Ia berlari, kedua tangannya menggenggam erat sebuah kotak berukuran sedang, seolah jika ia melepaskan genggamannya, maka kotak itu akan menghilang. Berikut nyawanya.
Ia berlari, memacu tubuhnya agar melaju lebih cepat, lebih kuat, menjauh dari sesuatu yang hanya dapat ia ketahui pasti.
Ia berlari, biarpun paru-parunya menjerit, memaksanya untuk berhenti dan menyuplai mereka kembali dengan oksigen jika ia masih tetap ingin hidup.
Ia berlari, tanpa sekalipun menoleh ke belakang untuk memastikan seberapa besar jaraknya dan mereka, yang masih mengejarnya tanpa henti.
.
.
La Cosa Nostra is a collaboration project between Arleinne Karale and Azureinne Karale. This chapter written by Azureinne Karale
Kuroko no Basket belong to Tadatoshi Fujimaki
An Alternate Universe, lot of typos, possibly out of character story with no actual pairing
Read at your own risk
.
.
Rambut sewarna langit pada musim dingin miliknya menari dengan liar seiring dengan nyanyian angin yang dihasilkan oleh mesin-mesin besar alat transportasi udara di sekitarnya. Ia mengangguk sekali kepada dua pramugari, yang berdiri di sisi kiri dan kanan pintu keluar, yang menunduk ke arahnya sembari mengucapkan terima kasih karena ia telah menggunakan pelayanan perusahaan mereka.
Setelah mengambil barang-barangnya, dan memastikan tidak ada satu barang pun yang tercecer atau hilang dari koper berukuran sedang miliknya, ia melangkah pergi dari sana, menuju lobi bandara Marco Polo Venezia.
Langkahnya berhenti sejenak di ambang pintu kedatangan ketika ia melihat betapa banyaknya manusia yang memenuhi lobi bandara internasional tersebut. Suara bising memasuki indera pendengarannya, mengalahkan suara mesin pesawat yang lepas landas.
Namun, tidak ada yang tidak dapat seorang Kuroko Tetsuya atasi.
Dengan langkah yang penuh dengan rasa percaya diri, ia melangkah maju. Melesat di antara celah yang dibuat oleh orang-orang tanpa terdeteksi. Salah satu tangannya mencengkram erat-erat bawaannya agar tidak mengenai seseorang dan membuat scene drama yang tidak perlu, sementara tangannya yang bebas diam-diam merogoh saku seorang pria yang tengah sibuk berseru kepada seseorang dari ponselnya.
Kuroko memasukkan dompet yang jelas-jelas bukan miliknya ke dalam saku jasnya dan melanjutkan langkahnya seolah ia tidak melakukan apa-apa. Mata birunya yang tersembunyi dibalik lensa kacamata hitam tetap terfokus ke depan, tidak terganggu dengan seruan korbannya yang baru menyadari bahwa dompetnya telah lenyap dari saku belakang.
Pemuda itu membuka pintu sebuah taksi yang baru saja berhenti dan mendudukkan dirinya di bangku penumpang. Ekspresi wajahnya tidak berubah ketika ia merasakan sang sopir meliriknya dari kaca depan, nampak heran dengan Kuroko yang dapat dengan mudahnya masuk ke dalam taksi yang dipanggil orang lain tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Namun, sang sopir tidak berkata apa-apa, dan mulai melajukan kendaraannya. Meninggalkan seorang wanita paruh baya dan anak laki-lakinya yang tercengang karena ia tidak menyadari taksi yang dipanggilnya ternyata telah ditempati oleh seseorang.
Kuroko melepaskan kacamata yang bertengger di hidungnya dan meletakkan benda tersebut di saku jasnya. Salah satu tangannya kemudian mengeluarkan dompet yang bukan miliknya dan mulai mengemati benda tersebut.
Matanya yang terlatih mulai mencari informasi dan benda-benda yang mungkin dapat berguna untuknya di daratan Italia ini. Tatapannya kemudian terarah kepada sebuah kartu tanda pengenal dan surat izin mengemudi berbahasa Italia. Sebuah senyum tipis kemudian terbentuk di wajahnya yang tampan ketika matanya juga menangkap sejumlah uang kertas yang berlaku di negara tersebut.
Senyum tipis itu perlahan melebar ketika ia menemukan satu benda yang menarik lagi. Sebuah kartu nama, dengan nama sang pemilik dompet yang tertera dengan huruf alfabet, beserta alamat tempat kerjanya dan jabatan yang ia miliki. Direktur sebuah hotel di Venezia yang tak jauh dari bandara Marco Polo.
"Apakah kau dari Timur, Tuan?"
Kuroko mendongak ketika mendengar sang supir berkata, tatapannya bertemu dengan mata hijau sang sopir dari kaca depan. Butuh waktu bagi otaknya untuk memproses fakta bahwa sang sopir berbicara kepadanya menggunakan bahasa Italia, namun tentu saja keheranannya tidak terlihat jelas dari ekspresi dan tatapannya.
"Ah ... Bisa dibilang begitu." Kuroko mengangguk untuk memperjelas jawabannya. Makna ganda yang terkandung di dalam kata-kata sang sopir membuatnya ragu-ragu, tidak mengerti apakah yang dimaksud adalah darah yang mengalir di dalam tubuhnya atau tempat ia bertolak untuk sampai ke sini.
"Aha, sudah kuduga!" Sang sopir tertawa ketika mendengar jawaban Kuroko, "Tidak banyak orang yang memiliki warna rambut sepertimu, Tuan." Katanya lagi, dengan nada suara yang terdengar seolah Kuroko adalah seekor makhluk langka yang jarang ditemui dan bahkan tidak dapat dibuktikan eksistensinya.
Kuroko hanya mengangguk perlahan, tidak tahu ingin berkomentar apa lagi. Dan sang sopir juga sepertinya belum ingin mendengarkan komentar Kuroko, karena ia telah melanjutkan kata-katanya sebelum ia melihat anggukan kecil Kuroko.
"Dua hari yang lalu aku pernah memiliki penumpang dengan warna rambut seperti anda juga, Tuan. Dan ia juga berkata ia dari Timur. Apakah di Timur warna rambut seperti itu normal?" Tanyanya, sembari melirik Kuroko dari kaca depan seolah meminta jawaban.
Memang tak terlihat, namun, tubuh Kuroko menegang. Tenggorokannya terasa tercekat, dan ia dapat merasakan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari yang seharusnya.
"Apakah ... Apakah orang ini kebetulan memiliki rambut kuning, atau hijau?" Tanya Kuroko. Tegang terdengar jelas di dalam suaranya, tetapi sang sopir tidak mendengarnya. Itu atau sang sopir memilih untuk mengabaikannya.
"Tidak, ia memiliki rambut merah hampir cokelat," Ia tertawa, seolah bayangan penumpang yang pernah ia antarkan ke suatu tempat di Venezia itu membuatnya geli, "Bukan merah sempurna sih, ia memiliki semacam gradasi warna antara merah dan hitam, jadi sekilas terlihat cokelat tua." Jelas sang sopir lagi.
Kuroko mengeluarkan napas yang sedari tadi ia tahan karena tegang. Kedua bahunya menurun ketika ia berbuat demikian, begitu juga dengan punggungnya yang berubah rileks dan kembali bersandar ke sandaran kursi di belakangnya. Jantungnya perlahan kembali berdetak dengan teratur.
"Apakah anda mengenalnya?"
Kuroko menggelengkan kepalanya.
"Ah, sayang sekali. Padahal dompetnya tertinggal di sini, dan aku tidak yakin dapat mengembalikannya lagi biarpun nomor teleponnya tertera di kartu tanda pengenalnya."
Sang sopir tidak melihat sepasang mata biru tajam itu berkilat sekali.
.
"Ada yang dapat saya bantu, Tuan?"
Kuroko mengangguk, "Direktur Schwensteiger telah memesankan kamar untukku." Katanya, dengan penuh percaya diri seolah yang ia katakan memang kenyataan dan sebuah fakta yang pasti.
Wanita muda yang berdiri dibalik meja resepsionis menaikkan sebelah alisnya, "Maaf, tetapi kami tidak tahu tentang hal itu." Katanya, dengan nada ragu.
"Oh? Benarkah?" Kuroko balas bertanya. Pemuda berambut biru pucat itu kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel—yang sebenarnya bukan miliknya.
"Baiklah, kalau begitu, aku akan menelepon Direktur Schwensteiger untuk memberitahu bahwa resepsionis hotelnya tidak kapabel untuk melakukan tugasnya." Katanya, selagi jemarinya menari di atas keypad ponselnya.
Wajah wanita muda di hadapannya memucat, terlebih ketika Kuroko menempelkan layar ponsel tersebut ke telinganya, "Tinggal tunggu waktu hingga kau harus mencari pekerjaan lain." Kuroko melanjutkan, dengan nada suara serta ekspresi yang sama datarnya. Hingga sulit rasanya mempercayai bahwa ia tengah mengancam seseorang.
"Ba-baiklah! Akan ka-kami siapkan kamar dengan segera!" Sang resepsionis cepat-cepat berkata dan menuliskan sesuatu ke buku tamunya, "Ka-kamar nomor 1880, Nathan akan membawakan barang bawaan anda." Setelah sang resepsionis selesai berkata, seorang pemuda melangkah maju sembari mendorong sebuah troli barang yang kosong melompong.
Kuroko meraih kunci kamar berupa kartu yang diletakkan sang resepsionis di meja di depannya, "Tidak usah, terima kasih. Barang yang kubawa hanya sedikit, kok." Ujarnya, sembari melangkah menuju lift yang akan membawanya ke kamar yang disiapkan untuknya.
Suara nyaring tanda bahwa ia telah sampai di lantai tujuannya menggema di lorong luas yang sepi. Kuroko melangkah keluar dari dalam lift dan memperhatikan lingkungan di sekitarnya dengan cermat sebelum melanjutkan langahnya yang sempat tertunda.
Langkahnya yang pasti terendam oleh karpet merah maroon yang digelar menutupi keramik yang berkilat bagaikan permata dibawah cahaya chandelier yang dipasang berderet di langit-langit. Dindingnya dilapisi oleh wallpaper cokelat muda, menimbulkan kesan lembut dengan warna putih yang melapisi langit-langit lorong.
Kuroko kemudian berhenti di depan pintu dengan angka yang sama dengan yang tertera di kartunya. Dengan sekali gerakan, Kuroko menggesek kartunya ke mesin yang terpasang di sisi pintu. Pintu kayu berwarna cokelat tua itu kemudian mengeluarkan suara 'klik' perlahan sebelum terbuka, bersamaan dengan lampu-lampu dan televisi yang menyala secara otomatis.
Setelah menutup kembali pintu kamarnya dan menguncinya, Kuroko melepaskan sepatunya dan merebahkan tubuhnya ke tempat tidur yang tersedia. Mata birunya menatap lampu yang menyala dengan tatapan intens selagi pikirannya berkelana, entah kemana.
"...—Diduga, keluarga mafia yang menyebabkan kekacauan di Spanyol ini bekerja sama dengan sekelompok yakuza di Jepang, mereka mengedarkan senjata di pasar gelap dan—."
Tatapan Kuroko teralih ke arah layar televisi yang kini menampilkan acara berita, dimana kini sang pembawa acara tengah bersama dengan sesosok berpakaian polisi dan tengah menjelaskan peristiwa yang belakangan ini menjadi topik hangat di dunia, kembali berulahnya keluarga mafia berikut antek-anteknya.
"—Sejauh ini, polisi di seluruh dunia belum dapat menangkap satupun mafiosi, maupun melacak dimana keberadaan keluarga-keluarga mafia tersebut. Di sini, kami sekarang bersama dengan Komandan Miroslav Klose dari kepolisian—."
Kuroko berguling dan membenarkan posisinya agar ia dapat mendengarkan sekaligus melihat wawancara antara sang pembawa acara dengan sang komandan kepolisian itu tanpa membuat lehernya kaku.
Ia tidak tahu bahwa publik ternyata memperhatikan setiap gerakan mereka—para mafia.
.
Setelah check-out dari hotel tempat ia menginap selama semalam, Kuroko menemukan dirinya berada di tengah kota Venezia, bingung dan tidak tahu harus pergi kemana.
Tetapi, kakinya tetap membawa tubuhnya melangkah, mencari celah dan jarak sempit antara tubuh orang-orang yang tertawa dan bersuka cita tanpa terdeteksi oleh mata. Matanya nyalang, mencari-cari peta atau sesuatu yang dapat ia gunakan selagi ia berusaha keras agar sosoknya tidak tertangkap kamera pengawas yang terpasang di beberapa tempat.
Inilah mengapa dari dulu Kuroko tidak terlalu menyukai pergi keluar ketika matahari masih tinggi. Ia tidak dapat terang-terangan merusak sebuah kamera pengawas dengan peluru.
Dan selain itu, Kuroko juga memiliki alasan lain yang cukup logis untuk tidak keluar ketika manusia-manusia lain masih beraktivitas—.
"Hey, jalan lihat-lihat, dong! Kau tidak punya mata, apa!? Atau koordinasi mata dan tubuhmu itu tidak seimbang!?"
Kuroko mendongak, menatap seorang pemuda berambut platina yang memandangnya dengan manik hijau metalik sewarna dedaunan yang berkilat-kilat penuh dengan amarah dan dendam. Dengan refleks, pemuda berambut biru pucat itu melangkah mundur, memberi jarak antara dirinya dan orang yang tidak sengaja ditabraknya karena matanya yang sedari tadi sibuk mencari peta untuk umum.
"Kau nyaris melukai Tenth, tahu!"
Kuroko menaikkan sebelah alisnya ketika ia mendengar bahasa Italia dengan aksen Jepang yang memasuki indera pendengarannya. Ingatannya berputar, berusaha mengingat apakah ia pernah bertemu dengan orang ini di suatu tempat.
"Kau—!"
"Nah, nah, sudahlah, sudahlah."
Kuroko mengalihkan tatapannya ke arah pemuda lain yang berdiri di sebelah pemuda berambut platina tersebut. Salah satu tangannya terangkat untuk menengahi perdebatan sepihak antara Kuroko dan temannya.
Mata sewarna kopi pemuda tinggi tersebut kemudian bertemu dengan iris biru Kuroko yang tersembunyi dibalik lensa kacamata hitam, "Maaf ya, dia memang begitu. Abaikan saja kata-katanya, semoga harimu menyenangkan." Pemuda berambut hitam itu menunduk dan tersenyum lebar sebelum menyeret temannya pergi dari sana sebelum membuat kerumunan dan menarik perhatian. Sembari tertawa-tawa ketika temannya yang berambut platina memakinya dan meronta-ronta dari genggamannya.
Kuroko mengawasi punggung kedua orang itu yang akhirnya menghilang ditelan kerumunan orang. Ia kemudian menunduk dan membuka telapak tangannya yang berhasil merogoh saku salah satu dari dua orang tersebut tanpa disadari keduanya, mencoba melihat hasil yang ia peroleh dari saku pemuda berambut platina tersebut.
Mata biru itu kemudian membesar ketika ia melihat apa yang memandangnya balik dari telapak tangannya. Alih-alih dompet yang ia inginkan, yang Kuroko dapatkan adalah sebuah dinamit berukuran sedang.
Bagaimana pemuda berambut platina itu dapat menyembunyikan satu dinamit di dalam sakunya, Kuroko tidak tahu. Dan ia juga tidak ingin tahu apa keperluan dan siapa dua pemuda barusan.
Kuroko memasukkan dinamit tersebut ke dalam saku celananya dan menarik jasnya agar menutupi sumbu yang mencuat keluar dari saku celananya. Ia akan menyimpan benda tersebut untuk jaga-jaga.
Sepertinya ia harus berhati-hati selama kakinya berpijak di daratan Venezia ini. Karena, orang dengan rahasia gelap yang menyamar agar dapat berjalan layaknya manusia tanpa dosa bukan hanya dirinya saja.
Dan bukan tidak mungkin jika salah satu dari mereka menyerangnya atau berusaha menyeretnya masuk ke dalam famiglia mereka hanya karena ia merupakan bagian dari—tidak, sekarang statusnya telah berubah menjadi mantan anggota keluarga—mereka.
.
"Hey, kau!"
Sudah sebulan Kuroko berada di Venezia. Dan sudah sebulan pula ia berhasil menghindari setiap kamera pengawas, dan setiap masalah yang dapat menyebabkan dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang.
"Kau, yang bertopi abu-abu dan berkacamata hitam!"
Kuroko sudah cukup percaya diri dengan keberuntungannya, dan ia juga sudah sedikit melonggarkan pengawasannya. Mengingat betapa lamanya ia bertahan tanpa senjata, bukankah berarti ia akan bertahan di Venezia lebih lama tanpa terdeteksi siapa-siapa?
Tetapi nampaknya takdir sudah lelah memberikannya keberuntungan.
"Kau! Kau tuli ya!?"
Kuroko berhenti melangkah dan menoleh ke sumber suara. Mata birunya bertemu pandang dengan sepasang mata beriris merah yang menyala bagaikan api yang membakar segalanya.
Kuroko menoleh ke kanan dan ke kirinya, berusaha mencari orang yang mungkin dipanggil oleh pemuda beriris merah tersebut. Namun, tidak ada orang di sekitarnya selain dirinya. Hanya ada beberapa anak kecil yang tak mungkin salah satunya adalah orang yang dipanggil dengan nada kasar oleh pemuda berambut merah dengan gradasi hitam hingga sekilas terlihat cokelat tua itu.
Setelah yakin pemuda berambut biru pucat itu tidak dapat melihat orang lain yang mungkin dipanggil oleh sang pemuda, ia menunjuk dirinya sendiri. Mulutnya terbuka, mengucapkan 'Aku?' tanpa suara.
"Tentu saja, memangnya ada orang lain disini!?"
Kuroko menurunkan tangannya dan menatap pemuda yang tak jauh di depannya dengan tatapan kosong. Alih-alih menanyakan apa keperluan sang pemuda, Kuroko malah berbalik dan kembali melangkah. Seolah ia tidak melihat apa-apa dan tidak berhenti untuk menoleh kepada siapa-siapa.
"Kau!"
Kuroko kembali menoleh ke arah pemuda tinggi tersebut ketika ia mendengar pemuda itu memaki dirinya dengan kesal.
"Tolong jangan memaki di depan umum. Banyak anak kecil melihatmu." Kuroko berkata dengan tenang, membuat pemuda berambut merah itu terdiam sejenak sebelum kembali memaki dan melangkah menuju Kuroko dengan langkah yang dihentakan.
"Kau! Kau pasti adalah orang yang menginap di beberapa hotel atas nama diriku dan menggunakan kartu kreditku hingga overlimit, kan!?"
Kuroko mengedipkan matanya, salah satu alisnya naik beberapa senti, otaknya berputar selagi mata birunya menatap sosok di hadapannya, seolah berusaha mengingat siapa gerangan orang di depannya ini, "Siapa?"
"Kau, tentu saja!"
"Tidak, maksudku, kau siapa? Aku tidak merasa pernah mengenalmu."
"Aku Kagami Taiga! Dan berhenti memasang ekspresi menyebalkan yang membuatku ingin meninjumu seperti itu! Karena kau menggunakan kartu kreditku hingga overlimit, aku jadi tidak bisa makan, tahu!"
.
.
Essere continuato
.
.
Dilema Arleinne dan Azureinne :
Azu : "Hai, hai semuanya~ Apa kabar? Azu harap kalian semua baik-baik saja, ne~? Baiklah, chapter pertama ini Azu yang tulis, loh~ Berhubung Aru sudah nulis prolog, jadi Azu-lah yang akan balas reviw yang masuk di chapter prolog itu nanti, terima kasih atas reviewnya!"
Aru : "Wut de ... itu ada yang ganti kerjaan? Gak laku lagi jadi pemain— umph!"
Azu : "Kufufufu ushishishi kesesese fusososo."
Aru : "..."
Azu : "Yaaaaah karena kita semua malas bikin OC walaupun cuma nama numpang lewat, jadi kita pake yang sudah ada saja, contohnya itu, dua orang yang ditabrak Kuroko, mereka dari Katekyo Hitman Reborn, Gokudera Hayato dan Yamamoto Takeshi, iya, kan, Aru? Atau itu ... Direktur hotel yang dompetnya dicuri Kuroko ..."
Aru :"Well, kan kita sudah sepakat setiap multichapter kita akan ada hubungannya dengan multichapter lain, iya, kan?"
Azu :"Jadi jangan heran kalau tiba-tiba ada seseorang dari fandom lain jadi orang numpang lewat atau jadi korban, toh, kemunculan mereka tidak akan lebih dari 10 detik."
Aru :"Dan kami tidak akan menulis nama mereka, hanya deskripsi fisik, ahahaha, tetapi seperti biasa, tentu saja orang-orang yang kami seret ke sini adalah milik mangaka mereka masing-masing~"
Azu : "Nah, Azu akan mendoakan biar Akashi Seijuuro datang ke mimpi kalian kalau kalian mereview~."
Aru : "… nggak harus review. Kalau ada kritik, saran, komentar, masukkan, silahkan isi di kolom yang tersedia. Terima kasih sudah mampir. Datang lagi nanti~."
Azu : "Kita nih Cuma ngopi dari chapter sebelumnya kan ...?"
Aru : "Dasar nggak kreatif ..."
Azu : "Speak to yourself, Aru. Lagian kita Cuma pake kemampuan Kisecchi sebentar~."
Aru : "Kapan kita pake "The one who can beat me is me"?"
Azu : "... nggak akan pernah. SAMPE. KIAMAT. NGGAK. !"
Aru : "Hidoi!"
Azu : "Mari abaikan Aru dan sampai bertemu di chapter berikutnya~.'
