Title :TheVongola
Genre :Family / Friendship
Rated :T
Disclaimed :KHR © Amano Akira
Warning :bad grammar!, OOC!, Strong!Tsuna, Smart!Tsuna
.
Summary :Vongola dihancurkan oleh Vongola Primo—Taru Giotto, saat ia memutuskan untuk keluar dari Vongola, karena menganggap Ricardo hanya akan menjadikan kelompok Vigilatenya menjadi kelompok mafia. Cincin yang dibuat oleh Sephira bersama dengan Mare Ring dan juga Pacifier Arcobaleno—Vongola Ring, pada akhirnya menghilang bersama dengan nama Vongola. Ricardo pada akhirnya membuat kelompok Varia dan menjadi kelompok mafia terbesar di Sicilly. Bagaimana jika suatu hari cincin Vongola ditemukan oleh seorang anak bernama Sawada Tsunayoshi yang juga bertemu dengan sesosok hantu bernama Taru Giotto—sang pemimpin Vongola yang hilang itu?
.
Chapter 1, Loyality of Storm
.
Saat pertama kali melihat sosok bocah berambut cokelat itu, satu hal yang ia tangkap selain wajah yang mirip dengannya adalah kepolosan anak itu. Ia benar-benar tidak memiliki kecocokan berada di dunia seperti dunia gelap mafia. Dan ketika itu juga, ia memutuskan untuk memilih anak itu sebagai pemegang cincin Vongola Ring.
"Halo, namaku adalah Sawada Tsunayoshi—" tersenyum lebar sambil menatap sosok tak kasat mata itu tanpa ketakutan yang terlihat, "—apakah cincin ini punyamu?"
"Sepertinya kau sangat menyukainya Tsunayoshi?"
"Uhm—iya sih, cincinnya berkilau dan juga sangat bagus!" matanya tampak berbinar karena cincin yang ada di depan matanya. Tetapi tatapannya langsung mengarah pada sosok itu, "tetapi mama mengatakan kalau Tsu-kun tidak boleh mengambil barang yang bukan milik Tsu-kun!"
Kalau saja ia tidak bisa menahan diri sedikit saja—ia pasti akan memeluk erat sosok itu dan tidak akan melepaskannya dalam waktu singkat.
"Apakah tuan hantu marah karena Tsu-kun mengambil barang milik tuan hantu?" memiringkan kepalanya dan menatap dengan mata cokelat besarnya yang membuat sosok itu tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluknya.
"Aku akan memberikannya padamu Tsuna, dan namaku adalah Giotto."
"Benarkah? Kenapa Giotto-san ingin memberikan cincin ini pada Tsu-kun?" menatap dengan tatapan penuh tanya, sambil menatap cincin yang ada di tangannya sekarang.
"Karena aku ingin menjadi temanmu, kenyataannya aku adalah kakek buyutmu dari ayahmu—" jawab Giotto yang sebenarnya tidak ingin sama sekali mengakui kalau ia sudah selama itu berada di dunia.
"Jadi, Giotto-jii-chan? Wow, jadi lebih tua daripada Nonno?!" serasa beberapa panah menusuk di punggungnya ditambah dengan sebuah batu yang menimpa kepalanya, "tetapi kau tampak lebih muda daripada otou-san. Ah apakah itu karena kau adalah hantu?"
"Kau bisa mengatakan seperti itu—" mencoba untuk tetap tersenyum walaupun panah imajiner itu masih menancap di punggungnya, "jadi, apakah aku bisa mempercayakan cincin ini padamu? Dan aku akan menjadi temanmu mulai sekarang."
"Benarkah?! Yay, Giotto-jii-chan ingin menjadi teman Tsu-kun!" memeluk sosok yang sebenarnya tidak bisa dipeluk itu, walaupun pengecualian karena Tsuna memegang cincin yang mengunci jiwanya, "Gio-jii tidak akan meninggalkan Tsu-kun bukan?"
Oke, melihat sifat dan juga wajah yang mendukung, sudah dipastikan Giotto akan menjadi *uhuk*kakek*uhuk* yang protektif pada sang cucu.
…
'Ia sudah bisa menguasai Dying Will Flame pada saat usianya sepuluh tahun, dan ia cepat sekali menangkap kalau bisa mengatur konsentrasinya dalam belajar,' Giotto melihat kedua cucunya, Tsuna yang tersenyum dan Ienari yang tampak terkejut.
Tentu saja, Tsuna yang dikenal oleh Ienari adalah Tsuna yang menurutnya perlu dilindungi, yang lemah dan lebih terlihat sebagai adiknya ketimbang kakak kembarnya. Yah, sepuluh tahun berlalu banyak yang sudah terjadi bukan.
"Apakah ada yang salah Ienari-kun?"
"Oh tidak," tertawa datar sambil menggaruk kepala belakangnya, "kukira kau tidak berubah ternyata kau benar-benar sudah banyak berubah." Ienari melihat cincin yang tersemat di jari tengan Tsuna, "kau masih menyimpan cincin itu?"
"Yah, aku sudah menganggapnya sebagai jimat keberuntunganku. Tentu saja aku selalu menggunakannya," jawab Tsuna sambil melihat cincin Vongola itu. Giotto tidak khawatir dengan terlihatnya cincin Vongola, karena bagaimanapun tidak banyak yang mengetahui tentang cincin itu.
Reborn tampak menatap cincin itu, sebelum menoleh pada pemiliknya. Ia mendapatkan banyak informasi tertulis tentang sang kembar sulung. Tidak ada yang istimewa darinya, bahkan ia bisa dikatakan sangat lemah.
"Oi dame-Tsuna, apakah kau ingin masuk ke kelompok ma—" belum selesai mengatakan kalimatnya saat Ienari dengan segera menutup mulut Reborn. Ayahnya juga tampak tidak ingin memberitahu apapun tentang mafia pada Tsuna.
"Reborn, kau sudah berjanji kalau Tsuna tidak akan—"
"Jangan memerintahku dame-Ienari," menaruh tangan Ienari di belakang tubuhnya membuat yang bersangkutan mengaduh.
"I—itu sakit Reborn!" tertawa karena melihat bagaimana Ienari dipermainkan oleh sang arcobaleno, yang bersangkutan memanyunkan bibirnya dan hanya menghela nafas, "susah karena kau tidak ingin berkelahi Tsuna…"
"Lagipula kalau berkelahi itu melanggar aturan sekolah, dan aku tidak boleh melakukannya."
"Sudahlah, jadi apa yang harus kulakukan sekarang?" tampak tidak tertarik karena tidak seru hanya mematuhi peraturan, Ienari mengalihkan pembicaraan.
"Hana akan mengantarkanmu ke kelas, kita akan satu kelas—dan aku yang mengaturnya," jawabnya sambil setengah berbisik. Ienari sendiri akan menanyakan kenapa bukan Tsuna yang mengantarkan saat Tsuna sedang mencoba untuk menghubungi seseorang.
"Ah Hana, aku minta bantuanmu sekarang bisa? Hibari-san akan menggigitku kalau aku tidak mengerjakan pekerjaanku di ruangan hingga selesai," terdengar helaan nafas dari Tsuna sebelum ia mengakhiri komunikasi itu.
"Dan pertanyaanmu sepertinya sudah terjawab," tersenyum pada Ienari yang mengerti tentang perkataan Tsuna dan hanya mengangguk. Hanya butuh beberapa menit untuk pintu yang diketuk dan menampakkan perempuan dengan rambut cokelat ikal cukup panjang.
"Baiklah, kau berhutang padaku Sawada…"
"Maaf merepotkanmu, Ienari-kun sampai jumpa pelajaran nanti, dan Reborn-san kau tidak boleh ikut dalam kelas karena itu melanggar peraturan," jawabnya santai sambil menatap Reborn dan juga Ienari yang berjalan keluar dari ruangan Tsuna.
…
"Whoa, benar-benar berbeda berhadapan dengan Arcobaleno itu," Tsuna benar-benar tampak lemas dan hanya menaruh kepalanya diatas meja. Ia benar-benar lelah hanya dengan berhadapan dengan sang Sun Arcobaleno, "apakah Ienari akan baik-baik saja ditangan Arcobaleno itu?"
'Kalau kulihat sebelumnya, memang sepertinya dia adalah orang yang hebat. Hanya tinggal bagaimana ia menghadapi keadaan Sparta yang diberikan oleh sang Arcobaleno.'
"Mungkin aku akan lebih kuat kalau dilatih olehnya," jawab Tsuna dengan nada bercanda.
'Kau jahat sekali Tsunayoshi, jadi pelatihanku selama ini kau anggap tidak serius?' entah sapu tangan darimana tiba-tiba saja sudah ada di tangan Giotto dan tampak sang pemimpin Vongola menangis dengan lebaynya.
"Kau tidak bisa melihat yang mana dari perkataanku yang hanya candaan atau serius," Tsuna tampak sweatdrop melihat roh Giotto itu benar-benar terpuruk karena perkataannya.
TOK! TOK! TOK!
"Masuklah…" suara pintu yang terketuk terdengar dan pintu terbuka saat menunjukkan seorang siswi berambut cokelat pendek bersama dengan seorang siswa yang memiliki rambut berwarna perak dan mata hijau.
"Ah, Kyoko-chan—siapa itu?"
"Kaichou lupa kalau kita mendapatkan murid baru dua hari ini? Sawada Ienari-kun dan juga Gokudera Hayato-kun," Kyoko tampak tersenyum dan memperkenalkan sang pemuda yang bernama Gokudera Hayato itu.
"Ah, benar juga kalau tidak salah kau berasal dari Italia…"
'Aku pernah mendengar tentang Smoking Bomb Hayato—tetapi baru kali ini melihat secara langsung,' Tsuna mendengar kakeknya mengatakan hal itu.
'Jadi ia juga mafia?'
'Ya, dan yang lebih penting—' suara bel menghentikan perkataannya. Tsuna berdiri dari tempatnya dan berjalan kearah Kyoko dan juga Gokudera.
"Baiklah, sebaiknya kita ke kelas sebelum guru datang. Hibari-san benar-benar akan marah kalau sampai aku membuat kalian terlambat masuk ke kelas," Tsuna benar-benar diatur oleh Hibari, tetapi mau bagaimana lagi kalau ia adalah ketua dari Student Council.
'Giotto-san, ayo—' baru saja akan mengajak sang kakek saat melihat air mata yang entah sebenarnya wajar keluar walaupun sudah mati, keluar dari mata Giotto saat melihat Gokudera, '—eh, Giotto-san kau tidak apa-apa?!"
'G…'
"Apakah kalian mendengar sesuatu?" seolah mendengar suara Giotto, tampak Gokudera menoleh ke belakang lagi dan mencoba untuk meneliti ruangan yang akan ia jauhi itu.
"Hanya perasaanmu saja," Tsuna mendorong punggung Gokudera dan berjalan keluar dari ruangan. Meninggalkan Giotto sendirian di ruangan itu, merasa kalau saat ini Giotto membutuhkan waktu untuk sendiri.
Tidak menyadari kalau sebuah flame berwarna merah tampak membara di salah satu sisi koridor, menampakkan sosok pemuda berambut merah magenta yang menoleh pada ketiga orang yang menjauhinya.
'Giotto…?'
…
"Baiklah, hari ini kita akan kedatangan dua orang murid baru yang berasal dari Italia," jam pelajaran dimulai dan sang guru tampak memperkenalkan dua orang murid pindahan yang tentu saja adalah Ienari dan juga Gokudera, "kalian bisa perkenalkan diri kalian."
"Namaku adalah Gokudera Hayato, mengganggu—aku akan meledakkan kalian," perkenalan yang 'unik' dari pemuda itu. Semuanya tampak sweatdrop mendengarnya, tetapi beberapa siswi tampak terpesona oleh wajahnya yang memang terbilang tampan itu.
"Namaku adalah Sawada Ienari, kalian mungkin kenal dengan kakak kembarku Sawada Tsunayoshi. Senang bertemu dengan kalian!" senyuman yang lebih mirip ayah mereka—tampak sangat bersemangat dan ditambah dengan wajah yang mirip dengan idola mereka sang kakak kembar, membuat para siswi ribut.
Tsuna bisa mendengar perkataan 'ia tampan sekali' atau 'ia keren seperti kakaknya!' dan ia hanya bisa sweatdrop untuk kesekian kalinya dalam sehari ini.
"Baiklah, Gokudera-kun kau duduk di belakang Tsuna, dan Ienari kau duduk di samping Tsuna," sang guru menunjuk tempat yang kosong. Bukan karena tidak ada yang mau mendudukinya, tetapi memang menjauhkan Tsuna dari perbuatan asusila yang diperbuat oleh para penggemarnya.
Gokudera berjalan, dan saat akan melewati Tsuna tampak kilatan cahaya yang menarik perhatian Tsuna. Menoleh saat melihat cincin di jari tengan Gokudera yang tampak familiar dengan miliknya.
"Cincin Vongola?" mengerutkan alisnya, ia mencoba untuk berbisik sekecil mungkin namun sepertinya Gokudera masih mendengarnya dan matanya membulat sebelum menoleh pada Tsuna yang menutup mulutnya dan mengalihkan perhatiannya.
Duduk di kursinya, menatap tajam kearah Tsuna yang tampak merasakan tatapan itu. Sepertinya ia sadar kalau perkataannya tadi terdengar oleh Gokudera. Sementara Reborn yang duduk di ranting pohon dekat kelas milik Tsuna tampak memperhatikan Gokudera dan juga Tsuna serta Ienari.
"Smoking Bomb Hayato, ia adalah kandidat yang cocok sebagai guardian Ienari." Menatap Gokudera yang masih mengirimkan sinyal tatapan tajam kearah Tsuna, "ia sepertinya lebih tertarik dengan dame-Tsuna…"
…
"Siapa sebenarnya dia…"
…
Jam makan siang sudah tiba, dan Tsuna tampak meletakkan buku-buku miliknya kedalam tas baru saja akan beristirahat sejenak. Tiba-tiba saja suara handphone berbunyi membuatnya dengan segera mengangkat dan melihat nomor yang dituju.
'Kemari dalam waktu 5 menit dan selesaikan tugasmu sampai jam makan siang selesai. Tidak selesai, kamikorosu…'
Tampak benar-benar memucat saat melihat pesan dari sang Fuuki Inchou, menghela nafas dan berdiri untuk segera pergi dari kelas menuju ke ruangannya.
"Melanjutkan pekerjaanmu Tsuna?"
"Begitulah—Hibari-san tidak sama sekali memberikanku istirahat," hela nafas dan akan berjalan saat tiba-tiba saja tendangan telak ke pelipis Tsuna membuatnya langsung jatuh ke samping dan membuat Ienari tampak terkejut.
"Tsuna!"
"Ciaosuu!" Reborn mendarat di meja milik Gokudera setelah menendang Tsuna hingga terbaring di lantai. Mengaduh pelan, Tsuna mencoba untuk bangkit dan menatap Reborn.
"Reborn-san, menendang orang itu tidak baik. Dan bukankah sudah kubilang untuk tidak berada di lingkungan sekolah," Tsuna masih mencoba untuk tertawa meskipun saat ini kepalanya cukup besar benjolannya.
"Aku ingin berbicara denganmu Smoking Bomb Hayato…"
"Oh, jadi dia benar-benar orang yang dikatakan oleh kakek? Dia juga dari keluarga mafia?" Ienari menatap Gokudera yang hanya menatapnya tidak berminat.
"Eh, apakah tadi kau mengatakan mafia?" Tsuna tampak tersenyum dan memiringkan kepalanya. Tentu saja ia berpura-pura tidak mengetahui apapun tentang mafia. Ienari yang sadar kalau mengatakan hal tentang mafia tampak memucat sebelum mengibaskan tangannya di depan Tsuna.
"Ti—tidak kau salah dengar Tsuna, maksudku adalah Maria! Ia mirip dengan adik dari temanku yang bernama Maria," Tsuna tampak menahan tawa dalam hatinya ketika melihat bagaimana adiknya itu mencoba untuk membuatnya tidak terlibat dalam dunia mafia.
"Kau ingin bergabung dengan kelompok Varia?" Tsuna yang menurut Ienari memiliki telinga yang masih bersih dari hal-hal seperti mafia dengan segera ditutup telinganya dengan kedua tangan Ienari saat Reborn mencoba untuk mengajak Gokudera.
"Tidak—" Gokudera berdiri dari tempatnya dan akan berjalan menjauhi Reborn dan juga yang lainnya, "—aku tidak suka dengan kalian para mafia. Aku tidak akan masuk dalam kelompok itu…"
…
Tsuna menatap Gokudera, mencoba untuk mengamatinya saat tiba-tiba saja Gokudera berbisik padanya ketika ia mencoba melewatinya.
"Aku ingin bertemu denganmu, halaman belakang sekolah, saat jam pulang…" hanya Tsuna yang mendengar itu, membuatnya membulatkan mata dan menoleh saat Gokudera membuka pintu kelas untuk keluar dari sana.
Namun wajahnya segera memucat kala seseorang tampak berada di ambang pintu dengan aura gelap disekelilingnya.
"Sawada Tsunayoshi—kerjakan pekerjaanmu sekarang, atau kamikorosu…"
"HIEEE! Baiklah Hibari-san!"
…
Jam pelajaran tampak sudah selesai sedaritadi, dan sosok Gokudera tampak hanya duduk dan menunggu Tsuna di pekarangan belakang sekolah. Hanya diam dan tidak melakukan apapun, matanya bergerak saat sebuah flame berwarna merah muncul di antara pepohonan yang ada di depannya.
'Apa yang akan kau lakukan saat bertemu dengan bocah itu?' sosok pemuda berambut merah magenta dengan tattoo yang ada di sisi kiri wajahnya tampak berdiri di depannya. Wajah mereka mirip satu sama lain, dan Gokudera hanya diam sejenak.
"Ia tahu tentang Vongola Ring—aku ingin mengetahui sampai mana ia mengetahuinya dan apa reaksinya saat mengetahui kalau yang aku pegang memang Vongola Storm Ring," matanya menajam dan tampak dingin ketika mengatakan itu, "kalau ia berniat untuk merebutnya, aku akan membunuhnya…"
…
'Aku hanya akan mengatakan satu hal—berfikirlah tentang apa yang akan kau lakukan sebelum kau ingin melakukannya,' dan dengan satu kata itu, flame berwarna merah yang membara itu segera menghilang dari hadapannya.
"Aku mengerti—kakek tua…"
Menghela nafas dan berdiri dari tempatnya akan mencari Tsuna.
BLAR!
"Apa—"
…
Tsuna tampak berlari di koridor sekolah setelah selesai mengerjakan laporannya yang dipaksa oleh Hibari untuk diselesaikan. Yang benar saja, ia harus menyelesaikan semua itu atau ia tidak akan boleh keluar dari ruangannya.
"Aku sudah terlambat lama untuk bertemu dengan Gokudera-kun," melihat jam tangannya dan berlari menuju ke belakang sekolah. Ia belum bertemu dengan Giotto semenjak Tsuna melihatnya menangis—sedikit khawatir tetapi ia tidak bisa melakukan apapun.
PRANG!
"Eh," mendengar suara kaca yang pecah dari belakangnya, tampak beberapa orang yang memakai kemeja hitam dan membawa beberapa senjata. Ia tidak tahu siapa mereka, namun ia tahu kalau mereka kemari bukan untuk tujuan baik.
"Siapa kalian?!"
"Kami adalah Oscuro Famiglia, serahkan Sawada Ienari kandidat dari Varia Decimo!" dan mendengar itu, tentu saja membuat Tsuna sadar kalau yang ada dihadapannya adalah sekelompok orang yang berasal dari sebuah kelompok mafia.
"Apa yang akan kalian lakukan…"
"Kau tidak perlu mengetahuinya bocah! Kami akan membawanya pada boss kami—" Tsuna menatap kearah semua orang yang ada disana. Mata cokelatnya tampak berubah menjadi kuning menyala dan flame berwarna orange tampak muncul di dahi. Di kedua tangannya juga tampak sepasang glove yang diselimuti oleh flame yang sama.
"Kalau kalian ingin menyentuhnya, kalian harus mengalahkanku dulu—" menatap tajam dan dingin tanpa ada senyuman yang terlihat di wajahnya. Belum sempat orang-orang itu terkejut saat Tsuna dengan segera bergerak dan menghajar mereka.
"A—apa?!" beberapa dari mereka tampak memberondong Tsuna dengan senjata. Mencoba untuk menembaknya namun Tsuna tampak menghindari semua serangan itu dan kembali menyerang beberapa orang disana.
"Empat orang…" sibuk dengan beberapa musuh yang ada di depannya, tidak melihat bahwa ada seseorang yang membidiknya dari belakang. Bersiap untuk menembak pemuda itu, saat tiba-tiba sebuah dinamit terlempar kearah sang penembak.
DHUAR!
"Eh," Tsuna menoleh untuk menemukan Gokudera yang memegang beberapa dinamit. Sepertinya ia yang menyerang penembak itu sebelum sang penyerang bisa menyerang Tsuna.
"Kalau kau sedang bertarung harusnya kau melihat juga apa yang ada di belakangmu," menatap tajam kearah Tsuna yang tampak tertawa gugup dan menggaruk dagunya. Melihat musuh yang akan menyerang membuatnya bergerak kembali begitu juga dengan Gokudera.
"Terima kasih Gokudera-kun!" tersenyum lebar, tampak Gokudera yang wajahnya tiba-tiba menjadi merah dan membuatnya menggelengkan kepala cepat, "setelah ini ada yang ingin kutanyakan padamu…"
"Aku juga ingin menanyakan padamu tentang cincin Vongola," jawab Gokudera, mendapat jawaban lagi dengan tawa dari Tsuna. Menatap Gokudera sambil masih tertawa melihatnya.
"Seharusnya kau tidak mengatakan begitu saja tentang Vongola Ring Gokudera-kun."
…
"Bagaimana kau bisa—" Gokudera yang berbalik dan menoleh pada Tsuna tidak menyadari seseorang tampak berada di depannya dan siap untuk menembak Gokudera yang perhatiannya masih tertuju pada Tsuna.
"GOKUDERA-KUN, AWAS!" dengan segera mendorong tubuh Gokudera yang ditargetkan, sebelum peluru meletus kearah tempat Gokudera tadi berdiri. Terpelanting cukup jauh saat Gokudera mencoba untuk bangkit dan menemukan tubuh Tsuna yang tergeletak tidak sadarkan diri.
Bukan hanya itu saja, sepertinya tampak darah mengalir keluar dari tubuhnya, menunjukkan kalau ia terkena tembakan yang tadi tertuju padanya. Melihat beberapa orang masih ada disana sementara Tsuna belum sama sekali sadar, Gokudera hanya berdecak.
Mengeluarkan sebuah pistol dari sakunya dan mengalirkannya dengan flame storm sebelum menembakkannya pada beberapa orang yang tersisa disana. Ia segera berlari dan menghampiri Tsuna dan mencoba untuk memeriksa keadaannya.
"O—Oi, kau tidak apa-apa?!" melihat bahu Tsuna yang mengeluarkan darah, sepertinya bagian itu yang tertembak oleh orang-orang itu, "k—kenapa…"
'Gokudera Hayato—' suara itu terdengar bersama dengan sosok pria berambut merah magenta, '—lihat itu.' Menunjuk pada jari tengah Tsuna yang tampak tidak lagi terselimuti oleh flame dan juga glovenya, menampakkan cincin Vongola yang ia kenakan.
"Ini…"
'Ia adalah pemilik Sky Ring Vongola Hayato…'
…To be Continue…
Oke, chapter dua adalah tentang kemunculan Goku XD dan tentu saja cincin Vongola Storm ada di dia beserta dengan G bersamanya :3
Oh, dan seperti di warning, karena Tsuna disini mendapat embel Strong!Tsuna, jadi dia sudah bisa jadi HDWM walaupun belum pure flame (kaya di future arc).
Makasih buat fave, review, dan follownya ^ ^
LuckyKittens makasih buat reviewnya ^ ^ dan yep dia jadi Kaichou disini :3
Azriel1827 yep~ bossu Vongola kedua, karena Giotto Cuma pernah kasih cincinnya ke Tsuna :3 makasih Fave + reviewnya ^ ^
LalaNur Aprilia sebenarnya lebih tepatnya tiram :3 tapi kadang juga bisa dibilang kerang "Vongole"
JackFrost14 memang, dan disini bakal ada OC buat nempatin salah satu boss Varia biar jadi genap 10 XD tapi tenang aja, itu Cuma sekali lewat kok.
Mamitsu27 adiknya penerus Varia sementara Tsuna bakal bangun Vongola lagi dan tetap jadi Vigilante :3
