Real Little Ghost Girl (chapter 2)

Disclaimer

Baa-chan©Masashi Kishimoto

StoryBy©MisaAnaru

Pairing. : SasuNaru/SasuSaku/ItaNaru/

Warning : OOC chara, Typo (s), Yaoi, (anti Yaoi? Silahkan tinggalkan laman ini!)

Rated : T (belum cukup umur untuk M)

Genre : Romance / Horror

~Chibi Naruko~

.

.

.

Summary :

Awalnya Namikaze Naruto (18) tidak percaya akan pertemuan dirinya dengan arwah gadis kecil yang meminta pertolongan padanya, pertemuan saat musim panas itulah yang membawa sang Namikaze menuju sebuah gerbang kehidupan yang sangat rumit. Dirinya harus menghadapi kenyataan dimana arwah gadis kecil itu telah membawanya ke dalam kehidupan barunya.

.

.

.

YOU AND YOUR OLDER BROTHER

.

.

.

Someone's Dream

Seorang bocah kecil terlihat tengah menangis dibawah pohon sakura di musim semi. Bocah yang baru berusia 4 tahun itu, duduk memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya. Helaian bunga-bunga sakura berjatuhan menimpa kepalanya membentuk sebuah mahkota. Namun, dia tidak menyadari hal itu.

"Huhuhu Tou-chan..kenapa Tou-chan pelgi" tangisan anak kecil itu terdengar sangat menyayat hati. Bayangkan saja, seorang balita menangis memanggil orang tuanya di hadapan mu, apa yang akan kau lakukan? Menghiburnya kah? Atau malah melewatinya dan tidak mempedulikan nya? Hey, dimana rasa kemanusian mu?

"Hey, kamu kenapa princess?" Tanya seorang bocah laki-laki yang lebih tua dari bocah bersurai blonde itu.

Bocah bersurai raven spike itu pun menyamakan posisinya di samping si blonde. Tanpa rasa takut, bocah laki-laki itu menarik dagu sang Princess, agar princess nya menatap dirinya.

Tatapan mereka berjumpa.

Onyx dan Sapphire..

Dua warna batu berharga itu saling berjumpa. Sang Black onyx yang melambangkan perlindungan dan Sang Blue Sapphire yang melambangkan keteduhan saling berbaur. Sang Onyx terpesona dengan kecantikan Blue eyes itu. Sedang sang blue eyes yang menatap Onyx, seakan terperosok masuk ke dalam lubang hitam dan tidak akan bisa keluar dengan mudahnya.

"Cantik" gumam sang bocah Raven. "Telimakacih, Pangelan juga tampan" Puji sang bocah blonde.

"Nanti kalau sudah besar, menikah saja sama pangeran ya" Usul sang Raven. "Aku? Jadi, mempelai pangelan?" Tanya bocah blonde itu. Bocah raven itu mengangguk membenarkan pertanyaan balita yang berada 3 tahun dibawahnya itu.

"Ini, Pangeran pakaikan ya" Ujar sang pangeran seraya memasukan sebuah cincin berlambang kipas tradisional jepang ke jari manis sang princess. "Plincess mempelai pangelan" Timpal sang blonde. "Iya, Princess mempelai pangeran" Kata sang pangeran.

Cupp..

Sang pangeran pun mencuri ciuman pertama dari sang putri. "Pangeran pergi dulu ya" pamit sang pangeran.

End Of Someone's Dream

"Pangeran..Pangeran.. Jangan pergi! Hiks.." Igau seorang pemuda bersurai blonde. "To..Naruto.." Seru seorang wanita bersurai merah-membangunkan sang blonde, dengan cara menepuk pelan pipi keponakannya itu.

"Hey, bangun!" Seru wanita yang baru berusia 30 tahun itu. Wanita bernama karin itu, terus menepuk pelan hingga Naruto tersadar. Pemuda manis itu memang sering mengigaukan dan menyebut nama 'Pangeran'. Karin, penasaran dengan apa yang telah di mimpikan keponakannya itu.

"PANGERAN!" Teriak Naruto histeris.

Duggg..

"Wadaawww.." Pekik Naruto, ketika merasakan jitakan yang dihadiahi oleh sang bibi. "Pangeran..Pangeran..jangan pergi pangeran" Goda Karin. Naruto blushing sendiri mendengar sang bibi yang terus menggodanya itu.

"Siapa itu PANGERAN?" Tanya sang bibi dengan nada menggodanya. "Hehehehe, tidak ada kok" dusta Naruto. Karin menggeleng pelan dan beranjak dari posisi nya yang semula duduk di pinggir kasur Queen size milik Naruto.

"Sudah, mandi sana!" Titah Karin sambil melenggang pergi meninggalkan kamar Naruto. "Ada-ada saja" Gumam Karin.

.

.

.

.

Pikiran bingung mulai menyeruak otaknya saat memikirkan cara yang tepat, untuk membantu 'hantu' gadis cilik itu. Tak dipedulikan gemercik air shower yang membasahi tubuhnya itu. "Nii-san, Ba-san berambut merah tadi itu siapa?" Tanya Naruko yang tengah duduk diatas wastafel, sambil memangku dagunya dengan kedua tangan mungilnya. "Itu tadi Karin Ba-chan" jawab Naruto seraya menuang shampo ke telapak tangannya.

"Ruko gak kenal" Gumam Naruko. Naruto tertawa pelan menanggapi perkataan Naruko. Amat lucu baginya, bagaimana bisa Naruko kenal siapa karin, sedangkan mereka belum pernah berkenalan sebelumnya. "Gimana kamu mau kenal? Kamu kan belum kenalan" canda Naruto seraya memijat pelan kepalanya.

"Eh, benar juga ya" beo Naruko, seakan baru menyadari kebodohannya itu. "Ruko-chan, kalau Nii-san boleh tau. Kamu itu meninggal kenapa?" Tanya Naruto. Naruko pun memasang pose berpikir-mengingat-ingat 'kapan dan mengapa' dia meninggal.

"Ruko, meninggal 5 tahun yang lalu Nii-san. Kalau sebab akibat Ruko meninggal, Ruko gak tahu" Jelas Ruko. "Jadi, Ruko lupa?" Tanya Naruto (lagi). "Semua orang yang meninggal itu akan melupakan apa yang telah mereka lakukan semasa hidupnya" Dusta Naruko sambil memilin pelan bawahan gaun berwarna putih gadingnya itu.

Naruto terkesiap mendengar perkataan Naruko. Air mata mulai menganak sungai di pipi chubby nya. Pancuran air shower membasahi tubuhnya bercambur air mata yang menetes dari kedua iris sapphire nya itu. Dia takut dengan apa yang dikatakan Naruko barusan. Dia tidak berani jika, apa yang dikatakan Naruko benar-benar terjadi. 'Apa Kaa-chan dan Tou-chan juga akan melupakan ku?' Tanya nya dalam hati.

"Maafkan Ruko, Nii-san" Lirih Naruko.

.

.

.

.

* Skip Time *

"Kalau kau seperti ini terus, kapan kau bisa jadi dewasa?" Tanya seorang pria dewasa bersurai raven, kepada putra keduanya yang kini baru berusia 21 tahun itu. Pria bernama lengkap Uchiha Fugaku tak habis pikir dengan putra bungsunya. Bagaimana tidak? Tingkahnya yang terbilang bad boy itu benar-benar membuat sang kepala keluarga dibuat pusing 7 keliling.

Sudah 5 tahun belakang ini, Sasuke tak henti-hentinya ber-ulah. Tak ada hari tanpa 'ulah'. Sasuke juga sering bolak-balik masuk kantor polisi. Beruntunglah Sasuke terlahir dari keluarga kaya raya, jika tidak habislah dia di dalam sel penjara. Ayahnya selalu membayar para polisi supaya putra nya itu tidak di jebloskan ke dalam penjara.

Jika dilihat-lihat, semua kebutuhan Sasuke dan keinginan Sasuke selalu terpenuhi oleh sang ayah. Bahkan, sebelum Sasuke meminta pun, pasti sang ayah akan selalu mencukupinya. Kurang apa lagi sih , Fugaku itu? Sepertinya manusia Teme ini tidak pernah menghargai perjuangan kedua orang tuanya itu.

"Hn" jawab Sasuke-masih sibuk dengan iPod miliknya. Tak ada niat untuk melepaskan earphone dari kedua telinganya itu. Sang ayah hanya menghela nafas, melihat tingkah laku putra keduanya itu. "Apa Tou-san sudah selesai? Aku sibuk, tak ada waktu untuk ini" Kata Sasuke benar-benar tidak sopan kepada ayahnya.

Fugaku memijat pangkal hidungnya menghadapi Sasuke. Benarkah selama ini ia salah dalam mengasuh putranya itu? Kalau salah, dimana kesalahannya? Kenapa hanya Sasuke yang menjadi pembangkang seperti ini? Meskipun putra pertamanya, Uchiha Itachi masih bisa diandalkan. Namun baginya, ia sudah gagal dalam mengasuh anak-anaknya.

.

.

.

.

Sasuke mempercepat langkahnya, ia terlihat tergesa-gesa untuk segera keluar dari kantor milik ayahnya. Karena, hal inikah ia dipanggil? Kenapa ayahnya selalu membuang-buang waktu berharga miliknya?

Dihiraukannya sapaan-sapaan ramah dari pegawai-pegawai wanita yang bekerja di kantor sang ayah. Dibanding mendengarkan sapaan dari pegawai-pegawai wanita itu, Sasuke lebih memilih mendengarkan alunan musik melalui earphone miliknya dengan volume yang keras. Semua karyawan dan karyawati, menggeleng pelan melihat tingkah laku tuan muda mereka.

Bruukk..

"Ittaii" ringis seorang pemuda bersurai blonde yang terjatuh ke lantai, dengan sangat tidak elit itu. Semua pandangan tertuju padanya. "Ck, Idiot" Decak pemuda bersurai raven kesal, malu dan dicampur rasa sakit di bagian bokongnya itu.

Pemuda blonde, bernama lengkap Naruto itu segera bangun dan menatap kesal pemuda raven yang sudah menabrak nya itu.

"Siapa yang idiot? Dasar teme!" Sahut Naruto, masih setia mengelus pelan bokongnya yang berbenturan dengan lantai. "Sakit tahu" Kata Naruto. "Dasar cengeng" cibir Sasuke. Tidak terima dengan cibiran Sasuke, Naruto segera menarik kerah baju pemuda yang lebih tinggi darinya itu.

Deg..

Kedua iris berbeda warna itu saling berjumpa. Jantung kedua pemuda itu mulai berdebar-debar. Seakan ada suatu perasaan yang menyeruak masuk ke rongga dada kedua pemuda itu.

Tatap..

Tatap..

Tat-

"KAU, Dobe/Teme!" Seru mereka bersamaan.

"Cih" Decih mereka berbarengan (lagi). "Apa yang kau lakukan disini, hah?" Tanya Sasuke 'sok' jaim. Padahal hatinya sudah sangat bahagia, melihat kedatangan pemuda yang akhir-akhir ini menjadi trending topic dalam pikirannya itu.

"Aku kesini mau bertemu dengan Itachi-san" Jawab Naruto, bangga. 'Cih, kenapa harus Aniki keriput itu sih?' Tanya Sasuke dalam hati. Ia kesal sekali, kenapa harus kakaknya yang dicari oleh calon kekasihnya (uke) itu. "Aniki sedang tidak ada" Kata Sasuke membuat kedatangan Naruto menjadi sia-sia.

Naruto pun terlihat sangat murung mendengar bahwa orang yang ia cari tidak sedang berada di tempat. Ia merasa bahwa perjuangannya datang jauh-jauh, tidak ada hasilnya sama sekali. "Aniki sedang pergi dengan kekasihnya" Dusta Sasuke, sengaja memanas-manasi Naruto.

"Itachi-san, sudah punya pacar ya" Gumam Naruto. "Tentu saja, Aniki sudah punya-"

"Punya apa Sasuke?" Tanya Itachi, menyela perkataan sang adik. Sasuke mendelik tajam melihat kedatangan kakaknya. Naruto segera menoleh kebelakang, dan menemukan sosok Itachi yang berdiri tegap di belakangnya.

"Itachi-san" Beo Naruto.

Itachi mengulas senyum 'malaikat' andalannya dan membuat Naruto blushing. "Tadi Genma-san bilang jika ada Namikaze-san mencari ku, jadi aku sengaja ke bawah untuk menyambut kedatangan anda Namikaze-san" Jelas Itachi seraya mencium punggung tangan Naruto.

"Cih" Decih Sasuke.

Melihat keakraban sang kakak dengan pemuda 'incaran' nya itu Sasuke sangat kesal dan cemburu pada aniki nya. Aura hitam yang keluar dari dirinya, membuat para karyawan dan karyawati yang berpas-pas'an dengannya bergidik ngeri.

"Si teme itu kenapa" Gumam Naruto. "Namanya Sasuke, dia adik ku Namikaze-san" jelas Itachi-menahan tawa mendengar nama panggilan baru untuk sang adik. "Ah, begitu ya. Itachi-san, aku Namikaze Naruto" Kata Naruto sambil memperkenalkan dirinya.

.

.

.

.

Itachi menatap kedua iris sapphire seorang pemuda di hadapannya kini. Mencoba mencari kejujuran dari pemuda 6 tahun dibawahnya itu. Itachi yakin Naruto (pemuda itu) tidak berbohong padanya, akan tetapi dia masih ragu dengan penjelasan Naruto. Kini, keduanya sedang berada di sebuah cafe menikmati hidangan yang telah mereka pesan, sambil berbincang-bincang.

"Mungkin ini sangat sulit, tapi aku tidak bohong tentang ini Itachi-san" Ujar Naruto berusaha meyakinkan Uchiha Sulung itu. "Aku memang belum bisa melupakan adik bungsu ku itu Naruto-san" Kata Itachi, menerawang kosong ke arah jalanan.

"terkadang ada sebuah hal di luar nalar yang kita tidak tahu kapan itu terjadi" Jelas Naruto.

"Naruko adalah anak yang sangat ceria semasa hidupnya dulu" Lirih Itachi. Naruto tertegun mendengar cerita mengenai Naruko semasa hidupnya. "Dia meninggal 5 tahun yang lalu. Bukan begitu Itachi-san?" Tanya Naruto-sedikit berhati-hati dengan ucapannya.

"Kau benar, saat itu adalah hari yang menyedihkan untuk kami sekeluarga" Jelas Itachi.

"Dan yang membuat ku terkejut ketika melihat diri mu, yang begitu mirip dengan mendiang Naruko" tambahnya.

Naruto tersentak mendengar perkataan Itachi. Apa karena mereka mirip, Naruko memilih dirinya untuk membantu 'roh' nya kembali ke surga? Naruto menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan pikiran anehnya itu.

"Apa dia ada di sini, Naruto-san?" Tanya Itachi, seraya menyeruput kopi miliknya. Naruto menoleh ke samping kanannya, dimana Naruko berada. "Ya, dia ada di sini" Jawab Naruto. "Katakan padanya jika aku sangat merindukannya" Pinta Itachi, kepada Naruto.

"Jadi, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" Tanya Naruto. Itachi menggelengkan kepalanya, tidak tahu langkah apa yang harus mereka ambil. "Mungkin, jika Naruko mengatakan apa yang ia inginkan itu akan mempercepat kepulangannya ke surga" Timpal Itachi.

"Anda harus mengikhlaskan kepergiannya Itachi-san" Ujar Naruto. "Aku akan mencoba" Gumam Itachi. "Kita akan berjuang bersama, Naruko sendiri sudah ku anggap sebagai adik kandung ku" Naruto berkata.

.

.

.

.

Di lain tempat

Seorang wanita bersurai raven tengah memandang kosong keluar jendela. Wajah cantiknya itu nampak pucat dibanding sebelumnya. Hidupnya terasa hampa, seakan tak ada lagi niatnya untuk menjalani hidup.

"Hiks.." Isakan kecil itu terdengar memecah keheningan malam. Hatinya sakit, jika harus mengingat kejadian dimana ia harus kehilangan sosok 'malaikat' kecil nya itu. Sejak kejadian itu, ia selalu mengurung diri di kamar, dan menghindar orang-orang disekitarnya.

Dipeluknya erat sebuah boneka teddy bear berwarna orange. Sebuah boneka yang selalu berada di pangkuannya itu. "Hiks..Maafkan kaa-san, sayang" lirih wanita bernama lengkap Uchiha Mikoto itu.

Tanpa Mikoto sadari, salah satu dari putra nya mengintip dari balik pintu kamarnya. Melihat kondisi sang ibu yang kian hari kian parah itu, membuat hati Sasuke miris. Ia sangat merindukan sosok kelembutan sang ibu. Dimana dulu sang ibu, selalu menyambut dirinya saat tiba di rumah, dimana sang ibu mengecup keningnya saat dia tengah bersedih, dimana sang ibu selalu membuatkan makanan untuk dirinya. Sasuke benar-benar merindukan semua tentang sang ibu.

"Kaa-san" sapa Sasuke pada sang ibu. Sasuke baru saja hendak mendekati sosok sang ibu yang tengah duduk di kursi roda miliknya itu. "JANGAN MENDEKAT!" Seru sang ibu, menolak kehadiran putra keduanya itu.

"Kaa-san" lirih Sasuke.

"Ku bilang jangan mendekat!"

Tak terasa pemuda bersurai raven itu meneteskan air matanya. Sakit, hancur, marah, bersalah, itulah yang kini ia rasakan. "Sebegitu bencinya Kaa-san pada ku?" Tanya Sasuke. Mikoto hanya diam tidak menjawab. "Hahahahahahaha" tawa miris terdengar dari bibir putra keduanya itu.

"Aku memang tak pernah bisa menjadi seperti Itachi dan malaikat kecil mu itu" Ujar Sasuke. Sasuke pun merebut paksa boneka teddy bear milik mendiang adik kecilnya itu dari sang ibu. "Kau mau apa Sasuke? Kau mau apa? Jangan, ku mohon" pinta sang ibu.

Boneka beruang berwarna jingga itu pun akhirnya jatuh ke tangan Uchiha kedua itu. "Kembalikan boneka itu Sasuke!" Seru sang ibu. Sasuke menulikan telinganya, dan bergegas pergi meninggalkan kamar ibunya.

Brakk..

Sasuke menutup kasar pintu kamar nya. Sakit, itulah yang ia rasakan. Kenapa ibunya tak pernah menganggap keberadaannya? Seakan dia hanyalah seorang anak yang terbuang. Jika dirinya hanya menjadi anak yang dibenci sang ibu, lalu kenapa dulu Mikoto melahirkannya? Kenapa tidak dibunuh saja saat dia masih dalam kandungan?

"Aaaargggggghhh" teriak Sasuke sambil menjambak rambut raven spike miliknya itu.

Tubuh setinggi 181cm itu merosot jatuh ke lantai. Kondisi kamar yang gelap, menambah kesan suram di dalam kamar Sasuke. Ia terlihat frustasi kali ini. Tak ingat lagi, apa artinya ia hidup di dunia ini. Kenapa semua orang masih menyalahkan dirinya atas kematian sang adik? Kenapa?

Begitu jahatnya kah dia, hingga ia tega membunuh sang adik?

Tiba-tiba saja bayangan mendiang sang adik muncul di depannya. Khayalan akan rasa benci nya pada sang adik begitu kuat, sehingga sosok sang adik nampak tengah menertawainya.

"Hahahaha...hahahahah.. Nii-chan payah" ejek bayangan itu. Sosok seorang gadis kecil yang sangat familiar itu terlihat tengah menertawai kelemahannya itu. "Sudah puas kau Naruko?" Tanya Sasuke. "Hahahahaha." Sosok berbaju merah itu tertawa amat bahagia. "Kau bahagia sekarang? Bersyukurlah kau sudah mati sekarang!" Seru Sasuke. "Hahahahaha" "hentikan tawa bodoh mu itu Ruko!" Seru Sasuke (lagi) seraya menutup kedua telinganya.

Cklek..

"Sasuke" Seru Itachi yang membuka pintu kamar sang adik. Sasuke segera menoleh ke arah pintu, dimana sang kakak yang tengah mencari tombol lampu. "Aniki" Sahut Sasuke. Setelah berhasil menemukan tombol lampu, Itachi pun segera menyalakan lampu di kamar Sasuke.

Menemukan sang adik yang tengah terduduk lemas, dengan sebuah boneka kesayangan mendiang adik perempuannya. "Sasuke" pekik Itachi. Itachi menghampiri sang adik dan memapah tubuh Sasuke menuju tempat tidur.

"Apa yang terjadi?" Tanya Itachi seraya menyelimuti tubuh adiknya. "Tinggalkan aku sendiri!" Pinta Sasuke.

.

.

.

.

"Nii-san, kemarin itu Itachi-nii benar-benar sudah punya pacar tidak sih?" Tanya Naruko. "Entahlah" jawab Naruto sekenanya. Mendengar bahwa Itachi sudah memiliki seorang kekasih, Naruto merasa kecewa. "Kenapa tidak Ruko cari-cari saja Informasi mengenai pacar Aniki nya Ruko" Usul Naruto memfokuskan matanya ke arah iPod touch miliknya.

"Nii-san" seru Naruko sambil melangkahkan kakinya mendekati Naruto. "Ya" sahut Naruto. Naruto menatap heran, Naruko yang menekuk dalam-dalam wajah manisnya. Dipilinnya bawahan gaun putih miliknya itu. "Ruko-chan kenapa?" Tanya Naruto. "Hiks" isakan kecil mulai terdengar di antara mereka.

"Ru-"

"Nii-san, tolong temui Sasu-nii" Sela Naruko, seraya berlari menembus dinding. "Hey.." Seru Naruto takut jika ada apa-apa pada gadis cilik yang sudah ia anggap sebagai adik itu. Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Dia itukan hantu, mana mungkin bisa terluka" gumam Naruto.

"Sasu-nii" beo Naruto. "Siapa itu Sasu-nii?" Tanya Naruto, entah pada siapa.

Skip Time

Dengan balutan blazer berwarna abu-abu, Naruto berjalan menembus gelap nya malam di tengah-tengah kota. Cuaca di kota Konoha akhir-akhir ini memang sedang tidak menentu. Naruto membetulkan kembali letak syalnya yang berantakan akibat terpaan angin yang lumayan kencang.

Naruto melirik arloji yang terpasang manis di tangan kirinya itu. "Ini, kali pertamaku keluar rumah di malam hari" gumam Naruto.

Wusshhh

Hembusan angin malam menerpa wajah tan manisnya itu. Dingin, padahal ia sudah memakai baju lengan panjang dan sebuah blazer yang menjadi andalannya, ketika rasa dingin menusuk tulangnya.

"Hay, manis sedang apa malam-malam sendiri?" Tanya seorang laki-laki hidung belang kepada dirinya. Naruto segera menoleh ke belakang, dan menemukan 3 orang pria bertampang suram yang baru saja menggodanya itu. Naruto bergidik ngeri, se-iring mendekatnya 3 pria itu.

'Kami-sama, tolong aku' batin Naruto.

Disebuah tempat yang tak jauh dari kejadian itu, 4 orang pemuda terlihat tengah menikmati suasana jam malam, yang hanya dinikmati oleh orang-orang diatas 20 tahun. "Aku seperti mendengar suara minta tolong seseorang" kata seorang pemuda bersurai raven dengan model pantat ayam. "Oh, ayolah. Jangan 'sok' jadi anak indigo" cibir pemuda bersurai coklat panjang.

"Tidak. Aku serius!" Ujar pemuda (bokong ayam) itu. "Hahahahahaha, uhuk..uhukk..kau serius?" Tanya pemuda bersurai ikat nanas menimpali sahabat masa kecilnya itu. Pemuda bernama Uchiha Sasuke itu segera menghilangkan pemikirannya yang sangat tak wajar.

'Tolong' teriakakn minta tolong lagi-lagi tak bisa enyah dari pikiran pemuda Uchiha itu.

Neji, Shikamaru dan Utakata (sahabat Sasuke yang baru saja pulang dari Amerika) menatap bingung sahabatnya itu. Tak biasanya Sasuke nampak kacau seperti sekarang ini. Jika itu tentang sang ibu, bahkan Sasuke tidak akan pernah terlihat sekacau ini.

"Ada apa dengannya?" Bisik Utakata.

Neji dan Shikamaru hanya mengangkat bahu, pertanda tidak tahu apa yang terjadi dengan Sasuke.

Sasuke segera bergegas menuju toilet, hendak menghindari suara dentuman musik yang dimainkan oleh para Dj. "Nii-chan" tegur seorang gadis kecil yang tiba-tiba saja muncul diatas wastafel, dimana Uchiha muda itu hendak mencuci muka.

"Astaga" Pekik Sasuke.

Ia terkejut melihat sosok mendiang sang adik yang muncul di hadapannya itu. "Mau apa kau?" Tanya Sasuke dengan nada datar. Gadis kecil itu pun menjentikan jarinya.

Suara minta tolong itu pun terdengar kembali. "Kau.." Geram Sasuke-Kesal. Menghindari amukan sang kakak, gadis kecil itu pun menghilang, meninggalkan sang kakak yang terlihat sangat frustasi. Sasuke menidurkan kepalanya ke pinggirang wastafel.

"Sialan kau Ruko" umpatnya kesal.

Naruto's Place

"T..Tolong jangan apa-apakan aku tuan" pinta Naruto, seraya melangkah mundur dari tiga pria lapar di depannya itu. "Kami hanya ingin mengajak mu bermain manis" Kata pria bercodet dengan nada yang membuat siapapun akan merinding mendengar suaranya.

"Mau kemana lagi manis?" Tanya pria yang bertubuh gempal. "Le..lepas" ronta Naruto, saat dua pria lainnya menahan tubuhnya. "Begini lebih baik" kata pria gempal itu.

.

.

.

.

"Kau mau kemana Sasuke?" Tanya Shikamaru saat melihat Sasuke yang terburu-buru meninggalkan meja mereka. Neji dan Utakata saling memandang, "kita ikuti dia!" Seru Neji. Shikamaru, Neji dan Utakata lalu mengikuti langkah Sasuke yang tidak begitu jauh dari mereka ber-3.

'Tolong'

Teriakan seorang pemuda terdengar jelas di telinga Neji. Rasa penasaran pemuda tanpa pupil itu seakan hilang begitu mendengar suara, yang muncul dari pikirannya itu. "Kita harus cepat!" Seru Neji. Utakata dan Shikamaru terlihat bingung, namun mereka berdua tetap melanjutkan lari mereka.

~Misa Anaru~

Naruto tidak lagi meronta seperti sebelumnya. Tenaganya, benar-benar terkuras habis, karena rontaan yang sebelumnya ia lakukan. Ia akhirnya hanya pasrah menunggu sebuah keajaiban yang menyelamatkan dirinya. Menunggu sang pangeran datang untuk menyelamatkannya. Meskipun, dia tahu ini mustahil. Namun, Naruto seakan percaya jika malam ini pangerannya datang menemui dirinya.

"Sudah siap, sayang?" Tanya pria bertubuh gempal itu. "Hummmppp.." Lirih Naruto, wajahnya memerah, juga mulutnya yang disumpal menggunakan kain, benar-benar membuat dirinya sangat tersiksa. Naruto hanya bisa meneteskan air matanya, mengingat dirinya yang hanya bertelanjang dada, dengan celana boxer bergambar rubah miliknya.

Baru saja pria itu hendak menciumnya, tiba-tiba saja sang pria itu terjungkal mengenai trotoar dijalanan sepi itu. "Ittaii" ringis pria gempal itu. "Kau!" Geram pria brandal, yang hendak memperkosa Naruto.

Pertarungan antar 3 pria brandal, dan 3 pemuda tampan pun tak bisa dihindarkan. Utakata yang melihat keadaan Naruto yang berantakan itu, langsung menolong sang blonde. "Kau tidak apa-apa?" Tanya Utakata-ramah.

"Dingiiinnnn" Lirih Naruto begitu merasakan hawa dingin yang menusuk kulitnya. "Sabar" Hibur Utakata-yang tengah berusaha keras melepaskan tali-tali dari tubuh mungil Naruto.

"Hah, hanya segini saja kemampuan kalian" Cibir Sasuke, Neji dan Shikamaru, yang telah berhasil melumpuhkan 3 preman itu. Ke-3 preman kampung itu segera berlari, dalam kondisi penuh luka lebam di tubuhnya.

"Uchiha sialan!" Gerutu pria bertubuh gempal itu.

"Awas kau Hyuuga" Ancam pria bercodet.

"Cih, Nara" decih pria jangkung, teman dari si gempal dan si codet.

Ke-3 nya segera berlari menuju Naruto dan Utakata yang tengah membantu pemuda manis itu lepas dari ikatan di tubuhnya.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya Utakata selesai melepaskan ikatan tali di tubuh Naruto. "Di..nggiinn" Naruto berkata dengan terbata-bata. Utakata hendak memberikan jaketnya untuk menutupi tubuh Naruto yang hanya memakai celana boxer bergambar rubah miliknya. Kemana baju nya? Ke-3 orang itu telah membuang pakaian Naruto entah kemana. Namun, buru-buru Sasuke menahan tangan kanan Utakata.

Sasuke segera melepas jaket baseball nya dan memakaikan ke tubuh Naruto. "T..Teme" Naruto berkata dengan nada yang terbata-bata. Tidak sampai disitu saja, Sasuke juga mengangkat tubuh Naruto ala bridal style, dan membuat ke-3 temannya saling melempar pandang.

"Well, Uchiha kita sudah mendapatkan sang putri" cerocos Neji, dan dihadiahi deathglare terbaik dari Uchiha kita.

.

.

.

.

Naruto terus berusaha menyembunyikan semburat merah di wajahnya, dengan cara melesakan wajahnya ke dada bidang Sasuke. Melihat tingkah Naruto, Sasuke hanya menggeleng pelan dan terus berjalan meninggalkan 3 temannya, yang masih menatap heran dirinya.

~MISA ANARU~

"Ku antar kau pulang Namikaze-san" Ujar Sasuke seraya memasangkan sabuk pengaman untuk Naruto. "Tapi, aku masih mau mencari Uchiha Sasu" Naruto berkata, sambil menatap lekat wajah Sasuke. Wajah yang begitu familiar, tapi Naruto tidak ingat dimana mereka pernah bertemu. "Untuk apa kau ingin bertemu dengannya?" Tanya Sasuke tanpa ekpresi.

"Aku ingin bicara dengannya" jawab Naruto. "Apa kau tidak takut dengan orang itu?" Sasuke bertanya, untuk kedua kalinya. Naruto mengangguk pelan, meskipun dalam hati Naruto ketakutan setengah mati, mendengar pertanyaan Sasuke.

"Kau yakin?" Tanya Sasuke (lagi) sambil menempelkan dahinya pada dahi Naruto. Naruto semakin terpesona dengan sosok pemuda tampan di hadapannya kini. Tak ada lagi sosok 'Pangeran' di hatinya.

"SASUKE!" Seru seorang pemuda bersurai coklat panjang, memanggil nama pemuda raven itu. "Ck" decak Sasuke-kelihatannya tidak suka dengan 3 pengganggu tadi. "Jadi, kamu-"

"Ya, aku orang yang kamu cari" potong Sasuke. "K..kamu" Naruto terbata-bata, tidak tahu hendak mengatakan apa.

"Kenapa kau mencari ku?" Tanya Sasuke kesal. Bagaimana tidak? Orang yang kau sukai mencari diri mu di tengah malam, dan hampir di perkosa oleh orang lain, sebelum diri mu? Ahh, Sasuke benar-benar kesal sekarang.

"A..aku.."

Naruto merutuki dirinya yang salah tingkah di hadapan Sasuke. Kenapa harus orang yang menyebalkan seperti Sasuke sih, yang membuatnya blushing? "Hey, kau tidak apa-apa?" Tanya Sasuke. Naruto menggeleng pelan, "bagus, kita bicarakan nanti setelah aku berada di dalam mobil" kata Sasuke, segera menutup pintu mobilnya.

"Naru-nii, jangan kagok begitu dong" Ujar Naruko yang tiba-tiba muncul di kursi penumpang belakang. "Huwwaahhhh" teriak Naruto kaget. "Hoy Dobe, kau kenapa?" Tanya Sasuke yang juga terkejut mendengar teriakan Naruto.

"T..tidak ada" gagap Naruto. "Baiklah, apa yang akan kau bicarakan pada ku?" Tanya Sasuke. Naruto menggigit bibir bawahnya bingung ingin mengatakan apa. 'Aku harus apa' batin Naruto. "Kau ingin mengatakan apa?" Desak Sasuke.

"Siapa itu Naruko?" Pertanyaan bodoh pun meluncur dari bibir Naruto. Sedangkan Sasuke, dia hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Naruto. "Maaf-"

"Dia adalah adik ku" sela Sasuke.

"A..adik mu" beo Naruto. "Kenapa kau bertanya mengenai anak sialan itu?" Sasuke bertanya dengan nada yang dinaikan 1 oktav.

"Jangan mengatakan jika adik mu itu anak pembawa sial!" Bela Naruto. "Kau tidak tahu tentang dirinya!" Seru Sasuke. "Kau yang tidak tahu tentang dirinya, bahkan perasaannya semasa hidup hingga sekarang" timpal Naruto.

Mata Sasuke terbelalak mendengar perkataan Naruto. Bagaimana bisa Naruto mengetahui seluk beluk mendiang adik perempuannya?

"Kau pasti bingung bukan?" Tanya Naruto, yang berhasil menebak isi pikiran Sasuke. "Aku sedang tidak mood untuk membicarakan 'anak' itu" Gumam Sasuke-yang segera menyalakan mesin mobilnya. "Tapi kau harus mendengar kan ini Sasu-san" Paksa Naruto.

Sasuke terdiam, membiarkan Naruto berbicara kepadanya. Melihat target nya, yang seakan menjadi pendengar yang baik Naruto pun mulai membuka suara.

"Tolong ikhlaskan kepergian Ruko-chan" Pinta Naruto.

Sasuke terkejut mendengar permintaan Naruto. Dia semakin tidak mengerti dengan topik yang dibicarakan tunggal Namikaze di sampingnya itu. "Roh adik mu tidak bisa tenang, jika kau masih memberatkan kepergiannya" ujar Naruto.

"Jangan bertingkah seakan kau adalah anak Indigo!" Cibir Sasuke, sambil fokus mengemudikan mobil. Naruto tersentak dengan cibiran yang keluar dari bibir Sasuke. "Indigo eh? Aku sendiri saja tidak pernah tahu jika aku adalah seorang Indigo" balas Naruto.

"Benar! Jadi, jangan pernah berpura-pura kau bisa melihat 'roh' adik ku" ujar Sasuke.

"Jujur pada diri mu sendiri jika kau masih belum bisa mengikhlaskan kepergian adik mu" Kata Naruto. Sasuke menghentikan mobilnya, di tengah gelap nya jalanan kota Konoha. "Itu bukan urusan mu!" Seru Sasuke.

"Aku hanya ingin membantu" Naruto membela diri. "Dengan berpura-pura bisa melihat 'roh' adik ku? Itu tidak akan pernah membantu" Ujar Sasuke datar. "Aku-"

"Diamlah, atau aku akan menurunkan mu disini" ancam Sasuke. Naruto melihat ke luar kaca jendela mobil sport milik Sasuke. "A..aku akan diam" Jawab Naruto. "Bagus" gumam Sasuke, dalam hati ia menyeringai melihat tingkah Naruto. Padahal mana mungkin, dia tega menurunkan calon uke nya di jalanan sepi, gelap lagi. Jika Naruto diperkosa, apa dia akan rela? BIG NO! Tentu saja jawabannya.

.

.

.

.

Naruko memandang lekat Naruto yang tengah memakai sepatu sekolah miliknya. Hari ini, adalah hari pertama Naruto memasuki sekolah nya. Dimana dia yang sudah ada di kelas 3 sekolah menengah atas, benar-benar ingin menamatkan sekolahnya dan menggantikan posisi sang nenek mengurus perusahaan. Karena adik dari ayahnya, tidak berminat untuk meneruskan perusahaan keluarga mereka. Maka, sang nenek tidak ingin memaksakan kehendak putra bungsunya itu.

"Naru-nii, kalau dilihat-lihat Naru-nii itu cantik ya" Ujar Naruko polos, dengan posisi dirinya yang tengah duduk di atas meja belajar Naruto.

Twitch.

Urat kekesalan muncul di dahi Naruto. Astaga, cantik? Kenapa harus kata 'cantik' yang keluar dari bibir mungil gadis kecil itu? Hah, lagi-lagi Naruto hanya bisa menghela nafas, menahan kemarahannya. "Aku itu tampan tahu" Tukas Naruto.

"Tapi kalau dibanding Sasu-nii itu lebih tampan Sasu-nii" Ujar Naruko, membanggakan sang kakak.

Naruto terdiam mendengar perkataan Naruko. Hatinya miris,mendengar perkataan polos Naruko yang membanggakan sosok kakak kedua nya itu. "Kau masih saja membanggakannya ya?" Tanya Naruto. Naruko menunduk dalam, dan mengangguk tanpa berani mendongakan kepalanya.

"Meskipun dia tidak mau mengakui diri mu?" Tanya nya lagi. "B..bukan, begitu.. Nii-chan sangat sayang sama Ruko, hanya saja-"

"Hanya saja apa?" Naruto menekan pertanyaannya. Naruko menggeleng pelan, ia terlihat sungkan untuk mengatakan sesuatu yang hendak ia katakan. "Jangan temui aku selama 8 jam lamanya, kau mengerti?" Tanya Naruto. "Ruko ngerti, Nii-san" Lirih Naruko.

Sasuke's room

Sasuke duduk diam di meja belajar miliknya. Semalaman ia tidak tidur, karena masih memikirkan apa yang telah dikatakan Naruto mengenai sang adik. Jujur saja, Sasuke memang masih belum bisa menerima kepergian adik perempuannya itu. Padahal sudah 5 tahun lamanya, Naruko pergi meninggalkan keluarganya.

Di raihnya sebuah boneka beruang berwarna jingga, milik mendiang Naruko. Ia menatap lekat boneka berwajah imut dengan senyuman yang terlukis di wajahnya. Seakan mengingatkan ia pada sang adik, yang selalu tersenyum bahagia ketika memanggil namanya.

Bersalah..

Itulah perasaan yang menyelimuti hatinya saat ini. Ia merasa bersalah jika mengingat, kematian sang adik akibat kelalaian dirinya. Apalagi, dia sangat menyayangi adiknya walaupun tak pernah sekalipun, ia mengucapkannya.

"Apa kau juga merasakan apa yang ku rasakan, Imouto?" Tanya Sasuke entah pada siapa. Hanya hembusan angin, menerpa lembut wajah pucatnya itu.

"Nii-chan, luko punya pelmen. Ini untuk Nii-chan"

Suara adik kecilnya itu mulai terdengar kembali di pikirannya. dimana Naruko merengek manja, supaya Sasuke menerima permen pemberiannya. Namun bastard tetaplah bastard. Bukannya menerima, Sasuke malah melempar permen itu ke tong sampah.

"Sasu-nii gak suka pelmen ya?"

Suara lirih itu.

Suara yang membuat hati Sasuke menangis, jika mengingatnya. Sasuke tidak bisa berbohong, ia sangat merindukan adik kecilnya itu. Ia menyayangi Naruko, lebih dari apapun. Ya, dia menyayangi gadis berusia 5 tahun itu. Meskpun, dari awal Sasuke menolak kehadiran Naruko, yang mengubah posisinya dari putra bungsu, menjadi putra kedua. Rasa cemburunya, mengalahkan rasa sayangnya saat itu. Dia benci, benci sekali pada anak itu.

"Nii-chan, Luko kangen Nii-chan!"

Sasuke tertawa miris, mengingat masa lalunya saat ia bertengkar dengan sang ibu dan lebih memilih kabur dari rumah. Akan tetapi setelah ia pulang ke rumah, Naruko yang tengah bermain boneka sendirian di ruang tamu, segera menghambur memeluk kakinya sambil mengatakan jika dia sangat merindukan sosok Sasuke.

"Sudah ku bilang. Aku benci anak itu! Dia itu bukan adik ku!" Seru Sasuke yang saat itu baru berusia 11 tahun.

Dia membenci kehadiran Naruko yang saat itu masih menjadi bayi merah, di rumahnya. Naruko adalah seorang bayi yang di adopsi oleh Fugaku dan Mikoto. Malam itu, malam dimana pertama kalinya Naruko tiba di rumah mereka, Sasuke malah menatap Naruko penuh kebencian. Meskipun bayi merah itu terus tertawa melihat sosoknya.

"Naruko" lirih Sasuke. Dia benar-benar menyesali apa yang telah terjadi 5 tahun lalu. Tindakan cerobohnya, yang lebih memilih kepentingan pribadinya, dibanding kepentingan adik nya. Sejak saat itulah, Sasuke menjadi pendiam dan cenderung mengurung dirinya dari dunia luar. Bahkan, setelah kematian adik kecilnya itu semua keluarganya menjadi pendiam, dan gila bekerja. Begitupun sang ibu. Mikoto bahkan lebih parah lagi, dia tidak mau bicara, dan menjauhi putra kandungnya itu. Hidup tanpa si kecil Naruko, benar-benar membawa perubahan yang sangat besar terhadap keluarganya.

.

.

.

.

"Aku tidak tahu lagi, apa yang harus ku lakukan untuk menjadi putra mu lagi" Ujar Sasuke, yang kini tengah berada di kamar sang ibu.

"Kau tak menganggap ku menjadi anak mu pun aku sudah tidak peduli lagi" Sambungnya.

Merasa tidak diperhatikan sang ibu, Sasuke pun segera berbalik arah dan menggeret koper hitam besar miliknya, keluar kamar sang ibu.

"Kau hendak kemana, Sasuke?" Tanya Mikoto pelan.

Tapi malang untuk Mikoto. Suara yang sangat pelan itu, tidak dapat membuat Sasuke menoleh dan menjawab pertanyaannya. "Sasuke" panggil nya. Sasuke tidak menyahut, karena dia tidak mendengar panggilan dari sang ibu.

Sakit..

Hatinya sakit, lagi-lagi ibu nya tidak mempedulikan dirinya. Semua sudah dia lakukan, tapi tak juga membuat sang ibu menganggap keberadaan dirinya. Dia tidak kuat lagi, jika harus melihat kondisi ibunya. Bagi Sasuke, lebih baik dia pergi dari rumah, daripada harus melihat sang ibu yang tidak pernah menganggap nya ada.

"Sasuke, kembali nak! Kembali! Hiks.." Isakan Mikoto terdengar di penjuru rumah. Dia berusaha keras berjalan menggunakan kursi roda miliknya, guna mengejar putra nya itu. "Sasuke..jangan pergi!" Pinta sang ibu.

~MISA ANARU~

Itachi memandang wajah sang ibu yang tengah tertidur. Wajah lelah nampak terlihat di wajah pucat ibu nya. Sepulang dari kantor, Itachi menemukan sang ibu yang tengah menangis, dengan beberapa maid yang mencoba menghiburnya.

Ketika diketahui, ternyata sang ibu hendak mengejar adik nya yang pergi dari rumah. Itachi menutup wajah tampannya, dia benar-benar dibuat pusing 7 keliling. Kenapa adiknya tega meninggalkan sang ibu yang tengah sakit itu sendirian?

"Sasuke" Igau sang ibu.

Itachi tahu apa yang dirasakan Sasuke. Tapi, dia tidak membenarkan kehendak yang Sasuke ambil. Biar bagaimanapun, adiknya itu salah. Meninggalkan ibu nya yang tengah sakit, dan tidak bisa berjalan itu bisa dikatakan durhaka.

Sulung Uchiha itu juga berpikir, jika dia ada di posisi yang sama dengan Sasuke, belum tentu dia bisa menghadapinya. Dia akui, Sasuke adalah seorang pemuda yang kuat dan tabah menjalani hidupnya, yang bisa terbilang rumit di usia nya yang baru berusia 21 tahun itu.

To. : My LilBro-Sasuke.

Kau dimana? Pulanglah, Outoto

Satu pesan singkat ia kirim untuk sang adik. Dia hanya ingin adik nya pulang ke rumah. Ia tidak tega melihat sang ibu yang terus mengigaukan nama sang adik.

.

.

.

.

Sasuke yang pikirannya tengah berkecamuk, akhirnya memutuskan, untuk pergi ke sebuah bar. Kondisinya saat ini, sangat memprihatinkan. Wajah nya yang tampan terlihat lelah, dan dirinya yang mabuk membuat penampilannya nampak acak-acakan.

Alunan musik dan gemerlap lampu di ruangan itu, sudah tidak ia pedulikan lagi. Bahkan, dengan orang-orang yang bertengkar pun juga sudah tidak ia pusingkan lagi. Biasanya Sasuke akan marah, jika ada pengunjung yang saling bertengkar, karena baginya itu sangat mengganggu kenyamanan.

"Tuan..anda sudah sangat mabuk, un!" Tegur seorang bartender kepadanya. Sasuke mendongakan kepalanya, dan menemukan seorang bartender, bersurai blonde dengan paras yang sangat cantik. "Hik..apa peduli mu?" Tanya Sasuke.

Bartender berparas ayu, itu menggelengkan kepalanya, takut dengan sosok pemuda yang tengah mabuk berat itu. "A..ano, hanya saja-"

Brakk..

Sasuke menggebrak kencang meja bartander itu, dan membuat sang bartender ketakutan. "Kau keberatan, eh?" Gertak Sasuke. "Uun" Tubuh gadis cantik itu bergetar, ketika Sasuke menarik kuat-kuat kerah baju sang bartender. "Dei!" Seru seorang pemuda bersurai jingga, yang segera menolong gadis cantik itu.

"Kau cantik, hanya saja aku tak tertarik pada mu, hik.." Ujar Sasuke, segera meninggalkan sang bartender. Semua orang ketakutan melihat aura yang keluar dari Uchiha bungsu itu. Sasuke akhirnya pun, memutuskan untuk kembali ke apartemen miliknya, yang tak ada satu pun tahu dimana itu berada.

~MISA ANARU~

Naruko menatap penuh minat, Naruto yang tengah melukis di sebuah kanvas. Lukisan, dua anak kecil bersurai raven dan blonde tengah berada di bawah pohon sakura, yang tengah menggugurkan kelopak bunganya. "Nii-san, percaya takdir benang merah?" Tanya Naruko.

Naruto menghentikan pekerjaannya sejenak, dan menoleh ke arah Naruko. "Benang takdir ya? Dimana dua orang terikat satu sama lain, oleh sebuah benang yang tidak terlihat itu ya" Timpal Naruto. Naruko mengangguk, membenarkan perkataan Naruto.

"Nii-san, kita harus percaya jika Kami-sama itu sudah menuliskan siapa jodoh kita saat kita masih berbentuk janin" Jelas Naruko.

Naruto mencubit pelan hidung Naruko. Bagaimana tidak? Kata-kata Naruko itu benar-benar dewasa menurutnya. Bahkan, dia saja belum, mengerti betul, apa itu benang merah.

"Aww, Nii-san" Naruko merenggut tak suka. "Hahaha, habis kamu dewasa banget sih" tawa Naruto.

"Nee, Nii-san..Anak ini siapa?" Tanya Naruko, menunjuk sebuah gambar seorang anak kecil bersurai raven. "Dia itu 'Prince' " jawab Naruto bangga.

"Wajahnya mirip Sasuke-nii" Celetuk Naruko.

"A..apa?" Tanya Naruto-gagap.

Tak terasa semburat merah terlihat jelas di wajahnya. Naruko terkikik geli melihat wajah Naruto, yang beda tipis dengan udang yang sedang di rebus.

"Ciyye" goda Naruko.

Naruto hendak mencubit pipi gadis kecil itu, namun tiba-tiba saja sosok Naruko berlari dan menghilang menembus tembok kamarnya. Naruto mendengus kesal, dengan sikap iseng Naruko.

"Ruko-chan...Awas ya!" Ujar Naruto.

Sosok Naruko hanya tertawa melihat Naruto yang kesal karena kejahilannya itu. "Hihihihi" ia terkikik geli. Sekilas, ia nampak sedang merencanakan sesuatu, dan Naruto harus berhati-hati dengan sikap licik Naruko. Mungkin, itulah efek jika seorang anak yang dibesarkan oleh keluarga Uchiha.

Hahahaha, kau harus berhati-hati Naru-chan!

.

.

.

.

TBC

Hoshh, akhirnya jadi juga..

Hehehehehe, maaf ya kalau jelek, ^^

So, Mind To Review?