Desclaimers : Punyanya Om Masashi K :D
Langsung aja ya, lagi ga mood ngasih muqaddimah *plakk! ^^v
Happy reading aja, and peraturannya selalu sama, don't like don't read :D
.
.
.
Gaara memacu kudanya mengejar kuda "Putri". Sementara Hinata mulai kehilangan kendali atas kudanya. Ia ngeri saat melihat belokan tajam di atas tebing.
Gaara tahu situasinya memang berbahaya. Ia mendekat ke kuda Hinata dan melompat ke atasnya. Hinata terkejut, tapi saat kuda mereka sudah hampir terjun ke jurang. Gaara memeluk Hinata erat-erat dan tanpa aba-aba mereka melompat dari atas kuda.
.
.
.
Raja mengumumkan kalau ia sudah memilih Sabaku no Gaara sebagai Menantu Kerajaan/Pangeran Pendamping untuk Putri Sakura. Sabaku no Rei dan Pangeran Hiashi terkejut.
.
.
.
Dayang Putri lari-lari, "Yang Mulia! Yang Mulia!" Putri Sakura heran, "kenapa kau panik sekali?" Dayang melapor kalau Baginda sudah memilih Sabaku no Gaara sebagai calon suami Putri.
Sakura terbelalak, "Sabaku no Gaara?"
.
.
.
Gaara dan Hinata jatuh berguling-guling di tanah. Hinata langsung berdiri dan melihat ke bawah tebing. Gaara menarik Hinata menjauh, "Anda hampir kehilangan nyawa anda."
Gaara marah, "Apa Yang Mulia punya dua nyawa? Bagaimana seorang wanita bisa demikian ceroboh?"
.
.
.
Pihak Pangeran Hiashi protes, "tolong batalkan keputusan Baginda. Bagaimana bisa memilih Pangeran Pendamping tanpa mengikuti prosedur pemilihan? Ini melanggar aturan Kerajaan yang ketat."
Raja bertanya apa keinginannya memilih Pangeran pendamping melanggar aturan Kerajaan?
Salah satu pejabat balik bertanya, "Bagaimana seseorang yang belum lulus tes kualifikasi bisa menjadi Pangeran Pendamping?"
Raja merasa tersinggung, "Apa maksudmu putra Perdana Menteri Sabaku no Rei, tidak memenuhi syarat menjadi Pangeran Pendamping?"
"Hamba, Hiashi ingin berbicara, karena Yang Mulia Raja sudah memutuskan untuk mengangkat Sabaku no Gaara sebagai Pangeran Pendamping, bagaimana kita bisa bertindak semau sendiri? Lagipula, sesuai pengetahuan saya. Karakter dan kepandaian Gaara, sama dengan ayahnya. Dia akan menjadi Pangeran Pendamping yang cocok. Tapi, aturan kerajaan tidak boleh diabaikan. Kita bisa menyederhanakan-nya dan memasukkan lamaran untuk menunjuk Sabaku no Gaara sebagai Pangeran Pendamping. Jika saya ditunjuk sebagai orang yang bertanggung jawab dalam masalah pernikahan Istana, saya akan merasa sangat berbahagia dan terhormat."
Raja terpaksa setuju, Hiashi cocok sebagai orang yang bertanggung jawab dalam pernikahan istana. "Kita akan memprosesnya." Ujar Raja.
.
.
.
Setelah rapat selesai, Sabaku no Rei bertemu dengan Pangeran Hiashi. Hiashi berkata kalau sekarang ia mengerti jawaban Sabaku senior itu dari lamaran yang diajukannya. "Kau memilih membuangku demi Yang Mulia. Selamat."
Rei juga tidak tahu bagaimana menjawabnya. Hiashi pergi tanpa menunggu jawaban.
.
.
.
Gaara mengecek kudanya dan melihat Hinata yang duduk membersihkan diri.
Hinata tampak terkejut karena roknya sobek.
Gaara jalan mendekat dan marah, "bagaimana anda bisa bertindak begitu sembrono? Tanpa melihat kenyataan kalau anda seorang Putri, di Joseon, bahkan seorang gadis biasa, tidak akan di tengah hari seperti ini, berani menunggang kuda di tengah jalan!"
Hinata jengkel dengan sikap Gaara, "Apa kau berkata dengan berani?"
"Saya akan kembali ke istana sekarang untuk menghukum penjaga dan dayang yang mengijinkan Putri meninggalkan istana sendirian." Kata Gaara kesal.
Hinata berdiri, "kalau ada orang yang harus dihukum, kau juga salah satunya. Kau berani menggunakan bahasa yang tidak sopan seperti "manja" dan "berani" untuk menggambarkan seorang Putri."
" Apa?"
Hinata mengancam, kalau Gaara tidak mau ikut terseret masalah ini, sebaiknya diam saja dan pergi saja. Gaara berkata kalau ia ingin sekali pergi, tapi sebagai guru Putri, dia harus tanggung jawab. "Naiklah ke kuda."
"Pinjamkan aku punggungmu."
Gaara kaget, "punggung?"
"Bukankah kau mengatakan padaku untuk naik ke atas kuda?"
Gaara tidak percaya, "Anda akan menginjak punggungku untuk naik ke atas kuda?" Hinata merasa itu tidak ada salahnya, "kau tidak bisa melakukannya karena harga dirimu? Di depan Putri negeri ini, kau masih berani mencemaskan harga diri seorang pria?" kali ini Gaara harus-harus membungkuk untuk diinjak Hinata.
Hinata bertumpu diatas punggung Gaara untuk naik ke atas kuda. Gaara meringis menahan sakit. Hinata hanya berkata "Maaf."
Gaara berjalan sambil memegang kekang kuda, ia heran kenapa Hinata naik kuda padahal takut.
"Bagaimana pria bisa mengerti perasaan hati wanita?"
"Jika saya berpikir sebagai guru dan bukannya pria, mungkin saya akan bisa mengertinya."
"Benarkah? Jika kau mengendarai kuda di tempat terbuka yang luas, apa kau akan merasa bebas? Kau harus pergi secepat mungkin untuk merasakan angin. Setakut apapun aku, aku masih berharap untuk mengalaminya sekali. Sebagai wanita, akan lebih sulit bagiku untuk melakukan kontak dengan dunia luar setelah menikah. Itulah mengapa aku membutuhkan kenangan yang indah, yang bisa membantuku melawan kehidupan yang sulit dan membosankan."
Gaara merenungkan kata-kata Hinata dengan serius.
.
.
.
Putri Sakura ingin menghadap ayahnya. Tapi Kasim berkata kalau Baginda sedang membahas masalah penting dengan Wakil Perdana Menteri.
Raja tampak senang dan berkata kalau Putri dan Gaara adalah pasangan yang dijodohkan oleh langit. Sabaku no Rei berkata kalau putranya masih banyak kekurangan. Tapi dia akan menjadi bantuan besar untuk Baginda. Raja.
"Bukan untukku, tapi untuk Putra Mahkota. Konohamaru"
Rei segara menimpali, "baik baginda, untuk Putra Mahkota, tentu saja."
.
.
.
Gaara membawa Hinata ke Gibang. Hinata kaget, "dimana ini?"
"Anda tidak bisa memasuki istana dengan penampilan seperti ini. Kita disini untuk meminjam baju. Kita segera kembali ke istana, setelah anda berganti baju."
Hinata ragu-ragu.
" Anda tidak akan turun?" Tanya Gaara.
Hinata terpaksa ikut masuk.
Di dalam, Gaara disambut oleh para gisaeng dengan hangat, "Selamat datang, Tuan Muda. Ayo kedalam, kenapa tuan tidak datang semalam?"
Gaara berkata ia datang untuk meminjam baju bersih. Mereka heran, untuk apa? Untuk apa? Lalu mereka melihat Hinata.
"Siapa Nona yang terlihat membosankan ini?" Para gisaeng itu mengejek, "wajahnya begitu polos dan lugu. Aku ingin tahu habis bergulingan dari mana dia." Lalu Gisaeng itu menyadari kalau baju Gaara juga kotor, "apa kalian berdua bergulingan bersama?" Mereka cekikikan.
Gaara membentak, "kalian semua! Dia bukan orang yang bisa kalian jadikan lelucon! Tunjukkan kamar untuknya!"
Hinata diantar ke sebuah kamar dan ia mengamati Gaara dari jendela. Gaara dikerumini Gisaeng. Hinata ngomel, dasar buaya..tidak bermoral. Hinata menutup jendela dengan kesal. (Hinata pasti jengkel karena "tunangan-nya" terbukti biasa main di Gibang)
Tiba-tiba seorang pria mabuk masuk dan mengira Hinata seorang gisaeng, "Oh kekasihku disini! Kesini sayang."
Hinata kaget, ia cepat berdiri dan menghindar, "Kau salah orang." Pria itu terus saja mengejar Hinata. Untung seorang Gisaeng masuk dan membujuk pria itu untuk pergi.
Hinata tampak ketakutan. Sementara Gaara sibuk memilih-milih hanbok. Gaara stress, tidak ada hanbok Gisaeng itu yang tidak transparan. "Aku bisa melihat melaluinya! Apa tidak satupun dari kalian yang punya baju yang pantas untuk dipakai?"
Gaara akhirnya memilih satu set Hanbok dan masuk ke dalam kamar Hinata. Tapi tidak ada siapapun. Ia heran dan ingin keluar, tapi melihat ujung rok Hinata dari balik sekat kamar. Hinata takut kalau dikira Gisaeng lagi, makanya ia sembunyi. Hinata sepertinya kelelahan. Ia tertidur di balik sekat itu. Gaara melihatnya dan tersenyum geli.
Gaara membungkuk dan mengamati wajah Hinata dengan dekat sekali. Gaara meletakkan hanbok dan akan pergi. Ia justru melihat mata kaki Hinata yang bengkak.
Beberapa saat kemudian, Hinata terbangun dan heran melihat kompres di kakinya.
Ia mengambil bahan untuk kompres, sepertinya ada yang menumbuk tanaman obat dan mengolesnya ke mata kakinya.
Hinata mengenakan baju gisaeng dan mengendap-endap keluar. Ia bertemu Gaara, "Anda mau kemana Yang Mulia?"
Hinata berkata ingin mencari kudanya. Gaara berkata kalau kudanya sudah terlalu lelah untuk membawa Hinata.
"Saya sudah menyiapkan sebuah tandu untuk anda, Ayo!"
Hinata protes, "mengapa kau memilih setelan memalukan ini untukku? Tolong pilihkan setelan yang lebih terhormat."
"Terhormat? Untuk seorang wanita yang tidur dengan kaki terjulur keluar tadi, benar-benar tidak cocok menggunakan kata itu. Sekarang istana pasti kacau karena mencari Anda. Tolong segera kembali."
Hinata mengikuti Gaara pergi. Seorang gisaeng mencuri dengar pembicaraan mereka, ia heran Yang Mulia Putri? Saat keluar, ternyata petugas tandu tidak ada. Gaara bingung, kemana mereka. Hinata sadar kalau norigae pemberian Putri hilang. Hinata minta Gaara mencarinya lagi di dalam. Gaara pergi ke dalam dan mendapatkan norigae itu. Gaara keluar, sekarang tukang tandu sudah lengkap. Ia berkata pada Hinata, yang dikira ada dalam tandu, kalau ia sudah kembali. Tapi tidak ada sahutan.
Gaara mengetuk tandu dan masih tidak ada suara. Ia membuka jendela, ternyata tandu kosong. Gaara kebingungan dan mencari Hinata.
Hinata bersembunyi di sudut, ia melihat Gaara yang kelabakan sambil tersenyum tipis. Hinata bergegas pulang.
.
.
.
Gaara pergi ke istana. Penjaga heran, bukankah ini Profesor Sabaku no Gaara? kenapa disini di jam selarut ini? Gaara nyengir, ia berkata ke istana untuk memeriksa mereka, apa mereka bertugas dengan baik. Penjaga itu berkata kalau Gaara punya selera humor. Gaara berkata kalau ia meninggalkan buku di dalam, ia harus mengambilnya kembali.
Penjaga mengijinkan masuk. Gaara langsung ke kediaman Putri. Dayang Sakura menemui Gaara, "ada masalah apa?"
Gaara menanyakan Putri. Dayang heran kenapa Gaaratanya.
"Aku harus mengetahuinya."
Dayang berkata kalau Putri menghadap Raja. Gaara lega, "kalau begitu dia sudah kembali."
Dayang bingung, "apa?"
"Tidak apa-apa." kata Gaara. Ia hanya mengembalikan bungkusan, dan minta Dayang menjaga Putri baik-baik. "Jika terjadi sesuatu pada Putri, kau akan dihukum berat."
"Ya."
Setelah Gaara pergi, Dayang membuka bungkusan, ternyata Norigae milik Putri.
.
.
.
Raja bertanya apa Sakura begitu membenci Gaara?
"Tidak ada yang perlu disukai atau tidak disukai."
Raja berkata kalau ia dengar Sakura sudah mengikuti pelajaran Gaara dengan rajin, itu sebabnya Raja yakin kalau Sakura tidak akan menolak Gaara.
"Saya masih akan tetap berada di sisi Putra Mahkota, tolong tunda proses pemilihan Pangeran Pendamping."
"Jika kau benar-benar mencemaskan Putra Mahkota, kau harus menikahi Sabaku no Gaara. Berapa lama kau akan bisa ada di samping Putra Mahkota? Sampai dia dewasa? Atau sampai Putra Mahkota naik takhta?"
Putri menahan tangisnya, Ayah!
"Orang yang bisa melindungi Putra Mahkota bukanlah ayahnya yang hidupnya akan segera berakhir atau juga kakak perempuan-nya yang tidak mengerti politik. Hanya ada Sabaku no Gaara." Kata Raja.
Putri masih berusaha membujuk, "selama Ayah tetap hidup dengan sehat—"
Raja memotong, "sampai kapan kau akan membiarkan adikmu percaya harapan kosong itu? Aku tidak bisa lagi memikirkan bagaimana perasaanmu. Ada banyak hal yang harus dilakukan ...dan hatiku sangat berat."
.
.
.
Putri Sakura jalan kembali ke kediaman-nya. Ia berkata pada dayangnya, "Orang yang akan menjadi suami Hinata akan menjadi Pangeran Pendampingku. Apa kau pernah mendengar hal seaneh ini?"
"Yang Mulia."
"Aku tidak tahu apa Hinata tahu masalah ini. Ini tidak boleh terjadi. Aku harus segera bertemu dengan Prof. Sabaku no Gaara besok dan mengatakan yang sebenarnya."
Dayang lapor kalau Gaara tadi datang.
Putri kaget, "siapa? Gaara? Ini sudah malam, ada apa?"
Dayang berkata kalau Gaara mengembalikan sesuatu. Ia memberikan bungkusan itu. Putri membukanya dan kaget, "ini.."
Dayang juga berkata kalau Putri memberikan norigae itu pada Nona Hinata. Sakura tertegun, apa artinya jika wanita memberikan norigae pada seorang pria?
.
.
.
Di kediaman Pangeran Hiashi, Ny. Kurenai marah dan menghukum putrinya.
Kurenai memukul betis Hinata dengan rotan.
"Sepertinya naik kuda di depan umum belum cukup jelek. Kau bahkan pulang dengan mengenakan baju Gisaeng! Apa kau tidak punya pikiran sama sekali?!" Hinata terjatuh karena kesakitan.
Tenten (Pelayan Hinata namanya Tenten, hehe ^^v) langsung mendekati Hinata, "Nona!"
" Janji padaku kalau kau tidak akan naik kuda lagi kelak! Ayo janji!"
Dengan berat hati Hinata mengikuti perintah ibunya, "Saya tidak akan pernah naik kuda lagi."
"Jika kau berani naik kuda lagi, kau akan membuatku cepat mati. Apa kau mengerti?" (tenang reader ini cuma gertakan aja, ceritanya Kurenai itu ibu yang penyayang kok :p ) "Ya."
.
.
.
Tenten mengobati Hinata, Hinata mengernyit menahan sakit.
"Cepat bubuhkan obatnya. Tenten."
"Ya, saya sedang melakukannya. Memar di mata kaki anda sudah sembuh." Hinata ingat kata-kata Gaara, 'terhormat? Untuk seorang wanita yang tidur dengan kaki terjulur keluar tadi, tidak cocok mengatakan kata itu.' " Apa dia sendiri yang membubuhkan obat?"
Tenten heran, "apa?"
"Bukan apa-apa." Jawab Hinata tersenyum.
.
.
.
Rekan politik Sabaku no Rei mengadakan perayaan, "Selamat! Anda sekarang menjadi Ayah dari Pangeran Pendamping. Hiashi sudah kalah dengan Yang Mulia dan Tuan."
Dua orang yang ikut hadir adalah Asuma Sarutobi (Deputi Menteri Hukum) dan Uchiha Fugaku (Menteri Urusan Militer).
Fugaku heran, kenapa Hiashi menerima putusan Yang Mulia dan bahkan mengajukan diri sebagai Orang yang menangani masalah perbikahan kerajaan. Bukankah dia ingin membuat Gaara sebagai menantunya sendiri. Kenapa dia menerima pilihan Yang Mulia untuk Pangeran Pendamping tanpa protes. Tapi jika Hiashi tidak menerimanya, lalu mau apa dia?
Sabaku no Rei lebih resah, karena Pangeran Hiashi sudah menjadi orang yang menangani pernikahan maka proses pemilihan Pangeran Pendamping ada di tangannya.
.
.
.
Hiashi mengadakan rapat. Rekan Hiashi kesal, "dia benar-benar mengabaikan lamaranmu dan menawarkan anaknya sendiri untuk posisi Pangeran Pendamping. Ini jelas deklarasi perang dari Baginda dan Sabaku no Rei."
Rekan yang lainnya pun ikut kesal, "Pangeran Hiashi terlalu pemurah, bahkan menawarkan diri menjadi orang yang menangani pernikahan. Kenapa tidak jadi mak comblang saja sejak awal.?"
Hiashi hanya tersenyum tipis. Mereka tanya apa rencana Hiashi, dan ia menjawab, "Mencari calon lain untuk Pangeran Pendamping untuk menggantikan Sabaku no Gaara."
.
.
.
Paginya, petugas menempel pemberitahuan. Semua orang ingin tahu isinya. Tenten ikut melihat, apa katanya? Seorang pria berkata kalau pernikahan antar keluarga dihentikan sementara sebelum Putri memutuskan calon pendampingnya.
Tenten melapor kepada Hinata, "Nona, Putri Sakura akan menikah."
Hinata tersenyum senang. Ia mengerti, "sepertinya memang ditempel dimana-mana."
.
.
.
Hinata masuk istana dan mengenakan hanbok Putri dengan bantuan para dayang. Hinata tanya kemana Putri.
Dayang berkata kalau Putri pergi sendirian dan tidak mengijinkan mereka mengikutinya. Putri jadi sensitif karena rencana pernikahan-nya.
"Aku sudah mendengarnya. Mereka mencari calon untuk Pangeran Pendamping." Dayang heran, "tapi..kenapa saya tidak melihat norigae yang diberikan Yang Mulia pada anda?"
"A-aku meninggalkannya di rumah." Jawab Hinata segera memalingkan wajahnya dan segara berlalu.
Dayang menghadap Putri Sakura dan berkata kalau Hinata sudah pergi untuk belajar. Putri tampak berpikir, "Seorang pria menyimpan norigae apa artinya itu?"
"Itu..itu.." jawab dayang bingung.
Sakura curiga sudah terjadi sesuatu diantara keduanya. "Aku ingin memastikan ini sendiri."
.
.
.
Gaara bersiap untuk mengajar dan Prof. Kepala, Kakashibertanya, "apa benar-benar bisa mengendalikannya?"
Gaara heran, "apa maksud anda? Apa maksudnya pelajaran Tuan Putri?" Gaara melirik rekannya, "saya tidak mengerti mengapa para Profesor lain mengalami kesulitan dengan Yang Mulia."
"Lalu bagaimana Sang Putri itu?"
"Dia sangat...misterius." Lalu tertawa.
Para profesor di ruangan itu melongo. Gaara berdehem dan jalan pergi. Gaara masih mengingat saat "Putri" memaksanya membungkuk dan menginjak punggungnya, ia cengar cengir sendiri. Lalu menguasai dirinya lagi dan berkata untuk segera diumumkan kedatangannya. Dayang mengumumkan kedatangan Profesor Sabaku dan membukakan pintu.
Gaara duduk dan Hinata ada di balik tirai. Seorang dayang masuk membawa teh untuk Gaara.
Gaara minum tehnya. Dayang itu ternyata Sakura yang menyamar. Sakuramempelajari wajah Gaara dan sepertinya ia terkesan.
"Apa semuanya baik-baik saja semalam?" Tanya Gaara pada Hinata.
"Ya" jawab Hinata singkat.
"Saya tidak tahu mengapa saya cemas sekali pada Yang Mulia yang baik-baik saja di istana. Seharusnya saya tidak perlu cemas."
"Terima kasih untuk perhatianmu."
Gaara menyindir setengah bercanda, "hampir kehilangan nyawanya karena kuda yang tidak bisa ditungganginya, melemparkan diri dalam pelukan pria dan berguling di rumput bersama..Apa anda pernah mendengar dongeng wanita yang tidak tahu malu ini?"
Mata Sakura membesar karena kaget. Hinata membalas sindiran Gaara, "aku dengar pria itu bahkan membawa gadis itu ke Gibang tanpa persetujuannya dan membuat gadis itu mengenakan baju memalukan. Oh, apa yang terjadi dengan norigae yang ia berikan pada pria itu?"
"Jadi anda sudah mendengar tentang itu? Norigae gadis yang tertidur disamping pria dengan ceroboh tapi tiba-tiba menghilang-"
Sakura tidak tahan lagi, tangannya gemetaran dan menjatuhkan teko teh.
Gaara terkejut. Hinata juga, ia jalan membuka tirai, matanya membesar saat melihat sepupunya.
.
.
Sakura dan Hinata jalan bersama. Hinata mengeluh, Putri membuatnya terkejut, kenapa memainkan permainan berbahaya?
"Bicara tentang bahaya, bukankah kita sama? Jika kau bisa pura-pura menjadi Putri, mengapa aku tidak bisa pura-pura menjadi dayang?" Sakura menyerahkan norigae ke Hinata.
Hinata kaget, "bagaimana bisa?"
Sakura berkata kalau semalam, dayangnya menerima ini dari Gaara.
"Dia datang mengembalikan ini ?" Hinata semakin terkejut.
"Gadis yang tertidur di samping pria dengan ceroboh lalu tiba-tiba menghilang...apa itu kau?"
"Dia bicara tentang saat kami bertemu diluar istana secara kebetulan."
"Dia pria dewasa, tapi kenapa menggunakan bahasa yang menjengkelkan seperti itu, sepertinya kalian berdua sangat dekat."
"Dekat? Tapi orang itu sebenarnya pria kuno yang bicara bagaimana pria dan wanita baik-baik seharusnya bersikap. Tapi, benar-benar aneh, kemarin dia bahkan membubuhkan obat untuk kaki saya."
Sakura tampak kesal.
.
.
.
Sakura sudah bertukar baju lagi dengan Hinata. Hinata membungkuk dan berkata akan pulang. Lalu berbalik lagi dan tanya kalau ia dengar mereka memilih Pangeran Pendamping. "Selamat."
"Terima kasih."
Hinata pergi dan Sakura bicara sendiri, "Sabaku no Gaara...bukanlah pria untukmu!"
.
.
.
Uchiha Fugaku menghadap Raja. Raja mengijinkan Fugaku masuk dan mintanya mendekat. Fugaku tampak prihatin dengan kondisi Raja.
"Aku merindukan saat-saat kita begadang dan membahas pelajaran di perpustakaan. Jika saja Raja terdahulu tidak melarang partisipasi para sarjana dalam dunia politik, aku akan mengajukanmu ke kantor pemerintah. Kau jelas mampu untuk mengatur negri ini sebagai Perdana Menteri."
"Anda sungguh murah hati."
"Jadilah kekuatanku. Sekarang, dewan istana dipenuhi oleh orang-orang Hiashi. Kau harus mencegah Hiashi memperdayaiku."
"Saya akan mengingat itu."
.
.
.
Fugaku tampak jalan di halaman istana menuju ruang sidang. Pangeran Hiashi dan rekannya mengamatinya, Fugaku, dia terkenal karena selalu terus terang di institut penelitian. Hiashi menanggapi dengan tenang, tapi bambu itu kosong di dalamnya.
"Apa kau sudah menemukan calon yang cocok untuk menggantikan Sabaku no Gaara?" "Ya, aku menemukan beberapa calon yang cocok.".
.
.
Tapi dalam pertemuan, Fugaku menolak semua calon. "Ini tidak akan berhasil. Mereka sudah memiliki 4 orang selir. Tingkah lakunya tidak terhormat. Jadi, anaknya juga tidak akan cocok sebagai Pangeran Pendamping."
Pihak Hiashi mengajukan kandidat lain, "Bagaimana dengan putra tertua dari Namikaze Minato, Naruto?"
"Namikaze Minato punya catatan menerima suap dan bahkan dipenjara. Bagaimana putra seorang pejabat tamak jadi calon Pangeran Pendamping?"
Pihak Hiashi kesal karena Fugaku terlalu pemilih," jadi kau tidak akan memilih calon ini?"
Fugaku ingin memeriksa kecocokan hari lahir antara Sabaku no Gaara dengan Putri Sakura.
"Mereka protes, apa anda tidak tahu kalau proses itu adalah proses terakhir?"
"Untuk Pangeran Pendamping yang sudah dipilih, untuk apa mengikuti prosedur?"
Mereka ingin protes lagi, tapi Hiashi berkata kalau kata-kata Fugaku benar," tolong lakukan yang terbaik dalam memeriksa kecocokan antara tanggal lahir Sabaku no Gaara dan Tuan Putri."
Fugaku ingin Pakar Astronomi dilibatkan dalam memeriksa kecocokan tanggal lahir sampai dengan pemilihan berakhir, "kantor Petugas akan dijaga dengan pengawal istana, hasil kecocokan tanggal lahir tidak boleh bocor. Jadi tolong larang orang masuk ke dalam kantor."
.
.
.
Hiashi jalan bersama Uchiha Fugaku. Hiashi berkata ia merasa lega karena Fugaku bertanggung jawab untuk acara penting ini.
Fugaku berkata peran Pangeran Hiashi jauh lebih penting. Keduanya bertemu Gaara.
Gaara menghormat pada keduanya. Fugaku menyapa, "kau mau pulang?"
"Ya."
Ini Pangeran Hiashi." Kata Fugaku memperkenalkan.
Gaara menghormat.
"Kau sangat berbeda dari ayahmu. Apakah mengajar melelahkan tiap hari?"
Gaara tersenyum, "Saya tidak merasa itu melelahkan."
"Kudengar kau bertanggung jawab untuk pelajaran Putri. Hubunganmu dengan Tuan Putri pasti sangat dekat?"
Gaara berkata kalau ia hanya bertanggung jawab mengajar bagian Klasik saja.
"Hanya melihatmu membuat hatiku sakit saja. Kau boleh pergi." Ujar Hiashi. Gaara menghormat dan jalan pergi.
Hiashi bertanya apa Fugaku juga kenal dengan profesor muda itu. Fugaku berkata kalau Sabaku no Gaara adalah teman putranya, Uchiha Sasuke.
.
.
.
Sasuke yang dibicarakan, sedang menyiapkan pasukannya untuk mengejar pengacau di kota.
"Pengacau yang selalu mencari perkara dengan penduduk kota..kita harus menangkap mereka semuanya!" (Sasuke kesal karena mereka suka dibayar untuk memukuli orang, termasuk Naruto, temannya sendiri)
Pasukannya sereempak menjawab "Ya!"
Sasuke melihat penjahat itu dan mengejarnya. Ia lari diatas atap rumah lalu terjun menyergap orang itu. Ia bertempur dengan dua orang, satu orang kakinya berhasil dilumpuhkan dengan pisau. Satu orang lari. Sai (bawahan sekaligus tangan kanan Sasuke) melemparkan pedangnya ke arah orang itu dan kena di kakinya.
Sai mengejar orang ketiga. Tapi Orang ini lari masuk ke dalam Gibang. Sai berhenti di luarnya. Sasuke dan pasukan tiba, "kenapa kau berhenti disini?"
"Ini adalah Cheong Pung Gwan yang sering dikunjungi oleh pejabat tingkat atas." Jelas Sai.
Sasuke turun dari kuda, "ini hanya Gibang. Buka pintunya!"
Beberapa polisi menggedor pintu tapi tidak dibuka. Sai melompat tembok dan membuka pintu dari dalam. Sasuke masuk.
Seorang Gisaeng menemuinya, "kami sedang menjamu tamu saat ini, anda terlalu sembrono."
Sasuke berkata ia sedang mencari pengacau yang sembunyi di tempat ini. Gisaeng itu berkata kalau Sasuke salah tempat. Pengawal Gibang keluar dan berkata kalau mereka menutup pintu karena mereka sedang kedatangan tamu penting,
"Bagaimana Anda bisa menuduh kami menyembunyikan penjahat?
Sasuke tidak peduli dan masuk ke dalam. "Periksa!" Polisi menyebar, membuat Gisaeng dan pengawalnya bingung.
Sasuke juga masuk ke dalam, ia membuka pintu demi pintu. Sampai ke satu pintu, ada seorang pengawal menodongkan pedangnya ke leher Sasuke. Sasuke tetap membukanya dan ternyata di dalam ada Hiashibersama seorang pria.
Hiashi mengeluh, "apa ini?" lalu bicara pada pria itu, "sepertinya ini bukan hari baik untuk menjamumu."
Pria itu, Penasihat Hiashi yang terkenal, ia bertanya "ada apa?"
Sasuke mengenalkan diri sebagai Pejabat Hanseong dan ia kesini untuk menahan pengacau. Gisaeng dan pengawalnya sudah tiba, keduanya tampak ketakutan. "Pemimpin pengacau? Sepertinya kau mencariku." Semua ketawa geli.
Sasuke tidak terpengaruh dan berkata untuk ikut dengannya ke kantornya. Penasehat Hiashi tidak percaya, "Pejabat Hanseong, apa kau benar2 tidak tahu siapa Tuan ini? Ia marah, "tunjukkan hormatmu! Ini adalah Yang Mulia Hiashi!"
Sasuke kaget dan langsung berlutut. "Yang Mulia, tolong maafkan ketidak-sopanan hamba."
"Apa kau benar-benar sadar kalau kau tidak sopan?" Tanya penasehat kesal.
Hiashi mempelajari Sasuke, "mata yang jujur yang tidak takut kekuasaan. Apa kau tadi berkata Sasuke? Kau dari keluarga mana?"
"Sarjana dari Akademi Kerajaan. Uchiha Fugaku adalah ayah saya." Sasuke segera keluar diikuti pandangan heran Sai dan yang lainnya.
Hiashi berkata pada penasehatnya, kalau hari ini benar-benar takdir yang aneh. "Hari ini di istana, aku bertemu dengan teman orang itu."
"Apa maksud anda putra Wakil Perdana Menteri Sabaku no Rei?" Hiashi membenarkan, "Dia terlalu baik untuk diberikan pada orang lain."
"Apa lamaran anda ditolak?"
"Dia memilih menolakku untuk bekerja sama dengan Kakakku (Raja)."
"Kalau begitu kita harus memisahkan mereka. Semua akan baik-baik saja selama mereka tidak bisa bekerja sama. Kubur saja semua jejak yang ada, tidak peduli apakah itu pejabat tinggi atau pengemis, semuanya sama kalau mereka mati."
"Mereka akan menuduhku".
"Tapi apa yang bisa mereka lakukan? Meskipun mereka curiga, tanpa bukti, mereka hanya gemetar ketakutan karena ketidaktahuan."
.
.
.
Gaara mencari Naruto.
"Naruto! apa kau di dalam?" Gaara melongok melewati tembok, "Naruto, aku Gaara! Apa kau di rumah?"
Pintu terbuka, "Gaara ..kau datang?" seorang Nyonya tua membuka pintu. Gaara kaget, ia membungkuk, "bagaimana bisa anda sendiri yang membuka pintunya?"
Ia adalah ibu Naruto, "kami bahkan tidak bisa membayar mereka, bagaimana mungkin mereka akan tetap disini?"
Gaara menanyakan Naruto. Ibu Naruto hanya menghela nafas.
Naruto ternyata sedang membujuk pemilik toko obat untuk meminjamkan dulu obat untuk ibunya. Naruto janji akan membayarnya sekaligus. Pemilik toko menolak, bayar dulu hutangmu maka kau bisa mendapatkan obat dariku lagi! Naruto berusaha merebut obat itu, tapi tukang obat menahannya. Gaara muncul, "berapa yang kau butuhkan?"
Naruto senang dan berterima kasih karena Gaara mau membelikan obat untuknya. Naruto berkata ingin menjadi Pangeran Pendamping, "tunggu saja, nanti aku akan membayarmu kembali beserta dengan bunganya."
Gaara mendengus, "Pangeran Pendamping?"
Naruto sebal, "apa kau pikir kau bisa bicara atas nama Putri hanya karena kau adalah gurunya? Coba pikir, kau juga adalah sainganku. Sasuke tidak termasuk karena kakaknya sudah jadi calon."
"Sudah sana pulang dan siapkan obat untuk ibumu!"
"Ya, ya aku pergi."
"Pernikahan putri." Gumam Gaara.
.
.
.
Gaara pulang, Ayah, saya pulang. Sabaku no Rei memanggil Gaara masuk ke ruangannya.
"Seperti apa putri itu?"
"Maaf?"
"Apa semua gosip itu benar?"
"Maksud ayah?"
"Kudengar Baginda sangat menyayangi dan memanjakannya, sehingga dia jadi manja dan sombong."
"Itu hanya rumor palsu." Jawab Gaara. Ayahnya heran, bagaimana bisa? Gaara menjelaskan kalau Putri itu orang yang cerdas, pintar dan sangat hidup.
"Sungguh melegakan. Aku sudah memasukkanmu dalam daftar pemilihan Pangeran Pendamping. Tapi sebenarnya ini hanya formalitas."
"Maaf?"
"Baginda sudah memutuskan Pangeran Pendamping untuk Putri. Orang itu adalah kau." Ayahnya tersenyum.
.
.
Gaara jalan ke kamarnya, ia tidak bisa menahan kegembiraannya karena akan diangkat sebagai Pangeran pendamping untuk "Putri" yang memang diam-diam sudah memenuhi pikiran Gaara.
.
.
.
"Nona! saya dengar Yang Mulia (Hiashi) akan pergi berburu. Kita harus memanfaatkan waktu ini untuk menemukan kudanya."
"Benar, kudanya..."
Hinata dan Tenten pergi ke sekitar gibang, Tenten minta Hinata menunggu, dia akan masuk dan bertanya.
Hinata menunggu dan melihat Gaara di belakangnya. Ia kaget dan mencari tempat persembunyian. Tidak peduli dengan Tenten yang kebingungan mencarinya.
Hinata sembunyi di balik tembok, lalu ia ingin mengintip Gaara. Hinata kaget saat wajah Gaara muncul di depannya.
"Mengapa anda sering sekali meninggalkan istana? Hari ini, apapun yang terjadi saya harus memastikan kalau pelayan anda dihukum dengan keras karena kesalahan mereka."
"Itu pas sekali, aku juga akan melaporkanmu karena sering berkunjung ke gibang. Aku akan mengatakan yang sebenarnya dan meminta mereka melakukan penyelidikan yang menyeluruh."
"Mengapa anda datang kesini?"
"Untuk mencari kuda."
Gaara geli, "alasan yang sangat buruk, anda bisa memerintah pelayan untuk mencarinya."
"Aku punya alasan yang tidak akan pernah kau mengerti."
"Apakah guru akan menghentikan anda atau tidak, atau apakah anda akan terluka karena jatuh dari kuda . Anda akan tetap menunggang kuda?"
"Bukan itu. Aku tidak akan naik kuda lagi."
"Bagaimana bisa?"
"Aku sudah berjanji pada orang yang mencemaskan dan merawatku setiap hari."
Gaara ingat keinginan Hinata untuk merasakan kebebasan dengan berkuda di lapangan terbuka. Dan sebagai wanita yang akan sulit melakukan kontak dengan dunia luar setelah menikah. Mungkin juga karena ingin menyenangkan "calon istrinya" sebelum mereka menikah. Hinata berkata akan kembali ke istana dan minta Gaara tidak perlu mencemaskannya.
"Mari kita pergi bersama, apakah akan membuat anda merasa bebas atau tidak. Rasakan saja sendiri."
Hinata terkejut. Tapi ia dengan gembira jalan mengikuti Gaara. Gaara juga tampak gembira, wajahnya menampakkan cengirannya senang.
Gaara mengajari dasar-dasar menunggang kuda pada Hinata, "saat naik, anda harus memegang kekang dan surai kuda. Anda harus naik dari sisi kiri kuda. Saat naik jangan sampai menendang pantat kuda dengan kaki kanan anda. Anda bisa dengan mudah dijatuhkan olehnya."
Hinata mengaku, "Ah, itu pernah terjadi padaku sebelumnya."
Gaara berlutut dan menepuk pahanya, ia minta Hinata menginjaknya, untuk membantunya naik.
Setelah berhasil naik, Gaara mengajarkan bagaimana posisi kepala, "panggul dan kaki di atas punggung kuda. Harus lurus. Anda harus membuat pusat gravitasi di punggung anda, jika terlalu kedepan, maka anda juga akan jatuh dari kuda. Pegang kekang kuda dengan kuat dan sekarang tendang perut kuda dengan perlahan." Kuda mulai jalan perlahan.
~Mereka tidak sadar kalau ada beberapa pria mengamati keduanya~
Gaara berkata jika ditendang lebih kuat maka kecepatannya akan meningkat. Hinata mencobanya dan akhirnya justru ketakutan, ia menutup matanya.
Gaara teriak, "anda tidak boleh menutup mata anda!"
Mau tidak mau, Gaara ikut naik ke punggung kuda dan memegang kendalinya.
.
.
.
Hiashi berkumpul bersama kroninya. Penasehat Hiashi berkata sulit menemukan orang yang bisa menggantikan Gaara.
Hiashi tersenyum santai Gaara tidak akan muncul saat hari pemilihan. Penasehat heran, Apa maksudnya?
.
.
.
Gaara memacu kuda dan minta Hinata buka mata, "saya akan memacu lebih kencang lagi."
Hinata masih belum berani membuka mata. Gaara merangkul pinggang Hinata dengan satu tangan, "saya ada di belakang anda. Tolong buka mata anda."
"Aku takut!"
"Saya tidak akan membuat anda terluka. Buka mata anda. Percalah."
Hinata memberanikan diri membuka mata dan mulai menikmati pemandangan, ia tampak senang.
Gaara tertawa, "sudah lebih baik?"
Hinata mengiyakan dan Gaara melarikan kudanya. Mereka tidak sadar ada beberapa orang dengan kuda mengikuti mereka.
"Guru! sepertinya seluruh dunia berlari ke arahku!"
"Coba rasakan anginnya. Bukankah menyegarkan?"
"Sepertinya dadaku bisa meledak!"
Gaara menurunkan kecepatan lari kudanya dan Hinata ingin terus naik kuda. Gaara berkata mereka akan terlambat masuk istana. Gaara berkata kalau Hinata sudah menaiki kuda sampai puas, nanti Hinata tidak boleh naik kuda lagi.
"Tolong ajari aku lagi."
"Apa?"
Hinata berkata kalau ternyata belajar berkuda tidak terlalu menakutkan seperti yang dibayangkan. Ia memaksa Gaara mengajarinya lagi.
"Malam bulan purnama berikutnya. Aku akan menemuimu di depan Gibang itu. Kau harus datang."
Gaara terkejut, tapi Hinata mendelik, akhirnya Gaara hanya bisa menunduk.
.
.
.
Di tempat lain, Hiashi bergumam lirih, "Sabaku no Gaara...tidak akan pulang hidup-hidup."
.
.
.
Gaara menyadari ada beberapa orang yang mengejar mereka. Ia memacu kudanya dengan kencang. Hinata ketakutan. Mereka berhasil menghindari anak panah.
Seorang pria menembakkan panah dan kena kuda Gaara. Membuat keduanya terjatuh dari kuda dengan keras.
Gaara langsung mengecek Hinata, "Yang Mulia! Yang Mulia! Anda tidak apa-apa?"
Hinata langsung berdiri dan keduanya lari sambil bergandengan tangan.
Orang-orang itu masih mengejar Gaara dan Hinata. Tiba-tiba Gaara tertembak panah di punggungnya.
Hinata berbalik dengan panik, "Guru!"
Pegangan tangan keduanya terlepas. Guru!
Gaara jatuh terduduk. Hinata ketakutan dan teriak, "Guru! Guru!"
.
.
.
TBC
R n R ^^
