Naruto © Masashi Kishimoto

Story © MaelaFarRon II

.

Pair : Sasusaku

Genre : Drama/Romance

Rated : T

.

Warning : Abal,GAJE,Typo,terlalu banyak dialog,OOC.

.

~Love a Scoundrel~

Chapter 2

.

Sebelumnya,aku ingin berterimakasih kepada semuanya yang udah support aku,Arigatou Minna! (terharu)Aku kuat karena kalian ada untukku..cie elah!yaudahlah, ketimbang makin bosen,mending langsung Read aja ya^^

.

Enjoy~

.

.

Sebuah mobil marcedes berwarna putih itu terparkir di depan sebuah halaman yang sangat luas. Waktu yang masih menunjukkan pukul 2 tengah hari itu membuat lampu mobil yang terparkir di halaman itu menerangi seluruh tempat. Seseorang keluar dari dalam mobil itu, lalu mengambil ponselnya. mencoba menghubungi sambungan terhubung,dia langsung mendekatkan ponselnya ke telinga.

"Halo, sakura-chan, ini aku, naruto, teman sasuke. Aku sudah berada di depan rumahmu" Ujar seseorang bernama naruto itu.

'Ah, iya..naruto, tunggu sebentar ya..aku sedikit mengalami 'kesulitan' ' jawab sakura terdengar panik.

Naruto mengerutkan keningnya bingung. "Kesulitan?" Gumam naruto. "Baiklah sakura-chan, aku tunggu, tapi sebaiknya kita harus cepat-"

'Aku tahu, memang seharusnya begitu! jadi tunggu saja, oke!' Potong sakura yang sudah memutus sambungannya secara sepihak.

Naruto menatap ponselnya. "Dia itu kenapa sih?" Gumam lagi naruto frustasi.

Lalu tak lama,Sakura datang dengan wajah panik. "Naruto, ayo cepat pergi!" Perintah sakura yang sudah masuk ke dalam mobil naruto tanpa yang melihat itu cengo di tempat. Namun tak ambil pusing, naruto segera masuk mobil juga dan langsung menstater mobilnya.

.

Setelah beberapa menit meninggalkan rumah sakura, ehm maksudnya mansion, mereka terdiam dalam hening. Naruto yang sebenarnya tipe orang yang recok, mencoba memulai pembicaraan dengan sakura yang duduk di bangku penumpang sebelahnya.

"Sakura-chan?" Panggil naruto tanpa mengalihkan pandangannya.

"Hm?" Gumam sakura menoleh.

"Kau..kenapa tadi itu..terlihat panik?" Tanya naruto.

"Oh…yang tadi? masalah para pelayan. Mereka memergokiku saat aku ingin keluar rumah, maka dari itu, aku langsung lari dengan wajah panik" Jelas sakura tenang.

Naruto terkekeh. "Maaf ya, sakura-chan,.." Kata naruto nyengir.

"Tidak apa-apa naruto.." Balas sakura tersenyum. Naruto yang melihat itu langsung merona.

"Ehm, ah, sebaiknya kita ke apotek 24 jam sebentar, P3K di rumah tidak lengkap.." Ujar naruto berusaha menghilangkan kegugupannya. Sakura hanya menggumam dan mengangguk setuju.

.

Love a Scoundrel

.

"Bagaimana sakura-chan? Apa lukanya parah sekali?" Tanya naruto 'sedikit' panik. Sekarang mereka berdua telah berada di markas naruto.

Sakura tersenyum. "Tenang saja naruto, lukanya tidak terlalu parah. Hanya saja, luka seperti itu mungkin akan membuat sasuke-kun merasa pusing atau demam" Jelas sakura.

Naruto menghela nafas lega. "Syukurlah, untung ada sakura-chan, kami jadi tertolong.."

"Kami? maksudmu, kau dan sasuke-kun?" Tanya sakura bingung.

Naruto menggeleng. "Bukan, di rumah ini, yang menempati ada 6 orang pemuda, salah satunya aku dan sasuke, tapi hanya sesekali kami menginap di sini" Jelas naruto. Sakura yang mendengar itu langsung sedikit takut.

"Tenang saja sakura-chan, kami tidak berbahaya kok.." Kata naruto nyengir. 'yah..walaupun yang satu itu bisa jadi pengecualian' lanjutnya dalam kiba.

"O-oh..lalu dimana mereka?" Tanya sakura.

"Mereka sedang tidur. Tapi sakura-chan, sebaiknya kau menginap di sini dulu sampai pagi, kami masih punya kamar satu lagi. Tidak perlu takut, aku yang akan mengawasi mereka." Jelas naruto panjang lebar.

Sakura memikirkan tawaran naruto, apa tidak apa-apa dia menginap di sini, di markas para pemuda yang sakura bahkan belum tahu mereka baik atau tidak.

Naruto yang melihat sakura semakin was-was," ayolah sakura-chan, kami tidak akan macam-macam,aku yang akan menjagamu, janji" bujuk naruto memohon.

"Hmm…baiklah, tapi, setelah sarapan pagi besok, aku harus langsung pulang,tak apa kan?"Kata sakura.

Naruto nyengir, "Wokeh, beres sakura-chan.." Naruto mengacungkan jempolnya.

.

Sekarang disinilah sakura berada, di dalam kamar asing. Hatinya sedang bergelut memikirkan pilihannya kali ini. Kenapa dia harus rela kabur dari mansion hanya demi membantu seorang pemuda yang bahkan baru saja dia kenal. Apalagi sekarang di rumah ini bukan hanya 2 orang pemuda, melainkan 6 orang pemuda. ah, ya tuhan. Walaupun pemuda bernama naruto itu sudah berjanji akan mengawasi teman-temannya jika ada yang ingin tidur di kamar ini secara tiba-tiba. Sebelum itu, naruto pernah memberitahukannya bahwa salah satu temannya suka ngelindur dan berjalan menuju kamar ini. hiii..jadi seram memikirkannya.

"Haahh..Tou-san…maafkan putrimu ini…" rengek sakura menjatuhkan dirinya ke kasur. Tiba-tiba pikirannya melayang ketika mengobati luka sasuke tadi. "Jangan-jangan dia.."

Flashback

Sakura sedang membersihkan luka sasuke menggunakan alcohol yang baru dibelinya tadi bersama naruto,namun ketika ingin mengolesi obat ke luka sasuke, tiba-tiba..

Grep!

"Apa-KYAA…!" Sasuke menarik tangan sakura sehingga sakura jatuh ke atasnya.

"Lepaskan aku.." Gumam sakura.

"Kau ituu..…" Sasuke bergumam, lalu keningnya berkerut dengan mata yang masih terpejam. "…..jangan macam-macam~…" Lanjut sasuke tak jelas.

Sakura swedrop. 'apa-apaan dia?' batinnya.

"…sialan…..!" Sasuke mulai marah dalam mimpinya.

Sakura yang melihat itu melebarkan matanya. Dia berusaha melepaskan pelukan sasuke. Memukul-mukul, menggigit, mencubit tangan sasuke, sampai akhirnya..

Bruuk..

"Akh..AW!" Sakura jatuh dari atas tempat tidur dengan tidak elitnya. Sedangkan sasuke kembali dengan alam mimpinya membelakangi sakura. Sakura mengumpat.

End Flashback

Sakura bangkit tiba-tiba. "Jangan-jangan temannya yang di ceritakan naruto adalah sasuke.." Tebak sakura.

Buk!

"Haahh..masa bodoh.." lanjut sakura kembali tidur. Untung saja sakura dari rumahnya langsung memakai baju daster 2cm di atas lutut bewarna cream dengan tali melingkar di pinggangnya berbahan sifon. Sehingga ia tidak perlu mengganti bajunya untuk tidur.

.

Love a Scoundrel

.

Pagi harinya di mansion haruno…

Telah terdengar suara berisik-berisik yang di timbulkan oleh seorang lelaki paruh baya yang di sebut-sebut sebagai kepala rumah.

"Huaaa..Putriku….! Dimana putriku?" Tangis sang kepala rumah pecah ketika tahu putri kesayangannya kabur dari mansion.

"Maaf-kan kami Tuan, kami tidak bisa mencegah nona sakura pergi tadi malam.." Kata salah satu pelayan pria mewakili seluruh pelayan lainnya dengan wajah bersalah.

"Putriku yang cantiikkk…kasian sekali dia..pasti tidurnya tidak nyenyak, dia pasti kedinginan di luar sana..huhuhu.." Rintih tuan besar bernama haruno kizashi itu.

"Sayang…jangan terlalu berlebihan, Kau harus sabar, aku juga khawatir pada sakura-chan. Tidak biasanya dia begitu.." Tegur nyonya besar bernama Haruno mebuki itu sambil mengelus punggung suaminya.

"Tuan..!" Teriak salah satu pelayan dari ujung sana memegang gagang telepon. "I-ini..Nona Sakura menelfon.." Kata pelayan wanita itu takut-takut.

Mendengar nama sakura. Kizashi langsung bangkit dan mengambil telepon itu. "Halo sakura, kau dimana sayang..?" Tanya kizashi to the poit. terlihat dari raut wajahnya yang khawatir.

Di tempat sakura..

Sakura terkekeh mendengar pertanyaan ayahnya itu. "Tou-san tenang saja, sakura baik-baik saja kok, sekarang sakura sedang di rumah teman, Nanti sakura akan pulang, jangan khawatir.." Jelas sakura. Saat ini sakura sedang berada di dapur menyiapkan sarapan pagi untuk 'penghuni' markas ini. Walaupun diluar keliatannya masih terlihat gelap, tapi sakura semangat melakukanya. Sakura memang anak dari keluarga konglomerat, Namun hal itu tidak menghilangkan keinginannya untuk melakukan hal-hal yang exstrim bagi para nona muda.

"Sekarang, sakura ingin berbicara dengan kaa-san.." Pinta sakura lembut.

'Ta-tapi saku-'

"Tou-san, percayalah pada sakura..ya.." Potong sakura sambil tangan kanannya mengaduk sup yang ia masak.

Terdengar ayahnya mengela nafas sejenak. "hmm..Baiklah…" Lalu terdengar suara krasak-krusuk dari seberang telfon yang di yakini sakura sebagai ibunya.

'Sayang..' Sapa mebuki.

"Kaa-san..bagaimana keadaan mansion?" Tanya sakura.

'Keadaan mansion sangat kacau, ketika nona muda menghilang..' Sindir mebuki.

Sakura yang mendengar itu merengut sebal. "Kaa-san, sakura tidak sengaja, ini mendadak.." Elak sakura.

"Hahaha..baiklah..kau pasti akan tertawa melihat tou-sanmu mewek seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.." Ujar mebuki tertawa. Sakura yang mendengar itu langsung tertawa. Tak bisa di pungkiri lagi jika ayahnya merasa khawatir padanya. Ah, satu lagi, Kakak laki-lakinya yang sedang berada di luar negeri pun pasti sangat khawatir ketika mengetahui adik perempuan kesayangannya kabur dari ketika sakura sakit pun, kakaknya itu pulang dengan helicopter pribadi demi adiknya.

"Ah, iya kaa-san, jangan beritahu saso-Ni tentang ini, sakura tidak ingin dia khawatir" Pinta sakura.

"Hm..kaa-san mengerti.." Balas mebuki.

Setelah beberapa menit menelepon keluarganya, sakura akhirnya siap memasak. Berbagai hidangan yang sakura siapkan di atas meja, mulai dari sup, ikan, dll. Sakura juga menyempatkan diri membuat kue.

.

"HUAAAMM…aku mencium wangi yang enak dari dapur~.." Terdengar suara seorang pemuda dari belakang dangan mengantuk.

Sakura yang mendengar itu langsung menoleh, lalu tersenyum. "Ohayo…" Sapa sakura.

Pemuda yang bernama kiba itu membuka kedua bola matanya lebar-lebar. 'Ya tuhan..' Batinya. Siapa yang tidak kaget ketika pagi-pagi sudah ada seorang gadis cantik di depan matanya, sedang memasak lagi. "Apa aku masih bermimpi?" Gumamnya menampar pipinya sendiri.

"Ohayo, Sakura-chan.." Sapa naruto melewati kiba yang lagi bengong. Sakura hanya tersenyum ramah. Naruto berhenti sejenak, lalu menatap kiba yang mematung. "Hei, kiba, sedang apa kau?" Tanya naruto heran.

"Naruto, benarkah di depan sana ada seorang dewi cantik yang turun dari surga khusus buat kita?" Tanya kiba masih tetap menatap sakura yang lagi sibuk dengan masakannya.

Naruto mendekati kiba lalu berbisik. "Kau benar sekali kiba, tapi sayangnya.." Naruto memberi jeda sejenak. "Dewi itu sudah punya seorang Dewa.." lanjut naruto prihatin 'Dewa yang turun dari Neraka..' Sambungnya dalam hati.

"Benarkah? Siapa?" Tanya kiba tak peraya.

Naruto mulai membisiki kiba. "Psst..dengar ya, dia itu kekasihnya sasuke, kupikir kalau kau mendekatinya, sasuke akan menghajarmu..Hahaha.." Dan terdengarlah suara tawa naruto. Kiba menatap naruto sinis.

"Hei, kalian berdua..mau sampai kapan berdiri di sana..?" Tegur salah satu pemuda lainnya.

Naruto dan kiba menoleh, seketika mata mereka berdua melebar tak percaya. "HUOOO…Neji, Shikamaru, Sai..se-sejak kapan kalian disana?" Tanya naruto cengo yang melihat mereka bertiga telah duduk di meja makan dengan aktivitasnya masing-masing. misalnya, Neji yang sedang membaca buku yang ia bawa, Sai yang sedang menikmati the hangatnya, dan shikamaru yang sibuk memperhatikan masakan sakura di atas meja.

"Sejak kalian mulai menggosip.." Jawab sai polos.

Naruto memandang sinis sai. "Apa maksudmu dengan 'menggosip'?Enak saja kau.." Omel naruto menuju meja makan di ikuti oleh kiba di belakangnya. Naruto mengambil tempat duduk di samping neji. "Kau sudah kenal dengan sakura-chan?" Tanya naruto pada neji.

"Hn, nona hinata tidak pernah cerita padamu?" Tanya balik dibalas dengan gelengan naruto. "Sakura itu adalah sahabat nona hinata" Jelas neji.

"Benarkah, Hinata-chan tidak pernah cerita padaku.." Gumam naruto berfikir.

Neji menghela nafas. "Tadinya aku ingin menghajarmu, naruto" Ujar neji.

Naruto kaget. "Ke-kenapa..?" Tanya naruto gugup.

"Karena jika terjadi apa-apa dengan sakura, kau yang akan ku hajar, tapi karena sakura yang meminta untuk memaafkanmu, apa boleh buat.." Ujar neji datar.

Naruto menghela nafas lega. 'Hampir saja' Batinnya.

"Baiklaahh…!Sudah selesai.." Teriak sakura girang melihat hasil masakannya.

"Woaahhh…" Kagum semuanya, minus neji.

"Aku jadi semakin lapar.." Kata kiba. Sakura hanya tersenyum mendengarnya.

"Tapi, kenapa sasuke belum juga turun ya? Sayang sekali jika dia melewatkan ini.." Kata sai yang di beri anggukan semuanya.

"Mungkin dia masih kelelahan, biarkan saja dia istirahat. Sekarang, ayo kita makan.." Ajak sakura mengambil tempat di samping sai.

"Yooo…" Semangat naruto dan kiba. Namun ketika ingin makan, terdengar suara panggilan dari belakang mereka.

"..Sakura..?"

Sakura yang merasakan namanya di panggil pun menoleh. Keningnya mengkerut melihat siapa yang memanggilnya. "Sasuke-kun? Kau sudah bangun rupanya.." Ujar sakura tersenyum lalu menghampiri sasuke yang menatapnya dengan kening berkerut tanda ia baru saja bangun.

Tak..

Sakura meletakkan telapak tangannya pada kening sasuke, lalu tengkuk sasuke. "Kau masih terlalu panas, kenapa turun?" Tanya sakura. Sedangkan sasuke hanya menatap sakura datar, lalu tanpa di sadari sakura, sasuke mulai menyandarkan keningnya ke bahu kanan sakura dengan tenang. Karena sasuke lebih tinggi, itu membuatnya sedikit membungkuk. Yang terlihat sekarang oleh sakura adalah bahu kanan sasuke yang sudah di balut oleh perban. Sasuke memakai kaos oblong tanpa lengan, sehingga bahunya yang terluka terlihat.

Deg..

Kaget,itulah yang dirasakan sakura sekarang,jantungnya berdebar kencang.'Apa ini?'Batin memegang kedua bahu sasuke dan sedikit menjauhkannya."Kau belum cuci muka ya.."Tebak sakura tersenyum manis. "Sebaiknya, kau cuci muka dulu sasuke-kun, agar merasa segar. Setelah itu, baru kita sarapan"

Sasuke 'POV'

Entah apa yang aku rasakan sekarang, tapi..aku tidak pernah merasa senyaman ini dengan orang lain. Setiap ada sosok sakura sekarang, entah kenapa sifat manjaku selalu timbul di depannya. Dan aku seolah menjadi diriku yang masih berumur 7thn. Semenjak aku bangun tadi, kakiku terus saja membawaku menuju ruang makan, bahkan aku tidak menyadari bahwa lukaku sekarang sudah di perban, dan aku lupa cuci muka. Tapi melihat seorang gadis yang ada di depanku ini, aku yakin yang mengobati lukaku adalah dia.

Kulihat sakura menarik tanganku lembut, menuntunku menuju tempat, dan ternyata adalah westafel, aku yakin seteleh ini dia akan menyuruhku untuk apa.

"Ayo sasuke-kun, cuci mukamu.." Apa yang aku pikirkan terjadi juga, dia menyuruhku untuk mencuci muka. Walaupun sebenarnya aku terlalu malas. Kepalaku masih saja berdenyut, luka di bahu kiriku juga sama. Dan sepertinya aku tidak berselera makan.

"Ayo cepat sasuke-kun..jangan melamun…yang lainnya sudah pada menunggu.." Sepertinya aku membuatnya kesal.

"Hn.."

End Sasuke 'POV'

Sakura menatap sasuke dengan tidak sabaran, kenapa kelihatannya sasuke jadi lambat begini? Mungkin karena efek demamnya, melakukan sesuatu pun jadi malas.

Melihat sasuke yang sudah siap membasuh wajanya, sakura segera menuntun sasuke kembali ke kursi makannya. Benar-benar seperti anak usia 7thn.

Sakura menempatkan sasuke di samping kirinya, dan mulai menuangkan sup yang masi panas di dalam mangkuk, dan memberikannya pada sasuke. "Ayo dimakan..biar cepat sembuh.." Kata sakura tersenyum.

Sasuke menatap mangkuk yang berisi sup itu dengan datar, lalu sedikit menggesernya ke depan sakura. Sakura kebingungan dengan tingkah sasuke. "Ada apa, sasuke-kun?" Tanya sakura. Bukan hanya sakura, yang lainnya pun bingung menatap sasuke. 'Makanan enak kok di tolak' mungkin begitulah batin semuanya.

"Tidak ada 'Tomat'nya.." Gumam sasuke membuang mukanya yang sedikit mengeluarkan semburat merah di pipinya.

"eh, Tomat?" Sakura berkedip dua kali. "Ohh..Tomat…" Sakura ber'oh' ria. Yang lainnya hanya memaklumi. "Seharusnya kau bilang dari awal.." Celoteh sakura menuju kulkas, mengambil beberapa tomat dan memotongnya.

Sakura berjalan menuju kursinya kembali, dan memberikan piring yang sudah berisi potongan tomat kepada sasuke. "Ini, campur saja sesukamu. Aku tadi juga memakai tomat sewaktu memasak, tapi hanya sedikit.." Jelas sakura. "Tapi aku tidak menyangka kau begitu suka tomat, hihihi.." Gumam sakura pelan di akhiri dengan kikikan.

Sasuke yang mendengar itu menatap sakura malas. "Aku dengar itu,jangan tertawa.." Ujar sasuke kesal. Sedangkan sakura hanya tersenyum menanggapi.

"Ayo semuanya dimakan, jangan ragu-ragu, habiskan semuanya. Sasuke-kun, kau juga harus makan banyak..!" Cerocos sakura.

"Hn"

'Ini sebenarnya yang penghuni rumah siapa?' Batin semuanya.

.

Ditengah-tengah acara sarapan pagi, Sasuke terlihat pucat, matanya berkunang-kunang. 'Payah..Demam ini membuatku lemah..' Batin sasuke mengumpat.

Prak..

Garpu dan sendok itu terlepas dari kedua tangan sasuke. Kedua keningnya terus mengerut. Tanpa izin, sasuke kembali menyandar pada bahu kiri sakura. Sakura yang masih sarapan terkejut melihat sasuke yang tiba-tiba menyandar pada bahunya dengan kening mengerut.

"Sasuke-kun.." Panggil sakura.

"Pinjam….bahumu sebentar.." Ucap sasuke kepayahan. Melihat itu sakura kembali memeriksa sasuke.

"Demammu semakin bertambah.." Gumam sakura sendu menempelkan telapak tangannya pada kening sasuke.

BRAK..BRAK..BRAK..!

"UCHIHA SIALAN..!KELUAR KAU…AKU TAHU KAU DI DALAM..HEI..!"

BRAK, BRAK, BRAK..!

Disaat-saat seperti ini,…

Sasuke sedikit membuka matanya menatap kearah pintu. 'Jangan sekarang…' Batinnya.

"Ada apa sebenarnya..?!" Ujar sakura panik menatap kearah pintu.

"Biar kami yang urus, sakura-chan, kau jaga sasuke..! Tolong ya..!"

"He-Hei..!" Panggil sakura.

Bahkan sakura tidak sadar bahwa dia telah masuk kedalam dunia yang penuh dengan ancaman yang sangat besar.

.

.

.

To be continue^^

.

.

Huftt… Gomenne… maafff… banget, baru bisa update chapter 2, sekian lamanya..

Gimana? Sudah cukup rapikah? Atau perlu ada perbaikan? Yang punya saran review aja ya…

Arigatou yang udah review, gomen belum bisa balas semuanya…..