Ada sesuatu yang penting yang ingin kusampein ke kalian semua di A/N di bawah nanti. Jadi, tolonh baca A/N-nya ya. Balesan ripyu ada di bawah ;) Enjoy
Abarai Renji. Itulah nama seorang pemuda berambut merah yang diikat ke atas seperti nanas. Pemuda dengan gaya rambut yang menurut Ichigo aneh itu baru saja masuk ke SMA Karakura, tempat pemuda oranye dan gadis shinigami berambut hitam sekelam malam sepanjang bahu itu menuntut ilmu.
Pemuda berambut merah itu baru berada di SMA tersebut selama satu minggu, tapi sudah bisa membuat si pemuda berambut oranye menggerutu sepanjang siang dan malam. Pasalnya, sejak pemuda itu masuk ke sekolah yang sama dan ditempatkan di kelas yang sama pula dengan Kurosaki Ichigo juga Kuchiki Rukia, gadis itu kini jadi semakin tidak punya waktu untuknya.
Gadis shinigami itu selalu sibuk dengan hollow setiap kali Ichigo punya waktu berdua dengannya. Bahkan saat pemuda bermarga Kurosaki itu mengajaknya makan siang bersama di atap seperti biasa pun gadis itu menolak dengan alasan ada hollow datang menyerang. Tapi tentu saja alasan itu sangat sulit untuk dipercaya karena tidak mungkin hollow menyerang di jam yang sama setiap harinya. Dan sudah jelas, kata-kata itu hanya kebohongan kecil yang Rukia berikan untuk menghindarinya.
Bukan hanya itu saja. Senyuman manis nan tulus yang selama ini selalu dilontarkan gadis ber-iris seindah permata amethyst itu hanya padanya kini tak pernah lagi gadis itu berikan. Kuchiki Rukia kini lebih suka menyunggingkan senyum itu pada Abarai Renji. Gadis itu memang pernah memperkenalkan Abarai Renji padanya sebagai 'sahabat dekat sejak masuk Soul Society' tapi pemuda berambut oranye itu tak pernah mengira kalau hubungan mereka ternyata sedekat itu. Ya. Tidak pernah mengira sampai saat itu datang...
Saat itu. 2 hari yang lalu lebih tepatnya. Bel pulang berteriak nyaring memanggil para pelajar haus ilmu di SMA itu agar segera kembali ke rumah masing-masing. Kurosaki Ichigo tengah menunggu Kuchiki Rukia yang mendapat giliran piket untuk pulang bersama, mengingat mereka tinggal di rumah yang sama dan tidur di kamar yang sama.
Tapi begitu gadis berperawakan mungil itu selesai menunaikan tugasnya, gadis itu justru mengajak Abarai Renji menemaninya mampir ke suatu tempat dulu sebelum pulang ke rumah. Rukia juga menyuruh –memaksa lebih tepatnya- Ichigo untuk pulang duluan saja. Setelah gadis itu melakukannya, ia menggamit lengan Abarai Renji yang berdiri di sebelahnya. Membuat pipi pemuda berambut merah itu bersemu. Kemudian dengan langkah sedikit angkuh, Rukia meninggalkan pemuda berambut oranye itu begitu saja di koridor di depan kelas 3-3.
Saat itu gadis berambut hitam sepanjang bahu tersebut sama sekali tidak menyadari, kalau pemuda berambut oranye yang ditinggalkannya itu merasakan nyeri luar biasa tepat di ulu hatinya saat pemuda itu menyaksikan Rukia menggamit lengan Abarai Renji dengan begitu akrabnya. Pemuda itu mulai bertanya-tanya, sebenarnya perasaan apa ini? Kenapa setiap kali ia melihat kedua insan itu saling berdekatan ia merasa darahnya mendidih, perutnya bergejolak, ulu hatinya sakit luar biasa dan semua yang ada di dunia ini jadi terasa salah?
.
.
Disclaimer :: kan udah saya bilang berkali-kali, Bleach itu punya Tite Kubo. Walaupun saya mau mengubah dunia 5 kali, tetep aja Bleach itu punya Tite Kubo = =b
Claimer :: ya saya. Nama saya Asani Suzuka, panggil aja saya pake nama kecil saya, Suzuka. Salam kenal untuk minna yang baru kenal saya *membungkuk ala butler*
Rated :: T aja, nggak lebih, tapi boleh kurang(?)
Genre :: gado-gado saya rasa =.=a
Warning :: segala ketidak sempurnaan sebuah fic saya rasa ada dalam sini, plus fic ini adalah fic yang sangat gaje binti/bin aneh... Silakan tekan tombol 'back' kalau tidak berkenan membaca
Kalo jelek maaf ya, soalnya saya cuma seorang author amatiran tak berbakat tak berkemampuan berumur 14 tahun yang menjalani hidup super biasa(?) yang entah bagaimana bisa nyasar dan jadi author disini. . .
DON'T LIKE? DON'T READ! Gampang kan?
.
.
Kuchiki Rukia menyusuri jalanan yang sudah lengang seraya menatapi ujung sepatunya. Walaupun iris amethyst-nya fokus menatap sepatu hitamnya yang berdebu, tapi pikirannya melayang-layang bebas menuju seorang pemuda berambut oranye yang belakangan ini ia awasi. Ya. Pemuda itu. Pemuda yang sudah membuat perasaannya tak tenang selama beberapa hari ini. Seseorang yang sangat mirip dengan seseorang dari masa lalunya. Kurosaki Ichigo.
Gadis mungil itu mendengus keras. Ia sudah mencoba untuk menjauhi pemuda itu. Berusaha untuk meminimalisir kesempatan berinteraksi dengan pemuda berambut oranye itu. Ia pun sudah mencoba untuk terus berdekatan dengan Abarai Renji. Sahabat dekatnya sesama shinigami. Tapi yang terjadi justru Rukia merasa iba saat ia melihat Ichigo berwajah muram setelah ia melangkah angkuh bersama Renji melewati pemuda itu dua hari yang lalu.
Dan anehnya, semakin ia mencoba untuk menjauhi pemuda itu, hatinya justru terasa semakin sakit. Seakan hatinya itu dicengkeram sesuatu yang tak kasat mata. Saat ia melihat ekspresi muram menggantung di wajah Ichigo, hatinya terasa perih dan hati kecilnya terus berteriak untuk menghentikan semua hal-hal konyol yang sudah ia lakukan. Perasaan apa ini? Kenapa ia merasakannya? Perasaan ini sangat mengganggunya. Apa perasaan sakit ini bisa dihilangkan? Entahlah. Gadis shinigami itu tidak tahu.
Sesaat kemudian, Rukia mengangkat kepalanya untuk melihat langit berwarna oranye keunguan bersama sang surya yang kini sudah berganti warna menjadi oranye terang. Warna oranye itu. Sama persis seperti warna rambut si pemuda Kurosaki. Cih, sial! Kenapa sekarang sang surya dan seluruh langit justru ikut mengingatkannya akan pemuda itu? Mungkin sebaiknya gadis itu pulang saja. Tidak baik juga ia keluyuran di saat hari sudah sesore ini. Kuchiki Rukia pun membalikkan badannya.
Saat itulah ia baru sadar. Ini dimana? Kuchiki Rukia mencoba untuk melihat ke sekelilingnya, mencoba mencari petunjuk tentang keberadaannya saat ini. Tapi tetap tak berhasil. Sepertinya ia memang belum pernah melewati tempat ini sekali pun. Ia benar-benar tak tahu ini dimana. Inilah akibatnya kalau kau berjalan sembari melamun. Kau tidak akan tahu kemana kakimu membawamu.
Rukia sempat panik. Terlihat jelas dari air mukanya. Alis pendeknya berkerut dalam. Ia tak tahu ini dimana dan otomatis ia tak tahu bagaimana caranya pulang. Gadis berambut hitam itu pada akhirnya mencoba untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Tenangkan pikiran. Tarik nafas dalam-dalam, lalu buang perlahan. . . Rukia melakukannya berulang-ulang. Dan akhirnya ia berhasil, ia sudah merasa sedikit rileks. Ya. Sedikit. Sekarang ia tinggal berpikir untuk menemukan jalan pulang. Ia tak bisa berubah menjadi shinigami di sini. Tidak bisa. Kalau ia berubah menjadi shinigami di sini, bagaimana dengan tubuhnya? Tubuh buatannya pasti akan tergeletak lemas begitu saja di tengah jalan dan hal itu pasti akan mengundang masalah.
Gadis ber-iris amethyst itu berpikir sejenak. Ia mengelus-elus dagunya dan mengerutkan alisnya sedalam mungkin. Memasang pose berpikir. Tak lama kemudian, seakan mendapatkan secercah penerangan dari lampu bohlam di kepalanya, ia menjentikkan jari. Gadis itu mendapat ide. Dia akan melakukan hal yang setiap orang lakukan saat mereka tersesat. Tentu saja. Sekarang ia hanya perlu bertanya pada orang terdekat atau mencari pos polisi terdekat.
"Hei, gadis manis, sedang apa kau disini, hah?" Rukia segera membalikkan badannya begitu ia merasakan ada udara berhembus di sekitar telinganya. Terlihatlah di iris amethyst-nya yang seindah permata itu, tiga orang pemuda aneh dengan tampang menyeramkan dan pakaian yang acak-acakan sedang berdiri di hadapannya. Dan salah satu dari pemuda menyeramkan itu baru saja berbicara tepat di telinganya. Membuat bulu roma gadis itu menegang dengan sendirinya.
Alarm dalam kepala hitam miliknya berbunyi nyaring begitu ia sadar kalau ia sedang dalam bahaya. Didekati pemuda-pemuda dengan tampang sangar, rambut acak-acakan dan tak dikenal bukanlah pertanda sesuatu yang baik akan terjadi. Rukia mengamati keadaan di sekitarnya lewat sudut matanya. Sepi. Tak ada seorang pun yang melewati jalan itu. Ini semakin gawat. Mereka bertiga dan ia sendiri.
Salah satu dari mereka bertiga –para preman itu-, yang berbisik di telinga Rukia tadi mendekat. Mencoba menyentuh Rukia. Karena kaget dan tak mau disentuh oleh preman itu, Rukia refleks mengayunkan kakinya tepat ke tulang pipi si preman. Preman itu tersungkur di jalan tak begitu jauh dari mereka. Dua lainnya terkesiap melihat rekannya jatuh tersungkur di hadapan mereka. Sesaat kemudian, mereka berdua membantu rekan mereka berdiri tegak kembali. Mereka pun memulai serangan balik.
Dua dari tiga orang, mencoba mengunci gerakan gadis mungil yang lumayan jago berkelahi itu dengan cara memojokkan gadis itu ke dinding terdekat kemudian mengunci kedua tangan dan kaki gadis itu agar gadis itu tak bisa berontak. "Berani sekali kau menendangku, Bocah!" seru preman yang tadi sempat ditendang oleh gadis shinigami itu sambil menunjuk sebelah pipinya yang memerah dan bengkak.
Rukia mendecih kesal. Gadis itu mencoba menggerakkan kedua tangan dan kakinya. Tapi sialnya, gerakannya terkunci sempurna. Ia tak bisa melakukan apa pun. Sekelebat rasa takut mulai menyusupi relung hatinya. Sejujurnya, gadis shinigami itu belum pernah merasakan rasa takut seperti ini saat melawan hollow. Baru kali ini. Tentu saja, karena rasa takut ini bukan rasa takut akan dipukul, tapi rasa takut akan 'dicicipi'. Gadis ber-iris amethyst itu takut 'dicicipi' oleh preman di depan matanya kini.
"Kau harus membayar luka yang sudah kau buat di wajah tampanku ini, Bocah kecil!" tinju milik preman itu melayang tepat ke arah tulang pipi Rukia. Karena takut, gadis itu pun menutup sepasang iris amethyst-nya rapat-rapat. Dalam hati ia terus berharap pemuda itu datang menolongnya. 'Ichigo, tolong aku!'
Dan sebuah suara hantaman yang keras terdengar. Lebih tepatnya, suara tinju yang menghantam sesuatu dengan sangat keras. Kemudian terdengar suara seperti suatu benda terjatuh menghantam tanah dengan keras pula. Ada apa ini? Gadis yang sejak tadi terus menyembunyikan keindahan iris-nya kini mulai menunjukkan iris-nya pada dunia. Yang pertama kali tertangkap oleh iris amethyst-nya adalah sebuah punggung lebar dengan seragam SMA Karakura melekat di sana dan juga helaian rambut berwarna oranye yang sedikit menari-nari karena tertiup angin yang berhembus pelan.
Kurosaki Ichigo. Pemuda berumur tujuh belas tahun itu berdiri gagah di hadapannya. Tangan kanannya mendorong gadis itu untuk tetap berlindung di balik punggungnya sembari ia melawan ketiga preman di hadapannya. Gadis shinigami yang kini tengah berlindung di belakang punggung pemuda di hadapannya hanya bisa mengintip apa yang tengah dilakukan pemuda itu saat ini. Gadis itu masih sangat shock. Tapi ia bersyukur karena doanya terkabul. Pemuda itu kini benar-benar ada di hadapannya. Melindunginya. . .
d(^_^)b
"Jangan pernah mengganggu gadis ini lagi, kalau tidak, aku tak akan segan-segan menghantamkan ini padamu!" Ichigo menghentakkan kakinya ke tanah keras-keras dan menunjukkan tinjunya di hadapan ketiga preman yang kini tersungkur di hadapannya. Dan tanpa membuang waktu lagi, ketiga preman itu langsung berlari tunggang langgang sambil berteriak-teriak minta maaf layaknya orang gila.
Setelah memastikan ketiga preman gila itu sudah pergi, Ichigo membalikkan badannya. Menghadap Kuchiki Rukia yang menunduk. Sibuk mengatur nafasnya yang beradu cepat karena shock. Karena sibuk mengatur nafasnya, Rukia sampai tak sadar kalau Ichigo terus menatapinya sedari tadi dengan tatapan kesal bercampur sedih.
"Dasar, gadis bodoh! Kalau saja kau tidak berusaha untuk menjauhiku, semua ini pasti tidak akan terjadi! Sekarang kau jadi ketakutan, 'kan?" Ichigo merangkul bahu mungil gadis di hadapannya kemudian mendekapnya dengan satu tangan. "Aku mengkhawatirkanmu, kau tahu? Kalau tadi aku tidak mengikutimu bagaimana? Kau pasti sudah habis 'dicicipi' oleh preman-preman itu!" Ichigo mengeratkan dekapannya pada gadis itu. Membuat iris amethyst gadis itu melebar dan membuatnya kelihatan semakin besar.
Kuchiki Rukia lagi-lagi teringat akan Shiba Kaien. Pemuda bermarga Shiba itu memang pernah menyelamatkannya dari para preman jalanan juga. Sama seperti yang baru saja dilakukan Ichigo. Semua kejadian yang baru saja terjadi pun sama persis dengan waktu itu. Waktu itu juga. Setelah berhasil mengusir para preman itu, Kaien pun menarik Rukia ke dalam dekapannya. Kata-kata yang tadi diucapkan Ichigo dengan nada sarat akan kekhawatiran pun juga dilontarkan oleh Kaien dulu.
Semua ini. . . terasa seperti déjà vu bagi gadis berambut hitam itu. Tanpa sadar, dalam dekapan Ichigo, dengan wajah sendu Rukia bergumam, "Kai. . . en?" Ichigo tersentak kaget. Walaupun pelan, tapi Ichigo masih dapat mendengar gumaman Rukia barusan. Pemuda berambut oranye itu melonggarkan dekapannya pada Rukia.
"Siapa itu Kaien?" tanya Ichigo dengan nada menuntut dan alis oranyenya yang berkerut dalam. Iris amber miliknya menatap iris amethyst di hadapannya lekat-lekat. Seakan mencoba untuk menakuti Rukia dan membuat gadis itu tak berani untuk menjawab pertanyaannya tadi dengan kebohongan. Seperti yang akhir-akhir ini menjadi kebiasaan gadis mungil itu. Entah kenapa Ichigo merasa kesal saat ini. Dalam otaknya terlintas banyak sekali kata 'kenapa?'. Kenapa di saat ia dan Rukia punya waktu untuk bicara berdua seperti ini, gadis itu malah menyebut nama orang lain? Dan Ichigo yakin seratus persen kalau pemilik nama tadi adalah laki-laki.
Rukia yang baru sadar kalau ia baru saja mengucapkan nama itu pun hanya bisa membalas pandangan dari iris amber yang terus meminta jawaban darinya. Sepertinya gadis itu memang harus menjawab, karena ia yakin kalau pemuda di hadapannya tak akan bersedia melepaskannya jika ia belum menjawab. Rukia mengalihkan pandangannya dari iris amber yang kini sedang menyalak galak padanya. Gadis itu agak bingung harus berkata apa.
"Kaien itu. . . target pertamaku. Dia pergi dari dunia ini tanpa bekas." pemuda di hadapannya semakin bingung, "Jiwanya dimakan oleh hollow karena ia berusaha melindungiku dari makhluk itu," Rukia menambahkan sembari melepaskan cengkeraman tangan Ichigo dari lengannya. Ichigo memandang Rukia dengan tatapan sendu. Sebelum ia sempat berkata apa-apa, Rukia sudah menyela. "Sudah, jangan bertampang menjijikkan seperti itu. Ayo, pulang. Aku lapar." Gadis itu pun segera melangkahkan kakinya sembarangan arah. Karena ia memang tak tahu jalan pulang, jadi ia melangkahkan kakinya asal saja.
Sebelum Rukia sempat berjalan lebih jauh, Ichigo menangkap pergelangan tangan kanan Rukia dan menariknya. "Dasar bodoh, arah yang benar itu ke sini!" Ichigo menurunkan genggaman tangannya yang semula berada di pergelangan tangan gadis itu sembari menarik Rukia agar gadis itu berjalan ke arah sebaliknya. Kini kedua insan itu berpegangan tangan. 'Aku tidak akan membiarkanmu lari dariku lagi, Rukia.'
Rukia terus meronta agar Ichigo melepaskan tangannya. Tapi Ichigo justru bersikap acuh tak acuh. Pemuda itu hanya menganggapnya sebagai angin lalu di telinganya. Sedangkan gadis mungil yang kini tengah ia genggam tangannya mulai merasa tidak enak karena terus ditatap oleh beberapa orang yang kebetulan melewati jalan yang sama dengan mereka. Orang-orang itu ada yang terkikik geli melihat sepasang insan berbeda warna rambut itu, namun ada juga yang menggeleng-geleng tidak mengerti seraya bergumam 'dasar anak muda zaman sekarang'.
Wajah Rukia merona seketika saat ia mendengar ada sepasang kekasih –sepertinya- yang berbisik-bisik di dekat mereka sambil melirik ke arah Ichigo dan Rukia. Salah satu di antaranya berkata kalau Rukia dan Ichigo kelihatan begitu kontras, tapi di sisi lain terlihat sangat cocok. Dan pasangannya mengiyakan kemudian sepasang kekasih itu terkikik geli sambil melanjutkan perjalanan mereka.
Rukia yakin kalau Ichigo mendengar itu juga, sama sepertinya, karena wajah Ichigo juga ikut merona saat mendengar bisik-bisik di antara sepasang kekasih itu. Tapi pemuda berambut oranye tersebut lebih memilih untuk mempercepat langkah kakinya seraya mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Rukia. Dan lagi-lagi pemuda itu mengacuhkan semua yang ada di sekitarnya. Seakan-akan mereka adalah angin lalu.
"Jangan coba-coba menjauh dariku dan berdekatan dengan si rambut merah itu lagi!" seru Ichigo tiba-tiba. Membuat Rukia terkejut dengan pernyataan Ichigo barusan. Walaupun tidak terlalu jelas, tapi orang awam pun pasti tahu kalau dalam nada bicara Ichigo tadi ada mengancam dan nada tidak suka di sana. Mungkinkah Ichigo cemburu? Entahlah, Rukia tidak yakin tentang itu. Tapi satu hal yang Rukia yakini saat ini, kedua belah pipinya pasti sedang merona merah karena perkataan Ichigo tadi. Satu hal yang Rukia pelajari dari kejadian ini, menjauh dari pemuda berambut oranye itu pasti akan berakhir dengan kegagalan, entah kenapa.
Tiba-tiba Rukia tertegun, gadis berambut hitam kelam itu teringat akan sesuatu. Dirogohnya saku kemeja putih yang kini tengah dipakainya dan mengeluarkan setangkai daun dari dalamnya. Daun yang selama ini selalu dibawanya kemana pun ia pergi. Daun momiji yang selalu ada bersamanya. Beberapa hari yang lalu daun itu masih tampak segar dan berwarna merah terang. Tapi kini daun itu mulai mengering. Bahkan di beberapa bagian sudah tampak bercak coklat. Tatapan iris amethyst itu langsung berubah sendu. 'Ternyata waktu kita bersama di dunia ini tinggal sedikit lagi, Ichigo. . .'
d(^_^)b
"Kuchiki-saaaaaaan, aku senang kau tidak bertengkar lagi dengan Ichigoooooo!" Asano Keigo berseru lantang saat jam istirahat makan siang baru saja dimulai seraya berlari ke arah Rukia. Kedua belah tangannya terentang lebar seakan ingin menangkup gadis itu dalam dekapannya. Sayangnya keinginan Keigo untuk memeluk gadis mungil tersebut harus batal karena Ichigo langsung saja menghantamnya dengan tinju mautnya. Membuat pemuda berambut coklat berpikiran mesum itu langsung jatuh tersungkur di tanah.
"Jangan coba-coba memeluknya seperti itu, dasar mesum!" seru Ichigo, kemudian lelaki itu mencoba untuk meminimalisir kekesalannya dengan memaki Keigo dalam hati. Walaupun mulutnya kadang ikut bergerak memaki pemuda yang baru saja ia tinju. Sedangkan Rukia menatapnya dengan tatapan heran, dalam benaknya terlintas sebuah pertanyaan, 'Apa Ichigo sedang dalam masa PMS? Akhir-akhir ini dia jadi galak sekali'.
Ya. Ichigo akhir-akhir ini memang sedikit galak. Terutama pada Keigo yang sangat sering mencoba untuk memeluk Rukia. Teman-teman sekelasnya pun ikut bingung dibuatnya. Mereka akui kalau sifat dasar Keigo yang mesum dan senang memeluk -terutama memeluk gadis-gadis- itu keterlaluan. Tapi sepertinya Keigo memang tak pernah serius tentang itu. Jadi mereka membiarkannya begitu saja. Ichigo pun biasanya hanya meninju wajahnya saja tanpa disertai bonus gumaman kekesalan dari mulutnya.
"Eh, memangnya kenapa kalau aku dan Ichigo bertengkar? Bukankah semuanya tetap sama walaupun aku dan lelaki bodoh ini bertengkar?" tanya Rukia sambil berjongkok di hadapan Keigo yang tersungkur dan menunjuk Ichigo di belakang punggungnya. Dan hal itu otomatis membuat Ichigo memberikan tatapan tajam pada gadis itu. Sayangnya Rukia mengacuhkannya dan membuat Ichigo menyerah.
"Cih, aku ke atap duluan," serunya singkat kemudian segera berjalan dengan langkah lebar menuju tangga sekolah. Sementara Chad membantu Keigo berdiri dari lantai koridor sekolah yang cukup dingin itu.
"Ka, kau tidak tahu, Kuchiki-san? Selama beberapa hari ini kau dan Ichigo bertengkar, 'kan?" tanya Keigo dan disambut anggukan pelan dari Rukia. "Kau tahu, dia sangat menyeramkan. Dia jadi terlihat sedang kesal, gelisah dan muram setiap saat."
"Eh, bukankah dia sudah kelihatan menyeramkan dengan alisnya yang selalu berkerut itu?" tanya Rukia tanpa maksud menyinggung keadaan fisik ichigo. Karena menurutnya itu sebuah kenyataan jadi sah-sah saja kalau ia ingin menyebutkan tentang kekurangan fisik Ichigo tersebut. Sebelah alis pendek milik gadis itu terangkat menanggapi perkataan Keigo tadi.
"Tidak. Yang ini lain, Kuchiki-san." Keigo mengibas-ngibaskan kedua telapak tangannya tepat di depan dada. "Iya 'kan, Chad?" Keigo mencari dukungan dari Chad karena ia tahu Mizuiro yang tengah berjalan bersama mereka –berjalan sedikit di belakang sebenarnya- tak akan mendukungnya. Chad mengangguk mengiyakan tanpa mengatakan apa pun.
"Dia benar-benar menyeramkan! Kadang-kadang ia sering marah tanpa alasan yang jelas kemudian meninju meja! Kami sampai takut mendekatinya," seru Keigo, ia mencoba mereka ulang kejadian dimana Ichigo sempat terlihat marah kemudian meninju mejanya sendiri. Rukia mendengarkan ocehan pemuda itu dalam diam. "Tapi itu hanya saat ia bertengkar dengan Kuchiki-san lho! Setelah berbaikan lagi denganmu, kelihatannya suasana hatinya langsung membaik." Keigo tersenyum lebar ke arah Rukia. Seakan ia ingin mengucapkan rasa terima kasihnya yang begitu besar pada gadis mungil di sebelahnya kini.
"Begitukah? Tapi ia terlihat biasa saja di depanku. . ." gumam Rukia sambil menempelkan jari telunjuknya di dagu dan mencoba mengingat-ingat saat ia dan Ichigo bertengkar –atau lebih tepatnya ia mencoba untuk menghindari pemuda oranye tersebut- kemarin. Seingatnya Ichigo kelihatan normal-normal saja di hadapannya. Ia tak pernah terlihat marah maupun muram. Atau ia sajakah yang tak menyadarinya?
"Aah, si Ichigo itu pasti hanya ingin menjaga harga dirinya di depan Kuchiki-san! Oh ya, mungkin penyebab ia marah waktu itu karena Kuchiki-san dekat dengan anak baru berambut merah, si Abarai-Apalah-Namanya-Itu!"
d(^_^)b
Rukia sedang menggambar kepala Chappy the Rabbit saat Ichigo yang sedang tidur-tiduran di atas ranjang bertanya padanya, "Rukia, kalau aku meninggal nanti, apa aku masih bisa bertemu denganmu?" Rukia menoleh ke arah Ichigo. Agak terkejut juga ia saat mendengarnya.
"Entahlah. Bisa ya, bisa juga tidak." Rukia menjawab acuh tak acuh seraya mengangkat kedua bahunya. Kemudian ia kembali menekuni gambar kepala Chappy-nya yang kini sudah sampai di bagian telinga. Ichigo mengangkat kedua alis oranyenya. Sepertinya pemuda itu tak mengira kalau jawaban Rukia akan terdengar sangat asal-asalan seperti itu.
"Aku serius, Rukia. Jawab pertanyaanku dengan benar." Ichigo mulai kesal karena Rukia mengacuhkannya dan terus saja sibuk dengan gambar Chappy-nya yang bahkan kelihatan tidak simetris di bagian kepala. Akhirnya, Ichigo berhasil mendapatkan perhatian gadis shinigami tersebut. Gadis itu meletakkan pensil mekanik hitam milik Ichigo yang sejak tadi ia pakai di atas meja belajar, kemudian berdiri dan menjatuhkan dirinya begitu saja di sisi ranjang Ichigo. Tepat di sebelah pemuda itu tiduran sekarang.
"Begini ya, Ichigo." Rukia mendengus, "Kemungkinan kita bisa bertemu lagi nanti itu ada, tapi sangat tipis. Setelah jiwamu ku-konsou, kau akan pergi ke wilayah Soul Society yang bernama Rukongai. Sedangkan aku. . ." Rukia menunjuk dirinya sendiri, "Akan pulang ke wilayah Soul Society yang bernama Seiretei, tempat para shinigami tinggal. Kedua tempat itu dipisahkan oleh dinding yang sangat tinggi dan dijaga oleh penjaga yang sangat kuat. Tidak sembarangan orang boleh melewatinya. Bahkan shinigami sekali pun."
Ichigo bangun dari posisi tidurnya dan menatap iris amethyst milik gadis mungil yang duduk di sampingnya. Tatapan amber Ichigo kelihatan sendu. Jujur saja, Ichigo merasa kecewa. Ia berharap ia bisa tetap bersama dengan Rukia setelah ia meninggal dalam waktu dekat ini. Berhubung setelah ia meninggal nanti, ia akan menjadi makhluk yang tinggal di dunia yang sama dengan gadis tersebut. Mungkin satu-satunya cara yang ia punya agar ia bisa bertemu dengan Rukia lagi di dunia sana adalah dengan menjadi shinigami, sama seperti gadis itu.
"Bagaimana cara menjadi shinigami?" tanya Ichigo tiba-tiba, pemuda itu menekuk kakinya di atas ranjang. Sedangkan gadis yang duduk di sampingnya kembali menatapnya dengan tatapan tidak mengerti. Seakan sedang bertanya 'ada apa?' pada pemuda itu lewat iris amethyst-nya yang indah. Tapi Ichigo mengacuhkannya.
"Kau bisa masuk ke akademi khusus untuk menjadi shinigami. . ." secercah harapan mulai tumbuh di hati Ichigo. Membuat pemuda itu bisa menyunggingkan sebuah senyuman yang sangat tipis. Namun sayangnya, kata-kata yang ingin diucapkan Rukia belum selesai. "Tapi kau harus menunggu selama enam puluh tahun dulu setelah kematianmu. Itu syaratnya." dan Rukia pun menjangkau sebundel manga yang diletakkan di atas meja dengan wajah acuh. Seakan mengacuhkan eksistensi Ichigo yang melemas di sebelahnya
Setelah mendengar kata-kata gadis shinigami itu, Ichigo langsung membeku di tempat. Ia harus menunggu enam puluh tahun dulu sebelum bisa masuk ke akademi shinigami tersebut? Yang benar saja, bisa-bisa gadis mungil itu sudah terlanjur direbut oleh si Abarai Renji! Dan Ichigo sama sekali tak ingin hal itu terjadi. Pemuda berambut oranye itu tak mau lagi merasakan rasa sakit di dadanya setiap kali ia melihat si Abarai Renji berdekatan dengan Kuchiki Rukia. Tak adakah cara lain agar ia tetap bisa dekat dengan gadis itu setelah kematiannya nanti?
Tanpa Ichigo sadari, Rukia yang berada di sebelahnya terus mengamatinya secara diam-diam dari balik manga yang tengah –pura-pura- dibacanya. Kedua belah pipi gadis itu merona merah. Sebenarnya, Rukia adalah gadis yang sangat peka terhadap perasaan apa pun. Dan karena itulah, -entah kenapa- Rukia merasa kalau sepertinya Ichigo ingin sekali bertemu dengannya lagi setelah pemuda itu meninggal nanti.
Untuk sesaat, kamar Ichigo –tempat dimana mereka berada saat ini- terasa begitu sepi karena tak ada satu pun dari mereka yang ingin membuka mulut terlebih dahulu sampai akhirnya Rukia pun mengalah. "Ichigo, kenapa selama ini kau terlihat tenang-tenang saja? Padahal 'kan kau sebentar lagi akan meninggalkan dunia ini. Target-targetku yang sebelumnya saja –kecuali Kaien tentunya, kau ingat Kaien?- selalu memohon padaku untuk memanjangkan umur mereka karena kebanyakan dari mereka ingin meraih mimpi mereka sebelum meninggal. Apa kau sudah tak punya impian atau sesuatu yang ingin dicapai sampai kau jadi pasrah saja seperti itu?"
Ichigo melirik Rukia melalui ekor matanya kemudian pemuda itu pun mendengus keras. "Bukannya aku tidak punya impian atau sesuatu yang ingin kucapai. Hanya saja aku merasa walaupun aku mencoba memohon padamu, semuanya percuma saja. Kau pasti tak akan mau mengabulkannya, iya 'kan?"
Rukia mengangguk kecil. Sebuah senyuman tipis nan pendek tersungging di bibirnya dan rona merah kembali menjajah pipinya yang putih. Sedikit banyak ia tahu kalau Ichigo memahaminya dengan baik. Terbukti dari kalimat yang baru saja terlontar dari bibir pemuda berambut oranye itu.
"Sebenarnya ada banyak sekali hal yang ingin kulakukan sebelum aku meninggal. Aku ingin membahagiakan Yuzu dan Karin, adikku. Memberi si baka oyaji itu cucu karena kelihatannya ia sudah terlalu tak sabar untuk menimang cucu, terbukti dengan keberadaanmu disini sekarang." Rukia menatap iris amber Ichigo dengan tatapan heran.
"Waktu pertama kali kau minta izin untuk tinggal disini pada oyaji, ia langsung setuju dan menempatkanmu di kamarku, bukan di kamar Yuzu dan Karin adalah karena si baka oyaji itu ingin segera menimang cucu. Kau mengerti maksudku, 'kan?" Ichigo mengalihkan wajahnya ke arah lain untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.
Rukia terkikik geli mendengarnya. Gadis itu tak pernah menyangka kalau ternyata ayah Ichigo, Kurosaki Isshin itu sangat mesum. Kemudian ia mempersilakan Ichigo untuk melanjutkan ceritanya. Ichigo mengangguk kemudian melanjutkan, "Aku ingin melampaui Ishida Uryuu –teman sekelas kita yang berkacamata itu- saat kami kuliah di fakultas kedokteran di Universitas Tokyo nanti, kemudian lulus mendahului si kacamata itu, bekerja dan hidup sendiri di luar sana." Ichigo memandang ke luar jendela. Matanya fokus menatap langit malam yang sedikit diselimuti awan kelabu saat ini.
"Dan sejak melihat peristiwa Tomoya di taman waktu itu, ada satu hal lagi yang ingin kulakukan. Aku. . . ingin terus hidup di sini. Di dunia ini. Dan membantumu melindungi juga membujuk arwah-arwah 'tersesat' itu untuk pergi ke Soul Society," ujar Ichigo sambil menunjukkan deretan giginya yang putih bersih pada Rukia yang tertegun setelah mendengar kalimat Ichigo yang terakhir. Seharusnya pipi Rukia yang sudah merona sejak tadi kini tambah merona. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kini Rukia benar-benar takut, khawatir dan menyesal.
Menyesal karena sudah menanyakan tentang impian yang ingin Ichigo raih. Karena kata-kata itu persis sama dengan kata-kata yang dulu pernah dilontarkan Shiba Kaien padanya. Kata-kata yang membuatnya tak sanggup mencabut nyawa Kaien tepat pada waktunya dan juga kata-kata yang membuat Kaien tewas mengenaskan tanpa bekas. . .
d(^_^)b
Sebuah pintu kayu kuno khas Jepang bergeser terbuka di lantai dua kediaman keluarga Kurosaki malam itu. Tepatnya, di kamar si putra sulung keluarga Kurosaki. Kurosaki Ichigo. Mengagetkan salah satu dari dua penghuni kamar tersebut. Si pemuda berambut oranye -Kurosaki Ichigo- sangat terkejut akan kemunculan pintu itu. Pintu yang sama dengan yang digunakan Kuchiki Rukia saat pertemuan pertama mereka dulu.
Iris amber-nya fokus menatap pintu kayu yang masih belum terbuka sepenuhnya. Berbeda dengan Kuchiki Rukia yang kelihatan acuh tak acuh dengan kemunculan pintu itu. Awan kelabu terus menggantung di wajah cantik nan putih milik gadis bermarga Kuchiki tersebut walau sangat tipis, bahkan tak terlihat. Rukia menggigit bibirnya untuk menguatkan dirinya sendiri. Rukia tahu persis apa yang akan terjadi setelah ini. Dan pastinya yang akan terjadi nanti adalah hal buruk.
Awalnya bagian dalam pintu tersebut berwarna putih dan terlihat menyilaukan. Tapi lama-kelamaan, iris amber Ichigo dapat menangkap dua sosok pria yang mengenakan kimono khas shinigami. Dua orang yang tadinya berdiri di bibir senkaimon –pintu kayu geser tersebut- kini mulai melangkah memasuki kamar Kurosaki Ichigo.
Dan kedua sosok tersebut pun kini dapat terlihat dengan sangat jelas di iris amber Ichigo. Salah satu dari mereka adalah Abarai Renji dan yang satunya lagi seorang pria berambut hitam agak panjang yang berekspresi datar. Iris abu-abu kelam milik pria berambut hitam itu menatap tajam ke arah Rukia yang tersentak kaget. Wajah putih gadis itu langsung memucat. Dengan takut-takut, ia membalas tatapan pria itu.
"Maafkan saya, Nii-sama," ujar Rukia sambil menunduk dalam seperti sedang mengheningkan cipta. Ichigo yang mendengarnya terkejut bukan main. Rukia baru saja memanggil pria itu 'nii-sama'? Ia kakak Rukia? Ada perlu apa dia datang kemari? Sepertinya ia datang bukan untuk reuni dengan adiknya. . .
"Kenapa kau melakukannya lagi, Rukia? Saat itu kau masih seorang shinigami baru, jadi masih dimaafkan. Tapi sekarang. . ." pria itu menghentikan kata-katanya dan mendengus pelan. "Kalau kau tidak bisa, biar aku saja. Tapi aku tak bisa menjamin ia masih akan utuh saat sampai disana nanti." pria itu baru saja akan menarik katana yang tersemat di pinggangnya saat Rukia menjawab perkataannya.
"Maafkan saya, tapi Nii-sama tidak akan bisa melakukannya. Coba Nii-sama rasakan baik-baik." saat itu juga Rukia melepas tubuh buatannya. Membuat tubuh buatan gadis itu tergeletak lemas begitu saja di lantai kamar Ichigo yang dingin. Kini gadis itu telah mengenakan pakaian yang sama dengan yang dikenakan Abarai Renji dan kakak Rukia itu. Abarai Renji yang berdiri tak begitu jauh dari Rukia langsung menghancurkan tubuh buatan Rukia dengan katana miliknya hingga habis tanpa bekas.
Pria yang dipanggil 'nii-sama' oleh Rukia menutup kedua iris abu-abu kelamnya. Sepertinya ia sedang mencoba merasakan sesuatu yang berada di sekitarnya. Sesaat kemudian ia langsung membuka matanya. Iris abu-abu miliknya itu melebar seketika. Wajahnya yang tadi selalu menampilkan ekspresi datar, kini justru menampilkan mimik terkejut. "Rukia, jangan-jangan kau. . ."
"Benar, Nii-sama. Aku melakukannya agar tak ada hollow yang bisa mencabut nyawanya sebelum maut datang. Bahkan shinigami sekalipun tak akan bisa. Dengan begini, ia tak akan bernasib sama dengan Shiba Kaien." Rukia memotong perkataan nii-sama-nya. Kemudian gadis berambut hitam kelam itu merogoh bagian dalam kimono hitamnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Daun momiji berwarna merah terang dan kelihatan masih sangat segar.
Rukia membalikkan daun momiji tersebut dan terlihatlah di sana. Sebuah nama. Nama seorang pemuda yang berada di sekitar mereka. Pemuda yang sejak tadi masih terdiam karena terkejut dan bingung akan hal yang kini tengah mereka bicarakan. Tulisan berwarna hitam yang tertera secara permanen pada daun tersebut membuat Abarai Renji dan kakak Rukia terkejut bukan main. Seharusnya daun itu sudah membusuk sejak kemarin. Sudah tak lagi berwarna merah terang dan segar seperti itu.
"Ada apa ini? Aku tidak mengerti. Bisa tolong jelaskan?" tanya Ichigo dengan agak canggung dan kepala sedikit menunduk. Kuchiki Rukia yang berada sekitar satu meter di sampingnya menatap pemuda itu. Kemudian sebuah senyum getir tertempel di wajahnya. Gadis itu sedih, mengingat kalau sebentar lagi mereka berdua akan berpisah. Mungkin untuk selamanya.
Awan kelabu yang sudah sejak tadi menggantung di langit malam kota Karakura, kini sudah mulai mengeluarkan petir disana-sini disertai dengan gemuruhnya yang menggelegar sampai ke rumah kediaman keluarga Kurosaki. Pria berambut hitam ber-iris abu-abu kelam maju selangkah mendekati Ichigo dan menjawab –bertanya balik lebih tepatnya- pertanyaan yang tadi dilontarkan pemuda itu, "Kau tidak ingat hari ini hari apa?"
Kurosaki Ichigo mengingat-ingat sebentar. Tapi pemuda berambut oranye itu merasa kalau hari ini bukanlah hari yang istimewa. Alis oranye miliknya terus berkerut sembari pemuda tersebut berpikir. Kelihatannya kakak Rukia sudah tak sabar lagi menunggu jawaban dari Ichigo. "Kau tak ingat hari ini hari ke berapa setelah pertemuan pertamamu dengan Rukia?"
Ichigo tersentak. Iris amber-nya melebar seketika. Ia segera melihat kalender meja berukuran kecil yang berada di atas meja belajarnya. Kalau dihitung-hitung hingga hari ini, maka hari ini adalah. . . hari ke empat puluh satu setelah pertemuannya dengan gadis shinigami itu. Kemudian iris amber-nya segera beralih ke arah Rukia. Dan Rukia mengangguk kecil.
"Aku memindahkan sebagian sisa umurku padamu. Jadi kau akan hidup lebih lama, dan agar tak ada hollow maupun shinigami yang mengincar nyawamu lagi. Salahkan aku yang tak tega untuk mengambil nyawamu setelah mendengar impianmu yang ingin membahagiakan orang banyak tersebut. Salahkan perasaanku ini. Ini semua salahku, jadi jangan merasa bersalah atas semua ini. . ." Rukia menjawab seraya tersenyum getir. Kemudian, Renji segera menahan kedua pergelangan tangan Rukia ke belakang. Mencegah gadis itu agar tak kabur.
"Bukankah sudah kubilang untuk menghapus semua perasaan itu dari hatimu? Seorang shinigami tak memerlukan perasaan semacam itu karena perasaan itu hanya akan menyulitkan shinigami dalam menjalankan tugasnya. Dan karena perasaan itulah kini kau harus dibawa ke Soul Society. Kau harus menerima hukumanmu." setelah mengatakannya, kakak Rukia dan Renji membalikkan badan dan akan beranjak pergi sambil membawa Rukia.
"Tunggu!" Ichigo segera berdiri dan mencoba menahan mereka. Saat itu kakak Rukia menatapnya melalui ekor matanya. Bibirnya bergerak menggumamkan sesuatu dan kemudian, tiba-tiba saja kedua tangan Ichigo sudah terkunci sendiri ke belakang. Ichigo kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh begitu saja ke lantai. Pemuda itu kesulitan berdiri selama tangannya masih terkunci seperti ini. Pemuda itu kini hanya bisa menatap kakak Rukia dengan tatapan kemarahan tapi di sisi lain juga pasrah.
"Rukia. . ." panggilnya, Sesaat ia terdiam. Pemuda itu kini benar-benar berharap ia bisa melakukan sesuatu demi mencegah kepergian Rukia, "Bisakah kita bertemu lagi nanti?" tanya Ichigo dengan wajah sedih dan pasrah. Rukia minta izin pada Renji untuk mendekati Ichigo. Renji mengizinkan dan kemudian melepaskan kedua tangan mungil gadis itu. Rukia berjongkok tepat di hadapan Ichigo dan mengelus kepala oranye itu dengan sayang.
"Bisa. Kemungkinan kita untuk bertemu masih ada. Nah sekarang, karena aku sudah memberimu kesempatan, pergunakan umurmu dengan baik. Raih apa yang ingin kau raih selagi aku tak ada." mata Rukia mulai digenangi air mata. "Tapi. . . aku mohon. . . jangan tunggu aku, Ichigo." Rukia pun berdiri kemudian berjalan ke arah Renji dan kakaknya, mengajak mereka pergi. Senkaimon kembali muncul dan terbuka di kamar itu, dan Rukia berjalan memasukinya bersama Renji dan kakaknya. Sesaat sebelum daun pintu itu tertutup sempurna, Ichigo dapat melihatnya. . . untuk pertama kalinya, Rukia meneteskan setetes air mata dari mata indahnya itu. . .
Disaat yang bersamaan dengan tertutupnya pintu senkaimon seutuhnya, sang awan yang sejak tadi membayangi kota Karakura tak lagi sanggup menahan air yang dibawanya. Butiran-butiran air itu pun jatuh membasahi kota Karakura. Hujan deras malam itu menjadi latar adegan perpisahan kedua insan tersebut. . .
d(^_^)b
"Kenapa kau tidak mau menerimaku, Kurosaki-kun? Apa kau masih mencintai Kuchiki-san? Apa yang kau sukai dari Kuchiki-san? Aku akan berusaha untuk melakukannya juga agar kau mencintaiku." Inoue Orihime bersikeras menyatakan perasaannya dan bersikeras untuk tetap terlihat tegar walau sebenarnya sebentar lagi air matanya akan tumpah. Tangan kanannya mengepal tepat di depan dada.
Mendengar pernyataan gadis berambut oranye kecoklatan di hadapannya barusan membuat Ichigo kesal. Tapi ia tetap harus bersabar menghadapinya. Ia sama sekali tak mau melukai perasaan gadis lembut itu. "Kau yakin kau ingin melakukan apa yang kukatakan supaya aku mencintaimu?" Orihime mengangguk, "Aku mencintai Kuchiki Rukia karena ia adalah Kuchiki Rukia. Aku mencintai semua kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Sekarang, bisakah kau berubah menjadi persis sama seperti Rukia?" Ichigo mendengus dan terdiam sesaat, "Lebih baik kau mencintai orang lain saja. Masih ada banyak laki-laki yang jauh lebih baik dariku, Inoue," kata Ichigo dengan sabar.
Orihime tertegun. Sekarang ia sadar, kalau rasa cinta yang dimiliki Ichigo bukan hanya isapan jempol belaka. Cinta itu benar-benar kuat dan tulus. Cinta yang kini dimilikinya tidak akan sanggup meluluhkan rasa cinta yang Ichigo miliki untuk Rukia. Setelahnya Orihime memandang sendu tanah di halaman Universitas Tokyo –tempatnya dan Ichigo menuntut ilmu sekarang- kemudian mengucapkan terima kasih pada Ichigo dan berlari pergi sebelum Ichigo sempat melihat air matanya yang mulai mengalir deras.
Ichigo mendengus keras. Ia tak pernah menyangka kalau ternyata gadis polos tersebut benar-benar mencintainya sampai bisa mengatakan hal-hal semacam itu dengan mudah. Tapi tetap saja, cintanya sudah menjadi milik Kuchiki Rukia seorang walaupun enam tahun sudah terlewati dan gadis itu belum juga muncul batang hidungnya hingga kini. Rukia. . . gadis itu benar-benar belum pernah kembali sejak malam itu. Kenapa gadis itu tak juga muncul? Bukankah gadis itu sendiri yang bilang kalau mereka masih bisa bertemu lagi? Dengan bodohnya gadis itu berkata kalau tak usah menunggunya kembali. Memikirkan untuk melupakan Rukia saja Ichigo tidak bisa.
Iris amber pemuda itu memandang sendu bayangan dirinya sendiri di tanah. Tiba-tiba ia teringat akan malam itu. Malam dimana Rukia diambil dari sisinya dengan begitu tiba-tiba. Setelah malam itu, ia baru menyadari perasaannya pada Rukia. Kini ia benar-benar menyesal, seandainya saja ia menyadarinya lebih cepat, mungkin sesuatu yang berbeda akan terjadi. Menyadari ia sudah mulai melamun lagi, Ichigo mendengus keras dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sudah berapa kali ia mendengus hari ini? Entahlah, ia sendiri tak tahu. Hari sudah beranjak sore. Matahari bahkan sebentar lagi akan segera tenggelam oleh malam.
Menyadari hal itu, ia pun memutuskan untuk mampir dulu ke minimarket, membeli beberapa kaleng soft drink untuk mendinginkan otaknya dan membelikan beberapa pesanan Yuzu adiknya, kemudian ia akan pulang. Ichigo mulai melangkahkan kakinya ke arah tempat parkir motor, mengambil motornya kemudian memacu kendaraan roda dua tersebut ke minimarket yang searah dengan jalan pulangnya.
Setelah membayar semua belanjaannya di meja kasir, Ichigo pun segera keluar dari minimarket tersebut sembari merogoh saku celananya untuk mengambil kunci motor. Setelah mendapatkan apa yang dicari, Ichigo segera berjalan dengan langkah lebar menuju motornya yang diparkir tak begitu jauh dari posisinya sekarang ini.
Dan saat itulah Ichigo melihatnya. Ichigo melihat seorang gadis berperawakan mungil, berambut hitam dan sangat mirip dengan Rukia. Bukan. Gadis itu sama persis dengan Rukia. Hanya saja potongan rambutnya agak lebih pendek dari potongan rambut Rukia yang dulu. Gadis itu berdiri tak begitu jauh darinya, ia berdiri di seberang jalan sana. Di depan mesin penjual minuman otomatis.
Walaupun dari jauh, tapi Ichigo yakin. Sangat yakin malah, kalau itu adalah Kuchiki Rukia. Rukia-nya. Ichigo yang tadinya akan memasukkan kunci motornya ke dalam lubang kunci pun membatalkan niatnya. Ia memasukkan kembali kunci motor itu ke dalam saku celananya dengan terburu-buru kemudian menghambur ke seberang jalan. Dan memeluk sosok itu begitu saja. Kerinduan yang sudah dipendamnya selama enam tahun ini meluap-luap dalam hatinya sampai akal sehatnya tak bisa lagi mengendalikan tubuhnya.
"Kau pasti Kuchiki Rukia, iya 'kan? Kemana saja kau selama ini, Rukia?" tanya Ichigo dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Hatinya merasa begitu gembira karena merasa penantian panjangnya selama enam tahun kini terbayar lunas. Gadis itu kembali. Walaupun gadis yang kini tengah dipeluknya belum tentu Kuchiki Rukia. Kedua tangannya masih menangkup gadis itu cukup erat. Sedangkan yang dipeluk sendiri merasa kaget setengah mati karena tiba-tiba dipeluk begitu saja. Iris amethyst milik gadis itu melebar.
Tanpa gadis itu sadari, bibir kecilnya bergerak dan menggumam, "I. . .chigo?" sesaat kemudian gadis itu mencoba melepaskan pelukan Ichigo terhadapnya walau sebenarnya itu cukup sulit. "Apa-apan kau ini? Kenapa memeluk orang tiba-tiba?" omelnya sambil memegangi dan melepas lengan Ichigo dari bahunya. "Iya, benar, aku Kuchiki Rukia. Tapi kau ini siapa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Pertanyaan gadis itu membuat tubuh Ichigo melemas seketika. Rasanya ia seperti disambar petir di siang bolong yang cerah tanpa awan. Dadanya tiba-tiba saja terasa sakit. Bahkan lebih sakit daripada saat ia melihat Rukia dan Renji berjalan bersama. Rukia tidak mengenalnya? Apa ini mimpi? Ichigo mencoba untuk mencubit pipinya sendiri dan ternyata terasa sakit. Ini jelas bukan mimpi. Lalu kenapa Rukia tidak ingat padanya?
"Yo, Ichigo! Kau terkejut?" sapa seseorang berambut merah yang tiba-tiba muncul di antara mereka. Siapa lagi kalau bukan si Abarai Renji. Merasa dirinya dipanggil, Ichigo menoleh ke arah Renji dan menatap laki-laki itu dengan tatapan meminta penjelasan. Renji yang seakan mengerti isyarat dari Ichigo pun akhirnya mengajak mereka untuk duduk-duduk sejenak di taman terdekat.
d(^_^)b
Setelah menduduki salah satu bangku taman di dekat sana dan membuka sekaleng soft drink yang dibawanya, Renji mulai bercerita, "pada awalnya, hukuman yang seharusnya diterima Rukia adalah hukuman mati. Eksekusi." Renji menatap Rukia yang sedang memerhatikan seorang anak laki-laki yang sedang bermain kejar-kejaran dengan temannya di taman itu, "Tapi akhirnya ia diampuni karena kakaknya yang memegang jabatan cukup tinggi di Seiretei meminta pengampunan untuknya. Dan akhirnya Rukia hanya dibuang ke dunia ini. Ingatannya tentang para targetnya dihapus. Rukia akan dijadikan manusia dengan alat khusus bernama hougyoku, kemudian dia akan tinggal disini selamanya. Oh ya, daun kehidupanmu sudah menempel kembali di pohon kehidupan di Seiretei, jadi jangan khawatir."
Ichigo menatapi kaleng soft drink kosong di tangannya dengan tatapan hampa. Sebenarnya hatinya agak sedih juga mendengar kalau Rukia sama sekali tak mengingatnya. Tapi mau bagaimana lagi. Bisa bertemu dengan Rukia sekarang ini saja sudah merupakan sebuah mukjizat. Jadi ia seharusnya bersyukur dan menerima keadaan Rukia apa adanya.
"Nah, berhubung aku ini sedang sibuk –ada tugas sebenarnya- dan harus pergi, kau bisa mengurus Rukia untukku 'kan, Ichigo?" tanya Renji sambil berdiri dan melemparkan kaleng soft drink di tangannya yang sudah kosong ke tempat sampah terdekat. Kemudian berdiri tepat di hadapan Ichigo. Pemuda berambut oranye itu membalasnya dengan anggukan kecil tanpa semangat. Pemuda berambut oranye itu masih memasang ekspresi muram. Tiba-tiba saja Renji menepuk sebelah bahunya dan berkata, "Hei, jangan sedih begitu. Aku yakin, kalau jauh di dalam hati Rukia, ia masih mengingatmu. Berusahalah. Sudah ya." kemudian laki-laki itu pergi begitu saja. Meninggalkannya dengan Rukia berdua di bangku taman itu.
Ichigo mendengus keras dan lagi-lagi ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kemudian ia bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya pada Rukia. Rukia memandang punggung Renji yang mulai menjauh dan tangan Ichigo yang terulur ke arahnya dengan tatapan heran. "Apa?" tanyanya dengan polos dan alis yang berkerut.
"Ayo, pulang. Mulai sekarang, kau akan tinggal di rumahku, bersamaku." Ichigo yang tidak sabar menunggu reaksi Rukia pun akhirnya menarik tangan kanan Rukia begitu saja dan menggandengnya. Sama seperti waktu itu. Saat Ichigo berjalan pulang sambil menggandeng tangan Rukia setelah gadis itu digoda oleh beberapa preman. Dengan langkah lebar, mereka berjalan menuju minimarket dimana Ichigo memarkir motornya. Perjalanan menuju minimarket itu didominasi oleh keheningan.
"Kau tahu, entah kenapa saat kau memelukku tadi aku merasakan perasaan aneh. Seperti rindu, senang atau semacamnya. Dan aku juga merasa pernah kenal dekat denganmu," aku Rukia, kedua belah pipinya telah dijajah oleh rona merah. "Apa. . . namamu Ichigo? Um, Kurosaki Ichigo?" tanyanya dengan nada yang sarat akan keraguan. Ichigo yang mendengarnya terbelalak kaget. Rukia mengingat namanya.
Sebuah senyum cerah menghiasi wajahnya yang beberapa saat lalu sempat disinggahi awan mendung. Ia mengangguk. "Ya. Namaku Kurosaki Ichigo. Kau tahu, dulu kita sempat memiliki waktu-waktu indah bersama." Rukia berjengit kaget mendengarnya.
"Benarkah?"
"Ya, benar. Dan kau akan kubuat mengingatnya lagi." Ichigo mencoba tersenyum walau tatapan matanya menjadi sendu. Walaupun sekarang ini kelihatannya Rukia hanya mengingat namanya, tapi setidaknya Rukia mengingatnya. Abarai Renji benar. Jauh di dalam sana ternyata Rukia masih mengingatnya. Dan sekarang, yang perlu Ichigo lakukan hanyalah membangkitkan ingatan itu. Membangkitkan ingatan tentang mereka dan setelahnya ia akan hidup seperti saat mereka bersama dulu. . .
Fin
A/N numpang lewat~: yosh! akhirnya bisa apdet juga, setelah sibuk selama 2 minggu buat ujian praktek dan menunaikan tugas, maaf ya telat :D
akhirnya dengan perjuangan berat, fic ini complete juga, walaupun dengan ending yang rada gaje atau emang gaje? yah, tolong dimaklumi ya, soalnya saya masih author baru belajar, makanya tolong bimbing saya yang bodoh ini ya, yak sekarang bales ripyu dulu~ ;)
Rukianonymous: makasih ripyunya~ iya, Ichigo emang bejat, bukannya banyak-banyak ibadah, dia malah nyante gitu wakaka -digetok ichi- ripyu lagi ya~
ChappyBerry Lover: makasih ripyunya~ ini udah apdet, ripyu lagi ya :D
Jee-zee Eunry: JEE-SAN RIPYU~! X3 *teriak pake TOA, ditimpuk tetangga* apdet fic-nya dong Jee-san *mata melas*. Oh ya, makasih ya ripyunya~ iya, sebagian besar idenya emang dapet dari sana ^^ ripyu lagi Jee-san~
Shizuku Kamae: halo, salam kenal juga, aku juga author baru kok *ditimpuk keluarga besar ffn* makasih ripyu-nya ya~ aku juga susah kok nyari ide. Nanti ada ceritanya gimana aku bisa dapet ide buat fic ini. Liat aja nanti di bawah~ ripyu lagi yo
RukiaVioleta Chappy-chan: makasih ripyu-nya~ maaf nggak bisa apdet kilat, banyak ujian dan tugas (_ _)a tapi ini udah apdet, ripyu lagi ya~ :D
Nara Hyuga: makasih buat pujian dan ripyunya, ini udah apdet, ripyu lagi ya~ ;D
Ruina ruichi: makasih ripyunya~ iya, IR jaman lawas(?) emang lucu dan konyol kayak kata Ruina-san XD iya nih, ceritanya di chap 1 emang masih nyerempet, tapi sekarang udah lumayan kan? ripyu lagi ya~
Lova: masa? beneran? aku nggak tau. Ide fic ini ide sendiri kok, nggak plagiat
Nah, sekarang pindah ke A/N yang serius. Soal ide fic, ide fic ini kudapet waktu aku ngeliat status sebuah page islami di fb, tentang malaikat kematiannya orang muslim, pohon ajaib yang ada di surga dan manusia. Jadi di surga itu katanya ada pohon. Di setiap daunnya tertulis nama manusia. Setiap kali ada manusia yang bakal meninggal, 40 hari sebelumnya daun itu gugur ke tangan malaikat mautnya orang muslim. Setelahnya, malaikat itu akan turun ke dunia dan bisa dibilang mengawasi si manusia itu selama 40 hari. Begitulah~ persis sama kayak fic ini kan? Cuma dirombak dikit aja :D
Setelah ini mungkin aku bakal apdet satu chap fic 'Rukia Be a Nanny?' abis itu hiatus sampe UN selesai, doain hasil UN-ku bagus ya minna ;D
Review Please?
