Title : New Neighbor and Maybe The New Life

Author : Izumi Akita Suzuki a.k.a Ichan

Rated : T

Genre : Romance dan author sendiri masih bingung ^^v

Fandom : Naruto

Pairing : SasuNaru (Main) , NaruHina and SasuSaku (slight)

Disclaimmer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto, I only have the storyline of this fic ^^

Chapter: II -Kehilangan itu Menyakitkan!-

Summarry : Naruto Uzumaki depresi karena kematian kekasihnya dan menganggap semua orang yang memiliki warna rambut dengan sama dengan kekasihnya adalah kekasihnya!

Warn : Sho-ai a.k.a BL,MxM,Typo(s),OOC,AU,Abal dan Gaje(las)

Normal's PoV

Sasuke yang sudah lelah berdebat akhirnya memutuskan masuk ke dalam kamar apartemennya. Dan…tanpa seijinnya pemuda blonde yang menganggapnya sebagai 'Hinata-chan' itu juga nyelonong masuk ke dalam kamar apartemennya. Lagi – lagi Sasuke harus menghela nafas panjang melihat kelakuan pemuda bermata safir itu.

"Dobe, kenapa kau mengikutiku?" Sasuke langsung to the point pada Naruto.

"Hehehe, kau sadar juga. Aku merindukanmu Hinata-chan kau tau sudah 3 tahun kita tidak bertemu." Kata Naruto dengan cengiran khasnya.

Empat siku – siku kembali terukir di kening sang Uchiha. Apakah salah dirinya? Kenapa pemuda pirang yang kini berdiri tepat di depannya menganggap dirinya sebagai 'Hinata-chan'?

"Ck, Dobe memang tetaplah Dobe." Sahut Sasuke dingin nan menusuk.

Naruto mengerutkan keningnya. Kenapa Sasuke yang menurutnya adalah Hinata-chan-nya bersikap sebegitu tidak menyenangkan. Ah mungkinkah keluarganya sengaja membuat Hinata-chan menjadi pribadi yang sebegini dinginnya sehingga Hinata tak mau dekat – dekat dengannya? Narutopun hanya menghela nafas dan memandang pemuda bermata onyx di depannya.

"Hinata-chan, aku tau kau amnesia dan orang tuamu menyingkirkan semua kenangan soal kita di masa lalu. Jadi bolehkan jika aku mencoba bersamamu sekali lagi?" kata Naruto tanpa basa – basi lagi.

Sasuke memandang pemuda pirang itu dari ujung rambut sampai ujung kaki-lagi- dan menghela nafas panjang. Masih saja terlihat normal untuk ukuran orang sosok yang berdiri di depannya ini hanya setengah gila?

"Dengar Dobe. Aku laki – laki dan kau juga. Pasti ada sesuatu yang menganggu pikiranmu." Sahut Sasuke dengan perkataan yang lagi – lagi menusuk.

Namun, bukan Naruto namanya kalau di begitukan saja sudah menyerah. Sang blonde yang merasa ucapan cintanya bertolak, merasa bahwa dia perlu melakukan cara yang lebih frontal daripada yang sebelumnya. Naruto melihat Sasuke yang sepertinya sedang berpikir. Pikiran licik Naruto mengatakan bahwa ini adalah kesempatan bagus. Naruto dengan segera mencium bibir Sasuke, Sasuke membelakkan matanya tak percaya dengan apa yang dilakukan sang blonde.

'Khukhukhu, Hinata-chan kau pasti akan jadi milikku lagi.' Batin Naruto mulai bicara.

Sasuke –yang awalnya ingin mendorong bahu Naruto dan menyingkirkan pemuda blonde itu- mengurungkan niatnya dan sang pemilik mata onyx itu malah membuat ciuman mereka makin panas dengan keadaan Sasukelah yang mendominasi. Setelah merasa memerlukan pasokan oskigen kedua insan itu melepaskan ciuman mereka.

"Wah!Hinata-chan sekarang agresif ya, padahal dulu Hinata-chan malu – mal lho!" kata Naruto dengan seenak jidatnya lagi.

"Hn, aku berbeda dengannya karena aku memang bukan dia." Balas Sasuke yang berusaha berkata jujur lagi.

"Kau hanya belum sadar! Aku akan menunggumu sampai kau pulih dari amnesia mu itu, Hinata-chan!" kata Naruto dengan mata safirnya yang menunjukkan harapan yang dalam.

"Hn,sudahlah Dobe. Kembalilah ke kamarmu, aku masih punya beberapa urusan." Sahut Sasuke dengan dingin.

"Ah ya Hinata-chan sekarang kan kita sama – sama laki – laki jadi itu tak akan masalah bila kau tidur di kamarku. Jadi maukah kau tidur di kamarku?" tanya Naruto yang memandang Sasuke dengan tatapan melas.

"Hn, jika aku bilang mau apakah kau akan pergi dari kamarku?" sahut Sasuke memandang sinis Naruto.

"Well, baiklah. Aku akan pergi tapi kau harus ke kamarku ya!" seru Naruto dengan ceria.

"Hn." Balas Sasuke singkat.

Naruto dengan wajah sumrigahnya langsung pergi dari kamar Sasuke.

"Sekarang mari cari tau siapa dia." Sasuke bermonolog pada dirinya sendiri.

Sasuke mengintip Naruto yang sedang mengobrol dengan seseorang dari balik pintu kamarnya. Sasuke rasa, dia sudah punya target yang tepat yang bisa memberikan jawaban akan hal gila yang dialaminya hari ini. Ketika Sasuke melihat Naruto melambaikan tangan pada orang yang tadi diajaknya mengobrol, Sasuke langsung keluar kamar dan mencegat orang itu.

"Hei." Panggil Sasuke ke sosok berambut coklat itu.

"Apa aku mengenalmu?" tanya sosok itu yang memandangi Sasuke heran.

"Tidak, aku Sasuke Uchiha dan ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." Kata Sasuke dengan datar.

"Memangnya apa? Ah ya kau orang baru ya disini?" tanya sang pemuda yang berada di samping seekor anjing berbulu putih.

"Soal Naruto, ya aku orang baru disini." Sahut Sasuke tanpa ekspresi.

"Oh, selamat bergabung. Aku Kiba Inuzuka, sahabat baik Naruto. Jadi apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Kiba yang memandang pemuda baru itu heran.

Ah ya Kiba baru sadar! Pemuda itu berambut violet, pasti Naruto telah menganggap pemuda itu menghela nafas panjang.

"Sebaiknya kita bicarakan di kamarku saja, Lagipula Akamaru sepertinya sudah bosan berada disini." Sahut Kiba.

"GUK!" suara gonggongan dari sang anjing keluar-dan gonggongan itu sepertinya berarti 'iya'-.

Sasuke mengerutkan kening. Apakah dia harus percaya begitu saja pada pemuda ini? Ah untuk kali ini dia harus percaya, karena pemuda ini hanyalah satu – satunya harapan untuk mengetahui kisah Naruto dan soal Hinata-chan.

"Hn." Balas Sasuke lagi – lagi dengan ekspresi dinginnya.

Kiba, Akamaru beserta Sasuke langsung bergerak ke arah kamar Kiba-yang ternyata letaknya di sebelah kiri kamar Sasuke-. Mereka bertigapun langsung masuk ke dalam kamar Kiba. Sasuke duduk di sofa yang ada di kamar itu dan Kiba langsung duduk di samping Sasuke.

"Well, well jadi bagaimana penjelasanmu akan semua ini sahabatnya Naruto?" tanya Sasuke dengan nada dingin nan menusuk pada Kiba.

"Naruto depresi berat, kematian Hinata 3 tahun lalu membuat dia beranggapan semua orang yang memiliki warna rambut yang sama dengannya adalah kekasihnya. Ya, aku tau dia pasti menganggapmu kekasihnya kan?" kata Kiba disertai dengan helaan nafas.

Sasuke mengangguk kepalanya. Jadi memang benar sang pemuda blonde itu setengah gila.

"Hn, terimakasih penjelasannya aku pergi dulu." Sahut Sasuke yang meninggalkan Kiba dan Akamaru begitu saja.

Sasuke langsung meninggalkan Kiba begitu saja dan langsung kembali ke kamarnya. Sasuke menatap kaca yang ada di kamarnya dan melihat rambutnya. Kemudian menghela nafas.

'Besok aku harus mengganti warna rambutku.'batin Sasuke yang merasa sudah tak kuasa dengan Naruto.

Sementara itu, Naruto yang ada di kamarnya sedang sibuk menata kamarnya, guna mempersiapkan kehadiran Sasuke-yang ia anggap Hinata itu-. Kamarnya kini dipenuhi dengan foto kenangan antara dirinya dan Hinata. Naruto amat puas dan yakin ini semua bisa mengembalikan ingatan Sasuke, yang menurutnya adalah Hinata.

"Aku akan membuatmu mengingat kembali siapa aku, Hinata-chan!" Naruto bermonolog pada dirinya sendiri dengan penuh kepercayaan diri.

Sasuke yang tak lupa pada janjinya pada pemuda blonde itu memasuki kamar Naruto. Sasuke hanya bisa tercengang melihat kamar yang dipenuh dengan foto Naruto dan seorang perempuan berambut lavender. Sasuke benar – benar berpikir bahwa dia harus mengganti warna rambutnya agar keluar dari semua kegilaan ini. Naruto muncul di depan Sasuke dengan cengiran khasnya.

"Bagaimana Hinata-chan? Apa kau mengingat sesuatu?"

Mata Onyx Sasuke memandang tajam Naruto. Hell…mengingat sesuatu dia bahkan tak kenal dengan wanita berambut violet yang ada di foto Naruto.

"Hn, sudah kubilang aku bukan Hinata-chan-mu itu Dobe." Sahut Sasuke dengan ekspresi datar.

"Ha-ah, kau ini keras kepala!" seru Naruto tak terima.

"Kau yang keras kepala Dobe, kalau kau memang hanya menyuruhku datang dan melihat semua fotomu dengan Hinata-chan-mu itu, aku akan pergi detik ini juga." Kata Sasuke dengan nada dingin nan menusuk.

"Tunggu, kau memang menyebalkan kurasa aku perlu memanggilmu Teme mulai detik ini! Ah ya tapi temani aku malam ini, aku masih merindukanmu Hinata-chan." Kata Naruto dengan suara memohon-yang tentu saja tak mungkin di tolak Sasuke begitu saja-.

Mata onyx Sasuke memandang mata safir Naruto. Dalam mata safir tersirat harapan dan kesedihan secara bersamaan. Sasuke hanya mengangguk mendengar perkataan pemuda berambut pirang itu, karena rasa ibanya.

"Ah ya Hinata-chan sekarang kan laki – laki jadi tidak ada dong kita tidur sekasur?" tanya Naruto dengan wajah sumrigah.

"Aku bukan Hinata-chan Dobe, dan kalaupun kau beranggapan begitu aku tetap tak mau tidur sekasur denganmu." Sahut Sasuke-untuk kesekian kalinya- dengan nada dingin nan menusuk.

Mata biru safir Naruto mengisyaratkan kekecewaan yang dalam. Well, dan lagi – lagi iba pada sosok pemuda menghela nafas panjang dan kemudian angkat bicara.

"Baiklah Dobe, setidaknya sampai kau tidur." Sahut Sasuke dengan wajah datarnya.

"Kau menyebalkan, Teme! Ah maaf, harusnya aku tak berkata begitu padamu Hinata-chan." Kata Naruto yang langsung menatap Sasuke dalam.

Untuk ketiga kalinya dalam hari ini empat siku – siku kembali terbentuk di dahi sang Uchiha. Sang Uchiha hampir saja melakukan posisi facepalm –tapi dia segera mengurungkan niatnya itu karena nanti pamornya akan turun-.

"Hn,sudah kau mau tidur kapan?" tanya Sasuke menatap sang blonde yang tampaknya sudah mengantuk itu.

"Sebentar lagi, aku mau sikat gigi dulu dan Hinata-chan penuhi janjimu ya!" kata Naruto dengan semangat yang sangat menggebu – gebu.

Sasuke hanya memandangi sang blonde yang berlari menuju ke kamar mandi. Sementara Naruto di kamar mandi, Sasuke bersandar pada kasur milik Naruto. Yeah, dia akan memenuhi kata – katanya. Lagipula hanya sampai Naruto tidur kan? Sasuke menghela nafas, dia pikir tempat baru ini akan menyenangkan tapi dia malah mendapatkan masalah besar di tempat barunya ini. Sasuke masih terus melamunkan soal warna apa yang akan dia digunakan pada rambutnya mulai besok, agar dia tak terjebak lebih jauh dari kegilaan Sasuke melamun, Naruto sudah usai dengan urusannya dan langsung duduk di samping Sasuke.

"Hinata-chan? Kau benar – benar yakin akan menemaniku?" tanya Naruto yang menunjukkan pandangan ragu – ragu pada Sasuke.

"Hn." Jawab Sasuke singkat.

Naruto langsung memposisikan dirinya untuk tidur. Baru beberapa menit berbaring sepertinya Naruto sudah menunjukkan tanda – tanda bahwa dia tertidur.

"Dobe?" Sasuke berusaha memastikan bahwa sosok di sampingnya tertidur.

Sasuke hanya mendengar dengkuran dari sang pemuda bermata safir. Itu berarti sang pemuda memang tertidur. Mata onyx Sasuke memperhatikan wajah sang pemuda. Sebuah monologpun muncul dari bibir sang pemilik rambut violet itu

"Kehilangan itu menyakitkan bukan, Dobe? Bahkan kau sampai begini."

Sebuah kepingan memori dari masa lalu berkecamuk di otak sang Uchiha. Dia pernah kehilangan apa yang berharga, sama seperti yang di alaminya sosok yang tertidur di sampingnya itu. Ingatan yang tak akan pernah mungkin memudar dari otaknya. Alasan utamanya pindah ke tempat ini. Memorinya yang telah melukai hatinya terdalam. Sejujurnya dia berharap akan menemukan kehidupan baru dan hal – hal menyenangkan yang di tempat ini. Namun, yang Sasuke dapatkan untuk kesekian kalinya hanyalah luka.

~FLASHBACK~

Sasuke berlari menuju ke ruangan UGD rumah sakit Konoha mendengar keadaan tunangannya yang amat kritis. Kanker stadium akhir menyebabkan tunangan sang Uchiha sering bolak – balik ke rumah sakit. Dan keadaan sang tunangan kini benar – benar kritis. Seusai sampai di UGD, Sasuke memandang tunangnya yang terkulai lemas dan dipenuhi dengan alat – alat. Mata onyxnya menatap sendu sang kekasih. Tangan putih pucat Sasuke menyentuh tangan sang gadis bermata emerald yang kini benar – benar terlihat tak mampu melakukan apapun.

"Sakura, bertahanlah." Sasuke memandang sosok wanita di depannya dengan penuh harap.

Sakura hanya memandang Sasuke lemas, matanya terlihat sangat sayu. Sakura tersenyum simpul dan berucap dengan suara lirih-namun bisa dipastikan Sasuke bisa mendengar suara itu-

"Terimakasih Sasuke-kun, untuk segalanya."

Seusai mengucapkan kalimat itu, mata emerald sayu milik Sakura terpejam, dan denyut nadinya terlihat berhenti. Sasuke memandang miris sosok itu. Matanya berkaca – kaca, tak percaya akan kepergian sang tunangan yang seharusnya dinikahinya. Bahkan, mereka akan menikah sebulan lagi. Sasuke tak sanggup menerima kenyataan dan hanya mampu menunjukkan senyum getir. Tak mungkin dia menunjukkan ekspresi dinginnya pada saat begini, apakah salahnya sehingga Kami-sama mengambil sosok yang telah mewarnai hidupnya selama 7 tahun itu? Sasuke benar – benar tak kuasa menahan rasa sakit di dadanya. Semuanya sekarang telah percuma. Kedua orang tua Sakura hanya mampu menepuk bahu Sasuke, dan berharap orang yang seharusnya menjadi menantu mereka itu bisa tabah.

~2 tahun setelah kematian Sakura~

Sasuke tinggal di rumah yang dibelinya 2 tahun lalu. Rumah yang seharusnya dia miliki bersama dengan Sakura. Rumah yang bisa menjadi saksi bisu akan betapa dekatnya hubungan mereka dengan apa yang disebut rumah tangga. Sasuke tak mau meninggalkan rumah ini, karena menurutnya jika ia meninggalkan rumah ini sama saja ia mengkhianati seorang Sakura. Itachi-kakak dari Sasuke- memutuskan untuk datang hari ini, karena merasa miris dengan keadaan sang adik yang sepertinya melukai dirinya terlalu dalam.

"Kau tak berpikir untuk pindah? Dan memulai hidup baru?" tanya Itachi yang menatap dalam – dalam adiknya.

"Hn,Aniki kau tau kan? Memulai hidup baru bagiku adalah sama saja dengan mengubur semua tentang Sakura." Balas Sasuke cuek.

"Adik bodoh, kau justru melukai dirimu sendiri lebih dalam. Kalau kau ada pikirn untuk memulai hidup baru, segera hubungi aku. Aku tau dimana kau harus pergi." Sahut Itachi yang hanya mampu menggeleng dan meninggalkan adik semata wayangnya itu.

~FLASHBACK'S END~

Peristiwa pertemuan dengan kakaknya empat bulan lalu adalah alas an mengapa Sasuke sekarang bisa ada di apartemen ini. Sasuke kembali melanjutkan monolognya yang sempat terpotong

"Hn,Kehilangan adalah hal yang paling menyedihkan,aku benar kan?"

"Ya itu benar, maka dari itu aku berusaha berlari dari masa lalu dan melupakan soal kehilangan di masa lalu." Sasuke membalas omongannya sendiri dengan tersenyum getir.

Semua yang telah diperjuangkan di masa lalunya percuma. Dia masih tak kuasa untuk melupakan masa lalunya, dia dan Naruto sebenarnya sama. Maka dari itu dia tak bisa tega pada pemuda yang sedang tertidur itu, karena dia mengalami hal yang sama dengan Naruto. Yah,walaupun Naruto tak sampai menganggap semua orang berambut pink sebagai Sakura. Tapi, tetap saja luka yang telah tegores di hati Sasuke adalah luka yang sama dengan luka yang tergores di hati Sasuke.

=TBC=

A/ N : Wohohoho chapter 2 rilis update kilat! Daripada Ichan stress mikir UAS Ekonomi besok Senin, mending ngelanjutiin ini fic deh. Ah ya Thanks yang sudah review di chapter 1 rata – rata reviewnya postif, pokoknya kalian yang udah baca,udah review,udah favoritiin dan udah follow nih fic adalah da real MVP(s) bagi Ichan hehehe Ichan seneng dan buat yang tanya soal keukean Naruto, yep dia uke! Cuma agak agresif dan sok nge-seme karena dia ngerasa Sasuke itu Hinata :P btw bagaimana chapter ini? Memuaskankah? Ichan masih saja ngerasa kalau ini fic aneh, ah ya walaupun begitu Ichan tetap membulatkan niat buat ngepost fanfic ini. Akhir kata, monggo ya di review ^^