Disclamer Masashi Kishimoto

Rated T

Pairing : SasuSaku NaruHina ...(menyusul)

Genre : Romance, friendship

Gaje, typo bertebaran, alur maju mundur cantik

Terinspirasi dari film Brave walaupun nggak ada nyambungnya

Enjoy reading guys

Dan jangan lupa Review

.

.

.

Di chapter sebelumnya

"Huh baiklah kalau begitu." Aku lalu beranjak menuju ke perahu yang terletak di tepi danau. Lalu menaikinya dan mulai mendayung menuju ke tengah danau.

"Hei !" panggil pemuda yang merasa tak bersalah itu. "Aku akan ikut membantu." Lanjut pemuda yang merasa bersalah itu. Akhirnya dia mau mengakui kesalahannya. Aku lalu menepi dan pemuda itu lalu mulai naik ke perahu. Aku lalu mendayungnya kembali menuju tepat ke tengah danau.

.

.

And this is it the next chapter, Pilihan Sakura a la UzumakiYuki15

"Kenapa sejauh ini?" tanyanya.

"Diam saja dan tutup matamu." Aku menyuruhnya menutup mata karena aku takut jika dia tahu tentang trik magic ini.

"Nggak akan."

"Cepatlah."

"Nggak akan."

"Aku akan berenang dan akan ganti baju, maka kamu harus menutup matamu."

"Nggak percaya."

"Ok kau akan menyesal. Aku hitung ya.. satu..." aku mula memegang bajuku. Dan akhirnya ia mau menutup matanya.

"Kau harus menghadap kebelakang." Dan dia menurut saja. Hihi, ternyata asyik juga mengerjai orang ini.

Aku lalu mulai bermain gitar. Aku memetik gitar dengan hati ikut bernyanyi. Ikan-ikan yang mengetahui segalanya tentang danau ini. Kumohon mendekatlah kemari. Kami mohon mendekatlah kemari. Kami tahu kalian sangatlah ramah. Tolonglah insanyang sedang merana ini.

Lalu aku menepuk air sebanyak tiga kali. Dan akhirnya beberapa ikan pun berkumpul.

"Jadi kau memanggil mereka?"

"Sudah ku katakan untuk tutup matamu."

"Aku sudah menutupnya tadi."

"Huh lupakan." Aku lalu menolehkan kepalaku dan berbicara kepada ikan, "Tuan Ikan, dengan hormat aku meminta tolong kepada Anda untuk membantuku mencari katanaku." Lalu Ikan itu berenang meninggalkan kami berdua.

Aku lalu menoleh ke pria yang merasa bersalah itu. Dia memandangku dengan tatapan aneh namun ia buat sedemikian rupa agar ia terlihat tidak keheranan. "Kau gila." Katanya dengan lantang di depanku.

"Terserah apa katamu." Kataku yang tak berlangsung beberapa lama kemudian dari kejauhan aku melihat ikan yang tengah meloncat. Yang menurut perkiraanku disana lah katanaku tenggelam. Letaknya dekat dengan pinggir danau ternyata. Aku lalu mulai mendayung. Sedangkan pemuda itu hanya duduk diam dengan tangan ia silangkan di depan dada. Huh benar-benar orang aneh.

Setelah sampai, aku lalu melepas getaku lalu mulai masuk ke dalam air, aku meraba-raba dasar danau tersebut. Dan ternyata memang benar disini aku temukan katanaku. "Yatta!" teriakku dan kususul dengan ucapan terimakasih yang aku layangkan kepada ikan yang membantuku. Aku lalu naik ke perahu.

"Kau lupa?" tanya pemuda itu.

"Hm?" aku lalu mulai berpikir, oh apakah dia juga ingin aku bilang terimakasih? "Kau tidak membantuku sama sekali. Mana mungkin aku sudi mengatakannya."

"Oi! Jadi kau disini rupanya!" kami berdua spontan menoleh ke sumber suara. Terlihat seorang pemuda lagi dengan rambut blondenya. Siapa dia? Kenalan pemuda inikah? Aku lalu segera mendayung perahu ini mendekat ke daratan. Sesampainya, pemuda yang merasa bersalah itu langsung turun dan mengambil katananya yang ia tinggalkan di dekat objek.

"Ayo pergi Dobe." Katanya kemudian. Dobe? Jadi nama pemuda berambut pirang ini Dobe. Nama yang aneh dan tidak masuk akal.

"Huh apa-apaan itu Teme. Setidaknya kenalkan dulu siapa wanita yang bersamamu ini." Ternyata benar adanya, aku tidaklah terkenal di negeriku sendiri. Mungkin karena aku jarang bersosialisasi. Dan pemuda yang kuketahui bernama 'Teme' tersebut malah meninggalkan pemuda yang kuketahui bernama 'Dobe'.

"Huh dasar Teme. Jadi siapa namamu Nona?"

"Perkenalkan namaku Saki, Dobe-san. Senang berkenalan dengan anda."

"Do-dobe? Uh dasar. Namaku bukanlah Dobe. Namaku Uzumaki Naruto. Dan apa yang kau lakukan bersama Sasuke tadi? Apa kalian ini memiliki hubungan sebagai sepasang kekasih? Tapi mana mungkin si Sasuke-teme itu punya kekasih wanita. Dia kan gay."

"Sasuke? Kekasih? Gay? Maksudnya?" aku bingung dibuatnya. Pemuda Dobe yang ternyata bernama Uzumaki Naruto ini memberi pertanyaan bertubi-tubi.

"Ok ok. Aku terlalu cepat ya. Pertama apa kau memiliki hubungan dengan Sasuke?"

"Sasuke? Oh jadi pria itu bernama Sasuke, bukan Teme?"

"Tentu saja bukan. Dan apa kau bilang? Kau baru tahu namanya? Aku kira kalian sudah saling mengenal."

"Belum sama sekali. Jadi kronologisnya dia ini adalah orang yang telah menenggelamkan Katanaku dan dia ikut err.., membantuku. Ya tidak juga sih. Dia hanya diam dan tidak melakukan apa-apa."

"Oh jadi itu alasannya Yukatta mu basah dan kotor."

"Ya begitulah."

"Apa kau yang mengendarai kuda itu?"

"Iya. Memangnya ada apa?"

"Oh tidak ada. Hanya bertanya. Yukattamu kotor, jadi mau tidak ikut denganku ke rumah kami. Mengganti Yukatta mu."

"Ya selama itu tidak merepoti Uzumaki-san itu tidak apa."

"Panggil aku Naruto. Terdengar aneh jika aku dipanggil Uzumaki-san."

"Baik Naruto." Aku dan Naruto lalu menghampiri Watabe, kuda kesayanganku. Dan namaku Haruno Sakura biasa dipanggil Saki jadi ya aku bilang ke Naruto kalau namaku Saki. Ini juga termasuk penyamaran.

"Jadi namamu hanya Saki? Tak ada nama keluarga?"

"Oh maaf aku kurang lengkap memperkenalkan diri. Namaku Natsuno Saki. Aku biasa kesini untuk mengusir kebosananku. Aku suka sekali dengan samurai. Bagaimana denganmu? "

"Oh kalau aku juga sama sepertimu. Suka samurai, tetapi tidak sejago Sasuke. Da juga aku dan Sasuke tinggal satu rumah. Orang tua kami sudah lama tiada. Kami dari kecil berteman akrab hingga sekarang."

"Oh ya tadi aku dengar Sasuke-san itu gay. Apa itu benar?"

"Tidak-tidak mana mungkin. Aku hanya bercanda, pasalnya pemuda setampan dia yang dulu sampai sekarang banyak disukai wanita, sampai sekarang dia belum memiliki kekasih. Bahkan dia sepertinya cuek dengan perempuan. Oh ya kau belum kenal denganya ya. Aku kenalkan lebih rinci dia itu namanya Uchiha Sasuke. Dia memiliki masa lalu yang kelam. Dan maaf aku tidak boleh cerita lebih lanjut tentangnya. Aku sudah berjanji. Dan soal pekerjaan kami. Kami berdua berkebun. Jika ingin daging biasanya kami berburu. Kami sama-sama bisa memanah."

"Wow itu keren sekali. Kalian tinggal dimana?"

"Tidak jauh dari danau ini."

"Kalian berdua tinggal di hutan?"

"Tidak berdua, kami tinggal berempat dan bernasib sama."

"Kenapa tidak tinggal di kota?"

"Kami pernah diusir oleh orang-orang disana karena ulah kami. Yah peru diketahui kami dulu waktu kecil sering mencuri makanan gara-gara nggak punya uang. Dan juga jika tinggal di kota kami tidak sanggup membayar pajak."

Ya ampun ternyata masih ada yang bernasib seperti ini di kerajaanku. Ini sungguh harus ditindak lanjuti, mana mungkin aku tega membiarkan rakyatku kelaparan ketika aku sendiri malah berfoya-foya.

"Kamu sendiri tinggal dimana?" tanyanya tiba-tiba.

"Aku tinggal di dalam kota bersama kedua orang tuaku."

"Oh. Nah akhirnya kita sampai juga." Kulihat disana ada satu rumah sederhana yang terbuat dari...,sepertinya kayu dari hutan sini. Dan juga terdapat kebun sayur dan taman bunga di depan rumah tersebut.

"Nah kau lihat gadis disana?" tanya Naruto kepadaku. Aku melihat gadis dengan rambut pirang sama sepertinya, dengan gaya ponytalenya. Dia sedang menyirami bunga. Dia tampak cantik.

"Ya aku melihatnya."

"Namanya Yamanaka Ino. Akan aku pinjamkan baju untukmu. Ino!" teriaknya membahana memanggil gadis berambut pirang yang bernama Ino tersebut.

"Oh hai Naruto! " Kami lalu menghampiri gadis yang bernama Ino tersebut.

"Ino, tolong pinjami baju untuk wanita ini ya. Kasihan dia, bajunya kotor ini semua karena Teme."

"Oh dasar Sasuke, beraninya dia mengganggu gadis secantik ini. Dengan senang hati aku akan meminjamkannya. Tapi maaf ya kalau jelek." Kami, maksudku aku, Ino dan Naruto lalu mulai memasuki rumah sederhana yang bergayakan Jepang tersebut.

"Oh ya perkenalkan namaku Yamanaka Ino."

"Na-namaku Saki. Natsuno Saki." Dengan terpaksa aku harus menyembunyikan namaku, aku takut mereka tidak akan mau berteman denganku kalau mereka tahu aku dari kawasan kerajaan.

"Ino aku kebelakang dulu ya, mau mengolah hasil tangkapan hari ini." Kata Naruto yang berada di belakan kami berdua.

"Terserah." Kata Ino yang dilanjutkan dengan perginya Naruto menuju halaman belakang. Aku akan menceritakan tentang keadaan rumah ini. Rumah ini bergaya Jepang. Begitu kita masuk, kita akan memasuki ruang tamu. Rumah ini tidak memiliki lorong, begitu di ruang tamu kita akan melihat ruang makan yang terhubung dengan dapur.

"Ayo ke atas. kamar kami berada di atas. Oh ya, karena keadaan Saki-san yang terlihat seperti ini, lebih baik Saki-san pergi mandi. Kamar mandinya di dekat ruang makan, di bawah tangga."

"Ya. Aku akan mandi setelah aku mendapatkan bajunya." Rumah ini memiliki 2 lantai. Kami lalu naik ke lantai dua dan terdapat 2 ruangan disana yang aku yakini sebagai kamar mereka. Yang ada di lantai dua cuma itu. Rumah ini memang benar-benar sederhana.

"Kami satu rumah berempat. Yang satunya masih ke kota, dia menjual hasil perkebunan sayur-mayur kami." Terangnya sembari kami memasuki kamar yang aku yakini milik Ino dan temannya.

"Kalau begitu kenapa kalian tidak tinggal di kota? Bukankah akan lebih mudah bila tinggal disana?" tanyaku penasaran.

"Mungkin kau sudah dengar dari si 'cerewet' Naruto itu. Kami memang dari kalangan keluarga yang broken. Selain itu kami juga tidak sanggup untuk membayar pajak yang menurutku setara dengan makan 3 hari itu."

Sungguh miris nasib mereka berempat. Aku tidak tahu tentang hal semacam perpajakan seperti itu. Itu semua sudah diatur oleh perdana menteri kami, si ular tua itu, maksudku Orochimaru.

-tbc-

A/N :

Yosh! Endingnya jelek banget, bingung mau motong sampai mana. Chapter keduanya udah rilis nih maaf kalau gaje bin aneh. Dan spesial thanks for Sasara Keiko dan Akiko Asami dan para silent readers. Itu sangat amat bermanfaat buat saya. Cukup sekian yang dapat saya sampaikan untuk chapter kedua yang abal ini. Terimakasih jika kalian berminat untuk membaca apalagi me-review

BYE BYE SEE YOU IN THE NEXT CHAPTER...

UZUMAKIYUKI15