Eternity Aim Sasori's

"Di dunia ini, ada suatu fakta nyata dalam kehidupan sesudah kematian.."

.

"Manusia yang meninggal tetapi menyisakan tujuan kuat dan penyesalan di dunia, akan mengalami suatu keajaiban, yaitu menjadi roh abadi yang dapat melakukan apa saja ke manusia hidup di dunia.."

.

.

.

.

.

Eternity Aim Sasori's

[Akasuna Sasori x Ryuuno Megumi]

Horror/Romance/Mystery

Rated T

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Author: Natsume Rokunami

.

Warning: OC, judul super aneh, cerita ikutan gaje, dll

.

Don't Like, Don't Read!

.

.

.

.

.

.

.

Megumi menghela napas berat. Selama ini ia mendapatkan interogasi dan pertemuan secara intensif dari Sasuke. Melelahkan, memang. Tapi apa boleh buat?

Ia sedang berjalan pulang sehabis belanja kebutuhannya sehari-hari. Di tengah perjalanan, ia melewati kawasan taman bermain anak-anak. Disana ada dua anak laki-laki sedang bermain seluncuran.

Dua anak itu sadar ada Megumi sedang lewat disana, mereka saling bisik-bisik, kemudian tertawa-tawa kecil. Mereka menghampiri Megumi.

"Oi, kakak pembawa sial."

"Hah?"

.

.

.

=Natsu: Eternity Aim Sasori's=

.

.

.

Megumi menoleh. Ia memandang bingung ke arah anak-anak yang memanggilnya 'pembawa sial' tadi.

"Iya, kakak pembawa sial." Seorang anak mengiyakan dengan nada mengejek.

"Sudah temannya mati, pacarnya mati, siapa lagi ya yang mati kalau berhubungan sama kakak?" mereka berdua tertawa mengejek. Megumi menunduk. Kabar tentang Sasori, Sakura, dan Ino memang sudah menyebar. Tentu itu akan menjadi buah bibir tak mengenakkan.

"Iiih...pembawa kematiaan. Menjauhh! Huu! Menjauhh!" mereka melempari Megumi dengan batu-batu kerikil. Megumi melindungi dirinya dengan kedua tangannya.

"Ukh.." Megumi kesakitan saat sebuah batu besar yang dilempar anak itu membentur tangannya. Tangannya berdarah. Darah mengucur banyak dari lukanya.

"Hiii! Ada daraaahh!"

"Death eaters! Hahahaha!"

"Pembawa kematian!"

"Setan!"

"Mati saja sana!"

"Bunuh! Bunuh!"

Kepala Megumi berdarah akibat dilempari batu-batu dengan kasar. Megumi tak kuat lagi menghadapi cercaan anak-anak itu dan serangan batu dari mereka, sehingga Megumi cepat-cepat pergi dari sana. Saat pergi, sebuah batu besar tepat mengenai belakang kepala Megumi. Sehingga Megumi oleng.

Sasori terbelalak melihatnya. Hendak ia ingin menolong, tapi tangannya tak bisa menggapai tubuh Megumi. Tentu saja itu pasti. Lagipula, ia tak bisa merubah wujud menjadi nyata bila berada diluar.

"Ugh.." Megumi menjaga keseimbangan. Ia hampir ingin pingsan. Ia sedikit terisak karena rasa sakit yang diterimanya. Ia segera berlari meninggalkan tempat itu.

"Ha! Ha! Ha! Puas sekali ya menyiksa si pembawa kematian!" seorang anak tertawa bangga setelah membuat Megumi berdarah-darah tadi.

"Iya!"

Sasori menoleh ke arah dua anak itu, memandang dingin ke arah mereka.

"Meski mereka anak kecil, mereka sudah keterlaluan."

Sasori menyeringai. Ia hampiri dua anak yang hendak bermain pasir di arena pasir dalam taman.

Mereka sadar, udara saat itu dingin sekali. Mereka bergetar.

"Hei, kok rasanya dingin sekali ya?" tanya seorang anak kepada temannya.

"Hu'uh. Kau bawa jaket?"

"Tidak."

Mereka tiba-tiba merinding. Saat itu sedang sepi sekali. Cuaca mendung. Angin berhembus pelan, namun dingin.

"P-Pulang saja yuk!" ajak seorang dari mereka.

"Yuk!" mereka berbalik.

"!" Mereka sangat terkejut mendapati suatu 'makhluk' di depan mereka. Mereka terbelalak ngeri.

"K-Kau.." seorang dari mereka sadar 'makhluk' itu siapa.

"Halo, anak manis. Mau kuberi hadiah spesial?"

Sasori menyeringai. Ia arahkan sebelah tangannya ke mereka sambil menyeringai senang dan membelalakkan mata.

.

.

.

=Natsu: Eternity Aim Sasori's=

.

.

.

"Ittai! Ittai! Ittai!" keesokan hari setelah dilempari batu oleh anak-anak nakal, Megumi merasakan nyeri di luka-lukanya yang telah ia baluti kapas dan cairan luka.

"Huffh, sepertinya aku absen dulu bekerja." Megumi duduk di sofa depan TV yang sedang menyala, memberitakan berita pagi. Di meja panjang depan TV, telah tersedia makan pagi berupa sereal dan susu putih.

Megumi mengambil ponselnya, kemudian ia menekan-nekan angka yang akan menghubunginya kepada rekan kerjanya. Ia bermaksud untuk meminta rekannya menyampaikan kepada bosnya bahwa ia hari ini absen bekerja karena sakit.

Sasori memandang khawatir ke arah luka-luka di kepala dan tangan Megumi. Ia takut bila luka itu makin parah. Dilihat dari Megumi yang terlihat kesakitan karena luka yang diterimanya.

Sasori tersenyum simpul, ia telah melakukan sesuatu kemarin. Jadi, ia rasa pasti impas.

Saat masih terdengar nada sambung, berita menyampaikan berita hangat yang baru terjadi beberapa jam lalu.

"Berita terkini. Ditemukan dua mayat anak-anak di taman kota Sunagakure. Penyebab kematian anak-anak itu belum diketahui secara pasti. Tapi menurut seorang detektif yang berpengalaman dalam bidang kedokteran, Uchiha Sasuke, penyebab kematiannya adalah tewas karena melihat sesuatu yang sangat menyeramkan. Rasa terkejut dan takut yang sangat itu membuat jantung kedua anak itu berhenti secara mendadak, kemudian tewas seketika. Pelaku belum diketahui, sampai sekarang, Detektif Uchiha Sasuke masih mencarinya."

Megumi melepaskan ponselnya dari tangannya. Ia ternganga sedikit mendengarnya. Ia lihat kedua mayat anak-anak itu di layar TV.

I-Itu anak yang kemarin melempariku dengan batu!, batin Megumi.

Bagaimana mungkin?, Megumi tak percaya. Ia usap-usap kedua matanya untuk memastikan apakah matanya tak salah melihat atau tidak. Tapi, tetap saja.

"Astaga.." Megumi menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.

"Inilah Detektif Uchiha Sasuke. Ia akan memberikan pendapatnya tentang kedua kasus yang misterius ini."

"Terima kasih. Kedua kasus yang melanda kota ini benar-benar membuat saya selaku dari kepolisian, bingung. Saya peringatkan kepada seluruh warga kota Sunagakure untuk berhati-hati. Bila bertemu dengan orang yang mencurigakan, larilah, dan segera hubungi kepolisian pusat pada nomor 0XX-0XXX-0XXX. Tapi, saya telah bertanya kepada para tersangka tentang kasus kedua ini, mereka tak bersalah. Mereka bersih di kasus kedua ini."

Aku belum kamu tanyai tentang kasus ini!, batin Megumi. Ia benar-benar takut. Apa jangan-jangan ia dicurigai? Tapi ia bukan pelakunya! Baik di kasus pertama maupun di kasus kedua. Ia berani bersumpah, ia tidak melakukannya!

"Baiklah, hanya ini yang ingin saya sampaikan. Saya ada banyak pekerjaan. Tolong jangan membuat kehebohan di media massa dengan menggembor-gemborkan cerita. Saya tidak suka."

Wartawan diam. Megumi pun diam. Ia berdoa kepada kami-sama untuk diberi pertolongan.

"Bila sudah mengerti, singkirkan kamera-kamera, dan segalanya dari tempat ini dan segera pergi dari sini. Satu lagi, jangan ikuti saya kemanapun, bila kalian tak mau berurusan dengan saya."

"B-Baik."

"Permisi."

"W-Well, Detektif Uchiha Sasuke memang terkenal dingin dan susah diajak bicara, penonton. Baiklah, kami dari pihak TV, menyudahi berita ini, selamat menikmati pagi anda!"

Megumi mematikan TV-nya. Ia benar-benar cemas. Ia pasti sudah masuk ke dalam daftar tersangka.

Sasori diam. Ia tahu bahwa ini pasti akan terjadi, kepolisian mencurigai Megumi akibat ulah Sasori. Tetapi ia akan melindungi Megumi. Ia akan menghalangi Sasuke bila Megumi berusaha dibawa ke kantor polisi.

Sasori menyeringai.

"Tenang lah, Megumi. Aku telah menemukan waktu yang tepat."

.

.

.

=Natsu: Eternity Aim Sasori's=

.

.

.

Tok! Tok! Tok!

Megumi terperanjat saat mendengar suara ketukan pintu di pintu rumahnya. Ia baru selesai mandi. Ia punya feeling, di depan ada Sasuke.

Megumi menutup matanya, kemudian menghela napas yakin. Megumi menaruh handuknya di gantungan dinding pada dinding kamar mandinya. Ia berjalan ke arah depan pintu rumahnya.

Krieeet...

"Konnichiwa, Megumi." Sapa Sasuke sambil tersenyum kecil.

Sesuai dugaan.

"Konnichiwa, Sasuke." sapa balik Megumi. Ia balas senyum Sasuke.

"Boleh aku masuk?" tanya Sasuke.

"Silahkan." Megumi mempersilahkan Sasuke masuk. Ia tahu Sasuke pasti akan kesini.

Klap!

Megumi menutup pintu rumahnya. Sasuke buka jasnya.

"Gantung saja jasmu disini." Megumi menunjukkan ke arah gantungan khusus jas dan topi di samping pintu.

"Hn, terima kasih."

.

Setelah Megumi menawarkan minuman tetapi Sasuke menolaknya, mereka duduk berhadapan di sofa ruang tamu.

"Sudah puas membunuh empat orang, hn?" tanya Sasuke.

Megumi terperanjat kaget, "Eh?"

"Hmph, bercanda." Sasuke tersenyum simpul.

"Sasuke, itu tidak lucu." Megumi mengernyit kesal.

"Maaf. Maaf."

Megumi menghela napas, "Lalu, kamu mau menanyaiku lagi? Kamu kira aku pembunuhnya?"

"Memang, hanya kamu saja yang menjadi tersangka, sedangkan yang lain bersih."

Megumi tercekat. Ia sedang dalam keadaan tak aman.

"Aku penasaran, bagaimana caranya si pembunuh membunuh empat orang korbannya." Sasuke memajukan kepalanya ke arah Megumi. Menatap tajam ke arah mata Megumi.

Megumi mengernyit, "Aku tak tahu. Jangan tanyakan aku!"

"Membuat mereka seolah-olah melihat sesuatu yang sangat menakutkan."

"Aku tak tahu!"

"Sehingga wajah mereka terlihat menakutkan."

"Aku tidak tahu!"

"Jantungnya langsung berhenti..."

"Jangan tanyakan aku!"

"Kemudian tewas seketika di tempat...?"

"Kamu mencurigaiku?" Megumi mengernyit. Sasuke tertawa kecil.

"Antara ya dan tidak." Sahut Sasuke.

"Jangan mempermainkanku, Sasuke. Jawab yang benar!" Megumi mulai kesal. Sasuke sedang mempermainkannya, membuatnya gusar dan kesal. Padahal, ia sama sekali tak pernah membunuh siapapun!

"Aku menjawab dengan benar, kok." Sasuke tertawa kecil.

Megumi mencoba menenangkan dirinya, "Terserah lah."

Sasuke tersenyum kecil, "Kamu tahu, Megumi? Tersangka hanyalah dirimu seorang."

Itu sukses membuat Megumi membeku ditempat.

"Gaara?"

"Dia bersih."

"Temari-nee?"

"Dia sama sekali tak bersalah."

"Hinata?"

"Dia sangat bersih."

"Naruto?"

"Dia korban karena kekasihnya dibunuh. Dia bersih."

"Sai?"

"Sama seperti Naruto."

"Tenten?"

"Clear."

"Akatsuki?"

"Mereka bersih. Walau ada kemungkinan menjadi tersangka, mereka masih dalam proses diinterogasi."

Megumi tak tahu harus jawab apa.

Sasuke tertawa kecil, ia menyeringai. "O'ow. I'm not safe right now."

Megumi mengernyit kesal, "Sasuke, tidak lucu!"

Sasuke menyeringai, "Tell me your secret. Now."

"Aku tak tahu apa-apa! Sungguh!"

"Tell me."

"I don't know anything!"

"Tell me." Aura Sasuke mulai tajam. Ia menekan kata 'tell' di kalimatnya. Megumi meneguk ludah. Ia bingung, cemas, takut. Ia sama sekali tak tahu apa-apa.

"Sungguh...aku sama sekali tak tahu apapun. Percayalah." Nada suara Megumi lirih, tersirat nada pasrah di kalimatnya. Megumi merasa ia akan ditangkap oleh Sasuke. Mengapa jadi begini?

Sasuke mengerti. Megumi tak punya motif untuk membunuh siapapun. Ia pernah membaca isi buku diary Sakura dan Ino (tentu setelah Sakura dan Ino meninggal dan sudah izin kepada orang tua mereka). Isinya? Sama sekali tak ada tanda yang buruk. Bahkan, isinya semuanya bagus. Hubungan mereka dengan Megumi sangat baik dan erat. Sasuke semasa SMU, ia sekelas dengan Megumi, ia tahu bagaimana sifat Megumi dan perilakunya.

Sasuke curiga. Semenjak kematian Sasori, tunangan Megumi, kejadian aneh mulai terjadi. Itu bertepatan saat Sakura dan Ino menyarankan dan menawarkan diri mencari pasangan baru untuk Megumi.

Bukankah itu mencurigakan?

Ia telah bertanya kepada Akatsuki. Megumi bukanlah orang yang seperti itu.

Pein berkata kepadanya, itu membuatnya merasa aneh dan penasaran.

"Ini memang aneh, Sasuke. Semenjak Sasori tewas, juga berdasarkan ceritamu, hal aneh mulai terjadi. Kurasa, ini berhubungan dengan legenda kota. Carilah di internet."

Sasuke belum mencarinya. Tak ada jaringan internet.

Tunggu sebentar, coba ia tanyakan itu kepada Megumi.

"Megumi." Panggil Sasuke. Megumi yang sedang menunduk pasrah, menoleh.

"Ya?"

"Apa disini ada jaringan internet?" tanya Sasuke.

Megumi menaikkan alisnya sebelah, "Kenapa tiba-tiba...?"

"Sudahlah, jawab saja."

"Ada. Wi-Fi."

Bagus. Megumi mempunyai Wi-Fi. Cukup berguna juga Megumi bekerja di bandar udara. Tentu Megumi butuh internet karena ia harus mengurusi situs pembelian tiket secara online di internet. Juga melihat jadwal penerbangan, email tentang pekerjaan, dan sebagainya. Sekarang adalah zaman telekomunikasi yang akan menjurus ke globalisasi. Bukankah begitu?

"Aku pinjam laptopmu. Boleh aku pakai Wi-Fimu sebentar? Ada yang ingin kulihat." Tanya Sasuke.

"Boleh. Ikut aku." Megumi bangun dari sofanya, diikuti Sasuke. Mereka pergi ke ruang kerja Megumi.

.

.

.

=Natsu: Eternity Aim Sasori's=

.

.

.

Megumi telah menyalakan Wi-Finya dan laptopnya. Sasuke memakai laptop Megumi.

Sasuke mengetikkan sesuatu di kotak search. 'Legenda kota masa kini.'

Megumi bingung karena ia kira Sasuke akan mencari hal-hal yang berbau penyelidikan, tetapi malah legenda kota?

"Hah?"

"Ssstt.." Sasuke menyuruh Megumi diam. Megumi menurut.

Sasuke menemukan yang ia cari. Banyak legenda kota yang...cukup seram.

"H-Hei, Sasuke. Apa maksudmu?" Megumi memang dari dulu takut akan hal yang berbau mistis seperti itu.

"Ssstt!". Megumi diam.

Sasuke memilih legenda kota bernama 'life after death'.

"Hah!? Apa maksudmu sih, Sasuke!?" Megumi protes. Sasuke menyuruhnya diam.

"Diamlah. Kita baca ini bersama-sama." Ajak Sasuke.

"Tidak ah. Kamu saja yang baca." Megumi takut membacanya.

"Ayo baca." Megumi pasrah. Ia menurut saja. Mereka membacanya.

Saat membacanya, Megumi bergidik ngeri.

"Sudah ah!" Megumi menyerah. Sasuke mendengus.

"Ya sudah. Aku saja yang baca." Sasuke lanjut membacanya.

Sasuke mengernyit. Selama ini ia sama sekali tak percaya dengan hal yang berbau seperti itu.

"Menggelikan." Sasuke mendengus. Ia sama sekali tak percaya. Ia menganggap ucapan Pein hanya bercanda saja.

"Ada apa?" tanya Megumi.

"Tidak." Sasuke memandang Megumi. Megumi bingung.

"Hei?"

"Nanti kamu harus ikut aku ke suatu tempat. Ada yang ingin kupastikan." Ya, ada yang ingin ia pastikan. Entah mengapa ia penasaran. Tapi Sasuke akan pergi bersama Megumi bila interogasi Akatsuki sudah selesai.

"Kapan? Kemana?"

"Sudahlah. Nanti kutelepon." Sasuke bangkit. Ia berjalan ke depan, mengambil jasnya, hendak pulang.

"Satu lagi," Sasuke berhenti setelah membuka pintu rumah Megumi. "Kamu jangan kemana-mana. Jangan macam-macam."

"Jangan kemana-mana? Bagaimana bila aku harus bekerja atau berbelanja? Bagaimana bila ada tempat yang harus kukunjungi?" Megumi mulai tak nyaman.

"Tempat yang harus kamu kunjungi?"

"Makam Sasori-kun dan makam-makam keluargaku juga Sakura dan Ino."

"Itu boleh. Aku peringati, kamu sedang kucurigai. Jangan berbuat macam-macam."

"Wakarimashitaka." Megumi menghela napas pasrah. Jujur, ia lelah karena Sasuke. interogasi Sasuke melelahkan. Ditambah ia menjadi tersangka, makin melelahkan.

"Hn, aku pulang dulu."

"Ya."

Sasuke menutup pintu rumah Megumi.

Megumi menghela napas. Kejadian-kejadian itu membuatnya pusing.

Sasori hanya diam. Ia tak punya niat mengganggu Sasuke karena Sasuke adalah adik Itachi, sahabat baiknya. Tapi ia akan menghalangi penyelidikan Sasuke bila Megumi hendak masuk ke zona tak aman.

Tapi ia telah menemukan waktu yang tepat.

Karena itu, ia tenang saja. Ia sedang menunggu waktu itu datang sementara ia akan terus melindungi Megumi.

.

.

.

=Natsu: Eternity Aim Sasori's=

.

.

.

Cahaya matahari senja menyinari bukit yang puncaknya merupakan area makam.

Makam itu spesial. Langsung berhadapan dengan matahari terbit dan matahari terbenam, berada di puncak bukit. Indah untuk seukuran makam yang seharusnya menjadi tempat yang angker.

Disitulah Megumi, berdiri menatap senja. Di belakangnya ada sebuah makam, makam Sasori.

"Lihat, Sasori-kun! Indah ya? Berwarna merah jingga." Megumi menoleh ke arah makam Sasori sambil tersenyum riang. Roh Sasori yang sedang duduk di samping makamnya sendiri, tersenyum kepada Megumi tanpa Megumi sadari. Tentu saja itu pasti.

"Sasori-kun dan Deidara-nii itu sama-sama seniman yang hebat. Bila kalian bersatu, akan membentuk seni yang indah, yaitu senja!"

Sasori mengernyit, tak mengerti.

"Lihatlah, rambutmu berwarna merah, rambut Deidara-nii berwarna kuning. Bila bersatu, bukankah akan menjadi warna campuran, yaitu jingga? Seperti warna senja!"

Sasori mendengus.

"Persepsi seniku berbeda dengan si bodoh Deidara. Itu hanya warna rambut, Megumi."

"Kalian memang seniman yang hebat!"

"Oh, sudahlah, Megumi. Aku tak mau disamakan oleh si bodoh tak mengerti seni itu."

Sasori tahu Megumi sedang menggodanya. Semasa ia masih menjadi manusia hidup, Megumi selalu menggodanya dengan mengatakan hal yang sama seperti tadi. Memang sih, warna rambutnya dan Deidara bila disatukan akan membentuk warna jingga yang indah, seperti senja. Tapi Sasori tak mau disamakan oleh Deidara. Secara ia sering bertengkar memperdebatkan seni bersama Deidara, Deidara selalu mengejek seninya. Kala itu membuat Sasori kesal. Megumi malah menggodanya.

"Aku jadi ingin melihatmu berdebat tentang seni lagi bersama Deidara-nii." Megumi menoleh kembali ke arah makam Sasori. Rambutnya terbelai oleh angin sore. Megumi tersenyum riang sambil menutup matanya. Di belakangnya, ada matahari senja sedang terbenam.

Sasori terpana. Ia tersenyum.

"Seni yang indah.."

"Hm?" Megumi sadar bahwa dari tadi ia keasyikan melihat matahari senja sehingga seikat bunga yang indah masih berada di tangannya.

"Aaa! Aku masih membawanya! Eh, ini untukmu." Megumi dengan gugup duduk di sebelah makam Sasori. Kebetulan Megumi duduk di sebelah Sasori duduk. Megumi menaruh bunga itu di batu nisan makam Sasori.

Sasori terkekeh pelan. Megumi memang punya banyak kekurangan. Tetapi Megumi punya kelebihan. Semua yang ada pada Megumi membuat Sasori tertarik untuk mengenal Megumi lebih jauh.

Megumi yang takut pada hal yang menyeramkan. Megumi yang takut pada lipan. Megumi yang tidak peka. Megumi yang kadang suka gugup. Semuanya ia suka.

Kelebihannya, bila sudah melakukan sesuatu, Megumi akan bersungguh-sungguh. Megumi tak punya sifat yang suka mengkhianati orang. Semua kekurangan dan kelebihannya itu seimbang, jauh lebih menarik daripada manusia yang sempurna.

Tangan Sasori terulur untuk membelai puncak kepala Megumi, tetapi tangannya tembus. Sasori menghela napas. Tentu saja itu pasti akan begitu. Jadi, ia hanya bisa memerhatikan Megumi yang sedang bercerita tentang kehidupannya sehari-hari kepada nisannya.

"Oh ya, akhir-akhir ini aku mengalami kejadian yang membingungkan juga melelahkan." Megumi lesu.

"Aku akhirnya dicurigai oleh Sasuke. Aku sama sekali bukan pembunuhnya, tetapi semua fakta yang ditemukan Sasuke mengarah kepadaku. Walau ia tak punya bukti, tetapi itu sudah cukup membuatnya curiga."

"Apa yang harus kulakukan?"

"Bertahanlah, Megumi. Aku takkan membiarkan ini larut terlalu lama."

"Aku lelah dicurigai terus olehnya. Rasanya tak bebas."

Megumi menarik napas, kemudian membuangnya perlahan. Ia tersenyum lebar, "Tapi aku takkan menyerah! Aku pasti bisa membuktikan bahwa aku tak bersalah! Aku pasti bisa!"

"Aku tahu. Kamu berkata seperti itu untuk tidak membuatku khawatir. Kenapa kamu selalu menutup dirimu?"

"Aku harus pulang sekarang. Maaf ya, aku cerewet sekali. Aku benar-benar rindu kepadamu." Megumi mengusap batu nisan Sasori, kemudian mengecupnya perlahan.

"Jaa ne!" Megumi berdiri. Ia berlari meninggalkan makam. Sasori mengikuti dari belakang.

"Maafkan aku, Megumi."

.

.

.

=Natsu: Eternity Aim Sasori's=

.

.

.

"Apa? Kamu mau mau bawa aku kemana tadi?" Megumi merasa tak percaya apa yang didengarnya dari Sasuke. Ia sedang ditarik oleh Sasuke menuju suatu tempat.

"Ahli kekuatan supernatural. Aku yakin pendengaranmu tidak rusak."

"Hei, kamu mau apakan aku disana?"Menurut Megumi, ini tidak masuk akal. Apa hubungannya kasus ini dengan kekuatan supernatural?

"Sudahlah, ikut saja."

Megumi hanya bisa pasrah. Ini benar-benar melelahkan.

.

"Jadi, tuan mau saya mendeteksi apakah ada roh yang selalu mengikuti nona ini?" tanya seorang wanita ahli supernatural. Ia memakai pakaian yang mencolok, seperti peramal. Di meja, ada bola kristal.

Megumi memandang Sasuke tak mengerti juga protes. Apa-apaan itu? Sebenarnya ada apa dengan Sasuke sih?

"Hn. Tolong." Sahut Sasuke mengacuhkan pandangan Megumi. Mereka berdua duduk di bantal duduk yang berhadapan dengan sang ahli supernatural duduk. Di depan mereka ada meja, diatasnya ada bola kristal.

"Menggelikan."

Sasori memandang remeh ke arah si wanita ahli kekuatan supernatural itu.

"Hmmh.." wanita itu mulai melakukan ritualnya. Ia mencoba mendeteksi keberadaan roh di sekitar Megumi.

Sasuke dan Megumi saling pandang sejenak, kemudian memandang wanita itu lagi. Saat melakukan ritualnya, wanita itu terlihat aneh. Gayanya aneh.

"Menggelikan."

Sasori menertawakan wanita itu, memandang remeh wanita itu. Ia bisa membaca kadar kekuatan wanita itu. Itu membuatnya geli. Ditambah gayanya yang seolah-olah punya kekuatan besar itu, membuat Sasori tertawa makin kencang.

Wanita itu membelalakkan mata lebar-lebar. Sasuke dan Megumi memundurkan tubuhnya, menjauh dari wanita itu. itu reaksi refleks karena orang di depan mereka itu aneh sekali.

Sasori merasakannya. Wanita itu sudah menemukannya. Ia merasa terganggu, tak nyaman. Ditambah gaya wanita itu, menambah rasa tak nyaman pada dirinya.

"Memuakkan."

"H-Haah!" wanita itu menangkupkan tangannya pada bola kristal. Wanita itu menemukan aura dan kekuatan dari belakang Megumi. Sehingga ia bermaksud melihat sosok itu dari dalam bola kristal.

Sasuke dan Megumi tertarik.

"Ada apa?" tanya Sasuke.

"Anda menemukannya?" tanya Megumi.

Wanita itu menyuruh mereka diam. Sasuke diam dengan wajah datar yang malas, ia mulai merasa wanita itu membuatnya muak. Megumi hanya menurut saja.

Wanita itu melihat sosok yang mengikuti Megumi dari bola kristal. Ia melihat, sosok seorang lelaki tampan berambut merah dan bermata hazel, memandang dingin ke arahnya. Wanita itu menengok ke arah Sasori berada. Ia bisa melihat Sasori.

Sekali melihat, wanita itu sudah tahu berapa besar kekuatan jiwa Sasori. Itu membuat wanita itu bergetar ketakutan.

"Err, ada apa?" tanya Megumi.

"S-Saya...saya menemukannya.." jawab wanita itu pelan.

Sasuke dan Megumi terperangah.

"Dimana?" tanya Sasuke.

"T-Tepat di belakang nona itu..." wanita itu menunjuk ke arah belakang Megumi. Seketika Megumi menegang. Berada tepat dibelakangnya, katanya? Oh, itu mengerikan.

Sasuke melihat ke belakang Megumi. Tentu ia tak bisa melihat sosok itu. Tapi bahunya menegang karena mendengar pernyataan wanita itu.

"A-Anda bisa membawanya ke surga kembali?" pinta Megumi.

"Sulit. Kekuatan jiwanya mengalahkan saya.". Pernyataan itu seketika membuat Megumi berkeringat dingin.

"Tapi, saya bisa membawanya paksa ke surga. Saya akan mencobanya."

Megumi menghela napas lega.

"Jadi, apakah roh itu pelaku dua pembunuhan itu?" tanya Sasuke.

"Akan saya tanyakan kepadanya. Dia adalah roh netral. Roh yang bisa tiba-tiba menjadi kejam bila ada hal yang tak disukainya muncul. Tetapi pada dasarnya dia adalah roh yang baik. Akan saya coba diskusikan."

"Begitu. Tolong ya."

"Ya."

"Imbalanmu." Sasuke memberi sejumlah uang kepada wanita itu. Wanita itu menerimanya dengan nafsu. Sasuke dan Megumi mengernyit, ia merasa aneh kepada wanita itu.

"Kami pulang dulu. Ini kartu nama saya. Hubungi saya bila sudah mendapat hasil yang bagus." Sasuke memberikan kartu namanya kepada wanita itu.

"Ya."

Sasuke dan Megumi pergi dari sana.

.

"Wanita itu aneh." ucap Megumi saat diperjalanan ia pulang. Sebenarnya belum sih, mereka sedang menuju ke taman untuk kembali melanjutkan interogasi.

"Terlalu bertingkah. Aku tak tahan dekat-dekat dengan wanita itu." sahut Sasuke.

"Emh, betul. Tapi apakah ia mampu membawa roh itu ke surga?"

"Entahlah. Serahkan saja semuanya kepada wanita itu. Dia yang mengurusnya." Jawab Sasuke acuh tak acuh.

.

"Kau...! Cepat kembali ke surga! Atau aku bawa kau ke neraka!" teriak wanita itu. ia tahu Sasori masih ada disana, di tempatnya.

Wanita itu mengeluarkan alat-alat aneh untuk mengusir Sasori.

Sasori tertawa sinis, ia menampakkan dirinya.

Wanita itu terkejut. Ia melihat Sasori yang menampakkan dirinya. Dari auranya, ia tahu itu aura yang berbahaya.

Wanita itu bergetar saat menyadari kekuatan Sasori.

"Bullshit. Kau mau menjauhkanku dari Megumi, eh?"

"Eto..anoo.."

"Kekuatanmu busuk. Hatimu busuk. Kau terlalu bertingkah."

"A-Ampuni aku! Aku memang lemah! Aku hanya menuruti permintaan klienku saja!"

"Kau tahu? Akulah pelaku pembunuhan dari dua kasus yang melanda kota ini."

"Apa katamu...?"

"Aku akan membunuhmu. Dengan cara yang sama seperti cara aku membunuh mereka."

"T-Tidak! Ampun! M-Maafkan aku! Jadikanlah aku budakmu! Ampuni aku, tuan!"

"You such a garbage. Cih!"

"T-Tidak...ampun! TIDAAAAAAAKK!"

"Take this."

.

.

.

=Natsu: Eternity Aim Sasori's=

.

.

.

Megumi sedang menikmati makan malamnya saat itu. Sendirian. Ia tidak takut, karena Megumi yakin bahwa wanita ahli supernatural itu telah membawa pulang roh yang mengikutinya.

Tapi Megumi penasaran, sebenarnya siapa roh itu?

Prak!

"Ah, sumpitku." Megumi mengambil sumpitnya yang jatuh ke lantai karena ia melamun. Megumi mengambil sumpit yang baru.

Saat Megumi bermaksud membawa sumpit itu ke dapur, tiba-tiba ada serangga lipan berjalan di lantai dapur, menghampirinya.

Megumi tercengang, "Hii!". Megumi segera berlari keluar dapur. Tapi lipan itu menghampirinya dengan cepat.

"Uwaaah! Hei! Menjauhlah! Aku kan tak mengganggumu! Kenapa mengejarku!?" Megumi berlari menjauhi lipan tersebut. Ia mengambil sumpitnya, ia todongkan ke arah lipan.

"Baka Megumi, kenapa kau malah bawa sumpit!?" Megumi merutukki kebodohannya. Ia ganti sumpit itu dengan sapu yang ia ambil dari lemari.

Sasori tertawa kecil. Ia mendapat tontonan yang lucu sekarang. Megumi belum berubah, masih takut pada lipan.

Sasori tersenyum geli melihat Megumi yang menodongkan sapu ke arah lipan di depannya. Walau sudah bersenjatakan sapu, tetapi Megumi masih takut. Sasori tertawa. Ia arahkan tangannya kepada lipan yang mengejar Megumi.

Tiba-tiba lipan itu terbakar sendiri dan menjadi abu.

"Ha?" Megumi bingung. Sungguh fenomena yang aneh. Lipan terbakar sendiri?

"Apa lipan itu melakukan harakiri?" gumam Megumi. Membuat Sasori tertawa lebih keras. Ingin rasanya Sasori mencubit pipi Megumi, tapi itu tak bisa ia lakukan. Ia menutup matanya menggunakan sebelah tangannya sambil tertawa.

"Hebat.." Megumi bertepuk tangan pelan. Oh, ini benar-benar mengocok perut Sasori. Semasa ia masih menjadi manusia hidup, ia memang yang selalu mengusir lipan bila Megumi ketakutan karena ada lipan. Itu pun membuat Sasori tertawa-tawa karena Megumi yang takut kepada lipan juga sangat innocent melihat lipan. Seperti tadi.

Megumi membersihkan abu lipan, kemudian dibuang ke tempat sampah. Ia masih waspada. Setelah melihat keadaan sudah aman, Megumi melanjutkan makan. Tetapi matanya masih waspada.

"Benar-benar Megumi.."

.

.

.

=Natsu: Eternity Aim Sasori's=

.

.

.

Megumi sedang menonton TV. Ia ingin mengistirahatkan perutnya sehabis makan malam.

Ponselnya bergetar, Megumi mengambil ponselnya dari saku celana baju tidurnya. Ia melihat nama 'Uchiha Sasuke' di layar ponsel.

"Sasuke?". Megumi mengangkat telepon itu. "Moshi moshi."

'Megumi, rasanya penyelidikan akan berlanjut panjang.' Ujar Sasuke.

"Hah?" Megumi tak mengerti.

'Si ahli supernatural yang bertugas membawa roh itu ke surga telah meninggal beberapa jam yang lalu. Jenazahnya ditemukan oleh klien yang masuk ke tenda tempat wanita itu bekerja.'

Megumi membeku di tempat.

'Tapi, caranya berbeda dari dua kasus sebelumnya. '

"Cara?"

'Tubuhnya hangus terbakar oleh api yang entah dari mana. Tapi aku menemukan ada lampu minyak yang jatuh dan pecah ke tanah. Posisinya tak jauh dari jenazahnya, kurasa itulah penyebab kematiannya. Sekarang jenazah itu sedang di autopsi.'

"L-Lalu siapa yang melakukannya?"

'Tak ditemukan sidik jari di pecahan lampu minyak. Lampu minyak itu pecah karena wanita itu tak sengaja memecahkannya saat hendak mengisinya dengan minyak kembali agar tendanya lebih terang.'

"Darimana kamu tahu?"

'Karena tangan kiri wanita itu hancur dan hangus daripada bagian-bagian tubuh yang lain. Di meja ditemukan pematik api dan sebotol minyak. Ada lilin yang masih menyala diberdirikan di atas meja.'

"Jadi?"

'Itu kecelakaan. Wanita itu benar-benar sial.'

"Apakah tendanya ikut terbakar?"

'Sebagian kain tenda menghitam dan jadi abu karena terbakar.'

"Begitu.."

'Apakah bukan kamu yang melakukan ini, hn?'

"Aku tidak melakukannya! Sejak pulang dari taman, aku langsung pulang ke rumah dan tak keluar dari rumah lagi!" elak Megumi.

'Haha, ya, ya, aku percaya.'

Megumi mendengus, Sasuke pasti sedang mempermainkannya.

'Yang jelas, setelah ini kamu sudah menjadi tersangka. Beberapa anggota Akatsuki ikut menjadi tersangka.'

"Apa?"

'Hidan, Tobi, Zetsu, dan Deidara tidak punya alibi yang kuat. Karena mereka pergi ke suatu tempat entah kemana di waktu tewasnya Sakura dan Ino, mereka tak mau memberitahukannya kepadaku.'

Kenapa ya?, batin Megumi.

'Haha, kamu pasti lega karena ada tersangka lain, kan? Sehingga kecurigaan tak sepenuhnya jatuh kepadamu.'

"Kamu jangan berkata sembarangan, Sasuke." Megumi mengernyit marah.

'Ya, maaf.'

"..."

'Baiklah, hanya ini saja. Besok kamu tak kuinterogasi karena besok adalah giliran Akatsuki. Sekian.' Sambungan telepon dimatikan oleh Sasuke.

Megumi menghela napas, ia menyimpan kembali ponselnya dalam sakunya.

Sasori hanya diam saja. Tak menyeringai ataupun mengatakan sesuatu. Entah apa yang ada di pikirannya.

.

.

.

=Natsu: Eternity Aim Sasori's=

.

.

.

Megumi berjalan menghampiri sebuah makam yang disinari matahari sore. Ia membawa seikat bunga untuk makam itu. Tentu saja itu adalah makam mantan tunangannya.

Sesampainya di sebelah makam, Megumi duduk disana. Ia menaruh bunga itu depan batu nisan Sasori.

Bunga yang kemarin sudah layu, dan sudah tak ada disana karena telah dibuang ole pengurus makam.

"Sasori-kun, bagaimana keadaanmu? Baik-baik saja disana?"

Sasori yang berada di hadapan Megumi, mengangguk. Walau tahu Megumi pasti tak menyadari keberadaannya.

"Aku datang kesini. Ingin menceritakan sesuatu, bolehkah?"

Sasori mengangguk.

"Maaf bila membuatmu bosan." Megumi tersenyum.

Sasori menggeleng.

"Kemarin Sasuke membawaku ke tempat ahli kekuatan supernatural. Sasuke memintanya untuk mendeteksi keberadaan makhluk lain di sekitarku. Ternyata memang ada, aku memintanya untuk membawanya kembali ke surga, tetapi beberapa jam kemudian setelah kami pergi dari sana, dia tewas terbakar. Sehingga tidak jadi membawa kembali makhluk itu ke surga."

"Apakah kamu tahu siapa sebenarnya roh itu? Apa alasannya dia mengikutiku?"

Megumi tertawa hambar, "Tentu kamu tak bisa menjawabnya."

"Apa yang harus kulakukan? Aku telah berdoa kepada-Nya, tetapi kenapa kami-sama tidak memberiku kemudahan? Kenapa?"

"Kami-sama tidak membantumu, karena itu akan menghalangi keinginanku selama menjadi roh hidup di dunia ini."

"Aku sungguh bingung sekarang." Megumi menunduk, kedua tangannya saling meremas di depan dada.

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Aku sama sekali tak tahu apa-apa."

Sasori menunduk, menatap kosong ke arah makamnya sendiri. Kemudian, ia menutup matanya rapat-rapat.

"Bertahanlah, Megumi."

Megumi mengusap matanya yang tadi meneteskan beberapa tetes air mata. Ia tersenyum, "Tak apa-apa. Aku pasti bisa bertahan."

Megumi mendongak, ia memandang batu nisan Sasori.

"Jaga dirimu baik-baik ya," Megumi mengecup batu nisan Sasori. "Sasori-kun."

Megumi berdiri, ia berbalik berjalan meninggalkan makam. Sasori mengikuti dari belakang.

"Aku ingin bertemu kaa-san, tou-san, nee-san, Sakura, dan Ino." Sepertinya hari itu Megumi akan mengunjungi banyak makam.

.

.

.

=Natsu: Eternity Aim Sasori's=

.

.

.

Beberapa minggu ini, Megumi tidak menemukan kejadian-kejadian aneh. Semuanya seperti biasa.

Tetapi, beberapa temannya di tempat kerja mulai menjauhi Megumi setelah mendengar berita tentang Megumi.

Teman-teman baiknya selama masih di SMU tidak diperbolehkan menengok Megumi karena dilarang oleh Sasuke. Sasuke mengatakan, dirinya saja yang bertemu dengan Megumi. Yang lain tidak boleh.

Akatsuki pun dilarang untuk bertemu Megumi oleh Sasuke. Sasuke telah mengetahui, beberapa anggota Akatsuki yang sempat menjadi tersangka sebenarnya tak bersalah.

Tersangka hanya Megumi seorang.

Sasuke belum bertemu Megumi akhir-akhir ini karena sibuk mencari kebenaran. Sasuke memang telah disarankan oleh teman-temannya untuk mencari informasi di situs urban legend karena mereka pikir, itu pasti berhubungan dengan urban legend. Hanya saja, Sasuke sangatlah keras kepala dan menganggap dirinya benar. Ia sama sekali tak percaya pada hal seperti itu dan menetapkan bahwa Megumi punya cara sendiri untuk membunuh Sakura, Ino, dua anak kecil, dan ahli supernatural.

Megumi duduk lesu dengan mata memandang kosong kertas-kertas yang ada di depannya. Sekarang ia sedang bekerja. Tetapi hanya beberapa pelanggan yang mau dilayani Megumi. Karena sebagian dari mereka telah mengetahui berita itu. Ada juga yang sudah tahu berita itu tetapi masih mau dilayani Megumi, orang seperti itu adalah orang yang tak percaya urban legend.

Megumi menghela napas, ia membereskan lembaran-lembaran tiket pesawat dari berbagai perusahaan pesawat dengan rapi, kemudian menyimpannya dalam laci. Ia bereskan juga kertas-kertas di meja dan menutup laptopnya yang sedari tadi menyala dengan internet terus menyala.

Ia hanya bisa duduk disana, di counter-nya sudah tak ada lagi pelanggan yang datang. Sebagiannya hanya ingin dilayani oleh pegawai lain. Jadi Megumi menganggur.

Sasori tak tahan melihat Megumi yang tersiksa. Tetapi bukan saatnya ia bergerak.

"Hei, ada pegawai cewek nganggur." Seorang karyawan yang merupakan pramugara di salah satu pesawat melihat Megumi yang hanya duduk saja dan tak melakukan apa-apa di mejanya. Lelaki itu bernama Kimimaro. Kimimaro memang terkenal selalu main-main dengan perempuan. Tetapi hal itu hanya diketahui kaum lelaki di bandar udara, kaum perempuan tidak tahu.

"Dia Megumi Ryuuno. Kata orang, dia berbahaya. Lebih baik jangan dekat-dekat." Seorang temannya berbisik kepada Kimimaro.

"Halah, aku tak percaya. Hmm, hanya dia yang belum kucoba dekati. Sayang sekali, padahal dia cantik."

"Bodoh! Lebih baik jangan kau dekati!"

"Hah, kau jangan berbohong. Aku akan dekati dia." Kimimaro berjalan mendekati Megumi.

"Oi! Dengarkan dulu omonganku! Hei! Hah, dasar!"

"Ehem.." Kimimaro berdeham. Megumi sadar dari lamunannya, ia menoleh.

"Ya?" tanya Megumi.

"Ehem, kenalkan, namaku Kimimaro. Kau..Megumi?"

Megumi mengangguk.

"Oh, bolehkan aku menjadi sahabatmu?" Kimimaro memulai triknya yang pertama.

"Eh?" Megumi tak mengerti.

Kimimaro mulai mengeluarkan rayuan dan pujian andalannya. Megumi tersenyum menanggapinya. Akhirnya mereka mengobrol dengan asyiknya.

Setelah tahu bahwa Megumi sudah mulai menerima keberadaannya, Kimimaro mengajukan permintaan. "Hei, maukah besok kau kencan denganku? Kau cukup menarik di mataku."

"Kencan?"

"Ya. Besok kan hari libur nasional. Tak apa, kan?"

Megumi mengangguk, "Ya."

"Kalau begitu, bisa aku minta nomor handphonemu dan alamat rumahmu?"

Dengan mudahnya Megumi memberikannya tanpa menyadari bahwa Kimimaro mendekatinya hanya ingin main-main saja. Menunjukkan seolah-olah kalau dirinya disukai banyak perempuan.

"Baiklah, see you soon." Kimimaro mengecup pipi Megumi dan tersenyum menawan sambil berlalu meninggalkan Megumi. Megumi tersipu.

"Kimimaro, baik juga ya." Itulah perkataan yang keluar dari mulut Megumi.

Sementara, sosok yang berada di belakang Megumi telah mengeluarkan aura yang berbahaya. Aura yang gelap.

Sasori menggertakkan giginya saat Megumi memuji Kimimaro tadi.

"Akan kulihat besok, apa tindakanmu, Kimimaro brengsek."

.

.

.

=Natsu: Eternity Aim Sasori's=

.

.

.

"Ara, kau cantik sekali, Megumi." Puji Kimimaro saat Megumi datang menghampirinya di taman, tempat mereka bertemu.

Megumi saat itu memakai dress warna biru blueberry dan blazer tipis berwarna putih. Megumi memakai kalung dengan liontin berwarna ungu gelap dan anting kecil yang senada dengan liontinnya. Rambutnya ia gerai panjang. Rambutnya mencapai pinggangnya.

"Terima kasih." Megumi tersenyum.

"Baiklah, ayo kita kencan." Kimimaro menggenggam tangan Megumi.

Megumi sedikit tersipu, "O-Oh, baik."

Sepanjang perjalanan, mereka saling mengumbar tawa dan bercanda. Tak jarang Kimimaro memberi pujian dan rayuan andalannya untuk memikat Megumi.

Selama kencan, Megumi menganggap Kimimaro adalah orang yang baik sekali. Dia mau menemaninya padahal sudah tahu berita tentangnya. Ternyata Kimimaro tidak memercayai urban legend. Tentu itu membuat Megumi senang.

Hari menunjukkan jam setengah tiga sore. Saatnya berpisah. Karena Kimimaro berkata bahwa ia ada urusan penting. Padahal itu hanya kebohongan karena menganggap kalau Megumi telah berhasil ia pikat.

"Nah, kita berpisah disini. Terima kasih ya, Megumi."

Megumi tersenyum, ia mengangguk. "Aku juga, terima kasih Kimimaro."

"Ya, hime." Kimimaro mengecup singkat bibir tipis Megumi, kemudian berlalu jalan meninggalkan Megumi sambil tersenyum lebar.

Megumi merona hebat. Tiba-tiba ia dicium?

"H-Ha?" itulah reaksi Megumi.

Sasori terbelalak. Ia menggertakkan giginya. Ia mengepalkan tinjunya. Manik mata hazel-nya berubah menjadi semerah darah. Aura yang dikeluarkannya adalah aura membunuh yang lebih kuat daripada saat ia marah karena ucapan Sakura dan Ino dulu.

"Kurang...ajar..."

Angin berhembus kuat, menerbangkan banyak daun-daun.

Megumi mencoba merapikan rambutnya yang berantakan karena diterpa angin. Ia masih berada disana.

"Beraninya..anjing sialan itu menciumnya.."

Burung gagak saling bersahutan di langit. Angin berhembus semakin kuat.

"Uh, apakah mau hujan?" Megumi masih berusaha merapikan rambutnya.

"Kubunuh kau.."

Sasori tiba-tiba menghilang dari tempat. Entah kemana ia pergi.

.

Kimimaro bersiul-siul karena usahanya berhasil. Ia merasa seperti lelaki nomor satu di Suna.

Sasori tiba di seberang jalan. Kimimaro berada di seberang Sasori, ia hendak menyebrang jalan.

Sasori menatap Kimimaro dengan tatapan penuh kebencian dan kemarahan. Ia mengarahkan tangannya kepada Kimimaro.

"Eh? Kenapa ini?" Kimimaro terkejut bukan main karena kakinya berjalan sendiri ke tengah jalan.

"Eh!? Apa!? Kenapa ini!? Apa yang terjadi denganku!?" Kimimaro berteriak-teriak. Ia benar-benar bingung dan terkejut.

Terdengar suara jeritan yang memekakan telinga, Kimimaro menutup kedua telinganya. Jeritan itu, terdengar seperti jeritan seseorang yang sedang meluapkan amarah dan kebenciannya kepadanya. Tetapi Kimimaro lihat, tak ada seorangpun disana yang mendengar jeritan itu.

Orang-orang yang berjalan di trotoar hanya memandang bingung dan heran kepada Kimimaro yang berjalan ke tengah jalan yang sepi.

"Apa orang itu gila? Tak waras?"

"Pakai teriak segala lagi. Ada apa dengannya?"

TIIIIN! TIIINN!

Ada suara klakson mobil. Kimimaro tersentak kaget. Ia menoleh. Betapa terkejutnya ada sebuah truk tangki besar yang sedang melaju cepat ke arahnya.

Kimimaro berusaha lari, tetapi kakinya seolah membeku di tempat dan tak bisa bergerak.

"Hei! Bodoh! Ada truk! Cepat Lari!" orang-orang itu berteriak kepada Kimimaro, tetapi Kimimaro tak bisa mendengarnya. Telinganya tuli mendadak.

Kimimaro melihat, ada sosok berambut merah dengan mata berwarna darah sedang memandang penuh benci ke arahnya.

Kimimaro tak tahu siapa dia, tetapi Kimimaro bisa merasakan aura membunuh dari orang itu.

Bibir orang itu bergerak pelan, mengucapkan sesuatu disertai seringaian kejam.

"Jatuhlah kau ke neraka.."

"Apa-"

BRUAAAAKKK!

CRAAASSHH!

Belum sempat Kimimaro menyelesaikan kata-katanya, ia telah tertabrak truk tangki itu. Tubuhnya hancur dan tercerai berai, berpencar kemana-mana. Kepalanya yang terpenggal dari tubuh tergilas hancur oleh roda truk tangki.

Aspal itu dinodai oleh warna darah.

Jeritan orang-orang terdengar saat melihat pemandangan mengerikan tersebut.

Sementara sosok berambut merah itu, Sasori Akasuna, tertawa dengan seringaian abnormalnya.

"Take that.."

Sasori menyeringai puas melihat jantung Kimimaro tergeletak tepat di depannya, masih berdetak. Sasori arahkan tangannya ke jantung Kimimaro. Seketika jantung Kimimaro hancur dan menjadi potongan daging tak berarti.

Sasori tertawa puas. Ia menoleh ke arah Megumi yang juga menyaksikan pemandangan mengerikan tersebut. Pasti Megumi mendengar suara keras tadi dan segera datang kesini untuk melihatnya.

"Hah..hah..hah.." Megumi terengah karena rasa tak percaya, ketakutan, cemas, dan ngeri menyergap dirinya. Lututnya lemas.

Ia menoleh ke arah mobil sedan warna hitam, dari mobil itu, Sasuke Uchiha keluar dari sana.

Sasuke memandang ngeri ke arah potongan mayat Kimimaro dan kepala hancur di jalan. Mata onyx-nya menangkap sosok Megumi yang sedang memandang takut ke arahnya.

Sasuke membelalakkan matanya, ia menggertakkan giginya.

"Ugh!" Megumi segera berlari meninggalkan tempat itu. Ia harus kabur dari Sasuke. Ia bisa menduga kalau Sasuke menvonisnya sebagai pembunuh. Melihat ada orang terbunuh mengenaskan disana dan ada Megumi sedang memandangnya, jelas Sasuke sudah menetapkan kalau Megumi lah pelakunya.

"Megumi!" Sasuke mengejar Megumi. Ia berlari sekencang mungkin untuk mengejar Megumi.

Sasori ikut berlari di samping Megumi. Ia masih dalam sosok tak nyata.

Sasori menyeringai.

"Waktunya telah tiba, Megumi."

Megumi berlari sekuat tenaga menuju daerah hutan. Dengan begitu Sasuke akan sulit mendapatkannya.

Megumi tak peduli dengan kakinya yang telah lecet dan berdarah akibat tergores ranting, yang terpenting adalah lari dari Sasuke.

Kenapa...kenapa jadi begini?!, batin Megumi.

Megumi telah cukup jauh dari Sasuke. Megumi sembunyi di balik batu besar dengan tanaman rimbun mengelilinginya.

Megumi mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Jantungnya berdegup kencang. Ia benar-benar takut sekarang.

"Nande...?" Megumi tak percaya akan hal yang menimpanya. Ia ingin menangis sekarang.

"Uhuk..hiks.." Megumi menangis. Air mata mengalir deras dari matanya.

"!" Megumi merasa ada seseorang yang sedang menyentuh bahunya. Megumi menegang, ia berdegup kencang. Ia menoleh takut-takut.

Megumi terbelalak melihat sosok di sebelahnya, air matanya berhenti. Mulutnya sedikit ternganga.

"Megumi.."

"S-Sasori-kun...?" Megumi bergetar, ia kembali menangis. Ia sama sekali tak percaya bahwa di hadapannya sekarang adalah tunangannya yang telah meninggal.

Sasori menghapus air mata Megumi dengan lembut. Ia tersenyum kepada Megumi.

"Bila kamu menangis, wajahmu terlihat jelek lho."

"B-Bagaimana..bagaimana mungkin?" Megumi menyentuh pipi Sasori. Ia benar-benar menyentuhnya. Sasori yang ada dihadapannya betul-betul nyata.

"S-Sasori-kun? Benarkah ini kamu?"

"Ya. Aku adalah tunanganmu yang telah meninggal."

"T-Tetapi bagaimana bisa...kamu.."

"Bukankah kamu sudah mengetahui legenda kota itu, Megumi?"

Jantung Megumi berdetak sekali lebih kencang. Ia kaku mendengarnya.

"Jadi...itu kamu?"

"Ya. Akulah yang selalu mengikutimu, melindungimu sejak aku meninggal."

"Jadi kamu yang melakukan itu?"

"Ya. Akulah yang mencabut nyawa Sakura, Ino, dua anak kecil di taman, wanita yang mencoba mengusirku dengan kekuatan supernaturalnya, dan si brengsek Kimimaro."

"K-Kenapa kamu lakukan itu?"

"Sakura dan Ino mencoba menyatukanmu dengan lelaki lain, aku tak mau itu terjadi, sehingga aku membunuhnya. Dua anak kecil di taman telah melemparimu dengan batu sampai kepalamu berdarah, aku membunuhnya karena mereka telah melakukan percobaan pembunuhan kepadamu. Wanita supernatural itu mencoba memisahkanku darimu, sehingga aku membunuhnya. Dan si brengsek Kimimaro telah menggodamu, mencium bibirmu, sehingga aku membunuhnya, dua kali lipat lebih berat dari yang dahulu aku bunuh."

Megumi diam sambil memandang lekat Sasori.

"Aku lakukan itu, karena aku tak ingin berpisah darimu. Aku masih punya perasaan yang kuat kepadamu."

Sasori tersenyum. Ia menggenggam tangan Megumi.

Megumi menunduk, ia menutup matanya, kemudian membukanya dan mendongak kepada Sasori.

"Sasori-kun, aku senang karena aku bisa melihatmu lagi. Aku senang karena kamu berusaha melindungiku. Dan aku sangat bahagia karena kamu masih punya perasaan kepadaku." Megumi memberi jeda. "Tetapi perbuatanmu sudah kelewatan, Sasori-kun. Membunuh itu perbuatan yang sangat tidak baik."

Sasori menatap tajam ke dalam manik dark amethyst Megumi.

"Aku melakukannya untukmu. Aku benar-benar tidak bisa jauh darimu. Kenapa kamu anggap perbuatanku tidak baik? Itu kulakukan agar tak ada yang menghalangi cinta kita."

"Tetapi tetap saja, Sasori-kun! Perbuatanmu sangatlah tidak pantas!" seru Megumi.

Sasori diam.

"Aku tidak menyangka kamu bisa-bisanya membunuh orang, Sasori-kun. Aku benar-benar tidak menyangka." Megumi memandang sedih dan kecewa kepada Sasori.

"Aku tidak suka akan perbuatanmu!" seru Megumi sambil menunduk dan menutup mata rapat-rapat. Ia gunakan kedua tangannya untuk mendorong pelan bahu Sasori untuk menjaga jarak.

Sasori diam. Tak lama, ia tersenyum kecil.

"Baiklah, Megumi."

Megumi mendongak, memandang Sasori.

"Katakan, apa yang kamu inginkan dariku. Agar kamu bisa memaafkanku."

Megumi terdiam beberapa saat, kemudian berkata.

"Aku ingin kamu kembali ke surga."

Sasori tersenyum lembut, matanya menatap sedih kepada Megumi.

"Tidak bisa."

Megumi menggigit bibir bawahnya, menahan tangis.

"Kenapa?"

"Keinginanku belum terkabulkan. Aku tidak bisa pulang ke surga."

Ah, ya. Megumi ingat. Roh yang seperti Sasori sekarang ini takkan bisa pulang dengan tenang ke surga bila keinginannya belum terpenuhi.

"Apa keinginanmu?" tanya Megumi.

"Aku meninggalkan sesuatu yang berharga di dunia ini sejak aku meninggal."

"Eh?" Megumi pandang Sasori. Sesuatu yang berharga untuk Sasori?

"Apa itu?" tanya Megumi penasaran. Semasa Sasori masih hidup, ia belum tahu kalau Sasori punya sesuatu yang berharga untuknya di dunia sampai ia mendengarnya sendiri dari Sasori sekarang. Ia belum tahu, padahal ia selalu bersamanya saat Sasori masih hidup.

Jadi, Megumi ingin tahu.

"Rahasia."

Megumi menghela napas. Rahasia?

"Tetapi aku ingin kamu mengambilkannya untukku."

Megumi terperangah.

"Aku dalam wujud nyata sekarang ini tidak lama, karena nantinya akan tembus."

Tangan Sasori yang menggenggam tangan Megumi menjadi tembus. Tetapi sosok Sasori masih terlihat, walau tak bisa disentuh.

"Dalam sosok seperti ini, aku tak mampu mengambilnya."

"Jadi?"

"Aku ingin kamu mengambilkannya untukku. Bila kamu bisa mengambilkannya untukku, jiwaku akan tenang dan akan kembali ke surga. Otomatis 'sesuatu' yang berharga untukku akan ikut bersama jiwaku yang terbang ke langit."

Megumi antusias, ia akan mengambilkannya untuk Sasori.

"Maukah kamu membantuku?"

Megumi mengangguk, ia tersenyum sumringah. "Tentu saja!"

Sasori tersenyum.

"Tetapi aku tak tahu dimana tempatnya."

"Ayo ikut aku."

Sasori berdiri. Megumi ikut berdiri.

"Akan kutunjukkan tempatnya."

Semangat Megumi pulih, ia tersenyum lebar. "Ya!"

.

.

.

=Natsu: Eternity Aim Sasori's=

.

.

.

"M-Masih jauh, Sasori-kun?" Megumi sudah kecapekan. Nafasnya tersengal-sengal. Ia terus mengikuti Sasori ke tempat 'sesuatu' yang berharga untuk Sasori berada.

"Tidak. Sebentar lagi sampai."

Sasori tersenyum.

"Masih kuat, Megumi?"

Megumi mengangguk, "Ya!"

Sasori tersenyum lebar.

"Ayo."

"Ehm!"

.

.

"Kita sampai."

"Disini?" tanya Megumi. Yang hanya ia lihat hanyalah semak rimbun.

"Tempatnya di balik semak ini. Ayo."

Sasori tembus ke balik semak rimbun. Megumi menerobos masuk melewati semak dengan bantuan tangannya untuk membuka jalan untuknya.

Megumi terpukau. Disana ada tanjung berpemandangan laut luas. Angin berhembus dengan sejuknya.

"Woaah.." mata Megumi berbinar-binar. Ia sapu pandangan ke sekeliling. Tempat yang indah. Laut terlihat berkilauan. Suara deburan air menenangkan jiwa.

Selagi Megumi sedang menikmati pemandangan tanjung, Sasori memanggilnya dari ujung tanjung.

"Megumi, disini tempatnya."

Megumi sadar bahwa tujuannya kesana adalah mencari sesuatu yang berharga untuk Sasori. Ia segera menghampiri Sasori.

"Ya!"

Sesampainya di ujung tanjung, Megumi cukup ngeri betapa tingginya tanjung itu ke laut.

"Eeh, dimana letaknya?" tanya Megumi.

"Aku menyimpannya dengan menguburnya di tanah tebing disana."

Sasori menunjukkan tempat di dinding tebing.

Megumi menganga, disana tempatnya?

"Disana...?"

Sasori mengangguk.

Oh, ya ampun. Itu berarti ia harus berpegangan dengan dahan kayu yang keluar dari tebing dan menggali tanah tebing yang ditunjukkan Sasori. Berarti...ia harus bertahan di tebing, kalau tidak, ia akan jatuh dan tewas.

"Bagaimana caranya kamu menguburnya disana?"

"Aku pun menguburnya disana mati-matian bertaruh nyawa. Tapi sesuatu yang merupakan harta berharga bagiku tidak boleh didapatkan orang lain. Karena itu benda itu berharga untukku."

Jadi begitu, Sasori pun bertaruh nyawa saat menguburnya disana.

Harta berharga, ya? Megumi agak sedih karena ia tidak tahu tentang itu padahal semasa Sasori hidup, ia selalu bersamanya.

"Hanya kamu yang kuperbolehkan mengambilnya."

Itu merupakan suatu kehormatan bagi Megumi.

Megumi melihat ke bawah tanjung, tinggi sekali. Ia meneguk ludahnya.

"Kamu sanggup?"

Sejenak Megumi terdiam, lalu ia mengangguk mantap. "Ya!"

Sasori tersenyum.

"Terima kasih."

Megumi merendahkan tubuhnya. Ugh, jantungnya berdegup kencang. Tangannya mencoba menggapai dahan di tebing.

Uh, susah. Ia harus maju sedikit untuk menggapainya.

Megumi maju sedikit ke ujung tanjung. Ia coba menggapai dahan kayu di tebing.

SRAK..

Syuuut...

Naas bagi Megumi, kakinya terpeleset pasir dan kerikil di ujung tanjung. Ia jatuh dari ujung tanjung.

GRAB!

"Uhk.." Beruntung ia bisa menggapai dahan kayu disana dengan satu tangan. Tubuhnya bergelantungan di tebing. Itu merupakan pemandangan menakutkan bila Megumi jatuh dari sana.

Ia minta pertolongan kepada Sasori, akan tetapi...

Sasori menautkan kedua alisnya ke atas sambil tersenyum.

"Tidak bisa, kan?"

Megumi terperangah. Ia masih tetap bertahan disana walau tangannya yang memegangi dahan sudah mati rasa.

"Aku dalam wujud seperti ini tidak bisa membantumu. Walaupun aku bisa, aku tak ada niat membantumu."

"Maaf aku menipumu. Sebenarnya tak ada apa-apa di dalam tebing itu."

"Uh.." Megumi menggigit bibir bawahnya. Ia menahan sakit yang ia terima di tangan dan kaget karena pernyataan Sasori.

"Aku memang bermaksud mengambil harta berhargaku di dunia. Itu memang harus diambil di tanjung ini."

KRAK!

Dahan kayu itu sedikit patah karena berat badan Megumi yang berlama-lama menimpa dahan itu.

"Cara mendapatkannya adalah kamu harus kubuat jatuh dari tebing ini dan tewas."

KRAK!

"Uh.." Megumi melihat dahan itu patahannya makin parah.

"Selama aku menunggu waktu yang tepat untuk mendapatkannya, aku mengisi waktu dengan melindungimu. Tetapi ternyata banyak yang mencoba menghalangiku dan melukaimu."

Tangan Megumi mulai mati rasa. Peluh menetes dari pelipisnya. Ia hanya bisa bertahan dan mendengarkan penjelasan Sasori.

"Sakura dan Ino mencoba memberimu lelaki lain. Dua anak kecil di taman yang melemparimu batu. Wanita ahli supernatural yang mencoba memisahkan kita. Kimimaro brengsek yang berani-beraninya mencium dan merayumu."

"Karena itu aku membunuh mereka agar rencanaku tetap berjalan dan hartaku tidak rusak."

"Ukh..uhh.." Megumi mulai tak tahan. Tangannya benar-benar mati rasa.

"Hanya Kimimaro yang kubunuh dengan cara yang lebih berat dari yang sebelumnya kubunuh. Kenapa? Karena dia mencoba merebutmu dariku dan mendapatkanmu. Aku semakin benci dengannya setelah dia menciummu."

"Ukh.."

KRAK!

Dahan itu patah setengahnya. Tubuh Megumi semakin rendah ke bawah karenanya. Dalam waktu beberapa menit, ia akan mati.

"Tapi karena itu juga waktu yang kutunggu telah tiba. Sehingga aku menampakkan diriku di hadapanmu saat kamu bersembunyi dalam hutan. Aku mencoba menipumu agar semuanya berjalan sesuai yang kubayangkan. Dan itu memang benar!"

Sasori tersenyum senang.

"Sebentar lagi aku akan mendapatkannya. Harta berharga itu takkan lepas dariku dan akan bersamaku selamanya."

KRAK!

Dahan itu telah patah sebagian besarnya. Megumi menggigit bibir bawahnya makin keras. Ia akan mati dalam waktu beberapa menit.

"Untuk mendapatkannya, aku harus membuatmu tewas terlebih dahulu. Aku telah merencanakan tempat kematianmu disini."

Megumi mulai tak tahan lagi. Ia juga benar-benar tak menyangka akan pernyataan Sasori.

"Kenapa kulakukan itu?"

KRAK!

"Ah.." dahan patah sepenuhnya. Megumi jatuh dari sana. Tangan kanan Megumi terangkat seperti ingin menggapai Sasori.

Tamatlah sudah perjalanan hidup Megumi di dunia...

Sasori tersenyum senang. Ia berkata disertai seringaiannya sebelum ia benar-benar berlalu pergi dari sana.

"Karena Megumi Ryuuno adalah 'harta berharga'ku di dunia ini.."

.

.

.

=Natsu: Eternity Aim Sasori's=

.

.

.

"Bagaimana, Sasuke? Apakah pelaku bernama Megumi Ryuuno terlihat olehmu?" tanya seorang inspektur perempuan bernama Anko Mitarashi kepada seorang detektif polisi Uchiha Sasuke. Mereka sedang berlari menyusuri hutan yang dimasuki Megumi tadi bersama polisi-polisi lain.

Sasuke menjawab, "Ya. Aku melihatnya masuk ke dalam hutan ini. Dia pasti bersembunyi di balik semak atau tempat yang bagus untuk bersembunyi."

"Tetapi kita sudah berlari menyusuri hutan berkali-kali, belum ditemukan juga."

"Eh, maaf menyela, Anko-sama, Sasuke-sama." Seorang polisi berkata. Sasuke dan Anko menoleh.

"Ada apa?" tanya Anko.

"Di hutan ini ada jalan menanjak. Disana ada tanjung. Mungkin sebaiknya diperiksa kesana." Ucap polisi itu.

"Darimana kau tahu ada tanjung disana?" tanya Anko.

"Saya anak hutan." Polisi itu menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal sambil menyengir.

"Baiklah, kita periksa kesana." Sasuke berlari semakin cepat. Seakan tenaganya belum terkuras karena berlari-lari disana.

"Hei, tunggu Sasuke!" seru Anko, ia mengejar Sasuke. Polisi-polisi lain juga mengejar mereka.

.

.

Sasuke menyibak semak itu untuk membuka jalan, ia terpana melihat ada tanjung di depan matanya. Pemandangan laut dan langit benar-benar indah. Langit yang mulai gelap menunjukkan waktu sekarang adalah jam 4 sore.

"Wow.." Anko ikut terpana melihat pemandangan di depannya. Polisi-polisi lain yang belum tahu ada tanjung disana ikut terpana.

Sasuke berjalan menyusuri tanjung untuk memeriksa ada yang aneh atau tidak, Anko ikut disebelahnya. Polisi-polisi lain mencari juga.

"Sasuke-sama! Anko-sama! Ada dahan patah di tebing ujung tanjung!" seorang polisi yang memeriksa ujung tanjung berseru kepada Sasuke dan Anko.

Sasuke dan Anko berjalan menghampirinya. Mereka melihat ke arah yang ditunjukkan polisi itu. Benar, ada dahan patah disana.

Sasuke melihat ada bekas jejak kaki dan kerikil berantakan di ujung tanjung. Seperti ada seseorang yang terpeleset disana dan bertahan di dahan kayu yang menempel di tebing sampai dahan itu patah.

"!" Sasuke menyadari saat ia melihat ke bawah tanjung, ada sesuatu seperti orang terbaring di pasir pantai laut tepat di bawah ujung tanjung.

"Apa itu, Sasuke? Mayat ya?" Anko juga melihat itu.

"Hei! Kita turun! Periksa sesuatu yang berada di pantai bawah tanjung!" perintah Sasuke sambil berlari meninggalkan tanjung diikuti Anko.

"Baik!" para polisi mengikuti langkah Sasuke dan Anko.

.

.

SRAK!

Sasuke menyibak semak yang menutupi jalannya. Ia melihat ada pantai di depannya. Sasuke melihat ada mayat terbaring di pinggir pantai.

Sasuke segera berlari menghampirinya, diikuti Anko dan para polisi yang lain.

Sasuke membelalakkan kedua matanya, wajahnya kaku seketika, peluh menuruni pelipisnya. Ia benar-benar tak percaya saat melihat mayat tersebut.

"A-Astaga.." gumam Sasuke.

Anko menajamkan matanya ke arah mayat yang sedang difoto oleh beberapa polisi. Anko mengernyit bingung.

"Itu bukankah..."

"A-Aku tidak mengerti..." gumam Sasuke.

Ya, disana memang ada mayat Megumi yang sudah Sasuke duga pasti ada. Tetapi bukan itu yang membuatnya tak percaya akan kenyataan di depannya.

Karena di sebelah mayat Megumi, ada mayat seseorang. Tangan kiri mayat itu dan tangan kanan mayat Megumi saling bergandengan tangan dengan erat.

Mayat itu adalah mayat Akasuna no Sasori.

"Tidak mungkin..." Sasuke menggeleng pelan. "Tidak mungkin!" Sasuke langsung berhamburan duduk di dekat kedua mayat itu. Ia mengecek kedua mayat.

Ini benar-benar aneh. Sasuke tahu Megumi jatuh dari tebing kalau dilihat dari posisi mayat Megumi terbaring dan posisi dahan di tebing. Tetapi bila jatuh dari ketinggian seperti itu, seharusnya tubuh Megumi berlumuran darah, kan?

Ini sama sekali tidak.

Sama sekali tidak ditemukan luka ataupun darah pada mayat Megumi.

"Mana mungkin...?" Sasuke benar-benar tak bisa percaya akan kenyataan di depannya.

Ini benar-benar aneh. Mengapa ada mayat Sasori yang sudah terkubur dalam tanah di bukit pemakaman itu sekarang ada disini? Menggandeng tangan Megumi?

Mayat Sasori mengenakan pakaian kematiannya, pakaian yang dipakai Sasori waktu kecelakaan merengut nyawanya.

Sasuke melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Sasori telah dimasukkan dalam peti mati dan dikubur dalam tanah rapat-rapat. Sasuke juga melihat sendiri bahwa pakaian yang dipakaikan kepada mayat Sasori adalah baju atasan berwarna putih dan celana panjang putih, bukan pakaian yang dipakai Sasori waktu kecelakaan.

Kedua mayat tersebut tidak ada luka atau darah dimanapun. Sasuke telah memeriksanya, tetapi sama sekali tidak ditemukan.

Kedua mayat memang telah kaku. Mata mereka tertutup rapat. Wajah mereka terlihat tenang, tak ada beban. Kedua mayat terbaring rapi di pinggir pantai. Mayat Megumi saat itu masih memakai dressnya. Rambut raven panjangnya tidak terurai berantakan.

Begitu pula dengan mayat Sasori. Rambutnya tidak berantakan. Mayat Sasori terbaring rapi disana bersama mayat Megumi.

Wajah mereka terlihat tenang dan damai walaupun sudah tewas. Mata mereka tertutup rapat.

Kenapa bisa begitu?

"Sasuke-sama! Ada cincin tersemat di jari manis kiri mayat Megumi Ryuuno dan mayat Akasuna Sasori!" seorang polisi yang memeriksa mayat melapor kepada Sasuke. Sasuke segera mengeceknya.

"Ini kan.."

"Cincin perkawinan?" sambung Anko.

Sasuke mengangguk. Di jari manis kiri mayat Sasori, ada cincin tersemat. Di jari manis kiri mayat Megumi juga ada cincin.

"..." Sasuke diam. Ia mulai menyadari sesuatu.

"Sasuke-sama! C-Cincinnya tidak bisa dilepaskan!" seorang polisi mencoba melepas cincin dari jari manis kiri Sasori yang menggenggam tangan kanan Megumi. "Tangan kedua mayat yang saling menggenggam tidak bisa dilepas!" Ya, tangan mereka yang saling menggenggam itu tidak bisa dilepas seakan tangan kiri Sasori dan tangan kanan Megumi menyatu.

"Bodoh! Melepas saja tidak bisa!" bentak Sasuke.

"Ini sungguhan, Sasuke-sama! Benar-benar tidak bisa dilepas!"

"Cih!" Sasuke akhirnya mencoba melepas tangan Sasori dan Megumi yang saling bergandengan. Sasuke mengernyit, tidak bisa dilepas?

"Kuat sekali.." Sasuke terus berusaha, tetapi sama sekali tidak bisa dilepas.

Kekakuan mayat tidak akan bisa sampai seperti ini. Tapi ini benar-benar keras dan sulit sekali dilepas. Kenapa bisa?, batin Sasuke.

Sasuke beralih kepada jari manis kiri Sasori, ia coba melepaskannya. Tetap tidak bisa. Jari Sasori membengkok karena menggenggam tangan Megumi. Sasuke beri sedikit cairan pelicin pada jari manis kiri Sasori, tidak bisa juga. Seakan cincin itu menyatu dengan kulit jari Sasori.

"Apa-apaan ini...?" Sasuke benar-benar tidak mengerti. ia memang menyadari sesuatu saat melihat mayat Sasori dan Megumi saling bergandengan tangan, tetapi ia tidak mengerti kenapa gandengan tangan benar-benar kuat dan cincin tidak bisa dilepaskan. Kekakuan mayat takkan bisa sampai seperti itu. Sasuke telah belajar banyak tentang kekakuan mayat selama masih di akademi kepolisian.

Sasuke beralih kepada tangan kiri Megumi yang bebas. Ia coba melepas cincin pada jari manis Megumi, tetapi hasilnya sama saja walaupun sudah diberi cairan pelicin. Padahal kelima jari kiri Megumi lurus, tidak bengkok, sehingga melepas cincin pasti mudah saja apalagi diberi cairan pelicin. Tetapi ini sama sekali tidak bisa dilepas, seperti cincin itu menyatu dengan kulit jari Megumi.

Sasuke pandang wajah Sasori dan Megumi. Beberapa saat kemudian, ia bangun.

"Mau kemana, Sasuke?" tanya Anko.

"Aku pergi dulu sebentar. Ada yang ingin kupastikan. Kalian tetap disini."

"Baiklah."

"Sasuke-sama! Supaya bisa dilepas cincinnya dan dipisahkan genggaman tangan kedua mayat, dipotong saja ya?" saran seorang polisi.

Sasuke menoleh kepada polisi itu dengan tatapan marah, "Jangan, bodoh! Biarkan apa adanya saja! Kuperingatkan kepada kalian semua untuk jangan memotong atau mengotak-atik kedua mayat! Kalau tidak, terima akibatnya dari saya! Mengerti!?" bentak Sasuke.

"M-Mengerti, Sasuke-sama!"

"Kalian hanya diperbolehkan menutup kedua mayat dengan kain dan bawa ke rumah sakit pusat! Katakan kepada dokter untuk jangan mengapa-apakan kedua mayat! Bilang kepada mereka untuk periksa saja suhu badan mayat, tetapi jangan potong tubuh mayat atau semacamnya! Biarkan apa adanya! Kalau tidak, hadapi saya nanti! Mengerti!?"

"Mengerti!"

"Setelahnya, panggil ahli tata rias pernikahan! Bilang kepada mereka untuk memakaikan gaun dan setelan jas pernikahan kepada kedua mayat! Rias juga kedua mayat!"

Yang lain melongo mendengarnya, "A-Apa, Sasuke-sama?"

"Ini perintah!"

"M-Mengerti!"

"Setelah itu, jangan apa-apakan lagi mayatnya sampai saya datang ke rumah sakit!"

"Mengerti!"

"Anko-san, awasi mereka bila mereka melanggar perintah saya." Ujar Sasuke kepada Anko.

Anko mulai mengerti kenapa Sasuke memberi perintah seperti itu kepada polisi-polisi lain, "Tentu saja, Sasuke."

"Hn, pergi dulu." Pamit Sasuke sambil berlari meninggalkan pantai. Ia berlari keluar dari hutan.

Setelah keluar dari hutan, Sasuke naik ke dalam mobilnya dan mengendarainya ke suatu tempat.

.

.

.

=Natsu: Eternity Aim Sasori's=

.

.

.

Sasuke berjalan menghampiri sebuah makam yang disinari matahari senja. Ia berdiri di sebelah makam itu, makam Sasori.

"Uchiha-sama!" beberapa orang yang merupakan penjaga makam dan pengurus makam datang menghampiri Sasuke.

"Hn, lakukan."

"Baik!" mereka membongkar makam Sasori. Disana sudah ada orang yang memanjatkan doa untuk diberi izin membongkar makam.

Setelah dibongkar, terlihat ada peti mati kayu disana.

"Buka peti itu."

Mereka membukanya.

"!" Sasuke beserta yang lain terkejut bukan main karena di dalam peti itu tidak ditemukan mayat Sasori. Yang ditemukan hanyalah...

Sebuah bulu sayap putih.

"..." Sasuke mengambilnya dan memandangnya. Kemudian ia bertanya kepada para penjaga makam.

"Apa ada yang membongkar makam ini sebelum saya?"

"Tidak. Kami tidak pernah melihat ada orang yang begitu sebelum anda."

"Hn. Lalu disimpan dimana pakaian yang dipakai mayat makam ini disaat kecelakaan?"

"Di rumah sakit pusat. Tanyakan saja kepada resepsionis."

"Hn. Terima kasih. Tutup kembali makam itu."

"Baik!"

Sasuke berlari meninggalkan area makam. Ia menyimpan bulu sayap itu di saku jasnya.

.

.

"Cepat lakukan apa yang saya katakan, kalau tidak, kalian berurusan dengan hukum." Sasuke mengancam kepada petugas yang bertugas menjaga barang-barang yang dipakai mayat-mayat yang pernah mereka autopsi. Sasuke telah berada di rumah sakit pusat.

"B-Baik!" mereka mematuhinya. Mereka membuka kunci lemari besi di depannya. Setelahnya, mereka membuka lemari besi tersebut.

"A-Apa?" mereka terkejut karena pakaian yang dipakai Sasori sewaktu kecelakaan yang membuatnya tewas itu tidak ada dalam lemari, yang ada hanya sebuah sayap putih yang serupa dengan sayap di dalam saku jas Sasuke.

Sasuke sudah menduga ini. ia mengambil sayap itu dan mengambil sayap yang ada di dalam saku jasnya. Sasuke mengamati kedua sayap itu, sama, keduanya serupa.

Sasuke tersenyum pahit, akhirnya kasus yang membuatnya repot kali ini telah terpecahkan.

"Mungkin setelah ini aku harus percaya akan adanya urban legend di dunia ini.."

.

.

.

=Natsu: Eternity Aim Sasori's=

.

.

.

"Jadi...begitu..?" Konan menangis. Senyuman terulas di bibirnya.

Semuanya, sahabat-sahabat Sasori dan Megumi, orang tua Sakura dan Ino, dan Sasuke Uchiha, sedang memandang sebuah peti mati yang lebih besar dari peti mati lainnya.

Tatapan mereka ke dalam peti mati itu terlihat sedih, terharu, mereka telah mendengar semuanya dari Sasuke.

"Kami memaafkanmu, Akasuna-san." Kedua orang tua Sakura dan Ino tersenyum. Mereka telah memaafkan semua perbuatan Sasori kepada anak mereka.

Di dalam peti mati besar itu, ada jenazah Sasori dan Megumi yang saling bergandengan tangan. Penampilan mereka telah dirias. Megumi memakai gaun putih indah. Wajahnya dirias tipis dan rambutnya diurai. Sasori memakai setelan jas berwarna putih dengan dasi kupu-kupu berwarna cream.

"Jadi itu maumu, danna?" Deidara tersenyum.

"Si bodoh Sasori pasti sudah tenang bersama Megumi sekarang." Ujar Hidan.

"Keinginannya terkabulkan." Gaara memandangi peti mati dengan tutup kaca bening yang kuat itu. ia pandangi wajah sepupunya, Sasori, dan saudara iparnya sekarang, Megumi.

Dalam peti mati itu telah diberi kain putih indah dan bunga mawar, semua telah dihias seindah mungkin.

"Keinginan Sasori yang belum terkabulkan adalah menikah dengan Megumi. Sekarang sudah terkabulkan." Ucap Itachi.

"Untung saja cincin nikah yang dibeli Sasori dimasukan dalam peti matinya dulu, sehingga tidak hilang dan Sasori bisa mengambilnya. Ehm, maksudku, roh Sasori." Hidan berkata.

"Tidak dimasukan dalam peti pun Sasori bisa mengambilnya." Sasuke tersenyum kecil sambil memandangi dua sayap putih di tangannya.

"Aku benar-benar terharu melihat mereka, Sasuke-kun." Hinata yang berada di sampingnya, berkata.

"Bagaimana bila kita juga seperti mereka?"

Hinata tersenyum, "Boleh juga."

"Sasori-chan bodoh." Maki Naruto sambil nyengir. "Aku memaafkanmu."

"Aku juga." Sai mengikuti.

"Cantik ya, Akasuna Megumi." Tenten tersenyum lebar.

"Aku tadi bermaksud memakaikan sarung tangan kepada tangan mereka, tetapi tangan yang bergandengan itu sulit sekali dilepas. Masa memakai sarung tangan hanya sebelah?" Sasuke berkata.

"Baiklah. Kubur petinya." Pein berkata. Para penjaga makam mengangguk, mereka mengubur peti mati Sasori dan Megumi dengan tanah.

"Semoga bahagia disana ya, Sasori, Megumi." Pein tersenyum.

Peti telah terkubur sepenuhnya dengan rapi. Para penjaga makam melakukan pekerjaan mereka dengan merapikan makam dan memberi batu nisan yang indah pada makam.

R.I.P

Akasuna no Sasori and Akasuna no Megumi

Death: Sunagakure, July 4th 2014

Hope God Blessing You Two

.

.

.

=Natsu: Eternity Aim Sasori's=

.

.

.

Semua yang ada pada dunia ini, harus kita terima.

Termasuk dengan keajaiban dunia.

Manusia bisa menciptakan keajaiban sendiri bila mempunyai keinginan yang kuat dalam hatinya dan jalan yang telah ditempuh sudah ditetapkan...

Kita harus memercayai adanya kehidupan lain di dunia ini..

Kita tidak sendirian, karena ada yang selalu memerhatikan kita..

Dua jiwa yang saling bergandengan tangan dalam surga, tersenyum melihat sahabat-sahabat mereka yang sedang memandangi makam mereka.

"Aku sangat berterima kasih kepada Uchiha Sasuke yang telah melakukan itu semua kepada kita."

"Ehm."

"Kita bersatu kembali, bukankah begitu?"

"Ya. Aku sangat bahagia dan senang karena kamu melakukan itu semua untukku."

"Bukan untukmu saja, untukku juga."

"Iya. Aku mengerti."

"..."

"Kamu benar-benar hebat ya. Aku kagum denganmu."

"Manusia bisa melakukan apapun asalkan ada kemauan kuat dalam dirinya."

"Ya."

"Ah, si bodoh Deidara mengejek seniku lagi di depan makam kita."

"Bukankah itu bagus, seniman senja?"

"Bagus? Dia tidak mengerti seni yang sesungguhnya. Seninya terlalu monoton."

"Menurutku seni kalian bagus kok."

"Seniku yang lebih bagus."

"Haha, kamu masih saja bersikukuh ya. Aku ingin melihatmu berdebat kembali dengan Deidara-nii."

"Seniku memang lebih bagus dan indah kok. Sudah terbukti."

"Terbukti?"

"Keinginanku yang abadi ini berakhir dengan indah."

"...Ah, benar."

"Si bodoh Hidan mengejekku. Tidak bisakah dia berbaik hati kepada orang mati?"

"Hidan-nii mengejekmu itu karena sayang padamu. Hidan-nii suka tidak terus terang, kan?"

"Hei, gender kami sama."

"Sayang dalam artian sebagai sahabat sejak kecil."

"Itu baru benar."

"Konan-nee memberikan seikat bunga origami kepada makam kita."

"Bagus juga Konan membuatnya."

Beberapa jiwa menghampiri dua jiwa yang sedang mengobrol sembari menengok ke dalam dunia manusia, tepatnya ke makam mereka.

"Hei, bodohh!"

"Hah?"

"Eh? Tomo-nee?"

"Hei, Megumi! Kita bertemu lagi! Oh, ya! Sasori!"

"Apa?"

"Kau ini! Kalau mau bawa Megumi bersamamu, caranya yang lebih bagus dong!"

"Bagus apa yang kau maksud, idiot?"

"Masa kau jatuhkan dia dari tebing? Kasih saja racun!"

"Idiot, kalau pakai racun, Megumi pasti tersiksa."

"Kau jatuhkan dia dari tebing juga menyiksa, tahu!"

"Lebih menyiksa tubuh dan syaraf serasa hancur atau tangan mati rasa?"

"...B-Benar juga ya."

"Idiot Tomo."

"Berisik!"

"Kaa-san, Tou-san, hisashiburi."

"Hisashiburi, Megumi. Tou-san senang bisa bertemu denganmu kembali."

"Sudahlah, Tomo. Seharusnya kamu berterima kasih kepada Sasori karena telah melakukannya."

"Kaa-san, kalau si merah judes ini membunuh orang lain apakah itu bagus?"

"Haha, itu karena Sasori mempunyai jiwa monopoli yang tinggi kepada Megumi. Iya, kan, Sasori?"

"Haah, sudahlah kaa-san."

"Paman, bibi, hisashiburi."

"Hisashiburi, Megumi."

"Sasori, bagaimana keadaanmu?"

"Baik-baik saja, kaa-san. Arigatou."

"Oh, ya, Chiyo obaa-san sudah menunggu kalian, Sasori, Megumi. Hampiri dia."

"Dimana Chiyo obaa-san, tou-san?"

"Umh, mungkin disana bersama Hikari."

"Eh? Hikari-nee ada juga, paman?"

"Tentu. Kamu bisa bertemu dengan orang yang telah meninggal disini."

"Hehe, bahkan kamu bisa bertemu dengan lipan yang dibunuh Sasori, lhoo."

"H-Haah?"

"Tomo!"

"Hahaha, sudah lama tidak menjahili imouto sendiri."

"Lebih baik, kita hampiri Chiyo obaa-san dan Hikari."

"Ya."

Mereka berjalan berdampingan. Sosok mereka lama-kelamaan makin terlihat samar karena cahaya putih yang menutupi.

Suatu saat manusia bisa bertemu kembali dengan orang yang mereka kenal di tempat yang berbeda.

Suatu saat..

Dan itulah akhir cerita dari kehidupan manusia, hidup dalam dunia yang berlainan dengan dunia sementara.

Dunia abadi..

.

.

Owari.

.

.

.

.

.

A/N: Apa? Chap ini juga 9 ribu lebih kalimatnya? -_-"

Natsu kira hanya 4 ribu atau 5 ribu aja.

Gaje ya? Maaf ya. Tapi sesungguhnya di balik cerita ini, ada yang Natsu sampaikan.

Tapi dari alur cerita, apakah sudah tersampaikan?

Jujur saja, Natsu susah sekali menyampaikannya dengan indah disini. –ciaelah-

Itu lhoo, apa ya? Yang susah bukan cuma itu aja, mengentarakan suasana dan...apa sih namanya ya? Yah, untuk menunjukkan perasaan kuat karakter disini susah. Argh! Pokoknya gitu deh!

Mengecewakan, ya? Natsu pakai OC disini.

Maaf ya. Maaf. Maaf. Maaf. (m._.m) *sujud2 berkali-kali*

Silahkan tulis apa yang kalian ingin katakan pada Natsu di kotak review. Apa aja. Cacian pun boleh.

Oh ya, selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya ya. ^^v

Berkenan kah kalian menghargai kerja keras Natsu dengan review kalian?

Sign,

Natsume Rokunami

Pekanbaru, 5 juli 2014.