PARK'S FAMILLY HOUSE

MAIN CAST:

- Park Chanyeol

- Byun Baekhyun

SUPPORT CAST:

- Wu Yifan

- Kim Jongdae

- Oh Sehun

- Kim Jongin

- EXO Member

- Yook Sungjae (BTOB)

Rated: M

Lenght: Chaptered

Summary:

Bagi Baekhyun, pindah sekolah pun juga meninggalkan Jepang adalah hal terberat dalam hidupnya. Baiklah, ia memang lahir di Seoul, tapi kalau masalah tumbuh remaja hingga terjerumus dalam pergaulan bebas, Baekhyun melakukan semuanya di Tokyo. Adapun semua hal terberat berubah menjadi mimpi buruk ketika ia bertemu dengan anak bungsu keluarga Park.

"Selamat datang di rumah keluarga Park, Baekhyuniee."- (Chanbaek, Krisbaek, and EXO)

Ruangan yang tadinya dihiasi gelap, hanya bertemankan remang yang bersumber dari cahaya rembulan yang menerobos masuk lewat celah gorden, bertukar menjadi terang ketika lampu kamar tersebut dinyalakan. Terdengar langkah yang mendekat, membuat si pemilik kamar segera membuka balutan selimut yang membungkusnya dan bersandar di kepala ranjang. Menggeser tubuhnya ketika ia lihat Ibu dan Ayah ingin bergabung bersama dalam balutan selimut. Sosok Ayah di sebelah kiri, sementara ada Ibu yang berada di kanannya. Senyum mereka begitu teduh, membuatnya sedikit banyak merasa begitu dilingkupi hangat. Malam sudah beranjak menyentuh pukul sebelas, dan Ayah juga Ibu masih setia menenemaninya. Berbagi kisah tentang hari-hari yang terlewati tanpa kehadiran sosok mereka. Awalnya Baekhyun tidak terlalu antusias saat Ibu mengajaknya bercerita, tapi ketika lama waktu berlalu dengan suasana nyaman, Baekhyun berubah menjadi yang paling bersemangat menceritakan hari-harinya.

Gelak tawa membuat suasana menjadi semakin hangat, Baekhyun membiarkan saja semua cerita yang ingin sekali ia bagi pada Ayah dan Ibu sejak dulu, ia keluarkan sekarang. Bagaimana kisah ia hampir dipilih sebagai vokalis band sekolah, atau bahkan saat dirinya dipaksa bergabung dan mengambil peran sebagai Elsa oleh grup teater yang ingin menampilan remake film Frozen pada pementasan tahunan sekolah. Berbagai kisah mengalir dengan selipan kecerian di sana. Membuat Taemin dan Haruka akhirnya menyadari, bahwa sosok Baekhyun yang seperti inilah yang ingin mereka ingat selalu. Putra mereka yang ceria dan penuh dengan semangat. Mengingat kehadiran mereka yang jarang ada untuk Baekhyun, setidaknya sudah cukup mampu membuat kesedihan kembali menyeruak keluar. Rasa bersalah serta penyesalan membuat Haruka merasa begitu buruk berperan sebagai sosok Ibu. Bagaimanapun Baekhyun hanyalah anak berusia delapan belas yang pertumbuhannya ingin diperhatikan. Dan mereka tidak ada untuk itu. Mereka mengabaikan Baekhyun, secara tidak langsung memang. Tapi tetap saja, dalam hal ini mereka turut mengambil andil dalam kesalahan langkah yang diambil Baekhyun.

Taemin membawa tatapannya beradu dengan sang istri, mengangguk sekali dengan penuh keyakinan untuk keputusan yang mereka ambil. Lantas Haruka menyentuh lembut bahu Baekhyun, memberikan senyum teduhnya ketika sang anak memberikan atensinya.

"Baekhyun sayang, mau mendengarkan Ibu sebentar?"

Sosok Baekhyun yang seperti ini adalah pribadi yang sebenarnya, itu yang Taemin yakini. Tatapan polos itu bergantian menatap mereka, membuat senyum merekah di bibir penuhnya.

"Baekhyun adalah anak yang paling kami banggakan, terlepas bagaimana kau sempat membawa langkahmu pada jalan yang salah."Haruka menjeda ucapannya sebentar. "Tidak ada hal lain di dunia ini yang kami inginkan, selain kebahagian Baekhyun. Kau tahu itukan, sayang?"

Anggukan polos kembali Baekhyun berikan, senyumnya terulas tipis.

"Dan kami sangat ingin kau menjadi pribadi yang lebih baik lagi, sayang. Kembali ke jalan yang benar untuk meraih masa depanmu. Ayah masih ingat jika Baekhyun kami sangat ingin menjadi seorang Dokter."Taemin mengelus sayang surai abu milik buah hatinya. "Kami ingin kau membenahi dirimu sendiri dan kembali mengejar cita-citamu."

Baekhyun sempat diam, bukan karena ia tidak setuju dengan kalimat Ayah. Tetapi lebih kearah mampukah dia kembali menjadi sosok yang patut dibanggakan oleh orangtuanya. Cukup lama waktu yang dibutuhkannya untuk berpikir, hingga kemudian satu anggukan lemah namun penuh tekad ia berikan.

"Apapun, Ayah. Apapun untuk menebus kesalahanku pada kalian. Aku akan melakukan apapun yang kalian ingin aku lakukan."ia berujar penuh keyakinan, mengundang haru penuh suka cita dari Ayah dan Ibu.

"Tidak sayang, ini bukan sepenuhnya salahmu. Kami hanya ingin yang terbaik untukmu."Ibu menjawab dengan suara selembut sutera.

"Aku tahu itu, Ibu."

Taemin butuh berdehem untuk menetralkan suaranya yang seperti tercekat, sebelum menyampaikan tujuan mereka. "Pergilah ke Seoul dan tinggal lah di rumah teman Ayah untuk sementara waktu."

Baekhyun mendadak kaku, tolehan kepalanya terasa berat untuk membawa netranya beradu dengan manik Ayah—berusaha mencari sebuah titik bercanda di sana. Ini berat, permintaan mereka terlalu berat untuk ia penuhi. Benar ia akan mencoba untuk berbenah diri, pun berusaha merubah segala hal yang salah dan membawanya kembali pada jalan yang benar. Tapi untuk pergi dari Tokyo, Baekhyun rasa itu terlalu sulit untuk bisa ia lakukan.

Ketakutan mulai melandanya, gelagapan merasuki pikirannya dan membuat tubuhnya memberi respon berlebihan. Jemari tangannya berkeringat, ia menjadi gelisah. "T-tapi, b-bagaimana.. Bagaimana dengan s-sekolahku?"ia mencoba memberi alasan untuk tetap tinggal, berharap Ibu dan Ayah akan menarik kembali permintaan mereka.

"Kami yang akan mengurus itu, sayang. Kau akan pindah sekolah di Seoul, seperti yang dulu sangat kau inginkan."Ibunya berujar begitu antusias, membuat jantung Baekhyun terasa diremas oleh perasaan tidak ingin mengecewakan.

Ini sungguhan terasa berat untuknya,

Ia tidak mau meninggalkan Tokyo, meninggalkan sosok pengisi hatinya.

Ia tidak mau..

Tapi tatapan memohon Ayah dan Ibu, Baekhyun juga tidak mampu mengabaikan itu semua.

"Kami mohon, Baekhyun. Ini juga demi masa depanmu. Hanya dengan meninggalkan Tokyo, Ayah sungguh berharap kau mampu memulai sebuah awal baru."

Hatinya menjerit, ini karena ada sebagian hatinya yang tidak rela untuk pergi. Namun sekeras apapun dirinya berusaha agar bisa tetap tinggal, nyatanya Baekhyun sudah tidak mampu lagi menolak. Ayah dan Ibu hanya ingin yang terbaik untuknya, dan setidaknya Baekhyun berusaha untuk mengabulkannya.

Helaan nafasnya menjadi awal untuk Baekhyun berusaha ikhlas, ia akan pergi. "Baiklah, aku akan melakukannya."

Senyum Taemin dan Haruka sontak terkembang, sedikit banyak membuat Baekhyun merasa keputusannya adalah hal yang benar.

Setidaknya ia harus berusaha. Meskipun ia sungguhan tidak rela untuk pergi.

Sekarang, buatnya hanya bisa mengucapkan selamat tinggal pada sosok tinggi yang begitu ia cintai. Seseorang yang membuatnya terjun dalam dunia yang salah, namun membuatnya mengerti apa itu cinta dan rasa perlindungan.

Kris, maafkan aku..

"Kenapa bukan Nunna saja yang mengantarkan tugasku?"

Menjengkelkan sekali, pikir si mungil. Ia segera beranjak menuju mobilnya, menyempatkan melontarkan cibiran sarkatis dan segera masuk ke dalam. Mengabaikan sepenuhnya seruan tidak terima dari yang lebih tinggi.

"Dasar tukang penggerutu!"

Chanyeol yang lelah menggerutu pun berhenti melakukannya ketika mobil si mungil beranjak menjauh, jadinya ia hanya menghela nafas dan kembali membawa ponselnya menuju pendengar. "Halo, iya Nunna.. Aku masih di sini."

Di seberang sana, Yoora hanya dapat melengos sebal. Berani sekali bocah Yoda ini mengabaikanku, pikirnya. "Dia adalah anak teman Ayah, Chan."urung meluapkan emosi dan memilih mengulangi kalimatnya.

Chanyeol mengangguk-angguk mengerti, namun masih ada satu hal yang mengganjal di pikirannya. "Berapa umurnya?"

"Delapan belas, kurasa. Ibu bilang padaku dia kelas tiga SMA. Kenapa memangnya?"

Chanyeol meragukannya, dahinya berkerut dalam. "Tapi dia terlihat seperti bocah tiga belas, Nunna. Apalagi dengan surai ash-grey itu."ujarnya seakan menolak dengan jawaban sang Kakak.

Yoora tekekeh geli. "Kukira hanya aku yang berpikiran begitu, dia bahkan begitu mungil, Chanyeol-ah."

"Soal itu juga benar. Ngomong-ngomong, bagaimana bisa dia yang mengantarkan tugas rumahku?"

"Nah, tadi itu saat aku akan mengantar tugasmu, tiba-tiba atasanku menelepon dan memintaku untuk menggantikan salah seorang sunbae yang dijadwalkan membaca berita hari ini. Agaknya itu saat Baekhyun baru saja datang, aku yang sedang panik karena terburu-buru segera menghampiri Ibu yang sedang berbincang dengannya. Lalu ketika aku dan Ibu sama-sama panik karena Kim Ahjussi sedang tidak ada di rumah, dia yang menawarkan diri untuk mengantarkan tugasmu. Aku menyetujuinya dan menyetel alamat sekolahmu pada GPS di ponselnya, dan dia berhasil sampai ke sana."

Chanyeol mengerti, namun sedetik kemudian ia tersadar dengan kalimat jawaban Yoora. "Kau bilang kau sedang terburu-buru tadi, tapi kenapa bisa mengangkat panggilanku?"tanyanya heran.

Yoora tekekeh lagi, tersirat jahil di sana. "Hanya terburu-buru untuk berdandan. Take siaran beritanya akan mulai tiga puluh menit lagi."

Chanyeol menggeram, mulutnya berdecih. Hingga akhirnya bersuara. "Sialan!"desisnya marah.

Apa Adik bertelinga peri-nya baru saja mengumpat?

"Oops, tapi sekarang aku sedang merekamnya Chanyeol. Bersabarlah karena uang jajanmu akan dipotong oleh Ayah, oke."

Sekarang Baekhyun benar-benar merasa kesulitan. Belum genap tiga jam ia sampai di Seoul, tapi agaknya ia sudah tidak merasa cocok dengan lingkungan di sini. Ini seperti halnya berada di daerah antah berantah dan tidak tahu harus melakukan apa. Padahal dulu saat di sekolah dasar tinggal di Seoul adalah impiannya, tapi sekarang agaknya ia menyesal pernah berangan demikian.

Nafasnya terhela, sedang kepalanya terasa pening karena efek jetlag yang masih melandanya. Baru saja ia pulang selepas mengantarkan tugas milik anak bungsu keluarga Park, dan berada di atas kasur adalah hal paling ia inginkan untuk saat ini. Namun sepertinya hal itu akan akan tertunda sesaat, pasalnya sebuah panggilan masuk ke ponsel baru miliknya. Sebelum ia mengganti benda tersebut, sudah lebih dulu ia memuat nomor-nomor yang penting. Dan nama Yook Sungjae ada di sana.

"Oy, bagaiamana dengan menyapa kelab kenamaan yang ada di Seoul, malam nanti?"ia berseru begitu antusias di seberang sambungan sana.

Sungjae itu teman Baekhyun—yang juga sama-sama memiliki darah keturunan negeri Jepang. Tapi sejak setahun yang lalu keluarga Sungjae memutuskan untuk kembali ke tanah kelahiran. Baekhyun sempat mengiriminya pesan tentang ia yang sekarang tinggal di Seoul, berakhir Sungjae yang menelepon untuk mengajaknya meyambangi kelab kenamaan Seoul.

"Kurasa tidak hari ini, Jae. Aku masih jetlag dan butuh istirahat hingga besok, kurasa."Baekhyun menjawab selagi masuk lebih dalam, menaiki tangga dan berakhir masuk ke dalam kamar yang sudah dihiasi Nyonya Park dengan papan kayu bertuliskan namanya.

"Oh, ayolah. Justru itu, Baekhyun-ah. Jetlag mu akan segera hilang dengan menghabiskan waktu berdansa di kelab! Tidak ada penolakan, aku memakasamu. Kirimi aku alamatmu, jam sepuluh nanti malam akan kujemput. Kumatikan, oke. Sampai jumpa malam nanti, sweetheart."dengan begitu sambungan berakhir, tanpa sempat untuk Baekhyun melontarkan protes bahkan satu kata pun. Koper yang ia bawa masih berada di sudut ruangan, terlalu melelahkan untuk membongkarnya sekarang. Jadinya ia merebahkan tubunnya di atas kasur, dan tidak lama kemudian jatuh tertidur.

Seharusnya Chanyeol membenci fakta bahwa diusia ke tujuh belasnya, pergi-pulang sekolah ia masih harus menggunakan transportasi Bus. Tapi kenyataannya tidak demikian, Chanyeol sungguh menikmati bagaimana ia berdesak-desakkan, atau bahkan menukar kursinya sendiri demi Nenek tua yang tidak kebagian tempat duduk. Entahlah, padahal teman seusianya— seperti halnya Sehun dan Jongin, mereka sudah diperbolehkan menggunakan kendaraan pribadi untuk bersekolah. Sehun bahkah memakai mobil untuk berpergian kemanapun. Tapi lain hal bagi Chanyeol. Semelelahkan apapun yang ia rasakan, bila duduk di dekat jendela Bus, maka semua lelahnya akan tersapu bersama angin. Itu sedikit konyol untuk mengatakan bahwa alasan Chanyeol menyukai anggkutan umum tersebut karena menikmati angin yang menerpanya ketika duduk di dekat jendela.

Baiklah lupakan dulu tentang itu, Bus terakhir menuju ke rumah akhirnya datang. Sekarang mungkin sudah pukul sembilan lebih, mengingat kegiatan ekstrakulikuler basket Chanyeol berakhir pada pukul delapan lewat empat puluh menit. Yang berarti, ia menungu kedatangan Bus hampir sepuluh menit lamanya. Kali ini Bus dalam keadaan tidak banyak penumpang, meskipun cenderung Bus terakhir penumpangnya tidak sebanyak yang biasanya, namun hanya dua sampai tiga orang saja yang tersisa. Setelah membayar menggunakan kartu, Chanyeol segera mengambil duduk. Membuka jendela dan menikmati bagaimana sapuan angin malam membawa serta lelahnya pergi. Angin malam selalu lebih sejuk, terlebih bila memasuki musim semi. Cuaca malam ini nampak cerah, ada beberapa bintang yang bertaburan di atas sana. Bising lalu lintas, juga gesekan antara ban dan aspal selalu bisa membuatnya tenang. Jongin seringkali mengatainya aneh tentang pemikirannya satu ini, tentang bagaimana Chanyeol merasa berkawan dekat dengan segala hal yang menyangkut malam. Chanyeol tidak perduli dengan itu, yang jelas ia menyukai malam hari dengan segala ketenangan yang mampu ia tawarkan untuknya.

Bus berhenti di halte selanjutnya, Chanyeol kembali menyandang tasnya di bahu dan bergegas turun. Berjalan menyusuri jalan yang lumayan sepi untuk bisa sampai ke rumahnya. Belokan pertama telah ia lewati, kembali berjalan lurus hingga berbelok untuk kedua kalinya, sebelum akhirnya sampai di rumah bernuansakan asri dengan tembok bercat biru.

Keluarganya adalah seperti pada umumnya. Terdiri dari Ayah yang merupakan kepala keluarga, bekerja sebagai salah seorang Ajudan di Blue House. Sedang Ibu mengelola kafe yang bernama Vivapolo, berlokasi di daerah Myeongil-dong. Yoora Nunna bekerja sebagai penyiar di stasiun TV, dan terakhir Park Chanyeol sendiri, adalah seorang pelajar yang duduk di bangku kelas dua SMA.

Tidak ada yang spesial, oh.. Chanyeol hampir lupa, ada lagi tambahan anak teman Ayah yang bernama Byun Baekhyun. Membahas anak teman Ayah itu, Chanyeol tidak punya topik bahasan lebih lanjut untuk menceritakannya. Tidak ada yang diketahuinya, selain fakta kalau Baekhyun berumur delapan belas dan suka mencibir. Chanyeol ingat betapa ia kesal karena Baekhyun mencibirnya tukang penggerutu.

Pintu utama ia buka, meneruskan langkah untuk menaiki tangga, kemudian segera menuju kamar. Baru saja tangannya memegang kenop pintu, tahunya pintu kamar sebelah terbuka. Setahu Chanyeol kamar tersebut kosong, kamar yang diperuntukkan khusus untuk tamu yang sewaktu-waktu hendak menginap. Tapi lihat..oh astaga!

Ada Baekhyun yang keluar dari kamar tersebut dengan mengendap. Penampilannya sungguh menggoda, dengan kemeja putih yang dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, celana jeans denim hitam ketat dan ada sejenis coker yang melekat di lehernya. Sebelah tangannya menutup pintu dengan teramat pelan, belum menyadari kehadirannya. Sedang sebelah tangannya lagi bersiap memakai coat hitam panjang hingga ke lutut.

Sejujurnya, Chanyeol belum pernah menyematkan kata sempurna pada orang lain, entah itu wanita atau lelaki sekalipun. Ketika Baekhyun selesai memakai coatnya, berbalik hingga kemudian terbelalak kaget saat melihatnya. Chanyeol kemudian berpikir bagaimana kalau menyematkan kata sempurna pada penampilan Baekhyun, adalah hal yang benar. Si mungil dengan surai ash-grey yang nampak seksi, bibir merah jambu yang merekah, juga kelopak mata yang nampak sensual dengan goresan eyeliner hitam dan sedikit rona cokelat di kelopaknya.

Bisakah seseorang berpenampilan lebih sempurna lagi dari Baekhyun?

Baekhyun mendekat, tertawa kikuk dan berakhir mengangkat sebelah tangannya dengan canggung. "Oh, kau.. Hai."

Menutup pintu kamar, Chanyeol memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan Baekhyun. Ikut memasang senyum kaku. "K-kau mau pergi?"kemudian bertanya sambil mengusap tengkuknya, salah tingkah.

Butuh jeda cukup lama untuk Baekhyun membuka mulutnya untuk menjawab. "Sepertinya, begitu.."

"Mau pergi ke mana selarut ini?"

Baekhyun menyerengit sebagai respon awal. "Saat di Tokyo, jam sepuluh masih terlalu dini untuk dikatakan larut malam."katanya dengan pandangan yang merunduk, sembari mengaitkan kancing coatnya.

"Tapi sekarang kau berada di Seoul."

Baekhyun sontak membawa pandangannya untuk beradu tatap dengan Chanyeol. Kemudian berucap. "Aku tahu, lagipula apa urusanmu kalau aku keluar selarut apapun itu?"

Chanyeol mengedik bahunya, dilanjutkan dengan membuka kamarnya. "Tidak ada. Hanya sekedar memberitahu, kalau Ayahku itu sedikit keras tentang larangan keluar malam."

Baekhyun bersedekap, netranya memberikan tatapan remeh. "Lantas kau takut keluar malam begitu?"

Langkah Chanyeol yang sudah setengah masuk ke dalam kamar terhenti, melirik tanpa minat berlebih pada Baekhyun yang menatapnya dengan seringai geli. "Sayangnya tidak. Aku barusan pulang, jika mungkin kau lupa."

"Iya, kau bahkan pulang sebelum larut malam. Keren sekali."ejeknya, membuat Chanyeol memutar tubuh untuk balas menatap Baekhyun.

"Cih, apa yang dapat dibanggakan dari keluar malam hanya untuk pergi ke kelab?"Chanyeol membalas ketus.

"Kutebak kau belum pernah pergi ke kelab sebelumnya."Baekhyun berujar demikian sembari membalas pesan Sungjae yang memberitahukan kalau ia sudah di depan rumah. "Mau ikut bersamaku, tidak?"

Chanyeol menyimpan tasnya di atas nakas, menyalakan lampu tidur dan melepas dasinya. Melirik sekilas pada Baekhyun. "Tidak, aku lelah. Kau harus pulang sebelum pukul tiga. Ayah akan bangun dan memeriksa setiap kamar untuk memastikan keberadaan kami. Ingat itu, atau kau akan berada dalam masalah jika tidak mendengarkanku."

Baekhyun menyimpan ponselnya kembali, maju selangkah untuk menggapai kenop pintu kamar Chanyeol dan berujar. "Ya, ya.. Baiklah, Tuan Sok Tahu."dan menutup pintu setelahnya.

Suasana hingar bingar menyambut Baekhyun dengan musik upbeat yang memekakan telinga. Dance floor ramai dengan banyak manusia yang meliukkan tubuhnya dengan menggila. Tidak sedikit pula yang melakukan kegiatan panas di sofa sudut ruangan. Sedari awal Baekhyun memilih mengiyakan ajakan Sungjae dan berakhir pergi, ia berkata dalam hatinya kalau ini hanya sekedar untuk memgembalikan kewarasannya dari jetlag. Hanya sebatas melepas penat. Tanpa minum, tanpa narkoba, juga tanpa berakhir one night stand. Tapi salahkan Sungjae dengan mulut sialannya yang sedari tadi terus merecokinya dengan kalimat-kalimat meremehkan, dan paling utama gejolak birahinya yang sejak beberapa hari ini ia pendam. Baginya itu tidak mudah, menahan diri untuk tidak melakukan apapun yang merecoki pikirannya dengan kebebasan, sungguh sangat sulit. Hingga berakhir tangannya menerima dan langsung menenggak habis gelas wiski yang disodorkan Sungjae padanya.

Cairan nikmat itu terasa membakar di tenggorokannya, tapi sensasi tersebutlah yang membuatnya merasa candu akan alkohol. Namun amat disayangkan dengan fakta daya toleransinya rendah terhadap minuman beralkhol. Dalam satu dua gelas saja, sudah dapat dipastikan untuknya dalam kondisi setengah mabuk.

"Ini baru terlihat seperti Baekhyun yang kukenal."Sungjae menyeringai saat Baekhyun menghabiskan isi gelas keduanya.

"Diam kau, bajingan! Berhenti memaksaku minum, aku tidak ingin terkena masalah dengan pulang dalam keadaan mabuk nantinya."

Sungjae tertawa lebar, ada siratan mengejek di sana. "Wow, mengejutkan. Sejak kapan kau perduli dengan itu?"

Baekhyun merasakan pening menyenangkan mulai merambati kepalanya. "Sebenarnya aku tidak perduli, kalau saja sekarang aku berada di Tokyo dan masih berkedok sebagai anak baik-baik di depan orangtuaku."ia tertawa miris. "Namun sayang sekali, mereka memergokiku pulang dalam keadaan bau sperma dan membawa sebungkus heroin di dalam saku."

Sungjae menyesap isi gelasnya perlahan, menikmati bagaimana cairan wiski tersebut membuat tubuhnya bergejolak antusias. "Hell no, jangan bilang karena itulah kau berada di Seoul sekarang?!"

Baekhyun menyandarkan tubuhnya di sofa, kepalanya mengadah menatap langit-langit yang berbiaskan lampu disko. "Ironisnya begitu, Jae."balasnya dengan kekehan geli. "Ahh, aku benci hidupku."keluhnya kemudian.

Sungjae berpindah menjadi duduk di sampingnya, merangkul akrab pundaknya dan kemudian membawa tubuh keduanya menempel tanpa jarak. "Aku bisa memberimu sedikit, jika kau mau."sembari memperlihatkan bungkus kecil barang haram yang sering mereka konsumsi bersama, di saku jaketnya.

Terdiam cukup lama, sementara perasaan membutuhkan benda tersebut mulai terasa membakar tubuhnya. Seperti dehidrasi di gurung pasir. Baekhyun membutuhkan barang tersebut untuk menuntaskan rasa frustasinya. Tanpa ia sadari tangannya terulur untuk menggapai bungkusan tersebut, namun ketika sebuah kesadaran akan teringat janjinya pada Ayah dan Ibu menghampirinya, Baekhyun lekas-lekas mendorong tubuh Sungjae hingga terjerembab ke samping, sementara ia bangkit dan pergi dari sana. Meninggalkan Sungjae yang berteriak menyumpahinya dan protes akan tagihan minuman mereka.

Baekhyun merasa kosong, tidak perduli dengan apapun tetap meneruskan langkahnya hingga menjauhi kelab. Sedang serangan sakaw sudah terlanjut membuatnya kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Tangannya bergetar ketika mengambil ponsel dan menyapukan jemarinya di atas benda pipih tersebut. Kepalanya terasa makin pening, hingga gelap menyergap dunianya, dan yang terakhir ia ingat sebelum kesadarannya menghilang, adalah ia terjatuh dengan ponsel di genggaman tangannya menampilkan ketikan pesan yang belum selesai ia tulis.

To: xxx

Kris, aku membutuhkanmu..

Seharusnya Chanyeol sudah larut dalam dunia mimpinya, ketika malam bahkan hampir menjelang pagi. Sekarang mungkin pukul tiga lewat, mengingat Ayah sudah melakukan kegiatan rutinnya memeriksa setiap kamar menjelang subuh. Namun nyatanya, Chanyeol bahkan belum bisa memejamkan matanya setelah mendengar langkah kaki berantakan yang berakhir di kamar sebelah. Setelah menyelesaikan tugas sekolahnya hingga menjelang pukul dua dini hari, Chanyeol langsung berniat tidur namun diurungkannya ketika langkah berantakan tersebut terasa amat mengganggunya. Sebenarnya itu bukanlah masalah yang besar, tetapi lain halnya ketika betapa berantakannya jejak kaki itu mampu membuat Chanyeol menarik kesimpulan bahwa perasaan si pemilik langkah tersebut sangatlah kacau. Agaknya sedikit lucu mengatakan bahwa Chanyeol memiliki sejenis perasa aneh terhadap langkah kaki seseorang. Ia bahkan dapat mengetahui apa yang sedang mereka rasakan, hanya dengan mendengar bagaimana tapak kakinya melangkah.

Menyerah atas rasa gundah yang membuatnya tidak bisa tidur, Chanyeol memutuskan untuk bangkit. Niatnya ingin pergi ke dapur untuk membuat secangkir cokelat panas, namun lagi-lagi rasa penasaran berlebih akan langkah berantakan milik Baekhyun kembali mengganggunya. Chanyeol memutar tubuhnya, melangkah lebar untuk menuju kamar di sebelah miliknya.

Tangannya terangkat untuk mengetuk pintu, namun tidak terdengar balasan apapun selain rintihan lirih menahan sakit. Hal tersebut nyatanya semakin menambah rasa penasarannya, gerakan mengetuk pintu tadi berubah menjadi dorongan kecil hingga pembatas tersebut terbuka. Gelap menyambut pertama kali, sedang bias rembulan malu-malu mengintip dari celah gorden pintu balkon yang terbuka. Langkah Chanyeol masuk lebih dalam, sejauh netranya mengedar tidak ia temukan siapapun yang menghuni ruangan tersebut. Itu aneh, Chanyeol yakin ia tidak berhalusinasi mendengar langkah kaki berantakan yang berakhir di sini. Ia sangat yakin bahwa Baekhyun telah pulang, lebih lagi sempat mendengar rintihan lirih. Demi menuntaskan rasa penasarannya, Chanyeol melangkah lagi. Kali ini berhenti di depan pintu balkon kamar tersebut. Tangannya bergerak untuk menutup pintu dan menarik gorden untuk menghentikan hawa dingin yang terus-terusan menerobos masuk. Tapi satu seruan yang terdengar berbisik menghentikan gerakan tangannya.

"Jangan tutup pintunya, kumohon hanya biarkan terbuka seperti itu."

Sontak kepala Chanyeol mengikuti kemana suara itu berasal. Membelalak kaget begitu menemukan anak teman Ayah sedang meringkuk di samping bawah ranjang. Coat hitam yang tadi dipakainya sudah terlepas dan tergeletak tidak jauh dari posisinya. Sedang Baekhyun sendiri dalam keadaan kacau, bahkan kedua tangannya sedang mencengkrami kuat kepalanya. Sesekali terdengar rintihan sakit dari mulutnya. Sorot matanya nampak begitu kacau, gejolak emosinya lebur bersama kekosongan. Sungguh, Chanyeol bahkan belum pernah melihat ada orang yang sekacau itu, selama hidupnya.

Chanyeol lama terdiam di tempatnya, setelah mencerna lebih jauh tentang keadaan kacau Baekhyun, ia lantas memilih mendekat. Berjongkok dan mengulurkan tangannya untuk membawa Baekhyun dalam posisi bersandar pada tepian ranjang. Ia turut menyandarkan tubuhnya di samping Baekhyun, sontak terkejut ketika Baekhyun meraih tangannya untuk digenggam begitu erat.

"Ada apa denganmu? M-maksudku, apa yang telah terjadi padamu?"Chanyeol berusaha bertanya, setidaknya untuk berpikir membantu mengurangi kesakitan Baekhyun.

Namun si mungil nampaknya memilih diam, sementara sebelah tangannya yang lain bergerak lagi untuk mencengkrami kepalanya dengan kuat, diikuti ringisan yang membuat Chanyeol seakan ikut merasakan rasa sakit yang mendera kepala Baekhyun.

"Berhenti melakukan itu, rasa sakitmu tidak akan berkurang hanya dengan meluapkannya seperti itu."Chanyeol mengambil tangan Baekhyun dan menurunkannya. Menyelami netra yang kini turut memandangnya seolah meminta pertolongan.

"Lalu aku harus apa? Rasa sakit ini sungguhan membuatku frustasi. Aku membutuhkan sesuatu untuk mengalihkannya, dan sesuatu tersebut juga yang membuatku seperti ini."ada jeda sejenak di sana, bahkan Baekhyun pun seperti kesulitan berbicara. "Aku harus apa? Kau bahkan tidak mengerti bagaimana rasa sakitnya ini."

Chanyeol menggigit bagian pipi dalamnya, apa yang dikatakan Baekhyun benar. Ia bahkan tidak tahu seperti apa sakit yang dirasakan olehnya, tapi terlepas dari itu semua, Chanyeol sama sekali belum mengenal Baekhyun. Mereka hanya bertemu dua kali, itu bahkan dalam waktu yang relatif singkat. Lelaki mungil itu baru satu hari ini berada di rumahnya, Chanyeol betulan tidak mengenal seperti apa sosok Baekhyun sebenarnya. Lalu bagaiamana mungkin untuknya mengerti seperti apa rasa sakit yang Baekhyun alami?

"Kalau begitu beritahu aku bagaimana rasa sakitnya, dan biarkan aku membantumu untuk menguranginya."

Baekhyun kembali membawa netranya beradu tatap dengan Chanyeol. Sorot tatapan itu begitu mirip dengan seseorang yang selalu memberinya rasa nyaman. Begitu mirip dengan seseorang yang selalu memberinya perasaan dicintai dengan cara menciumi bibirnya. Entah setan apa yang sedang merasukinya, tahunya Baekhyun bergerak merangkum wajah Chanyeol dan membawa bibir mereka bertautan. Memiringkan wajahnya untuk bisa melumat tebal bibir Chanyeol, sementara tangannya berpindah untuk mengalung di leher yang lebih tinggi. Posisi duduknya berganti menjadi di pangkuan Chanyeol, sedang netranya sudah memejam guna menikmati suasana yang membuatnya merasa damai kembali.

Sedang Chanyeol sendiri seakan membatu, ini adalah pertama untuknya selama tujuh belas tahun. Pikirannya benar-benar kosong, ia bahkan tidak bisa mengerti kenapa mereka bisa berakhir berciuman. Hampir-hampir ingin mendorong tubuh Baekhyun saking merasa asingnya dengan situasi tersebut, namun berakhir dibiarkannya saja semuanya berlalu dengan Baekhyun yang memegang kendali, setelah mendengar ujaran lirih ketika tautan mereka terlepas sejenak.

"Kau bisa membantu mengurangi kesakitanku seperti ini, hanya biarkan aku melakukannya untuk sementara waktu.."

Meskipun begitu, Baekhyun sepenuhnya dalam keadaan sadar ketika mencium Chanyeol, walau yang ada di dalam pikirannya adalah Kris. Ia hanya terbawa suasana, terlebih lagi tatapan yang diberikan Chanyeol begitu mirip dengan yang selalu Kris berikan untuknya.

Biarkan sejenak ia berada dalam kesalahan ini.

Chanyeol sepenuhnya terbuai, hingga tanpa sempat menyadari ikut bergerak melumat bergantian bibir atas Baekhyun. Menarik pinggang yang lebih mungil untuk semakin menempel tanpa jarak, hingga memeluk posessif pinggang itu. Kecipak lumatan mereka terdengar begitu sensual. Belum lagi ketika lidah Baekhyun terjulur untuk minta Chanyeol hisap. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Chanyeol mendominasi, lidahnya mengetuk bibir Baekhyun yang langsung mengerti dan membuka mulutnya untuk memudahkan Chanyeol menguasai permainan. Tangan Chanyeol dipinggangnya Baekhyun bawa untuk merambati punggungnya, kemudian melenguh begitu Chanyeol mengusapkan jemari besarnya ke sepanjang garis tubuhnya.

Tautan mereka terlepas lagi, bersitatap dalam diam dengan sama-sama terengah. Baekhyun membawa kepala Chanyeol untuk berada di lehernya, sementara dirinya mendongkak dan dengan tangan yang melingkari leher Chanyeol kembali.

Baru satu-dua jilatan Chanyeol lakukan, tahunya kepala Baekhyun terkulai lemas di bahunya dengan iringan dengkuran halus.

Yang benar saja?!

TBC

He. He. He.

Aku bawain chapter dua buat kalian, soalnya chapter pertama itu review kalian cukup antusias. Thank u yaaa~

Ini salah satu cerita yang juga udah aku konsepin hingga ending, rencananya sih chapterannya nggak banyak. Tapi kalo ternyata respon kalian bagus untuk ke depannya, ya tergantung sih. Mungkin bakalan aku buat lebih panjang lagi. Soalnya cerita ini buat aku excited banget, enggak tahu menurut kalian gimana.

Review juseyo~