dari sothesky untuk kalian

JOCULAR; Kerja Satu

.

.

- Jungkook & Taehyung -

Beyond The Scene


Matahari berteman dengan siapa saja namun ada kalanya satu yang eksis menjauh dari yang tersebut. Kalimat yang tiada bersense. Pembuka yang payah. Bahkan rasa Jungkook pun sama payahnya. Dirinya tengah memasang senyum asam nan kecut sambil menonton aksi si kekasih dengan kawan baru yang super duper menggemaskan.

"Sayang!" Taehyung menjerit lucu dan tawanya mengiringi manis. Semuanya manis. Amai. Dalkomhan. Sweet.

Tergelak Jungkook. Bisa ya Taehyung seperti itu. Cepat-cepat merubah sifat senyumnya sebelum Taehyung sadar. "Ya, Cinta? Kenapa?"

"Apaan Kook? Aku panggil Yeontan. Bukan kamu."

Yha.

Kasihanilah aku, Ilahi.

Kembali bertamu senyum asam itu ke wajah Jungkook. Untung Jungkook sayang mereka. Coba kalau tidak, mungkin dirinya akan minggat tepat saat itu juga. Tapi setelah dipikir, flat ini 'kan yang bayar dirinya. Masa dia yang angkat kaki. Tapi lagi, kalau dia usir si dua manis itu... tega nian kau, Jeon Jungkook!

"Taehyung!" Rupa-rupa lelaki A telah habis rasanya.

"Kamu bentak aku? Oh, oke." Taehyung melirik Jungkook. Dia manyun. Ingin sekali Taehyung untuk tabok bibir Jungkooknya. Hih, gemas. "Ceritalah padaku, apa yang ada di hendakmu wahai Adikku."

"Kakakku tercinta, sudikah dirimu tuk beri seluruh kasih sayangmu padaku?"

"Heh." Mata Taehyung memicing galak. Suka kesal dia dengan Jungkook yang satu ini. Jungkook itu menurutnya ada banyak. Jungkook kalem, Jungkook seksi, Jungkook seram, Jungkook bego, dan Jungkook lain-lain.

Duduk dengan rapi seperti anak sekolah dasar yang ingin pulang. Bedanya dia duduk gelesor di lantai sedang anak sekolah dasar duduk di kursi mereka. "Apa, Hyung?"

"Lucu kamu, cemburu sama anjing. Kamu mau jadi anjing. Anjing?"

Hah?

Hening.

"Astaga. Aku diumpati." Anaknya baru sadar, pemirsa. "Aku sakit, Hyung!" Jungkook menepuk dadanya, mendramatisir keadaan. Wajahnya seperti yang baru dihujat di depan banyak orang. Di hadapannya, Taehyung pasang muka so done. Yeontan yang lari sana-sini pun akhirnya duduk di pangkuan Taehyung. Mereka berdua terlihat tengah menghakimi Jungkook. Kasihan.

Ya sudahlah, Jungkook bangkit dan bergegas untuk ke dapur. Makanan sebagai obat di kala sedih. Betul? Ya, seratus! Lihat lelaki Jeon. Masih manyun, bibirnya dimajukan. Kalau dilihat, Jungkook punya wajah seperti bayi. Manis sekali. Tapi ada saat kalau wajahnya sangat manly. Heung Taehyung dagdigdug walau baru memikirkannya saja. Tubuhnya Jungkook itu, wah, Taehyung iri. Banyak otot dimana-mana. Padu padan yang berbeda kalau soal penampilan Jeon Jungkook ini.

Taehyung hela nafas. Menatap Yeontan yang menatapnya balik lalu menganggukkan kepalanya sampai poni panjang bergerak ikuti arah anggukan. "Sayangku!"

"Ya. Apa lagi?"

Jungkook lihat Taehyung. Taehyung lihat Jungkook. Mereka lihat-lihatan. Yeontan diam saja. Guk! Mau diperhatikan.

Tersenyum licik lalu berkata, "Geer lagi kamu, Kook. Tadi aku bicara ke Yeontan kok."

Walhasil, Jungkook makin ngambek. "Hih, kesal." Lanjut ke dapur sambil hentak-hentak kakinya.

Diri yang tersakiti cuci muka di wastafel. Ambil air dingin lalu beri sirop kopi dari brand yang iklannya selalu muncul di bulan tertentu. Berseri pula iklannya. Kalau Jungkook buat kompilasi, pastilah banyak yang tonton. Wong teman-temannya selalu, 'eh, tau gak? Si sirup itu mulai muncul iklannya di tv!'.

Kembali lagi, Jungkook habiskan minuman rasa kopinya itu. Pasang mimik serius dan seringai muncul, "Aku harus buat perhitungan ke Taetae Hyung." Tertawa keras dia seperti seorang antagonis di sinema siang salah satu channel tv. Tertawa keras sampai yang diomongi kebingungan.

"Ngapain sih Jungkook?" Mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara, "Aku jadi takut begini." Dan memeluk erat Yeontan. Yang dipeluk cuma bisa mengaing. Guk!


"Aku pergi." Jungkook katakan itu setelah selesai kenakan sepatu kesayangannya. Pakai setelan rapi. Kemeja kotak-kotak warna dongker dimasukkan ke dalam jeans dan ikat pinggang yang melingkari dengan apik. Coat hitam melengkapi penampilannya dan buat Jungkook terbebas dari angin dingin.

Taehyung gendong Yeontan dan menyandarkan anjing kecil itu di pundaknya. Melihat datar ke arah Jungkook sembari mendumel, "Kenapa kalau pergi selalu tiba-tiba. Aku tak suka, Jungkook." Wajahnya lucu sekali. Ingin Jungkook merauk bibir Taehyung. Tapi ia sadar bahwa ia sedang melancarkan aksi pembalasan ke Taehyung.

"Salahkan atasanku, Tae Hyung. Aku mana bisa untuk tidak menurutinya. Tidak, tidak." Menggerakkan jari telunjuk tepat di depan hidung Taehyung sembari gelengkan kepala. Jungkook ejek Taehyung rupanya. Inginnya provokasi dia, tapi tak ada hati. Taehyung yang merasa tersudutkan langsung gigit jari telunjuk Jungkook. "Ah! Sakit, Hyung!"

Jungkook usap jarinya yang perlihatkan bekas gigitan Taehyung. Merah, man. Taehyung yang lihat hanya siap dengan wajah datarnya. "Sana pergi. Tidak usah pulang sekalian." Kalimat itu keluar dari mulutnya, ada getaran sedih sebetulnya. Taehyung langsung melenggang pergi setelahnya.

Jungkook cuma pandangi kepergian Taehyung lalu anggukkan kepala. Usap dagunya juga seperti orang tengah berpikir kritis. "Bagus. Dia cemberut."


"Yeontan, kamu suka sama Jungkook kan? Aku suka sama Jungkook. Cinta malah. Tapi dia itu suka buat aku sebal. Walau terkadang." Taehyung senang, sejak dia adopsi Yeontan, dia jadi punya kawan bercerita. Kalau sama Jungkook, seringnya Taehyung diledek. Taehyung juga suka dijahili oleh kekasihnya sendiri. Jahil cinta. Menyebalkan bukan?

Taehyung jadi teringat kejadian beberapa bulan yang lalu. Hm.

Taehyung baru saja wisuda dari pendidikan perguruan tingginya dan Jungkook menawarkan diri untuk memasak. Sebagai perayaan katanya. Sebelum itu, Taehyung sudah haha-hihi dengan keluarga. Pulang ke rumah orangtua dan mendapat selamat karena telah bebas. Bebas yang tak akan lama.

Jungkook tawarkan masakannya yang memang enak. Taehyung dengki. Ingin dia bisa memasak yang enak-enak juga. Dia sesungguhnya bisa masak, tapi tidak sebagus Jungkook. Saat memasak di dapur mereka, Jungkook terlihat berkali-kali lipat lebih menarik. Lengan kaos panjangnya digulung hingga siku. Rambutnya dikuncir setengah dan apron yang dipakainya buat dia sangat suami.

Taehyung ingin pamerkan Jungkook, rasanya. Duduk patuh di kursinya. Bertumpu di siku dan sandarkan kepala dengan telapak tangan. Menunggu Jungkook hidangkan masakan yang ia buat dan menonton pertunjukan yang tak boleh dilewatkan di depannya.

Selesai sudah acara masak Jungkook, selanjutnya acara hidangkan makanan. Tampilannya sungguh menggugah selera bak masakan restoran bintang lima yang harga makanannya selangit dan mampu ia capai jika menyisihkan uangnya berbulan-bulan terlebih dahulu. Sebuah keborosan. Suasananya pun sungguh mendukung. Ada jajaran lilin yang temani di tengah meja. Lampunya pun remang-remang. Romantis sekali kalau kata Taehyung.

Saat Taehyung coba masakan Jungkook, dia mengernyit. Apa-apaan rasa itu? Asin. Asin sekali. Taehyung tanya Jungkook, jawabnya cuma 'Ah, tidak enak ya? Aku sengaja buat begitu.'

Lantas Taehyung jitak kening Jungkook. Wajah tanpa dosa milik Jungkook mati rasa jika dipikir. Bukannya raut kesakitan yang dikeluarkan, adanya malah raut senang. Tertawa keras dan buat gigi serinya yang manis terekspos jelas.

Taehyung sangat ingin menangis saat itu. Jungkook tahu mimik muka kekasihnya sudah berubah. Maka ia sembuhkan dengan 'Sayang, aku punya makanan lain yang kumasak. Jangan ngambek ya? Maaf, aku kerjai kamu. Kan aku inginnya perayaan yang berbeda.'

Perayaan beda dari Hongkong. Yang ada Taehyung malah jengkel mau mati. Eh, tidak deh. Ralat. Taehyung belum mau tinggalkan dunia.

Ulang kembali kilasan waktu itu, Taehyung jadi kritis. "Aku tau aku juga menyebalkan. Suka ledek balik Jungkook. Kok kita berdua kagak begini ya?" Taehyung hela nafas. "Biar saja deh. Aku mengantuk. Yeontan, bobo yuk?"

Dalam hati Taehyung tunggu kepulangan Jungkook. Tapi yang ditunggu tak pulang-pulang. Hm.

.

.

.

Halo! Terima kasih yang sudah baca. Jujur, aku penasaran banget sama tanggapan kalian wkwkwkk. Semoga lebih cepat sambung ke kerja dua-nya ya dan maaf sekali buat kependekan di tiap chapter-nya. Sekali lagi, trims! Dadahhh~