Disclaimer: Tsukiuta © Tsukino Talent Production

Written for self satisfaction. Nonprofit purpose.

a/n: terima kasih sudah meninggalkan jejak di ff ini~

XoXo-XoXo-XoXo

Smoky Heart by Kiriya Arecia

XoXo-XoXo-XoXo

"Aku—bisa memberikannya padamu, kebaikan, keindahan dan cinta."

Shun menawarkan hatinya pada iblis itu.

Namun ia tak mendapat balasan.

Apa yang terjadi hingga ia terluka parah seperti itu?

Shun bertanya-tanya dalam hati. Ia memiliki kekuatan penyembuh, namun sejauh ini ia hanya sering menggunakannya pada tumbuhan dan terkadang manusia. Tidak terpikir kalau ia akan mengobati iblis.

Entah apa ini yang disebut baik hati atau bodoh.

Mata iblis itu tertutup, membuat Shun enggan mengusik. Luka seperti itu pasti didapat dari perkelahian, atau mungkin pertarungan? Para iblis senang terhadap hal semacam itu, melukai, merusak—dan Shun tidak ingin memikirkannya lebih jauh.

Ia menatap lagi sosok itu dengan pasti. Telinga runcing, tanduknya terlihat keras dan kokoh, memperjelas kalau ia adalah iblis. Element yang menguar berwarna ungu kehitaman—berarti bahwa itu adalah kegelapan.

Ia tampan.

Tampan sekali.

Shun masih tidak dapat berhenti menyelipkan kata itu. Tatapan tajam dan rahang tegas. Jika ia adalah manusia, maka ia akan jadi pemuda yang dikejar-kejar oleh para wanita. Mungkin di dunia bawah sendiri, banyak demon mengincarnya. Dalam konteks berbeda tentu saja. Karena sepertinya ia adalah iblis yang sangat kuat.

Tangan Shun terjulur, nyaris menyingkirkan surai yang menutupi sebagian wajah Hajime. Namun gerakan itu terhenti saat lengannya dicengkram oleh Hajime. Iblis itu menatapnya tajam.

"Aku tidak akan melakukan hal berbahaya." Ucap Shun.

Iblis itu melepas cengkramannya, bangkit dari tidurnya tanpa kata-kata. Dahinya berkerut.

(Kenapa ia membiarkan dirinya lengah?)

"Hei, aku belum selesai mengobati lukamu."

"Tidak perlu."

Shun meraih tangan Iblis itu, menahan pergerakannya untuk pergi.

"Namamu, aku ingin mengetahuinya."

"Tidak alasan untuk memberi tahumu."

"Sebagai imbalan karena telah mengobati lukamu…?" Shun menatapnya penuh harap. "Lagi pula iblis tidak suka berhutang budi, terutama pada malaikat, benar kan?"

Dahi iblis itu berkerut.

"…Hajime."

"Aku Shun!"

(Mereka tidak bertemu untuk waktu yang lama setelah tahu nama masing-masing.)

XoXo-XoXo-XoXo

"Iyaa~ akhir-akhir ini aku mempertanyakan kau pergi kemana, dan ingin mencoba mengikutimu secara diam-diam. Namun sepertinya hal itu belum sempat terlaksana."

Haru melipat tangannya. Matanya menatap iba pada demon yang berakhir lenyap di tangan Hajime. Meskipun sedari awal yang ia lakukan hanyalah menonton pertarungan secara keroyokan itu dari kejauhan. Hanya dua iblis muda yang memberikan sorakan penuh dukungan pada Hajime.

"Hajime-sama, keren sekali!" Koi berseru.

"Hajime-sama memang iblis yang paling hebat!" tambah Kakeru.

Hajime memberikan kesan mengabaikan ucapan Haru, ia memerintahkan dua iblis muda itu membereskan tempat yang menjadi medan pertempuran beberapa detik lalu. Tempat yang dipenuhi material berkilauan.

"Terakhir kali yang aku dengar tentangmu dari para demon bahwa kau bertarung dan terluka parah. Sangat parah dan sekarat katanya," Haru mengangkat kedua telapak tangan setinggi bahu, "Ternyata itu hanya kebohongan belaka."

Hajime menoleh pada rekan sesama iblis, "Kau harus memikirkan urusanmu sendiri."

"Maa, hal-hal yang berhubungan dengan Hajime adalah hal menarik bagiku."

"Tidak ada yang berbeda tentang diriku ataupun dirimu. Kita sama-sama iblis."

Haru terkekeh, "Itu tidak benar. Hajime adalah salah satu iblis terkuat yang ada di dunia bawah. Dan aku? Masih jauh di bawahmu. Aku berbeda denganmu."

"Kau—merendahkan diri."

"Aku tersanjung karena dianggap tinggi olehmu, Hajime. Tetapi, tidak semua iblis bisa menembus penghalang antar dunia semudah dirimu, lho."

Apa yang Haru katakan benar, tidak mudah bagi lblis untuk pergi dari dunia bawah menuju dunia manusia, apalagi dunia atas (tempat tinggal seraphim). Sejak dahulu, barrier antar dunia membuat para demon terkurung di dunia bawah, melewati waktu mereka dengan bertarung, saling membunuh agar lebih kuat. Agar mampu mencapai dunia manusia diperlukan kekuatan besar, karena dengan menyentuh penghalang itu saja mampu membuat mereka terluka. Siapapun pembuat pembatas antar dunia, tentu sosok yang sangat hebat.

Hajime tidak tertarik memikirkan hal semacam itu. Sejak awal ia telah terlahir dengan kekuatan yang besar. Ia dapat menembus pembatas sesukanya, membuat banyak demon yang tunduk padanya. Ia memiliki tahta dan wilayah kekuasaan. Tapi itu pula alasan ia diincar banyak demon yang ingin menjadi lebih kuat.

Merepotkan.

(Karenanya ia lebih memilih menghabiskan waktu lebih banyak di dunia manusia.)

"Kalau saja dulu kau tidak muncul, para iblis itu pasti sudah membantaiku sampai habis. Aku menghormatimu." Haru memasang pose salut.

"Aku hanya kebetulan lewat waktu itu."

"Oh, aku tentu beruntung karena kau kebetulan muncul saat itu, Hajime." Haru mengelus dagunya, "Jadi, kenapa kau kemari? Ke bagian terdalam dunia bawah?"

"Tidak ada alasan tertentu."

"Hm? Kenapa aku meragukan hal itu—oww—oww—aku menyerah!"

Iron claw dari Hajime membuat Haru tutup mulut.

Itu tidak membuat rasa penasaran Haru turut tertutup.

(Pasti ada sesuatu yang menarik perhatian Hajime di dunia manusia itu, benar kan?)

Haru akan mencari tahunya sendiri.

[Smoky Heart]

Hajime duduk pada waktu yang lama pada dahan pohon, saat bintang berkelap-kelip hingga cahayanya terhapuskan oleh pagi. Ketika mataharu meninggi, ia menoleh pada sosok yang mendarat dengan elegan.

"Oh~ Hajime…?"

(Ternyata ia masih menyenangi tempat ini.)

Shun melambaikan tangan padanya dengan senyuman terpatri. Ia kemudian duduk bersandar pada pohon. Mendongak untuk menatap sang iblis,"Kupikir kau telah kehilangan nyawa entah dimana."

"Kau meremehkanku."

Shun melihat pemandangan di hadapannya, ladang gandum yang luas, angin yang berhembus menyentuhnya. "Bukan begitu. Hanya saja saat itu kau masih terluka, kau pergi begitu saja dan tidak terlihat untuk waktu yang lama—ah aku lelah sekali. Aku ingin istirahat sebentar~"

Ia terlelap begitu saja tanpa peduli ada iblis di dekatnya.

(Jadi seraphim juga bisa merasa lelah...?)

Itu hanya gumaman pelan dari Hajime. Ia masih setia pada posisinya, menumpu tangan pada lutut kirinya di dahan pohon. Waktu berlalu dengan lambat.

Ketika Shun bangun, sosok iblis itu telah menghilang. Kemunculannya seperti mimpi, namun Shun tahu ia berada untuk waktu yang lama di sana. Ia masih merasakan aura kegelapan berada di sekitarnya.

"Apa ini?"

Di samping tangannya, sebuah benda kecil bening berkilau terkena sinar matahari. Shun meraihnya, menerawang ke arah langit. Sebelah matanya terpejam untuk memastikan penglihatan.

Benda itu menampakkan banyak warna. Seperti pelangi.

"Cantik sekali."

XoXo-XoXo-XoXo

"—Diamond, mineral langka yang terdapat di dalam perut bumi. Merupakan material paling keras di bumi. Batu mulia yang sangat berharga di dunia permukaan."

Setelah membacakan panjang lebar, Yoru menutup buku yang dibacanya. Perpustakaan katedral memiliki banyak buku. Setidaknya itu membantu mereka untuk mengetahui dasar-dasar tentang dunia manusia dan dunia bawah, tanpa harus ke sana langsung. Tentu saja hal itu tidak bisa dibandingkan dengan pengalaman secara nyata. Gambaran kesimpulan yang ada di dalam pikiran kadang tidak sesuai dengan keadaan di lapangan. Meskipun begitu, bukan ide bagus berkunjung ke dunia bawah ketika mereka tidak tahu apapun tentang iblis. Lagi pula hanya mendengar nama itu disebut, tidak ada yang ingin berurusan dengan makhluk kegelapan.

Dunia bawah selalu dipenuhi pertikaian tanpa akhir, karena itu adalah sifat alami mereka untuk menjadi lebih kuat. Keadaan di tempat penduduk langit sebaliknya. Dunia mereka adalah tempat yang damai, mereka melakukan pekerjaan mereka dengan patuh. Memberikan berkah sesuai kekuatan yang mereka miliki.

"Jadi itu adalah benda yang langka dan hebat." Ucap Rui.

"Bahkan para manusia sangat menyukainya," Yoru berdecak.

"Ini pertama kalinya aku melihat diamond asli. Dari mana kau mendapatkannya? Jangan bilang kalau kau pergi ke dunia bawah, Shun." You berkacak pinggang.

"Ehh~ aku tidak ke sana. Aku mendapatkannya—" Shun berpikir sesaat, "Dari kenalanku."

Shun tidak dapat menyebut Hajime sebagai teman, kan?

Karena mereka bukan teman.

"Wah, apa sekarang Shun-san memiliki kenalan di dunia manusia?" Iku tampak kaget mendengarnya. "Bukankah itu berbahaya? Bagaimana kalau para manusia menangkapmu dan mengambil sayapmu?!"

"Fufufu, tenang saja! Hal seperti itu tidak akan terjadi, dan ini tidak seperti yang kau pikirkan."

"Syukurlah!"

(Lagipula ini hanya bentuk ungkapan terima kasih darinya, karena aku mengobati lukanya.)

(Mungkin.)

"Ya, selama kau tidak melakukan hal-hal yang aneh sih," You berkomentar.

"Ah~ You khawatir padaku, senangnya~"

"S—siapa yang khawatir! Aku hanya tidak ingin kau membuat masalah yang nantinya merepotkanku!"

Shun kembali menerawang batu mulia yang didapat, suaranya terdengar seperti bisikan pelan.

"Jadi di dunia bawah masih ada hal yang indah."

XoXo-XoXo-XoXo

Iblis itu melipat tangan, bersandar pada batang ek. Matanya terpejam, namun ia menyadari di belakang pohon, seraph itu juga turut duduk bersandar.

Berlawanan arah dengannya.

Ini pertama kalinya mereka berada di tempat yang sama—di bawah langit berbintang.

"Ini malam yang indah, meskipun di tempat kami, rembulan terlihat lebih dekat dan besar."

Bulan berpendar, dengan kesan jauh untuk dijangkau meskipun terlihat lebih besar dari biasanya.

"Bagaimana dengan dunia bawah? Aku pernah membaca tentang dunia kalian, tapi sulit membayangkannya karena tidak ada ilustrasinya dalam buku yang aku baca di perpustakaan katedral."

"Kau harusnya menjaga jarak dengan iblis, seraph."

"Eh~ kenapa? Aku ingin tahu lebih banyak tentang kalian. Kupikir tidak semua iblis sejahat yang dikatakan para manusia."

"Kau lupa apa yang aku ucapkan padamu?"

Shun diam sejenak, Hajime tahu seraph itu pasti mengingat kejadian yang lalu dengan jelas. Bagaimanapun juga, ekspresi sang seraph sangat syok saat itu. Memperjelas betapa naïf nya seraphim terhadap demon, sehingga malaikat satu ini masih berani mendekatinya hanya karena Hajime bersikap tenang.

Shun menyentuh bibirnya, "Aku tidak lupa, aku tahu iblis senang melakukan hal yang buruk. Tapi kau melakukan hal yang tidak aku duga…"

(Maksudku, kau bisa saja mencekik, membanting atau mematahkan tanganku. Bukannya malah mencium!)

(Karena ciuman biasanya dilakukan oleh pasangan yang saling mencintai.)

Secara perlahan diiringi gerakan ragu-ragu, malaikat itu menyilangkan kedua tangannya, bermaksud menjaga diri meskipun jelas dilakukan setengah hati. Walau iblis itu tidak melihatnya karena posisi mereka saling membelakangi.

"Kita eksistensi yang berbeda. Tanganmu untuk kebaikan." Hajime mengangkat tangannya, memperhatikan setiap cakarnya yang tajam. "Tanganku tidak. Aku telah membunuh ribuan demon."

"Karena kau terlahir sebagai iblis—penghuni dunia bawah, kau tidak memiliki pilihan tentang hal itu. Jika menjadi iblis, aku juga akan menjalani hal yang sama sepertimu. Kami beruntung karena mendapatkan cahaya. Tidak masalah jika kita berbeda, kita masih bisa saling mengasihi satu sama lain."

(Bagaimana caranya mengasihi ketika dunia kami dipenuhi kegelapan?)

Sekejap pemikiran itu terlintas di kepala Hajime, "Aku tidak pernah memikirkannya, dan aku tidak berminat terlibat dalam hal merepotkan seperti itu."

"Lalu kenapa kau masih kemari, Hajime? Walaupun ada diriku?"

"Karena aku yang lebih dahulu menemukan tempat ini."

(Sebab salah satu rule di dunia bawah; yang pertama menemukan, adalah pemiliknya.)

Mereka berbicara tanpa bertukar pandang.

Tetapi mereka menatap langit yang sama.

[Smoky Heart]

Malaikat itu tidur dengan begitu tenang di atas rerumputan, hingga kupu-kupu berani berhinggapan di pakaian, bahkan kepalanya.

(Memangnya dia bunga?)

Hajime menggeleng pelan, mau tak mau harus mengakui kalau seraphim adalah salah satu eksistensi penuh keindahan. Ras yang sering dipuja manusia.

Sedang iblis adalah ras yang selalu dikutuk. Heh, mereka memang pantas untuk dicela. Hajime tidak tersinggung.

Iris kehijauan itu terbuka tiba-tiba, menyebabkan kupu-kupu yang hinggap berterbangan. Shun bangkit dari posisinya begitu menyadari kemunculan Hajime. Ia menghampiri sang demon dengan cepat.

"Hajime~"

Hajime tidak mengerti kenapa seraph itu bersikap demikian padanya. Tanpa rasa sungkan, tanpa rasa takut. Dengan beraninya menghilangkan jarak diantara mereka. Sedikit demi sedikit, secara perlahan tapi pasti. Namun ia sendiri juga tidak menghindari hal itu. Membiarkan berjalan secara alami. Walau tahu tidak akan ada hal bagus yang terjadi dengan hubungan semacam ini.

(Yang pertama menemukan, adalah pemiliknya. Itu rule di dunia bawah kan? Itu tidak berlaku untuk seraph sepertiku! Jadi aku akan tetap ke tempat ini, karena aku menyukai tempat ini, aku menyukai manusia dan aku menyukaimu!)

Dengan mudah ia berkata menyukai Hajime.

Seraph itu tampak sangat tertarik pada hal yang belum pernah dijamahnya. Ia masih belum tahu, apa saja yang bisa iblis seperti Hajime lakukan. Tapi Hajime juga tahu, seraph dihadapannya bukan malaikat biasa karena jumlah sayapnya yang mengesankan. Enam sayap. Sayap besar berwarna putih bersih dan kokoh.

Ah, Hajime sangat ingin merusaknya.

Iblis itu meraih pipi sang seraph. Nyaris menuju leher pemilik surai putih abu-abu, jika Shun tidak memegang tangan demon itu dengan kedua tangannya. Membiarkannya bertahan di sisi wajahnya.

"Kau memiliki tangan yang hangat, Hajime."

"….kau sebaliknya."

"Hm~ itu karena aku mempunyai kemampuan untuk membuat sekitarku terasa sejuk."

"…Itu kekuatan yang bagus."

"Eh~ Hajime memujiku…?"

Ia ingin merusaknya.

Bagaimana jika sayap putih bersih itu berubah warna menjadi hitam pekat seperti miliknya?

Akankah itu terlihat lebih menarik?

Menjadikan Shun sama seperti dirinya. Membuatnya menjadi malaikat jatuh.

"Hajime…? Ngh—?!"

Detik berikutnya, ia meraih wajah sang seraph. Menciumnya.

Membawanya pada ciuman yang dalam.

Ia ingin merusak keindahan seraph itu.

XoXo-XoXo-XoXo

[tbc]

XoXo-XoXo-XoXo

a/n: baru dua chap, tapi adegan kissu nya udah dua kali juga, lol.

Fall down, wet my heart [Smoky Heart—TVXQ].

Kalteng, 14/04/2018

-Kirea-