TIME
.
Harry Potter dan segala magicnya milik Bunda Joanne Katleen Rowling. Sedangkan FF dan segala kekurangannya milik AdeLWizz
.
Pair : Draco Malfoy/Hermione Granger
.
Rate : T
.
Genre : Nah kan uda ganti Genrenya jadi Hurt/Comfort dan bisa juga berubah jadi Angst sewaktu-waktu *author labil -.-*
.
Warning : OOC , OOT, Typo(?) dan segala kekurangan yang ada. Banyak banget salahnya dari A, B, C sampe' Z. Jadi sebelumnya AdeLWizz minta maap ya hehehe
.
A/N : Aku gak tahu kenapa Hermione bisa begini -.- *diinjek* . Tapi yang namanya persahabatan yang uda lama trus pisah kan sakit pastinya kan? Iyakan? *maksa* . Yauda dech baca FFnya AdeLWizz aja dech :3 jangan lupa kalo abis baca trus Review Dech :D Don't be a silent reader . oiya kan chapter sebelumnya itu Mione Pov. Nah ini gak lagi Mione Pov ya tapi normal Pov hehe...
.
Happy Reading ^^
.
Summary : Aku takkan menyakitimu, Malfoy!/Kau gila Granger! Lepaskan aku/Kau lebih baik tenang sekarang/Ayahku akan membunuhmu, darah lumpur sialan/Aku kecewa kau meragukan kecerdasanku, Malfoy!
#
Hermione menatap nyalang ke arah P. Binns yang masih menggumamkan tentang Keajaiban peri hutan Albania. Entah kenapa saat ini Hermione benar-benar tak menginginkan berada di kelas ini. Otak Hermione sedang tak berada di tempatnya. Berkelana menyusun sebuah rencana yang sudah ada di otaknya sejak pertemuan terakhirnya dengan Malfoy. Ia menggerakkan pena bulunya sembarangan di atas perkamen miliknya. Membuat Ginny yang duduk di samping Hermione mengerutkan dahi heran dan tak percaya.
''Mione, kau baik-baik saja?'' bisik Ginny dengan nada heran jelas melihat Hermione yang biasanya superior dalam pelajaran seakan tak peduli dengan kelasnya.
''Ya, Ginny. Aku baik-baik saja. Kenapa?'' jawab Hermione datar seperti tak berhasrat menjawab pertanyaan Ginny.
''Kau terlihat berbeda. Ada apa denganmu, Mione?. Aku sahabatmu kau bisa cerita apapun kepadaku.'' kata Ginny tanpa bisa menyembunyikan nada khawatir dalam setiap katanya.
''Semua memang sudah berbeda Gin. Tak ada lagi yang sama. But I'm fine.'' Hermione menatap sahabatnya itu dan tersenyum miris. Ia tak mau membuat Ginny curiga dengannya. Setidaknya sampai ia melakukan rencananya. Ia menatap kembali ke arah Profesor Binns membiarkan Ginny ke alam pikirannya sendiri.
Ginny merasa khawatir sekaligus heran dengan tingkah Hermione. Ginny merasa Hermione berubah sejak tak adanya Ron serta Harry di sampingnya. Ginny hanya berharap perubahan itu sementara. Ia bertekad akan selalu ada di samping Hermione agar Hermione tak pernah merasa kesepian. Ginny menatap Hermione sekilas dan mengedikkan bahu melanjutkan lagi ke pelajaran mereka. Andai Ginny bisa Legilimens ia pasti tidak akan sesantai ini melepas pandangannya dari Hermione. Andai saja ia mampu membaca pikiran apa yang ada di otak cerdas Hermione ia pasti akan segera memantrai obliviate Hermione agar Hermione tak sampai melakukan rencananya. Andai saja.
.
Hermione berdiri di belakang patung zirah seperti berharap tak ada yang mengetahui keberadaannya. Ia sedang menunggu kedatangan seseorang. Seseorang yang sudah ia buntuti selama beberapa hari ini hingga ia tahu jadwal serta rute perjalanan dari orang itu. Penantian Hermione seperti sudah tampak ujungnya. Suara derap langkah ringan seseorang menggema di lorong tempat Hermione menunggu. Ia mengintip sedikit dari tempatnya berdiri. Dan ia nyaris melonjak saat ia menyadari seseorang yang ditunggunyalah yang lewat. Sangat tepat waktu dan suasananya.
Ketika suara langkah kaki semakin terdengar jelas Hermione telah siap dengan tongkat sihir di tangannya. Ia menggumamkan kata-kata seperti menghitung langkah kaki kehadiran sosok yang kian mendekat.
''Petrifikus Totalus.'' kata Hermione jelas sambil mengacungkan tongkat vine miliknya ke arah orang itu.
Seseorang yang diserang tiba-tiba oleh Hermione sama sekali tak bisa berkutik. Ia yang tanpa persiapan sama sekali saat ini menyadari tubuhnya kaku terkunci kutukan ikat tubuh sempurna. Matanya yang kelabu garang menatap hina tubuh di hadapannya. Surai platina yang biasa berkibar indah juga terlihat kaku kokoh tak bergerak tertiup hembusan angin. Hanya iris matanya saja yang seakan memberontak dan mencaci sosok di depannya.
''Hai, Malfoy. Aku sangat merindukanmu. Kemana saja kau seharian? Kenapa kau tak menggangguku lagi?'' tanya Hermione pada tubuh beku Draco Malfoy. Hermione tersenyum sangat manis pada Draco Malfoy. Senyum kemenangan.
''Hm. Aku akan membawamu ke suatu tempat, Malfoy. Tak perlu bertanya kemana kau akan mengetahuinya.'' kata Hermione menatap iris kelabu Draco seakan mengerti apa yang dipikiran pangeran es kebanggaan asrama berlambang ular itu. Dan lagi-lagi Hermione tersenyum memandangnya.
''Sebelumnya aku harus mentransfigurasimu dulu. Kau tahu kan? Akan aneh kalau aku membawa tubuhmu keluar kastil. Akan sangat menyolok tentu saja.'' gumam Hermione pada diri sendiri tapi masih didengar jelas oleh indra pendengaran Draco Malfoy.
''Aku sudah memantrai Crookshanks agar ia beku sementara dan menyimpannya di koperku. Aku akan meminta maaf padanya setelah aku kembali nanti. Untuk sementara kau adalah Crookshanksku.'' jelas Hermione tersenyum menatap Draco.
Sekali lagi tongkat Hermione terayun pelan. Seperti perkataannya tadi kini sosok Draco yang beku sudah menghilang digantikan oleh Kucing Kneazle berwarna orange yang tergeletak di lantai dengan posisi seperti tertidur. Hermione mengangkat Kucing yang dikenal orang sebagai kucing peliharaannya dan membawa kucing itu ke pelukannya. Hermione menyentuh pelan bulu Crookshanks -Draco- dan berlalu dari tempat itu.
Hermione melangkahkan kaki keluar dari Kastil Hogwarts. Tak seorangpun menaruh curiga padanya. Ia bersikap normal dengan memeluk Crookshanks lebih erat. Hari ini adalah hari kunjungan ke Hogsmeade. Tentu saja ini sudah dalam perhitungan Hermione. Tak seorangpun yang meragukan kecerdasan Hermione bukan?
.
Hermione tak mengindahkan sapaan kawan-kawan Gryffindornya. Ia terus berjalan melewati begitu saja toko-toko di Hogsmeade. Ia sudah berkata pada Ginny sebelumnya kalau ia ingin sendirian pergi ke Hogsmeade. Ia ingin membeli beberapa pasang kaus kaki untuk diberikan kepada peri rumah yang berada di Hogwarts. Masih ingat gerakan S. P. E. W Hermione? Alasan itulah yang dipakainya agar Ginny serta teman-teman lainnya tak mengganggunya. Tentu saja tak ada yang peduli pada kegiatan itu. Dan Hermione tahu benar akan hal itu. Dan sekali lagi kecerdikan Hermione patut diberikan nilai Outstanding dalam hal membuat orang-orang di sekitarnya tak peduli padanaya. Haha. Julukan Hermione sebagai 'The Brightest Witch of Her Ages' memanglah bukan tanpa sebab dan memanglah pantas disandangnya.
.
Hermione berbelok ke sebuah gang sempit menghindarkan diri dari pandangan anak-anak Hogwarts dan orang-orang yang lalu lalang di Hogsmeade. Ia meneruskan perjalanan ke gang berikutnya yang lebih sempit dan tak terawat masih dengan Crookshanks -Draco- dalam pelukannya. Ia melebarkan senyumnya ketika melihat tujuannya sudah di depan mata.
''Nah kita sudah hampir sampai, Malfoy,'' kata Hermione membelai sekali lagi bulu kepala Crookshanks.
Hermione menuju ke sebuah rumah tua yang kumuh. Sebuah bangunan yang seperti siap roboh kapan saja. Terletak terpencil di desa Hogsmeade. Bahkan takkan ada seorangpun yang mau mendekati daerah itu.
''Alohomora.'' kata Hermione mengayunkan tongkatnya dan terbukalah pintu rumah reyot itu.
''Bagaimana Malfoy? Kau menyukainya?'' tanya Hermione pada kucing di dekapannya yang terlihat masih terlelap.
Meski dari luar terlihat tak layak untuk di huni namun suasana dalam rumah sangat berbeda. Walau tak benar-benar indah namun bisa dibilang rumah ini duplikat dari Grimmauld Place. Hanya saja minus tingkatnya. Beberapa kamar, sebuah mini dapur, sebuah mini bar, dan dua buah kamar mandi. Hermione membawa Croocshanks ke dalam kamar paling belakang. Ia meletakkan Croockshanks di atas kasur single berwarna kelabu. Dan dengan sekali ayunan tongkat tubuh Crookshanks yang gemuk dan berekor berubah menjadi sosok Draco Malfoy yang masih berada dibawah mantra Petrifikasi. Sekali lagi Hermione tersenyum melihat Draco Malfoy. Ia mengambil Hawthorn Draco dan menyimpannya di saku jubahnya. Kini matanya kembali berfokus pada Draco. Ia mengayunkan Vinenya ke arah tubuh Draco. Draco merasakan hangat pada tubuhnya. Setelah itu Hermione baru melepaskan kutukan ikat tubuh sempurnanya pada diri Draco.
''Apa. Yang. Kau. Lakukan. Granger.'' kata Draco berang menatap jijik gadis berambut rimba di depannya.
''Aku takkan menyakitimu, Malfoy.'' jawab Hermione pelan tanpa sedikitpun gentar dengan gertakan Draco.
''Kau gila, Granger. Lepaskan aku.'' bentak Draco masih menatap marah Hermione. Ingin sekali Draco membunuh Hermione namun entah kenapa tubuhnya seperti tak menurut pada otaknya. Tubuhnya lemas tapi tak rubuh. Ia kehilangan kendali akan tubuhnya sendiri. Draco menggertakkan gigi menahan amarahnya yang sudah memuncak pada gadis yang pernah memukulnya di tahun ketiga mereka.
''Kau lebih baik tenang sekarang.'' kata Hermione sabar menatap amarah di mata Draco.
''Apa yang kau lakukan padaku? Kenapa aku tak bisa menggerakkan tubuhku?'' tanya Draco mencoba meronta tapi sekali lagi tubuhnya tak patuh pada instruksi otaknya.
''Itu mantra baru, Malfoy. Aku yang menciptakannya. Sepertinya berhasil juga padamu. Aku pernah mencobanya pada Neville beberapa saat lalu. Tentu saja setelah itu aku memodifikasi ingatannya. Aku sangat mahir dalam hal itu. Dan mantra itu berfungsi seperti keinginanku.'' jawab Hermione terkekeh senang seperti anak kecil yang mampu menghapalkan kata pertamanya.
Draco menatap marah pada gadis beriris hazel di depannya. Ia merasa seperti orang bodoh dan lumpuh tak dapat membela tubuh dan harga dirinya. Ia ingin bersumpah serapah mencaci maki namun ia merasa tak berguna melakukan itu semua.
''Ayahku akan membunuhmu, Darah Lumpur sialan.'' umpat Draco disisa sisa pikiran warasnya yang semakin tergerogot oleh sisi pesimistisnya.
''Ya jika ia berhasil menemukanku dan kau.'' jawab Hermione ringan seolah hal itu takkan terjadi. Tak ada sedikitpun tersirat nada takut, gentar maupun khawatir dari setiap perkataanya.
''Kau pasti akan mati. Mereka pasti akan menemukanku mereka akan mencariku. Absenku yang tiba-tiba pasti akan membuat mereka sadar. Dan kau juga tak ada pasti mereka akan segera menemukanku.'' kata Draco berapi-api. Hermione hanya tersenyum miris dan menggeleng pelan.
''Aku akan kembali ke Hogwarts, Malfoy. Agar tak ada yang mencurigaiku. Dan kau akan tetap di sini. Tapi aku akan menemanimu. Aku akan ke sini setiap hari. Dengan Marauders Map dan jubah gaib Harry di tanganku semua sudah berada dipikiranku. Aku sudah merencanakan ini semua Malfoy. Dan sejauh ini semua terlihat berhasil bagiku.'' jelas Hermione kian membuat Draco murka.
''Kau takkan sanggup mengelabuhi mereka semua.'' ancam Draco.
''Aku kecewa kau meragukan kecerdasanku, Malfoy. Kau sudah tidak berjejak demikian juga aku. Aku sudah melindungi tempat ini agar tak mencolok. Sekalipun ada yang masuk ke rumah ini mereka hanya akan melihat rumah rongsokan. Lagipula siapa yang mau membahayakan nyawanya masuk ke rumah yang bisa roboh kapan saja?'' kata Hermione memupuskan satu-satunya alasan Draco berontak.
Draco menatap nyalang gadis itu. Ia tak menyangka gadis kebanggaan asrama Singa ini mempunyai jiwa psikopat. Siapa yang akan percaya jika tak mengalaminya sendiri. Tubuh Draco kembali menghangat. Ia seperti sudah kehilangan kata-kata untuk diucapkan.
''Aku sudah menaruh buah-buahan di meja dekat tempat tidurmu. Tanganmu bisa kau gunakan untuk makan. Tapi tidak untuk melarikan diri. Tanpa tongkat kau tak bisa apa-apa. Kau berada sepenuhnya dalam pengaruhku. Lebih baik aku pergi sekarang. Jam berkunjung Hogsmeade nyaris habis.'' kata Hermione membuyarkan rasa terkejut Draco. Hermione menunggu sesaat menanti apa yang akan ia dengar dari Draco. Tapi Draco tak berkata apapun lagi. Maka Hermione tersenyum dan mengeratkan syalnya lalu berjalan keluar kamar.
'Aku sudah mendapatkanmu, Malfoy. Kau takkan pernah terbebas dariku lagi setelah ini. Hanya kau yang tak berubah. Hanya kau yang kuinginkan.' batin Hermione dan lagi senyum kemenangan mengukir di bibirnya. Kali ini lebih lebar memperlihatkan gigi putihnya yang sudah rapi tak lagi besar-besar. Dan sekali lagi ia berterima kasih pada Draco atas ini.
TBC
Kyaaaaaaa gatau dah gatau XD gatau kenapa aku setega ini ngejadiin Hermione Psikopat -.- maapin AdeLWizz yak *bungkuk-bungkung*
Jangan lupa Review lagi ya :D biar makin cepet updatenya hehehe oiya mantra yang dipake Hermione pada Draco itu gada hehe karangan asli AdeLWizz :3 salam cinta buat Dramione shipper '.')/
Review Plissss :D
- Pojok Review -
- Lilids Lilac : Ini uda next :3 review lagi?
- Ayz : ih aliaaa :* aku tau kali ini kamu hahaha ... Iya multi chapter :3 awal-awal emank belom greget-a hehe ... Maunya sih pake kutip dua langsung tapi aku bikin FF ini pake HP dan gada kutip langsung jadinya satu satu dech ._.V maklumin yak. Eh ini uda greget belom? .
- LeopartCat : Uda lanjut Veeerrr... Review ya :3
- Ayujrmalfoy : Hai juga Ayu :D makasih uda Review. Hehe iya nih maklum author baru jadi masih banyak(banget) errornya hehe. Lanjut baca ya ^^* and review
- Hai guest :D siapakah disana? Udah lanjut nih . moga kamu baca ya :'D
- Lovelyuzka : ini uda greget belom? ._. Iya makasih uda sempetin baca and review yaaa
- OktaMalfoy : Ini uda kilat belom ya? XD menurut aku udah sih ehehe... Iya mudah-mudahan ini lebih banyak dech :D selamat baca and keep review yaa
Makasih semuanya uda revieeww. Luph you muach muacchhh. Readers lain jgn lupa review yaaaaa :* *hug*
