"Jangan pernah melangkah ke belakang, Tetsuya. Kalau kau tidak ingin mati, jangan melakukannya."
.
.
.
Kuroko Tetsuya terjaga dari tidurnya dengan kedua bola mata terbuka, pupil yang melebar, dan mulut setengah terbuka. Satu tangan meremas selimut tepat di bagian dadanya, mencoba meredakan jantungnya yang berdetak tak beraturan. Napasnya terengah, sekujur tubuhnya berkeringat, juga bergetar.
Lagi-lagi seperti ini.
Ketika malam menjelang pagi dan cahaya matahari berada di sela-sela jendela kamarnya terlihat, ia harus terbangun dalam kondisi napas tersengal dan tubuh berkeringat. Pernah suatu kali ia terbangun dalam satu sentakan cepat, membuat tubuhnya terduduk dan satu tangan terangkat. Mencoba meraih hal di depannya. Namun yang ada hanyalah hampa dan kekosongan, tak ada apa-apa di sana. Dan hal seperti ini tidak hanya terjadi sekali dua kali, tapi beberapa kali. Setidaknya ia masih bisa menghitung hari dimana dirinya terbangun dengan kondisi tenang, itupun keadaan dimana dirinya benar-benar lelah.
.
.
.
"Le Serment"
Kuroko No Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Rated : T
"Kami tidak mendapatkan keuntungan komersil macam apapun atas cerita ini."
.
.
Story by :
Alice Klein and Suki Pie
.
File One : The Begining
.
.
Happy Reading ^^"
Kuroko mengembuskan napas panjang, juga sedikit kasar.
Perlahan ia mengambil posisi duduk, menumpukan kedua tangannya di atas paha dengan kesepuluh jari mengusap wajah. Menyeka keringat di pelipisnya, setelah itu mengusap sepasang matanya.
Tok! Tok! Tok!
"Tetsuya?"
Kuroko tersentak pelan, bunyi ketukan yang terdengar di pintu seberang tempat tidurnya sedikit membuatnya terkejut. Terlebih diikuti oleh suara yang tidak asing memanggil namanya. Yang awalnya mengetuk pintu dengan pelan, namun perlahan berubah menjadi monoton dan menuntut.
"Tetsuya? Kau di dalam? Jawab aku,"
Dasar pengganggu!
"Ya, aku di sini,"
"Tch! Kenapa kau tidak jawab dari tadi?!"
Bunyi ketukan berhenti, yang bisa Kuroko pastikan sang subjek yang mengetuk pintunya tadi menggerutu di luar sana, dibalik pintu cokelat tua kamarnya. Mengomeli sikap yang tidak disukainya, lagipula, Akashi itu orang yang tidak suka menunggu.
"Tetsuya, aku masuk,"
Kuroko tak menjawab, didahului oleh bunyi 'klek' bergema pelan diikuti oleh deritan kecil, menandakan pintu terbuka, dan Akashi berdiri di sana. Dengan satu tangan memegang kenop pintu, dan seperti biasa, gestur absolut-nya selalu ia pakai. Lain kali, ingatkan dirinya untuk mengunci pintu kamar dikala dirinya terlelap jika tidak ingin mendapati Akashi Seijuuro sudah berdiri di ambang pintu.
"Ah, ohayou, Akashi-kun,"
Akashi mengerutkan kening. Berjalan santai melintasi ruang kamar Kuroko—yang lumayan luas—dan berhenti tepat di samping tempat tidur. Memandang sang surai biru muda secara intens, heran begitu mendapati suara sang pemuda terdengar sedikit serak.
"Mimpi buruk lagi," bukan pertanyaan, sebetulnya. Karena tak ada nada tanya dalam pernyataan Akashi tadi. Terdengar seperti kalimat fakta yang tak bisa dibantah lagi, atau mungkin jangan dibantah.
"Seperti itulah," Kuroko mengedikan bahu. Sedikit tidak nyaman dengan pertanyaan Akashi. "Bukan hal yang penting,"
Akashi mendelik tajam.
"Jangan menatapku seperti itu, Akashi-kun."
Sungguh, terkadang sifat Akashi bisa menyebalkan di matanya. Pemuda itu selalu mempermasalahkan hal yang tidak penting, dari hal kecil dan sepele. Seolah-olah apa yang terjadi pada diri seorang Kuroko Tetsuya adalah hal yang harus diwaspadai oleh Akashi. Terlihat seperti, apa itu namanya, overprotektif, mungkin?
"Kemarin kau bekerja dengan baik, Tetsuya," Akashi berjalan menjauhi ranjang, berderap pelan menuju jendela, lalu membuka tirai abu sebagai penghiasnya dalam satu tarikan. Membuat sang surya menembus kaca jendela dengan bebas, dan dibiaskan secara teratur membentuk berkas-berkas cahaya.
"Terima kasih," hanya formalitas sebagai jawaban. Karena tak biasanya Akashi akan memujinya seperti ini. Terlebih menyangkut pekerjaannya. "Lalu, bagaimana dengan tubuhnya?"
Akashi mendengus, mengerti arah pembicaraan Kuroko. "Kau tak perlu mengkhawatirkan hal kecil seperti itu. Tentu saja yang mengurusnya pihak rumah sakit,"
Kerutan samar menghiasi wajah Kuroko.
"Aku memanggil ambulans, tentu saja."
Oh, Kuroko mengangguk, paham. Ia lupa kalau Akashi tidak pernah mau mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan darah, mayat, atau sisa-sisa dari tembakan cepatnya. Bukan karena Akashi takut, bukan juga karena trauma. Tapi karena pemuda itu tidak ingin repot-repot soal membereskannya, terlebih ia suka mengomel mengenai bajunya yang kotor dan aroma tembaga menguar dari tubuhnya.
Lalu soal terbongkar atau tidaknya, Akashi sudah mengurusnya agar tetap menjadi skenario yang berjalan sempurna. Tak akan ada yang tahu bahwa semua itu bagian dari rencana Akashi dan dirinya. Well, terkadang Akashi Seijuuro bisa sangat mengerikan.
"Dan semua bukti penembakan?"
"Sudah aku hilangkan," Akashi mengangkat bahu tak acuh. "Kau tak ingin aku membiarkan salah satu peluru truvelo-mu itu tertinggal di tubuh korban, bukan?"
Sekali lagi, Kuroko mengangguk. Namun setelah itu kembali bertanya, "Klien—"
"Sudah mentransfer uangnya—jika itu yang kau tanyakan," seulas senyum tipis memoles wajahnya, "Mereka memberikan bayaran lebih, juga segala ucapan 'senang bekerja sama dengan kalian dan bla… bla… bla…" Akashi memutar kedua bola matanya. Malas membicarakan, sebenarnya.
Setelah itu Kuroko tak lagi bertanya. Kepalanya menunduk, menatap dalam diam kedua tangannya yang bergerak secara asal, meremas lipatan selimut di atas pahanya. Ada getar di sana, meski tidak terlalu kentara.
Lagi-lagi seperti ini. Banyak hal yang berseliweran dalam benaknya, juga berbagai emosi menggganggu hatinya. Sampai satu fakta menembus pemikirannya—
Ia pembunuh, dan Kuroko tahu itu.
Kesepuluh jari, kedua tangan dan lengan bagaikan porselen itu sebetulnya sudah menghilangkan banyak nyawa hanya dengan satu tarikan jarinya, sehingga besi bundar berukuran kecil itu melesat cepat menembus tubuh korban. Meninggalkan noda merah pekat di sana. Diselingi oleh pekikan tertahan dan napas yang berhenti berhembus. Dan berakhir dengan sepasang mata yang tertutup.
"Tetsuya—"
Kuroko mendongak, namun hal yang terjadi berikutnya membuatnya terkejut. Akashi berjalan cepat, menarik lengan kanannya hingga tubuh kecil itu tertarik ke depan, membuat ringisan kecil lolos dari bibirnya. Begitu iris dwi warnanya menangkap hal yang janggal di sekitar sikut sang surai biru muda, matanya memicing, alis menekuk tajam, dan kerutan jelas di keningnya.
"Akashi—"
"Sejak kapan?"
Kuroko menggigit bibir. Antara sakit yang dirasakannya menjalar di setiap saraf lengannya, gugup mendapati sikap Akashi, dan bingung bagaimana menjelaskannya.
"Sakit, Akashi-kun," Kuroko nyaris menjerit, membuat cekalan di lengan kanannya mengendur, tapi itu tidak membuat Akashi melepaskannya.
Sorot di kedua mata Akashi semakin tajam. "Luka ini, darimana kau mendapatkannya, Tetsuya?" begitu pula dengan nada suaranya, dalam dan sinis.
Pengelihatan Akashi tak pernah meleset. Termasuk bagaimana ia bisa menangkap dengan jeli bagaimana perban kain putih itu melingkar di sekeliling lengan Kuroko, tepat bagian sikutnya. Bukan hanya perban yang terlihat di sana, namun juga noda pekat yang selama ini menghiasi titik tertentu tubuh korban yang berhasil ditembak Kuroko, mengotori lapisan perbannya.
Ada luka di sana—bisa Akashi pastikan—melintang, menggores, bahkan melukai lengan sang surai biru muda dengan jelas. Akashi tidak tahu apakah itu dalam atau tidak, yang jelas luka seperti itu bisa infeksi jika didiamkan terlalu lama. Dan bodohnya Kuroko—salah satu sifat yang tidak disukai Akashi—selalu menunda waktu untuk segera membersihkan setiap goresan yang melukai tubuhnya.
"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?" disertai dengan decakan yang keluar, Akashi kembali bertanya, lebih kepada dirinya sendiri. Nada suaranya sedikit melunak kali ini. "Kau benar-benar bodoh, Tetsuya."
Kuroko tak membantah. Mendengar Akashi berkata seperti itu sudah cukup baginya, tak ada alasannya untuk membantah—lagipula Akashi tidak suka dibantah. Setidaknya, ia tahu, Akashi mencemaskan keadaannya. Sekecil apapun rasa cemasnya.
"Tetsuya…" satu tangan Akashi yang bebas menggapai laci nakas di samping tempat tidur, mengacaknya asal dan mengambil gulungan perban tersimpan di sana, lengkap dengan gunting. Benda yang digunakan Kuroko kemarin malam untuk menutupi lukanya. "Kenapa lenganmu bisa terluka seperti ini?"
Kembali ke topik awal. Akashi tidak akan pernah melepaskan Kuroko sebelum menjawab pertanyaan menuntut seperti itu.
"Tergores," jawab Kuroko pelan. Tertegun begitu Akashi membalut lengannya dengan perban baru, terlihat cekatan dan hati-hati. "Aku begitu panik sewaktu melihat korban berlari, jadi… ya, kau bisa menduganya sendiri, Akashi-kun,"
Akashi mendengus, angkuh. Namun terselip kegelian di sana. "Ceroboh."
"Maaf,"
Sentuhan terakhir dengan simpul mati pada perban menutup luka di lengan Kuroko, Akashi menggunting sisa kain perban setelah itu meletakannya kembali di atas nakas. Menatap sejenak hasil pekerjaan kecilnya, lalu beralih pada lekuk wajah Kuroko. Benar seperti dugaannya, wajah dengan raut datar itu tampak pucat.
"Ambil mantelmu, Tetsuya,"
Kuroko mendongak, bingung. "Untuk apa?"
Sang surai merah mendecak, setelah itu menyentil kening Kuroko pelan. Yang dibalas dengan suara mengaduh kecil karena sakit.
"Kau harus bertemu dengan Shintarou,"
Kuroko membuka mulut—
"Sekarang. Juga."
Dan tak ada kata yang berhasil dikeluarkannya.
.
.
.
.
Midorima Shintarou membetulkan letak kacamatanya sambil mendengus pelan tanpa menghilangkan pandangannya pada sesosok mayat yang sudah terbujur kaku di depannya. Tangannya pun sibuk membolak-balik beberapa lembar laporan yang dari tadi sudah ia pegang. Data-data tentang kematian mayat tersebut sudah ia palsukan tanpa meninggalkan kesan janggal pada penyebab kematiannya.
Mayat diperkirakan meninggal akibat tertembak dengan indikasi adanya motif dorongan bunuh diri. Well, sebenarnya ia sendiri tidak yakin kepolisian percaya dengan motif tersebut tanpa bukti yang kuat. Namun ia sendiri sudah merubah riwayat penyakit korban semasa hidup dan skizofrenia menjadi salah satu alasan mengapa korban dapat berbuat seperti itu. Dan peluru yang seharusnya tertinggal sudah ia ganti dengan ukuran yang sama namun dari jenis senjata api yang berbeda.
Kalaupun polisi curiga dan mengatakan ini pembunuhan, ia sudah siap dengan memberikan keterangan serta bukti palsu bahwa korban dibunuh oleh salah satu rekan bisnisnya. Bukan hanya riwayat penyakit, bahkan Midorima tahu seluruh riwayat kehidupan korban dan dengan cerdiknya, ia meninggalkan bukti-bukti yang dapat membuat polisi berpikir bahwa salah satu kolega kerja korban merupakan tersangka pembunuhan. Dan hukuman pun akan dijatuhkan kepada orang yang tidak berdosa.
Senyuman tipis terlukis di wajah Midorima. Sempurna sudah. Ia harap tidak ada hal mencurigakan yang tertinggal dari tubuh tanpa nyawa itu.
Menjadi dokter sekaligus ahli forensik memang membuatnya lelah. Membagi waktu untuk mengobati orang yang ingin bertahan hidup dan mengurus orang yang sudah tidak bernyawa sangat tidak mudah, kau tahu? Selain itu juga, ia harus pandai memerankan peran 'malaikat' dan 'iblis' sekaligus.
Seorang dokter dengan tugas sucinya memang terkesan seperti malaikat yang diutus dari surga oleh Tuhan untuk memberikan harapan bagi orang-orang yang sudah berputus asa akan kehidupannya. Pemuda dengan surai hijau itu tahu dan sangat menjunjung tinggi etika tersebut. Dengan kejujuran yang selalu ia pegang, membuat semua orang percaya dengan pengabdiannya selama ini dan menjadikannya salah satu dokter dengan reputasi terbaik di Jepang.
Tapi... saat ada cahaya, pasti selalu ada sisi gelap yang tertutup oleh bayangan hitam. Begitu pun dengan Midorima Shintarou. Seputih apapun kedok yang ia tampilkan, masih ada sisi hitam yang membayangi setiap tingkah lakunya, dan menjadi ahli forensik adalah sisi kelam kehidupannya. Memalsukan data kematian, menghilangkan bukti yang tertinggal dan memberikan keterangan palsu sudah menjadi salah satu bidang yang ia kuasai. Akibat dari keahliannya, beberapa orang yang tidak bersalah kini tengah mendekam di jeruji besi.
Mendapatkan kepercayaan dan dengan liciknya ia salah gunakan kepercayaan itu. Mengerikan sekaligus mengagumkan.
Jangan salahkan ia sepenuhnya. Ada seseorang, dan dengan otoritas absolut-nya, telah membuat Midorima menjadi seperti ini. Terlalu absolut sehingga Midorima hanya bisa menurut dan dibayar dengan harga yang cukup tinggi. Walaupun sebenarnya Midorima sendiri bukan seorang yang sangat memuja uang, tapi tawaran itu tentunya dapat membuat orang suci seperti dirinya berpikir dua kali dan jujur saja, ia senang dengan pekerjaan seperti ini. Sangat melelahkan sekaligus membosankan kalau ia hanya menjadi orang yang baik terus, pikirnya.
Tugasnya hari ini selesai. Pemuda bersurai hijau itu pun melepaskan jas putih panjangnya dan meminta izin kepada para bawahannya untuk pamit undur diri duluan. Ia ingin cepat sampai ke apartemennya dan beristirahat.
Itulah rencananya semula. Sampai akhirnya ponsel miliknya berbunyi. Mungkin panggilan dari salah seorang pasiennya, pikir Midorima. Namun keningnya mengerut samar saat melihat nama kontak yang tertera di layar
Kuroko? Ada apa dengan pemuda itu sampai menelepon dirinya? Mungkinkah pemuda dengan wajah datar itu takut masih ada bukti yang tertinggal pada mayat tadi?
Midorima pun akhirnya mengangkat panggilan tersebut,
"Kuroko, peluru truvelo milikmu sudah aku hilangkan dan diganti dengan peluru lain. Jangan khawatir," kata Midorima membuka pembicaraan. Untungnya sekarang ia sudah berada di dalam mobil miliknya sehingga tidak ada seorang pun yang mendengar percakapan dirinya dengan Kuroko.
"Kerja bagus, Shintarou. Tidak salah aku mengandalkanmu,"
Tunggu. Ini bukan suara Kuroko.
"Akashi, kenapa kau menele—"
"Apa hari ini jadwalmu kosong? Aku ingin kau memeriksa keadaan Tetsuya sekarang," potong Akashi, dengan nada memerintah seperti biasa, tentunya. Walaupun Akashi ada di seberang sana, namun Midorima dapat merasakan Akashi seolah menatap tajam ke arahnya.
Midorima menghela napas panjang. "Hari ini aku kosong dan baru saja mau pulang ke apartemen. Bawa saja Kuroko ke apartemenku dan akan aku periksa disana."
—Niat istirahatnya lenyap seketika.
.
.
.
.
Apartemen itu besar, dengan desain interior victorian era yang kental namun desain Jepang ala tradisional-nya masih terlihat. Midorima bilang, kamar apartemennya berada di lantai lima dengan nomor kamar seratus lima belas. Tidak jauh berbeda dengan gedung apartemennya, ruang apartemen Midorima sendiri terbilang simpel namun elegan. Dengan aksen monokrom di setiap penjuru ruangan, dan hiasan warna pastel di titik-titik tertentu. Baik Kuroko ataupun Akashi tahu, pria bersurai hijau itu orang yang rapi. Maka tak jarang orang yang bertamu ke rumahnya—jika itupun ada selain Kuroko dan Akashi—pasti merasa nyaman berada lama-lama di ruang apartemen Midorima.
"Lukanya tidak terlalu dalam," sahut Midorima kalem, sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari lengan yang sedang ia balut. "Tapi darah yang keluar cukup banyak. Ini terjadi karena kau tidak segera mengobatinya langsung dan hanya menutupnya dengan perban, Kuroko." Ada nada khawatir di sana, terselip di antara ucapan kesalnya. Meski Midorima tidak ingin mengakuinya secara langsung, pria itu juga bisa mempermasalahkan hal-hal yang sepele, apalagi menyangkut dengan luka, bahkan hidup mati seseorang. Jiwa seorang dokternya sudah melekat dengan jelas, seperti itulah Midorima.
"Hm, aku terlalu lelah untuk membersihkannya dengan alkohol, Midorima-kun," balas Kuroko datar, diikuti oleh suara ringisan yang pelan ketika ujung jari telunjuk Midorima dengan sengaja menekan luka vitalnya. Bermaksud hanya untuk menggertak.
"Itulah mengapa terkadang kau coroboh dan bodoh," kali ini ujung jarinya bergerak membetulkan kacamata, "luka kecil seperti ini jangan kau anggap remeh. Apa yang akan terjadi jika lukanya semakin parah dan membusuk?"
"Akan kusita semua senapanmu itu, Tetsuya,"
Mereka berdua serempak menoleh. Fokus terhadap sosok Akashi yang berdiri tidak jauh dari ruangan mereka saat ini—ruangan yang dikhususkan Midorima hanya untuk klinik mini baginya. Satu tangan memegang buku dan membukanya secara acak, sedangkan satunya lagi mengambil buku lain dari rak di depannya. Di saat Midorima sibuk dengan pengobatan Kuroko, Akashi dengan santainya menenggelamkan diri dengan berbagai macam buku Midorima yang tersimpan rapi di rak. Banyak di antaranya berbicara mengenai kedokteran, anatomi tubuh, dan hal-hal lainnya yang tidak menarik di mata Akashi.
"Tidak lucu, Akashi-kun," Kuroko mendelik tajam. Ia paling sensitif jika berbicara mengenai koleksi senapannya.
Puas mendapati sikap sang surai biru muda, Akashi menyeringai. "Sejak kapan aku bercanda, Tetsuya?"
Sedangkan di sisi lain, Midorima menggeleng frustasi. Mereka berdua ini, batinnya sebal.
"Lakukan saja kalau kau bisa,"
Satu alis Akashi terangkat, "Apa ini? Kau menantangku?"
Kuroko memalingkan wajah. Menatap mata Akashi atau melihatnya wajahnya sama saja mencari bencana. Meski dalam hati mencatat, ia tetap kesal jika Akashi sudah mengancam dirinya tentang menyita dan menghilangkan benda kesayangannya, jika bisa dibilang seperti itu.
"Baiklah, hentikan kalian berdua," Midorima menghela napas panjang, lalu mengembuskannya keras. Setidaknya berhasil membuat dua orang tadi berhenti berdebat. Diambilnya beberapa peralatan tadi yang digunakan untuk memeriksan keadaan Kuroko, setelah itu berjalan ke arah lemari untuk menyimpannya.
Hingga suara detik jam memenuhi atmosfer di sekeliling mereka.
"Lalu, bagaimana setelah ini?"
Mengabaikan pertanyaan Midorima, Akashi menyimpan kembali buku bacaannya, setelah itu berjalan mendekati Kuroko yang masih terduduk di sofa ruang klinik mini Midorima. Terlihat berusaha menghilangkan rasa sakit di sikut kanannya.
"Bagaimana keadaanmu, Tetsuya?"
"Sudah lebih baik dibandingkan tadi," Kuroko menjawab seperti itu agar Akashi tidak terlalu mencemaskan dirinya. Walaupun faktanya Kuroko masih merasa sedikit nyeri.
Akashi tersenyum sangat tipis. Bahkan kalau jarak Akashi tidak sedekat ini, Kuroko tidak akan bisa melihat senyuman Akashi. "Mulai sekarang berhati-hatilah. Aku tidak ingin melihatmu terluka lebih dari ini, Tetsuya." terdengar khawatir namun tetap menjadi sebuah perintah.
Kuroko pun mengangguk paham. "Maafkan aku, Akashi-kun,"
Akashi mulai beranjak dari tempat Kuroko dan menatap ke arah Midorima yang sudah selesai membereskan peralatannya. "Ah, terima kasih juga atas bantuanmu hari ini, Shintarou," ucap Akashi dengan sedikit angkuh.
Midorima membenarkan letak kacamatanya. "Hm, bantuan yang mana lebih tepatnya?"
"Semuanya tentu saja," Jawab Akashi dengan seringai licik. "Bahkan kau sampai rela mengorbankan gelar tertinggimu dan kepercayaan dari semua orang demi pekerjaan rendah seperti ini."
Alis Midorima menekuk, tanda ia tidak suka saat Akashi menyinggung soal hal itu. "Tidak perlu membahas soal itu, kau tahu sendiri aku tidak suka membicarakannya," tanggap Midorima dingin. "Anggap saja aku melakukan hal ini karena bosan dengan tugasku yang terlalu monoton," lanjutnya.
"Menyukai hal yang menantang, huh?"
"Kau sendiri, apa alasanmu menjadi pembunuh bayaran, Akashi? Bukankah kau tidak senang dengan pekerjaan kotor seperti ini? Bahkan menyentuh korban pun, kau tidak sudi," Tanya Midorima dengan nada sedikit merendahkan.
Iris dwi warna itu mendelik tajam ke arah Midorima, "Alasanku, karena aku senang melihat ekspresi orang-orang ketika mengetahui ajalnya akan segera tiba," Berhenti sebentar, kemudian melanjutkan, "Lagipula aku hanya mendapat perintah dan akhirnya kau juga Tetsuya serta bawahanku yang lain, yang akan menyelesaikannya, bukan?"
Midorima menghela napas berat. Susah memang kalau punya atasan yang susah dibantah dan senang berbuat hal yang semena-mena pada bawahannya. "Dalam kasus ini, sebenarnya aku lebih bingung pada Kuroko,"
Pemuda bersurai biru muda itu pun langsung melihat ke arah Midorima, refleks karena mendengar namanya disebut.
"Kenapa seorang guru di sebuah taman kanak-kanak bisa mempunyai hasrat menjadi pembunuh keji?"
Kuroko terdiam sebentar saat mendengar pertanyaan Midorima. Pembunuh keji? Ayolah, ia terdengar jadi sangat jahat dengan sebutan itu. Merasa tidak terima, Kuroko akhirnya memutuskan untuk menjawab sekaligus membela dirinya. "Semua ini tidak ada hubungannya dengan menjadi guru sebuah taman kanak-kanak. Aku mengambil jalur ini, karena aku punya urusan pribadi, Midorima-kun," jawab Kuroko datar.
Keheningan kembali mendominasi. Sampai akhirnya Akashi memutuskan untuk angkat suara.
"Sudah cukup untuk hari ini. Sekali lagi terima kasih untuk bantuanmu, Shintarou," berbeda dengan ucapan sebelumnya, tidak ada nada angkuh yang terselip di setiap kata yang Akashi ucapkan tadi. "Izinkan aku dan Tetsuya untuk pamit undur diri sekarang,"
Midorima mengangguk. "Baiklah, jangan lupa untuk selalu mengganti perbanmu secara rutin, Kuroko,"
"Terima kasih. Akan selalu aku ingat nasihatmu, Midorima-kun," jawab Kuroko dengan senyum tipis mengukir di wajahnya. Ia bangkit berdiri, melirik sejenak lengan kanannya—yang kini sudah terlihat lebih rapi diperban—setelah itu melangkah menuju ruang tengah untuk mengambil mantelnya yang sempat ia simpan di sofa. Namun begitu ia mendapati tak ada mantelnya di sana, keningnya mulai berkerut heran.
"Tetsuya,"
Kuroko menoleh, detik berikutnya ia bereaksi cepat begitu Akashi melempar kumpulan benang berwarna hitam itu—yang tidak lain adalah mantelnya sendiri—tepat ke arahnya, menangkapnya dalam seperkian detik dan nyaris jatuh mengenai lantai. Nyaris, jika saja sikutnya tidak ikut bereaksi seperti memberikan sengatan listrik hingga menjalar ke seluruh tubuhnya. Kuroko meringis, lagi-lagi.
"Akashi!" refleks, sungguh. Terkadang Midorima bisa bersikap sentimental juga terhadap pasiennya (yang bisa ia sebut Kuroko pasiennya dalam kasus hari ini). Dan ia cukup tahu kalau gerak Akashi tadi—melempar mantel tepat ke arah sang surai biru muda—adalah sengaja. Tentu untuk menggerakan satu tangannya yang terluka. "Jangan buat tangannya bergerak secara paksa,"
Akashi mendengus angkuh, "Refleksmu masih bagus bahkan dalam keadaan terluka sekalipun, Tetsuya. Hanya saja kau nyaris menjatuhkannya tadi,"
Midorima menganga, walau tidak lebar. Astaga! Datar benar perkataan Tuan Muda Akashi ini. Tidak sampai sepuluh menit yang lalu pemuda itu mengkhawatirkan keadaan partnernya—jika bisa dibilang seperti itu—dan sekarang mengujinya seperti cara tadi dengan seenaknya.
"Akashi, kau ini benar-benar," Midorima menggeleng frustasi. "Berhentilah menyiksa Kuroko seperti itu," menyadari dengan perkataannya, Midorima menambahkan. "Dan bukan berarti aku khawatir dengannya!"
"Tch! Dengar, Shintarou, aku—"
"Maaf memotong Akashi-kun, Midorima-kun," sela Kuroko cepat, mengalihkan perhatian laki-laki berbeda warna iris di depannya untuk mengarah tepat pada dirinya. Menatapnya dengan pandangan seolah-olah berkata, 'ada apa?'.
Tapi begitu iris dwi warnanya jatuh pada ponsel flip berwarna biru yang saat ini digenggam Kuroko, dengan layar menyala dan terus berkedip berulang kali menghiasi ujungnya, bola mata Akashi menyipit. Binar di kedua matanya mulai waspada.
—Akashi jelas tahu artinya apa.
"Sepertinya kita mendapat panggilan lagi, Akashi-kun. Dan semoga saja—"
Akashi menyeringai, dan Midorima memutar kedua bola matanya.
"—bayarannya jauh lebih tinggi. Kita baru saja mendapatkan klien yang spesial sepertinya."
.
.
.
"Tapi, jika kau sudah melangkah jauh ke belakang karena hati yang lemah disebabakan masa lalu, kau terpaksa harus melawannya. Tak ada jalan lain. Membunuhlah sebelum kau dibunuh, Tetsuya."
.
.
.
être poursuivie (To Be Continued)
A/N :
Halooo~~ kembali dengan kami, ada yang ingat? /plek/ Well, cerita ini udah lama berdebu, hiks...
Alice : Salahkanlah tugas yang menumpuk, Suki =o=
Suki : Aku tahu Alice, dan tolong jangan ingatkan :'D
Alice : Oh ya, terima kasih buat yang sudah membaca chapter sebelumnya ya XD Dan special thank's buat Jessy jasmine 7, oranggakjelas, Rey Ai, dan Yuna Seijuuro yang sudah menyempatkan review~~
Suki : Bagi yang sudah memberikan fave dan follow juga~ *pelukin satu-satu* /woi/
Alice : Oke, terima kasih buat Minna yang sudah membaca chapter ini sampai akhir X3 Suki, siap-siap buat drabble berikutnya~
Suki : Haiiii~~~ Dan terakhir...
Alice & Suki : Review please! X3 *wink*
