clearly sky that she can see

A Story by Titania aka 16choco25

Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama

Cast :

Jean Kirschtein, Sasha Braus

Summary : Hari itu, Jean kembali melihat Sasha berlari di bawah langit cerah.

.

ii. bread

Pelatihan angkatan dimulai minggu ini juga.

Jean cukup bersemangat—anggaplah ia menularkan semangatnya pada orang lain, apalagi semenjak ia mencoba manuver 3D-nya untuk yang pertama kalinya, membiarkan tubuhnya menolak tarikan gaya gravitasi bumi selaras dengan keseimbangan tubuh yang perlu dijaga. Untunglah pada hari ini tidak terjadi kejadian konyol seperti kemarin—anggaplah kejadian Sasha Braus dengan kentang rebusnya masih dalam batas wajar dibandingkan dengan kejadian hari ini, Eren Jaeger terpantul-pantul manuver 3D hingga tubuhnya terbalik seratus delapan puluh derajat.

Sasha Braus, si hiperaktif dengan deretan gerbong kata-kata, cukup bisa membuat iris Jean melebar ketika melihat gadis itu terangkat dengan sempurna bersama manuver 3D yang terpasang di pinggangnya. Bisa dibilang gadis itu tidak begitu bodoh—bahkan ia cukup hebat untuk ukuran pendatang baru. Sejak pagi menjelang, gadis berambut cokelat tua itu menyibukkan dirinya berkenalan dan berinteraksi dengan orang-orang baru di sekitarnya. Jean tahu dengan kepolosan dan sifat bersahabatnya, mungkin semuanya akan menjadi mudah.

Dan ia tidak menyangka bahwa Sasha yang akan menjadi lawannya dalam latihan bela diri tangan kosong kali ini. Tapi diam-diam Jean tetap waspada. Sasha kuat―sejauh yang ia lihat, gadis itu bisa melalui pelatihan tanpa hambatan. Ketika ia mengambil posisi bersiap, ia melihat gadis itu merapikan sejenak ikatan rambutnya, dan iris Jean melebar ketika melihat rambut cokelat itu terburai. Panjang, dan Jean benci mengakui―tapi gadis itu lebih terlihat manis dibandingkan biasanya.

Sasha berhasil membantingnya, namun dengan cepat ia bangkit dan merengkuh tubuh Sasha, tapi gadis itu menendang kakinya sehingga ia tergelincir, tetapi ia mencoba bangkit dan menyelesaikan pertarungan mereka dengan satu kali bantingan. Sasha terhempas ke tanah, dan Jean sadar kaki gadis itu lecet. Diulurkannya tangan, tetapi gadis itu bangkit sendiri dengan tertatih-tatih dan mengulurkan kedua jempolnya pada Jean disertai senyum. "Hebat! Jean, kau petarung yang hebat!"

Hal mengagumkan dari Sasha Braus, simply irresistable.

.

Dan Jean Kirschtein tidak tahu sejak kapan gadis kentang itu mengambil tempat di hadapannya untuk makan siang.

Ia tidak begitu terganggu—sebenarnya. Melihat tingkah polos Sasha yang berebut makanan dengan Connie, atau melihat Reiner tersedak sup berkali-kali karena tidak bisa menahan tawa, dan melihat tingkah ajaib Sasha yang diam-diam mencuri jatah makanan orang-orang disekitarnya merupakan hiburan gratis untuknya.

Namun lelaki itu tiba-tiba langsung tersedak ketika setangkup roti beroles mentega di piringnya berpindah alih ke tangan gadis berambut cokelat di hadapannya, dan dengan santainya ia memakan roti itu tepat di hadapan Jean yang ternganga, dan Jean langsung mencekal tangan Sasha dengan kesal. Sekarang ia sadar bahwa Sasha, memang berbakat dalam hal curi-mencuri. Bahkan ia sendiri tidak sadar ia pun menjadi sasaran kejahatan terpendam gadis itu.

"Sial, kembalikan rotiku, gadis kentang!"

"Kau terlalu lengah, Jean!" Gadis itu tertawa lepas, dan Jean mendengus.

.

Untuk kesekian kalinya, Jean kembali melihat gadis itu mencuri.

Jean punya kebiasaan meneguk segelas air putih sebelum tidur, dan saat membuka pintu dapur, yang dilihatnya adalah siluet gadis berambut panjang yang sedang berjongkok dengan beberapa tangkup roti di tangannya. Jean butuh beberapa detik mengenali sosok itu dan ia mendengus ketika sadar bahwa gadis itu adalah Sasha. Jean baru sadar rambut cokelat tua gadis itu terburai, tidak terikat rapi seperti biasanya.

Ia penasaran, maka ia membuka percakapan.

"Braus, apa kau mencuri lagi?"

Sasha, bersama kunyahan roti di mulutnya, melambai, sadar bahwa ada suara derit pintu yang tertangkap oleh telinganya dan sesosok lelaki tinggi dengan rambut berwarna gandum menatapnya dengan tatapan heran. Buru-buru ia menelan roti di mulutnya. "Hai, apa kau mau mengambil jatah makanan juga?" Ia menunjuk boks kayu berisi bahan makanan di hadapannya.

"Tidak." Jean meneguk air putih di gelasnya, lalu duduk di hadapan Sasha. "Aku baru tahu bahwa kau itu nokturnal."

Kening Sasha berkerut sedemikian rupa, seiring dengan kunyahan berirama pada beberapa tangkup roti di tangannya. Ia meraih toples kaca bulat berisi mentega dan mengoleskan mentega pada permukaaan roti, menyodorkannya pada Jean, sambil tersenyum. "Ngg, maaf? Noktur—apa tadi? Omong-omong, kau mau, Jean? Enak sekali, ada mentega di dalamnya, asal kau tahu."

Jean menerima setangkup roti itu dengan iris melebar. Sasha kembali tersenyum, dan kembali menikmati roti beroles mentega di tangannya disertai tangan yang sibuk mengaduk kopi dalam cangkir putih. Rasanya tidak buruk juga, meskipun Jean tidak begitu lapar, namun ia tetap menelan roti di mulutnya dengan lahap. Rasanya lumayan, masih bisa ditolerir oleh lidahnya. "Ah, lupakan, omong-omong, kenapa kau mencuri lagi?"

"Pertama, aku lapar. Kedua, aku butuh makanan."

Alis Jean berkedut. "Kau mencuri hanya untuk alasan konyol seperti itu?"

"Ada masalah dengan itu?"

Lelaki bertubuh tinggi itu menegakkan posisi duduknya, menyadari bahwa gadis di hadapannya tengah menatapnya dengan penuh tanda tanya. Berdeham, ia menggeleng dan Sasha langsung kembali mengunyah roti beroles mentega di tangannya dengan lahap tanpa peduli remah roti mengotori rok dan rahangnya. Suara kunyahan pada permukaan roti yang renyah kembali terdengar, beserta mulut yang bertemu bibir gelas berisi air minum yang membantu kunyahan roti itu dengan mudahnya memasuki kerongkongan. Sampai Jean, membuka percakapan lagi.

"Hei."

"Hm?" Gadis itu menoleh ke arah Jean, dengan mulut penuh remah roti kecil.

"Kenapa kau tidak mengikat rambutmu?"

"Tidak sempat," gadis itu kembali mengunyah rotinya dengan lahap. "Hei, aku baru sadar rambutmu seperti warna gandum."

Jean menghela napas panjang. "Hei, Braus, kau suka roti?"

Sasha mengangguk.

"Kau bilang aku gandum, maka aku adalah gandum yang diolah menjadi roti yang setiap hari kau nikmati―dan kau sukai."

Semua perbincangan di malam hari itu diakhiri dengan rona merah alami yang membaur di wajah Sasha, yang bergegas kembali ke baraknya dengan beberapa tangkup roti di tangannya dan Jean yang masih ada di dapur, hanya tersenyum kecil. Semua itu karena ia benci kebiasaan nokturnal Sasha, dan membiarkan ia menjadi pengagum rahasia sifat kepolosan dan kejujuran Sasha Braus yang apa adanya dan tidak dibuat-buat.

Jean baru sadar, rambut cokelat itu lebih indah dibandingkan rambut hitam Mikasa.

.

continued.