Kupu-kupu mengelilingi tubuhmu
Kau memejamkan matamu, seolah kau tidak mau melihatku
Siapakah yang ada di benakmu?
Beritahu aku...

"Hey, kau sosok yang kesepian. Mengapa kau menangis di tengah derasnya hujan?"
"Hatiku bersimbah darah. Mataku bersimbah air mata. Itu bukan masalah, ya kan?"


Disclaimer
Attack on Titan (c) Isayama Hajime

.
.
Crying in The Rain
by Yui Sakamaki


BAB 2

"Hey, namamu Mikasa?"
Aku membalikkan tubuhku, dan dapat kulihat seorang lelaki berambut cokelat dengan pipi tirus memandangku. Tubuhnya tegap dan tinggi. Dia menatapku, kemudian aku dapat melihat pipinya merona sedikit.
"Ya, dari mana kau tahu namaku? Aku tidak mengenalmu."
"Ah, ya, namaku Jean Kirschtein. Aku teman Eren dan Armin, percayalah. Aku masuk sebagai anggota Polisi Militer. Rumahku tidak jauh di rumah Armin-kalau kau mau berkunjung kapan-kapan."
"Untuk apa?"
"Em, yah, untuk saling bertamu sebagai teman."
Aku membalikkan tubuhku lagi, hendak meneruskan perjalanan ke rumah ketika dia menghentikanku dengan memegang lenganku, dengan cukup kuat. Tapi sebenarnya aku bisa menepisnya, namun, aku sedang tidak mau menghabiskan tenagaku.
"Bolehkah aku ke rumahmu? Aku ingin bertemu... em, ingin bertemu Eren juga."
Aku memutar tubuhku lagi.
"Baiklah. Ikut aku."
Kami berjalan berdampingan. Sekilas, Jean agak mirip dengan Eren, tapi kalau kau sudah bisa melihat seluruh wajahnya dengan jelas, dia jauh berbeda darinya. Eren agak sedikit lebih pendek dari dia.
Ketika kami sampai di rumah, Eren sedang tidak ada di rumah. Ini sedikit mencemaskanku. Aku menaruh plastik yang penuh berisi bahan makanan-yang tadi kubeli di pusat kota-kemudian aku bertanya pada ibu Eren di manakah Eren berada.
"Dia pergi ke rumah Armin."
"Eh?"
"Ya, dan oh... siapakah lelaki ini? Hee, ini pacarmu ya Mikasa?" Goda ibu.
"Ah, bukan, bukan!" Aku menyahut dengan sedikit rasa panik. Hanya sedikit. Aku buru-buru berpamitan pergi ke rumah Armin sementara Jean mengikutiku dari belakang. Jarak dari rumah ke rumah Armin tidak begitu jauh, jadi dengan hitungan menit, aku sampai di sana dengan segera.
Eren sedang mengobrol dengan Armin, duduk di kursi meja makan. Tidak ada Annie di sana, fiuh, aku lega.
"Hey, Jean!"
Armin menghampiri pintu ketika dia menyadari kedatangan kami. Kemudian, dia mengobrol sebentar dengan Jean, sementara aku duduk di samping Eren.
"Mikasa, aku dan Armin baru saja hendak pergi ke rumah Annie."
JLEB.
Apa?
"Aku ikut."
"Yah, tidak ada yang melarangmu. Kebetulan di sana ada anggota Polisi Militer yang lain. Ada, em, Sasha, Connie, dan Reiner."
"Baiklah," aku menyahut. Setelah itu, kami bersama-sama berangkat menuju rumah Annie.
Di sana, dekat dengan hutan. Rumah Annie sedikit lebih besar dari rumah kami. Dia memiliki beberapa kuda cokelat, dan di sini benar-benar nampak nyaman. Tapi, bukan berarti aku senang pergi ke rumahnya. Aku agak terpaksa, demi menemani Eren dan menjaganya.
"Jean! Armin! Eren! Dan, ngg... siapa gadis yang sangat cantik itu? Ah~ semuanya silakan masuk! Aku punya beberapa kentang dan juga roti, siapa mau?" pekik seorang gadis dengan kuncir buntut kuda. Dia sedang memegang kentang dan siap memakannya.
"Ini Mikasa Ackerman, saudaraku. Mikasa, ini Sasha." ucap Eren.
"Salam kenal," kataku.
"Kalian sudah datang rupanya," Annie muncul, dengan apron putih polos yang dikenakannya. Selain itu, penampilannya masih tetap sama.
"Ah Annie, bisa kita latihan sekarang?" Eren angkat bicara.
"Baiklah." Dia melepas apronnya, kemudian pergi ke suatu tempat bersama Eren. Aku ingin mengikutinya, tapi Armin menghentikanku.
"Eren akan berlatih bersama Annie."
"Kenapa harus dengan dia?!" Aku sedikit tercekat.
"Karena Annie punya beberapa teknik berkelahi hebat yang diajarkan ayahnya," timpal Reiner. "Dia hebat soal berkelahi."
Aku menghembuskan napas panjang. Jika Eren terluka parah sepulang latihan dengannya, aku takkan pernah bisa memaafkannya.
Jean terus mencoba mengajakku bicara, meskipun dia terlihat sedikit gugup. Aku hanya menjawab seperlunya. Sasha gadis yang suka makan; dia menghabiskan tiga buah roti, empat buah kentang, dan juga satu potong daging. Sementara Connie sangat kekanakan dan nampak bodoh. Tapi setidaknya, dia menyenangkan. Reiner terlihat kuat dan gagah. Kemampuannya di Polisi Militer diakui-begitu yang dikatakan Jean. Tapi tak ada satupun di antara mereka yang pernah melihat titan, maksudnya, wujud asli titan seperti apa. Maka itulah, mereka berniat ingin meneruskan usaha mereka dan bergabung menjadi anggota Recon Corps, atau pasukan penyelidik, yang bertugas di luar dinding. Eren, Armin, dan aku pernah mengagumi mereka, tapi setidaknya, aku tak begitu menunjukkannya di hadapan mereka. Karena kebanyakan dari mereka yang pulang kembali ke dinding mengalami luka parah, dan sebagian besar mati, mengorbankan nyawanya demi hal yang menurutku sia-sia. Itu menyedihkan bagi keluarga mereka yang ditinggalkan. Aku sempat berpikir ketika aku kecil, bagaimana jika kami dewasa nanti dan bergabung menjadi anggota Recon Corps, salah satu dari aku, Eren, dan Armin mati dimakan titan, atau kami semua mati. Maka itu, kami memutuskan untuk hidup di dalam dinding tanpa pernah keluar barang sekalipun. Meskipun begitu, Eren masih sangat berambisi untuk pergi keluar dari dinding.
Sekitar beberapa puluh menit berlalu. Eren kembali, bersimbah keringat, nampak kelelahan dan berjalan dengan terhuyung-huyung, sementara Annie terlihat biasa saja. Raut wajahnya datar.
"Eren sangat lemah, masih sangat lemah, jauh dari kata kuat," Annie berkata. "Dia harus sering berlatih fisik."
"Siapapun tolong ambilkan minuman," kata Eren parau. Aku memberikannya segelas air mineral.
"Hhh, terima kasih, Mikasa."
"Eren, kau mau kentang? Atau daging? Atau roti? Atau apa? Aku punya banyak untukmu~! Kubawa dari rumahku, silakan...," Sasha berseru riang.
"Terserah, aku lelah sekali."
Sasha memberikannya sepotong roti dan beberapa bongkah daging.
"Kau butuh energi untuk memulihkan kembali tenagamu," ujar Armin.
"Nee Eren, kau ingin bergabung ke Polisi Militer?" tanya Reiner. "Itu bisa membuatmu bertambah kuat dengan pelatihan-pelatihan yang ada. Dan juga, kau bisa pergi ke luar dinding ketika kau menjadi bagian dari Recon Corps."
"Aku mau, tapi..."
"Eren harus tetap tinggal di dalam dinding. Di luar sangat beresiko," kataku.
"Mikasa!" teriak Eren.
"Eren, berhentilah memaksakan dirimu!"
"Aku tidak memaksakan diriku! Tapi... ibu pasti takkan membolehkanku menjadi anggota Polisi Militer, takkan mungkin."
"Kau bukan anak kecil lagi," potong Annie. "Katakanlah itu pada ibumu."
"Ibuku takkan pernah mengerti. Dan juga, Mikasa selalu melarangku. Aku tidak mengerti padamu, padahal kau bukan siapa-siapaku, ya kan? Kau tidak seharusnya melarangku Mikasa."
"Aku harus melindungimu sampai kau menjadi kuat, ingat kan?"
"Tapi bukan begitu caranya!"
"Aku melakukannya dengan caraku sendiri," tukasku. "Dan soal apakah kau ingin mati di luar sana, apakah kau ingin? Aku tidak ingin kau mati, dan ibumu, pikirkanlah perasaannya kalau kau mati!" bentakku.
"Hee, sudahlah...," Armin menengahi. "Eren, dengarlah saja apa yang Mikasa katakan. Dia sepenuhnya benar."
Eren nampak marah.
"Mikasa, kau tak berhak ikut campur urusanku!"
"Hei, kalau ada yang lapar, silakan ambil ken-"
"Jangan bercanda, Sasha," Connie membekap mulut Sasha. Sasha meraung-raung.
"Terserah padamu Eren. Yang jelas, dunia ini kejam. Kau harus mencamkannya jauh-jauh di dalam pikiranmu, dan kau harus bertanya pada hatimu, apakah kau memang benar-benar ingin meninggalkan keluargamu," tuturku. "Kalau kau ikut menjadi Polisi Militer, aku akan ikut, aku akan menjagamu."
"Siapa aku sampai kau yang harus menjagaku?! Aku bukan anak kecil lagi, Mikasa!"
Aku terdiam. Dalam hati aku menjerit. Mengapa aku harus bertengkar dengan Eren di hadapan banyak orang? Bahkan, yang paling tidak bisa kuterima adalah aku dan Eren bertengkar di depan Annie. Aku tidak ingin Eren lari pada Annie ketika dia sedang bertengkar denganku.
"Maafkan aku Eren, aku hanya tidak ingin kau mati. Kalau kau bergabung dengan mereka, kau akan mati."
"Dari mana kau tahu?!"
"Kalau kau tetap nekat ingin bergabung... aku berpesan jangan mati."


"Yah, kau sudah bertambah besar Eren. Aku sebenarnya juga tidak punya apa-apa untuk bisa melarangmu lagi, seperti dulu. Semuanya sudah berubah. Jadi, kau boleh bergabung dengan Polisi Militer. Tapi, dengan satu syarat; Mikasa harus bersamamu." Ibu mengatakan hal yang seperti itu ketika kami makan malam. Eren merengut.
"Kenapa Mikasa harus selalu mengikutiku ke manapun aku pergi?" tanyanya.
"Karena ibu percaya pada Mikasa," tegas ibu. Aku menghabiskan makan malamku, kemudian menenggak segelas air dingin.
"Bagaimana Mikasa?"
"Aku takkan keberatan. Dan aku akan menjaganya," janjiku bersungguh-sungguh.
"Baiklah Mikasa, besok kita akan ikut gelombang selanjutnya! Aku yakin kita bisa lulus!" serunya. Aku mengangguk. "Mari kita ajak Armin juga!" Eren bersemangat. Aku senang melihatnya begitu, tapi dalam hati, jujur aku merasa sangat ragu.


A/N

Yeah, chapter 2 :3

Terima kasih bagi Kagamine MiCha nee-san yang sudah review, arigato gozamaisu atas pendapatnya XD

Dan juga bagi para readers yang sudah baca, terima kasih, meskipun tanpa review :3 /plak

Yui sudah berusaha semaksimal mungkin di chapter 2 kali ini '-')/ tapi memang tiada karya yang luput dari kesalahan-kesalahan XD jadi mohon sekali lagi kritik/sarannya untuk chapter selanjutnya. Tapi kali ini, kayaknya untuk chapter 3 agak lama update-nya, karena Yui sedang dalam kondisi yang kurang sehat ditambah weekend sudah berakhir aja nih ;-; dan juga, Yui disibukkan dengan TO di beberapa hari dalam sepekan nanti ._.

Sekali lagi, Yui mengucapkan terima kasih XD

Sampai jumpa di chapter selanjutnya :3