Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : AU, OC, OOC (maybe), Bloody, Typo(s) etc.

Protagonist : SasoDei

Genre : Crime, Family


Sorry if there are similarities in the name of the character and story ideas


HAPPY READING

.

.

.

-Akatsuki's Mansion- 06.30 p.m

DOR!

Terdengar suara dari sebuah Beretta 92 yang memekakkan telinga dari belakang Mansion. Walaupun suara tembakan terdengar sangat keras, tidak ada satu pun anggota Akatsuki yang terbangun dari tidur pulasnya. Tentu saja karena suara itu berasal dari sebuah ruangan latihan tembak yang kedap suara. Kecuali seorang pemuda bermahkota merah maroon, dan memiliki mutiara berwarna Hazel. Ia sudah bangun sejak puluk 5 pagi tadi. Sasori –nama pemuda itu- melangkahkan kaki ke ruangan latihan. Dilihatnya pemuda bermahkota kuning cerah sedang membidik sasaran.

DOR!

"Kau belajar dengan baik, Dei." Ucap Sasori sambil tersenyum.

"Nii-san sudah bangun?"

"Sebelum kau terbangun. Walaupun kau baru 1 bulan menjadi anggota, kau cepat menguasai senjata yang diajarkan."

"Hoho, tentu saja, aku ini kan pintar." Deidara bernarsis ria.

"Iya-iya… Hey. Kau belum mandi ya?"

"Ketahuannya cepat sekali?"

"Baka! Kau itu bau tau!"

"Hehehe… Habisnya kalau aku mandi terlebih dahulu, pasti nanti berkeringat lagi…"

"Cepat mandi! Kau ini, sudah kuliah tetap saja malas mandi!"

"Tapi aku kan pintar…"

"Kau memang pintar, tapi kalau soal mandi dari dulu kau sangat malas. Sudah sana, cepat mandi! Sebentar lagi kau pergi kuliah."

"Iya-iya… Nii-chan juga tak berubah dari dulu. Tetap saja cerewet."

"Sudah kubilang jangan memanggilku dengan '-chan'! Hey! Kemari kau! Jangan lari! Deidara!"

"Kau juga suka menepuk-nepuk kepalaku lalu berlari dulu! Kita seimbang Nii-san…!" ledek Deidara sambil menjulurkan lidah dan berlari.

Walaupun sudah masuk Akatsuki, Sasori dan Deidara tetap akur seperti dulu, saling meledek, kejar-kejaran, bahkan terkadang sebelum tidur mereka juga perang bantal terlebih dahulu. Dan mereka tetap usil, anggota Akatsuki yang lain yang terkena imbasnya kalau mereka sedang good mood untuk berbuat usil. Mereka juga yang paling ceria dari pada anggota yang lain. Tetapi, mereka akan menjadi sangat serius jika sedang latihan dan menerima misi untuk membunuh. Dan walaupun Deidara baru 1 bulan menjadi anggota Akatsuki, ia sudah 3 kali menerima misi, dan berhasil dijalankan dengan baik. Ciri-ciri Akatsuki saat menjalankan misi, mereka memakai jubah warna hitam berponco bermotif awan merah dan memakai topeng.

.

.

.

-2 years later, Akatsuki's Mansion, Saturday- 01.00 p.m

"Nii-saaaan~ aku luluuuus~ aku luluuuus~! Nilaiku nilai tertinggiiii~" Deidara berteriak saat memasuki ruang tengah Mansion.

"Benarkah? Selamat ya Dei~" anggota Akatsuki turut senang mendengar penuturan err… mungkin lebih tepatnya teriakan Deidara.

"Are you sure, Deidara? Let me see the result of your exam."

"This. See for yourself."

"Congrats, Deidara." Ucap Sasori sambil tersenyum.

"Thanks, Nii-saaaan~"

"Oh ya, Dei. minggu depan kau dan Sasori berangkat ke Italia. Siapkan barang-barangmu."

"Italia? Untuk apa, Pein?" tanya Deidara penasaran.

"Kalian harus membunuh 20 mafia disana. Ini biodata yang harus kalian pelajari." Ujar Pein –ketua Akatsuki-.

"20 orang?"

"Ya. Itu tugas dari Orochimaru-sama. Ia dendam dengan ke-20 rekan mafia-nya. Dan satu hal lagi. Mereka sering berpindah-pindah tempat tinggal, pengawasan mereka juga sangat ketat. Jadi mereka lumayan sulit ditemukan. Dan perkiraanku, tugas ini akan selesai selama 1 tahun." Ucap Pein panjang lebar.

"Kesempatan ini bisa kita gunakan untuk latihan membunuh 'pelaku'-nya, Dei." tersirat kebencian yang sangat besar dalam nada bicara Sasori.

"Memang kau belum mengetahui 'pelaku'-nya?" terdengar nada datar yang berasal dari Itachi.

"Belum. Anak buahku belum menemukannya."

"Bocah Nara itu?" tanya Konan.

"Ya. Hanya dia yang bisa diandalkan untuk mencari informasi seseorang dengan cepat."

.

.

.

-Thursday, Akatsuki's Mansion- 10.00 a.m.

TING TONG

"Ya, tunggu sebentar. Oh… Kau bocah Nara?"

"Hn. Sasori ada, Tobi?"

"Masuklah…"

"Tumben kau yang membukakan pintu. Apa kau berubah profesi menjadi seorang 'Servant'?"

"Aku yang paling dekat dengan pintu."

"Hm. Merepotkan"

.

.

.

"Jadi kau sudah menemukannya?"

"Benarkah? Jadi siapa 'pelaku'-nya?" sambar Deidara.

"Sabarlah, Dei…"

"Aku tak bisa sabar, Nii-san… Sudah 2 tahun aku bersabar, dan sekarang bocah Nara ini sudah mengetahuinya, bagaimana aku bisa sabar? Lagipula aku curiga dari dulu, jangan-jangan 'BAJINGAN' itu yang membunuh Kaa-san." Deidara terengah-engah karena mengucapkan kalimat yang penuh emosi dalam satu tarikan nafas.

"Dei benar. Memang 'Bajingan' itu—yang kalian maksud yang membunuh Kaa-san kalian."

"Benar dugaanku! Keparat!" geram Deidara, lalu keluar dari ruangan dengan membanting pintu.

"Terima kasih atas infonya, Nara. Tugasmu selesai. Kau boleh pergi." ucap Sasori tetap tenang.

.

.

.

"Dei?"

Deidara yang sedang memaki-maki orang yang membunuh Kaa-san-nya tiba-tiba berhenti begitu mendengar suara yang sering didengarnya selama hidup 17 tahun.

"Apa?" jawab Deiara ketus.

"Kau galak sekali pada Nii-san-mu, Dei? Apa kau tidak sayang lagi pada Nii-san-mu ini?" Sasori mengucapkannya dengan nada dibuat sesedih mungkin.

Deidara yang tidak bisa melihat atau mendengar Nii-san-nya bersedih, langsung membenarkan cara bicaranya tadi.

"Kenapa Nii-san?"

"Ternyata kau tetap tidak bisa melihat atau mendengar Aniki tersayangmu ini bersedih, ya…" Sasori terkekeh.

"Kalau Nii-san tidak ada keperluan, lebih baik mengerjakan sesuatu yang lebih penting."

"Kau galak sekali, Dei… Baiklah, ada yang ingin aku bicarakan padamu."

"Bicara apa?"

"Kita sudah mengetahui 'pelaku'-nya. Yang kita butuhkan hanya waktu yang tepat untuk membunuhnya, dan kita masih butuh banyak latihan. Aku baru saja mencari data-datanya. 'Dia' memiliki banyak anak buah dan bodyguard. Dan—"

"Jangan bilang kalau Nii-san takut padanya?" potong Deidara.

"Jangan memotong perkataan orang, Dei. Tidak sopan. Lagipula buat apa aku takut padanya?"

"Iya iya. Lalu?"

"Dan kita memerlukan strategi yang benar-benar matang. 'Dia' juga selalu memantau kita selama 2 tahun ini. Dia—"

"Heh… Ternyata 'Dia' takut terbunuh ya? Sampai-sampai memantau kita selama 2 tahun ini." ucap Deidara dengan sinis.

"Dei… Sudah kubilang jangan pernah memotong perkataan orang! Tidak sopan!" Sasori memukul kepala Deidara dengan sepuluh lembar kertas HVS yang digulung.

"Aduh! Iya-iya! Tapi nggak usah mukul juga bisa kan?" Deidara mengerucutkan bibirnya.

"Dia mengetahui kalau kita menjadi pembunuh bayaran. Dia tahu kalau kita bergabung dengan Akatsuki. Dan kau. Emosimu masih labil. Jangan sampai emosimu nanti menggagalkan rencana yang sudah kita buat."

"Habis aku benci sekali padanya! Bisakan walaupun dia tidak mencintai Kaa-san tapi tidak membunuhnya?"

"Aku tau, Dei. Aku tau kau sangat benci padanya, aku pun juga sama sepertimu. Tapi kau belum bisa mengontrol emosimu dengan baik. Jadi yang aku inginkan, cobalah mengontrol emosimu."

"Ya, akan aku coba."

"Pegang kata-katamu, Dei." ucap Sasori sambil berlalu.

.

.

.

"Ada apa kau menemuiku?"

"Aku ingin meminta izin, Pein. Aku dan Deidara akan memalsukan identitas selama 'Bajingan' itu belum kubunuh."

"Jadi yang melakukannya 'Orang Itu' ?"

"Ya. Kau tau kan, bahwa selama ini 'Bajingan' itu selalu mengintai pergerakanku dengan Deidara. Aku ingin membuat 'Dia' kehilangan jejak kami, dan mengira bahwa kami sudah mati."

"Baiklah… Terserah kau saja. Tapi kau harus memberitahu aku identitas kalian nanti."

"Terima kasih, Pein."

"Sama-sama."

.

.

.

-Saturday, Akatsuki's Mansion- 08.30 a.m

"Kalian sudah siap?"

"Sudaaaaaah~"

"Tak usah teriak juga bisa kan, Dei?" protes Kisame. Telinganya pengang karena mendengar teriakan Deidara secara langsung.

"Hehe~"

"Apa kalian membawa senjata?"

"Ya. Kami bawa Hand Gun."

"Tak perlu, tinggalkan saja. Disana sudah tersedia legkap."

"Adikku akan menjemput kalian di bandara. Namanya Sasuke. Namanya disana Jeremy Knocks. Selama misi ini berjalan, kalian akan dibantu olehnya." jelas Itachi.

"Sudah, cepat kalian berangkat. Pesawat kalian berangkat pukul 10."

"Kami pergi~ Jaa ne~" Deidara mengucapkan salam perpisahan dengan riang.

-Narita Airport, Japan- 09.45 a.m

Boarding

"Dei, ingat. Namamu Louie Evans, dan aku Lucius Evans. Jangan pernah memasang wajah manismu kalau sedang diluar rumah. Ingat itu."

"Ya, aku mengerti."

Take Off

"Oh iya. Nama samaranmu hanya dipakai jika menjalankan misi dan jika sedang jalan-jalan. Kalau dirumah namamu tetap Deidara. Dan jangan panggil aku dengan sebutan '-nii' jika diluar rumah."

"Okay…"

.

.

.

-Malpansa Airport, Italia- 03.00 a.m

*Percakapan dalam bahasa Inggris*

"Hey Lucius, Louie. Aku Jeremy. Adik—"

"Kami tahu," sela Lucius.

"Kau memang dingin, seperti yang dikatakan Baka-aniki."

"Kami tak akan bersikap manis jika ada tugas." jawab Louie.

"Sudahlah. Kita kerumahku."

-Jeremy Knocks' Mansion, Milan, Italy- 05.00 a.m

*Percakapan dalam bahasa Jepang*

"Haahh… Aku capek Nii-san, ayo istirahat…" keluh Deidara.

"Kau bilang tak akan bersikap manis, ck."

"Hei, Pantat Ayam. Aku bilang 'aku tak akan bersikap manis jika ada tugas', bukan berarti aku tak akan bersikap manis saat dirumah."

"Apa katamu?"

"Pan—"

"Sudahlah, Dei. Tak usah bertengkar. Kau bilang capek, ayo istirahat. Kami duluan, Sasuka."

"Hn!"

-Tanaka's Mansion, Tokyo, Japan- 12.05 p.m

"Bagaimana?"

"Saya dengar mereka pergi ke Amerika, dan pesawat yang mereka naiki mengalami kecelakaan. Dan mereka tidak ditemukan. Sudah dipastikan kalau mereka sudah mati."

"Good job. Uangmu sudah aku kirim ke rekeningmu. Sekarang kau boleh pergi."

"Terima kasih… Eri-sama."

"Khukhukhu… Ternyata kalian mati duluan, ya ? Kalian tak bisa membunuhku… Sasori… Deidara…" Eri—ayah dari Sasori dan Deidara—tertawa kesetanan. Ia tidak tahu bahwa kematiannya sudah dekat.

.

.

.

-Knocks's Mansion, Milan, Italy- 03.18 a.m

"Sasuke, kita bicarakan tugas. Susun strategi." ajak Sasori.

"Hn. Ini Danzo—nama Jepangnya. Namanya saat bekerja di Itali adalah George Vener. Dia target kita yang pertama. Pengedar narkoba. Danzo bekerja di perusahaan miliknya. Oro-sama tertipu olehnya. Uang sebesar 50juta Dollar milik Oro-sama dibawa lari olehnya. Sekarang dia seang berada di Venezia. Besok pagi kita berangkat. Aku dapat informasi kalau uang itu ia masukkan dalam brankas dirumahnya." jelas Sasuke panjang lebar.

"Tidak. Jam 12 nanti malam kita berangkat."

"Tidak, Deidara. Besok—"

"Tidak. Semakin cepat kita melakukan tugas, semakin cepat juga tugas kita selesai. Bukankah mereka berpindah-pindah tempat tinggal?"

"Deidara benar. Sebaiknya kita tengah malam nanti kita berangkat."

"Hn. Sasori, kau ahli dalam apa?"

"Semuanya."

"Kau?"

"Sama."

"Kau pilih apa?"

"Aku pegang panah."

"Aku katana." sambung Deidara.

"Hm. Aku memilih nanti. Kita menggunakan mobil sendiri-sendiri. Kalian bebas pilih memilih mobil apa saja yang ingin kalian pakai."

"Oke. Aku menyusun strategi. Kalian bersiaplah." tawar Deidara.

"Kau juga jangan lupa bersiap-siap. Jangan sampai mengantuk."

"Iyaaa, Nii-saaaan. Huh, kau ini cerewet sekali sih?"

"Jangan berbagi kebahagiaan didepanku. Sudah sana! Pikirkan strateginya!"

"Iya-iya. Dasar Pantat Ayam!" ejek Deidara sambil meninggalkan ruangan.

"Hei—"

"Biarkan saja, Sasuke. Dia memang seperti itu. Oh ya. Ngomong-ngomong… Kau tidak kangen dengan Itachi?"

"Sebenarnya iya, tapi aku belum bisa pulang ke Jepang. Mungkin setelah tugas ini selesai aku akan bilang pada Pein agar aku dipindahkan ke Jepang."

"Hmm… Itachi sudah membalas message-ku. Katanya dia senang kalau kau juga merindukannya."

"Hei! Kau bilang apa pada Baka-aniki itu? Kenapa juga aku bilang padamu kalau aku benar-benar merindukannya…" sesal Sasuke sembari menghantamkan kepalanya berkali-kali dengan keras ke meja didepannya.

"Itachi bilang dia juga sangat merindukkanmu. Dan dia juga sudah bilang ke Pein, kau boleh pindah ke Jepang setelah tugas ini selesai."

"Hei! Seenaknya saja kau memberitahukan pada Baka-aniki apa yang aku inginkan!"

"Kau jangan marah padaku. Aku hanya diminta tolong oleh Itachi…"

"Memangnya Itachi minta tolong apa padamu?"

-Flashback-

"Sasori, aku ingin minta tolong padamu."

"Minta tolong apa, Chi?"

"Kalau kau sudah sampai dirumah Sasuke, tolong tanyakan apakah dia rindu padaku apa tidak. Dan apa dia mau kembali ke Jepang, kalau iya aku akin meminta izin pada Pein."

"Hanya itu?"

"Ya."

"baiklah, akan aku sampaikan."

"Hn, terima kasih."

-End of Flashback-

"Dasar Baka-aniki… Untuk apa bertanya seperti itu."

"Tak apa, kan? Itu artinya Itachi sayang dan peduli padamu."

"Tapi—. Hah! Sudahlah! Aku mau memilih senjata dulu. Aku juga ngantuk. Aku duluan."

"Hmm…"

.

.

.

-Knocks's Mansion, Milan, Italy- 12.02 a.m

"Apa strateginya?"

"Sabar, Sasuke. Kita bearskin diperjalanan."

"Kita berangkat. Kau didepan, Sasuke. Kau yang tahu rumahnya." sambung Sasori.

"Berapa lama perjalanan kita?" tanya Deidara.

"Tergantung. Kalau kecepatan diatas 100km/hr hanya 2 jam."

"Kita berangkat."

"Aku pakai Porche kuning itu!" seru Deidara.

"Jangan memilih warna mencolok, Dei!"

"Hey, Pantat Ayam! Kan kau sendiri yang bilang bebas memilih mobil yang ingin dipakai. Suka-suka aku dong!"

"Bisakah kalian berdua tidak bertengkar dulu?"

"Iyaa, Nii-san bawel."

Deidara memilih Porche kuning. Sementara Sasori Aston Martin merah, dan Sasuke Bugatty Veyron biru tua.

-Diperjalanan-

"Bagaimana strateginya, Dei?"

"Sabar Pantat Ayam! Aku kesulitan disini. Berikan alamatnya, aku mau membobol sistem keamanan rumahnya dulu."

"Kau ini ahli dalam apa sih sebenarnya?"

"Aku ini juga seorang Hacker dan Cracker. Cepatlah! Mana alamatnya?"

"Sanders street no. 101."

"Dei, bagaimana kau menyetir?"

"Nii-san, coba perhatikan. Disebelah kanan stir ada sistem pengemudi otomatis. Kau tinggal memasukkan nama Negara dan kota kau berada, alamat yang dituju, lalu kecepatan yang kau inginkan."

"Hn. Kau benar. Aku saja sudah lupa kalau ada sistem pengemudi otomatis disetiap mobil di Mansion."

"Strateginya nanti aku kirimkan lewat e-mail. Aku ada kerjaan lain."

-01.25 a.m-

"Sudah selesaaaai~~" seru Deidara.

"Hei, Banci! Tak usah teriak juga bisa kan?"

"Diam kau, Pantat Ayam! Nii-san? Kau masih hidup kan?"

"Apa-apaan pertanyaanmu itu, Dei?"

"Habisnya kau diam saja dari tadi. Nii-san dan Sasuke habisi orang-orang ditumah itu. Aku kekamarnya dan membunuh orang itu—"

"Aku saja." sela Sasuke.

"Baiklah… Aku hanya akan membuat tua bangka itu tidak dapat bergerak, setelah kalian selesai susullah aku. Kau yang membunuhnya, Sasuke. Sementara aku membereskan brankasnya."

"Hn. Pekerjaan mudah."

"Kalian sudah membawa senjata masing-masing kan?"

"Hn."

"AH! Aku lupa! Bagaimana ini Nii-san!"

"Kau ceroboh, Dei. Untung saja aku ingat kalau kau suka lupa. Kubawakan katana kesayanganmu."

"Ah, terima kasih, Nii-san. Aku sayang padamu~ . Muuaaahh~~"

Untungnya saja Sasori dan Sasuke tidak melihat wajah Deidara. Tak usah melihat, mendengarnya saja Sasuke sudah merinding.

-02.03 a.m-

"Itu rumahnya."

"Kalian siap?"

"Aku siaaap~"

"Tak usah teriak, Banci!"

"Dei, diam."

"Iya-iya."

"Kita mulai."

Sasori, Deidara, dan Sasuke memulai dengan membantai seluruh penjaga dan maid. Mansion yang terlihat bersih tanpa satu pun debu berubah menjadi lautan darah. Bau amis menguar dari seluruh ruangan dalam Mansion.

.

.

.

BRAK!

"Siapa kau?"

"Khukhukhu, kenapa anda terbangun Danzo-sama? Apakah anda sudah menyadari bahwa… kematian anda sudah dekat?"

"A-a-apa?"

"Khukhukhu… Aah~ saya salah ya? Lebih tepatnya… kematian Anda sudah didepan mata."

"A-apa ma-maksud—AGH!" Danzo berteriak seiring mengalirnya liquid merah dari kakinya.

"Ups, maafkan saya, Danzo-sama. Tapi anda tidak boleh pergi kemana-mana. Anda orang yang susah diberitahu, jadi saya terpaksa memotong otot saraf kaki Anda…" jawab Louie tenang.

"Hmm… Dimana brankas yang berisi 50juta Dollar itu?"

"A-apa maumu?"

"Mauku? Fufufu… Aku hanya ingin mengambil kembali uang yang ada dibrankasmu, yang sebenarnya bukanlah uangmu, Danzo-sama. Aah~ ya, satu lagi. Aku ingin… MEM-BU-NUH-MU." jelas Louie menekankan kata terakhir.

"Anda diamlah, Danzo-sama. Jangan mengganggu pekerjaan saya." ancam Louie.

.

.

.

"Kau sudah selesai, Lucius?"

"Ya, tak ada yang tersisa."

"Hn. Kita susul Louie."

.

.

.

"Aah~ ini dia brankas yang aku cari. Saatnya memecahkan kode."

"K-kau—"

"Diam!"

"Bagaimana, Lou? Sudah dapat?"

"Tinggal kode."

"Kenapa kau tak bertanya saja padanya?"

"Untuk apa aku bertanya kalau aku bisa memecahkannya, 'Remy?"

"Hn. Terserah kau."

"Bagianmu, Jer…"

"Hn. Hm.. Harus kumulai dari mana?" tanya Jeremy pada dirinya sendiri sembari mendekat ke tempat tidur Danzo.

"Bagaimana kabar Anda… Sir George? Ah, aku lupa. Anda sedang tidak bekerja. Jadi nama Anda Danzo-sama…"

"Si-siapa kalian?"

"Kami? Anda tak perlu tahu, yang perlu anda tahu hanya KEMATIAN ANDA sudah didepan mata."

Jeremy mengeluarkan pisau lipat. Ia menggesekan pisau tersebut pada kaki, lengan, serta wajah Danzo.

"AGH!"

"Apakah sakit. Danzo-sama? Tidak? Baiklah… Lucy, aku minta garam. Pasti garam tidak membuat Anda kesakitan kan, Danzo-sama?"

"Ini."

"Hn, terima kasih. Bagaimana, Sir? Tidak sakit kan?" tanya Jeremy sembari menaburkan garam pada kaki, lengan, dan wajah Danzo yang luka.

"AAARRGH!"

"Hmm… Tidak sakit ya? Bagaimana kalau ini?" Jeremy bertanya kembali sambil menusukkan pisau itu pada paha kanan–kiri Danzo, lalu menariknya sebatas lutut.

"AAAARRGGH!"

"Aah, ini tulang anda, ya? Aku pastikan tulang anda akan hancur sebentar lagi. Ahh, aku baru ingat kalau anjing peliharaanku sangat ingin memakan kulit. Aku pakai saja kulit Anda." Jeremy mulai menguliti tangan Danzo.

"Aakh" suara Danzo melemah.

"Kenapa suara Anda begitu kecil? Sudah menjelang ajal ya? Tidak seru. Kukira anda akan menjadi mainan saya yang sangat mengagumkan, ternyata tidak. Mainan yang tidak berguna lebih cepat rusak lebih baik. Akan saya kuselesaikan dengan cepat." Jeremy menusukkan pisaunya pada perut Danzo, memutarnya, lalu menariknya hinggak dada, sehingga organ dalam Danzo terlihat.

"Ini pasti ginjal Anda, aku keluarkan satu ya…" Jeremy menarik ginjal sebelah kanan Danzo lalu meremasnya.

"Ginjal Anda rusak satu, Sir…" ucap Jeremy sembari menarik usus Danzo.

"Aah, ini usus anda, aku ingin lihat bagaimana bentuk usus Anda. Hmm… sama seperti milik orang lain, aku kira berbeda. Aku ingin membagi usus Anda menjadi beberapa bagian, bolehkan, Danzo-sama? Hmm?" Jeremy mulai membelah-belah usus Danzo. Sementara Danzo menahan sakit. Nafasnya pun sudah mulai putus-putus.

"Selesai dengan usus Anda. Aku ingin paru-paru serta jantung Anda. Dan aku ingin lihat seperti apa itu alveolus…" Jeremy menggenggam jantung Danzo dan meremasnya.

"Ak—haa—a—ah—a"

"Hm… Rupanya Anda memiliki penyakit pada pernafasan ya… Kita lihat alveolus…" dimulai dengan menggesekkan pisau pada paru-paru, lalu merobek sedikit permukaan paru-paru, Jeremy mulai millenarian lubing pada permukaan paru-paru.

"Hoo, seperti ini rupanya alveolus itu…" Jeremy mengambil alveolus tersebut, dan meletuskannya.

"Nah! Aku sudah memecahkannya. Hei, cepatlah membuatnya mati, aku sudah mendapatkan kodenya." sambar Louie.

"Hn. Dia juga tidak menyenangkan. Ayo kita pergi, bakar mansion ini sebelumnya."

"Fufufu, Danzo-sama, selamat tinggal. Oh ya, aku yakin Anda tidak merasa kesakitan merasakan itu semua, Anda kan kuaat~" ledek Louie.

"Ayo, Lou, kita pergi."

"Ya, Lucy."

.

.

.

BWOOOSH

"First mission, complete." ucap Deidara, Sasori, dan Sasuke bersamaan.

"Kita pulang."

"Ya."

.

.

.

-Kesokkan harinya, Milan, Italy- 09.19 a.m

"Nii-san, Sasuke, lihat ini. 'Seorang pengusaha terkenal—George Vener (51) meninggal dunia.'"

"Tak perlu kubaca sampai habis— apa ini?"

"'Perusahaan George Vener mengalami kebangkrutan—'?"

"Kau utak-atik lagi ya, Dei?"

"Hehehe, iya Nii-san. Tadi malam setelah sampai dikamar, aku mengutak-atik sahamnya."

"Biarkan berita itu. Kita siap-siap untuk misi selanjutnya."

"Hn."

"Siap, Nii-saan~"

.

.

.

TBC

Bacotan Author:

Huaaaaaa, akhirnya selesai juga~. Saya ngetik ini fic 7 jam. Lama? Salahkan kakak serta adik saya. Sebenernya mau saya hapus ini fic, cuma kata mai bestplen 'Miss Sinead' 'Lanjutin aja, sayang tau…' yasud, akhirnya saya lanjutkan. Berkat 'I-chan The Anime Lover' juga saya lanjutin ini fic mai Imouto-chan—dadakan. Akhir kata.

.

.

.

REVIEW?