Confusion

.

.

.

.

NoonaRyeo

.

Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae, And Other.

.

.

Warning : Hanya cerita abal dengan ide yang mungkin sangat pasaran.

GS for this story. Yang tidak suka GS silakan klik close.

EYD tidak beraturan. Typo (s) bergentayangan.

.

.

Saiia hanya meminjam nama para Cast disini. Hanya CERITA ini yang Murni PUNYA SAIIA.

.

.

"No Plagiat... No Flame... No Copy Paste."

and,Don't Bashing the Chara ...

.

.

Selalu terapkan prinsip " DON'T LIKE DON'T READ ." Okeeehh.

.

.

Enjoy...

.

.

"Kau belum tidur Hyuk?"

"Hm?"

Kepalanya mendongak. Melirik Changmin yang kini sudah duduk menyandar pada sofa, disampingnya. Eunhyuk menatap sebentar jam kecil diatas nakas disamping televisi. Pukul 11 malam.

"Kau baru pulang?"

Yang ditanya hanya menggumam sebagai jawaban. Eunhyuk kembali memfokuskan pandangan matanya pada layar tv yang masih menyala melihat mata pemuda berwajah kekanak-kanakan itu langsung terpejam. Tidak benar-benar fokus memang, karena faktanya,wanita cantik itu justru membiarkan pikirannya mengambil alih fokus matanya.

Changmin mengerjap, Mendesah kasar setelahnya. Rasa lelah yang dirasakannya seperti bisa membuat tulang- tulang didalam tubuhnya lumpuh mendadak. Membuatnya enggan membawa tubuh jangkungnya beranjak dari sofa nyaman yang didudukinya.

"Ada yang sedang kau pikirkan?"

Dalam benak,Changmin menebak. Tanpa mendengar jawaban dari Eunhyuk pun dirinya tahu jika wanita yang duduk disampingnya ini tengah memikirkan sesuatu. Well,Changmin yakin seratus persen jika tebakannya tidak meleset.

"Tidak."

Mendesah pelan,Changmin melirik malas pada Eunhyuk yang kini mengunyah keripik kentang dalam genggamannya.

"Donghae hyung kan?"

"Huh?"

"Kau sedang memikirkan Donghae hyung kan?" Changmin menyeringai. Rasa lelahnya seperti perlahan menghilang hanya karena melihat bagaimana reaksi wanita didepannya. Menegang kaku. Walaupun hanya beberapa detik.

"Bicara apa kau!?"

Eunhyuk mencomot banyak-banyak keripik kentangnya. Mengunyahnya dengan cepat hingga hampir saja membuatnya tersedak. Dalam hati,wanita cantik itu merutuk.

Changmin terkekeh. Kembali membawa tubuhnya untuk menyandar pada sofa. Kakinya yang panjang dibiarkannya menjuntai nyaman diatas karpet tebal diruang tengah apartement mewah itu.

"Apa begitu sulit bagimu untuk jujur dengan perasaanmu sendiri, Hyuk?"

Changmin menatap langit-langit apartement milik hyungnya itu dengan pandangan menerawang. Masih dengan senyum kecil yang terpoles dibibir tipisnya.

Eunhyuk tidak menyahut. Dia tau kemana arah pembicaraan ini. Dan Eunhyuk memilih diam. Tidak- belum- ingin mengeluarkan suaranya.

"Kau mencintainya,kan?"

Eunhyuk membuang pandangan matanya. Memandang kosong miniatur gajah milik Jaejoong yang terpajang apik tak jauh dari tempatnya duduk.

Mencintainya?

"Apa yang membuatmu ragu,hm?"

"Changmin-ah." Matanya menyorot sendu. Eunhyuk berharap lelaki didepannya ini tidak melanjutkan pembicaraan ini. Changim akan mencercanya. Mengejarnya dengan kata-kata yang selalu bisa membuatnya terdiam. Karena dia tahu,itu hanya akan menambah beban dihatinya.

Changmin memandang lembut seseorang yang sudah seperti saudara untuknya itu. Menganggapnya salah satu sosok yang harus dilindunginya setelah keluarganya dan juga Jaejoong noona-nya.

"Aku menyayangimu,Hyuk. Aku hanya tidak mau kau membohongi dirimu sendiri terus menerus. Menyakiti hatimu sendiri."

Eunhyuk menunduk. Tidak bisa membalas perkataan yang baru saja didengarnya dari mulut Changmin. Seseorang yang usil tapi ada kalanya bisa menjelma menjadi sosok yang begitu dewasa. Well,Changmin memang mengetahui tentang bagaimana hubungan keduanya. Juga bagaimana perasaan Donghae pada Eunhyuk.

"Aku yakin Donghae hyung sudah berubah. Tidak kah kau melihat kesungguhan dimatanya? Ia mencintaimu,Hyuk."

"Aku tidak tahu. Changmin-ah... apa yang harus aku lakukan?" Eunhyuk berbisik lirih.

Senyum lembutnya terpoles. Kedua tangannya terulur. Menggengam kedua bahu kecil Eunhyuk saat melihat segaris air bening membasahi pipi wanita cantik itu.

"Ikuti kata hatimu,Hyuk. Keraguanmu pada Donghae hyung tidak beralasan. Donghae hyung yang sekarang,tidak lah sama dengan Donghae hyung yang dulu."

"Kau ragu dengannya karena dulu,dia suka berganti- ganti pasangan. Bahkan tidak menutup kemungkinan jika dirinya juga pernah tidur dengan wanita yang menjadi pasangannya saat itu. Sedangkan kau, sekalipun kau belum pernah merasakan apa yang disebut pacaran." Changmin tersenyum tipis.

"Bukan karena tidak ada yang mau denganmu, tapi kau selalu berpikir kalau kau hanya ingin menjalin hubungan sekali dengan seseorang yang serius yang kelak akan menikahimu. Bukan seseorang yang hanya main-main denganmu."

Eunhyuk diam. Benar-benar terdiam mendengar kalimat panjang dari sosok didepannya. Kalimat panjang yang tepat mengenai sasaran. Kepalanya mendongak. Menemukan Changmin yang tengah memandang lembut padanya.

"Aku benar,kan?" ujarnya tak kalah lembut dari tatapan matanya.

Eunhyuk menangis. Menangis tanpa suara. Membiarkan air bening berdesakan turun dari mata indahnya. Kepalanya mengangguk ragu. Membenarkan ucapan Changmin.

Tangannya terulur untuk mengusak rambut hitam yang tergerai itu. Membuat sang pemilik mahkota tersenyum tipis.

"Kenapa kau naif sekali,eh?" katanya terkekeh.

Bibirnya mendecak. Tangannya menyingkirkan kasar tangan pria jangkung itu dari kepalanya. Membuat Changmin terbahak keras.

"Siapa yang kau bilang naif,eh?" matanya mendelik menatap Changmin.

"Tentu saja kau,siapa lagi." Changmin menyeringai.

Eunhyuk memutar bola matanya malas. Diam- diam tersenyum lembut. Kembali melirik Changmin yang lagi-lagi tengah menata langit-langit ruang tengah tempatnya berada.

"Tidak kah menurutmu ini tidak adil untuk Donghae hyung?"

"Maksudmu?"

"Jika kau benar-benar mencintai seseorang. Dan ingin menjadikannya sosok penting dalam hidupmu,seharusnya kau tidak perlu repot-repot melihat masa lalunya."

Eunhyuk tersenyum lirih. Entah kenapa, perkataan Changmin kali ini sanggup membuatnya merasakan denyutan ngilu didadanya.

"Tapi jika itu kau,aku mengerti." lanjut Changmin menyeringai.

Kening Eunhyuk terangkat bingung."Huh?"

"Karena kau begitu naif." Changmin tertawa keras.

"Ya!"

.

.

.

.

Eunhyuk menaikan sedikit syal merahnya hingga menutupi sebagian hidung mancungnya. Kemudian mengeratkan mantel tebalnya dengan tangan yang gemetar. Malam ini udara dingin memang tidak main-main. Membuatnya merutuk,juga mengumpat. Ia yang bahkan sudah membungkus tubuh layaknya kepompong, masih saja merasakan dingin.

Sesekali kepalanya yang tertutupi topi rajut melongok ke kiri dan kanan, bersama kakinya yang sesekali menghentak. Berharap seseorang yang sudah membuatnya hampir mati kedinginan disini,cepat-cepat menunjukan batang hidungnya. Eunhyuk menghela napas kasar. Uapnya bahkan begitu jelas terlihat ditempat terang seperti ini. Ia masih didepan kampusnya. Padahal jam sudah menunjukan pukul 8 malam.

"Lee Donghae sialan! Awas saja jika dalam lima menit lagi kau tidak juga tiba."

Eunhyuk mengumpat. Donghae memang menyuruhnya untuk menunggu saat siang tadi dirinya menghubungi Donghae, mengatakan jika ia ingin membicarakan sesuatu dengan lelaki tampan itu. Eunhyuk memang tidak bisa menyalahkan Donghae sepenuhnya,mengingat pewaris tunggal Lee Corp itu cukup sibuk sebagai direktur.

Eunhyuk mengumpat saat tubuhnya semakin mengigil. Ia tidak peduli. Ia harus pulang sekarang jika tidak mau mati konyol disini. Persetan dengan Donghae!

Baru saja kakinya melangkah,ponselnya bergetar. Susah payah tangannya merogoh saku kemejanya. Nama Donghae terpampang disana. Eunhyuk menarik napas panjang sebelum menjawab panggilan Donghae.

"Yeoboseoyo... Hyukkie."

"Ya! Kau dimana sekarang!? Kau tidak tahu aku hampir mati kedinginan disini!?" Eunhyuk menyela cepat. Ia kesal karena Donghae yang juga belum tiba.

"Aku masih dijalan. Maaf membuatmu menunggu. Kau masih disana?"

"Menurutmu!?" Balas Eunhyuk ketus.

"Maafkan aku. Aku akan segera tiba disana."

"Tsk! Cepatlah..."

"Arra. Aku tutup teleponnya."

Eunhyuk menghela napas pelan setelahnya. Menimbang haruskah memasuki coffee shop yang tak jauh dari kampusnya itu,atau memilih tetap berdiri dipinggir jalan seperti ini.

Baiklah,dari pada ia mati membeku disini, dirinya lebih memilih untuk singgah di coffee shop itu. Ia tidak begitu suka dengan kopi. Membuatnya jarang sekali memasuki coffee shop itu jika bukan untuk menemani temannya yang lain.

Omong-omong soal kopi,Eunhyuk ingat jika Donghae sangat menyukai minuman satu itu. Eunhyuk tersenyum tipis. Melangkah pelan memasuki coffee shop didepannya,kini. Memesan segelas latte. Well,ia memang tidak menyukai kopi,dan tidak lucu kan jika ia yang sudah duduk-tak jauh dari pintu masuk- tapi tidak memesan apapun.

.

.

.

"Maaf membuatmu menunggu," Donghae mendudukan tubuhnya didepan Eunhyuk yang mengernyit menatapnya, "wae?"

Eunhyuk menggeleng seraya tersenyum tipis. Tangannya menyodorkan latte yang dipesannya kehadapan Donghae. Ia memang sengaja memesannya untuk lelaki itu.

"Minumlah. Mungkin sudah sedikit mendingin."

Donghae tersenyum. "Gomawo." katanya sembari menarik mendekat mug kearahnya, dan meminumnya sedikit. Dan yah,itu memang sudah sedikit mendingin.

"Kau tidak memesan apapun untukmu?"

Eunhyuk menggeleng. "Tidak ada coklat hangat disini." gumam Eunhyuk pelan. Sedikit mencibir. Takut orang lain mendengar suaranya.

Donghae terbahak. Tangannya terulur dan menggapai lengan putih Eunhyuk. Mendapat tatapan bingung sang pemilik lengan.

"Kha."

"Ke mana?"

"Kita cari coklat hangat untukmu. Dan lagi, kenapa tanganmu ini dingin sekali,hm?"

Mengingatnya,Eunhyuk mencebik. Memangnya, karena siapa dirinya menunggu lama diluar sana dengan cuaca sedingin ini? Sekalipun didalam ruangan terasa hangat, tapi tetap saja kan.

Donghae membawa keduanya ke cafe miliknya. Menyuruh Eunhyuk untuk langsung memasuki ruangan pribadinya. Ketika Eunhyuk bertanya kenapa mereka kemari, Donghae tidak menjawab, pria Lee itu hanya melempar senyum tampan padanya. Dan bergegas meninggalkan Eunhyuk sendiri dan segera menuju dapur.

Eunhyuk menghempaskan tubuh rampingnya ke atas ranjang disudut ruangan. Donghae memang sengaja meletakan ranjang besar di sana untuk dirinya beristirahat jika lelah menghantuinya selama membantu di cafe.

Pintu ruangan Donghae terbuka. Taemin terlihat disana. Membawakan cake strawberry kesukaannya.

"Ke mana Sajangnim mu,Min?"

"Dia masih didapur,noona." jawabnya sembari meletakan cake itu keatas meja bundar disamping meja kerja Donghae.

"Di dapur?"

Taemin mengangguk."Aku rasa,Donghae hyung sedang membuat coklat hangat."

Oh!

Diam-diam Eunhyuk tersenyum. Mengangguk saat Taemin berpamitan padanya. Tak lama sampai pintu kembali terbuka. Eunhyuk menatap Donghae yang melangkah kearahnya. Jas kerjanya sudah tertanggal. Menyisakan kemeja putih yang menempel ditubuh atasnya. Kemeja yang sedikit ketat. Membuat dadanya tercetak cukup jelas. Eunhyuk bersemu melihatnya.

"Coklat hangat spesial untuk noona yang cantik." Donghae tersenyum. Mengangsurkan segelas mug coklat hangat buatannya ke hadapan Eunhyuk.

Eunhyuk mencibir. Tak pelak,senyum manis terpoles dibibirnya. "Gomawo."

Eunhyuk meminum pelan-pelan coklat hangatnya. Mengalihkan pandangan matanya saat ia melirik Donghae,ternyata lelaki tampan itu tengah menatapnya. Donghae terkekeh geli. Sejak pembicaraannya dengan Eunhyuk tempo hari, hubungan keduanya memang cukup canggung. Dirinya yang terus berusaha mendekati Eunhyuk,dan Eunhyuk yang mencoba untuk terus menghindarinya. Membuatnya berpikir,mungkin memang ia yang terlalu memaksa wanita cantik didepannya ini. Dan seperti angin segar yang datang menyapa kegersangan hatinya saat pagi tadi,Eunhyuk menghubunginya, memintanya untuk bertemu.

"Hae." Eunhyuk berbisik lirih.

"Hm?" Donghae menggumam samar. Masih menatap wanita cantik itu dalam diam. Menunggu sesuatu yang mungkin saja ingin Eunhyuk katakan. Karena memang alasan itu lah yang ia dengar tadi pagi saat Eunhyuk menghubunginya.

Eunhyuk menunduk. Ia ragu mengatakannya. "Maafkan aku."

"Maaf? Untuk?" Donghae mengernyit bingung. Menunggu dengan sabar saat Eunhyuk terdiam cukup lama. "Hyukkie?"

"Maaf untuk hari yang lalu." bisiknya pelan.

Donghae tersenyum."Kenapa harus meminta maaf? Tidak ada yang perlu dimaafkan, Hyukkie. Jika pun ada,itu aku,karena sudah membentakmu." katanya memandang lembut pada Eunhyuk. Meyakinkan wanita itu jika apa yang telah terjadi kemarin,bukanlah kesalahannya.

"Maaf karena sudah memaksamu." lanjut Donghae tersenyum lirih.

Eunhyuk mendongak menatap Donghae. Manik indahnya berbinar karena sinar lampu yang menyorot wajah cantiknya.

"Aku... Changmin mengatakan semuanya padaku." gumam Eunhyuk ragu.

"Changmin? Mengatakan apa?" Donghae bingung. Memang apa yang sudah Changmin katakan pada Eunhyuk?

"Dia bilang,aku terlalu naif."

"Huh?"

Eunhyuk tersenyum melihat wajah kebingungan Donghae. Eunhyuk beranjak. Melangkah pelan menyusuri setiap sudut ruangan pribadi Donghae dilantai dua di cafe miliknya.

"Dia bilang,aku naif karena aku takut hatiku terluka. Dia bilang,aku naif karena meragukan sesuatu yang tidak bedasar." Eunhyuk terdiam sebentar. Menolehkan kepalanya menatap Donghae,yang balas memandangnya. "Dia bilang,aku naif karena berpikir jika aku tidak ingin menjalin hubungan dengan seseorang yang brengsek, yang suka berganti-ganti pasangan. Dan dia bilang,aku naif karena tidak mau jujur dengan perasaanku sendiri."

Donghae tersenyum samar. Mengalihkan pandangan matanya sembari mengulum bibir dalamnya.

"Donghae-ah," Donghae mendongak, memandang Eunhyuk yang menatapnya begitu lirih,"apa aku senaif itu?"

Donghae beranjak. Melangkah pelan menghampiri Eunhyuk. Tepat ketika ia sudah berdiri depan wanita itu,tangannya terulur untuk menggengam kedua bahu kecil Eunhyuk. Donghae menggeleng. Dia paham perasaan wanita cantik didepannya ini.

"Aku tahu perasaanmu. Kau hanya tidak ingin terluka,itu wajar. Jangan pikirkan perkataan Changmin,ok." Donghae tersenyum. Jantungnya,entah kenapa berdetak begitu cepat. Donghae tidak suka ini.

"Aku... Aku menyukaimu." bisik Eunhyuk terlampau lirih. Menatap dalam manik kembar Donghae.

Donghae menjauhkan tangannya dari bahu Eunhyuk. Bibirnya mengukir senyum tipis.

Kenapa?

"Ada apa denganmu,hm?" tanya Donghae pelan.

"Aku menyukaimu. Mungkin memang aku terlalu naif karena terus-terusan membohongi diriku sendiri. Aku... sudah menyakitimu,maafkan aku." Eunhyuk menunduk.

Donghae terdiam. Hanya memandang kepala Eunhyuk yang tertunduk dalam diam. Ada rasa bahagia yang membuncah didalam dadanya,sekalipun getaran ngilu juga terasa di sana. Dia sedikit berpikir, apakah jika Changmin tidak mengatakan itu, selamanya,Eunhyuk tidak akan jujur dengan dirinya? Donghae tersenyum getir.

Donghae mengulurkan tangannya. Mengusak sayang rambut panjang Eunhyuk sembari tersenyum tipis. Membuat Eunhyuk mendongak menatapnya. Kenapa? Kenapa Donghae diam saja? Kenapa Donghae tidak mengatakan apapun?

"Kau pasti lelah." kata Donghae. Mengalihkan pembicaraan. Sedikit merapikan rambut Eunhyuk yang menjuntai berantakan.

Eunhyuk tidak menyahut. Hanya terus menatap wajah tampan Donghae. Dan berakhir mendengus pelan.

"Kenapa tidak menjawabku?"

"Apa?"

"Lee Donghae!"

Donghae menghela napasnya cukup berat. Terdiam menatap Eunhyuk. Mengela napas sekali lagi,Donghae mengusap kasar rambut belakangnya.

"Kau masih ragu padaku?" tanya Donghae pelan. Menatap dalam manik Eunhyuk. "Jika kau masih ragu,maka jangan katakan itu. Sekalipun aku begitu mencintaimu. Aku tidak mau. Aku hanya tidak ingin memaksamu."

"Kau meragukanku?"

"Tidak. Bukan berarti aku meragukanmu. Aku hanya_"

Kata-kata Donghae terpotong saat Eunhyuk dengan cepat membungkam bibir tipisnya. Tidak ada lumatan disana. Eunhyuk hanya menempelkan bibirnya diatas bibir Donghae. Matanya bahkan terpejam erat. Demi Tuhan, ini adalah ciuman pertamanya.

Donghae tersadar dari keterkejutannya saat Eunhyuk menjauhkan wajahnya yang merona merah. Wanita cantik itu menundukan kepalanya dalam-dalam. Astaga, ia malu sekali.

Donghae tersenyum. Demi Tuhan,Eunhyuk baru saja menciumnya. Sekalipun hanya sekedar menempel. Dan itu sudah lebih dari cukup membuatnya layaknya idiot. Donghae berdehem,mencoba untuk menahan senyum lebarnya. Katakan dia berlebihan,well, Donghae tidak perduli ketika ciuman ringan Eunhyuk justru membuat jantugnya berdebar kencang.

.

.

Confusion~

.

.

"Ada apa denganmu?"

Changmin mengerut bingung melihat Eunhyuk yang terus tersenyum sendiri dengan tatapan yang menerawang. Membuatnya bergidik. Lelaki jangkung itu melirik Jaejoong yang tengah berkutat dengan masakannya. Dihampirinya wanita cantik itu,dan berdiri disampingnya.

"Dia kenapa,noona? Seperti idiot saja."

Jaejoong hanya tertawa mendengar ucapan sarkas adik iparnya itu. "Noona tidak tahu, sudah sejak tadi dia seperti itu."

Changmin melirik sekali lagi pada Eunhyuk. Melihat wanita itu yang masih tersenyum- senyum sendiri,membuatnya mendengus geli.

Suara bel terdengar. Eunhyuk tersadar,dan langsung beranjak dari tempat duduknya. Ditatapnya Jaejoong dan Changmin yang memandang bingung melihat tingkahnya. Eunhyuk tersenyum manis. Jemarinya menunjuk-nunjuk pintu apartement.

"Mungkin itu Donghae yang datang. Aku berangkat dulu eonni." katanya semangat. Menghampiri keduanya dan mengecup pipi Jaejoong sekilas. Eunhyuk menatap Changmin sebentar,sebelum menangkup kedua pipinya dan mendaratkan ciuman disana. Membuat Changmin berteriak kencang.

Eunhyuk berlari cepat. Terbahak mendengar umpatan Changmin untuknya."Gomawo Changmin-ah. Aku mencintaimu." teriaknya kencang seraya menuju pintu depan.

Jaejoong tertawa keras mendengar Changmin yang terus mendumel. Sesekali terdengar umpatan pelan dari bibir tipisnya. Dan tersenyum lembut mengingat Eunhyuk.

'Kau lebih tahu apa yang hatimu katakan, Hyukkie.'

.

.

.

.

Special thanks for...

kakimulusheenim, cho loekyu07, eunhyukuke, nurichan4, yayarara, kartikawaii, Eunhyukjinyoung02, hae, HAEHYUK IS REAL, HHSminah, , elfrida, Dochi risma, Misshae d'cessevil, Guest.

Dan semua yang sudah mem-follow atau mem-fav cerita abal ini. Buat silent reader,atau pun yang cuma sekedar nengok,terima kasih :)

Maaf jika endingnya tidak sesuai harapan, dan mengecewakan...

.

.

.

Hope U like it,

Sorry for typo,and

See Yaa...

.

.

August,26 2015

NoonaRyeo ^^