Disclaimer : Semua karakter disini milik Tuhan YME, author cuma pinjem nama

Rate : T

Genre : Campur aduk, general, Romance, Humor, hurt, angst

Warning : BL, YAOI, Typos, cerita pasaran, OOC (mungkin ), ga pake EYD! mohon dengan sangat sebelum membaca dibaca dulu bagian warning ini, tidak menerima bash kecuali kritik membangun, so please

DON'T LIKE DON'T READ

CAST : Jung Yunho, Kim (Choi) Jaejoong, Kim (Choi) Yoochun, Kim (choi) Junsu, Kim (Choi) Changmin, Kim Heechul, Tan Hankyung, Kwon Boa, Choi Hyoje, dll

Cast lain menyusul

Pairing

YunJae only

.

Note : Fanfiction ini murni hasil karya saya selaku author, saya tidak rela dan tidak ikhlas jika hasil karya saya ini di plagiatkan oleh orang - orang yang tak bertanggung jawab, dalam bentuk apapun!

.

.

.

.

SUMMARY

Kim Jaejoong namja cantik yang berstatus sebagai janda dengan 3 anak, terdampar dikota kejam Jakarta harus berusaha sekuat tenaganya, berjuang mati-matian untuk bertahan hidup setelah sang suami meninggal dunia. Dapatkah ia bertahan?

.

.

Chap sebelumnya

Selanjutnya perjalanan Kim Jaejoong diwarnai keheningan dan kecanggungan, tak sedikitpun Tuan tampan tersebut mengajak Jaejoong bicara, ia hanya sibuk mengotak-atik ponselnya saja. Ditengah perjalanan Changmin terbangun, Jaejoong sedikit bersyukur setidaknya ia bisa bercanda bersama Changmin.

"Ummaa, mimik" ternyata Changmin kembali teringat dengan benda kesayangannya. Jaejoong merasa sangat malu jika harus mengeluarkan dadanya dihadapan Tuan tampan tersebut. Entah mengapa ia merasa malu diahadapan orang itu.

"Imin mimiknya tunggu kita turun saja, arraso?" bujuk Jaejoong perlahan, seraya mengusap rambut halus Changmin.

"Anii umma, ciyohhh" Changmin ternyata merasa sangat kehausan. Tuan disebelahnya sedikit menoleh, seperti nya ada yang menyita perhatiannya.

"Gwaenchana baby, tunggu sebentar lagi, ottokhe?"

"Anii, aniii, Ciyoooh, hiks..." Changmin-pun mulai mengamuk.

"Korea?"

"Eh?"

Tiba-tiba pria yang berada disebelah Jaejoong menyebutkan negara asalnya, tentu membuat Jaejoong merasa heran.

"Kudengar kau dan anakmu itu berbicara bahasa korea, apakah benar?" akhirnya pria tampan itu mengulangi pertanyaannya.

"N-Ne tuan, aye berasal dari sono" jawab Jaejoong takut-takut dengan logat betawinya tanpa memandang pria disebelahnya.

"kalau begitu kita berasal dari negara yang sama" ujar pria itu kemudian.

"Jinjja?" ucap Jaejoong antusias hingga ia memakai bahasa korea lagi.

"Ne, perkenalkan...Jung Yunho Imnida"

.

.

.

.

MAK JUJUNG, SARANGHAE!

.

.

.

.

"A-Aye Kim Jaejoong Imnida tuan"

"J-Jaejoong?"

"Ne tuan, ntu name aye, tapi orang-orang dikampung mah biasenye manggil aye mak Jujung hehehe"

"Namja, eoh?"

"Ne, nan namja ya, Tuan..."

"Mwo?"

"Ummaaa, mimikkk! hiks...hiks..."

"Ne, ne chagi, sabar, eoh? aish Imin kagak sabar aje nih anak, kagak tau situasi"

Bibir cherry itu menggumam pelan sembari memutar sedikit arah duduknya menjadi agak membelakangi namja tampan yang memperkenalkan diri sebagai Jung Yunho yang saat ini tengah terbengong-bengong lantaran mendengar pengakuan Kim Jaejoong yang ternyata seorang laki-laki, sejenis dengannya.

Sreettt~

"Yah..yah, apa yang akan kau lakukan?" Yunho begitu terperanjat saat dilihatnya jari jemari gemulai nan putih milik Jaejoong membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakannya, tentu saja ia hendak menyusui Changmin yang sudah ngamuk sejak tadi.

"Mianhe tuan, anak aye mau menyusu, aye ijin menyusui disini, bolehkah?" Jaejoong menghentikan sementara pergerakan jemarinya.

"Menyusui? k-kau m-menyusui? Aishh jinjjaa" Yunho berujar frustasi saat dengan santainya Jaejoong minta ijin untuk menyusui anaknya, jelas saja itu menuai tanda tanya besar, bukankah ia seorang namja?

Yunho mengurut pelan pelipisnya, sungguh kejadian luar biasa yang ia temui, laki-laki, berwajah cantik, punya anak, menyusui pula. Komplit.

"N-ne tuan, aye menyusui"

"Jangan katakan kalau kau yang melahirkan anak ini" desis Yunho bertambah tak percaya dengan kenyataan dihadapannya, bocah yang berada digendongan laki-laki cantik itu mulai menyusu didada-nya, bahkan suara decakannya terdengar jelas ditelinga Yunho pertanda banyaknya cairan yang berada didada sicantik berbibir merah itu, meski Yunho tak dapat melihat dengan jelas lantaran Jaejoong memutar arah duduknya kearah jendela, sedikit membelakanginya.

"Mianhe tuan, memang aye yang mengandung dan ngelahirin anak-anak aye"

"Anak-anak?" bibir berbentuk hati itu terperangah.

"Ne, nih si Imin punye dua hyung-nye tuan, anak aye semua ada tiga, hehehe" jawab Jaejoong sedikit tersipu.

"Mwoya, kau memiliki tiga anak? b-berarti s-suami-mu?"

"Aye jande tuan, bapaknye anak-anak margenye Choi meninggal waktu Imin masih umur 3 bulan tuan" seketika raut wajah Jaejoong berubah menjadi sendu, menyebabkan tatapan iba dari kedua mata sipit disebelahnya.

"Umm, mianhe, nan jeongmal mianhe Jaejoong ah"

"Gwaenchana, tuan"

Raut tampan itu serta merta menghilangkan tatapan sendunya, menggantinya perlahan dengan tatapan kekaguman, betapa ia sangat mengagumi orang yang baru beberapa menit dikenalnya ini. Seorang yang berjuang sendiri menghidupi ketiga anaknya tak peduli meski harus bekerja dijalanan seperti ini.

Yunho terus memperhatikan bagaimana seorang namja didekatnya ini menyusui dan berusaha menidurkan balita yang berada dalam gendongannya dengan penuh kasih sayang, tampak surai hitam Jaejoong yang menutupi sebagian wajahnya saat ia menundukkan kepalanya bersenandung kecil melantunkan lagu nina bobo agar Changmin lekas tertidur, beruntung mereka tengah berada didalam sebuah mobil yang mewah hingga untuk sementara waktu mereka tidak akan merasa kepanasan atau kehujanan.

Perlahan kedua mata bening bocah yang belum genap berusia 2 tahun itupun menutup erat pertanda mimpi segera menyinggahinya.

"Umm, anak umma sudah tertidur ternyata" suara halus dan merdu milik sicantik itu saat mendengar dengkuran halus sang buah hati didalam pelukannya meski bibir sang balita masih saja terus bergerak menyedot dada ranumnya.

Bibir hati itu menyunggingkan sebuah senyuman saat mengingat status sicantik disebelahnya ini. Seorang janda.

Selanjutnya sepanjang sisa perjalanan Jung Yunho dan Kim Jaejoong dan tentu saja bersama sopir pribadi Yunho diwarnai kebisuan dan keheningan, tak terdengar celotehan dari bibir Changmin lantaran bocah tersebut masih menikmati mimpi indahnya.

Hingga mobil tersebut telah memasuki jalur bebas 3 in 1. Jaejoong tampak tengah bersiap-siap untuk lekas-lekas turun dari mobil mewah itu, beruntung kemejanya telah rapi terkancing seperti semula, Changmin baru saja berhenti menyusu meski masih tertidur nyenyak digendongan Jaejoong.

Yunho yang mengetahui gelagat Jaejoong yang akan segera turun dari mobil hingga diperempatan lampu merah menjadi sedikit was-was dan sedikit tak rela (?) jika sicantik Kim Jaejoong a.k.a mak Jujung begitu singkat menemani perjalanannya siang itu, jarak kekantornya masih lumayan jauh.

"Ehm...tuan, aye turun diperempatan depan ono ye" ujar sicantik memberanikan diri membuka suaranya, dirinya sedikit segan melihat wajah datar namja tampan disebelahnya. Benar saja, Yunho bahkan seolah tak mendengar ucapannya barusan. menyadari itu, Jaejoong memberanikan diri untuk menegur sopir tampan yang sedari tadi hanya berdiam diri.

"Pak supir, ntar aye diturunin diperempatan depan ye"

"Ehm" ucapan Jaejoong hanya dibalas deheman berat sisopir pribadi.

"Umm, mengapa terlalu terburu-buru Jaejoong shi...disini terlalu ramai, aniya Han gege?"

"Ne tuan" si sopir yang yang dipanggil Han gege itu mengangguk tanpa bermaksud memelankan laju mobilnya sedikitpun padahal mereka telah melewati perempatan jalan yang dimaksud Jaejoong barusan.

Wajah cantik itu sedikit kebingungan.

"Umm, t-tapi tuan aye mesti mengganti popok anak aye, sudah penuh" ucap sicantik terbata, sedikit takut.

"Ahh, kalau begitu kau ganti popoknya dikantorku saja, tidak baik menganti popok anakmu dijalanan, lagian ehmm..dompetku tinggal dikantor, jadi aku tak bisa membayarmu disini Jae" wajah cantik itu tertunduk ragu, seakan tak mempercayai ucapan lelaki tampan disebelahnya.

"T-Tapi, tuan..." ragu Jaejoong.

"Tenanglah, aku tidak akan menculikmu kok, jika kau tak tahu jalan pulang, aku sendiri nanti yang akan mengantarmu pulang"

Blusss~

Entah mengapa tiba-tiba wajah cantik mak Junjung kita ini merona seperti diberi pemerah pipi mendengar janji Tuan Jung yang akan mengantarnya sendiri pulang.

"A-Arraso tuan"


Jung's Plaza

Jaejoong tak henti berdecak kagum melihat bangunan megah yang menjulang tinggi dihadapannya, disinilah ia berada tepat didepan bangunan pencakar langit yang bermerk 'Plaza Jung' yang terletak dikawasan bisnis kota metropolitan Jakarta. ( maaf eke ngarang)

Setelah sopir menurunkan Jaejoong dan Tuan Jung didepan lobby gedung, maka Jaejoong hanya dapat membuntuti langkah tegap pria yang berjalan didepannya. Sepanjang jalan Jaejoong yang masih betah menggendong Changmin hanya menundukkan wajah cantiknya saat menyadari semua wajah didalam lobby gedung itu tertuju kepadanya.

Jaejoong yang tidak bodoh menyadari posisi seorang Jung Yunho digedung ini saat semua karyawan didalam gedung itu berpapasan dengannya pasti menyempatkan diri untuk membungkukkan badannya memberi hormat kepada pria yang mungkin berumur kurang dari 30 tahun tersebut.

Tentu saja setelah membungkuk memberi hormat kepada Tuan Jung kedua pasang mata mereka tak lepas menatap sosok yang menguntit Presiden Direktur perusahaan raksasa dari Korea itu, seakan bertanya-tanya siapakah sosok dekil yang selalu membuntuti atasan tertinggi mereka tersebut.

"Paling-paling keluarganya dari kampung, kampung korea kayaknya, diliat dari kulitnya"

"Kalau menurutku, palingan gembel dijalanan yang dipungut tuan Jung"

"Gembel mana ada yang mulus gitu"

"Ahh, barangkali pengasuh anaknya Tuan Jung"

"Huss, Tuan Jung perjaka ting-ting tauk!"

"Ssstt...sssttt...sssttt"

Begitulah sekilas bisik-bisik sumbang para karyawan gedung megah itu seputar sosok dekil namun cantik (?) yang selalu mengekori kemana-pun Tuan Jung atasan mereka melangkah.

Hingga disini Yunho dan Jaejoong berada.

Ting~

Jaejoong memperhatikan angka yang tertera persis diatas pintu lift yang mereka tumpangi, saat ini mereka sudah berada dilantai 20 gedung pencakar langit tersebut. Tampaknya lantai tersebut adalah lantai tujuan mereka karena Yunho membiarkan pintunya terbuka.

"Kajja, disinilah kantorku, maaf membuatmu tak nyaman, karyawanku pasti merasa heran, aku tak pernah mengajak seseorang sebelumnya"

"Gwaenchana tuan, harusnye aye turun dijalan tadi aje tuan" Jaejoong merasa tidak enak.

"Ahh sudah, tidak usah kau pedulikan mereka, kajja masuklah ini ruanganku, kau boleh mengganti popok anakmu diatas sofa itu, kasihan dia masih tertidur nyenyak" ujar Yunho ramah, hatinya masih sedikit bingung mengapa ia bertingkah begitu baik dan ramah kepada orang asing yang sangat berbeda tingkat ekonomi dengannya itu, terlebih orang itu baru saja dikenalnya.

Mungkin karena melihat senyum tulus yang selalu diberikan Jaejoong, hati dingin eksekutif muda itu sedikit mencair. Seluruh karyawannya mengenal Jung Yunho adalah namja dingin dan kaku, meski memang ramah kepada siapa saja, tapi ia benar-benar tidak mudah akrab dengan orang yang baru dikenalnya.

"N-Ne, gomawo tuan..."

Jaejoong kembali terperangah saat melihat keadaan ruangan yang baru saja dibuka Yunho, ruangan yang lebih seperti apartemen mewah karena ukurannya yang sangat luas, bahkan ada dua set kursi sofa empuk didalamnya, sebuah TV LED berukuran besar tertempel didindingnya, belum lagi furniture modern serta arsitektur berkelas yang mendesain setiap ruangannya yang bukan menyerupai kantor lagi saking nyamannya, bahkan ruangan tersebut memilki pantry yang bisa dipakai sebagai tempat memasak.

Jaejoong mengamati papan nama yang terletak diatas meja kerja milik Yunho, ia membaca dalam hati tulisan yang tertera disana, 'Jung Yunho Presiden Direktur'

Tubuh kekar Yunho berjalan kearah belakang ruangan itu, tampaknya yang menjadi tujuannya adalah pantry, ia sepertinya hendak mengambil minuman dingin dari dalam kulkas besar yang berada disana.

"Umm Jaejoong shi, kau bisa...Mwoya! mengapa duduk disana? Aigoo..."

"Tidak apa-apa tuan biar disini aje, ntar kursinye kotor, sayang, hehehe"

Betapa kagetnya wajah tampan Yunho saat keluar dari pantry dengan membawa kaleng minuman dingin ia mendapati Jaejoong tengah duduk dilantai dingin ruangan kantornya, membaringkan Changmin disana dan mulai mengganti popok balita itu yang dibawanya dari rumah.

Yunho yang tidak tega melihat kedua beranak yang duduk dilantai dingin itu langsung menuju tempat dimana Jaejoong berada, menghampiri sicantik yang hampir selesai memasangkan popok langsung pakai ketubuh Changmin yang masih betah tertidur nyenyak meski hanya beralas lantai dingin.

Srettt~

"Kajja, duduklah diatas sofa itu, kasihan anakmu, Jaejoong ah" tanpa diduga sama sekali tangan kekar Yunho menarik pergelangan tangan Jaejoong hingga ia terbangun dari posisinya yang duduk mengepor dilantai mengkilat itu.

Jaejoong yang tak siap menyebabkan tubuhnya sedikit limbung, untunglah ia telah selesai mengganti popok Changmin, kalau tidak bisa-bisa tubuh bocah itu dapat ikut tertarik juga. Jaejoong kini berdiri dengan posisi sempoyongan karena ditarik paksa oleh tangan kekar milik Yunho, sehingga tubuh mungilnya hilang keseimbangan jadi dalam hitungan beberapa menit lagi bisa dipastikan tubuhnya akan terlempar kembali diatas lantai dingin dan mengkilat itu.

Yunho yang tak ingin membiarkan tubuh mungil Jaejoong terjatuh dengan sigap meraih pinggang kecil tersebut dan menahannya, untuk beberapa detik Yunho dan Jaejoong terpaku pada posisi mereka, mata besar dan indah Jaejoong menatap tepat kedalam sepasang manik mata musang milik Yunho, sejenak keduanya terpaku mengagumi keindahan pandangannya.

"Oppaaa"

Yunjae masih dalam posisi yang 'berbahaya' tatkala masuk tanpa permisi seorang wanita cantik berambut panjang bertubuh mungil kedalam ruangan tepat disaat pasangan YunJae tengah mengagumi keindahan wajah mereka masing-masing.

Baik Yunho maupun Jaejoong tersentak dan langsung kembali pada posisi mereka semula, Jaejoong segera kembali ketempatnya semula membaringkan anaknya yang pulas seraya menetralkan detak jantungnya yang menggila atas peristiwa barusan yang dialaminya bersama sang Presiden direktur. Sementara wanita yang baru saja mengganggu YunJae moment barusan hanya menatap kearah Jaejoong tak suka.

"Boa ya" bibir hati Yunho menggumamkan nama wanita yang baru saja masuk tanpa permisi tersebut yang kini tengah bersandar pada pintu masuk ruangannya, melipat kedua tangannya didepan dada seraya memperhatikan sosok Jaejoong dari ujung rambut sampai ujung kakinya.

"Nugu ya?" ujar wanita itu menatap Jaejoong dengan dagu terangkat.

Merasa diperhatikan, Jaejoong hanya terdiam sembari meraih tubuh mungil Changmin kembali kedalam gendongannya, seakan ingin memberikan perlindungan kepada sang bocah tanpa dosa itu jika tiba-tiba terjadi hal yaang tidak diinginkannya.

"Dia, ehm...Kim Jaejoong saudara satu negara kita" suara bass Yunho menyebutkan nama Jaejoong yang segera membungkukkan tubuhnya kearah wanita yang bernama Boa tersebut.

"Kim Jaejoong? namja?" wajah cantik Boa meneliti setiap lekuk tubuh Jaejoong.

"Ne, namja ya" kali ini bibir cherry Jaejoong yang menjawab nada heran Boa.

"Dia namja istimewa, anak itu anak kandungnya yang dikandung dan dilahirkannya dari rahimnya sendiri" Yunho membeberkan keistimewaan Jaejoong agar wanita tersebut mengetahui siapa Jaejoong sebenarnya.

"Pria melahirkan? dan kau percaya oppa? cihh, dijaman begini masih saja oppa percaya dengan hal mustahil seperti itu, oppa tahu? sekarang banyak sekali bayi-bayi dan balita disewakan dan dibawa oleh penyewanya untuk mengemis dijalanan seperti yang dilakukan namja ini, apalagi orang-orang akan mengira dia seorang wanita, ck...pintar sekali"

"Boa, jaga ucapanmu!" suara bass Yunho terdengar lantang membentak Boa yang dengan santainya menghina Jaejoong.

Tubuh Jaejoong yang bergetar menahan emosi-nya perlahan-lahan beranjak dari posisinya dilantai dengan wajah yang terus tertunduk, ia tak memiliki keberanian sedikitpun untuk menatap kedua orang dihadapannya itu. Sementara Jung Yunho berusaha menahan emosinya akibat hinaan yang baru saja diberikan Boa kepada Jaejoong, ia merasa sangat iba dengan pria yang diakuinya bahkan lebih cantik dari wanita yang telah menghinanya itu.

"Oppa, kau membela orang yang bahkan baru kau kenal hanya karena ia berasal dari negara yang sama? ingat oppa, aku ini tunangan-mu, dan kita akan segera menikah!"

Deg!

Jaejoong tersentak mendengar kalimat terakhir dari bibir wanita cantik dan berkelas dihadapannya, entah mengapa dadanya terasa sakit sekali, dipeluknya erat-erat Changmin yang masih betah tertidur didekapannya, perlahan tubuh langsing mulus-nya melangkah menjauh dari kedua makhluk yang tak sepadan dengan-nya tersebut.

"Mianhe tuan, aye pamit pulang, gomawo atas kebaikannya, anneyong" suara halus Jaejoong berpamitan seraya membungkukkan tubuhnya dihadapan Yunho yang masih ternganga tak percaya akan ucapan kasar Boa barusan.

Dengan cepat Jaejoong berlalu dari hadapan Yunho yang masih terpaku ditempatnya hingga baru tersadar saat Jaejoong telah berada tepat didepan pintu lift yang sama saat awal mereka tiba dilantai itu, menunggu pintu lift terbuka. Yunho berusaha mengejar sosok Jaejoong yang sedang sibuk menekan-nekan tombol lift tersebut.

"Jae, chakkaman! jebbal..."

"Yah oppa! mau kemana kau, aku ini tunanganmu, untuk apa mempedulikan namja menjijikkan itu, yah!" teriakan histeris Boa sama sekali tak dihiraukan oleh presiden direktur perusahaan tampan yang terus mengejar keberadaan sosok Jaejoong.

Seolah tak mendengarkan apa-apa Jaejoong terus menekan tombol tersebut hingga pintu lift terbuka perlahan, tubuh mungil Jaejoong langsung memasuki benda berbentuk kubus itu dan segera menekan tombol untuk menutup pintunya disaat yang bersamaan Yunho tiba didepan lift tersebut.

"Jae, mianhe, chakkaman jebbalyo..." Yunho terus menerus menekan tombol lift agar pintu yang sudah separuh terutup itu kembali terbuka, namun Jaejoong terus menekan tombol yang berada didalam lift itu hingga pintunya terus bergerak tertutup.

"Jae! jebbal...aku belum membay...aishhh, DAMN!" Yunho menendang pintu lift tersebut sekuat tenaganya setelah usahanya tak menemukan hasil lantaran pintu lift telah benar-benar tertutup.

Yunho menjambak rambutnya kasar, kemudian ia segera berlari kearah lain dimana terdapat lift yang lainnya meski jaraknya cukup jauh, namun masih berada satu lantai dilantai tempatnya berada.

Hosh...hosh...hosh

Nafas terengah Yunho saat tiba didepan pintu lift satunya, dengan tidak sabar jarinya menekan tombol lift tersebut agar segera tiba dilobby gedung dan bertemu Jaejoong, bahkan ia belum sama sekali membayar jasa pria cantik itu.

Ting~

Akhirnya benda yang ditunggu Yunho tiba juga, pintu terbuka menampakkan beberapa orang yang menumpang didalam lift tersebut yang tentu saja akan menghambat waktu Yunho tiba di lobby karena lift itu harus mampir dilantai tujuan orang-orang yang tengah membungkukkan badan kearahnya saat ini.

"Keluar kalian semua, aku buru-buru" titah sang atasan tertinggi di gedung tersebut yang disambut anggukan patuh semua yang berada didalam disusul satu persatu dari mereka keluar dari dalam benda kubus tersebut. Yunho segera masuk dengan wajah dinginnya ia segera menekan tombol turun dengan tujuan lobby.

Sementara itu, Jaejoong yang kebetulan berada seorang diri didalam lift yang ditumpanginya tak dapat mencegah airmata yang mulai menetes dikedua pipi mulusnya, berulang kali disekanya cairan bening itu agar tak terlihat orang lain nantinya jika ia tengah menangis, bibir bawahnya digigitnya dengan keras agar dapat mengurangi sakit didadanya.

"Hiks...Siwonnie"

Disaat seperti ini hanya mendiang suaminya yang selalu diingatnya.

Ting~

Pintu lift terbuka menandakan ia telah sampai di lobby tujuannya, sedikit celingak-celinguk Jaejoong mengingat-ingat darimana mereka masuk tadi, dengan langkah terburu ia segera menuju pintu keluar yang berjarak cukup jauh dari jalan raya.

Jaejoong mendesah lega saat tiba diluar gedung pencakar langit tersebut, menolehkan sedikit kepalanya menatap gedung megah itu, dalam hatinya ia berkata jika tempat itu memang bukan tempat yang cocok baginya, kenagan itu kembali dari awal masalahnya saat kedua orang tua Siwon yang menentang hubungan mereka. Yah siapa yang tidak mengenal Choi Corp, perusahaan raksasa penguasa seantero Korea.

Sementara itu Yunho yang baru saja tiba di lobby gedung melangkah terburu-buru seperti orang kebingungan menimbulkan kecurigaan para karyawannya yang berbisik-bisik heran melihat tingkahnya yang seperti orang linglung, hingga seorang petugas keamanan mendekatinya.

"Maaf tuan Jung, ada yang bisa saya bantu, anda terlihat seperti sedang mencari-cari sesuatu" sapa satpam tersebut ramah.

"Ah ya, aku mencari umm, wanita...ya wanita yang menggendong anaknya, apakah ia melewati pintu ini? sebab aku yakin ia baru saja tiba di lobby ini tak lama sebelum aku tiba" satpam tersebut tampak berpikir sebentar berusaha mengingat karena tak sedikit orang yang lalu lalang lewat didepannya.

"Umm, ya tuan sepertinya saya ingat, dan orang tersebut sudah sejak tadi berjalan kearah jalan raya tersebut" ujar si satpam seraya menunjuk kearah tepat dimana Jaejoong menghilang.

Yunho hanya dapat tertunduk lemas, tak ada harapan lagi untuk kembali bertemu seorang Kim Jaejoong, sicantik yang secara jujur dikaguminya meski mereka baru saja bertemu. Sosok yang kuat menghadapi takdirnya seorang diri, berjuang hanya demi anak-anaknya meski terdampar jauh dari tanah kelahirannya.

Tak mempunyai alamat, hanya berbekal nama, Yunho pesimis akan berjumpa kembali dengan sicantik dengan senyumnya yang tulus tersebut.

Dengan langkah gontai Yunho kembali menuju kedalam gedung, namun tujuannya bukan keruangan-nya karena ia yakin Boa, wanita yang ditunangkan dengannya oleh orang tuanya itu pasti masih berada diruangan tersebut.

Namja tampan berperawakan tegap itu akhirnya memutar langkahnya menuju kantin.


Jaejoong melangkah santai bersama Changmin digendongannya yang kini tengah asyik kembali menyusu didada-nya setelah 2 jam perjalanan mereka menumpang kendaraan umum dari gedung Jung hingga mereka kini telah memasuki gerbang kampung mereka sendiri. Changmin yang nyaman dalam dekapan sang umma terus menyesap nikmat cairan kegemarannya sambil mendengarkan senandung merdu yang keluar dari bibir merah Kim Jaejoong sang umma.

Tampak beberapa pemuda diujung gang yang biasa dilewati Jaejoong jika habis bekerja dijalanan menuju rumahnya. Pemuda-pemuda tersebut tampak berlomba-lomba ingin merebut perhatian dari bunga kampung yang sebentar lagi akan lewat.

Tap..tap..tap

Langkah perlahan Jaejoong mendekati lokasi dimana pemuda-pemuda tersebut berkumpul, Jaejoong terus menundukkan wajahnya, kebiasaan khasnya jika merasa tak percaya diri.

"Numpang lewat ye bang..." Jaejoong mengucapkan kalimat permisi saat melintas tepat dihadapan pemuda-pemuda kampung yang heboh sendiri saat melihat sang janda yang dipercaya sebagai Janda kembang kampung mereka. Harumnya nama Mak Jujung sebagai jandai kembang dikampung ini terkenal sampai ke beberapa kampung tetangga.

"Dari mane aje mak Jujung, ehek" tanya salah satu dari pemuda tersebut yang dketahui bernama Syafei, ia memberanikan diri menghampiri Jaejoong yang tengah melangkah perlahan.

Saat berada didekat Mak Jujung Syafei berkali-kali mengucap syukur dalam hatinya lantaran secara langsung ia disuguhkan pemandanga surga dimana ia dapat melihat dari jarak yang begitu dekat dada montok dan mulus mak Jujung yang tengah 'netekin' Imin anaknya.

Glek~

'Bujubuneng tuh dade, Jupe mah lewaaat' batin Syafei dalam hatinya.

"Biase bang, kerja dijalanan, cari rejeki buat anak-anak" jawab Jaejoong tertunduk malu sembari menutupi dada mulusnya dari tatapan jelalatan Syafei yang hampir mengeluarkan ilernya.

"Mak Jujung, aye ga nolak kalo Imin minta gantiin posisinye, hehehe" lanjut Syafei tak tahu malu menuai protes dari semua pemuda-pemuda yang berada disana.

"Mesum loh Fe'i! Huuuuu"

Syafei hanya mendelik tak suka saat mendapat cacian dan hinaan dari teman-teman sekampungnya, bahkan diantara mereka ada yang tega melemparinya dengan kotoran ayam. hoekkss.

"Mak Jujung mah doyannya yang tampang Korea tauk! bukannya nyang korengan kayak lu, Fe'i! hahaha"

Jaejoong hanya dapat tertawa dan tersipu malu mendengar celotehan lucu para pemuda tersebut, dengan sebelah tangannya yang menutupi bibir cherry-nya, siapa yang tak tahan melihat wajah cantik sempurna dengan kulit yang halus mulus tersebut jika melintas didepan mata, hanya karena ingin menikmati wajah cantik dan tubuh mulus Jaejoong yang dikenal dengan panggilan mak Jujung itulah pemuda-pemuda tersebut selalu berkumpul tepat dilokasi yang biasa dilewati Jaejoong setiap sorenya sepulangnya dari jalanan.

Semenjak menjanda Jaejoong selalu menjadi buah bibir warga kampungnya, tak sedikit yang terang-terangan mengutarakan isi hatinya untuk menjadikannya kekasih atau istri, bahkan ada yang bermaksud menjadikannya sebagai istri kedua. Namun tak satu-pun yang mendapat balasan positif dari pria yang kecantikannya diatas rata-rata itu. Mak Jujung selalu menolak dengan halus dan sopan.

"Mak...mak...mak Jujung!"

Jaejoong baru saja akan mengetuk pintu rumahnya ketika tiba-tiba dari arah belakang datang tergopoh-gopoh mpok Yati yang terlihat sangat panik. Jaejoong menatap heran wajah mpok Yati yang masih ngos-ngosan dihadapannya.

"Nape mpok?" tanya Jaejoong heran.

"A-Anu mak...si Uchun"

"Uchun? nape tuh anak?" ujar Jaejoong penasaran mendengar mpok Yti menyebutkan nama anak sulungnya.

"N-Ntu mak, Uchun dikeroyok sama anak kampung sebelah"

"Mwoyaa, dimane sekarang ntu anak mpok? ya ampun Uchuuun" Jaejoong tak dapat menyembunyikan kekagetannya sampai-sampai berteriak panik.

"Ntuh mak, dilapangan, si Uncu disane juge, buruan sono gih, sinih biar Imin sama aye aje, kasian Uchun"

Tanpa berkata apa-apa lagi Jaejoong segera menyerahkan Imin kegendongan mpok Yati, tak menghiraukan jerit tangis sibocah yang tak mau berpisah dengan ummanya, dengan langkah terburu dan nafas memburu cepat-cepat Jaejoong menyusul ketempat dimana Yoochun dan Junsu sang buah hatinya berada.

Beberapa menit kemudian

"Chuuuun, Chuuun...ya ampuun Chun, kagak jera lu ye bikin emak lu jantungan mulu...nape Chun? liat muke luh bonyok gini, hiks...tega lu ye bikin emak lu suseh aje, hiks..."

Jaejoong yang akhirnya menemukan keberadaan Yoochun dan Junsu dilapangan tak jauh dari rumahnya menangis sesenggukan melihat keadaan putra sulungnya yang wajahnya sudah tak berbentuk lagi, habis dikeroyok anak kampung sebelah. Sementara Junsu sedari tadi telah menangis sesenggukan tak tega melihat keadaan hyung-nya yang sangat disayanginya itu.

"Gwaenchana mak, uljima ne...aye ga pape kok mak, mereka cemen semua kok, beraninye keroyokan aje" Uchun berusaha membuat emaknya tak terlalu khawatir dengan bersikap sok tangguh.

"Yaelah Chun, bonyok gini lu bilang kaga nape-nape, ga usah diladenin nape? lu ga kasian adek lu? untung mereka ga ngapa-ngapain si Uncu, hhhh" Jaejoong mendesah berat sembari mengusap wajah penuh memar Yoochun dengan kedua telapak tangannya dengan penuh perhatian. Hatinya begitu sakit melihat keadaan anak kandungnya yang sedemikian menyedihkan itu.

"Mak sebenernye mereka gangguin aye duluan, trus Uchun hyung datang nolongin aye mak" Junsu tertunduk mengutarakan kejadian sebenarnya yang menimpa dirinya bersama Yoochun hyung-nya.

"Gangguin lu pegimane Cu?" bingung Jaejoong.

"Mereka ngatain aye pantat bebek mak sewaktu aye maen sepakbola disini" jelas Uncu sembari masih tertunduk.

"Trus?"

"Trus Uchun hyung datang, lah mereka malah ngatain Uchun hyung, mak"

"Ngatain ape memangnye?"

"Mereka ngatain hyung jidat lapangan terbang gitu mak" jawab Junsu jujur, menuai gelengan kepala Jaejoong.

"Trus nape malah hyung-lu yang dikeroyok?" tanya Jaejoong masih penasaran.

"Itu karena mereka udah kelewatan mak, mereka sampe ngatain emak juge"

"Mwo? ngatain ape memangnye?"

"Katenye emak kite banci kaleng" ucap Junsu pelan bertambah dalam menundukkan wajahnya, tangisnya yang tadi sudah mereda kini kembali terdengar lagi.

Jaejoong hanya dapat menggeleng pelan, betapa berat menjadi seorang yang istimewa meski hinaan tak kunjung habis menghampirinya, bahkan kedua anak kandungnya yang tak berdosa ini turut terkena imbasnya turut merasakan hinaan tersebut.

"Hhhh, kalian ga seharusnye emosi, yang mereka katakan itu semua bener kan, lah emak lu emang laki, nape?" Jaejoong berusaha menguatkan dan membesarkan hati kedua putranya.

"Ye mak, tapi mereka pade cemen mak, nah aye cuman jawab satu kali aje, mereka udeh pade ngeroyok" Sahut Uchun membela dirinya.

"Mang lu jawab ape?" tanya Jaejoong lagi.

"Aye cuman jawab gini mak, emak gue emang laki, tapi mukenye lebih cakep dari emak lu pade, bapak lu lu pade aje demen sama emak gue, hehehe" jawab Yoochun enteng menuai kekehan dibibir cherry Jaejoong.

"Ah jinjja? lu jawab begitu Chun? pantesan lu dikeroyok, hahaha" tawa Jaejoong keras mendengar pengakuan Yoochun.

"Ihh emak, anak gantengnye dikeroyok kok malah cekikikan" rengut Yoochun merajuk.

Jaejoong menghentikan tawanya, meraih kedua tangan putra kesayangannya, mengusap lembut surai hitam keduanya, bibir cherry itupun mengulas senyum tipisnya.

"Chun, Cu, emak yakin babe lu disono pasti bangga liat anak-anaknye yang ganteng-ganteng ini, ingat ga lu Chun pesen babe luh yang gantengnye kagak ade tandingannye ntu?"

"Inget mak"

"Ape coba"

"Umm, meski kite miskin, kite mesti lapangin hati kite" jawab Uchun lancar, mengingat pesan terakhir babehnya, Siwon.

"Nah ntu lu inget Chun, jangan ngelapangin jidat lu doang Chun, hati lu lapangin, dibesarin, jadi biar emak lu dihina orang, ya terime aje...emang ntu kenyataannye, arraso?"

"Arraso mak"

"Saranghae, emak sayang lu pade..."

"Nado mak"

Jawaban serempak dari bibir Yoochun dan Junsu mengakhiri perbincangan JaeYooSu ditanah lapang tak jauh dari rumah mereka. Jaejoong memeluk erat kedua buah hatinya dengan perasaan haru, setitik airmata tampak disudut bola mata indah pria cantik yang kerap mendapat hinaan tersebut. Entah mengapa hinaan demi hinaan malah menjadikan hatinya semakin kuat menghadapi kehidupan kejam dikota metropolitan tempatnya terdampar saat ini.

'Wonnie ah, lihatlah mereka tumbuh menjadi anak-anak yang tegar' cherry merah itu tersenyum penuh arti.


Beberapa hari kemudian

"Han gege, apa kau yakin disini tempat ia biasa mengamen?"

"Ne tuan, sepertinya iya, karena menurut informasi dari sesama pengamen, mak Jujung juga biasa mengamen diperempatan ini"

"Hhhh, aku heran mengapa ia tak pernah muncul dijalur 3 in 1 yang biasanya, apa dia sengaja menghindariku"

Bibir hati itu menggumam pelan mengeluarkan kekesalan dihatinya, bagaimana tidak, hari ini sudah 3 kali ia dan sopir pribadinya bolak-balik diperempatan lampu merah yang berada tak jauh dari jalur 3 in 1 saat pertama kali ia bertemu dengan pemilik sepasang mata indah yang selalu menghiasi mimpi-nya selama beberapa malam ini.

Yunho merasa sangat bersalah sekali setelah kejadian dikantornya yang menyebabkan Jaejoong, pria cantik itu melarikan diri karena merasa tidak tahan atas hinaan Boa, gadis tunangannya.

Yunho memijit pelan keningnya, bahkan ia belum makan sama sekali siang ini. Keinginan Yunho untuk bertemu kembali dengan janda cantik tersebut sangatlah besar, ini dibuktikannya selama 3 hari berturut-turut ia dan sopir pribadinya bolak-balik mengitari area dimana Jaejoong biasanya mangkal. Yunho yang tak terlalu hapal lika-liku kota Jakarta selalu mengajak sopir pribadinya yang dipanggilnya dengan sebutan 'Han gege' karena pria tampan yang seumuran dengannya itu berkebangsaan Cina.

Tak terasa sudah hampir 3 jam mereka mengitari kawasan padat kendaraan tersebut, hingga akhirnya...

Biasanya tak pakai minyak wangi
Biasanya tak suka begitu
Saya cemburu, saya curiga
Takutnya ada main di sana

Solali lali, ola ola la
Solali lali, ola ola la

Biasanya tak pakai minyak rambut
Biasanya tak seperti itu
Saya gelisah, tak enak hati
Takutnya ada cinta yang lain

Solali lali, ola ola la
Solali lali, ola ola la

Serrr...serrr...

"Jaejoong ah..."

.

.

.

.

tebece

tambah gaje? alhamdulillah yaa^^

review yee...*cium atu-atu

.

.

NOTE

Tadinya ff Love Me yang bakalan dipublish duluan, tapi dukungan dari saudari Maria (fb) malah membuat saya menyelesaikan ff ini dalam waktu yang lumayan singkat. Hal itu membuktikan betapa sebuah dukungan dapat membangkitkan semangat saya yang (sebenarnya) dalam kondisi yang kurang sehat, hehehe *curcol.

Baiklah, sejujurnya dari hati saya yang paling dalam ingin menyampaikan rasa terimakasih kepada semua (70 orang) yang memberi reviewnya pada chap yang lalu, dan saat ini saya masih mengharapkan bentuk penghargaannya yang berupa review...*tetep

Saat ini saya tengah mengusahakan mengetik ff saya yang lain :)

*DeepBowing*