*BLUSH* -muncul mirip jin jamban- Woy! Apdet nih! Apdet! Apdet! Seribu dapet satu! Gopek dapet dua! (?) *kibar-kibar kolor*

Muahaha~ gua balik lagi! Gomen ya ini apdetnya bolot banget... Gomengomengomen.. *salim-salimin readers*

Narator: Lu kayak orang aja lu. Pake salim-salim segala. Lebaran masih jaoh noh!

Author: *twitch* Heh sekata-kata ye! Gue tersungging nih!

Narator: Tersungging, tersungging. Lo belajar kosakata di kamus apa sih? Kamus dari jaman perang masih aja lo pake. Pantes lu cupu abis.

Author: Kurang ajiar! Kamus gue tuh titisan dari Eyang Subur ye!

Narator: Eyang Subur? Yang lagi booming (?) itu ya?

Author: bukan. Yang gue maksud tuh si Zetsu (?) dia kan rajin pake pupuk urea.

Narator: *Inner* Sejak kapan Zetsu punya kamus? *sweatdrop*

Eyang Subur a.k.a Zetsu: *muncul dari bawah Narator* grusak! Grusuk!

Author: Omaigat! Omaigat! O, mai, gat! *nari tor-tor* NaraZet swt.

Zettam: Putih, napa sih dia?

Zettih: meneketehe.

Readers: HOEY! MANA NIH FIC-NYA?! NGOCEH MULU LO AUTHOR BAWEL!

NaraZet: Mampus lo! Karma gara-gara kebiasaan bahagia-diatas-penderitaan-Narator-dan-Akatsuki! HIAHIAHAHA~! –tawa nista-

Readers: LO BERDUA JUGA! ZETSU! BALIK LO KE SAWAH! NARATOR! BALIK LO KE NERAKA! AUTHOR! MANA CERITANYAAAA?!

Author: Hiks, iye, iye~ awas sampe lu lu pada kagak ade yang ripiu! Nih, gue beri juga lu!

Disclaim : Kakek-kakek yang gak dibolehin mati sama Naruto lopers sebelum nyelesaiin naskah manganya. *slap no jutsu*

Author: Udah ketauan di atas, -_-

Narator: Orang gaje yang cuma ngikutin gue (Jongos no Narator). Dia nempel gara-gara kena virus 'Narsisme'.

Warning: Garing, kebanyakan minyak. Gak beda jauh sama last chapter.

***Hidanku (tak) Sayang, Hidanku (sangat) Malang 2***

_Past Story_

"Gue ada ide! Gimana kalo kita pake semua cara mengubur aja!" Zetsu putih usul.

"Serah lu deh. Gue ngikut aja~" Kakuzu pasrah. Yang lain angguk-angguk doang.

_Past Over_

Esok paginya di halaman depan hutan (?) #maksud tersirat.

#maksud tersurat halaman depan goa Akatsuki, semuanya pada sibuk sendirinya. Pein, Konan baru saja datang. Begitu pula dengan Itachi dan Kisame. Sedangkan yang lainnya sedang asyik mendekor.

"Ini udah siap semuanya?" Pein (dengan lagak sok berwibawa –padahal gak blas) berlaku sebagai leader. Sedangkan Konan lagi seru mengedarkan pandangan, ngeliat hasil kerja konco-konconya.

" Kain kafan, siap. Patung DJ, sudah. Lubang kubur, tinggal cemplungin mayit. Trus..." Sasori ngoceh sendiri, ngecekin persiapan. "Eng, ini kayu buat api unggunnya mana?"

"Ini, senpai! Tobi udah nyiapin kayunya!" pada tau kan yang ngomong barusan sapa? (ya iyalah, orang yang ngomong udah nyebut "Te-O-Be-I" tadi) yang gak tau lebih bego daripada Hidan –narator disambit- (nara: kok gue yang salah? Hidan: karena hidup lo emang penuh salah.)

"Oke, lo taruh sana aja. Hm, Api unggun, ada. Kemenyan..." Sasori nerusin ngabsen barang-barang.

"Muahaha~ un! Gue udah nyiapin jenis bom baru un! Khusus buat upacaranya Hidan un! Nyahaha~ un!" Deidara asik ngobok-ngobok lempung. Sedangkan dipojokan, ada seonggok mahluk titisan Mr. Frankenstein. lagi seru pundung.

"Hiee~ heehe~ ∏∩∏ -nangis ape ketawa?- Hiks.. pacar-pacar gue~ hiks.. Duitku tersanjung.." Kakuzu nangis sambil berkubang dalam genangan air seni –plak- air matanya, yang menyebabkan sebagian besar jahitannya longgar. Dia pundung dipojokan sambil garukin bisul tetangga.

"Ini emangnya abis berapa sih? Buat begini-beginian?" Pein semangat liat Kakuzu nangis –leader gila-

"Gak banyak sih. Cuma 200.000 ryo..." Itachi nyamber sambil minum air mata Kakuzu –Hoek, byor!- "Cih, asin! Kuz, air mata lo kurang tebu nih! Gue gak mau bayar!"

"Buset, buat apaan aja?" Konan membayangkan bila semua duit itu dibuat beli make up dan kertas. Inner,"Dapet berapa truk kertas ye.."

"Buat beli lempung un, beli kain kafan un, beli kayu un, bayar tukang gali kubur un, trus..." Deidara ngoceh sesuka jidat.

"Beli lempung?" Itachi heran. "Lo kan biasanya bikin sendiri?"

"Ini lempung limited edition spesial dari hutan amazon un," Deidara ngeles.

"Trus beli kain kafan, napa gak minta si Kuzu buat nenun? Dia kan masternya tukang jait.." Pein ngingetin.

"Dia kan lagi pundung un..."

"Itu juga, tukang gali kubur. Si Zetsu kan bisa buat lubang? Ato enggak lo bom aja kan ntar lobang?" Konan ikut nimbrung. "Kayunya juga, kan sekitar sini banyak.."

"Jangan lempung gue un! Kan udah gue bilang ini edisi limit un! Si Zetsu juga gak mau katanya kulitnya bisa kasar un. Tuh kembang alay un." Dei ngelirik Zetsu yang asik mereboisasi. "Dia juga bilang kalo pohon-pohon disini tuh sodaranya semua un."

"Hei, ini mana mayitnya?" Sasori tiba-tiba muncul di belakang Deidara. Deidara kaget setengah idup. "Un! Danna! Ngagetin aja un! Sebel deh un!"

"Apaan sih lu?" Sasori pindah di sebelahnya Itachi. Deidara patah hati.

"Mayitnya dimana nih?" sekali lagi, Sasori mengadakan siaran ulang.

"Hn? Hidan? Tadi udah gue sama Kisame bawa ke salon kebanggaan gue. Dia bakalan dirias biar lebih nyeremin." Itachi jawab sambil berleha-leha diatas batu.

"Oia, Kisame mana?" Pein celingukan mirip kebo ompong –rinengan aktif-

"Noh, dia lagi shock." Itachi nunjuk mahluk biru yang mojok gak jauh dari Kakuzu.

"Tumben. Kenapa? Gara-gara Hidan?" Konan kepo.

"Bukan. Tadi waktu Hidan dibawa ke salon kan mukanya ancur banget. Nah, waktu lewat depan akuarium, si koi langsung wafat." Itachi nyomot dango yang tadinya bakalan dibuat sesajen.

"Gara-gara ngeliat tampang Hidan un?" Deidara ikutan penasaran.

"Bukan. Tapi gara-gara si Kisame sok akrab nempelin mukanya ke akuarium, belagak mo cipika-cipiki. Eh... si koi malah mengambang dengan mulut berbusa." Itachi dengan entengnya mengenang kisah hidup Koi yang berakhir sadis.

"Eh, itu patung DJ buat apa?" Konan tersedot (?) –bosen nying pake tertarik mulu- pada simbol kalung Hidan, namun bentuknya bersungai-sungai lipat dari ukuran sebenarnya. Konan perlahan tapi pasti mendekati benda tersebut.

"Buat ngaben. Ntar Hidan dimasukin kedalemnya, trus dibakar mati-mati." Sasori menjelaskan dengan santai.

"Yang buat siapa nih? Bagus..." Sasori angkat ketiak tinggi-tinggi. Konan nyentuh patung, kedengaran bunyi kremeresek. "Dibuat dari apa?"

"Tadi bahannya Tobi ambil dari sampahnya Konan-senpai," Tobi nyaut.

"Sampah?" Konan terherman-herman. Inner, "perasaan kamar gue selalu bersih deh,"

"Ya semua kertas yang ada di kamar senpai. 0:D " Tobi dengan mulianya menjawab.

"APUAH?!" Daethglare Konan menyeruak keseantero jagad raya. Dalam sekejap Tobi sukses gantiin Hidan jadi mayat.

"Eh, dia mati juga?" Zetsu hitam menyikut Zetsu putih.

"Gak mungkin. Kalo dia mati ceritanya ganti." Zetsu putih menimpali dengan sok cool.

"Iya juga ya. Ini kan tentang Hidan." Zetsu hitam belagak bisa mikir –dilahap-

"Ah berisik lo pada un! Gitu aja didiskusiin un." Entah dengan sadar atau enggak, Deidara ngabekep Zetsu pake tangan kiri. Duo kanibal shocked, semua yang masih waras jawsdrop, sedangkan Deidara masih lola ngeliat tangan kirinya masih ngebekep Zetsu. Dei inner,"apa yang salah un?"

"Akhirnya, lo bisa move on juga dari gue..." Sasori terhura.

"Kalian bertiga napa masih sempet-sempetnya ber-mesum-ria disini ?! bikin napsu gue naik aja!" Pein sebagai ero-leader masang muka bete.

". . . . ." BRUAK! Konan pingsan. Pein panik.

"Ayang, jangan pingsan disini! Ayo bangun! Yang, ntar kalo gue cium kena rabies loh!" Pein ngoceh gak karu-karuan. Denger kalimat terakhir Konan langsung bangun.

"Amit-amit jabang kertas!" Konan maki Pein yang patah hati.

"Huwee~ inget yayang gue~" ternyata raungan-tak-indah tersebut bersumber dari Kakuzu dan Kisame, yang makin pundung dengan backsound 'ST12 – saat terakhir'. Mereka nerusin nangis gulung-gulung di lubang kubur.

"O/o" Zetsu masih shocked.

". . . . ." Deidara, bolot mode: on –author meledak-. Selang beberapa butir pasir jatuh dari jam pasir Akatsuki –akatsuki memang primitif-, dia baru nyadar. "GAAHK?!"

Dei narik tangan kirinya yang sibuk meng-kissu Zetsu secepat kilat. Muka Zetsu yang awalnya hitam-putih jadi merah, daun aloe vera-nya menguning, layu, kering, lalu gugur.

"...Putih..."

"...Iya hitam.."

"...bibir kita..."

"...udah gak perjaka lagi..." setelah ngomong begitu, mereka berdua kompak menyusul Hidan ke alam baka –eh- maksudnya mereka berdua langsung mati suri.

"Ahk?! Tangan gue! Kyaa~!" Deidara langsung sprint sambil kedua tangan diangkat keatas, keliling dunia ninja, dari sabang sampe merauke, berjajar pulau-pulau –slap no jutsu-

"Sumpe lo, sumpe lo, sumpe lo..." Itachi niruin Author di depan cerita, ngeliat Deidara yang ngepot mirip vespa butut, perlahan ngilang ditelen Zetsu –plak- eh, maksud ngilang di kejauhan. PeinKonSaso sweatdrop.

"Sumpah, udah gila semua anak buah gue." Pein berdecak kagum. Itachi mak-jleb.

"Sialan lu." Itachi langsung balik ke posisi normal, ngelirik Pein dengan Mangekyo sharingan mode: on. Pein sebagai leader (sesat) gak mau kalah, ngaktifin rinengannya. Selama beberapa butir jam pasir mereka berdua saling melotot, hampir-hampir mata kedua belah pihak mau melarikan diri dari posisi masing-masing. Konan menengahi 2 mata yang saling beradu pandang, berdiri ditengah-tengah mereka berdua. "Udah! Bikin gerah aja lo pada!"

Dengan terpaksa kedua kubu saling bubar. Dengan gerakan slow motion yang di fast forward (?) Itachi mendadak nendang Sasori. DUAKK!

"Aduh! Lo apaan sih?! Main tendang aja!" Sasori nyungsep dengan posisi yang sangat-tidak-elegan, mukanya nyium tanah. Dia meringis sambil ngelus pantatnya yang udah pindah keatas. "Sakit, baka! Lo pelampiasan kok ke gue sih?!"

"Eh, bukan salah gue ya! Tuh si narator yang suruh!" Itachi balik nyolot sambil nunjuk Narator yang bawa naskah.

"Eh, kok gue salah lagi?" Narator mulai mewek. "Tadi maksud gue nyikut bukan nendang..."

"Lo yang barusan baca naskahnya!" ItaSaso kompak ngalahin kekompakan Gai dan Lee.

"Tapi yang bikin cerita kan si Author... ∏∩∏" Narator dengan melasnya ngeles.

"Tetep aja yang baca lo!" Sekali lagi ItaSaso bersatu menindas Narator.

"Tapi kan—"

"Gak pake tapi-tapian! Yang salah elo ya elo! Sekali elo tetep elo! Hidup elo! Merdeka!" kali ini ItaSaso memojokkan Narator dengan semangat perjuangan 45 yang berapi-api. Dua member gila ini pun mulai kumat penyakit gajeness-nya (udah gaje, ngenes pula). Narator nangis bombay. #backsound: Geisha-selalu salah.

"Heleh, air mata tokek lu!" Itachi ignoring narator. Narator mak-jleb.

"Aku tak menangisimu, huhuhu~ lebih baik ku tertawa, hahaha~ meski kau telah lukai aku, nenek bilang, kuat-kuat~" Sasori ngebor di depan foto nenek Chiyo sambil ngelusin pantatnya yang masih nyeri efek dari tendang-no-jutsu nya Itachi. Itachi sweatdrop.

"Hoy! Kacau nih! Kacau! Mana benang merahnya?! Ayo lo semua, pada balik ke cerita! Ato gua sambit lo satu per satu! Mau lo?!" –Author nenteng bakiak bekas 17-an–

"Ganggu kegajean kita aja lu. Dasar author gaje!" ItaSaso bersatu kembali.

"Heh! Sekata-kata! Kalian para mahluk gaje gak usah menggajekan gue ya! Gue sama kalian lebih gajean kalian! Udah gaje, pake bergaje-gaje ria segala! Ini cerita gue yang emang gaje jadi makin gaje kan?!" *laris amat 'gaje'-nya* -_-"

"Bawel!" ItaSaso mulai lagi.

"Lo mau gue jadiin kayak Hidan heh?!" Author ngangkat clurit keramat kebanggaan Eyang Tandus.

"Kau hancurkan aku dengan sikapmu~ tak sadarkah kau telah menyakitiku~ lelah hati ini meyakinkanmu~ c'rita ini, membunuhkuuu~" tiba-tiba narator jawab dari tempatnya pundung #NaratorMasivers.

"Gaah! Demi Deidara yang sebenernya cowok! Lo kenapa ikutan gaje sih?! Ini tuh Akatsuki gaje fanfic-HSHM! Bukan High School Musical! Udah semuanya, balik ke cerita!" Dengan merampas mesin waktu Doraemon yang lagi dipake, Author mengembalikan beberapa butir pasir kesisi atas jam pasir.

Sementara itu...

"Woaa! Dorameon! Eh, Doraemon! Ini mana mesin waktunya tadi?" seorang cowok cupu berbaju kuning berlari keliling-keliling panik mirip orang kebelet BeABe.

"Tadi disini! Aku gak tau kok ngilang! Mana satu-satunya lagi!" Robot musang ekor bundel (bukan ekor 9) bernama Doraemon ikutan panik. Dibelakangnya ada 3 mahluk lain yang gak kalah panik.

"Trus gimana nih?" couple Suneo dan Giant mewek.

"Tunggu, tadi aku liat ada orang gaje yang di jidatnya ada sign 'Muahaha~' yang menyala di jidatnya kesini. Trus gak lama dia ngacir sambil bawa sesuatu!" seorang cewek –emang satu-satunya cewek- nginget sesuatu.

"Pasti dia pelakunya!" Doraemon yakin. "Tapi udah gak terkejar lagi..."

"Gimana dong?" semua min. Dora tanya kepo.

"Yah... kita gak bisa pulang." Doraemon pasrah. Beberapa detik kemudian semuanya kejang-kejang dengan mulut berbusa –ini shocked atau keracunan?-

_Back to the Story_

"Eh, Sas, lo dilupain tuh sama Deidara." Itachi nyikut Sasori. Kali ini Itachi melakukan perannya dengan benar.

"Biarlah. Aku terima... Dengan ini saya menyatakan bahwa Indonesia merdeka (?)" Sasori bahagia dunia akhirat, tebar-tebar lempungnya Deidara yang tadi ditinggal bergosip.

"Udahan gaje-nya! Kayaknya Hidan udah selesai. Kalian berdua, jemput Hidan dari salon biar acaranya cepet kelar!" Pein mengkomando jongos-jongosnya. –Author ditawur-

"Kok kita sih?" Itachi protes.

"Kita? Lo aja kali gue enggak." Sasori nyolot sok jual mahal. ItaPeinKon sweatdrop.

Konan inner, "Ini organisasi banyak cowoknya, tapi napa pada cerewet + lebay semua sih? Gak macho sama sekaleh."

"Hadeh, lo gak liat apa, yang masih waras disini tuh cuma gue, elo, elo, sama Konan!" Pein mulai naik darah.

"Emangnya yang lain pada kemana?" Mengandalkan muka polos (bukan tanpa mata-hidung-mulut ya),Sasori dengan begonya nanya.

"Haduh, mahluk ini..." Pein nepok jidat Itachi, Itachi mental jauh. "Lo tadi abis diapain sih sama Author?"

"Dikasih pencerahan kalo Deidara itu cowok," –Author gigit tembok- Kali ini Sasori jawab dengan muka bermotif polkadot.

Author inner, "Aish, nih bocah, gue telen juga lo!"

"Eh, Itachi-san mana?" Konan tersadar, celingukan nyari kakek bersharingan itu. –diamaterasu-

"Tadi kan abis ditabok sama ero-leader... Tauk tuh mental kemana." Sasori cuek. Pein yang mendapat julukan baru, yang diturunkan dari gurunya, masang deathglare-yang-terabaikan ke Sasori.

"Wah, duh, shinra tensei gue gak sengaja keluar." Pein berbisik pada diri sendiri ( leader gila =_="). Dengan tatapan miris Pein menatap Itachi yang terkapar. Tiba-tiba Deidara kembali dari kegiatan berlari-keliling-dunia-ninja-dengan-bertingkah-lay aknya-orgil.

"Lah, kok pada tepar un?" Dei bingung ngeliat halaman yang cuma ada Pein, Konan, Sasori dan peralatan upacara kematian Hidan yang meriah. Sedangkan yang lain sedang terjangkit virus gajeness yang ditularkan oleh Narator. ItaZetTob masih mati suri, sedangkan KakuKisa masih aktif membanjiri liang kubur dengan air mata. Sekarang liang itu berubah menjadi kolam hiu dan zombie.

"Nah, kebetulan lo balik. Cepet gih pungut Hidan dari salon. Bareng Sasori." Pein main perintah ke Deidara.

"Apha? Gak! Jangan sama gue! Entar gue dikira balikan ama dia lagi. Iyuuwh... najong bagong jigong ye.." Sasori ngeles mulu kalo dikasih tugas -_-

"Danna kenapa sih kejem banget kalo sama gue un... ∏∩∏" Deidara termehek-mehek.

"Bodo." Sasori bales Dei, cuek dan termelet-melet. PeinKon cuma cengo ngeliat kelakuan tim separtner itu.

"Kalian tuh kapan akurnya sih?! Udah, cepetan berangkat sana ntar keburu mati semua nih anak buah gue!"

"Um, leader-sama un," Deidara keliatan ragu-ragu.

"Ape lagi sih lu?! Lu mau gue ledakin?!" Pein naik darah –ini yang sebenernya punya bom sapa?-

"Ng, kita gak tau tempatnya un.." Dei mengingatkan Pein yang langsung menerapkan 'gubrak-no-jutsu'

"Bukannya lo suka nguntit Itachi kalo dia kesana ya?" Konan mengenang setiap usaha gagal Deidara yang mengemis pada Itachi agar dibolehin ikut ke salon.

"Enggak un, gue nguntit gak pernah sampe tempatnya un. Pas ditengah jalan dia mesti kasih gue genjutsu un.." Deidara menjawab dengan wajah paling mirisnya. Pein dan Sasori cuma geleng-geleng takjub. "Ckckck, kasihan.."

"Pein, lo kan leadernya! Kasih solusi dong!" Konan sewot.

"Apa sih 'yang?" Pein ganjen mode: on.

"Sayang, sayang, gigi lu berjigong? Lu gak liat nih semuanya pada gaje?" Konan gantiin Pein naik darah.

"Lah terus? Gue musti ngapain?" dengan ke-bego-annya yang mencapai tingkat dewa-dewi khayangan dan Jaka Tarub (?) Pein ngeladenin Konan.

"Lo gimana sih? Laeder kok cuma haha-hihi doang! Lo sadarin kek, gimana kek, terserah. Biar nih cerita cepet kelar!" Konan diatas dunia (?). Pein mikir bentar.

"Iya, ya. Kalo mbulet gini terus bisa-bisa gue kena bully. Oke." Pein melangkah ketengah-tengah lautan kegajean. Tiba-tiba dia teriak memecahkan dinding gua. "WOY! GUSUR! GUSUR! GUBRAKAN! SATPOL PP! BANGUN! BANGUN! BANCI MINGGAT!" –Pein, lo jenius-

Pein memulai dengan frontal + gaje abal-abal. Deidara yang denger 2 kata terakhir langsung ngacir, mengulangi tawaf-berkeliling-markas-akatsuki-yang-ukuran-2x1m . *lo pikir?*

Konan yang ngeliat kelakuan Pein cuma jawsdropped. Semua member tersadar dari aksi gaje mereka. KakuKisa mentas (selesai berendam-javanese) dari kolam liang kubur dan ItaZetTob bangkit dari mati suri tanpa edo tensei.

"APA? APA?! MANA SATPOL PP?! SERAHIN DEIDARA!" Akatsuki –PeinKonDei kompak teriak. Lalu mereka menjunjung Deidara keatas lalu mengaraknya kesana-kemari. PeinKon gubrak mode: on. Sedangkan Deidara yang diangkat para member gila layaknya merayakan victory, nangis kejer.

"Enggak un! Gue gak mau un~! Gue bukan banci un~!"

"Waduh, makin kacau aja nih cerita! Udah, kalian pergi ke salon, jemput Hidan! Biar nih fic cepet bubar!" Pein kewalahan ngeladeni para member organisasi sesatnya. Setelah menerima perintah Pein, semua member minus PeinKon pada grusukan minggat. "Leh, mo kemana semua?"

"Katanya disuruh nyusul Hidan..." Zetsu putih mengingatkan. Pein swt.

"Ya gak semuanya juga kalee... udah, ini yang tau jalan kesana siapa?" Tiba-tiba Tobi ngangkat tangan Itachi tinggi-tinggi.

"Lo tau tempatnya Tob?" Zetsu hitam terheran-heran.

"Engga," Tobi meringis dibalik topeng.

"Kok lo angkat tangan Itachi?" Kakuzu ikutan herman (?).

"Soalnya Itachi-senpai yang tau tempatnya." Tobi menjawab dengan wajah penuh dosa.

"Trus napa lo ngangkat tangan gue?" Itachi ngamber tangannya yang lurus keatas, membuat ketiaknya terbuka dan menebarkan bau sangit.

"Ya gak papa... kirain senpai gak bisa angkat tangan.. 0:)" sesaat kemudian Tobi dikirim ke dimensi lain sama Itachi. Miris.

"Ya ampun... tobat gue... Dewa Jashin, ampuni hamba... (?)" Pein pasrah ngeliat kelakuan anak buahnya.

Author: Ehem, gaje nih.. ¬_¬

Pein: namanya juga Akatsuki Gaje fanfic... ┐(‾⁰‾)┌

Author: Iya juga ya. Tumben otak lo jalan –plak- coba sih, lo itung anak buah lo.

Pein: ? nengok seonggok mahluk purba didepannya 1.. 2.. 3... 4.. 5..

Author: Hah, Pein! (°ʃƪ°!) ternyata lo bisa itung-itungan juga! *takjub*

Pein: lo ngehina gue? ¬_¬ *sweatdrop*

Author: Yak, balik ke cerita! *ignore Pein* (^0^)/

Pein inner, "rese' nih author. Gue sikat aja ato gimana ya?"

"Yaudah, kita lupain aja si Author. Kalo gitu, Itachi, Kisame, lo ke salon, ngambil Hidan!" Pein back to the topic.

"Aye, kapten! Ayo Kis!" itachi narik tangan Kisame. Kisame cuma nangis kejer teringat si koi, kayak Sasori waktu diajak pulang dari toko boneka. Sekejap kemudian, tim separtner itu menghilang dari pandangan.

***TBC***

Ckckck, cerita yang aneh. Menyedihkan.

Minna, sekali lagi gomen nee, soalnya ceritanya udah telat, kebanyakan, bersambung lagi. Ini kebanyakan mikir cara ngedapetin kompu-chan, jadi lupa endingnya gimana. Tapi tenang, gue udah konsep kok endingnya. Jadi, dimohon ripiunya nee..

Support please! Review juga ya! Yang gak review berarti sumbing! Cepetan, tulis reviewnya dibawah ! ↓↓↓