Title: I'm Here For You

Cast: PaGa dan BuPan (?)

Summary: Ketika melihat manik matanya, aku hanya dapat melihat kekosongan disana. Kemana kebahagiaan dan pancaran semangat yang harusnya ada? Ia juga begitu dingin dan datar. Membuatku… ingin menaklukannya. Bad Summary. KrisTao/TaoRis. BL. DLDR.

Warning: Judul tidak sesuai dengan cerita. Typo(s). OOC (maybe).

Disclaimer: Semua cast disini merupakan milik Tuhan. Saya cuma minjem nama mereka buat dijadiin cast di fic saya ini~

-0-

"Tao-ie, aku bawa makanan untukmu," kata Kris sambil membuka pintu ruangan Tao "Makan, ne?"

Kris menaruh nampan yang ia bawa di pangkuan Tao. Tao kini telah melakukan kegiatannya yang biasa lagi. Menatap ke luar jendela. Dan benar saja, Tao tidak mau menggerakkan tangannya atau pun menatap ke nampan makanan sedikitpun. Ia tetap diam.

"Ayolah, makan, ne? Aku tau kau lapar," kata Kris sambil duduk di kursi yang ada di dekat kasur Tao "Atau, kau mau aku keluar, baru kau bisa makan?"

Tentu saja, tidak ada jawaban dari Tao. Kris pun menghela nafasnya. Jika saja ia tidak prihatin dengan hidup anak ini, ia akan langsung menyerah dan memilih untuk menangani pasien lain. Tapi, tidak. Kris ingin sekali menyembuhkan Tao. Walaupun dibutuhkan waktu yang sangat lama.

"Baiklah, aku akan keluar. Beberapa saat lagi, aku akan kembali. Dan makananmu sudah harus habis, ne?"

Kris pun bangkit dari duduknya. Ia berjalan keluar dari ruangan Tao. Tapi sebenarnya, Kris tak benar-benar pergi. Ia masih berdiri di jendela di luar ruangan Tao. Ia dapat melihat Tao dengan jelas, tapi sepertinya Tao tak bisa melihatnya.

Ia dapat melihat Tao yang perlahan menggerakan tangan dan kepalanya. Kris hampir saja berteriak kesenangan karena menjadi orang pertama di rumah sakit yang melihat Tao bergerak, tapi, tidak. Itu pasti akan sangat mengganggu. Lagipula, ia tidak ingin Tao menyadari keberadaannya.

Kris melihat Tao menyendokan makanan ke mulutnya. Dan lagi, makanan itu tercecer juga ke pipinya. Benar-benar cara makan anak kecil. Kris menahan tawanya ketika melihat cara makan Tao.

-SKIP-

Kris yang melihat kalau Tao sudah menyelesaikan makannya pun perlahan berjalan masuk ke dalam ruangan Tao. Dan untungnya, Tao tidak kaget.

"Biasanya perawat akan membawa makanan ini nanti, kan?" tanya Kris "Kalau begitu, aku akan menaruh nampan ini di sini."

Kris meraih nampan itu dan meletakkannya di meja yang ada di sebelah tempat tidur Tao. Setelah melakukan hal itu, Kris mendudukkan dirinya di kursi yang ada di dekat tempat tidur.

"Hmm, jadi, kita mau melakukan apa?" tanya Kris "Astaga. Aku seperti seorang pengunjung, bukan seorang dokter! Hebat sekali."

Tao kini telah mengalihkan pandangannya lagi ke arah jendela. Membuat Kris menghela nafas berat. 'Aku harus bersabar. Anak ini pasti bisa berbicara lagi,'

"Humm, Tao, apakah kau tidak kesepian?" tanya Kris "Selalu hidup dalam kesendirian seperti ini… Kau tidak kesepian? Sudah empat bulan kau berada di rumah sakit ini, dan kau tidak memiliki teman selain beberapa dokter dan perawat."

"Kau juga tidak pernah berbicara. Kau juga sangat jarang bergerak. Aigo, kau tidak takut tidak bisa berbicara dan bergerak lagi?"

Kris terus saja berbicara pada Tao. Ia seolah-olah sedang berbicara pada patung. Tidak terdengar balasan apapun dari Tao. Namun, Kris sama sekali tidak berniat untuk menghentikan celotehannya, sampai akhirnya Luhan datang. Ia berniat untuk mengambil nampan makanan di ruangan Tao.

"Ah, annyeong dokter Kris," sapa Luhan "Aku kaget melihatmu berada di sini."

"Memang kenapa?" tanya Kris

"Aniyo," balas Luhan "Ah, baguslah, Tao. Kau sudah menghabiskan makananmu. Daebak!"

Luhan membereskan sisa-sisa makanan, lalu mengangkat nampan itu.

"Nah, aku akan meninggalkan kalian berdua lagi sekarang. Jangan bertengkar, ne?"

"Tentu saja kami tidak akan bertengkar," balas Kris "Sudah sana, cepat pergi."

Luhan hanya dapat memelototkan matanya pada Kris sebelum benar-benar menghilang dari pandangan. Berani sekali Kris mengatakan hal seperti itu pada perawat senior seperti Luhan.

"Nah, Tao. Sampai mana tadi cerita-ku?" tanya Kris "Ah ya. Aku ingat. Tentang kucing yang ku miliki di rumah…"

Kris terus saja bercerita. Tidak memperdulikan Tao yang hanya terdiam. Kris seolah telah kebal dengan semua itu. Padahal ia baru mengurusi Tao selama satu hari.

"Huah. Ternyata langit sudah gelap," kata Kris ketika selesai bercerita "Aku lebih suka langit saat terang, terutama ketika matahari dan awan berada di sana. Rasanya… tenang. Tenang, sekali."

"Sedangkan kalau langit sudah gelap… seolah hanya ada kegelapan di sana. Bahkan kalau-pun ada bulan, aku tetap melihat kegelapan di sana. Seolah-olah, sewaktu langit gelap, langit sedang bersedih. Entahlah, itu hanya perasaanku saja."

"Nah, lebih baik sekarang aku pergi. Aku belum mengisi perut-ku dari tadi siang. Jadi, aku tinggal dulu, ne? Dan kurasa kau sebaiknya pergi tidur," kata Kris sambil tersenyum pada Tao "Bye-bye, Huang Zi Tao."

Kris mengelus rambut Tao pelan sebelum berjalan ke luar. 'Rambut Tao sangat halus,' fikir Kris

"Bye. Mimpi indah, ne?"

Kris keluar dari ruangan Tao. Dan setelah Kris keluar, Tao mulai mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Tao memang biasa tidur saat hari baru mulai gelap. Dan ia akan terbangun kalau fajar akan menyingsing. Selalu seperti itu. Seolah ada alarm otomatis di otak Tao yang mem-program kapan Tao tidur dan kapan Tao bangun.

-0-

"Tao sudah tidur, hyung?" tanya Kai begitu melihat Kris masuk ke ruangannya "Hari sudah mulai gelap."

"Ya, dia sudah tidur," jawab Kris "Kau hafal betul kebiasaannya, eh?"

"Tentu saja. Aku adalah dokter pertama yang menangani-nya di sini. Pantas saja aku mengetahui segala kebiasaannya," balas Kai cuek "Kau juga harus menghafal kebiasaannya, hyung."

"Ya, ya. Arraseo, aku akan menghafalkannya," balas Kris "Hhh, aku lapar."

Kai menunjuk ke arah meja yang ada di belakang tubuh Kris. Ketika Kris menoleh, ia mendapati nampan yang penuh dengan makanan.

"Wah," gumam Kris "Kau sudah tau atau bagaimana?"

"Hanya insting," balas Kai acuh tak acuh "Oh ya. Aku tadi kembali mengecek data tentang Tao, dan setelah kutelusuri, ternyata ia masih punya seorang kakak yang tinggal di Amerika."

"Eh? Seorang kakak?" Kris mengangkat alisnya "Kalau begitu, bukankah harusnya kakaknya itu pulang ketika mendengar kabar bahwa kedua orangtua-nya meninggal?"

"Kakaknya ternyata sama sekali tak pernah berhubungan dengan keluarganya sejak lima tahun yang lalu. Maka dari itu ia tidak tau bahwa kedua orangtua-nya telah meninggal. Ia juga tidak tau kalau adiknya sedang depresi saat ini."

Kris diam. Ia tampak memikirkan sesuatu.

"Siapa nama kakak-nya?"

"Umm, sebenarnya sulit mencari nama kakaknya karena ia telah mengganti marga-nya," kata Kai sambil membuka berkas-berkas yang ada di meja-nya "Dan, baru saja aku mendapatkannya tadi. Namanya Xiumin. Atau Kim Minseok."

-0-

Kris kini tengah berkutat dengan laptop-nya di ruangannya sendiri. Di hadapannya, tertulis data-data tentang namja bernama Kim Minseok. Atau dulunya, Huang Xiumin.

"Lahir tahun 1990, tanggal 27 Maret, di China. Sekarang tinggal di Amerika. Hmm…," gumam Kris "Loh? Kenapa tidak ada informasi mengenai orangtua-nya atau pun keluarga-nya?"

Kris menelusuri data itu sekali lagi. Tapi, tidak ada. Tidak ada informasi apapun mengenai keluarga-nya. Ketika Kris melihat tanggal pembuatan data itu, ternyata data itu dibuat sekitar dua tahun yang lalu. Pantas saja.

"Rupanya namja ini tidak mau mengakui keluarga-nya, hmm?" gumam Kris "Ah, menarik."

Kris menghela nafasnya. Ia melihat kearah jam. Sudah jam sepuluh malam. Harusnya jadwal kerja-nya sudah usai sekitar dua jam yang lalu. Tapi, ia merasa malas untuk melangkahkan kakinya pulang ke rumah.

"Ah, kenapa aku tidak mengecek keadaan Tao saja? Aku ingin melihatnya saat tidur," kata Kris sambil tersenyum tipis "Humm, baiklah. Daripada bosan."

Kris bangkit dari duduknya. Ia meregangkan tubuhnya sesaat, lalu setelah itu berjalan meninggalkan ruangannya, menuju tempat pasiennya berada.

Ketika sampai di depan kamar Tao, Kris dapat melihat Tao kini tengah berbaring di tempat tidurnya. Wajahnya benar-benar damai, pikir Kris. Berbanding terbalik sekali dengan apa yang tengah dialami oleh namja itu.

Kris membuka pintu ruangan Tao dengan pelan, takut mengganggu tidur namja manis itu. Walau, Kai pernah bilang, Tao tak akan terbangun kalau fajar belum terbit. Sekeras apapun suara yang terdengar, tidak akan bisa membuat Tao terbangun. Tapi, jaga-jaga saja, kan?

Kris menarik kursi yang ada agar bisa duduk di samping tempat tidur Tao. Ketika sudah duduk, Kris mulai mengamati wajah Tao dengan intens.

"Wajah-mu damai sekali…," bisik Kris "Sangat berbeda dengan kenyataan yang tengah terjadi saat ini."

"Kenapa namja seperti-mu bisa mengalami kejadian seperti ini?" bisik Kris lagi "Sungguh tidak adil."

Kris mulai memberanikan dirinya untuk mengelus wajah Tao. Tangannya mulai bergerak. Dan saat Kris merasakan pipi Tao, Kris merasa tidak mau melepasnya.

'Halus sekali…,' batin Kris

Tao benar-benar tidak merasa terganggu dengan kegiatan yang Kris lakukan saat ini. Ia tidak mengeluarkan suara apapun. Hanya helaan nafas lembut yang ia keluarkan saat ini.

"Hhh, aku seperti seseorang yang jatuh cinta saja," gumam Kris. Ia dengan cepat menghentikan kegiatan mengelus wajah Tao itu "Eh? Jatuh cinta?"

'Masa aku jatuh cinta dengan namja ini?'

-TBC-

Thanks yang udah review kemarin. Jin Ki Tao, wkjytaoris ALL, Couphie, Tania3424, Guest, ajib4ff, Miina708, MyNENG'phantom, Shim Yeonhae, Huang Chao Lin'Boa Pingpong, Ririnkristao, helloimanyi, vickykezia23, , Brigitta Bukan Brigittiw, Shin SeungGi, aniyoong, imroooatus, KyuKi Yanagishita, paprikapumpkin, Kim MinHyun. Mianhae ga bisa bales review kalian *deep bow*

Last, mind to review?

Title: I'm Here For You

Cast: PaGa dan BuPan (?)

Summary: Ketika melihat manik matanya, aku hanya dapat melihat kekosongan disana. Kemana kebahagiaan dan pancaran semangat yang harusnya ada? Ia juga begitu dingin dan datar. Membuatku… ingin menaklukannya. Bad Summary. KrisTao/TaoRis. BL. DLDR.

Warning: Judul tidak sesuai dengan cerita. Typo(s). OOC (maybe).

Disclaimer: Semua cast disini merupakan milik Tuhan. Saya cuma minjem nama mereka buat dijadiin cast di fic saya ini~

-0-

"Tao-ie, aku bawa makanan untukmu," kata Kris sambil membuka pintu ruangan Tao "Makan, ne?"

Kris menaruh nampan yang ia bawa di pangkuan Tao. Tao kini telah melakukan kegiatannya yang biasa lagi. Menatap ke luar jendela. Dan benar saja, Tao tidak mau menggerakkan tangannya atau pun menatap ke nampan makanan sedikitpun. Ia tetap diam.

"Ayolah, makan, ne? Aku tau kau lapar," kata Kris sambil duduk di kursi yang ada di dekat kasur Tao "Atau, kau mau aku keluar, baru kau bisa makan?"

Tentu saja, tidak ada jawaban dari Tao. Kris pun menghela nafasnya. Jika saja ia tidak prihatin dengan hidup anak ini, ia akan langsung menyerah dan memilih untuk menangani pasien lain. Tapi, tidak. Kris ingin sekali menyembuhkan Tao. Walaupun dibutuhkan waktu yang sangat lama.

"Baiklah, aku akan keluar. Beberapa saat lagi, aku akan kembali. Dan makananmu sudah harus habis, ne?"

Kris pun bangkit dari duduknya. Ia berjalan keluar dari ruangan Tao. Tapi sebenarnya, Kris tak benar-benar pergi. Ia masih berdiri di jendela di luar ruangan Tao. Ia dapat melihat Tao dengan jelas, tapi sepertinya Tao tak bisa melihatnya.

Ia dapat melihat Tao yang perlahan menggerakan tangan dan kepalanya. Kris hampir saja berteriak kesenangan karena menjadi orang pertama di rumah sakit yang melihat Tao bergerak, tapi, tidak. Itu pasti akan sangat mengganggu. Lagipula, ia tidak ingin Tao menyadari keberadaannya.

Kris melihat Tao menyendokan makanan ke mulutnya. Dan lagi, makanan itu tercecer juga ke pipinya. Benar-benar cara makan anak kecil. Kris menahan tawanya ketika melihat cara makan Tao.

-SKIP-

Kris yang melihat kalau Tao sudah menyelesaikan makannya pun perlahan berjalan masuk ke dalam ruangan Tao. Dan untungnya, Tao tidak kaget.

"Biasanya perawat akan membawa makanan ini nanti, kan?" tanya Kris "Kalau begitu, aku akan menaruh nampan ini di sini."

Kris meraih nampan itu dan meletakkannya di meja yang ada di sebelah tempat tidur Tao. Setelah melakukan hal itu, Kris mendudukkan dirinya di kursi yang ada di dekat tempat tidur.

"Hmm, jadi, kita mau melakukan apa?" tanya Kris "Astaga. Aku seperti seorang pengunjung, bukan seorang dokter! Hebat sekali."

Tao kini telah mengalihkan pandangannya lagi ke arah jendela. Membuat Kris menghela nafas berat. 'Aku harus bersabar. Anak ini pasti bisa berbicara lagi,'

"Humm, Tao, apakah kau tidak kesepian?" tanya Kris "Selalu hidup dalam kesendirian seperti ini… Kau tidak kesepian? Sudah empat bulan kau berada di rumah sakit ini, dan kau tidak memiliki teman selain beberapa dokter dan perawat."

"Kau juga tidak pernah berbicara. Kau juga sangat jarang bergerak. Aigo, kau tidak takut tidak bisa berbicara dan bergerak lagi?"

Kris terus saja berbicara pada Tao. Ia seolah-olah sedang berbicara pada patung. Tidak terdengar balasan apapun dari Tao. Namun, Kris sama sekali tidak berniat untuk menghentikan celotehannya, sampai akhirnya Luhan datang. Ia berniat untuk mengambil nampan makanan di ruangan Tao.

"Ah, annyeong dokter Kris," sapa Luhan "Aku kaget melihatmu berada di sini."

"Memang kenapa?" tanya Kris

"Aniyo," balas Luhan "Ah, baguslah, Tao. Kau sudah menghabiskan makananmu. Daebak!"

Luhan membereskan sisa-sisa makanan, lalu mengangkat nampan itu.

"Nah, aku akan meninggalkan kalian berdua lagi sekarang. Jangan bertengkar, ne?"

"Tentu saja kami tidak akan bertengkar," balas Kris "Sudah sana, cepat pergi."

Luhan hanya dapat memelototkan matanya pada Kris sebelum benar-benar menghilang dari pandangan. Berani sekali Kris mengatakan hal seperti itu pada perawat senior seperti Luhan.

"Nah, Tao. Sampai mana tadi cerita-ku?" tanya Kris "Ah ya. Aku ingat. Tentang kucing yang ku miliki di rumah…"

Kris terus saja bercerita. Tidak memperdulikan Tao yang hanya terdiam. Kris seolah telah kebal dengan semua itu. Padahal ia baru mengurusi Tao selama satu hari.

"Huah. Ternyata langit sudah gelap," kata Kris ketika selesai bercerita "Aku lebih suka langit saat terang, terutama ketika matahari dan awan berada di sana. Rasanya… tenang. Tenang, sekali."

"Sedangkan kalau langit sudah gelap… seolah hanya ada kegelapan di sana. Bahkan kalau-pun ada bulan, aku tetap melihat kegelapan di sana. Seolah-olah, sewaktu langit gelap, langit sedang bersedih. Entahlah, itu hanya perasaanku saja."

"Nah, lebih baik sekarang aku pergi. Aku belum mengisi perut-ku dari tadi siang. Jadi, aku tinggal dulu, ne? Dan kurasa kau sebaiknya pergi tidur," kata Kris sambil tersenyum pada Tao "Bye-bye, Huang Zi Tao."

Kris mengelus rambut Tao pelan sebelum berjalan ke luar. 'Rambut Tao sangat halus,' fikir Kris

"Bye. Mimpi indah, ne?"

Kris keluar dari ruangan Tao. Dan setelah Kris keluar, Tao mulai mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Tao memang biasa tidur saat hari baru mulai gelap. Dan ia akan terbangun kalau fajar akan menyingsing. Selalu seperti itu. Seolah ada alarm otomatis di otak Tao yang mem-program kapan Tao tidur dan kapan Tao bangun.

-0-

"Tao sudah tidur, hyung?" tanya Kai begitu melihat Kris masuk ke ruangannya "Hari sudah mulai gelap."

"Ya, dia sudah tidur," jawab Kris "Kau hafal betul kebiasaannya, eh?"

"Tentu saja. Aku adalah dokter pertama yang menangani-nya di sini. Pantas saja aku mengetahui segala kebiasaannya," balas Kai cuek "Kau juga harus menghafal kebiasaannya, hyung."

"Ya, ya. Arraseo, aku akan menghafalkannya," balas Kris "Hhh, aku lapar."

Kai menunjuk ke arah meja yang ada di belakang tubuh Kris. Ketika Kris menoleh, ia mendapati nampan yang penuh dengan makanan.

"Wah," gumam Kris "Kau sudah tau atau bagaimana?"

"Hanya insting," balas Kai acuh tak acuh "Oh ya. Aku tadi kembali mengecek data tentang Tao, dan setelah kutelusuri, ternyata ia masih punya seorang kakak yang tinggal di Amerika."

"Eh? Seorang kakak?" Kris mengangkat alisnya "Kalau begitu, bukankah harusnya kakaknya itu pulang ketika mendengar kabar bahwa kedua orangtua-nya meninggal?"

"Kakaknya ternyata sama sekali tak pernah berhubungan dengan keluarganya sejak lima tahun yang lalu. Maka dari itu ia tidak tau bahwa kedua orangtua-nya telah meninggal. Ia juga tidak tau kalau adiknya sedang depresi saat ini."

Kris diam. Ia tampak memikirkan sesuatu.

"Siapa nama kakak-nya?"

"Umm, sebenarnya sulit mencari nama kakaknya karena ia telah mengganti marga-nya," kata Kai sambil membuka berkas-berkas yang ada di meja-nya "Dan, baru saja aku mendapatkannya tadi. Namanya Xiumin. Atau Kim Minseok."

-0-

Kris kini tengah berkutat dengan laptop-nya di ruangannya sendiri. Di hadapannya, tertulis data-data tentang namja bernama Kim Minseok. Atau dulunya, Huang Xiumin.

"Lahir tahun 1990, tanggal 27 Maret, di China. Sekarang tinggal di Amerika. Hmm…," gumam Kris "Loh? Kenapa tidak ada informasi mengenai orangtua-nya atau pun keluarga-nya?"

Kris menelusuri data itu sekali lagi. Tapi, tidak ada. Tidak ada informasi apapun mengenai keluarga-nya. Ketika Kris melihat tanggal pembuatan data itu, ternyata data itu dibuat sekitar dua tahun yang lalu. Pantas saja.

"Rupanya namja ini tidak mau mengakui keluarga-nya, hmm?" gumam Kris "Ah, menarik."

Kris menghela nafasnya. Ia melihat kearah jam. Sudah jam sepuluh malam. Harusnya jadwal kerja-nya sudah usai sekitar dua jam yang lalu. Tapi, ia merasa malas untuk melangkahkan kakinya pulang ke rumah.

"Ah, kenapa aku tidak mengecek keadaan Tao saja? Aku ingin melihatnya saat tidur," kata Kris sambil tersenyum tipis "Humm, baiklah. Daripada bosan."

Kris bangkit dari duduknya. Ia meregangkan tubuhnya sesaat, lalu setelah itu berjalan meninggalkan ruangannya, menuju tempat pasiennya berada.

Ketika sampai di depan kamar Tao, Kris dapat melihat Tao kini tengah berbaring di tempat tidurnya. Wajahnya benar-benar damai, pikir Kris. Berbanding terbalik sekali dengan apa yang tengah dialami oleh namja itu.

Kris membuka pintu ruangan Tao dengan pelan, takut mengganggu tidur namja manis itu. Walau, Kai pernah bilang, Tao tak akan terbangun kalau fajar belum terbit. Sekeras apapun suara yang terdengar, tidak akan bisa membuat Tao terbangun. Tapi, jaga-jaga saja, kan?

Kris menarik kursi yang ada agar bisa duduk di samping tempat tidur Tao. Ketika sudah duduk, Kris mulai mengamati wajah Tao dengan intens.

"Wajah-mu damai sekali…," bisik Kris "Sangat berbeda dengan kenyataan yang tengah terjadi saat ini."

"Kenapa namja seperti-mu bisa mengalami kejadian seperti ini?" bisik Kris lagi "Sungguh tidak adil."

Kris mulai memberanikan dirinya untuk mengelus wajah Tao. Tangannya mulai bergerak. Dan saat Kris merasakan pipi Tao, Kris merasa tidak mau melepasnya.

'Halus sekali…,' batin Kris

Tao benar-benar tidak merasa terganggu dengan kegiatan yang Kris lakukan saat ini. Ia tidak mengeluarkan suara apapun. Hanya helaan nafas lembut yang ia keluarkan saat ini.

"Hhh, aku seperti seseorang yang jatuh cinta saja," gumam Kris. Ia dengan cepat menghentikan kegiatan mengelus wajah Tao itu "Eh? Jatuh cinta?"

'Masa aku jatuh cinta dengan namja ini?'

-TBC-

Thanks yang udah review kemarin. Jin Ki Tao, wkjytaoris ALL, Couphie, Tania3424, Guest, ajib4ff, Miina708, MyNENG'phantom, Shim Yeonhae, Huang Chao Lin'Boa Pingpong, Ririnkristao, helloimanyi, vickykezia23, , Brigitta Bukan Brigittiw, Shin SeungGi, aniyoong, imroooatus, KyuKi Yanagishita, paprikapumpkin, Kim MinHyun. Mianhae ga bisa bales review kalian *deep bow*

Last, mind to review?