mendapati gadis kecilnya tengah menangis, tangannya berusaha mengusap lelehan air mata yang sulit berhenti itu. Degukan tubuhnya begitu keras, membuat Luhan tahu Shia menahan tangisannya mati-matian. Hatinya dipukul palu godam, hancur berantakan.

"Shia…" Ia lekas mendekat, menyongsong putri kecilnya dalam pelukan erat.

"Shia… Shia… Maafkan Mama…"

Saat itu juga tangisan itu pecah. Shia menangis sangat keras, mengeluarkan semuanya sekaligus sampai membuat nafasnya sakit dan beberapa kali tersedak. Gadis kecilnya terlihat begitu rapuh dan kesakitan, suara tangisnya yang pilu membuat Luhan sesak bukan main.

"M-mama… Maafkan, S-shia… Karena Shia Mama harus tinggal sendiri tanpa kakek dan nenek. Mama harus dimarahi, Mama harus kesulitan sendirian karena Shia… M-mama… Shia minta maaf… Hiks~"

Tangisan itu makin menjadi dan Luhan tergugu, tak bisa mengatakan sangkalan apapun meskipun dalam hati ia berteriak keras.

"Tidak, Shia… Tidak, Mama—"

"Shia baik-baik saja jika Shia tidak punya ayah, tapi Mama harus memaafkan Shia… Mama tidak boleh benci Shia dan meninggalkan Shia… Shia j-janji tidak akan nakal t-tapi … tapi…"

Pikiran macam apa itu?!

"Shia!" Luhan nyaris berteriak, mengangkup wajah putri kecilnya yang basah dan memerah dengan tatapan nyalang, kalap dan panik. "Shia tidak boleh meminta maaf karena hal itu! Shia sama sekali tidak bersalah jadi berhentilah mengatakan hal seperti itu, Sayang…"

Suara Luhan melemah, ia menyerah.

"Shia sama sekali tidak bersalah… Ya? Shia bukan kesalahan, Shia bukan kesalahan sehingga Shia harus meminta maaf… Mama bahagia bersama Shia, Mama bahagia memiliki Shia… Mama bersyukur melahirkan gadis malaikat secantik dan sebaik ini, oke?"

Shia kembali tergugu dan Luhan berusaha menyematkan senyum kecil. Gadis kecilnya masih menangis.

"Jika Shia bertanya, siapa yang paling Mama cintai di dunia ini, Mama akan menjawabnya Shia… Mama rela menukarkan apa saja untuk Shia… Semua yang Mama lakukan untuk Shia, Mama lakukan dengan senang hati… Meskipun beberapa kali Shia melihat Mama bersedih, bukan berarti itu karena Shia… Shia, janji pada Mama, Shia tidak boleh mengucapkan hal seperti tadi ya?"

Shia terisak lebih keras.

"Mama…" Gadis kecil itu langsung menubruk ibunya, memeluknya erat dan kembali menangis.

Luhan tersenyum kecil, mengelus punggung Shia dengan sayang. Berusaha memberikan ketenangan bagi Shia juga bagi dirinya sendiri.

"Jika semua orang menganggap Shia kesalahan, bahkan Shia sendiri; bagi Mama Shia adalah anugrah yang paling indah… Shia seperti keajaiban yang Tuhan titipkan pada Mama. Shia harus mengerti itu, oke?"

Shia mengangguk kacau, menggumam ya berkali-kali di sela tangis. Luhan mencium puncak kepala anaknya, mencoba mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"Shia boleh menangis sepuasnya, tapi setelah ini Shia janji akan baik-baik saja, oke?"

Mereka berantakan, sedih dan kesakitan. Tapi dalam peluk dan tangis itu, mereka sama-sama melepas beban dan saling menguatkan.

Saat tangisan Shia mulai mereda, Luhan melepaskan pelukan itu. Wanita cantik itu terkekeh pelan saat menyadari Shia tak melepaskannya begitu saja. Luhan mengusap air mata yang membuat wajah Shia begitu kacau, seluruh wajahnya kemerahan dan Luhan meringis, mungkin ia tak jauh beda.

Luhan mencium bibir anaknya lama. "Shia tahu, Shia seperti kelinci putih dengan hidung memerah sekarang."

Shia merengut kecil sebelum balas mengecup hidungnya. "Mama tidak beda dengan Shia."

Luhan terkekeh kecil.

"Setelah ini, Shia bisa mengatakan apapun pada Mama, ya? Tidak boleh diam saja karena takut membuat Mama bersedih. Shia, Mama minta maaf, ya?" Mata Shia kembali berair dan Luhan segera mengusapnya. Shia mengangguk tegas.

"Shia janji, besok kita tidak boleh minta maaf karena ini lagi."

"Bagus, Shia anak pintar. Sekarang bersihkan wajah Shia dan—"

Suara panggilan menghentikan kalimat itu. Luhan segera bangikit untuk meraihnya, tentu dengan Shia yang masih tak mau lepas. Shia memeluknya erat dan menyembunyikan wajah di perpotongan leher dan bahunya.

Luhan tertegun saat melihat ID si Pemanggil.

"Yeoboseyo…"

"Yeoboseyo, ah, aku kira kau tak akan mengangkatnya."

Begitu suara yang sangat dikenalnya terdengar, Shia langsung mengangkat wajah. Menatap bertanya pada Luhan apakah benar yang memanggil Mamanya itu orang yang ia pikirkan. Luhan tersenyum tipis, mengusap wajah anaknya sembari mengangguk. Shia menjadi sedikit lebih cerah.

"Ada apa kau menghubungiku?"

"Aku ingin berkunjung ke rumahmu, bisakah? Aku ingin bertemu dengan Shia."

Luhan terdiam sebentar, menarik nafas dalam dan mencoba menjernihkan pikiran agar ia tak kembali bersikap egois. "Shia dalam gendonganku, kenapa kau tidak berbicara padanya saja, Sehun?"

Shia kontan memerah dan langsung beringsut turun dari gendongan ibunya. Luhan terkekeh melihat semu merah muda berbeda di dua pipi gembul itu. Suara gemericik kamar mandi terdengar dan Luhan yakin Shia begitu antusias.

"Berkunjunglah kapanpun kau mau, Sehun… Shia akan senang dengan kedatanganmu."

Luhan tak tahu, Sehun terdiam dengan bibir tergigit di seberang sana.

"Aku akan membawakan sesuatu kalau begitu. Aku datang secepatnya." Luhan seolah mendengar deruman gas yang diinjak keras dari sana, dan tanpa sadar sudut bibirnya tertarik kecil.

"Mama! Kenapa wajah Shia jelek sekali?" Rengekan dari kamar mandi itu membuat Luhan tak dapat menahan senyuman. Seharusnya ia tidak bersikap egois jika Shia bisa sebahagia itu hanya dengan kabar seseorang akan datang berkunjung.

Pada akhirnya, Luhan dengan senyum gemas dan kekehan kecil mengoleskan krim dingin pada wajah Shia, khususnya di bagian bawah mata yang membengkak.

"Shia ingin Paman Sehun datang lebih lama. Wajah Shia jelek sekali, Mama… Apa Shia boleh menggunakan ini?"

Luhan lagi-lagi terkekeh. "Sebenarnya Shia belum boleh menggunakan ini, tapi karena Paman Sehun akan datang, Shia bisa menggunakannya sekali ini. Mama yakin Shia tidak mau terlihat lucu di depan—"

"Mama, Shia malu!"

Luhan tertawa, tak dapat menahan rasa gemas karena keantusiasan putri kecilnya.

Sementara itu di sisi lain, sebuah mobil hitam menggilas aspal jalan dengan deruman keras. Beberapa bingkisan kecil semacam kue manis dan roti-roti hangat dari bakery ternama duduk diam di jok samping. Sehun tak menyangka hari ini adalah hari keberuntungannya. Rasanya masih hangat di ingatan saat Luhan memasang wajah datar beraura defensif dan mengatakan deret kalimat yang sedikit menyakiti harga dirinya.

"Saya berterimakasih atas semua bantuan Anda selama ini, tapi maaf, saya merasa tidak nyaman dengan itu semua. Bisakah Anda berhenti melakukan hal seperti ini?"

Saat itu Sehun tertegun, tak menyangka akan mendapat semprotan kalimat sefrontal itu. Sesuatu dalam dirinya nyaris membalas perkataan itu, tapi Sehun dan pengendalian diri adalah dua hal yang melekat erat. Sehun memejamkan mata sejenak.

"Apa kau selalu seperti ini dengan orang baru yang berniat mengenalmu?"

Luhan hanya terdiam kala itu. "Katakanlah aku hanya ingin berteman denganmu juga Shia, maaf jika kau terganggu dengan caraku. Aku tidak tahu bagaimana cara yang kau anggap benar, atau memang tak akan ada cara yang benar di matamu?"

"Lain kali haruskah aku meminta izin darimu terlebih dahulu jika tak sengaja bertemu Shia dan berbicara dengannya?"

Luhan menangkap semburan sarkasme di perumpamaan itu. Sehun tersenyum kecil, salah satu sudut bibirnya terangkat membuat Luhan tertegun.

"Aku mengerti ketidaknyamananmu, tapi aku tidak akan menyerah."

Sehun nyaris menjedukkan dahinya ke kemudi mobil jika saja ia tak ingat ini kesempatan penting.

"Kau tak boleh mengacaukannya..." Sehun bergumam.

Roda hitam mengkilat itu berhenti di depan sebuah rumah kecil dengan pekarangan hijau memenuhi nyaris seluruh bagian. Sehun tak pernah suka ide apapun itu tentang kumpulan tanaman di depan sebuah bangunan, tapi ia menemukan dirinya menyukai hal itu sekarang.

Sehun turun dengan tangan menjinjing bingkisan, matanya menatap lekat pada lingkungan ini. Kalau saja Luhan bukan seseorang yang bisa merawat sesuatu, mungkin rumah kecil ini akan terlihat tak layak huni. Beberapa dinding tak terawat tertutup dengan baik, namun bukan berarti mata Sehun tak dapat menangkapnya. Sudut hatinya tersentil, tiba-tiba ia merasa bersalah entah karena apa.

Baru saja ia akan melangkah. Suara menggemaskan terdengar dan netranya menangkap sesosok gadis kecil berlari mendekat dengan binar semangat.

"Paman Sehun datang!"

Sehun kira Shia akan memeluknya, tapi gadis kecil itu berhenti di depannya lantas membungkukkan tubuh, memberi salam sopan. Sehun tersenyum kecil, Luhan mendidik anaknya dengan baik.

"Tentu saja, Paman membawakan sesuatu untuk Shia dan Mama. Paman harap Shia suka." Sehun tersenyum dan mengusak rambut lembut Shia, ia tertegun saat melihat cengiran Shia. Cengiran itu membuat matanya menyipit dan Sehun melihat bekas kemerahan samar di sana. Apa gadis kecil ini baru saja menangis?

"Paman ayo masuk! Mama sudah menunggu!" Sehun mengangkat pandangannya dan menemukan Luhan berdiri di depan pintu terbuka dengan senyum samar. Sehun tahu Luhan belum sepenuh hati menerima, tapi ia tersentuh dengan kesediaan Luhan untuk mencoba.

Mereka tak bertukar sapa apapun sampai masuk ke dalam. Dan Sehun yang tahu diri untuk tidak protes, menjelajahi ruang tamu itu dengan matanya. Satu set sofa dengan televisi sedang, beberapa rak kabinet berisi buku dan satu spot khusus untuk beberapa pigura foto. Sekilas ia melihat potret-potret Shia di sana.

"Maafkan aku kalau ini tidak membuatmu nyaman."

Sehun tersenyum simpul. "Aku berterimakasih kau mengijinkanku datang."

"Paman Sehun, apa ini semua untuk Shia dan Mama?" Shia menginterupsi, bingkisannya sudah terbuka dan menampakkan deretan kue dan roti yang tampak berkilau mahal.

"Tentu saja, kenapa Shia bertanya seperti itu?" Sehun duduk di sebelah gadis kecil itu, Shia menatapnya lucu.

"Banyak sekali. Paman bantu menghabiskannya ya?"

Sehun menggigit bibir mendengar kalimat itu. "Paman membelinya untuk Shia dan Mama, kenapa paman harus ikut memakannya? Shia bisa memakan kue manisnya besok jika sekarang tidak habis."

"Bukankah Shia bisa membawanya ke sekolah besok untuk dibagi bersama Nara?" Luhan berkata.

Shia mengangguk semangat dan langsung mencomot salah satu roti beruap hangat. Mulutnya menggigit kecil, pipinya mengembung dan bergerak seperti tupai mengunyah kacang hazel. Matanya berbinar saat mencecap rasa roti itu.

Reaksi sederhana dan polos dari seorang gadis kecil yang membuat Sehun tanpa sadar mengulas senyum tulus.

Sementara itu, Luhan hanya bisa terdiam melihat putri kecilnya. Ia tak tahu, ada perasaan tak nyaman melihat Shia bahagia karena pria asing ini, namun juga ada perasaan lega tak terduga dalam hatinya. Semuanya terasa rumit dan membuatnya sedikit kalut, tapi ia sudah berjanji tak akan menjadi ibu yang egois lagi. Jika Shia bahagia, maka ia akan berusaha menerima.

Setidaknya itu yang ia coba tanamkan dalam kepalanya.

"Jangan makan terlalu banyak. Makan siang sebentar lagi dan Shia bisa simpan itu untuk camilan nanti sore, oke?" Luhan mencubit pipi Shia yang masih menggembung, membuat cengiran putri kecilnya makin terlihat menggemaskan. Ia segera beralih ke Sehun. "Aku akan membuatkanmu sesuatu, teh atau kopi atau sesuatu lain?"

"Shia ingin minum apa?" Tak disangka Sehun malah balik bertanya pada Shia. Kunyahan tertelan, dan jawaban semangat membuat Sehun nyaris tertawa.

"Lemon ice tea buatan Mama!"

"Dua lemon ice tea untuk kami, Luhan." Luhan menyematkan senyum kecil sebelum menghilang di balik pintu.

"Shia suka es teh lemon?" Sehun bertanya, jemarinya bergerak merapikan helai anak rambut yang mengganggu kunyahan Shia.

"Eum, Shia suka sekali. Tapi kata Mama tidak boleh terlalu sering, nanti Shia bisa sakit, begitu. Kalau Paman Sehun suka apa?"

"Paman juga suka es teh lemon, seperti Shia." Sehun sama sekali tak berbohong. Sementara Shia masih bersemangat dengan kumpulan makanan manisnya, Sehun membiarkan matanya menjelajah ruangan itu lebih intens. Potret-potret dalam pigura yang tadi hanya sekilas ia perhatikan, kini ia tatap penuh perhatian.

Ada potret saat Shia masih bayi dengan baju berwarna biru terang dan rambut pendek menggemaskan, lalu saat Shia balita tengah berjalan meraih ibunya, beberapa potret Shia dengan seragam taman kanak-kanak, dan paling terakhir adalah potret Shia dengan ibunya, Luhan. Senyum mereka tak selebar yang terpampang sebelumnya, tapi entah mengapa itu terlihat lebih spesial.

Matanya kembali bergerak, dan menangkap setumpuk kotak kardus dan gulungan kertas tisu dan kertas berwarna. Beberapa sedikit berserakan.

"Mama suka membuat bunga kertas."

Sehun menoleh saat Shia berbicara, gadis kecil itu tersenyum kecil.

"Bunga kertas?"

"Eum, bunga kertas. Jika Mama sudah membuat banyak sekali Mama akan memberikannya pada pemilik toko kado di ujung jalan. Shia suka sekali saat Mama membelikan Shia sesuatu setelah membantu Mama membuatnya."

Sehun tersenyum sendu. Tangannya mencubit pipi gembul Shia, cengiran lebar itu samasekali tak menampakkan kesedihan.

"Buatkan satu untuk paman, bagaimana?"

"Tentu saja! Shia akan buatkan satu yang khusus untuk paman dan—"

"Shia semangat sekali, heum?" Luhan datang dengan nampan berisi dua gelas es teh lemon yang berembun. Shia nyaris melompat dari sofa. Sudah lama sekali sejak ia mencecap minuman manis asam itu, agaknya sang Ibu masih sedikit keras perihal sesuatu yang dingin dan kata demam.

"Minumlah." Kata wanita itu pada Sehun, Sehun menangkap ada getaran di suara itu, keningnya berkerut heran. Namun ia memilih bungkam.

"Mama masih punya sedikit pekerjaan, jadi Shia main dengan paman Sehun sampai makan siang nanti, ya?"

Shia yang sibuk dengan minumannya mengangguk tanpa suara. Sehun menatap langkah terburu Luhan dengan tatapan tak terbaca. Ini terasa sangat canggung, entah mengapa Sehun merasa Luhan tengah merosot di dinding dengan nafas terengah. Ia bisa merasakan Luhan tidak nyaman dengan kehadirannya di sini, tapi wanita itu mencoba untuk putri kecilnya.

Sehun tak tahu harus merasakan apa, tapi yang jelas ia tidak mau menyerah. Jika saat ini Luhan tidak sepenuh hati, maka suatu saat nanti ia sendiri yang akan membuat Luhan menerimanya dengan terbuka.

"Shia, boleh paman bertanya?"

Shia menoleh dengan tatapan bertanya, tangan masih memegang sepotong roti hangat yang sudah tergigit dan pipinya masih menggembung, bergerak mengunyah.

"Apa Shia tinggal sendirian di sini bersama mama?"

Shia menghentikan kunyahannya. Gadis itu tampak sendu, tapi senyum kecil yang ada membuatnya tersamar.

"Paman Sehun suka Mama, ya?" Shia bertanya dengan senyum manis dan mata menyipit bak bulan sabit. Sehun nyaris tersedak ludahnya sendiri mendengar pertanyaan yang terbilang sensitif itu.

"A-ah itu..."

"Mama selalu menganggap Shia masih kecil, menganggap Shia tidak tahu apa-apa... Padahal, Shia sudah tahu semuanya. Mama tidak pernah memberitahu, tapi, seperti Mama yang pintar menyembunyikan sesuatu, Shia juga pintar mencari tahu."

Sehun tanpa sadar mengusap rambut Shia, gadis kecil itu terpejam, dalam diam menikmati kehangatan dari tangan besar itu.

"Paman tadi bertanya apa Shia hanya tinggal di sini bersama Mama, kan? Eum," Shia mengangguk. "Shia hanya mengenal Mama, tidak pernah ada kakek, nenek, bibi, paman, atau ... papa."

"Maafkan Paman, Shia."

Gadis kecil itu menggeleng. "Paman Sehun menatap Mama dengan tatapan yang sama saat Mama menatap Shia. Tatapan Paman Sehun pada Shia juga mirip dengan tatapan Mama pada Shia. Paman Sehun suka Mama, kan?"

Sehun terkekeh kecil mendengar pertanyaan yang kembali terulang. "Memangnya boleh?"

"Kalau paman Sehun janji tidak akan membuat Mama menangis, boleh-boleh saja." Shia memberikan cengiran lucu yang membuat Sehun nyaris meledakkan tawa. Gadis kecil ini benar-benar manis dan lucu dengan caranya sendiri.

"Kenapa Shia bisa seramah ini pada Paman, tidakkah Shia lihat Mamamu sangat membenciku?"

Gadis itu mengedikkan bahu, berusaha terlihat tak peduli.

"Shia hanya suka paman, itu saja. Selain itu Shia tidak tahu lagi."

Sehun menatap Shia dengan tatapan tak dapat diartikan. Perasaannya campur aduk setelah berbicara dengan gadis ini. Shia tampak masih sangat rapuh, kecil dan rentan, namun di saat yang sama, ternyata dia jauh lebih dewasa dan lebih kuat dari yang terlihat. Ada rasa kagum, namun rasa iba dan miris jauh lebih mendominasi. Semua itu tumbuh di umurnya yang nyaris tujuh karena kehidupannya yang penuh dengan kesulitan.

Sehun seperti berkaca pada dirinya sendiri saat melihat Shia.

"Boleh Paman memakan buah dan coklat ini?"

Shia mengangguk semangat. "Tentu saja! Buatan mama sangat enak dan Paman harus mencobanya."

Luhan duduk di tepi ranjang dengan wajah berkeringat. Nafasnya terengah dan matanya basah. Meninggalkan Shia bersama pria yang dianggapnya asing bukanlah pilihan yang ia sukai, tapi ia sudah berjanji tidak akan menjadi ibu yang egois dan menyakiti hati putri kecilnya. Ia masih terlalu khawatir, terlalu panik dan banyak hal negatif berputar-putar dengan kata 'terlalu' di depannya.

Namun, gelak tawa Shia terdengar sangat cerah. Ia bisa apa?

Ia harus segera menghilangkan traumanya ini. Sudah sekian tahun berlalu, segalanya sedikit lebih membaik dan ia tak ingin kembali mengulang dari awal.

"Tuhan, tenangkan hatiku ini... Kumohon..." Luhan nyaris membisik. Tangannya bergerak mengusap wajah, menarik nafas dalam dan segera beranjak.

Langkahnya ia bawa ke dapur, sedikit melewati pintu menuju ruang tamu dan Luhan merasa Sehun melihatnya berjalan. Namun ia mengabaikannya, ia tak ingin melihat mereka. Ia tidak siap melihat wajah berbinar Shia bersama pria itu.

Tangannya membuka lemari pendingin dan mengambil beberapa bahan dari sana, sedikit tertegun ketika ia melihat tak ada sesuatu yang terbilang layak untuk disajikan melihat status Sehun yang ia ketahui sebagai direktur sebuah rumah sakit elit dan entah yang lain lagi. Tapi ia langsung menggeleng, untuk apa ia bersusah payah memikirkan hal itu? Jika pria itu benar-benar ingin berteman dengan Shia, juga dirinya, pria itu harus menerima mereka apa adanya.

"Apa yang aku pikirkan?!" Luhan mengerang.

Tangannya bergerak lincah mengolah.

Luhan berusaha larut dalam kegiatannya, mencoba menulikan diri dari candaan dua orang berbeda gender di ruang seberang. Ia tak sadar ketika tawa riang Shia berhenti dan berganti dengan senyap, ia berhasil larut dalam suara jerangan air dan desisan minyak yang menjadi kawan sehari-hari. Dentingan piring dan mangkuk keramik murah saat berbenturan kecil dengan meja kayu dan uap dari hidangan di dalamnya menjadi fokus.

Dan itu semua membuatnya terkejut ketika mendapati Shia tertidur pulas di pangkuan Sehun dengan tangan bergelung nyaman. Luhan melihat tangan pria itu mengelus rambut Shia yang sudah terurai dengan lembut. Apakah Sehun memasukkan obat tidur dan membuat—

"Shia tertidur setelah menghabiskan nyaris setengah roti dan kue yang aku bawa. Jangan berpikir macam-macam."

Luhan nyaris tergagap. Wanita yang rambutnya sedikit lepek itu mencoba mengulas senyum kecil. Luhan tahu itu terlihat kaku dan tidak tulus, tapi persetan.

"Dia pasti kekenyangan menghabiskan semua ini." Luhan mencoba meraih Shia namun Sehun menghentikannya dengan bangkit dan menggendong putri kesayangannya.

"S-sehun..."

"Biarkan aku saja, kau pasti kelelahan berkutat dengan dapur." Luhan hendak membantah, namun Sehun lebih dulu berjalan dan menghilang di balik pintu.

"Di mana kamar Shia?"

Luhan kaku. "P-pintu kanan..."

Luhan masih berdiri di sana saat Sehun kembali sambil merapikan dasi, pria itu meraih jas hitam dan ponsel yang tergeletak.

"Sebaiknya aku pergi seka—"

"Jangan membuat usahaku sia-sia, setidaknya makan sianglah di sini." Sela Luhan cepat.

Luhan tampak tidak suka dengan kalimat yang ia ucapkan sendiri, tapi Sehun hanya tersenyum. Jas kembali tersampir, ponsel kembali tergelatak. Dasinya kembali dilonggarkan.

Luhan membimbing langkah, lantas duduk di kursi dekat konter dapur. Ada dua set kursi yang sama di sana, sisa kursi yang dekat dengan pintu terlihat berbeda corak. Sehun tersenyum samar, Luhan memang tak pernah membiarkan siapapun mendekat selama ini.

"Aku tak akan mengatakan apapun tentang maaf jika aku tidak menyajikan makanan yang pantas. Duduklah."

Jika saja mereka terlihat hubungan romantis yang normal, kalimat itu akan terdengar seperti ucapan sayang dari seorang wanita tsun yang manis dan galak sekaligus. Sehun nyaris menampar diri memikirkan hal itu.

"Hidangan dari seorang koki sekaligus ibu tak pernah mengecewakan sesederhana apapun itu, bukan begitu?"

Luhan berhenti menyendok nasi, matanya memicing tajam pada Sehun yang masih anteng.

"Darimana kau tahu aku seorang koki?"

"Aku bertemu denganmu di kedai tempatmu bekerja. Dan kenapa kau baru sadar sekarang setelah sekian lama?"

Luhan bungkam. "Aku tak mengingatmu." Ia nyaris membisik.

"Yah, kau tak mengingatnya. Saat itu kau keluar dari ruang dalam dengan aroma rempah kuat, menyambut gadis kecil berseragam. Kau bertanya dengan raut khawatir tentang 'mengapa Shia kesini sendirian?' bertubi-tubi dan langsung bungkam saat Shia mengatakan ia diantar ibu dari temannya. Shia memelukmu dan berkata kau beraroma seperti rosemary dan kayu manis. Aku duduk di salah satu meja saat itu."

Itu sudah lama berlalu, dan Luhan tak nyaman tentang kenyataan bahwa Sehun masih mengingatnya dengan detail.

Tak ada yang berbicara setelah itu. Luhan sibuk dengan piringnya dan begitupun Sehun. Pria itu sesekali mencuri pandang pada Luhan yang seolah terpaksa menelan makan siang satu meja dengannya. Sehun tersenyum kecil, mengabaikan itu dan memilih memberi perhatian pada makanan rumahan yang begitu menggiurkan. Lidahnya mencecap rasa yang lebih baik dari yang biasa ia rasakan.

Sehun baru akan menyuap untuk kesekian kalinya saat dentingan sendok membentur piring terdengar, Sehun mengangkat pandangan. Menemukan Luhan yang menatap kosong ke samping.

"Aku tak bisa mempercayai orang asing dengan mudah."

Sehun diam, tak menanggapi.

"Seorang pria pernah datang, memberi pertolongan yang sama seperti yang kau lakukan. Mengambil hatiku dengan pelan dan lembut, membuatku mulai melupakan trauma masa lalu. Tapi pada akhirnya ia merusak semuanya, memanfaatkan aku untuk kepuasannya. Meminta imbalan atas kebaikan yang ia lakukan terhadapku dan Shia, imbalan yang sangat menjijikkan."

Mata Luhan memicing berang, pancaran sakit dan benci tercipta apik. Dan seandainya Luhan menatap pria di seberangnya, wanita itu akan menemukan tatapan dingin dan membunuh dari pasang mata tajam, yang terlihat begitu asing.

"Dan aku nyaris membunuhnya jika saja aku tak teringat masih memiliki Shia." Luhan beralih menatap Sehun, dan sekejap mata tatapan asing menghilang. "Persetan dengan alasan mengapa aku mengatakan hal ini padamu; jangan berharap aku akan menerimamu dengan mudah."

Sehun kembali memakan suapannya yang tertunda. Senyum kecil yang sekilas nampak seperti seringai tercipta samar. "Dan jangan berharap aku akan menyerah dengan mudah pula. Aku keras kepala, jika kau mau tahu. Dan lagi,"

Sehun meletakkan sendoknya, menatap Luhan dengan tatapan lembut.

"aku bisa memastikan aku bukan pria bajingan macam itu."

Setidaknya begitu.

.

.

.

Permukaan penggorengan panas dan deret daging berminyak menghasilkan suara desisan yang terdengar harmonis dengan suara letupan kuah sup kuning keemasan. Aroma rempah yang harum, kaldu yang gurih juga aroma panggangan yang menggoda melayang-layang di tengah dapur sebuah kedai restoran yang ramai pengunjung.

"Nona Chef, sepaket japchae daging dan juga teh tawar untuk meja nomor 6!" Suara bariton milik lelaki muda berapron cokelat terdengar dari pintu yang sedikit terbuka.

"Oke!" Dua wanita yang berkuasa di depan kompor dan alat-alat dapur menyahut tanpa menoleh, begitupun dengan lelaki berambut cepak di meja seberang yang cukup jauh, berkutat dengan gelas-gelas dan aroma manis segar. Tangan dua wanita itu sedang bekerja multi-tasking antara nyala kompor dan masakan yang meletup di atasnya serta beberapa hal lain di atas balok kayu tipis dan pisau berkilat.

Luhan menyelesaikan sup hangat beraroma pedasnya dan segera meletakkannya di konter tinggi.

"Sup untuk meja nomor 9!" Luhan berseru sebelum kembali ke depan kompor untuk menyiapkan menu selanjutnya.

"Aku akan menangani japchae, Kyungsoo-ya..."

"Oke." Wanita bermata bulat itu tak mengalihkan pandangan sedikitpun, tangannya lincah membolak-balik daging di atas panggangan bergaris yang mendesis ramai, menunggu matang untuk dilimpahkan ke atas kepulan nasi putih hangat bersama dengan saus kental.

Jam makan siang tiba dan menjadi waktu tersibuk di kedai restoran itu. Ramai pengunjung datang silih berganti, memesan masakan korea dan china yang khas. Lalu lalang pelayan dan ributnya dapur membuat Luhan berpikir mereka membutuhkan seseorang baru, namun nyatanya sampai sekarang Nyonya Jang tak pernah setuju. Bukan masalah finansial atau apapun, kedai ini berdiri atas amanah mendiang suami Nyonya Jang; wanita baya itu hanya tak suka dengan sesuatu yang baru setelah semuanya berjalan dengan baik. Pun begitu ia tak sungkan ikut turun tangan.

Ketika tumpukan piring dan mangkuk kotor serta gelas-gelas bernoda kembali bersih dan kering seperti semula serta hanya ada beberapa meja yang masih terisi, dua koki utama bisa menyandarkan punggung di sofa ruang loker dengan engah lelah dan suara kipas angin berputar.

"Kau tidak menjemput Shia?" Tanya Kyungsoo, wanita itu tampak sibuk dengan punggung tangannya yang memerah karena terkena cipratan minyak panas, tube krim luka bakar terbuka di sisinya.

Luhan mendesah masif.

"Ada latihan paduan suara musim semi sampai menjelang sore. Kau tahu, sejak pagi dia sangat semangat." Raut wajah lelah berganti dengan binar lembut penuh kasih sayang. "Dia tak berhenti bernyanyi di kamar mandi, sampai di sekolah pun dia masih menggumamkan nyanyian."

Kyungsoo terkekeh. "Ah, aku harus datang untuk paduan suaranya nanti. Apa Shia memiliki bagian solonya kali ini?"

"Ya, ada bagian solonya." Luhan tak dapat menahan senyuman bangga.

"Kapan itu?"

"Tanggal 20 April nanti." Seketika Kyungsoo mencampakkan luka bakar dan olesan krimnya, mata bulat berbinar semangat.

"Oh astaga! Itu akan jadi kado ulang tahunmu yang terbaik! Aku yakin gadis kecilmu akan memberikan suaranya yang paling merdu."

Luhan tertawa kecil mendengarnya. Ia teringat suara Shia yang bergema di dinding kamar mandi tadi pagi, suaranya terdengar merdu, lembut sekaligus polos khas anak-anak. Gumaman-gumaman kecil tak berhenti mengalun, sampai Luhan nyaris hafal karenanya.

"Oh, Luhan..." Suara Kyungsoo membuat lamunannya terhenti. "Kau punya tangan yang harusnya tak sehalus itu untuk seorang juru masak yang aktif." Kyungsoo melempar tatapan iri yang lucu.

"Aku punya Shia yang membutuhkanku mengusap rambut dan wajahnya tiap malam, oke?"

Dua wanita itu tertawa.

"Hhahh... Pekerjaan ini benar-benar melelahkan, bukan begitu?" Kyungsoo bersandar pada sofa, matanya terpejam letih. Pelanggan benar-benar membludak hari ini, Kyungsoo tak tahu darimana datangnya pelanggan yang berduyun-duyun itu. Bukan ia tak senang, tapi jika setiap hari akan seramai ini, mungkin ia tak punya tenaga untuk pulang dan Luhan tak bisa memasak makan malam untuk anak perempuannya.

"Ya, begitulah..."

Kyungsoo membuka mata, dan menatap Luhan dengan tatapan serius.

"Bagaimana dengan Sehun?"

Raut wajah Luhan langsung mengeras mendengar nama itu. "Aku tak tahu, Kyungsoo-ya... Aku tak tahu..." Luhan terlihat enggan, namun Kyungsoo tahu ia tak bisa berhenti.

Wanita pekerja keras yang keras kepala ini sudah terlalu banyak menanggung beban berat, menjadi seorang orang tua tunggal dengan anak perempuan beranjak besar tak pernah mudah. Luhan tak pernah mendapat dukungan dari siapapun, semua ia lakukan dengan tangan dan kakinya sendiri. Kyungsoo nyaris menangis saat mengingat kilas balik kehidupan wanita bermata indah itu.

Trauma besar akan kepercayaan menghantamnya di umur belia, tanggungan berat yang tak dianggapnya beban ia cintai sepenuh hati tanpa dukungan sepasang manusia yang seharusnya disebut orang tua, dan saat hatinya mulai sembuh kepercayaannya kembali dihancurkan. Kyungsoo berangan, jika saja saat itu mereka tak bertemu, mungkin Tuhan akan menggariskan takdir kejam lain pada Luhan dan Shia. Kyungsoo tak dapat membayangkannya.

Luhan membutuhkan seseorang yang bisa menjadi tempatnya bersandar, juga menangis sampai air mataya kering karena hidup menggariskan jalan yang begitu kejam.

Dan Kyungsoo berharap pria bernama Oh Se Hun itulah yang bisa Luhan terima.

"Aku tahu kau sudah berusaha, mencoba menerimanya karena Shia menyukai pria itu... Tapi tidakkah kau berpikir untuk menerimanya karena dirimu sendiri?"

"Entahlah..."

Kyungsoo tersenyum maklum. "Aku merasa dia bukan pria bajingan, Luhan. Dia tulus padamu juga Shia, kau tahu itu, kan?"

Luhan menatap langit-langit ruangan. Aku tahu dia tulus, aku tahu... Tapi, aku masih ragu. Batinnya masih bimbang.

"Dia tak memaksamu, namun juga tidak menyerah."

Luhan membenarkan dalam hati.

"Dan yang terpenting, Shia begitu menyukai Sehun. Entah karena apa, tapi Shia menatap Sehun dengan tatapan yang berbeda. Aku yakin kau merasakannya, Luhan. Kau yang paling mengetahuinya."

Ruangan itu hening sejenak sebelum Luhan bersuara serak.

"Aku tahu."

Kyungsoo tak lagi melanjutkan kalimatnya, ia tahu, Luhan sudah memikirkan hal ini lebih dari sebelumnya. Setidaknya untuk hari ini, ia tak akan kembali memaksa. Karena bagaimanapun Luhan tak bisa selamanya sendirian bersama Shia. Ada peran yang tetap tak bisa Luhan gantikan untuk Shia, dan Kyungsoo yakin Luhan lebih dari tahu tentang itu.

Tinggal menunggu waktu. Kyungsoo berharap besar.

Luhan meninggalkan kedai restoran itu sebelum menjelang petang, berbagi salam kecil dan ucapan terimakasih yang bukan sekadar formalitas. Langit tiba-tiba mendung dan berintik saat Luhan sudah duduk di kursi bus, membuatnya merutuk karena tak membawa payung satu pun. Ia berharap Shia tidak mengeluarkan payung dalam tasnya.

"Kenapa tiba-tiba kembali hujan? Padahal sebelumnya selalu cerah." Luhan bergumam khawatir.

Hujan deras mengguyur ketika Luhan sudah setengah perjalanan. Dan tak juga mereda sampai bus berhenti di halte dekat sekolah Shia. Tanpa pikir panjang Luhan segera menerobos, mantel dan tasnya basah namun mencapai buah hatinya adalah yang ia pikirkan.

Luhan tersenyum lega ketika Shia masih berdiri diam di depan ruang wali kelas. Cengiran lebar Shia saat melihatnya mendekat membuat Luhan merasa baik-baik saja.

"Mama kenapa hujan-hujanan?" Shia berucap cepat, dahinya berkerut tak suka melihat ibunya kebasahan.

"Mama tidak membawa payung dan hujan turun di tengah perjalanan. Apa Shia menunggu sendirian di sini?"

Shia mengangguk, kemudian menggeleng.

"Semua teman Shia sudah pulang di jemput, tapi Shia masih ditemani Kim Saem. Sekarang Kim Saem sedang ke dalam."

"Ah, Nyonya Luhan!"

Wali kelas berambut panjang itu mendekat, membungkukkan tubuh dengan sebuah senyum sopan. Luhan membalasnya.

"Terimakasih sudah menjaga Shia, maaf, sepertinya saya sedikit terlambat."

"Ah, tidak-tidak... Apakah Anda akan segera pulang sekarang? Jika tidak Anda bisa menunggu di dalam, di dalam sedikit lebih hangat." Luhan berpikir sebentar lantas menatap Shia.

"Apa Shia membawa payung?"

"Shia membawanya. Shia tidak mengeluarkannya semalam."

Luhan menimbang, hujan masih sangat deras dan meskipun ada payung, tetap saja mereka akan basah diterjang cipratan air. Masih ada sedikit waktu sebelum petang hari benar-benar datang, dan ia tak ingin Shia kembali sakit.

"Kami akan menunggu di dalam, terimakasih."

Luhan dan Shia menunggu hujan mereda di dalam ruang tunggu yang cukup hangat. Sepasang ibu dan anak itu duduk satu sofa. Luhan yang sudah melepas mantel dan menggantungnya memeluk Shia erat-erat. Mencoba berbagi kehangatan.

"Bagaimana latihannya? Apa berjalan dengan lancar?" Luhan menanyakan hari putri kecilnya. Shia mengangguk semangat.

"Kami berlatih dengan baik, hanya beberapa bagian yang lupa lirik. Eummm, gerakannya sedikit sulit, tapi yakin Shia dan teman-teman bisa melakukannya!"

Luhan terkekeh kecil. "Lalu bagaimana dengan bagian solo Shia?"

Shia kontan memerah, wajahnya bersemu lucu. "B-bukan hanya Shia yang memiliki bagian solo. Shia bisa, Mama. Tapi, masih ada beberapa bagian yang terdengar aneh untuk Shia." Bibir kecil itu mencebik, membuat Luhan tak tahan untuk tidak mencubitnya.

"Mama yakin Shia pasti bisa melakukannya, oke?"

"Eum!"

Mereka menunggu cukup lama, namun nampaknya hujan masih tak juga mereda. Luhan mulai gelisah. Haruskah ia menerobos hujan? Tak masalah jika dirinya basah kuyup dan kedinginan, namun tidak dengan Shia. Cukup kemarin ia melihat Shia panas demam dengan gigilan hebat.

"Mama, ada yang menelfon." Suara Shia membuat Luhan tersentak, ia menatap ponsel yang ia genggam dan melihat siapa yang menghubungi.

Nafasnya sedikit tertahan. Apakah ia harus mengangkatnya dan meminta bantuan? Tapi, ia masih—tidak-tidak, Luhan menghela nafas perlahan. Tak menyadari Shia tengah memperhatikan.

"Yeobose—"

"Apa kau sudah sampai di rumah?" Luhan terkejut dengan kalimat yang diucapkan cepat itu.

"Kami masih di sekolah Shia, menunggu hujan sedikit reda."

"Aku akan kesana."

"H-hei Sehun..."

Panggilan itu terputus, dan Luhan menemukan Shia tengah tersenyum manis kepadanya. "Kita tidak perlu hujan-hujanan, Mama..."

Luhan tersenyum pasrah.

Mereka kembali menunggu untuk waktu yang cukup lama, namun pria itu tak kunjung datang. Bahkan wali kelas Shia dan beberapa guru sudah pulang mendahului mereka. Apakah Sehun tidak jadi menjemput mereka ke sini? Jika benar, mengapa tak ada satupun pesan atau panggilan, bahkan panggilan Luhan pun berakhir sia-sia. Luhan mengerang kesal.

"Sepertinya Paman Sehun tidak jadi menjemput kita, Shia. Sebaiknya kita pulang sekarang, Shia tidak suka kemalaman kan?"

Putri kecilnya merengut, tak menutupi rasa kecewanya namun tetap mengangguk. Luhan mencium pipinya pelan.

"Shia pakai mantel mama dan—"

"Apakah Nyonya Luhan dan Shia masih—oh! Kalian masih disini..."

Luhan terkejut mendapati seorang pria jangkung masuk dengan kondisi basah luar biasa, rambutnya lepek dan meneteskan air. Sehun tersenyum dan mendekat, mengusap kepala Shia dengan sayang, menanggapi senyum antusias gadis kecil itu.

Seharusnya dia tidak sebasah itu... Dan nafasnya tidak seterengah itu.

"Maafkan aku, mobilku bermasalah di tengah jalan dan aku harus berlari ke sini."

"Darimana?" Luhan bertanya dengan picingan mata. Sehun mengedikkan bahu acuh tak acuh.

"Sekitar dua halte dari sini?"

"Dan tanpa payung dan tidakkah kau melihat ada bus?!" Luhan meninggikan suara, Shia dan Sehun tertegun. Namun tampaknya, Luhan pun tak sadar apa alasannya meninggikan suara sampai seperti itu. Hanya saja, hatinya tidak nyaman melihat seseorang sampai harus seperti ini hanya karena masalah sepele.

"Sepertinya aku kehabisan keberuntungan." Sehun menjawab tenang dan menyadarkan Luhan. Wanita itu memejamkan mata dan menghela nafas perlahan.

"Dan tidak menghubungiku sama sekali?"

"Ponselku ternyata tertinggal, dan aku tidak ingat nomor Paman Seo." Luhan nyaris mengerang.

"Jadi kita tidak jadi naik mobil Paman Sehun? Sekarang kita akan pulang dengan apa? Katanya Paman Sehun tidak melihat bus." Shia bertanya, meskipun begitu, wajahnya tak menampakkan kekecewaan seperti tadi. Luhan melihatnya dengan tatapan tak dapat diartikan.

Sehun menunjukkan senyum penuh permintaan maaf, sekarang dirinya malah menjadi beban. "Maafkan paman, ya?"

"Lupakan, kita harus segera pulang dari sini. Hari makin petang." Sehun mengangguk, bibirnya terangkat saat mendengar kata kita yang meluncur dari bibir Luhan.

Sehun melepaskan jasnya dan memakaikannya pada Shia. Luhan nyaris memprotes jika Shia tidak lebih dulu menyela.

"Woah, dalamnya hangat!"

"Hanya bagian luarnya yang basah, Shia." Sehun tersenyum.

Luhan membuka payung milik Shia dan ketika ia hendak memanggil Shia, Shia sudah nyaman digendongan Sehun. Pria itu tersenyum, lengannya kokoh menyokong tubuh ramping Shia, memeluknya dengan begitu protektif.

Mereka berjalan menerobos hujan yang masih cukup deras dengan Shia berada di tengah perlindungan payung. Percikan air membasahi fabrik mereka. Kemeja putih Sehun sudah nampak transparan dan ketika Luhan bermaksud sedikit mencondongkan payungnya, Sehun menyela.

"Payungi dirimu sendiri dan Shia, aku sepertinya hanya menyusahkan, bukan?"

Luhan memalingkan wajah.

"Eung, Paman Sehun hangat... Shia mengantuk." Sehun terkekeh dan mengelus puncak kepala Shia, mengeratkan pelukan jasnya pada Shia meski ia sendiri menjadi lebih basah.

"Kau memang menyusahkan..."

Meski Luhan mengatakannya dengan nada datar yang dingin, Sehun menangkap mata wanita itu berkaca-kaca dan sedikit kemerahan. Sehun menyunggingkan senyum tipis di bibir tipisnya yang memucat.

Di tengah hujan deras dan pelukan suhu dingin, Luhan mulai menatap Sehun dengan pandangan yang sedikit berbeda.

.

Tbc

.

Well, yeah, my glasses was cracked, and my eye sight is only 20 cm, you know my suffer.Tentu saja saya memprioritaskan tugas yang sudah menggila, hikseu~

Saya update jama'ah dengan author kece lainnya; lollipopsehun, apriltaste, dearlu09, castastrope reynah, pizzahun dansunshine07. Check their stories too!

Btw, saya mau nyempilin promosi sedikit. :D

Kami (Author HunHan GS Line Group) memiliki akun publishing FanFic bersama di FFn! Nama akunnya Daisy Universe, dan sekarang masih kosong karena menunggu logo. *lirik Kak Ren. Kami akan menggunakan akun tersebut untuk event-event khusus HunHan!GS. Event terdekat adalah Valentine. Kalian bisa follow dulu jika tertarik!

Ah iya, mau review singkat atau sepanjang rel kereta boleh kok. :D Uneg-uneg, pertanyaan, kritik saran; semuanya saya terima dengan baik. Kecuali flame dan bahasa yang kasar tak kenal tata bahasa, oke? *grin

.

Anne, 2018-01-14