PERBAIKAN PREVIOUS PAGE! GOMEN! SAYA TIDAK TAU KENAPA KATA-KATANYA BISA TERPOTONG BEGITU! BAGI YANG SUDAH MENGERTI, SILAHKAN SKIP LANGSUNG KE CERITA!~m(_ _)m
Tanah kawasan yang rimbun itu sangatlah keadaan yang sangat berbanding terbalik.
Tanah kawasan yang rimbun itu sangatlah gersang. Sungguh keadaan yang sangat berbanding terbalik.
"Tidak, kok! Saat ini aku sedang senggang dan tadi saat aku sedang terbang, aku melihatmu sedang mengamati portal ini, jadi aku menyusulmu, deh!" ucap Ronald riang sambil seantero Aranchle ini, dialah Death God teramah dan paling ceria yang dapat ditemui.
"Tidak, kok! Saat ini aku sedang senggang dan tadi saat aku sedang terbang, aku melihatmu sedang mengamati portal ini, jadi aku menyusulmu, deh!" ucap Ronald riang sambil tersenyum. Di seantero Aranchle ini, dialah Death God teramah dan paling ceria yang dapat ditemui. Semua Death Gods juga mungkin akrab dengannya karena sifatnya memang berbeda dari kebanyakan Death Gods.
"Hm? Maksudmu Osiris, Obelisk, dan R.A.? Aku sendiri juga kurang juga mereka memang ditugaskan untuk sesuatu? Mereka Death Gods periode awal 'kan?" tanya Ronald sambil meletakkan telunjuk dan ibu jarinya di dagu.
"Hm? Maksudmu Osiris, Obelisk, dan R.A.? Aku sendiri juga kurang tau. Mungkin juga mereka memang ditugaskan untuk sesuatu? Mereka Death Gods periode awal 'kan?" tanya Ronald sambil meletakkan telunjuk dan ibu jarinya di dagu.
Ciel yang mendengar itu berhenti lalu menoleh dan hanya memeletkan –tiba raut wajah Kurofer mendadak berubahmenjadi tegang.
Ciel yang mendengar itu berhenti lalu menoleh dan hanya memeletkan -tiba raut wajah Kurofer mendadak berubah menjadi tegang.
Warning: AU, typo(s) maybe, OoC maybe, OC(s), based on Death Note concept, first Sho-Ai fiction (maybe just implicit), different plot with Death Note
Disclaimer: Kuroshitsuji© Yana Toboso, Death Note concept ©Tsugumi Ohba & Takashi Obata
Voll Note
by: Kuroschiffer P.
Page 2: The Ghost of You
…
Central Avenue, Monroeville, London, England
BRUKKKK
Pemuda berambut kelabu itu terdorong jatuh ke tanah. Sikunya sedikit terluka karena bergesekan dengan aspal yang kasar. Namun, rasa sakit itu tidak terasa sama sekali sebab mata birunya menangkap pemandangan yang selama ini tidak pernah ia bayangkan.
Sosok Christopher tergolek lemah di atas aspal keras dengan darah berceceran yang keluar dari kepalanya. Dapat dipastikan pemuda berambut hitam itu sudah tak bernyawa lagi sebab tubuhnya tak menunjukkan tanda-tanda masih bernapas.
Kedua permata biru Ciel mengeluarkan kilau bulir air mata. Tubuhnya gemetar hebat. Matanya membulat lebar seakan tak percaya hal seperti ini terjadi.
"…Ng…Ini bohong! Pasti tidak mungkin!" racau Ciel masih gemetar dan tak percaya.
Orang-orang yang melihat kejadian tragis itu pun hanya memekik tertahan dan melihat. Supir bis bertingkat yang menabrak Christopher itu pun ketakutan dan akhirnya melarikan diri serta meninggalkan bis itu beserta penumpangnya yang hanya sedikit. Sedangkan para penumpang yang ditinggal itu heran dan beranjak keluar dari bis untuk melihat apa yang terjadi.
Ciel menghampiri sosok temannya yang masih tergeletak tak bernyawa sambil gemetaran dan keringat dingin bercucuran di dahi mulusnya. Tidak. Christopher sudah tidak bergerak lagi dan telah meninggalkan dunia fana ini. Ciel jatuh terduduk di samping sosok menyedihkan itu. Perlahan, Ciel mulai mengguncang tubuh Christopher.
"Fer…Kurofer…" panggil Ciel sambil mengguncang perlahan.
"Kurofer… KUROFER! BANGUN! AYO CEPAT BANGUN!" teriak Ciel sembari air matanya mengalir dan terus mengguncang jasad kosong Kurofer makin keras.
"Kalau kau tak cepat bangun… kita… akan terlambat masuk sekolah, tahu!..." isakCiel, "…Makanya, cepat bangun, Christopher!" ujar Ciel sambil sesenggukan dan gemetaran serta masih mengguncang tubuh Christopher.
Orang-orang di sekitar Ciel hanya berkerumun memperhatikan Christopher dan Ciel seperti memperhatikan atraksi spektakuler yang unik. Tak ada satu pun dari orang-orang itu yang bergerak untuk membantu mereka.
"Hiks! Yang tadi aku hanya bercanda!" ucap Ciel sambil terus meratapi tubuh kaku temannya.
"Kau tahu 'kan?... Maka dari itu… Jangan balas aku dengan candaan seperti ini!... Hiks!... Bangun, Kurofer!" Ciel masih bermonolog sambil sesenggukan melihat Christopher yang tak kunjung bangun dari posisi telentangnya.
Ciel sangat berharap sosok yang terbaring di hadapannya ini akan bangun sambil terkekeh dan berkata, "Ciel, Ciel! Kau cengeng sekali, sih! Mau saja aku tipu!"sembari menunjukkan cengiran , sayang harapan itu tak akan pernah terkabul. Orang yang sudah meninggal tidak akan bisa bangkit kembali, bukan?
Ciel masih menangis dan meraung-meraung, memanggil nama temannya itu agar segera bangun seperti orang tak waras. Sampai akhirnya ada beberapa orang yang cukup sadar dan punya hati untuk menenangkan Ciel dan membawa jasad Christopher ke rumah sakit.
Dalam perjalanan ke rumah sakit pun ia tetap menangis dalam diam dan tidak separah tadi. Ia hanya menitikan air mata sambil mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Sebisa mungkin ia menahan mulutnya agar tidak terisak dan berteriak seperti tadi. Ia teringat kembali akan kejadian tadi pagi, sebelum Christopher pergi untuk selamanya.
Ia ingat Christopher dan dirinya sedang berjalan ke sekolah seperti biasa. Mereka bercanda dan tertawa seperti biasa. Hanya karena Ciel berpura-pura ngambek hingga Ciel sendiri tidak konsentrasi melihat-lihat jalan, Christopher-lah yang menggantikan Ciel tertabrak bis itu hingga kehilangan nyawa satu-satunya.
Ciel jelas merasa tertekan dan amat bersalah atas hal itu. Sesal memenuhi pikirannya. Kalau saja hari itu ia tidak pura-pura ngambek, Christopher tak harus pergi. Kalau saja ia menunggu Christopher yang biasa bangun telat, Christopher tak perlu pergi. Ya. Kalau saja.
…
…
Aranchle―Death God's World
Ia menurunkan tangan pucat seputih kapur yang tadinya dipakai untuk menulis sesuatu di atas sebuah buku. Mata crimson berkilau milik sosok itu tak sekali pun mengalihkan perhatiannya. Masih terus menatap portal hitam gelap tersebut. Pemilik mata itu baru saja selesai menjalankan tugasnya―mencabut nyawa.
Walaupun sudah selesai, ia tidak langsung beranjak dari tempatnya, melainkan terus mengintip dunia manusia di ujung portal itu.
"Sepertinya takdir kembali membawaku kepadamu." gumam sosok itu sambil terus berdiam diri.
"Maaf membuatmu sedih dan kembali kesepian. Aku tak bisa melawan perintah." gumam Death God berambut ebony itu lagi.
Ia baru saja mengambil nyawa seorang manusia yang tinggal di Monroeville, London, England. Manusia itu tak lain dan tak bukan adalah Christopher Chaferio. Seusai menuliskan sesuatu lagi dengan pena panjang seperti ranting di sebuah buku bersampul perak itu, ia kembali menatap portal hitam itu.
"Tunggulah sebentar lagi! Aku pasti akan ke sana." gumam sosok bersayap hitam itu lagi sambil menunjukkan raut muka yang sulit untuk diartikan.
Sosok itu berbalik dan mengepakkan sayap hitam agungnya hingga ia terbang menyisakan bulu-bulu hitam berkilauan tertimpa cahaya bulan putih yang selalu menggantung di langit Aranchle. Ia hendak menyerahkan laporannya kepada Lord of Death Gods.
Setelah menyerahkan laporan pencabutan nyawa, Death God itu terbang menuju Tengoku Gate―gerbang pembatas antara dunia Death Gods dan Malaikat. Para Death Gods tidak bisa melewati gerbang suci itu kecuali memiliki keperluan yang sangat penting dan mendapat izin dari Lord of Death Gods. Malaikat yang bisa keluar masuk Aranchle juga hanya beberapa.
Death God rupawan itu mendaratkan dirinya tak jauh dari gerbang agung berukiran rumit menunggu malaikat yang selama ini menjadi partner-nya datang.
Ya, selama 4 tahun terakhir, Sebastian Michaelis, seorang Death God bermata scarlet ini mengadakan perjanjian dengan malaikat yang dulunya biasa datang ke Aranchle setiap dua hari sekali. Perjanjiannya amatlah sederhana, yaitu Sebastian mau menggantikan tugas malaikat itu memastikan keadaan Aranchle tetap stabil. Pekerjaan itu cukup mudah untuk dilakukan sesosok Death God macam Sebastian.
Awalnya memang sulit untuk mendekati apalagi menjadikan seorang malaikat sebagai partner. Tetapi, karena sang malaikat suci lama-kelamaan tersentuh melihat kegigihan Sebastian yang tiap hari mendatanginya dan mencoba berbicara dengannya, malaikat itu luluh dan akhirnya mau bicara dengan Death God itu dan membantunya.
Malaikat itu sengaja memberikan Sebastian tugas yang cukup merepotkan selama 4 tahun terakhir ini untuk mengetes seberapa besar keinginan Sebastian untuk datang ke dunia fana. Setiap lima bulan sekali, ia datang untuk mengecek hasil pekerjaan Sebastian. Ternyata, setelah 4 tahun berlalu pun keinginan Sebastian tidak berkurang sama sekali. Malah ia semakin jenuh dan bosan serta ingin cepat-cepat datang ke dunia manusia.
Tak lama setelah Sebastian menunggu, malaikat yang dimaksud pun muncul. Berbeda dengan Death Gods, malaikat mempunyai sepasang sayap sama lebar namun putih bersih berkilauan serta sangat indah.
Sosoknya pun lebih berseri dan terkesan suci. Jubahnya pun sama bersihnya dengan sayapnya. Jubah itu berkilauan seperti dihiasi berlian tak terhitung di setiap helaian benangnya. Sebuah permata besar transparan berbentuk pentagram terjuntai anggun di dada malaikat itu, dengan rantai-rantai emas kecil sebagai talinya. Sosok berkilau sang malaikat anggun selalu terlihat mencolok di Aranchle yang selalu terlihat agak suram.
Malaikat berambut putih keunguan itu melipat sayapnya dan mendarat bulu putih ikut berjatuhan seiring langkah kakinya.
"Lama menunggu, Michaelis?" tanya malaikat bermata violet itu dengan suara selembut sutra.
"Tidak. Aku juga baru sampai. Ini, aku sudah menyelesaikan tugasmu selama lima bulan terakhir. Sudah empat tahun aku melakukan ini, apakah masih belum bisa?" tanya Sebastian balik sambil menyerahkan lima buah gulungan perkamen cokelat hasil laporan kestabilan Aranchle lima bulan terakhir.
"Ternyata sampai sekarang kau masih bersikeras ke dunia itu. Sebenarnya apa yang membuatmu begitu ingin ke sana?" ucap malaikat itu masih dengan suara sebening petikan harpa.
"Masih sama dengan alasanku yang dahulu. Aku jenuh dengan Aranchle dan aku tertarik dengan dunia fana yang sepertinya sangat menarik." jawab Sebastian tegas sambil menatap lurus malaikat itu. Entah mengapa saat Sebastian mengatakan dunia fana―atau di dunia atas disebut Menscherde―sangat menarik, bayangan bocah berambut kelabu terbentuk di benaknya.
"Kau yakin hanya karena bosan? Aku sudah ingatkan, sekali kau berada di sana, akan butuh paling sedikit dua tahun untuk bisa kembali ke Aranchle." ucap malaikat berambut gelombang itu meyakinkan. Sebenarnya ia masih sedang mengetes kesungguhan Sebastian.
"Aku tahu. Tak apa. Aku yakin di sana cukup menyenangkan dan aku akan betah berlama-lama di Menscherde." ujar Sebastian balik dengan keyakinan terpancar di kedua iris merahnya.
"Hmm… Baiklah. Kurasa kau cukup siap dan sangat yakin untuk ke sana. Tetapi, bersabarlah hingga bulan berikutnya. Permintaanmu sedang kuusahakan dan dalam proses. Akan kubawa kau ke sana jikalau sudah selesai." ucap malaikat cantik nan anggun itu sambil tersenyum. Malaikat itu seakan bisa membaca pikiran lain Sebastian.
"Terima kasih banyak, Angela!" ujar Sebastian lega sambil balas tersenyum tulus walau sangat tipis.
"Ya, sama-sama, Michaelis!" jawab malaikat rupawan bersuara lembut itu yang bernama Angela Barrymore.
"Sangat jarang ketumui Death God seperti dirimu. Semoga Tuhan lekas mengizinkanmu dan baik-baiklah kau di Menscherde." tambah malaikat itu tulus.
Mata crimson Sebastian membulat sebentar dan kemudian kembali ke ukuran semula. Ia sedikit terkejut dengan perkataan malaikat barusan. Bagaimana tidak? Hanya sesosok Sebastian Michaelis―Death God yang bisa mendapatkan sepatah doa dari malaikat.
"Hn. Sekali lagi terima kasih Angela! Kalau begitu, aku hanya tinggal menunggu kedatanganmu yang berikutnya." ucap Sebastian memastikan.
"Ya, aku akan kembali lagi paling lama 45 hari dari sekarang. Nah, sekarang sampai jumpa, Michaelis!" ujar Angela sambil bersiap mengepakkan sayap putihnya dan menghilang dibalik gerbang agung yang bersinar itu.
"Hm, paling lama 45 hari? Sepertinya aku memang harus sangat bersabar." gumam Sebastian kemudian mengepakkan sayapnya dan pergi meninggalkan tempat itu.
…
…
Monroeville, London Cemetery, 10 am
Angin yang berhembus kala itu memainkan rambut kelabu sehalus sutra pemuda itu. Rintik hujan yang ikut meramaikan suasana hening nan suram itu jatuh perlahan-lahan menimpa payung hitam yang meneduhi pemuda itu. Langit seakan mewakilinya untuk menangis sebab air mata pemuda beriris biru laut itu sudah mengering. Habis. Raut sendu dan penuh penyesalan tetap terpatri di wajah rupawannya yang sehalus pualam terindah.
Sampai beberapa saat kemudian, pemuda itu masih setia mematung, berdiam diri di depan makam baru yang nisannya telah basah oleh air hujan. Hanya tinggal dirinya dan seorang wanita berambut merah yang masih setia berada di dekat makam itu sebab yang lainnya sudah pergi lantaran gerimis kecil yang mengguyur pemakaman suram itu.
"Ciel, ayo kita pulang, sebelum hujan makin besar!" ucap suara serak wanita yang sedang berdiri di samping pemuda itu. Kentara sekali wanita itu habis menangis dari suaranya yang kedengarannya mulai habis.
Pemuda yang dipanggil Ciel itu hanya diam saja. Dirinya tak bergeming sedikit pun, seakan rohnya sedang berada di dunia lain dan hanya jasadnya yang berdiri di sini.
"Ciel, aku tahu kau sangat terpukul dengan kejadian ini, tetapi jangan seperti ini, Nak!" ucap wanita itu lagi sambil memegang bahu Ciel yang hanya setinggi dadanya.
Pemuda itu tetap diam tak menjawab. Namun, tangannya bergerak menyentuh tangan wanita yang sedang memegangi bahunya. Pemuda itu menggenggam tangan wanita itu erat. Ia sedang berusaha menahan kesedihannya yang amat sangat.
"Ayo, Ciel! Kita pulang sekarang. Aku yakin Christopher tidak akan suka melihatmu terus bersedih seperti ini." ujar wanita itu meyakinkan agar pemuda itu mau beranjak dari tempat suram yang mulai dibasahi hujan yang lebih besar.
"…Ya. Maaf. Ayo kita pulang." ucap pemuda itu pada akhirnya sambil menolehkan wajah manisnya ke arah wanita itu dan melangkahkan kakinya dari makam yang daritadi menyita perhatiannya.
Ya, makam itu tak lain dan tak bukan adalah makam tetangga sekaligus sahabat terdekatnya, Christopher Chaferio.
Satu jam lalu, di pagi yang mendung seperti hari-hari biasa ini, jasad Christopher dikebumikan. Seluruh keluarga Chaferio beserta rekan dan kerabat menghadiri pemakaman putra kedua pasangan Chaferio itu tak terkecuali Ciel dan bibinya. Ibu Christopher-lah yang kondisinya kelihatan menyedihkan sekali. Ia terus saja menangisi anak keduanya seakan-akan tidak percaya kalau sekarang anaknya tengah berbaring di peti makam itu dan sudah pergi meninggalkan dunia ini.
Sudah 10 menit berlalu sejak keluarga Chaferio meninggalkan area pemakaman. Yang tersisa saat ini hanya Ciel dan bibinya yang ikut menemani Ciel. Kini, mereka berdua juga meninggalkan tempat suram yang selalu menimbulkan kesedihan itu.
.
3 days later, Monroeville High School
.
Iris biru gelapnya hanya bergerak menyusuri jalan setapak yang berada di taman sekolah itu. Ya, pemuda itu berjalan tertunduk. Tak tahu mau ke mana. Biasanya di saat istirahat seperti ini, ia akan ke taman belakang, duduk lesehan di atas tikar rumput di bawah pohon besar untuk makan bersama teman-teman dekatnya yang lain. Mereka adalah remaja yang kehidupannya tak jauh beda dengan Ciel dan Kurofer―dulunya sering di-bully. Sebut saja David―pemuda berkacamata yang maniak buku, Lindsey―gadis yang selalu terlihat muram dan menyedihkan hanya karena penampilannya yang berkesan goth, dan Franklin―hanya ia pemuda yang pembawaannya selalu ceria dan paling populer di antara mereka berlima (termasuk Christopher).
Di sekolah Ciel, bahkan di seluruh sekolah menengah ke atas Inggris mungkin, jarang ditemukan murid-murid yang tidak mengelompok. Ciel dan teman-temannya tentu bukanlah jenis kelompok yang populer yang biasanya hanya bisa bersolek serta sok jago. Justru kelompok Ciel terdiri dari anak-anak yang amat jauh dari kata populer―pengecualian bagi Franklin yang memang bersifat supel dan Christopher yang selalu terlihat cool. Mereka kemudian membentuk kelompok secara tidak langsung dan mulai akrab satu sama lain. Memang mereka tidak selalu bersama-sama ke mana-mana, hanya saat di sekolah-lah mereka menghabiskan waktu bersama. Terutama saat istirahat seperti sekarang, mereka akan berkumpul di bawah pohon besar taman belakang.
Namun, semenjak Christopher tiada, rasanya berada di situ hanya akan membuat Ciel dan teman-temannya merasa sepi dan sedih sebab tempat itu juga menyimpan banyak kenangan tentang Christopher. Maka, tak ada satu pun dari teman-teman Ciel yang berkumpul di tempat itu.
Sekarang, Ciel sendiri bingung hendak menghabiskan waktu istirahat di mana. Kemarin ia hanya mengobrol dengan teman-temannya dan hasilnya malah semakin sedih karena lama-kelamaan topik obrolan mereka berubah menjadi nostalgia saat Christopher masih ada.
Ia kemudian memutuskan untuk melangkahkan dirinya ke perpustakaan. Ia rasa tempat itu adalah satu-satunya tempat dirinya bisa sendirian dan bebas dari kesedihannya. Ya, menurut Ciel yang maniak buku, hanya dengan membaca ia bisa lupa dengan sekitar meski yang dibaca adalah buku sejarah tebal yang barisnya sangat rapat.
Di tempat itu pula, ia bebas dari jangkauan berandal yang jumlahnya makin banyak saja. Jangan sangka saat Ciel beranjak dewasa seperti sekarang, dirinya tak lagi jadi objek penganiayaan seperti dulu. Sampai sekarang Robert dan kawan-kawan masih setia mem-bully Ciel yang malangnya selalu satu sekolah dengan mereka. Walaupun tidak mem-bully sesering dahulu, Ciel tetap saja kesal dan heran dengan tingkah mereka yang tidak juga jera padahal sudah sering dihukum.
Belum sempat ia mencapai perpustakaan, langkahnya tehadang oleh rombongan yang barusan kita bicarakan. Ya, mereka tak lain dan tak bukan adalah Robert dan kawan-kawan. Ciel berhenti dan mematung karena Robert dan teman-temannya sudah berdiri di depannya―atau lebih tepatnya mengerubungi Ciel.
"Wah, wah. Lihat siapa ini! Anak kecil yang membuat Mr. Arthur menghukum kita tempo hari." seru Robert dengan seringai tidak menyenangkan di wajahnya.
Ciel hanya berdiam diri menghadapi mereka tanpa rasa takut terpancar di kedua matanya. Ya, Ciel sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Bedanya, sekarang tidak ada Christopher yang biasanya mengeluarkan hinaan serta cacian tajam tiap mereka mau mem-bully dirinya dan Ciel. Sekarang, tak ada lagi yang menemani Ciel di saat seperti ini.
Semenjak tiga tahun lalu, saat Christopher tahu kalau Ciel dan dirinya akan selalu diincar untuk diisengi, entah apa yang Christopher lakukan hingga dirinya bisa sedikit melawan Robert dan kawanannya saat sedang mem-bully Christopher dan Ciel. Pernah suatu ketika, Christopher mengalahkan mereka―walau dirinya sendiri habis babak belur―hingga mereka tidak datang mem-bully Ciel dan dirinya untuk hari-hari berikutnya. Namun, hal itu hanya bertahan satu bulan. Bulan berikutnya, Robert membawa lebih banyak kawanannya daripada tempo hari. Tentu saja ia berniat balas dendam karena telah dipermalukan Christopher yang dengan sendirian mengalahkan tiga orang (termasuk Robert).
Ah… Ciel mengernyitkan dahinya. Kembali teringat akan teman terdekatnya yang baru saja pergi.
"Hei anak kecil! Mau apa kau berjalan-jalan sendirian di koridor sepi ini?" tambah Larry―pemuda berambut cokelat beralis tebal, salah satu kawanan Robert―dengan nada congkaknya. "Oh, kau pasti tersesat dari ibumu, ya?"
Mereka semua tertawa dengan suara besar yang bagi telinga Ciel, suara tawa mereka amatlah jelek dan mengganggu. Namun, Ciel tetap diam dengan tampang datar menghadapi mereka.
"Ow, ow! Lihat akibat perbuatanmu, Lar! Sekarang anak kecilnya menangis dan akan mengadukanmu ke ibunya!" seru Norman―kawanan Robert lainnya yang berambut pirang pucat bertubuh tak terlalu tinggi―masih dengan nada mengejek kemudian diiringi tawa kawan-kawan lainnya.
"Get off." ujar Ciel pendek dengan nada sangat dingin.
"Huh, apa yang membuatmu berpikir kami akan mengizinkanmu lewat dengan mudahnya, heh!" tukas Robert dengan sikap sok-nya.
"Minggir atau kupastikan Mr. Arthur benar-benar mengeluarkan kalian dari sini." jawab Ciel sambil melayangkan tatapan menantang ke arah Robert.
Ya, apa yang membuat Robert dan kawan-kawan tidak pernah jera mengusili Ciel adalah karena hanya Ciel seorang, korban mereka yang tidak pernah terlihat takut akan mereka. Mereka tidak pernah berhasil menundukkan Ciel seperti korban-korban mereka yang lain. Ciel terus saja melayangkan tatapan sinis dan menantang yang membuat mereka semakin ingin membuat tatapan itu kehilangan keberanian untuk menatap mereka.
"Jangan macam-macam, anak kecil! Sekarang kau hanya sendiri. Mudah sekali bagi kami untuk menjatuhkanmu." geram Robert kesal sebab merasa dirinya diremehkan.
Ciel tetap tak merubah cara pandangnya walau Robert menggertaknya seperti tadi. Malah tatapannya semakin sinis dan merendahkan.
"Tanpa teman berkacamata-mu itu, kau bukanlah apa-apa. Oh, iya. Di mana dia? Pasti dia lelah mempunyai teman sepertimu hingga ia memutuskan untuk pergi." tambah Larry masih dengan nada mengejek.
Pts. Telinga Ciel menegang mendengar kata-kata barusan. Punggungnya menegak seketika. Pikirannya mulai ke mana-mana. Benarkah Christopher muak jadi temannya selama ini? Pertanyaan itu kemudian terus terngiang-ngiang di benak Ciel. Kini, tatapan Ciel berubah menjadi horor seketika itu juga.
"Sepertinya kau lupa, Lar! Temannya 'kan sudah mati menggantikan dirinya." seru Raymond―kawanan Robert lainnya yang bertubuh paling tinggi dan berambut coklat kemerahan―sengaja memprovokasi Ciel.
Mata biru laut Ciel melebar. Amarah mulai muncul di pikirannya. Tak perlu orang lain ingatkan, ia tahu kalau Christopher sudah tiada. Kemudian kata-kata Raymond selanjutnya yang membuat Ciel semakin tertekan. Ya, tanpa orang lain ingatkan, Ciel tahu persis kalau Christopher pergi karena menyelamatkannya. Ciel tahu persis kalau Christopher pergi karena menggantikannya.
Ciel tetap terdiam. Sibuk dengan pikirannya yang sekarang amat makin ke mana-mana. Ia jelas tertekan dan takut. Keringat dingin mulai terlihat meluncur di dahi mulusnya. Bahunya mulai sedikit gemetar. Bayang-bayang Christopher kembali merajai pikirannya. Ciel kembali tenggelam dengan pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan di benaknya, disebabkan oleh provokasi yang dilakukan Larry dan Raymond.
"Ah, iya, aku lupa kalau dia sudah MATI. Teman macam apa kau yang membiarkan temannya yang selama ini rela susah payah membantu, mati menggantikan dirimu?" ujar Larry tajam sambil menunjukkan seringaian jeleknya. Tawa mengejek teman-temannya kembali membahana, namun seberapa keras suara tawa itu, telinga Ciel tidak dapat menangkapnya.
JLEB! Kata-kata barusan berhasil menohok hatinya hingga bagian yang paling dalam. Detak jantungnya terasa berhenti sesaat.
Ciel memang pernah berpikir demikian hingga menyebabkan ia amat tertekan dan depresi serta tak tidur semalaman di hari Christopher tiada. Namun, ia memutuskan untuk tidak memikirkannya lebih lanjut sebab ia kembali teringat kata-kata Christopher dulu saat sedang bermain game dengannya.
"Yang membuat aku kagum dengan game ini, karakter utamanya sangatlah keren. Ia rela menggantikan ayahnya yang seharusnya dihukum gantung. Padahal dulu ayahnya sering berbuat jahat padanya." ujar Kurofer lagi dengan nada sedikit antusias. Namun, tetap saja pandangannya masih tertuju pada layar LCD 29" yang menampilkan game yang sedang mereka mainkan.
"Itu karena ayahnya itu memang tak bersalah dalam kasus ini. Lagipula, lihat saja lanjutannya. Ia tidak jadi mati, 'kan?" Ciel kembali menyahuti pernyataan temannya itu masih sambil memerhatikan layar LCD.
"Tetapi, tetap saja keren. Coba saja bayangkan jika hal itu terjadi di dunia nyata."
"Sepertinya tidak ada orang yang cukup gila untuk menukar nyawanya untuk orang lain. Kecuali, jika di dunia nyata dapat hidup kembali seperti di sini." jawab Ciel retoris.
"Pemikiran orang tentu berbeda, Ciel. Tak semua orang se-cuek kau, lho!" seru Kurofer diiringi sedikit tawa.
"Huh, manusia itu semuanya sama. Arogan. Memang kau sendiri rela apa nyawa satu-satunya yang kau miliki terbuang hanya untuk menyelamatkan orang lain?" tanya Ciel balik dengan nada sedikit merendahkan.
"Hm, kalau untuk orang-orang yang berharga bagiku, mengapa tidak? Lagipula, dengan begitu aku sudah pasti akan tenang di surga nanti!" ucap Kurofer percaya diri.
"Benarkah itu? Belum tentu kau akan masuk surga, lho!" ejek Ciel sambil sedikit tertawa.
"Ih, aku beneran, lho! Dan apa maksudmu aku tidak bakal masuk surga? Memang aku buruk banget apa?" gerutu Kurofer sambil matanya tetap fokus ke layar game.
"Hmph, hati-hati dengan perkataanmu. Ingat, di dunia nyata tidak seperti di game. Manusia tidak bisa dengan gampangnya hidup kembali."
"Tentu saja! Kalau hidup seperti dalam game, orang tuamu pasti masih ada." ucap Kurofer sambil tetap fokus ke permainan.
Saat Ciel teringat hal itu, ia merasa sedikit terangkat bebannya. Ya, Christopher sendiri yang dulu sering mengatakan kalau ia selalu memegang kata-katanya, termasuk kata-katanya saat itu. Ketika itu juga, Ciel yang memang sedari tadi tidak tidur, merebahkan dirinya di kasur dan memejamkan mata.
Dan sekarang, ia kembali diingatkan akan pertanyaan itu. Walau perkataan Christopher berkali-kali mengingatkannya, tetap saja rasa bersalah yang mendalam kembali menjalari pikirannya.
Keringat dingin kini mengucur lebih banyak. Tubuh Ciel pun makin gemetar lantaran pikirannya kembali terngiang-ngiang akan Christopher dan pernyataan-pernyataan yang keluar dari mulut kawanan Robert itu hingga membuatnya makin tertekan.
"Diam." Ciel bergumam pelan tetapi masih dapat didengar oleh kawanan yang sedang mengerubunginya.
"…Hahaha… Eh, apa tadi kau bilang, nak?" ucap Robert sangat mengejek. Sedangkan teman-temannya masih saja menertawakan Ciel.
"Hei, Robert! Kau apakan dia sampai gemetaran begitu, ha? Hahaha…" ejek Gabriel―kawan Robert lainnya yang berambut pirang kejinggaan dan mempunyai ukuran tubuh paling gemuk―dengan suara tawanya yang mirip seperti babi yang menguik.
Ciel masih diam dengan tubuh gemetar. Sekarang, amarah lah yang memenuhi pikirannya.
"Hahaha, setelah teman kecoak-mu itu pergi, kau baru sadar kalau kau tak lebih dari sekedar debu bagi kami!" seru Larry lagi sambil terus tertawa. "Ups, aku lupa kalau kecoak sukar MATI. Kalau begitu, teman sampahmu itu sudah tidak bisa lagi macam-macam dengan kami!"
Robert dan beberapa kawannya yang saat itu berjumlah empat orang―termasuk Robert―terus saja mengejek dan menghina Ciel. Dan yang terburuk dan membuat Ciel amat sangat marah, mereka juga mengejek Christopher. Ciel masih bisa sedikitr menolerir jika ia yang diejek. Namun, kali ini mereka benar-benar membuat kesabaran Ciel habis. Bagaimana tidak? Tetangga sekaligus sahabat terdekatnya yang bahkan sudah pergi meninggalkan dunia ini, masih saja dihina oleh sekawanan busuk itu.
"DIAM!" Kali ini suara Ciel terdengar sangat lantang dan penuh amarah.
"Ow, ow! Anak kecil mulai mengamuk. Bagaimana ini, kita tidak punya balon untuk menenangkanmu, nak!" ejek salah seorang dari kawanan itu, entah siapa, karena Ciel sudah tidak peduli.
Ciel sudah tidak dapat menahan amarahnya lagi. Tangannya sudah mengepal sedari tadi. Kemudian dengan cepat ia menegakkan kepalanya. "I said, SHUT THE F*CK UP, you DEAF!" Itulah kalimat terkasar yang pernah keluar dari mulut mungil Ciel.
Robert dan kawan-kawan yang sedari tadi sedang tertawa, langsung terdiam saat mendengar teriakan Ciel yang tiba-tiba. Kaget tentu saja, karena selama ini Ciel tidak pernah berteriak seperti itu kepada mereka.
"Kau telah menggali lubang kuburmu sendiri, nak! Get him!" perintah Robert kepada kawan-kawannya dengan kaget serta amarah bercampur dalam nadanya.
Sebelum mereka berhasil melayangkan satu pukulan ke tubuh ringkih remaja itu, bel sekolah tanda waktu istirahat telah habis berbunyi nyaring. Seketika itu juga, gerakan berandalan itu terhenti. Kemudian, Robert mendengus. Ia sangat tidak puas tidak jadi 'memainkan' Ciel lantaran bel itu menyebabkan guru-guru bermunculan, hendak mengajar di kelas yang bersangkutan.
"Hmph, kali ini kau selamat, nak! Lihat saja nanti. Habis kau!" gertak Robert kemudian menyuruh kawanannya meninggalkan Ciel yang masih berdiri di koridor itu. Sedikit kelegaan tercipta di sudut hatinya, tetapi, tetap saja rasa amarah terhadap mereka belum juga hilang.
Ciel kemudian berbalik dan menarik napas dalam-dalam. Berusaha mengurangi amarahnya yang meluap-luap. Kemudian ia melangkahkan kakinya dengan malas menuju kelas.
.
1 month later
.
Lagi. Jengkel, kesal, marah, heran, dan perasaan-perasaan buruk lainnya bercampur jadi satu di benak pemuda itu. Ia berjalan menyusuri trotoar itu dengan langkah yang amat gontai. Pemuda itu sedang berjalan pulang ke rumahnya. Tentu kalian pasti mengetahui apa yang telah terjadi dengan pemuda itu.
Ya, apalagi kalau bukan karena Robert dan kawan-kawan yang telah membuatnya lusuh seperti ini. Memang dari luar pemuda itu terlihat baik-baik saja, sebab pemuda itu menggunakan hodie berlengan panjang dan celana panjang hitam yang menutupi lebam di seluruh tubuhnya. Mengapa wajah cantik pemuda itu tak lusuh sama sekali? Sederhana saja, Robert dan kawan-kawannya cukup cerdas untuk menyerang bagian yang tertutup pakaian agar tidak ketahuan oleh orang lain tentu saja.
Pemuda itu terus saja merutuki mereka sepanjang perjalanannya. Ingin sekali gerombolan seperti mereka musnah dari muka bumi sekalian. Ia sering berharap akan sedikit keajaiban akan merubah kehidupannya sehari-hari. Jika kalian bertanya mengapa gerombolan seperti Robert dan kawan-kawan masih saja eksis di sekolahnya, jawabannya sederhana. Robert adalah anak dari kaum berada yang merupakan donatur utama Monroe High School.
Maka dari itu, kepala sekolah sekalipun tak berani mengeluarkannya. Paling-paling Robert hanya akan mendapat hukuman dan surat-surat peringatan yang sama sekali tak berguna. Dan Ciel benar-benar tak percaya saat pertama kali mengetahui bahwa faktanya seperti demikian. Tentu saja ia sangat kecewa, marah, dan tidak puas dengan kenyataan kalau keadilan diatur oleh uang dan kedudukan.
Sibuk dengan pikiran dan gerutuannya, ia tidak memperhatikan sekelilingnya. Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika menyadari bahwa dirinya baru saja menginjak sesuatu. Kemudian ia menundukkan kepalanya, melihat apa yang baru saja diinjaknya.
Sebuah buku perak seukuran buku campus tetapi lebih tebal tergeletak di trotoar itu. Ciel menaikkan sebelah alisnya. Penasaran dengan buku apa itu, ia memungutnya dan melihat bagian di baliknya. Di bagian yang Ciel rasa itu adalah kavernya, tertera tulisan yang sepertinya ditulis dengan pena bermata sangat kecil hingga menimbulkan huruf yang sangat tajam.
"Voll Note." ujar Ciel saat melihat tulisan di kaver buku itu. Ciel kembali menaikkan sebelah alisnya. Kemudian, sembari meneruskan perjalanannya pulang ke rumah yang sempat terhenti karena buku itu, Ciel membolak-balik buku itu. Awalnya, ia hanya ingin mencari nama pemilik buku itu. Namun, perhatiannya terpaku saat ia melihat tulisan-tulisan yang tertera di balik kaver itu.
.
Die Regeln
Jemand, dessen Name in diesem Sinne geschrieben, sollen folgen, was damit der Besitzer des Voll Note Wünsche
.
'Hm? Apa ini?' pikir Ciel saat pertama kali membaca kalimat pertama buku itu.
Penasaran, Ciel akhirnya membawa buku itu pulang ke rumahnya dan membaca lanjutan peraturan yang tertera di buku itu sesampainya ia di kamarnya. Pikirnya, orang yang membuat buku ini sangat kreatif untuk membuat sebuah buku berisikan peraturan tak masuk akal seperti ini. Tetapi, tetap saja ia membaca semua peraturan itu.
'Heh, cukup menarik.'
...
To be Continued to The Next Page
...
A.N: Ahahaha~ Finally, I managed to make this! Saya lega masih sempet bikin ini. Dan saya mau minta maaf sekali lagi untuk kalimat-kalimat yang tidak jelas di page lalu karena kata-katanya terpotong. Saya benar-benar tidak tahu mengapa bisa begitu karena saya sudah mengetik kalimat itu secara lengkap di Ms. Word saya. -_- Saya juga mau kasih tahu kalau apdet untuk yang selanjutnya akan lama sekali karena saya udah kembali masuk sekolah! Argh! Bukannya saya benci sekolah, tapi saya benci dengan peer dan tugas yang pasti akan menerjang saya hingga waktu saya habis. Yah, at least, harap sabar~ #dziggh
.
Thank You for Yer Reviews, Dear Readers!
Shora Shieru, Dimitri Light, Moussy Phantomhive, Meg chan, Aiko Enma,
Kamiya Yuki, Kesha, Chernaya shapochka, Sebaschiffer yer brotha, yang males login
.
Dimitri Light: Hyaa, saya juga gak bisa bayangin tampang ganteng Sebas bakal kayak apa kalo dijadiin model Ryuk, Rem, dkk! *horror face* Jadi ngebayangin kalo Ryuk tampangnya 'bener' gimana ya? xD Oke, maksih sarannya, Dim-san!~ Makasih juga udah RnR!~ RnR lagi boleh~
Meg chan: Pertanyaan mu udah terjawab di sini~ Makasih udah RnR! RnR lagi sangat diterima ^^
Aiko Enma: Hm, panggil saya Kurofer aja biar gak kepanjangan ._. Ahaha, saya memang ngambil istilah dewa-dewa dari situ!~ Ada yang nyadar toh. (ketauan bgt gak kreatip#plakk). Okeh, makasih revi-nya Enma-san!~ RnR lagi, dong! Ya,ya,ya? *dibekep*
Kesha: Heheh, makasih udah baca semua fiksi abal saya :'D. Huwaa, all yer praises could've give me a sudden heartache, ya know!~ #slapped Oke, maksih bgt! Ini udah apdet!~ Please do continue RnR my ficts!~
Sebaschiffer yer brotha: Heh, anak kecil gak usah baca ginian dah!~ #plakk
yang males login: Istilah Shinigami kayaknya dimana2 ada, ya? Makasih banyak udah RnR!~ Ya, Kurofer itu kependekannya lah~ #plakk Jangan sungkan buat RnR lagi, ya?~
.
Sa, akhir kata, sudikah pembaca sekalian meriview fiksi gaje ini?~
.
The Fickle Author,
.
Kurofer P.
