Naruto casts belongs to Masashi Kishimoto
.
Sequel dari songfic "Januari"
.
Disarankan membaca songfic "Januari" di chapter 1 agar lebih jelas.
.
Hope you enjoy it!
.
.
"Sakura, apa yang kau pikirkan? Meninggalkan Sarada sendirian di kamarnya? Bagaimana jika jatuh? Aku tak menyangka putriku sebodoh ini." Kata wanita yang separuh rambutnya berwarna putih itu.
"Okaa-san, tenanglah sedikit, dia tidak akan mati saat aku membaca beberapa buku." Ucap seorang perempuan yang dipanggil Sakura tadi. "Kurasa kau semakin tua dan menyebalkan. Seperti dia." Lanjutnya.
Wanita yang tampak lebih tua dari usianya itu menghela nafas berat, "entah peristiwa gila apa yang menganggu jiwamu, Sakura."
.
.
.
.
.
Entahlah, 3 tahun telah terbang begitu cepat. Saking cepatnya, gadis -atau harus kupanggil wanita- berusia 23 tahun itu tidak dapat merasakan hidupnya 3 tahun terakhir. Terasa kebas dan hampa, bahkan sesekali kesadarannya menghilang. Entah kemana.
Yang ia ingat hanya salju kotor yang berbau busuk, tembok penuh bercak merah, kaki yang mati rasa, dan beberapa kenangan sangat menjijijan yang tidak akan pernah hilang dari long term memory-nya. Termasuk, ketika si Uchiha kaya raya itu menyentuh dan menghancurkan hidupnya.
Seandainya waktu dapat terulang, ia tidak akan melamar pekerjaan di perusahaan milik keluarga Uchiha, ia tidak akan terlibat dalam konflik panjang bersama Uchiha Sasuke dan bahkan tidak akan mendapati hidupnya hancur seperti ribuan keping dandelion.
Pikiran Sakura melayang, apa yang sedang dilakukan Uchiha Sasuke saat ini? Ah, mungkin sedang mengurus perusahaan seperti biasa, oh ya, jangan lupa, mungkin dia sedang bermesraan dengan istrinya, siapa namanya?
Yamanaka. Putri bungsu keluarga Yamanaka, Yamanaka Ino. Ah, akhirnya ia mengingat nama yang tidak pernah ingin ia ingat itu.
Keluarga Uchiha memang gila, atau mungkin juga keluarga Yamanaka, karena si putri Yamanaka baru berusia 16 tahun saat mereka menjodohkannya dengan si Uchiha yang berusia 22 tahun. Gila. Bocah ingusan yang bahkan belum pernah berciuman. Tch.
"Sakura, makanlah." Ayahnya yang baik hati, selalu baik hati, tidak pernah lelah menyuruhkan makan. Meski Sakura telah kehilangan 7kg sejak kepulangannya ke Osaka. Ya, bayangkan dengan tinggi 1,57 meter dan hanya memiliki bobot 39kg. Bayangkan betapa kurusnya si Haruno yang sudah mulai memuntahkan segala makian tiap malam itu.
Setiap detik hidupnya terasa seperti siksaan hebat. Seperti, kau tau, neraka. Karena siksaan ini tidak pernah berhenti. Meski tak terhitung lagi kala gadis itu berusaha menghabisi dirinya sendiri. Menyayat tangan, menggantung diri, lompat dari gedung, menabrakkan diri ke kereta, lompat dari mobil saat sedang melaju kencang, menghantamkan kepalanya ke tembok, ia sudah muak dengan maut yang muak dengannya.
Akhirnya ia menyerah, ia tau ini hanya permainan Kami-sama yang mungkin ingin bermain sedikit lagi dengannya, tak apa, ia sudah putus asa dengan hidupnya. Ia akan baik-baik saja meski segalanya tidak ada yang baik. Tch.
"Ma... Mama." Mata onyx, rambut hitam, tch, Sakura benci ini. Sakura benci mahkluk kecil dihadapannya. Anak itu mulai merangkak mendekati Sakura. Perlahan kesadarannya kembali. Sakura mendekap anak itu dalan pelukannya seraya berbisik
"Seharusnya kau mati saja."
.
.
.
.
.
Dengan langkah lesu direktur muda yang merangkap sebagai calon penerus tunggal Uchiha corp itu melaju. Ya, seharusnya ia adalah anak bungsu, tapi segalanya berubah sejak Uchiha Itachi bunuh diri, 3 tahun yang lalu.
Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan orang yang sudah jengah hidup. Entah, ia tidak bisa melihat speedmeter dengan jelas. Ia terlalu lelah hari ini, pekerjaan menumpuk, karyawan bodoh yang tidak bisa mengerjakan tugas dengan benar, ayahnya yang selalu mengatur dan tunangannya yang tidak tahu diri.
Sudah tak terhitung jumlah cacian dan makian terhadap gadis 19 tahun itu. Dia memang anak tunggal keluarga Yamanaka yang pastinya, Sasuke jamin dengan seluruh harga dirinya, sangat dimanja. Tapi ia tidak sedikitpun berkeinginan untuk memanjakan gadis itu. Ia benci mengakuinya tapi, ia merasa seperti pedofil idiot.
"Tadaima." Ucapnya singkat
"Okaeri Sasuke, bagaimana harimu?" Uchiha Mikoto, ia tampak paling normal dibanding dengan anggota keluarga Uchiha lain yang seperti es.
"Baik. Aku sudah makan malam. Oyasumi." Bersamaan dengan itu Sasuke melangkahkan kakinya menuju anak tangga, meninggalkan Mikoto sendirian di ruang keluarga yang megah dan suram.
"Segalanya memang sudah salah sejak awal..." Disusul dengan puluhan liquid bening yang mengalir dari mata onyx perempuan berusia 49 tahun itu.
.
.
.
.
.
"Sekarang bukan waktunya bercanda dobe , jangan membuang waktuku." Lagi-lagi, pria itu, Sasuke, dengan balutan jas yang membuat pria itu sangat tampan.
"Aku bersumpah demi apapun Sasuke, aku melihatnya" Uzumaki Naruto menguatkan perkataanya.
"Jika kau mengajakku bertemu hanya untuk membicarakan hal ini maka aku akan kembali ke kantor sekarang."
"Sasuke! Dengarlah, aku bersumpah melihatnya di Osaka. Dan dia... Menggendong seorang anak perempuan yang, maaf jika aku salah, sangat mirip denganmu."
Mata Sasuke terbelalak lebar, jantungnya berdebar kencang, keringat dingin mulai mengaliri tulang sfenoidnya. Ia tidak sanggup berkata-kata lagi.
"Sasuke, kau...melakukan itu padanya?
.
.
.
.
.
Haruno Misaki hanya bisa terdiam menatap pria tampan dihadapannya. Sangat mirip dengan Sarada, ia setidaknya memiliki gambaran siapa pria ini.
"Sakura tidak ingin bertemu denganmu." Ucap wanita itu lemah.
"Kumohon, kali ini saja, aku hanya ingin, meluruskan segalanya dan, bertanggung jawab." Ucap Sasuke tegas, walau sebenarnya ia ketakutan setengah mati.
"Ara, Uchiha-san, apa yang membuatmu datang ke tempat jelek ini?" Mengejutkan. Semuanya terkejut. Haruno Sakura berdiri dibelakang ibunya dengan keadaan berantakan sambil berkacak pinggang.
"Sakura... Apa yang-"
"Ibu, tolong tinggalkan kami sebentar. Dan, jaga anak itu, aku meninggalkannya sendirian lagi, ahahah." Misaki tidak pernah mempercayai apa yang ia lihat dan ia dengar yang menyangkut putrinya 3 tahun terakhir.
"Sakura, aku-"
"Mau apa kau? Mau aku mati? Sudah kucoba tapi tidak bis-"
"Sakura!" Sasuke meninggikan suaranya. Tersadar Sakura tersentak, ia kembali mengontrol emosinya.
"Anak itu, anak kita?" Sasuke berhati-hati mengucapkannya.
"Oh, Sarada? Hmm bagaimana ya, kurasa kau mengingat saat itu, saat kita membuatnya. Tch. Aku tak sangka dia benar-benar lahir dari rahimku." Ucap Sakura dengan santainya.
"Kenapa kau tidak bilang kalau kau hamil? Aku pasti menokak mati-matian pertunangan itu. Aku akan bertanggung jawab." Kata Sasuke. Ia tidak dapat mempertahankan nada dingin lagi di tiap ucapannya. Ia sekarang sangat, lemah.
"Kenapa ya? Mungkin aku takut bocah ingusan Yamanaka itu tersiksa saat tunangannya menghamili orang lain. Kurang lebih begitu." Ia menyunggingkan senyum pahit.
"Kembalilah ke Tokyo bersamaku, aku akan menikahimu dan-"
"Aku akan dibunuh keluargamu dan si Yamanaka. Begitu maksudmu?" Lagi-lagi senyum sinis yang membuat Sasuke semakin tersiksa.
"Jangan memotong pembicaraanku."
"Seperti biasanya, tuan muda Uchiha yang selalu memerintah, iya kan, Sasuke-kun." Entah apa yang diinginkan wanita ini. Sejenak Sasuke menyadari bahwa kesadaran wanita ini tidak sepenuhnya terkumpul. Kasarnya, agak gila.
"Sakura, dengarlah, aku hanya ingin bertanggung jawab. Anak itu, mewarisi darah Uchiha juga, keluargaku pasti mengerti dan membatalkan pertunangan dengan Yamanaka." Jelas Sasuke. Kali ini suaranya bergetar.
"Kalau begitu ambil saja anak itu. Aku tidak begitu membutuhkannya." Lagi-lagi Sakura mengucapkan ucapan yang tidak bisa dikenali sebagai seorang ibu normal.
"Maaf. Maaf Sakura, maaf. Ini salahku." Suaranya bergetar hebat, seakan tidak mau kalah dengan guncangan di bahunya yang berlomba dengan guncangan kejiwaannya.
"Ya, ini memang salahmu. Salahmu membuatku setengah gila. Salahmu membuatku hamil tanpa ada yang tau siapa ayah Sarada. Salahmu aku tidak bisa bebas keluar rumah. Salahmu aku dikucilkan orang-orang kolot tidak tahu diri. Salahmu karena menghancurkan separuh lebih hidupku. SALAHMU AKU TIDAK BISA MERASAKAN KEHIDUPAN NORMAL LAGI UCHIHA!" Justru disaat ini, Sakura tau bahwa kesadarannya telah kembali sepenuhnya. Ia tau jelas bahwa inilah yang ingin ia sampaikan pada Sasuke sejak 3 tahun yang lalu.
Entah apa yang merasuki Uchiha itu, dalam sekelebat ia mendekap Haruno Sakura. Dekapan yang telah lama sekali hingga membawa berbagai macam nostalgia tak terkendali.
Ia merasakan tubuh Sakura yang kurus dan dingin, sangat berbeda ketika ia terakhir kali memeluknya. Dan seketika itu juga, ia sadar bahwa segalanya telah berubah.
Dalam dekapan panjang itu ia telah memutuskan segalanya,
"Sakura, menikahlah denganku. Pergilah denganku, kemana pun itu..."
The End (?)
.
.
.
.
.
A/N : ASTAGA BINGUNG MAU LANJUTIN CHAPTER 3 APA ENGGA. Hmm gimana ya, ini fic pertama Kei yang bikin Sakura gangguan jiwa. Soalnya, biar anti mainstream aja gitu.
Oke, silakan beri komentar kalian apa harus kulanjutkan/ tidak. Agak gantung sih... Tapi bingung juga mau lanjutinnya gimana... Terlalu complicated tapi yha, otakku penuh imajinasi gila, tenang guys.
Oke...
.
.
Review please!
.
Best regards,
PurpleLittleMoon
