Really Love You

Kim Seok Jin x Kim Tae Hyung

Jung Hoseok x Jeon Jung Kook

Park Ji Min x Min Yoongi

Kim Nam Joon

YAOI , Hurt/Comfort

1st fanfict with BTS Pairing

This Story is MINE, DO NOT COPY Please :)

NO BASHING

ooOOoo

Taehyung POV

" Na wasseo! " seruku saat melangkah masuk ke dalam rumah.

Sepi, tentu saja. Appa sedang bekerja, para maid ku entah berada dimana mereka sekarang. Mungkin sedang istirahat dibelakang? Entahlah, mungkin iya, mengingat sekarang waktunya mereka untuk beristirahat. Hyung masih kuliah. Sedangkan eomma, beliau sudah memutuskan untuk hidup dengan pria pilihannya sejak satu setengah tahun yang lalu setelah menggugat cerai appa.

Jadi ya sekarang, beginilah nasibku setiap hari. Dari siang hingga hampir makan malam ditemani dengan para maid. Tapi meskipun begitu, aku masih sangat bersyukur. Karena appa, hyung, dan juga para maidku masih sangat memperhatikanku.

" Aigo! Tuan muda sudah pulang ternyata. " suara Jung ahjumma menyapa indera pendengaranku.

Aku menoleh ke arahnya yang sedang berjalan menghampiriku sambil tersenyum lembut. Semenjak eomma pergi dari rumah ini, hanya Jung ahjumma yang boleh mengurus segala keperluan dan kepentinganku. Ia juga yang menggantikan eomma untuk memberikanku kasih sayang seorang ibu. Yah, meskipun tidak ada yang bisa menggantikan posisi eomma dikehidupanku.

Aku balas tersenyum padanya. " Ne ahjumma. Apa ahjumma dan yang lain sedang istirahat? " tanyaku.

" Ne, kami sedang makan siang dibelakang tuan muda. Sini, biar ahjumma yang membawakan tas tuan muda. Sepertinya berat sekali. " Jung ahjumma berucap seraya mengambil alih tas milikku untuk dibawanya ke kamarku.

" Gamsahamnida ahjumma. " ucapku dan mulai melangkah menuju kamar milikku yang berada dilantai dua.

" Bagaimana dengan sekolah baru anda tuan muda? Apa menyenangkan? " tanya beliau yang berjalan dibelakangku.

Aku langsung tersenyum cerah saat Jung ahjumma bertanya seperti itu. Aku jadi mengingat teman-teman baruku yang sangat menyenangkan.

" Tentu saja ahjumma! Bahkan aku sudah memilikki teman baru. Mereka sangat menyenangkan dan sangat baik. Aku senang bersekolah disana. Sepertinya aku akan nyaman disekolah itu. " jawabku dengan antusias.

Ku dengar Jung ahjumma terkekeh pelan lalu membukakan pintu kamarku. Ia mempersilahkanku untuk masuk duluan. Aku pun masuk dan duduk diatas kasurku.

" Ahjumma bersyukur kalau begitu. Bersyukur karena tuan muda senang dan nyaman disana dengan teman-teman baru. Jika tuan muda senang, ahjumma juga senang. Cha! Sekarang tuan muda istirahat dulu. Jika waktunya makan malam tiba, ahjuma akan memanggil tuan muda. " jelasnya dan keluar dari kamarku setelah sebelumnya menaruh tasku diatas meja belajar.

Aku menghela nafas pelan dan merebahkan mulai merebahkan diri. Kembali mengingat kejadian-kejadian disekolah tadi. Sampai kurasakan kedua pipi ku memanas saat mengingat Jin hyung mencium singkat bibirku. Tapi setelahnya, menghela nafas berat saat perkataan Jin hyung kembali terngiang ditelingaku.

" Maaf untuk yang tadi. Lupakan saja... "

' Aih! Bagaimana bisa aku melupakannya? Dan kenapa juga dia berbicara dengan segampang itu, setelah melakukannya padaku? Apa dia tidak memikirkan perasaanku? ' batinku bertanya.

Lama berkecamuk dengan segala macam pemikiranku, akhirnya aku memutuskan untuk tidur.

ooOOoo

Jin POV

Aku berjalan masuk ke rumah dengan diam. Sedikit melirik seorang yeoja peruh baya yang sedang menonton tv diruang keluarga, dan sempat menoleh ke arahku sambil tersenyum lembut –menurutku memuakkan- . tanpa mempedulikan dirinya, aku terus melangkah dan mulai menaikki tangga untuk menuju kamar.

" Jin-ah. " panggilnya.

Aku terdiam ditempatku tanpa menoleh padanya sama sekali. Dapat kupastikan dirinya sedang berdiri tak jauh dariku saat ini.

" Makan sianglah dulu. Aku sudah- "

" Maaf, tapi aku tak lapar. Aku ingin istirahat dan tolong jangan menggangguku. " kataku dengan cepat memotong ucapannya, dan mulai kembali melangkah menuju kamar.

Aku tak peduli dengan dia yang mungkin akan menangis saat mendengar ucapan dingin yang terlontar dari bibirku barusan.

Cklek

BRAK

Dengan sengaja kubanting pintu kamarku sendiri saat aku menutupnya agar ia bisa tahu, betapa aku sangat tidak menyukai dirinya yang dengan tiba-tiba datang dikehidupanku.

Kulempar tas sekolahku ke atas meja belajar dan mulai melangkah ke kasur lalu merebahkan diri disana. Disaat-saat seperti ini, aku selalu merindukan eomma ku yang sudah tiada. Aku merindukan kasih sayangnya, aku merindukan perhatiannya, aku juga merindukan usapan sayang eomma saat aku sedang lelah seperti ini.

Yeoja itu, yeoja yang sudah beberapa tahun ini tinggal dirumahku, adalah kekasih appa. Appa mengenalkannya padaku setelah dua tahun kepergian eomma. Appa juga dengan berani membawa dan mengizinkan yeoja itu untuk tinggal disini, walaupun aku sama sekali tidak menyetujuinya. Sampai akhrinya aku membuat satu kesepakatan, yang tadinya ditolak oleh appa.

Kesepakatan itu adalah, yeoja itu boleh tinggal di rumah ini, tapi dengan syarat mereka tidak boleh menikah tanpa persetujuan dariku. Jika mereka menikah tanpa adanya persetujuanku, maka aku akan keluar dari rumah ini.

Dan yah, beginilah akhirnya. Sudah satu setengah tahun berlalu, tapi sampai saat ini aku bahkan tidak pernah menyetujui mereka untuk menikah. Karena aku tidak mau ia menggantikan posisi eomma dikeluarga ini.

Ia baik, tentu saja. Ia menyayangiku, ia memperhatikanku, ia juga mendahulukan kepentingan dan keperluanku. Tapi entahlah, aku benar-benar tidak menyukainya. Mungkin karena perasaan appa padanya, sehingga appa melupakan eomma.

" Eomma.. bogoshipeoyo. " gumamku dengan lirih.

ooOOoo

Tok.. Tok.. Tok..

" Jin-ah..! Irreona..! Ayo kita makan malam dulu..! "

Aku mengerjap pelan saat suara yeoja itu terdengar. Melihat sejenak ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Perlahan aku duduk dan menghela nafas pelan.

" Jin-ah..! Appa mu sudah menunggu dibawah..! " panggilnya lagi. Aku mendengus kesal.

" Ne! Turunlah duluan! Aku akan menyusul! " sahutku dengan sedikit berteriak.

" G-geurae, kami tunggu kau dibawah. "

Setelah itu, dapat ku dengar suara langkah kaki yang semakin lama semakin jauh dari kamarku. Aku pun memutuskan untuk turun dari atas kasur dan berjalan menuju kamar mandi yang terletak didalam kamarku.

Menatap pantulan wajahku dicermin lalu menghela nafas pelan. Kunyalakan keran air dan mulai membasuh wajahku sebentar lalu mengelapnya dengan handuk putih kecil milikku. Setelahnya, barulah aku mulai turun menyusul mereka –Appa, dan yeoja itu tentu saja- .

ooOOoo

Author POV

Cklek

" Taehyung-ah.. " panggil seorang namja paruh baya yang baru saja memasukki kamar bernuansa putih tersebut.

Ia mendudukkan dirinya disisi ranjang anak bungsunya. Ia tersenyum saat melihat Taehyung tertidur dengan selimut yang membalutnya, hingga tubuh mungil itu hampir tertutup seluruhnya.

" Taehyung-ah, irreona.. " ucapnya seraya mengguncangkan sedikit tubuh Taehyung.

" Eungh.. "

Taehyung menggeliat lalu mengerjap pelan. Ia menoleh ke tempat dimana sang appa sedang duduk dan tersenyum padanya.

" Appa, sudah pulang? " tanya Taehyung sambil duduk diatas kasurnya.

Namja paruh baya itu terkekeh pelan. " Tentu saja. Jika appa belum pulang, maka siapa yang sedang didepanmu sekarang, eoh? " tangan kanan sang appa terjulur untuk mengusak rambutnya.

" Baiklah. Sekarang cepat cuci wajahmu, lalu turun dan kita makan malam bersama. Hyung'mu sudah menunggu. "

Taehyung mengangguk pelan. " Ne appa. " jawabnya dengan suara yang serak. Khas orang bangun tidur.

" Kalau begitu, appa dan hyung'mu menunggu di ruang makan. "

Setelahnya, namja paruh baya tersebut beranjak dari tempatnya dan berajalan keluar menuju ruang makan. Tempat dimana anak sulungnya sudah menunggu.

ooOOoo

" Bagaimana sekolahmu hari ini Jin-ah? " suara berat tuan Kim terdengar memecah keheningan saat keluarga tersebut tengah menyantap makan malam mereka.

" Tidak ada yang berubah. Semuanya sama, dan biasa saja. " jawab namja tampan itu tanpa menatap ayahnya.

Mendengar jawaban dari anaknya, tuan Kim hanya bisa menghela nafas pelan. Ia menghentikan suapannya dan beralih menatap anak semata wayangnya itu.

" Tidak bisakah kau memberikan jawaban yang berbeda? Appa bosan mendengarnya. Dan lagi, apakah kau sama sekali tidak berniat untuk membuat kehidupan sekolahmu menjadi menarik? Apa tidak ada satu hal pun lagi yang bisa kau jadikan semangat dalam bersekolah? Semenjak eomma'mu meninggal, prestasi sekolahmu jadi berhenti Seok Jin-ah. Kau juga jadi tidak bersemangat untuk bersekolah. Appa.. seperti kehilangan sosokmu yang appa kenal, Seok Jin-ah. " tuan Kim berujar lirih.

Seok Jin menghentikan acara makannya. Ia meletakkan sendok dan garpu yang digunakannya untuk menjadi alat makan diatas piring, lalu meminum air putihnya.

" Kurasa selama ini prestasiku sudah cukup. Dan satu hal lagi, appa salah jika mengatakan 'semenjak eomma meninggal' . Tapi yang benar adalah.. " Seok Jin menghentikan ucapannya sejenak lalu menatap tajam pada yeoja yang duduk disebelah kanan tuan Kim.

" Semenjak DIA datang ke kehidupan appa, dan juga kehidupanku. " lanjut Seok Jin sedikit menekankan kata 'Dia' dalam kalimatnya.

Sontak saja hal itu membuat yeoja tersebut menggenggam erat kedua alat makannya sambil menunduk.

" Seok Jin-ah, bisakah kau- "

GREET

" Aku selesai. Aku kembali ke kamar duluan. Selamat malam. " kata Jin cepat memotong ucapan appa'nya.

Ia pun mulai berjalan menaikki anak tangga satu per satu, hingga sampai ke kamarnya. Lalu merebahkan diri diatas kasur empuknya dan menatap langit-langit kamar.

" Eomma... jaljayo. " gumamnya dan memutuskan untuk tidur.

ooOOoo

Tok... Tok... Tok...

Taehyung yang saat itu sedang berada dibalkon kamarnya, menoleh ke arah pintu kamar saat seseorang mengetuk benda persegi panjang tersebut.

" Taehyung-ah.. hyung boleh masuk? " tanya seorang namja dengan suara bassnya dari luar.

" Ne hyung..! Masuk saja..! Pintunya tidak dikunci..! " jawab Taehyung setengah berteriak, agar hyung'nya dapat mendengar.

Cklek

Pintu kamarnyapun terbuka. Memperlihatkan seorang namja yang berjalan menghampirinya sambil tersenyum –menampakkan kedua dimplenya- .

" Apa yang sedang kau lakukan disini, eoh? " suara bass itu kembali terdengar.

" Hanya iseng saja. Lagipula langit malamnya bagus. Malam ini banyak sekali bintang. " namja manis itu mendongakkan kepalanya dan menatap bintang sambil tersenyum.

Namun tak lama, senyum itu luntur. Tergantikan dengan padangan sendunya. Namjoon –sang hyung- mengernyit bingung melihat raut wajah adiknya.

" Wae Taehyung-ah? "

Taehyung menghela nafas pelan lalu menunduk. Poninya hampir menutupi kedua matanya.

" Aku merindukan eomma. " ucapnya lirih.

Mendengarnya, membuat Namjoon mengelus sayang kepala adiknya. Ia mengerti perasaan Taehyung. Walaupun ia juga bersedih mengingat sang eomma yang lebih memilih meninggalkan mereka, tapi Taehyung lah yang paling terpuruk disini.

Itu dikarenakan Taehyung lah yang paling dekat dengan sang eomma. Hingga saat perceraian itu tiba, Taehyung bahkan sempat tak ingin melakukan apapun selama dua minggu. Ia hanya berdiam diri didalam kamarnya. Menangis dan terus menggumamkan kata 'eomma' . Ia juga sempat jatuh sakit.

" Hyung juga merindukan eomma. Tapi kita bisa apa Taehyung? Eomma lebih memilih untuk bersama dengan namja pilihannya yang lain. Mungkin ini sudah jalan takdir yang harus keluarga kita lalui. Tak ada gunanya bersedih terus. Lebih baik, kita doakan eomma saja. Supaya eomma bisa bahagia dengan namja pilihannya itu. Arratchi? " Namjoon memberi nasihat.

Taehyung mengangguk pelan, lalu kembali tersenyum. Hyung'nya ini memang sangat bijak. Persis seperti appa'nya.

" Gomawo hyung. "

" Ne. Ah ya! Bagaimana dengan sekolah barumu? Apakah menyenangkan? " tanya Namjoon berusaha mengganti topik pembicaraan mereka.

" Sangat hyung! Hyung tahu? Bahkan aku sudah mendapatkan teman-teman yang sangat baik. Mereka mau menerimaku sebagai teman baru mereka hyung. Kurasa aku akan nyaman bersekolah disana. " jelas Taehyung dengan antusias.

Namjoon terkekeh mendengarnya. " Arasseo. Jika kau senang, hyung juga senang. "

" Tapi.. ada satu orang yang terlihat sangat dingin dan juga sedikit.. menyebalkan. " lanjut Taehyung.

" Jinjja? Kenapa dia bersikap seperti itu? " tanya Namjoon –lagi- . Ia sepertinya mulai tertarik dengan penjelasan adik manisnya itu.

" Hm.. kata teman-teman yang lain, sikapnya memang seperti itu. Entahlah, aku belum berani bertanya. Aku ini kan masih anak baru disekolah itu hyung. "

" Lalu, dia itu seperti apa orangnya? "

Taehyung berpikir sejenak. " Humm.. dia itu tinggi, kedua matanya sedikit tajam, suka mendengarkan lagu, dan.. dia itu, tampan. " sat mengatakan hal yang terakhir, kedua pipi Taehyung sedikit merona.

Namjoon memicingkan kedua matanya dan menatap lekat wajah adiknya. Walaupun Taehyung sedang menunduk, Namjoon tetap bisa melihat rona samar itu. Ia mulai tersenyum jahil.

" Eih~ .. jangan bilang kau menyukainya. " goda Namjoon. Ia menaik turunkan kedua alisnya jahil.

Wajah Taehyung semakin memerah mendengar godaan itu.

" Hahahaha... wah! Uri dongsaengie sudah besar ternyata. Haha.. "

Taehyung merengut sebal. Hyung satu-satunya ini senang sekali menggodanya.

" Aish! Hyung berhentilah tertawa! " serunya.

Akhirnya dengan susah payah, Namjoon pun menghentikan tawanya dan menatap sang adik disertai dengan senyuman.

" Menyukai seseorang itu wajar Taehyung-ah. Setiap orang berhak merasakannya. Termasuk kau. "

" Hyung. "

" Tapi ingat! Jangan jadikan rasa sukamu itu menjadi rasa yang sangat berlebihan dan berakhir dengan obsesi. Tapi, jadikanlah rasa sukamu itu sebagai anugerah yang sangat indah bagimu. Biarlah rasa sukamu itu berkembang dengan sebagaimana mestinya. Sayangi dia dengan cara yang sewajarnya, dan.. yang satu ini harus kau ingat. Kau memang menyukainya, tapi bukan berarti kau harus memilikkinya. Aratchi? " Namjoon memberi nasihat.

Taehyung terdiam sejenak, namun akhirnya mengangguk.

" Geurae! Hyung tidur duluan kalau begitu. Jangan terlalu lama diluar, udara sangat dingin. Nanti kau sakit. Sudah ya, hyung kembali ke kamar. " ucap Namjoon dan mulai berjalan meninggalkan adiknya yang masih setia berdiri disana.

Sepeninggal hyung'nya, Taehyung kembali mendongak untuk menatap bintang sambil memikirkan nasihat hyung'nya tadi.

" Kau memang menyukainya, tapi bukan berarti kau harus memilikkinya. " hanya kalimat itu yang benar-benar dipikirkan olehnya.

ooOOoo

" Pagi semuanya...! " suara riang dan ceria itu kudengar saat Jung Kook memasukki kelas dengan senyum yang mengembang diwajah imutnya, dan dibalas dengan serempak oleh seluruh siswa dikelas ini.

Aku tersenyum melihat tingkah lucunya itu. Dia benar-benar mirip sekali dengan anak kecil.

" Ah! Taehyungie sudah sampai duluan ternyata. Pagi Taehyungie. " sapanya setelah dia sampai disampingku.

" Ne, pagi Jung Kook. " balasku.

" Hari ini ada pelajaran olahraga. Apa kau membawa bajunya? " tanya dirinya seraya duduk ditempatnya.

Aku mengangguk kecil.

" Baguslah. Aku jadi tidak sabar untuk pelajaran olahraga. " ucapnya –masih dengan tersenyum senang- .

" Memangnya kenapa? " tanyaku penasaran.

Ia menoleh padaku. " Karena disaat jam pelajaran olahraga, Hoseok hyung akan terus menatap kearah lapangan, dan memperhatikanku. " jawabnya dengan sedikit malu-malu.

Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku pertanda mengerti.

Dan tak lama, bel sekolah berbunyi. Semua siswa berhamburan masuk ke dalam kelas dan mulai duduk untuk mengikuti jam pelajaran pertama.

Author POV

Jam pelajaran olahraga dikelas Taehyung pun mulai berjalan. Seluruh siswa dikelas itu pun sudah berada dilapangan untuk mengikuti pelajaran tersebut dengan semangat.

Dan hari ini, mereka akan bermain basket. Jung Kook sempat semberut saat mengetahui mereka akan bermain basket. Itu dikarenakan mereka akan memakai lapangan basket yang letaknya didalam ruangan.

Mereka dibagi menjadi empat kelompok. Kelompok pertama akan bertanding dengan kelompok kedua. Sedangkan kelompok ketiga akan bertanding dengan kelompok keempat.

Taehyung dan Jung Kook bersorak girang saat mereka ditempatkan disatu kelompok. Mereka masuk ke kelompok ketiga. Itu tandanya, sebelum bermain mereka diperbolehkan untuk duduk ditepi lapangan.

" Aish! Aku masih kesal karena kita harus bermain basket hari ini. " Jung Kook berucap kesal.

Taehyung tersenyum mendengarnya.

" Gwaenchana Jung Kook-ah, kau kan bisa bertemu dengan Hoseok hyung di jam istirahat nanti. " katanya.

Baru saja Jung Kook ingin kembali berucap, kedua matanya berbinar dan senyum kembali mengembang diwajahnya. Sementara Taehyung hanya mengernyit bingung.

Ada apa dengan teman imutnya ini?

" Taehyungie, lihat ke belakangmu. " ucap Jung Kook yang sedang menatap ke arah belakang Taehyung.

Taehyung mengikutinya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati dua orang namja sedang berjalan mendekat ke arah mereka. Sontak saja hal itu menjadi perhatian bagi para siswa yang sedang mengikuti jam pelajaran olahraga tersebut.

" Hoseok hyung! " panggil Jung Kook saat kedua namja itu sudah berada didekat mereka.

Hoseok –salah satu dari kedua namja itu- tersenyum lembut pada Jung Kook seraya duduk disampingnya. Sementara namja yang satunya lagi, duduk disamping Taehyung sambil mendengarkan musik.

" Hyung kenapa bisa berada disini? Hyung membolos ya? " tanya Jung Kook seraya memicingkan kedua matanya.

Hoseok menggeleng. " Han saenim tidak masuk. Jadi daripada aku mati kebosanan didalam kelas tanpa mengerjakan apapun, lebih baik aku kesini. "

" Oh begitu. Lalu Jin hyung? Kenapa dia bisa berada disini? " tanya Jung Kook –lagi- sambil menatap namja tampan yang sedang duduk diam disamping Taehyung.

" Nah, kalau dia baru namanya membolos. " celetuk Hoseok.

Selama menunggu kelompok mereka bertanding, sepasang kekasih itu asyik dengan dunia mereka. Tanpa tahu bahwa sedari tadi Taehyung berdoa dalam hati agar jantungnya berdegup dengan normal. Dan jangan lupakan dirinya yang sedari tadi menunduk untuk menutupi kedua pipinya yang merona merah.

' Priiit..! ' suara pluit menggema diruang lapangan basket itu. Menandakan pertandingan pertama selesai.

" Baiklah! Pertandingan pertama dimenangkan oleh kelompok kedua. Sekarang kelompok ketiga dan keempat, silahkan masuk lapangan. " perintah Choi sonsaengnim.

Taehyung dan Jung Kook pun berdiri dari tempat duduk mereka dan melangkah masuk ke lapangan. Setelah menentukan siapa kapten basket dari masing-masing kelompok, mereka pun siap bermain.

Choi sonsaengnim membunyikan pluitnya. Permainan pun dimulai.

Tak lama, kelompok ketiga bersorak senang karena berhasil memimpin pertandingan. Hoseok bertepuk tangan seraya meneriakkan nama Jung Kook, sedangkan Jin terus menatap pada satu arah. Ah! Satu namja lebih tepatnya.

Sampai akhirnya..

" Taehyung awas! " teriak salah satu siswa disana saat melihat bsaket dilempar dengan sangat kencang ke arah namja manis itu.

Taehyung yang sedang sibuk menjaga salah satu lawannya, menoleh ke belakang dan..

BUGH

Bola basket itu mengenai kepala Taehyung dengan keras, dan menyebabkan ia jatuh pingsan dengan darah yang mengalir dari hidungnya.

" Taehyungie/Taehyung! " Jung Kook dan yang lainnya segera berlari mendekat ke arah Taehyung. Begitu juga dengan dua namja tampan yang sedari tadi duduk menyaksikan.

" Taehyungie! Ya! Irreona! " panggil Jung Kook seraya menepuk-nepuk pipi Taehyung.

Nihil! Taehyung sama sekali tidak membuka kedua matanya.

" Lebih baik kita membawanya ke UKS. " Choi sonsaengnim bersuara.

" Biar aku saja yang membawanya. " suara berasal dari samping Hoseok.

Hoseok pun mengangguk lalu membiarkan Jin –namja yang bersuara tadi- menggendong Taehyung menuju UKS. Setelahnya, Choi sonsaengnim kembali menyuruh seluruh siswa untuk melanjutkan permainan.

" Aku yang salah dengar, atau memang suara Jin hyung tadi terdengar khawatir? " tanya Jung Kook bingung. Ia lalu melangkah untuk kembali melanjutkan permainan, untuk masalah Taehyung, ia akan menjenguknya nanti. Yang penting sudah ada Jin yang menjaga temannya itu.

Sementara kekasihnya yang sedang tersenyum penuh arti.

ooOOoo

Seok Jin merebahkan Taehyung diatas ranjang UKS. Namja tampan itu segera beralih menuju lemari penyimpanan obat dan mengambil beberapa tisu. Ia kembali menghampiri Taehyung dan membersihkan darah yang keluar dari hidung namja manis itu.

Setelahnya, ia menatap wajah manis Taehyung yang sedikit pucat. Tangan kanannya terangkat dan membenarkan poni Taehyung dengan pelan.

Namja manis ini, mengingatkannya pada cinta pertamanya.

ooOOoo

TBC

Aku Update :D

Gamsahamnida bagi sudah yang mau review :)

Aku gak bisa balas satu-satu :D

Jeongmal mianhae ya :(

Review selanjutnya bakal aku balas deh..

Hehehe

RnR juseyoooo :D

See you ^^