disclaimer.
Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime.
warnings. Berupa fragmen tanpa juntrungan. Disarankan membaca pelan-pelan karena pasti bingung. #dor
.
fragmen v.
Sosok kecil itu meniti ruangan dengan perasaan ringan. Ini adalah ruang pertamanya setelah dirinya terperangkap di penjara putih, sesuatu yang baru baginya. Eren selalu mendeskripsikan begitu berwarnanya dunia luar sana, bak kanvas yang takkan habis meski semua warna telah kau tumpahkan di atasnya. Krista menatap ruangannya yang kecil—dan masih ada beberapa kotak kepindahannya yang belum sempat ia rapikan. Kamar itu memiliki satu tempat tidur, sebuah meja kecil bundar dan meja belajar; ada juga sebuah rak buku dan rak pakaian, Ymir dan Bertholdt-lah yang membantunya beres-beres.
Kepindahannya tentu menuai tanya, mengapa seorang gadis bisa tersasar ke kos yang isinya satu pria? Walau, bukan hal buruk. Eren bilang ia hanya ditempatkan di luar sana selama beberapa waktu.
Katanya ia sedang menjalankan sebuah misi.
Krista Lenz turun dari kasurnya untuk kembali ke ruang tengah menemui dua penolongnya sebelum—
Sebuah ponsel berwarna merah yang tergeletak percuma di atas lemari menyita matanya.
Tingginya yang kurang membuatnya membutuhkan tumpuan kursi untuk menjangkau letak ponsel itu, dan mulai membukanya.
[10 new messages]
Jemarinya membeku,
Hatinya terpaku,
Siapa gerangan—
Ah. Dirinya tidak ingin membuka pesan-pesan itu; ponsel merah itu pun dimasukkannya ke dalam saku jaketnya.
.
Calypso (Greek);
to deceive, to conceal, to hide or to cover
fragmen vi.
Bertholdt menatap ruangan kos itu dengan nanar. Hari ini adalah hari liburnya tetapi suasana libur tidak mencapai membran otaknya. Lagi-lagi ia bermimpi aneh, ia merutuk dalam hati. Akhir-akhir ini ia merasa mimpinya tidak pernah maju, lagi mundur. Segalanya adalah sebuah mimpi dimana ia dan Reiner akan makan di meja tengah kos mereka dengan seseorang lain.
Kenapa? Apa kita pernah berbahagia? Aku, Reiner dan—?
Bertholdt mencoba mencuci muka dan menatap refleksi matanya sendiri di cermin. Matanya kecil, tampak takut dengan duplikat dirinya yang terbalik di sana.
Di mimpi itu mereka tertawa bahagia—sangat bahagia sampai Bertholdt merasa relung hatinya sakit. Ia tidak bisa mendengar obrolan apa itu, lagi mengingat apa yang telah terjadi. Kemudian peristiwa itu bagai di sobek dari buku dan penulis mengelamkan tintanya, menghantarkannya pada suasana pemakaman Reiner. Tanah yang begitu basah lagi padat, dan sekelilingnya terdapat orang menangisi kepergiannya.
Makam—Reiner?
"Bertholdt…?"
Suara gadis itu, Krista Lenz, menyadarkan lamunan Bertl dari refleksinya. Gadis itu tampak sudah mencarinya daritadi, rautnya yang biasa berwarna kini menampakkan sedikit garis hitam. Gadis pirang itu ada bak mengisi peran Reiner di rumah itu, memang baru dua minggu sehingga keberadaannya bagai hembusan angin. Krista juga sudah bersama yang lain dan bersekolah di tempat yang sama.
"Ada apa, Krista? Maaf aku belum buat sara—"
"Bukan itu, dengarkan aku." Krista mendekat. "A—Aku…"
x x x
fragmen vii.
Selepas menghabiskan waktu di rumah Bertholdt untuk kesekian kalinya, Ymir kembali ke arah rumahnya dengan sedikit limpung—agak pusing dengan benda-benda yang ia bereskan baru saja. Gadis pirang itu akan tinggal bersama Bertholdt dalam kamar bekas Reiner—pikirannya lamat-lamat menjadi tidak sehat. Yeager Institute adalah sebuah sekolah kedokteran terkemuka saat itu namun tidak ada satupun dari mereka berdua menemukan korelasi jelas antara sekolah itu dan gadis bernama Krista Lenz. Seluruh identitas yang dimilikinya sempurna, jelas; ia datang dengan maksud akan bersekolah di SMA yang sama dengan mereka atas utusan sang pemilik institusi.
Sejak daritadi juga, Ymir terus-terusan merasakan kepalanya sakit tanpa alasan.
"Krista…?" ia berucap, nadanya sedikit tidak jelas. "Krista?"
Nama itu… sungguh familiar—tapi baru kali ini ia mendengar nama tersebut dengan kedua indera pendengarannya. Tetapi perasaannya, bahkan ujung lidahnya sendiri, merasakan kalau-kalau nama itu sudah sering ia lafalkan. Langkahnya berangsur terhenti, kepalanya semakin berat. Suara-suara yang tidak dikenalnya mulai mengisi kepalanya. Entah suara Bertholdt barusan atau suara yang bahkan lebih jauh dari ujung matahari.
"Krista." Nafasnya habis.
"Krista." Ymir mengulang nama itu lagi seperti kaset rusak.
"Krista."
"—Ymir?"
(Kegelapan yang menjawabnya.)
x x x
fragmen viii.
"Aku Krista Lenz, salam kenal semuanya."
Hari ini, Krista resmi menjadi murid SMA Shiganshina—juga berita tentang hinggapnya di rumah Bertholdt pun mengundang banyak bisikan. Memang, tidak ada yang aneh, toh hanya sebatas menumpang juga tidak terlalu kenal satu sama lain, apa yang perlu dirisaukan?
Jam makan siang tiba setelah beberapa pelajaran eksak penguras otak dilewati. Bertholdt awalnya ingin mengajak Krista berkeliling sekolah sambil memperkenalkannya dengan Jean, Mikasa, juga Connie.
"Kudengar ada anak baru jadi aku datang dan—kau sudah menggaetnya, Bertl?" Jean memunculkan kepalanya di muka pintu, seringai lebar menghiasi wajahnya. Di belakangnya telah ada Mikasa Ackerman lengkap dengan kotak bekal.
Pemuda bersurai cokelat susu itu segera menunjuk arah atap, mengisyaratkan agar mereka semua turut makan siang di atap. Krista hanya mengiyakan dan mengikuti ketiga orang itu menuju atap sekolah. Angin menerpa ruah ketika mereka sampai, sungguh sejuk adanya.
"Hei, Bertl…" Jean meminta perhatian si jangkung. "Kau pernah merasa kehilangan?"
"…Ah, Ymir pernah mengatakan hal yang serupa." Bertholdt menekuk lututnya. "Aku hanya ingat Reiner mati dan akhir cerita. Lalu aku suka mengirim pesan singkat ke Reiner."
Mikasa sedikit melonggarkan syal merahnya. "Karena Jean, aku ingat kalau aku tidak tahu siapa yang memberiku syal ini."
Krista menanggapi pasif, ia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Di korelasi, mereka bertiga tampak berhubungan baik dan memiliki kesamaan—kehilangan sesuatu namun tidak tahu apa yang hilang. Berbeda dengannya; ia adalah diri yang hilang, awalnya dimulai sejak Eren menamainya 'Krista'; tidak kurang dan tidak lebih. Ia sendiri tidak tahu kalau-kalau Eren mengarang namanya atau bilamana nama tersebut merupakan nama aslinya.
"Oh iya, aku lupa bilang ke Connie kalau kita di ata—"
Belum selesai Jean berbicara, pintu terbuka dengan keras, menampilkan sosok pemuda yang pendek lagi tak berambut, raut wajahnya tergesa-gesa.
"K-Kalian disini toh…!"
"Connie, tenanglah, kami tidak meninggalkanmu kok." Bertholdt memberikan seulas senyum.
"—Bukan itu, Bertl! I-ini tentang Ymir!" Connie tampak menarik nafas panjang. "Dia ditemukan pingsan di jalanan kemarin dan sekarang ada di rumah sakit."
Empat pasang pupil di sana melebar.
.
.
.
fragmen ix.
Ymir merasakan dirinya dapat menggerakkan jemarinya sekarang, perlahan dibuka matanya dan dapat terlihat langit-langit putih nun jauh di atasnya—bukan lagi langit sore hari bertabur awan. Mencoba melirik ke arah lain, di sana ada dokter—begitulah perkiraannya—dua orang berjas putih dilengkapi bau diinsfektan tengah sibuk membicarakan sesuatu.
"Ah, kau sudah siuman. Baru saja teman-temanmu pulang." Dokter berkacamata itu tersenyum. "Aku dr. Hanji, dan ini dr. Eren yang menanganimu."
Ymir merasa lidahnya kaku.
"Aku bilang pada mereka kau hanya kecapekan." Hanji melanjutkan, kali ini nadanya serius ditandai dengan sorot matanya yang menajam. "Kami tidak tahu sebab kau pingsan di jalan saat itu, dr. Eren mungkin bisa memberitahumu lebih lanjut."
Dokter bernama Hanji itu lalu berdiri dan dengan gontai meninggalkan ruangan, meninggalkan Ymir dan sang dokter bersurai cokelat itu dalam ruangan putih.
"Sudah baikan?" dokter itu memulai. "Baik, untuk awalan; apakah kau mengingat sesuatu?"
Ymir agak bingung dengan pertanyaan itu.
"Uhh…" ia mencoba berpikir. "Aku sedang berpikir dan mendadak—semua gelap. Kalau tidak salah sih—"
'Ymir.'
"—Kau baik-baik saja?" suara sang dokter membuyarkan pikirannya ke jalan lurus lagi. "Tidak apa-apa bila kau tidak ingat. Aku akan kabarkan pada teman-temanmu kalau mereka sudah datang tentang keadaanmu lain kali."
Gadis itu mengerjap sekali, merasa masih terikat dalam dengan jalan pikiran juga mentalnya.
.
.
.
"Gadis itu—bukan Krista."
(Tapi, siapa gerangan Krista itu?)
[tbc.]
.
{next chapter preview}
"Hei, Bertholdt—siapa itu Reiner?"
"Hei Mikasa, warna matamu mengingatkanku pada sesuatu."
"Bukannya Reiner terbunuh?"
"Diam, diam, DIAM!"
"A, aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan…"
"Kemana—KEMANA? KEMANA GERANGAN MEREKA!?"
[berikutnya :: fragmen x - xiv]
