The Everlasting Lily
A Harry Potter Fanfiction
Warnings: Alternate Reality, modified canon, language, violence, mature themes, OOC. Male slash (male x male pairing).
Genre: Romance/ Angst
Disclaimer: Harry Potter and its characters are created by J.K. Rowling. The book series published by Bloomsbury (UK) and Scholastic (US), also multiple publishing companies around the world. I'm not using this fanfiction to gain any financial profit.
Saya hanya ingin mengingatkan tentang nama-nama yang berbeda dari canon pada fic ini, perubahan nama agar berbeda dari aslinya justru diperlukan agar cerita jadi tidak aneh. Fic ini tidak akan punya cerita kompleks ataupun berchapter banyak karena awalnya memang hanya one-shot yang dipanjangkan. Oleh karenanya juga maaf jika banyak terjadi skip waktu karena fic ini ingin menampilkan momen-momen yang dirasa perlu.
Terima kasih banyak atas tanggapan yang telah diberikan. Dan sekali lagi terima kasih karena telah bersedia membuka fanfiksi ini. Saya ucapkan selamat membaca. ^^
Chapter 2. Malam Berburu
"Harry," panggil seorang pemuda berambut merah menyala. Tubuh pemuda berambut hitam yang keningnya menempel di meja diguncang-guncangnya. "Sebentar lagi jam istirahat berakhir."
"Hng…," Harry bergumam tidak jelas. Perlahan-lahan wajahnya terangkat lalu ia menguap lebar.
"Harry," si rambut merah membuka percakapan, "ini sudah ketujuh kalinya kau tertidur saat istirahat kerja dalam seminggu ini dan kau selalu terlihat mengantuk. Apa kau kurang tidur, Harry?"
Mata hijau Harry seperti dipenuhi kabut rasa kantuk. Wajah milik sahabatnya, Robert Weasner, yang penuh bintik-bintik mengabur dalam pandangannya. "Hanya tidak bisa tidur di malam hari, Rob."
"Aku harap malam ini kau bisa tidur, mate. Mum tidak akan senang jika kau sampai tertidur di pesta ulang tahunmu besok."
Harry menyunggingkan senyum lemah. Sesungguhnya ia tidak berbohong. Ia memang terpaksa tidak bisa tidur karena harus memenuhi tuntutan seorang vampir yang tergila-gila kepada darahnya. Walau tentu ia masih memiliki waktu untuk tidur, masa tidur yang terpotong membuat tubuhnya tidak puas. Merenggangkan badan selentur kucing, Harry kembali menguap lebar-lebar tanpa menutup mulutnya dengan tangan.
Pintu terbuka dan seorang wanita gemuk yang juga berambut merah terang berdiri di ambang pintu. "Anak-anak, waktu istirahat telah berakhir. Segera bantu di dapur sementara aku akan membuat panggilan Floo untuk memesan bahan-bahan makanan."
Rob dan Harry saling melempar senyum kemudian bangkit berdiri. Sambil menguap sejenak sekali lagi, Harry berjalan mengekor kawan jangkungnya menuju pintu.
"Oh, Harry…," ujar wanita itu sambil meraup wajah Harry dengan lembut. "Kau terlihat sangat mengantuk belakangan ini. Tidurmu tidak nyenyak?"
"Err, sedikit sulit tidur, Mrs. Weasner." Harry merekahkan senyumnya. Matanya masih sedikit merah akibat rasa kantuk.
"Apa kau tidak mencoba minum Ramuan Tidur? Kuharap kau cukup tidur malam ini, Harry. Aku ingin tokoh utama pesta besok malam terlihat segar."
"Dia pasti akan terlihat segar esok hari, Mum," celetuk Rob, "mengingat siapa yang pasti akan datang besok malam."
Warna merah muda merambati pipi Harry yang masih dalam tangkupan tangan Mrs. Weasner. Kedua Weasner hanya terkikik pelan menyaksikannya.
"Errr… Kurasa sebaiknya aku segera ke dapur." Kemudian pemuda berambut gelap itu berlari meninggalkan ruangan.
Melintasi jendela kaca dengan pemandangan bangsal makan para tamu kedai, beberapa orang yang mengelilingi dua meja yang disatukan menyita perhatian Harry yang segera menghentikan larinya. Orang-orang itu memilih duduk di sudut paling pojok di ruangan yang sangat jauh dari tamu-tamu lain, hal yang dilakukan jika tak mau ada penguping. Ia mengenali salah satu dari mereka, pria berambut cokelat yang diingatnya bernama Josh Darwin. Pria itu adalah rekan Silias di kesatuan Auror.
"Mereka para Auror," kata Rob yang sudah berdiri di samping Harry, mengonfirmasi dugaannya sekaligus membuyarkan rayuan kantuk yang dideritanya. "Sudah seminggu ini mereka berpatroli sejak kasus Miranda Fynn itu, tapi mereka belum berhasil menangkap vampir yang menjadi dalang kejadian itu."
Dada Harry terasa mengetat. Ia tahu para Auror telah melakukan penyelidikan selama seminggu ini tetapi baru kali ini ia melihat wajah-wajah dari regu Auror tersebut. Dalam perjalanannya menyelinap keluar rumah di malam hari, ia cukup beruntung untuk tidak bertemu ataupun dipergoki anggota kesatuan Auror. Walau tentu saja salah satu penyebabnya adalah dia memakai Jubah Gaib-nya saat mengendap-endap.
Wajah-wajah mereka terlihat dingin dan tertekan, bahkan masakan Mrs. Weasner, koki terbaik yang pernah diketahui Harry tak sanggup menceriakan mereka. Sedikit banyak Harry merasa bersalah. Secara tidak langsung ia telah membantu pelaku pembunuhan untuk bersembunyi. Jikalau Dragon tidak mendapatkan pasokan darah darinya, maka kemungkinan vampir pirang tersebut tertangkap oleh para Auror saat pergi berburu akan lebih besar dan kasus ini segera berakhir.
"Mengerikan, ya. Memang sudah diperkirakan akan terjadi kasus di desa ini, menyusul dua desa sebelumnya, tetapi begitu akhirnya terjadi rasanya…" Rob terlihat bergidik. "Aku memang tidak begitu kenal Miranda Fynn, aku juga benci sepupunya si tukang tindas itu, tapi aku bersimpati pada gadis itu. Coba bayangkan gadis itu menjadi mayat, pucat pasi tanpa darah dengan mata melotot…"
Mau tidak mau Harry ikut bergidik. Berbeda dengan Rob, ia betul-betul punya gambaran jelas atas bagaimana kondisi jenazah Miranda malam itu. Tubuh yang terlalu pucat dalam gaun birunya, mulut terbuka namun sekaligus terbungkam selamanya, mata cokelat muda yang terbelalak lebar… Harry meremas ujung atasannya.
"Bagaimana menurutmu, mate?" tanya Rob, mata birunya masih tertuju pada para Auror yang terlihat saling menukar berkas perkamen dan berdebat serius. "Tidakkah terlalu aneh? Vampir itu tanpa ragu membunuh lima orang di dua desa sebelumnya, tetapi pada malam kejadian dia membunuh Fynn dan membiarkan temannya si Anette Pucey hidup. Tanpa ingatan tentang bagaimana pembunuhan terjadi seperti kena jampi memori. Apa artinya vampir itu bisa memakai sihir? Kenapa pula vampir itu mau bersusah payah menghapus ingatan Pucey jika dia bisa dengan mudah membunuh gadis itu? Kenapa dia meninggalkan mangsanya hidup-hidup? Tidak mungkin 'kan dia diet? Maksudku, dia 'kan pernah menghisap habis darah dua Muggle sekaligus dalam semalam di desa pertama…"
Harry semakin meremas ujung atasannya dengan gugup. Ia tidak pernah sebelumnya menyembunyikan sesuatu dari sahabatnya ini, tidak pula saat ia akhirnya resmi menjalin hubungan dengan kekasihnya. Deheman dari belakang mereka menyelamatkan Harry dari percakapan yang tidak ingin ia lanjutkan.
"Anak-anak, ke dapur. Sekarang. Aku tidak mau sampai Frank dan Jorge memutuskan bahwa mengganti gula pada minuman tamu dengan garam dan merica adalah ide yang bagus saat tidak ada siapapun di dapur."
Rob mengeluh, "Ah, Mum. Kenapa tidak menyuruh Jenny? Pearcey cukup mampu mengurus bagian kasir seorang diri."
"Robert Wilius Weasner! Ke dapur. Sekarang!"
Rob beserta Harry langsung terbirit-birit menuju dapur, tidak ingin menyaksikan wajah Mrs. Weasner bertransformasi menjadi rupa seekor harimau. Sesampainya di pintu dapur, dua buah gumpalan celemek melayang menuju dua orang pemuda yang baru sampai. Salah satu celemek dengan sukses mendarat pada wajah Rob sedangkan Harry dengan gesit menangkap gumpalan kain yang tertuju ke arahnya dengan satu tangan.
"Akhirnya kalian datang juga," kata salah satu dari pemuda kembar berambut merah di depan meja dapur sambil menyeringai lebar.
"Akhirnya giliran istirahat kami tiba juga," kata pemuda identik yang satunya dengan seringai sama persis.
Aroma sedap menguar tajam dari arah meja. Sepiring pai apel dan sepiring pai daging terlihat telah tersaji di atas meja dapur, masih mengepul panas.
"Pesanan meja para Auror, Mum baru saja menyelesaikannya. Karena kalian sudah datang, giliran kalian untuk mengantarkan pesanan."
"Kenapa kalian tidak segera mengantarkannya tadi sebelum kami datang?" gerutu Rob sambil meraih sebuah nampan saji, "tanggung sekali."
Tiba-tiba Harry mengambil alih nampan kayu kosong itu dari genggaman Rob. "Biar aku saja." Dilemparnya cengiran pada Rob yang hanya mengedikkan bahu.
Rob membantu membukakan pintu sementara Harry membawa pesanan menuju meja paling ramai di restoran pada siang ini. Dia berjalan sedikit lebih lambat dari biasanya sambil menyiagakan telinganya. Mencoba memisahkan percakapan para Auror dari tamu-tamu lain, Harry berhasil menangkap beberapa kata walau teramat sulit. Semua kata yang terdengar olehnya begitu rancu sehingga seandainya jika ia tidak tahu benar topik yang sedang dibicarakan para Auror tersebut, niscaya ia hanya akan mendengar sekadar bunyi-bunyian saja. Vampir… Miranda Fynn… Jampi memori… Kaum Pureblood… Persembunyian. Kata terakhir itu membuat nampan di depan dada Harry sedikit bergetar.
Josh Darwin mengangkat kepalanya untuk melihat sosok yang tengah berjalan ke meja mereka. "Ah, Harry!"
Kepala-kepala yang lain segera menengok ke arah pemuda bercelemek yang membawa santapan mengepul yang terlihat lezat. Harry hanya melempar senyuman kikuk. "Hai," ia menyapa balik.
"Harry? Harnet Porter, si anak baptis Silias kah?" Seorang pria berambut pirang tua memandang dengan penuh rasa ingin tahu.
"Ya, ini orangnya."
Meletakkan piring-piring pai ke atas meja, Harry sempat mencuri-curi pandang ke arah berkas-berkas di sana. Terdapat nama-nama asing di atas selembar perkamen. Dengan adanya nama Miranda Fynn di akhir daftar nama, Harry menyimpulkan bahwa nama-nama tersebut adalah milik para korban serangan vampir.
"Silias tidak pernah bilang putra baptisnya begini tampan." Suara seorang wanita membuat kepala Harry mendongak. Suara tersebut milik seorang wanita berambut hitam panjang bergelombang.
"Jangan coba-coba, Lisa. Porter muda ini sudah mempunyai pacar. Kuakui, punya nyali juga pacar anak ini. Sebuah perjuangan dan pencapaian besar kalau boleh kubilang, mengingat bagaimana protektifnya Silias kepada putra baptisnya ini." Josh tergelak. "Harusnya kau lihat bagaimana Silias ketika uring-uringan setiap kali memikirkan kenyataan bahwa putra baptis kesayangannya sudah punya pacar."
Nampan menutup separuh wajah Harry sementara warna merah merayapi mukanya. Orang-orang asing yang tidak dikenalnya membicarakan tentang penampilan fisik dan statusnya yang sudah memiliki kekasih, membuatnya merasa tidak nyaman. Apalagi dengan informasi bahwa sampai sekarang Silias masih memikirkan tentang hubungannya dengan kekasihnya meskipun telah berlangsung nyaris selama dua tahun. Tentu Harry tahu betul bahwa Silias tidak pernah menyukai fakta dirinya berpacaran, tetapi ia tidak menyangka ayah baptisnya juga akan terang-terangan tentang itu kepada koleganya.
Sayangnya, gestur canggungnya malah terlihat mengesankan mereka. Tiga dari antara para Auror terlihat bergumam 'aww' kepadanya, jelas menilai bahwa tingkahnya terlihat manis menggemaskan. Bibir Harry yang bertaut jengkel tersembunyi rapi di balik kedataran nampan kayu.
"Ah, sayang sekali. Kuharap kau mempertimbangkan kencan denganku jika hubunganmu dengan pacarmu mengalami sesuatu." Lisa mengedipkan sebelah mata.
Pria berambut pirang tua menyeringai lucu. "Mulai lagi. Sadar umurmu, Tante. Lagipula kenapa kau mengharapkan hubungan orang lain tidak berjalan dengan baik?"
Wanita yang dikomentari hanya tertawa renyah. Josh kembali mengajak Harry bicara sebelum pemuda itu beranjak, hal yang memang diharapkan Harry yang ingin mengetahui lebih banyak tentang penyelidikan.
"Apa kau masih berniat menjadi Auror, Harry?"
Bukan pembicaraan yang diinginkan Harry sebenarnya, tetapi ia memutuskan untuk menjawab. Mengangguk pelan, Harry membuka mulutnya, "Ya, Mr. Darwin. Sejak dahulu itu adalah pilihan profesiku."
"Sungguh anak yang berdedikasi," puji seorang wanita lain yang berambut cokelat pendek. "Aku berharap kelak dia akan bernaung di regu yang sama denganku."
Pria pirang gelap mengangguk-angguk. "Benar. Yang saat ini divisi Auror butuhkan adalah generasi muda. Jumlah personil dalam tim yang dikirim untuk menangani begitu banyak kasus-kasus di masa krisis seperti sekarang sebenarnya di bawah ideal."
"Tapi tidakkah kau merasa bahwa pilihan karirmu… terlalu berbahaya?" Pria separuh baya yang memiliki barisan uban mengintip dari sela rambut hitamnya memandangi sekujur tubuh Harry, yang masih memeluk nampan.
"Mungkin dia tidak terlihat meyakinkan bagimu, tetapi cobalah berduel dengannya, maka kau akan merasa bahwa mungkin umur dan pengalaman kalian berdua sebenarnya tertukar. Lagipula, dia mendapatkan nilai O untuk OWL Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam-nya dan dipuja-puji oleh pengujinya." Sebuah suara dari seberang meja membuat para Auror dan pramusaji muda tersebut menengok.
Seorang pria tampan berdiri dengan gagah dalam balutan jubah kulit gelap. Rambutnya yang hitam mengilat jatuh hingga bahu, senada dengan warna rambut-rambut wajah tipis yang membingkai sebuah senyuman cemerlang. Mata kelabunya yang tertuju pada sepasang mata batu giok terlihat berbinar di bawah alis hitam yang tegas.
Senyuman cerah membentuk diri di atas paras Harry. Berlari kecil, ia segera menghambur ke arah pria pendatang yang segera memeluk pemuda tersebut erat-erat.
"Silias!" seru Harry.
"Harry… my pup - anak anjingku," gumam Silias. Nama panggilan yang sebenarnya cukup privat tersebut dilontarkan di depan para Auror lainnya, langsung membuat alis Harry tertekuk dan wajahnya terasa panas.
"Silias Blake, kawanku," sambut Josh, tangannya yang terulur segera dijabat hangat oleh Silias. "Sudah tiga hari sejak kepergianmu ke pusat. Bagaimana perkembangan kasus ini di Kementerian?"
Menggaruk-garuk kepalanya, Silias yang merangkul Harry dengan satu tangan terlihat tidak puas. "Dasar, mereka itu. Karena kasus pembunuhan oleh vampir di mana-mana…" Ia berhenti sejenak dan memandang sekitarnya, memastikan tidak ada yang mencuri dengar terutama dari kalangan Muggle. Setelah yakin, ia melanjutkan kata-katanya, "mereka tidak memandang kasus di desa ini terlalu serius. Saat aku protes, bilang kalau sudah enam orang yang tewas, petugas kurang ajar itu menyodorkan perkamen di depan mukaku tentang lusinan manusia yang terbunuh di lokasi lain. Yah, walau memang benar kesatuan kita kekurangan orang 'sih. Percuma aku tarik urat leher selama tiga hari. Dua minggu kata mereka. Jika tidak terjadi apa-apa selama dua minggu lagi, kita dicabut dari Great Hangleton."
Lisa berdecak. "Walaupun vampir pembunuh di desa ini jelas mampu menggunakan sihir? Seorang vampir tidak bisa dianggap remeh, apalagi jika mampu memakai sihir! Ini bukan masalah kuantitas korban, bagaimana jika seandainya sehari setelah kita dicabut akan jatuh korban baru lagi?"
"Mungkin karena aku tinggal di sini, jadi aku selalu punya kesempatan berjaga-jaga di tempat ini dan selalu siap kalau ada apa-apa, begitu pikir mereka." Bibir Silias menarik seringai penuh kebencian. "Kementerian busuk, pegawai busuk, menteri busuk. Kuharap Artemisia Lufkin suatu saat nanti akan jadi perdana menteri. Hanya dia petinggi yang bisa diajak bicara baik-baik di sana." Hidungnya lalu mengendus-endus ke arah meja. "Hei, bukankah itu pai daging?" Diambilnya garpu dari sisi piring milik pria berambut pirang tua lalu menusukkannya ke potongan pai.
Gigi-geliginya yang putih segera membenamkan gigi ke dalam potongan pai yang masih menguap samar, membuat saus daging berwarna merah kecokelatan meleleh di sekitar bibirnya. "Hmmm," lenguhnya panjang, "aku selalu suka saus daging ini. Kau hebat, Harry."
Josh terlihat tertarik. "Kau yang membuatnya, Harry?"
"Hanya sausnya," kilah Harry, "walau kadang aku memang memasak seperti misalnya saat Mrs Weasner tengah sibuk. Tetapi pai itu buatan Mrs. Weasner. Aku tidak akan bisa sehebat Mrs. Weasner."
"Dia terlalu merendahkan diri," sahut Silias. "Dia sangat pandai memasak. Aku jadi punya koki pribadi yang hebat di rumah."
"Sekarang aku mengerti kenapa kau selalu merindukan makan malam di rumah saat tidak bisa pulang di masa liburan Hogwarts, Silias," kata Lisa yang telah mencicipi pai daging. "Kalau kau putus dari pacarmu itu, kau benar-benar harus menghubungiku, Harry."
Jemari Silias yang memegangi pundak Harry terasa menegang. Mati-matian Harry menahan diri untuk tidak menutup seluruh mukanya dengan nampan. Silias selalu tidak senang jika ada orang yang mencoba merayu atau melakukan pendekatan terhadapnya. Yang memperparah keadaan adalah kekasihnya ikut dibawa-bawa ke dalam pembicaraan.
"Berhenti jika kau mau umurmu panjang, Lisa," saran Josh yang menyadari perubahan bahasa tubuh Silias dan Harry. "Dan santai, Silias. Kau tahu bagaimana gaya candaan Lisa itu. Lagipula kenapa memangnya dengan pacar Harry? Pemuda itu anak baik, kau sendiri kenal dengan ayahnya yang dari Departemen Pengaturan dan Pengawasan Makhluk Gaib itu. Ayahnya dan Artro Weasner juga sering minum bersama."
"Kita tidak pernah tahu apa yang diperbuat bocah itu saat kita tidak sedang melihat atau apa yang dipikirkannya tentang putra baptisku," cetus Silias masam.
"Oh, Silias!" Harry makin ingin menyembunyikan muka ke balik nampan. "Dia tidak pernah berbuat macam-macam kepadaku! Hentikan kecurigaan berlebihanmu itu."
"Oh ya? Memangnya kau tahu apa yang ada di dalam kepalanya? Aku memang belum mendapatkan buktinya, tetapi suatu saat akan kubongkar topeng anak baik-baik yang dipakai bocah itu."
Pria berambut pirang tua, pria separuh baya beruban dan perempuan berambut pendek terkikik-kikik.
"Mungkin kau baru akan tenang jika sudah melakukan virginity test - tes keperawanan - pada Harry, Silias. Interogasi dengan Veritaserum juga tidak terdengar buruk bagiku," saran Josh sambil menahan tawa, yang akhirnya benar-benar membuat Harry menutup mukanya.
Silias mengangguk-angguk dengan wajah serius, kelihatannya benar-benar mempertimbangkan kata-kata Darwin. Harry yang melihatnya segera membenturkan punggung nampannya pada bahu ayah baptisnya.
"Hei, hentikan menyiksa anak malang ini," bujuk wanita berambut cokelat pendek. "Jangan terlalu dipikirkan, Harry. Silias terlalu berlebihan."
Harry mengangguk-angguk sementara Silias mengguncang-guncang bahunya dengan sayang. Di kejauhan dia melihat Rob tengah membawakan pesanan minuman. Harry mengucapkan 'maaf' tanpa suara padanya yang dibalas lambaian tangan serta senyum Rob yang tidak mempermasalahkan. Jenny juga terlihat ikut turun tangan membantu membawakan pesanan. Gadis berambut merah yang adalah adik Rob itu nampak sedikit tersipu saat mata Harry dan miliknya bertemu. Gadis itu meninggalkan kakaknya Pearcey di meja kasir yang terlihat tengah sibuk dengan isi laci mejanya, yang diperkirakan Harry sedang memisahkan mata uang sihir dengan uang Muggle.
Perempuan berambut pendek memandangi tamu-tamu rumah makan dan sedikit berlama-lama pada Harry, Rob, Jenny, dan tamu-tamu yang seumur atau lebih muda. "Lihat, banyak sekali anak-anak. Inilah sebabnya kita tidak boleh lengah dan harus menuntaskan kasus ini."
"Sayangnya sudah tiga minggu ini kita tidak menghasilkan apa-apa, Daisy. Dan korban-korban yang jatuh, walau tidak pantas disyukuri juga, untungnya bukan anak-anak," kata Lisa. "Cukup melegakan tidak ada anak-anak yang keluar malam di Great Hangleton. Di daerah lain, mengerikan betul, jumlah korbannya cukup banyak."
"Bagaimana denganmu, Harry?" tanya Josh. "Kau tidak punya tugas kerja malam hari, bukan?"
Pemuda tersebut menggeleng. "Mrs. Weasner mengubah jadwal kerjaku sejak seminggu lalu. Sepanjang sisa liburan musim panas aku tidak punya lagi jadwal malam."
"Tapi besok malam ia akan mendapatkan pengecualian khusus untuk keluar malam." Silias makin mengguncang-guncang bahu Harry dan barisan gigi putihnya memamerkan diri tanpa noda bekas saus sedikit pun. "Untuk besok petang hingga malam, kedai ini akan ditutup untuk merayakan ulang tahun Harry yang keenam belas. Kalian silakan datang setelah selesai giliran patroli."
Ucapan selamat dan janji untuk datang dari para Auror segera dipotong oleh Josh yang menyeringai nakal.
"Enam belas? Itu usia yang lumayan cukup untuk menikah, bukan?"
Sebelum Silias sempat berceramah panjang lebar tentang tidak pantasnya menikah muda dan betapa dirinya tidak akan memberikan restu, Harry segera tunggang-langgang meninggalkan meja. Membuka pintu dapur, Mrs. Weasner masih belum kelihatan dan Harry disambut Rob yang nyengir kepadanya. Seekor burung hantu putih bersih dengan jambul kemerahan yang bertengger di tepi jendela menjelaskan arti cengiran Rob. Sebuah surat terikat di kakinya, membuat Harry mengulum senyum. Surat balasan dari kekasihnya.
"Redwig," panggil Harry yang menyambut burung hantu peliharaannya dengan lembut dan Redwig membalas dengan suara uhu pelan. Dilepasnya surat tersebut dari kaki Redwig lalu ia membentangkan isinya.
.
Halo Harry,
Tentu aku akan datang! Tanpa kau mengirimkan surat kepadaku pun aku pasti akan datang, aku ingat betul tanggal ulang tahunmu. Apalagi sejak kita bersama inilah kali pertama hari ulang tahunmu dirayakan seperti ini. Tapi kali ini aku akan datang bersama ayahku, dia punya urusan dari Kementerian dan karena aku juga masih magang di bawah ayahku, ada beberapa hal lain yang harus kuurus bersamanya. Tapi tenang saja, aku tetap akan meluangkan waktu istimewa untuk kita berdua. Semoga saja Mr. Blake tidak membaca ini, bisa-bisa ia mengira aku merencanakan sesuatu yang tidak pantas karena telah menulis seperti itu. Tetapi tetap sampaikan salam hangatku kepadanya. Kesatuan Auror tengah dilanda kesibukan hebat, kuharap ia menjaga kesehatannya. Salam juga untuk Weasner sekeluarga, Harry.
Sampai bertemu besok malam.
Hendric
.
Senyuman lebar membuat pipi Harry yang merona segar terangkat tinggi setelah membaca surat tersebut.
"Hendric Dittory," ucap Rob dari seberang meja dengan pandangan seperti sedang separuh melamun, tahu betul surat tersebut memang yang sudah ditunggu-tunggu Harry dari sang terkasih. "Salah satu murid paling populer di Hogwarts sejak kita masuk sekolah dulu dan makin populer sampai saat kelulusannya. Siswa teladan yang berotak encer, ramah, penuh sopan santun dan berkharisma. Atletis, tinggi, ketampanannya selalu dipuji-puji… Digemari begitu banyak gadis, disukai para pengajar, banyak teman, punya klub penggemar, Kapten tim Quidditch asramanya, seorang Seeker, Prefek, Head Boy, juara turnamen…"
"Tapi aku tidak peduli dengan semua itu, apalagi Silias," desah Harry, memotong daftar pencapaian Hendric yang dibacakan Rob. "Baginya Hendric adalah serigala berbulu domba yang berkonspirasi dengan orang-orang untuk membentuk citra baik agar aku dan Silias lengah sehingga ia bisa menculikku lalu 'menodaiku'." Kata yang terakhir itu Harry kutip dari perkataan Silias dalam salah satu sesi ceramah tentang hubungannya dengan Hendric.
Rob tertawa terpingkal-pingkal. "Silias terlalu berlebihan, Harry," katanya, "jika seandainya aku yang jadi pacarmu, walau sudah kenal bertahun-tahun pun pasti aku juga bakal kena damprat dan dicurigai setiap saat. Lagipula dia sudah lolos interogasi empat belas jam dari Silias waktu pertama kali datang memperkenalkan diri sebagai pacarmu dulu. Veritaserum, Pensieve, sebut saja perlengkapan interogasinya dan dia lolos semua itu! Empat belas jam, Harry. Dia tidak akan berani dan senekat itu untuk menemui dan tahan bicara berjam-jam dengan Auror kelas atas yang selalu melotot, mengancam dan menggeram kepadanya kalau dia tidak benar-benar serius padamu."
Insiden interogasi empat belas jam adalah salah satu hal yang Harry rela jika dihilangkan dari ingatannya dengan jampi memori. Tetapi Hendric tidak mundur atau tersinggung karenanya, malah ia datang kepada Harry dengan bangga karena telah berhasil mengantongi izin Silias untuk terus berkencan dengan putra baptisnya. Tentu dengan bonus tambahan gulungan tebal perkamen yang sempat Harry lihat judulnya sebagai 'Hal-hal yang Tidak Boleh Dilakukan' dalam tulisan tangan Silias. Daftar itu bahkan menjadi bacaan wajib Hendric selama lima kali kencan mereka setelahnya atas inisiatifnya sendiri.
"Aku tahu Hendric serius, Rob. Aku juga serius. Dia tidak pernah berbuat melanggar batas, berbeda dengan apa yang dituduhkan Silias. Kami setia dan saling menghormati, kami berdua merasakan itu. Memang belum genap dua tahun perjalanan kami, tetapi kami terasa begitu…," Harry mencari-cari kata yang tepat, "… siap."
Rob melongo. "Siap menikah?"
"B-bukan!" sangkal Harry. Wajahnya kembali memanas saat mengingat celetukan iseng dari Josh Darwin di meja tadi. "Siap untuk lebih serius, tapi bukannya langsung menikah."
Rob tambah melongo dan kupingnya berubah merah. "Maksudmu, kau akan t-tidur dengan-"
"BUKAN!" bantah Harry keras. Mukanya menyaingi warna kuping Rob. "A-aku tidak akan melakukan hal semacam itu jika belum siap! Hendric juga selalu menjaga tangannya agar tidak kemana-mana, dia juga tidak pernah mendesakku atau bahkan sekadar membicarakannya. Sebaiknya kita hentikan saja sampai di sini pembicaraan kita tentang hal-hal pribadi antara aku dan Hendric."
Rob terlihat lega. Bayangan mengenai sahabat baiknya melakukan hal-hal yang melibatkan lebih sedikit pakaian dengan senior sekolahnya hanya akan mengguncang mentalnya.
"Menurutku Silias takut kehilanganmu," simpul Rob sambil mencomot sepotong roti lapis. "Aku mengerti rasa takutnya. Agak mirip dengan pengalamanku saat Charlie dan Will berniat meninggalkan rumah untuk tinggal di tempat kerja mereka di luar negeri. Suatu saat kau akan meninggalkan rumah dan hidup dengan keluarga masa depanmu. Aku bersaudara banyak dan punya orang tua, Harry. Sedang Silias hanya punya kamu. Akan jauh lebih berat baginya jika saat itu tiba."
Renungan Harry akan kata-kata Rob terusik oleh bunyi derit pintu dapur. Wajah Jenny terlihat mengisi di antara selanya. "Jangan ngobrol terus, lihat papan di dinding. Sudah ada pesanan baru lagi muncul di sana. Cepat segera dibuat."
-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-
Hujan telah berhenti pada malam hari itu dan penghuni kamar tidur kedua di kediaman Silias Blake masih belum berbaring di atas kasur. Pemuda berambut hitam di dalamnya terlihat tengah menata tempat tidurnya. Usai menjejalkan bantal-bantal secara sejajar sampai membentuk kontur tubuh yang mirip dengannya, Harry kemudian mengakhiri pekerjaan tangannya dengan menutup formasi bantal dengan selimut. Ia memberikan sentuhan akhir dengan menaruh gumpalan ijuk hitam – hasil membabat habis sapu ijuk tak terpakai – yang kira-kira seukuran dengan model rambutnya di atas bantal yang seharusnya menopang kepalanya. Rambutnya yang selalu berantakan cukup bisa diimitasi oleh gumpalan ijuk di bawah penerangan yang samar.
Harry berlari jinjit tanpa suara menuju pintu lalu mengamati hasil kerjanya dari sudut pandang muka pintu. Senyumnya terkembang saat menyaksikan kembarannya yang berbaring di atas tempat tidur tersebut terlihat tengah memunggunginya. Sudah seminggu ini setiap malam ia membuat badan palsu di atas ranjangnya untuk berjaga-jaga jika seandainya Silias mengecek kamarnya sebelum ia pulang dari hutan. Ia tetap melakukan hal ini meskipun saat Silias mengatakan akan menginap di tempat kerjanya sekadar untuk penanggulangan. Silias tentu tidak tega membangunkan putra baptisnya tersayang yang tidur dengan nyenyak, pikir Harry, jadi badan palsu buatannya sudah cukup sebagai pengalihan. Seandainya ia bisa menggunakan sihir dengan bebas, ia akan mentransfigurasi sesuatu yang lebih bagus dan halus, tetapi persekutuan antara bantal dan ijuk dalam kegelapan sudah cukup memuaskan Harry.
Memastikan pintu kamarnya sudah terkunci – walau Silias bisa membukanya dengan mudah – Harry berjalan jinjit menuju meja untuk mengambil kebutuhannya. Bergegas agar Silias tidak perlu menyaksikan adanya Harry kembar, disambarnya tas sandang kulit berisi Jubah Gaib warisan orang tuanya yang berdiam di sisi lentera. Setelah memakai sepatu, Harry membuka daun jendela sedikit lalu mengintai ke semak-semak dan pepohonan di luar sana untuk kemudian akhirnya memastikan bahwa dirinya adalah satu-satunya makhluk insomnia malam ini.
Melompati rangka jendela dengan lincah, kaki pemuda itu mendarat tepat di atas genangan air peninggalan hujan belum lama tadi. Harry mengumpat saat merasakan adanya lumpur yang meresap ke dalam kaus kaki kanannya tapi ia tidak ingin kembali ke kamar lagi untuk menggantinya. Menudungi tubuhnya dengan Jubah Gaib, Harry kemudian berlari-lari kecil keluar dari halaman rumahnya. Jubah kain biasa pasti akan basah terkena cipratan air, akan tetapi Jubah Gaib warisan orang tuanya sama sekali tidak akan kotor, salah satu hal yang selama ini menjadi misteri tersendiri bagi Harry.
Sebenarnya Harry bisa saja terbang dengan sapu, akan tetapi Jubah Gaib-nya tidak mampu melakukan pekerjaannya dengan baik jika saat terbang angin menyingkap-nyingkap fabriknya. Harry tidak ingin memulai mitos di desanya tentang adanya kaki terbang yang berkedap-kedip di udara pada malam hari. Selain itu menggotong-gotong sapu di bawah jubahnya juga bukan perkara mudah. Dia pun belum sanggup dan belum lulus uji dalam Apparition. Pilihan yang tersisa bagi Harry adalah berjalan kaki di bawah Jubah Gaib sambil mengutuki vampir sial yang menyebabkan semua kemalangan ini sepanjang jalan.
Ia baru saja hendak mensyukuri keberuntungannya saat menelusuri jalanan yang sepi dari kehidupan dan tiba-tiba rasa syukur itu menguap habis. Ada bayangan manusia di ujung jalan dan figur yang mendekat itu cocok dengan salah satu daftar orang yang dikenali Harry. Dia seorang wanita berambut cokelat pendek bernama Daisy dari tim Auror yang ditemuinya tadi siang di kedai keluarga Weasner. Wanita itu terlihat siaga dengan tongkat tergenggam erat.
Mematung di pinggir jalan, Harry berhati-hati agar tidak menyenggol semak-semak di sekitarnya, menunggu wanita itu melewatinya. Kerasnya irama degup jantung yang sibuk memompa darah Harry saat ini pasti akan sanggup membuat Dragon berdendang riang. Daisy berjalan perlahan sambil memandangi daerah yang dilaluinya. Sesekali mata sewarna kenarinya terpicing saat melihat sesuatu yang mencurigakan.
Harry merasa bersalah saat melihat kerja keras wanita tersebut. Wanita itu baik dan ramah, Harry menyukainya, begitupun juga perasaannya kepada semua anggota Auror yang ditemuinya tadi siang. Dan dirinya yang mengklaim ingin menjadi Auror di masa depan malah menyia-nyiakan kerja keras mereka, bersekutu dengan vampir pembunuh yang sangat berbahaya. Harry menunduk saat wanita itu melewatinya, tidak sanggup memandang wajah orang yang berjuang demi keselamatan penduduk desa tersebut – yang dikhianatinya.
Beberapa menit kemudian, saat wanita tersebut menghilang dari jalan, Harry melanjutkan perjalanannya. Hutan gelap terlihat angker tetapi dirinya tidak merasa gentar. Makhluk paling berbahaya yang menghuni hutan ini tengah menunggunya di gubuk kayu tersembunyi, menanti donor santap malamnya yang diwajibkan datang dengan terpaksa. Saat ia memutuskan sudah cukup jauh dari pemukiman penduduk, pemuda itu menarik lepas jubah untuk menyingkapkan sosoknya yang ramping.
"Jubah Gaib," sebut sebuah suara, membuat jantung Harry lupa berdenyut dua detik. Di balik pepohonan berdirilah Dragon Malvonian. Bersandar santai dengan satu tangan pada badan pohon besar, jubah panjang hijau tua gelap – nyaris hitam - yang dikenakannya melambai-lambai. "Rupanya itu senjata rahasiamu untuk menyelinap dari rumahmu. Licin juga kau."
"Kau lebih senang jika aku ditanyai di tengah jalan oleh orang-orang?" sungut Harry sambil melipat Jubah Gaib-nya lalu melampirkan di lengan kirinya. "Lagipula kau seenaknya membebaniku pergi keluar setiap malam selama beberapa minggu ke depan tanpa memikirkan betapa sulit dan riskannya bagiku untuk bisa dipergoki. Aku beruntung punya Jubah Gaib."
"Berarti kau memang sudah ditakdirkan untuk menjadi penyumbang darah bagiku." Sepasang taringnya menegaskan bentuk lewat senyuman. Harry membalas dengan meliukkan bibir atasnya dengan jengkel.
Vampir berambut emas pudar tersebut menghampiri Harry lalu mengulurkan tangan ke arah jalan menuju gubuknya dengan lambaian elegan dan keduanya pun berjalan berdampingan. Ini bukan pertama kalinya Harry berjalan bersama Dragon dan berjalan bersebelahan adalah pilihan paling aman baginya. Berjalan di belakang Dragon hanya akan berbuah komentar betapa Harry sungguh manis dan submisif terhadapnya sedangkan jika Harry berjalan mendahului, Dragon akan berkomentar mengenai bokongnya.
"Jadi, sudah berapa lama kau punya Jubah Gaib?" Dragon memulai pembicaraan dengan tidak biasa, berbeda dengan rayuan dan godaan erotik yang selalu dilontarkannya.
Tanpa sadar Harry membelai jubahnya yang seperti tenunan dari air. "Jubah ini sudah ada sejak aku lahir. Ini warisan turun-temurun keluargaku dan diberikan padaku oleh orang tuaku."
Alis emas tua terangkat. "Selama itu? Bukankah Jubah Gaib punya batasan umur? Mereka biasanya dibuat dari kulit dan bulu dari Demiguise, hewan langka yang punya kemampuan menghilangkan wujud. Semakin lama, kain jubah akan semakin kusam dan khasiatnya akan hilang. Mustahil kalau Jubah Gaib bisa menjadi barang warisan beberapa generasi."
Hal yang sama pernah dikatakan oleh Silias dahulu, tetapi Harry tidak terlalu memikirkannya. Jubah ini peninggalan orang tuanya dan hal itu menjadi yang terpenting. "Aku tahu itu tetapi aku tidak begitu mempedulikannya."
Dragon memandanginya, Harry tahu itu dari sudut matanya tetapi ia enggan memandang wajah vampir tersebut.
"Pernahkah kau mendengar Kisah Tiga Bersaudara?" tanya sang vampir.
"Itu hanya mitos," sahut sang manusia muda, menyadari hal yang ingin dikatakan Dragon tentang jubahnya dan jubah milik anak ketiga dalam cerita itu. "Kau percaya pada hal semacam itu?"
Vampir itu hanya memberikan senyuman yang tak bisa Harry deskripsikan. "Baik. Lupakan saja. Kita bicarakan hal lain seperti… bagaimana kabar tentang status selebritas-ku?" Langkah kaki Dragon memadupadankan bunyi basah tanah yang kaya air hujan dengan derak ranting-ranting dan dedaunan.
Terdiam, Harry menimbang-nimbang apakah ia akan memberikan informasi yang didengarnya dari meja Auror di kedai siang tadi. Ia telah membantu pelaku pembunuhan ini bersembunyi dan bahkan memberinya makan, menyampaikan informasi dari Auror hanya membuatnya mengkhianati lebih jauh. Sebuah cubitan mendarat tepat di bokongnya, membuat Harry terlonjak.
"Pasti ada kabar terbaru dilihat dari sikapmu itu. Terlalu ragu untuk memberitahuku, eh?"
Menggeram, Harry menarik beberapa langkah menjauhi vampir penjamah. "Jaga tanganmu, Malvonian!"
Bibir Dragon bertekuk ceria. "Sedikit dorongan tidak menyakitkan bukan?"
Harry hanya mendengus lalu membuang muka. Selama satu minggu ini vampir kurang ajar tersebut memang selalu berusaha menyentuhnya. Pernah sekali ia bahkan mengambil kesempatan saat Harry tengah memulihkan diri setelah meminum Ramuan Penambah-Darah, akan tetapi Harry berhasil menghentikan saat Dragon baru memulai.
"Ah ya. Tadi ketika aku berjalan-jalan sebentar, aku melihat adanya dua pengembara malam lagi selain diriku yang tengah berjalan bersama." Mata kelabu terlihat berbinar. "Seorang laki-laki dan perempuan yang keduanya berambut cokelat pendek. Mereka berbincang sejenak untuk kemudian berpencar dengan tongkat siap sedia."
Kaki Harry berhenti mengayuh langkah. Josh dan Daisy. Tidak salah lagi.
Ikut berhenti melangkah, Dragon melempar senyum riang yang memuakkan Harry. "Kenapa kau berhenti, Harry? Gubuk tempat tinggalku tidak jauh lagi."
"Kau memang brengsek!" hardik Harry. Sepasang matanya menusuk tajam ke arah mata lain yang warnanya mewakili kekokohan batu.
Dragon memasang mimik tanpa dosa. "Aku tidak mengerti."
Memeluk Jubah Gaib-nya, Harry masih berdiri tegak di tempatnya berhenti berjalan. "Kau tidak akan dapat apa-apa dengan cara seperti ini."
Topeng tak bersalah Dragon langsung menghilang. "Oh, mari kita lihat." Vampir yang memiliki helaian emas pudar sebagai rambut itu bersedekap, gestur yang sangat tidak disukai Harry saat laki-laki itu menggunakannya. "Seekor kucing liar buas dan dua ekor tikus spesial yang mampu menggigit balik. Siapa kira-kira yang akan menang?"
Harry makin memeluk jubahnya erat-erat. "Darahku lebih harum dan nikmat dari mereka," katanya yakin. "Kau tidak perlu menghabiskan waktumu juga bersusah payah untuk mencari dan mengejar sumber lain yang tidak enak saat kau tahu akan mendapatkan yang jauh lebih baik secara mudah."
Tertawa kecil, Dragon terlihat terhibur atas jawaban Harry. "Kau sungguh berkembang, Harry. Kau melakukan banyak hal untuk menyelamatkan orang-orang, bahkan merayuku dengan darahmu."
Walau benci mengakuinya, Harry tak bisa sepenuhnya menyangkal. Secara tidak langsung ia memang menawarkan dirinya kepada Dragon untuk mengalihkan vampir itu.
"Tapi, Harry," ucapnya sambil maju dua langkah mendekati pemuda yang berdiri dengan tegang. "Aku tidak bilang akan berburu dan membunuh untuk meminum darah mereka, bukan? Kucing terkadang memainkan tikus sesuka hatinya sekadar untuk hiburan."
Pemuda itu terkesiap. "Kau sudah berjanji," desak Harry.
"Mereka bukan penduduk Great Hangleton."
Harry bersikukuh. "Perjanjian kita adalah kau tidak akan memburu manusia di kawasan Great Hangleton. Penduduk atau bukan, selama mereka menginjak tanah di kawasan ini, mereka terlindungi oleh perjanjian."
Dragon mendekatkan wajahnya ke arah Harry. Matanya memancarkan kemilau perak begitu cepatnya hingga Harry tidak yakin apa ia memang melihatnya. "Lalu apa memangnya yang akan terjadi jika aku tidak mengindahkan poin yang satu itu?"
Ini dia. Akhirnya Dragon memakai lubang dalam perjanjian di mana ia tidak menerima konsekuensi apapun jika melanggar perjanjian. Menggigit bibir, Harry masih belum menyerah. "Maka perjanjian kita tidak sah. Kau melanggarnya, maka kesepakatan kita tak berlaku lagi."
Dragon hanya menyeringai lebar menyaksikan kegigihan sang manusia muda. "Lalu?" Dipandanginya paras Harry lekat-lekat. "Apa kau tidak sadar, Harry? Perjanjian yang ada di antara kita sebenarnya adalah salah satu bentuk kemurahan hatiku untuk melindungimu dari diriku sendiri. Jika perjanjian di antara kita batal, maka tidak ada alasan bagiku untuk menahan diri. Aku bisa memaksamu dan menjadikan dirimu budakku sepenuhnya, Harry. Aku bisa memerah darahmu sesukaku dan menyetubuhimu…" Harry tersentak akan penggunaan kata itu. "…sekehendak hatiku. Bahkan lebih baik lagi, aku bisa juga menawan Silias-mu tersayang lalu melakukan hal-hal itu tepat di depan matanya."
Harry gemetaran. Bagaimanapun ia memang bukan pihak yang diuntungkan di sini.
"Hanya informasi, Harry. Berikan padaku maka semuanya akan berjalan seperti sediakala. Maka malam ini kau dapat pulang dan terlelap dengan damai di tempat tidurmu yang nyaman setelahnya, bukannya merintih dan kelelahan di ranjangku. Cukup memberitahukan hal terbaru apa yang kau ketahui maka kepala dua orang Auror akan tetap melekat di tempatnya malam ini."
Memejamkan matanya, Harry tidak sanggup memandang mata abu-abu Dragon.
"Hmm, karena yang kuincar dari mereka adalah hiburan dan kau masih berkeras mengunci mulut, bagaimana jika kau memberikan hiburan kepadaku sebagai gantinya?"
Mata hijau terbuka walau pemiliknya tahu apa yang ditawarkan Dragon pasti bukanlah sesuatu yang pantas untuk dilakukan.
Dragon menjilat bibirnya, taringnya mengintip dari sudut-sudut. "Kau, di pangkuanku, duduk menghadapku dengan kaki terbuka. Lebih sedikit berpakaian akan jauh lebih baik, lalu kau meliuk-liukkan tubuhmu secara sensual. Semakin banyak hentakan dan gesekan antar tubuh yang terjadi akan sangat kuhargai."
"Aku bukan pelacur!" raung Harry. Ia memang tidak bertaring panjang seperti Dragon, tetapi deretan gigi pualamnya terpampang sempurna dengan mengancam.
"Mana yang kau pilih, menjadi informan atau 'pelacur'?" tanya Dragon, kembali menumpukkan lengan di depan dada. "Jangan egois, Harry. Jika kau tidak mau menjadi keduanya, ada dua ekor tikus yang siap memberiku hiburan. Dengan perjanjian yang batal, aku justru bebas melakukan hal-hal yang kumau."
Pemuda itu menengadah, menantang mata Dragon. Beraninya vampir itu mengatainya egois tanpa berkaca pada dirinya sendiri! Vampir pirang itu hanya menyeringai menyaksikan nyali Harry. Manusia muda ini tetap keras kepala dan hati, juga masih berani bertentangan dengannya. Menarik.
"Kau pikir aku tidak akan melakukannya, Harry? Kau kira ini hanya gertakan kosong?" Dragon sangat serius. Ia tidak sabar menyaksikan bagaimana ekspresi manusia di hadapannya setelah ia kembali sambil menenteng dua buah kepala yang masih mengucurkan darah segar.
Harry bertindak cepat dan bergerak untuk meraih tongkatnya. Namun, sebelum jarinya menyentuh pangkal tongkatnya, tangan dingin Dragon sudah melingkari lehernya.
"Jangan coba-coba, Harry."
Harry mengumpat. Ia memang sembrono mencoba beradu kecepatan dengan seorang vampir Berdarah Murni dalam jarak dekat yang disebabkan ledakan emosi sesaat. Jakun Harry bergerak pelan saat ia menelan ludah. Denyut pembuluh dari balik kulit lunak di leher Harry seolah mencolek-colek telapak Dragon, nakal dan menggoda. Begitu hangat, lembut dan harum. Memanggil-manggil taringnya untuk membenamkan diri di sana…
Dragon berdehem sebentar, berusaha membuyarkan keinginan tersebut. "Mau menyerangku eh? Kau sekarang sudah berani melanggar aturan sihir di bawah umur rupanya. Ingat perjanjian kita tentang apa yang akan terjadi jika kau berusaha mencelakaiku dengan sihir? Harnet Porter, rupanya kau sudah tidak sayang pada semua pakaianmu lagi. Bukankah lebih baik menjadi penghiburku secara privat dibandingkan menjadi tontonan gratis semua orang?"
Skak mat. Tak ada pilihan lain lagi untuk pemuda itu.
Wajah Harry mengernyut dan mata zamrud menakjubkan yang terpatri di atasnya terlihat basah. Untuk sesaat Dragon mengira Harry akan menangis, tetapi ia dibuat tertegun oleh sebuah jari telunjuk yang mendadak teracung di depan wajahnya dengan ujung mengarah ke hidungnya.
"Kau!" hardik Harry, "Kau adalah makhluk paling egois, paling sombong, paling menyebalkan, paling menjengkelkan, paling bermulut kotor, paling keji, paling licik dan paling brengsek yang pernah kutahu!"
Alis Dragon terangkat tinggi, ia sungguh-sungguh tidak menyangka Harry malah akan mencacinya. "Well, artinya kau masih terlalu naïf dan belum melihat lebih banyak lagi sisi dunia ini dan para penghuninya, Harry."
Bibir Harry bergerak sesaat seperti mau menyambar dengan jawaban tetapi pemuda itu memutuskan untuk mengatakan hal lain yang menjadi hal yang ingin diketahui Dragon agar semuanya cepat berakhir.
"Baik! Kalau kau mau tahu apa yang kudengar hari ini, akan aku katakan! Kementerian terlalu sibuk hingga tidak begitu tertarik mengurus kasus pembunuhan yang kau lakukan di Great Hangleton! Mereka tidak peduli kau berbahaya dan mampu menggunakan sihir! Mereka memberi waktu dua minggu untuk bersiaga dan jika tidak terjadi apa-apa, maka tim Auror yang dikirim kemari akan dicabut untuk mengurusi daerah lain yang lebih banyak menghasilkan korban! Puas? Apa kau puas?" rentet Harry.
"Sejujurnya, aku kecewa," jawab Dragon. "Rupanya aksi tunggalku dianggap remeh oleh Kementerian. Tadinya aku mengharapkan info yang lebih heboh tentangku, kau tahu? Tetapi, artinya dalam waktu dua minggu ke depan aku bisa lebih bebas berjalan-jalan." Lagi-lagi wajahnya ceria. Tangan bersuhu rendahnya melepas cengkeraman dari leher Harry. "Dan aku juga kecewa karena batal bermain tikus ataupun menyaksikan pertunjukan tarian pangkuan darimu."
Berdecak pahit, Harry segera berjalan lagi, meninggalkan si vampir di belakangnya. Tiap langkahnya yang ditarik panjang-panjang berderap lebih kencang dari normal untuk melampiaskan energi negatif nan panas yang melimpah ruah. Sesampainya di gubuk, pemuda itu menghambur masuk ke gubuk yang tidak terkunci lalu membanting pintu tepat di depan wajah pucat Dragon yang sudah berhasil menyusulnya.
Saat vampir itu masuk ke ruangan, pemuda itu nampak sedang berdiri di sisi meja sambil memasukkan jubahnya ke dalam tas. Mukanya masih masam. Sedikit banyak sang penghisap darah berambut emas merasa heran sebab godaan dan ancaman bukan hal pertama yang pernah ia berikan kepada pemuda berambut hitam itu, tetapi kali ini dia bereaksi jauh lebih keras.
"Apa kesabaran Harnet Porter yang berhati mulia telah habis?" Pria muda itu bersandar pada daun pintu yang baru ditutupnya.
Setelah melempar tasnya ke bangku kosong, pemuda yang disebut namanya duduk di atas kursi di sebelah tas tersebut dengan kaki bersilang. Matanya masih tidak mau menyambut sang tuan rumah.
"Kau bereaksi terlalu keras untuk sebuah informasi kecil, Harry." Dragon menggeleng-geleng tak habis pikir.
Bola mata hijau itu berkilat oleh timpaan warna merah keemasan dari api penerangan dan menghujam sepasang lingkaran sewarna raksa. "Oh ya? Walaupun jika kukatakan padamu bahwa suatu saat nanti aku akan menjadi salah satu dari 'tikus spesial yang mampu menggigit balik'?"
Sepasang manik merkuri tersebut berpendar dalam pemahaman. "Aah, rupanya kau merasa mengkhianati para rekan seprofesimu di masa depan. Naïf dan murni seperti biasanya, Harry. Dengan kualitas-kualitas seorang malaikat seperti itu, menjadi seorang Auror sama sekali tidak cocok untukmu."
Pemuda itu memicing marah. "Aku tidak butuh pendapatmu."
Berjalan pelan menuju meja, vampir itu bersandar elegan dengan dua tangan memegang tepi meja, memandang pemuda yang berada dalam posisi lebih rendah. "Jika kau menjadi Auror, maka kau akan memperoleh lisensi untuk banyak hal, termasuk memaksa, melukai, menyiksa dan membunuh jikalau itu semua diperlukan. Apa kau yakin kau sanggup melakukan itu semua, Harry? Aku yakin kau adalah tipe manusia yang akan bermimpi buruk jika secara tidak sengaja menginjak ekor anak anjing."
"Selalu ada cara untuk melakukan pekerjaan seorang Auror tanpa perlu membunuh. Dan maaf saja, aku mematahkan hidungmu dua kali tetapi aku sama sekali tidak merasa gatal apalagi sampai bermimpi buruk karenanya."
Dragon tertawa berdengus. "Rupanya kau juga seorang pasifis – orang yang suka berdamai. Kau lebih mirip Healer dibandingkan Auror. Apa kau memilih pekerjaan itu karena kau menjadikan ayah baptismu sebagai panutan? Atau ada alasan lain?"
Pemuda itu tidak menjawab pertanyaan si vampir dan menggetuk-getukkan jarinya ke meja dengan jengkel. "Sebaiknya kita langsung ke pokok persoalan kenapa aku berada di sini. Aku datang kemari bukan untuk menemanimu mengobrol atau menceritakan kisah hidup."
Ini adalah percakapan paling panjang yang pernah terjadi di antara mereka dengan pengecualian malam pertama mereka bertemu. Biasanya semua berlangsung cepat, si vampir tak perlu waktu lama untuk mengklaim santapannya dan setelah Harry pulih, dia segera meninggalkan gubuk sial ini beserta penghuninya yang jauh lebih sial.
Tersenyum menggoda, Dragon menurunkan kelopak matanya hingga memberikan tatapan yang sama nilai kandungannya dengan tarikan senyumnya. "Bersemangat, Harry? Apa kau mulai menikmati bagaimana aku melesak memasuki tubuhmu dan menikmati apa yang kumau darimu?"
Merengut, Harry mengabaikan kata-kata yang penuh nilai ambigu itu. "Tutup mulut. Aku tidak punya banyak waktu dan tidak mau ambil resiko. Berbeda dengan tiga hari kemarin, ayah baptisku sedang ada di rumah sekarang."
Pemuda itu lalu bangkit dan berpindah tempat duduk ke atas ranjang dengan kaki terjulur sehingga sepatunya tidak menyentuh kasur dan punggungnya yang diganjal dua buah bantal bersandar ke tembok dekat bingkai jendela. Selama seminggu ini ia memutuskan posisi dan lokasi ini adalah yang terbaik untuk menopang tubuh lemas karena kekurangan darah dan cukup nyaman ketika ia memulihkan diri.
Membuka peti kayu cerinya, Dragon menjalankan ujung jarinya menyusuri puncak dari botol-botol ramuan berbeda jenis lalu mengambil satu dari kalangan Ramuan Penambah-Darah. Melemparkan ke arah Harry, ia tidak khawatir botol itu akan jatuh pecah karena pemuda itu sangat gesit dan selalu mampu menangkap lemparannya. Dulunya ia melakukan hal tersebut untuk mengejutkan dan menjahili Harry, namun reflek brilian yang dimiliki pemuda itu mengesankannya sehingga acara lempar-melempar botol ini berubah menjadi kebiasaan.
Menangkap botol kaca tersebut dengan malas, Harry lalu menaruhnya di sisi pinggulnya lalu menggulung lengan kiri bajunya dan mengusap-usap pergelangannya dengan ujung atasannya. Dragon berjalan kepadanya dengan penuh gaya lalu duduk di sisi Harry yang walaupun dengan satu kaki naik serampangan ke kayu di tepi ranjang, semua gerak dan sikap tubuhnya terlihat begitu elegan. Telapak tangannya terangkat ke atas dan Harry menyerahkan pergelangan tangannya ke permukaan kulit dingin Dragon.
Jari-jari seperti milik mayat itu menyusuri kulit Harry, membelai mengikuti rute gurat pembuluh darahnya dan menyebabkan pori-pori di sana meremang. Darah Harry berdesir di bawah sentuhannya dan ia menghela seteguk napas penuh wewangian tubuh Harry.
Melempar senyum bertaring ke arah Harry, ia berujar, "Selamat makan."
Dan ia meregangkan kedua rahangnya, mengekspos kedua taring tajamnya yang bergelimang warna jingga dari kobaran api obor. Sentuhan halus yang terasa seperti dua buah ujung jarum menyentuh kulit Harry sekilas, sebelum akhirnya lebih banyak bagian dari sepasang penginvasi tajam yang masuk dan menyuplai kenyataan bahwa jelas mereka bukanlah sesuatu yang setipis jarum.
Harry merintih dan memejamkan matanya dalam-dalam, menahan rasa perih luar biasa serta sensasi tidak nyaman yang melanda sekujur tubuhnya saat darah dalam jalur-jalur halus di balik kulitnya tersedot menuju satu arah, melawan komando dari detak jantungnya yang makin bertalu-talu ribut. Setelah beberapa kali sesi pengambilan darah memang Dragon lebih mampu mengendalikan nafsunya dalam menyedot darah Harry, namun tetap saja jumlah darah yang diambil olehnya masih membuat kepala Harry pening lalu terasa sangat ringan.
Berikutnya ia disadarkan oleh bibir botol yang mengecup bibirnya, menuntut jalan masuk bagi cairan penolong. Tak lama, sumsum tulangnya mendapat sokongan kekuatan super untuk menghasilkan butir-butir mikroskopik yang segera menggantikan apa yang sudah terenggut. Seiring kekuatan yang kembali, kewaspadaan Harry turut merangkak naik dan ia langsung mengamati anggota-anggota tubuh Dragon untuk memastikan mereka semua jauh dari bagian tubuh privatnya. Gara-gara apa yang Dragon pernah coba lakukan saat dia memulihkan diri, ia tidak pernah lagi tidur setelah minum ramuan.
"Ayolah, Harry. Waktu itu aku cuma becanda," tandas Dragon sambil menyapukan lidahnya pada sisa darah lezat Harry yang masih melapisi gigi-geliginya.
"Becanda?" Darah baru dan lama yang sudah berbaur dengan apik terasa mulai mendidih. "Kau becanda dengan cara menyelipkan jarimu ke dalam celanaku?"
"Karena reaksimu sangat menyenangkan untuk dilihat. Lagipula aku 'kan penasaran dengan bagaimana rasanya menyentuh kulit yang ada di balik sana," kata si tersangka sembari mengeluarkan toples kecil berisi obat luka. "Cuma jari masuk sedikit, aku pun belum sempat menyentuh apa-apa. Kalau mau, toh bisa saja aku macam-macam saat kau belum kuberi ramuan, bukan?"
Memutar bola matanya dengan keki, Harry membiarkan Dragon mengolesi bekas lukanya dengan penyembuh sebelum akhirnya tiba-tiba ia teringat pada apa yang akan berlangsung malam hari nanti.
"Malam berikutnya… aku tidak bisa datang," hatur Harry berhati-hati sambil melirik Dragon.
Pemuda pirang yang diliriknya balas memandang ke arahnya dengan cengiran menyebalkan. "Bentuk protes dan perwujudan dari pengaruh luapan amarahmu tadi?"
"Bukan. Malam nanti, aku ada urusan pribadi." Ia tidak ingin menyebut perihal ulang tahunnya dan berharap Dragon tidak bertanya-tanya lebih jauh.
"Kencan dengan pacarmu?" terka Dragon dengan alis naik turun.
Cukup banyak dari antara darah yang sudah kembali memenuhi sekujur tubuh Harry memilih untuk bersemayam di pembuluh-pembuluh halus pipinya hingga penuh sesak. Tebakan Dragon tidak sepenuhnya salah memang. "Bukan!" elaknya cepat, ngeri akan kemungkinan Dragon menguntit dan memantau aktivitasnya saat ia berduaan saja dengan Hendric.
"Kau tidak pandai berbohong~" dendang si vampir sambil mencubit luka Harry yang sudah sembuh sehingga membuat sang pemilik tangan menarik diri cepat-cepat.
"Aku berulang tahun besok – sebenarnya hari ini karena sudah lewat tengah malam – dan teman-temanku mengadakan perayaan." Harry membenci dirinya sendiri yang begitu cepat membuka informasi demi menghindari perihal kencannya. Tapi ia cukup berharap si vampir ini akan mengerti dan memberinya izin satu hari, toh selama ini dia tidak pernah mangkir dari kesepakatan.
"Oh, selamat ulang tahun!" seru Dragon riang sambil membuka lebar kedua lengannya secara lambat nan dramatis, siap untuk mendekap Harry yang masih duduk di sisinya namun segera ditahan Harry dengan cara menyodokkan bantal kuat-kuat ke wajah pucat sang vampir mesum.
"Yang kuperlukan bukan ucapan selamat tetapi jawaban," cetus Harry masam sambil menarik kembali bantal setelah si vampir terlihat membatalkan niatnya untuk memeluk.
Hanya perlu satu kali sapuan telapak tangan bagi Dragon untuk melicinkan kembali poninya yang berantakan. "Itu bukan sikap dan cara bicara yang baik untuk mengajukan permintaan, Harry."
"Hal yang terakhir kuinginkan adalah dipeluk vampir mesum separuh baya sepertimu."
"Aku vampir, Harry, umur empat puluh tujuh sama sekali tidak tua bagi kaumku. Lagipula kalau hal yang terakhir kau inginkan adalah dipeluk olehku, artinya kau tidak keberatan kalau kucium?"
Maka bantal pun melayang namun targetnya menghindar secara tangkas. Dragon tertawa tanpa suara. "Kurasa aku sudah memutuskan bahwa… tidak. Aku tidak mengizinkan."
Mata hijau Harry melebar dan alisnya bertaut. "Tapi aku tidak pernah tidak memenuhi tanggung jawab!"
"Satu minggu masa yang terlampau dini untuk mengatakan kau sudah memenuhi tanggung jawab. Bahkan untuk tuntutan awal yaitu datang setiap hari selama beberapa minggu pertama saja kau belum menggenapinya."
"Tapi ini hari yang berbeda, akan ada banyak orang dan tidak mungkin aku tidak datang." Rasa geram yang sebelumnya sempat terlupakan kembali bergolak. Kepadatan botol kaca dalam genggaman Harry meredam semua jemari yang menyalurkan daya tekan.
"Kau selalu bisa datang setelah acara berakhir, Harry."
Segenap keteguhan Harry dikerahkan untuk menjaga agar botol ramuan tetap berada di dalam tangannya dan tidak menyusul teladan sang bantal sebelumnya. "Acara bisa saja berlangsung sangat panjang… Silias ada di sana jadi aku harus pulang dahulu dan menunggu dia tidur lalu mengendap keluar lagi jika harus menemuimu. Aku akan terlalu lelah setelah menghadapi begitu banyak orang dan menjalani pesta. Apa kau tidak berpikir untuk setidaknya memberikan keringanan satu hari saja?"
"Siapa ya yang mengatakan bahwa aku ini adalah makhluk paling egois, brengsek, menyebalkan dan semacamnya? Apa yang kau harapkan dari pribadi yang kau labeli seperti itu, Harry? Sudah final. Dan keputusanku adalah tidak."
Perkataan tersebut sukses membuat Harry diam. Bangkit berdiri, pemuda itu membanting botol tersebut ke atas kasur sehingga melenting beberapa inci. "Kalau begitu kutambahkan lagi! Kau orang yang paling menuntut, paling tidak pengertian dan paling keras kepala yang pernah kutahu!"
Melihat yang dimaki hanya senyam-senyum, Harry pun menyambar tasnya lalu bergegas menuju jalan keluar tanpa menoleh ke sosok yang masih duduk santai tersebut. Membanting pintu gubuk hingga berdebam, Harry meninggalkan vampir egois, penuntut, menyebalkan dan segala aneka predikat negatif lainnya di belakangnya. Tanpa berhenti untuk memandangi rumpun bunga-bungaan seperti biasanya, pemuda itu menembus bayangan gelap batang-batang dan dedaunan liar.
-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-
Malam makin larut dan Harry yang telah mengunjungi Dragon bergegas menembus hutan menuju desa. Di perbatasan, cahaya kuning dari lilin dan lentera-lentera di permukiman penduduk terlihat semakin jelas. Sebentar lagi ia akan memakai Jubah Gaib-nya dan mengendap ke rumahnya.
"Terburu-buru, Harry?"
Terkejut, Harry membalikkan badan ke arah suara dengan tangan menyentuh saku, siap menarik keluar tongkatnya. Berdiri di dekat pohon cedar, seseorang yang Harry kenal tersebut melangkah mendekatinya. Sayangnya, pemilik wajah yang Harry kenali tersebut bukanlah tipe orang yang ingin ditemuinya malam ini ataupun dalam waktu apapun. Rasa tidak tenang menjalari tubuh Harry. Tangannya masuk ke saku dan memegang tongkatnya, siap mencabutnya keluar kapan saja.
Menyadari apa yang dilakukan Harry, pria muda berambut hitam itu tersenyum yang bagi Harry adalah sebuah seringaian. "Tenang saja, Harry. Aku tidak akan menggigit 'kok."
"Sedang apa kau di hutan selarut ini, Fynn?" Harry tidak menanggapi ucapan sebelumnya.
"Jangan formal begitu, Marc saja, Harry. Kita sudah saling mengenal sejak kecil." Marc Fynn, nama pemuda bertubuh tinggi besar tersebut, semakin berjalan mendekati Harry. "Dan bukankah pertanyaan tadi lebih pantas ditujukan untukmu? Harnet Porter si anak manis Hogwarts dan Great Hangleton, berkeliaran di hutan larut malam… Tunggu sampai Silias Blake mendengarnya."
Harry dengan sempurna menutupi kepanikan akan penyebutan nama ayah baptisnya tersebut. "Sebenarnya, Fynn," Harry berkata tegas, menolak mentah-mentah memanggil pemuda itu dengan nama depan, "Silias tahu betul aku pergi ke hutan dan apa keperluanku."
"Meskipun di tengah rawannya ancaman serangan vampir?"
"Tadi aku pergi bersama seorang Auror rekan Silias. Belum lama ini kami berpisah jalan." Dengan cepat Harry membawa-bawa alasan adanya Auror, membayangkan Daisy yang tak sengaja dilihatnya di jalanan tadi. "Justru aku yang patut mempertanyakan apa keperluanmu berada di hutan malam-malam."
"Hanya berjalan-jalan sebentar," jawab Fynn cepat, "dan sedikit bernostalgia dengan area-area yang pernah aku dan teman-teman dahulu jadikan sebagai area Harry-Hunting – Berburu-Harry." Seringai penuh gigi besarnya melebar dan Harry mundur satu langkah.
Harry-Hunting, betapa Harry membenci istilah itu. Mengingatkan akan masa kecilnya yang penuh penindasan. Kematian orang tuanya pada saat usianya lima tahun membuatnya dititipkan secara berkala ke rumah-rumah penyihir tetangganya dan sempat menetap di rumah keluarga Marc Fynn. Tubuhnya yang kecil membuatnya menjadi bulan-bulanan beberapa geng, bahkan geng anak-anak Muggle, tetapi tidak ada yang seburuk Marc Fynn dan gengnya. Mengklaim sebagai lelucon dan bentuk pertemanan, mereka mengejar-ngejar Harry dan menggunakan tubuhnya sebagai properti latihan gulat saat tertangkap. Pitingan, bantingan, pelintiran merupakan hal yang biasa kala itu, dan Harry beberapa kali terlonjak-lonjak saat mereka menyelipkan hewan-hewan kecil seperti lipan ke dalam pakaiannya.
Semuanya berakhir sejak Silias Blake, wali resminya, datang ke Great Hangleton dan tinggal bersamanya. Penindasan terhenti, tetapi tidak secara mutlak. Gangguan-gangguan akan tetap terjadi jika Harry berada di dekat Fynn seorang diri walau dengan skala yang lebih kecil. Tetapi Fynn tahu kapan menjaga sikap, terutama sejak keluarga Weasner yang memiliki banyak anak tiba dan menetap di Great Hangleton. Mereka, terutama Robert Weasner tidak segan-segan angkat tinju jika Fynn mengganggu Harry dan pernah sekali dia berhasil membuat biru mata Fynn.
Namun, penindasan masa kecil berubah menjadi bentuk lain saat mereka beranjak dewasa. Ketika tubuh dan wajah Harry mulai menjelma ke dalam keremajaan, tatapan Fynn kepadanya menjadi berubah drastis. Tiap sentuhan yang dulunya digunakan untuk menyakiti Harry, baik sekadar untuk membuatnya oleng atau terjatuh hingga terluka berubah menjadi sentuhan yang berlama-lama, hendak merasakan kulit dan tubuh Harry. Dia tidak lagi ingin menyelipkan hewan-hewan kecil ke balik pakaian Harry; dia ingin memasukkan tangannya ke balik sana. Perubahan ini membuat Harry dilanda ketidaknyamanan hebat. Pengetahuannya yang bertambah saat remaja mengenai edukasi seksual sama sekali tidak membantu, hanya memberikan petunjuk dan bayangan-bayangan mengerikan tentang apa yang diinginkan Fynn darinya.
Karenanya, sebisa mungkin ia menjauh dan menghindari Fynn, yang selama ini dapat dilakukannya dengan cukup baik. Hari-hari di Hogwarts pun terbilang damai mengingat Fynn yang jauh lebih senior darinya berbeda asrama. Ia sudah lulus saat Harry akan menginjak tahun kelima walau lelaki berbadan besar tersebut sempat mengulang tahun ketujuhnya satu kali. Dan dengan memiliki pacar seseorang yang begitu populer seperti Hendric Dittory di tahun keempat, Fynn tidak pernah berbuat macam-macam selain memberikan tatapan-tatapan dan bahasa tubuh tidak pantas.
Tetapi saat ini, tengah malam, di hutan pinggir desa, ia berhadapan dengan Fynn. Sendirian.
"Sekarang kau yang belum menjawab pertanyaanku, Harry. Sedang apa kau di hutan malam-malam begini?"
Masih mencengkeram tongkat di sakunya, Harry menimbang-nimbang jawaban sejenak. Sangat mencurigakan Fynn berada di tepi hutan yang seperti dikatakannya, setelah peristiwa serangan vampir, seorang diri. Apa jangan-jangan Fynn membuntutinya dan tahu tentang perihal Dragon? Tapi ia tadi memakai Jubah Gaib…
Harry memutuskan memancing sedikit dengan kebohongan tambahan. "Aku mencari bahan-bahan untuk ramuan dan berlatih selama masa liburan untuk mendalami NEWT Ramuan. Teman Silias memberikan banyak tips dan penjelasan menarik sampai aku tidak sadar bahwa malam sudah sedemikian larut." Sebelah tangan Harry memegangi tas sandang kulit berisi Jubah Gaib-nya, seakan-akan mengesankan tas itu berisi penuh dengan bahan-bahan untuk meramu.
Dipelajarinya raut muka Fynn dan menemukan tidak ada perubahan. Ia kelihatannya tidak tahu Harry berbohong, jadi kemungkinan besar ia tadi tidak sedang membuntutinya ataupun tahu soal Dragon.
"Kau masih serius tentang profesi Auror, Harry?" Fynn maju dua langkah. "Kupikir pengalaman kedua orang tuamu sudah cukup berbicara banyak."
Harry mengernyit akan kalimat Fynn yang kedua. "Jika aku lulus NEWT dari semua mata pelajaran yang kuambil, aku bisa menekuni banyak profesi, Auror di antaranya." Harry menolak untuk melangkah mundur. Ia tidak mau memberikan Fynn rasa senang karena berpikir ia berhasil mengintimidasi Harry. "Lagipula, kita berdua tahu bahwa aku sangat mampu untuk menjadi Auror."
Terkekeh kecil, Fynn memandangi sekujur tubuh Harry. "Ya, sejak dulu kau memuncaki nilai untuk Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, hampir seluruh Hogwarts tahu itu. Kemampuan besar tersembunyi di balik tubuhmu yang mungil. Tetapi, sama sekali tidak terlihat dari luar. Jika seandainya malam ini aku adalah orang bermaksud buruk yang tidak tahu akan kemampuanmu maka aku pasti akan mencoba menyerangmu, Harry. Pemuda cantik berkeliaran sendirian di hutan malam-malam, sama saja memancing maksud buruk."
Bahaya. Bel tanda bahaya di dalam kepala Harry berderang kencang. "Tapi sayangnya kau tahu betul kemampuanku, Fynn," tekan Harry.
Pemuda bertubuh kekar menarik langkah maju dua kali lagi. "Oh, ayolah Harry. Apa kau, si anak manis yang patuh pada aturan akan menggunakan sihir di bawah umur? Surat teguran yang bisa berbuah kepada pengeluaran dari Hogwarts... Kau tidak akan melakukannya, Harry."
Tidak beranjak dari tempatnya, Harry menatap Fynn yang badannya jauh menjulang tinggi dengan tajam. Ia telah memetik pengalaman dari insiden dengan Dragon berkaitan dengan kepatuhannya akan aturan umur.
"Apa kau yakin, Fynn?" gertak Harry. Suaranya berbahaya dan mata hijaunya berkilat. "Kebutuhan untuk pembelaan diri dapat menjadi pengecualian besar. Aku yakin konsekuensinya bisa dibicarakan setelahnya."
Untuk pertama kalinya, alis Fynn berkedut. Keraguan yang menjalar tidak lolos dari pengamatan Harry. Ia mempertahankan ekspresi dinginnya dan gagang tongkat dalam genggamannya sengaja dibiarkan mengintip dari saku.
"Ya," kata Fynn setuju. Ia melangkah mundur dari hadapan Harry dengan ringan. "Aku bisa melihatnya. Kau… tidak akan membiarkan dirimu diserang."
Harry berusaha keras menahan diri untuk tidak menarik napas lega. Fynn berhenti melangkah mundur pada jarak yang Harry anggap sebagai batas yang aman.
"Kau masih berhubungan dengan Dittory?"
Menjawab dengan anggukan, Harry masih terus berwajah garang. "Hubungan kami baik-baik saja jika itu yang ingin kau tanyakan."
Fynn sama sekali tidak menutupi mimik kecewanya. "Oh."
"Hmm." Harry malas menanggapi lebih lanjut. Ia ingin segera beranjak tapi ia tidak bisa sebelum pengganggu ini pergi lebih dulu.
Hening sesaat. Detik yang bergulir dihabiskan keduanya dengan saling pandang. Memperhatikan wajah Fynn secara cukup dekat setelah lama tidak bersua mengobarkan kembali kecurigaan masa kecil Harry bahwa Fynn punya keturunan darah troll – walau itu jelas tidak mungkin.
"Sudah seminggu sejak kematian sepupuku Miranda dan hilangnya ingatan temannya yang bertahan hidup pada malam kejadian secara misterius." Fynn kembali membuka percakapan, memotong lamunan Harry. "Yah, aku dan Mira memang tidak dekat dan berbeda rumah, tetapi kematiannya dan juga yang lainnya cukup memancing emosiku. Belum ada peristiwa pembunuhan lagi, tetapi kita semua harus tetap waspada. Ada sesuatu – atau sesosok makhluk berbahaya di balik hutan ini, Harry. Penghisap darah, kita semua tahu itu. Tetapi dia belum pergi. Mungkin ada hal yang memang mampu membuatnya terhenti sejenak, tapi kita tidak tahu berapa lama."
Bulu roma Harry meremang. Perkataan Fynn terlalu ambigu. Apa ia sebenarnya tahu tentang si pembunuh – Dragon? Apa ia mencurigai keterlibatan Harry di dalam semua ini?
Arah pandangan mata kelabu Fynn berlama-lama menyusuri sekujur tubuh Harry sebelum akhirnya terpancang pada sepasang mata hijaunya yang berbinar. "Sebaiknya kau segera pulang dan jaga dirimu."
Harry mengangguk pelan, tetapi matanya tidak bertemu dengan milik Fynn.
"Selamat malam, Harry." Setelah mengucapkan salam, Fynn membalikkan badan dan berjalan menuju jalan yang berlawanan. Akan tetapi setelah beberapa langkah pemuda besar itu terhenti lalu menengok dan melemparkan senyum lebar. "Dan selamat ulang tahun."
Harry meringis. Dua ucapan selamat ulang tahun pertama yang diterimanya hari ini berasal dari dua orang mesum yang tidak disukainya. Tidak menjawab, Harry, dengan tongkat masih dalam genggaman terus mengawasi Fynn yang kembali berjalan. Ia tidak akan memberikan punggungnya ke arah Fynn sebelum pemuda bertubuh besar itu benar-benar jauh dan lenyap dari pandangan.
Setelah sosok Fynn lenyap di ujung jalan, Harry bergegas berbalik menuju jalan ke rumahnya dan segera berlari. Ia berharap ia tidak akan bertemu lagi dengan Marc Fynn.
-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-
Setelah melewati kubangan berlumpur di bawah jendelanya dengan mulus, Harry menutup jendelanya lalu meluncurkan diri ke atas ranjang. Ia membiarkan tubuhnya menimpa tubuh kembarannya yang tersusun dari bantal dan menikmati rasa sejuk kain sprei serta empuknya gundukan bulu-bulu unggas yang bersemayam di bawah sarung pelapis. Kakinya yang masih bersepatu tergantung di tepian tanpa bersentuhan dengan kasur. Tas dan jubahnya berdiam di sisinya, mungkin akan ia tinggalkan seperti itu karena dirinya sudah terlalu lelah untuk sekadar menyingkirkan mereka. Mata hijau zamrud-nya yang baru saja terpejam untuk menyambut mimpi di mana dirinya sedang mencekik Dragon terbuka kembali ketika ia mendengar suara ketukan pada pintu kamar.
"Harry?"
Silias.
Dengan mata terbelalak lebar, Harry bangkit dari tempat tidurnya. Ia tidak tahu apakah merupakan kesialan atau keberuntungan bahwa Silias memutuskan berkunjung ke kamarnya saat ia baru saja kembali dari petualangan malamnya. Tidak ada waktu bertukar pakaian, ia segera mencopot sepatunya tanpa melihat lalu melemparkannya ke kolong tempat tidur. Jubah Gaib dan tas sandangnya ikut menyusul masuk. Tubuh kembaran palsunya segera roboh oleh terjangan brutal dan gumpalan ijuk dijejalkan ke bawah selimut. Menarik tongkatnya dari saku, Harry meletakkannya ke atas meja kecil di sisi tempat tidur. Semua ia lakukan dengan berusaha membuat suara seminimal mungkin.
Ketukan terdengar lagi. "Harry?"
"Hnggg…," Harry membuat suara erangan pelan seperti baru saja terbangun dari tidur. Dengan itu ia berharap Silias yakin akan keberadaannya dan tidak langsung menerobos masuk.
Ia lantas mengacak bajunya dan rambutnya lalu menggosok-gosok matanya untuk memberi aksen warna kemerahan lalu akhirnya duduk di atas tempat tidur dengan selimut menutupi pangkuannya. Harry merasa telah siap untuk memerankan peran anak manis yang tidak keluar rumah sama sekali sejak pulang dari kerja sambilan. "Masuk," katanya lagi.
Gerendel pintu terbuka dengan sendirinya dan Harry seolah bisa melihat ayah baptisnya tengah melambaikan tongkatnya di balik bilah pintu. Akhirnya sosok Silias dalam pakaian tidur yang berlapis jubah santai menggenapkan jumlah manusia dalam kamar Harry. Pemuda berambut semakin berantakan itu memicingkan mata hijaunya dengan enggan seolah kelopak matanya memiliki beban berlebih.
"Emmhh… Ada apa, Silias?" Harry menguap lebar tanpa menudungi dengan tangan. Sebenarnya ia hanya ingin menguap pura-pura namun saat mulut dan rahangnya terbuka, rasa kantuk yang memang bersarang di tubuh lelahnya mengubah hal tiruan menjadi asli.
Ayah baptisnya memandanginya dari jauh lalu menghela napas berat. Ia berjalan mendekati ranjang lalu berlutut di depan Harry yang tengah terduduk dengan bahu rendah.
"Kau tidak mengganti pakaian?" Pertanyaan yang Harry sudah duga pasti akan dilontarkan.
"Hmmmh… t'lalu lelah," jawab Harry lemah dan agak tidak jelas. Ia terdengar begitu meyakinkan, mulutnya seolah memamah sesuatu yang tidak ada. Diam-diam Harry terkejut atas bakat tersembunyinya dalam seni peran.
Mata Silias berkilat aneh. "Harry, ada yang ingin kubicarakan denganmu."
Detak di balik sangkar rusuk Harry meningkat pesat. Apa Silias tahu?
"Ada apa?" Suara Harry terdengar berat dan malas, benar-benar seperti masih belum sepenuhnya sadar. Ia masih berharap Silias hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun yang lebih dini dari biasanya.
Silias sekali lagi menghela napas. "Aku tahu saat ini kamu telah berusia enam belas tahun, Harry. Kamu telah cukup matang untuk masuk kategori dewasa muda."
"Hngg," ucap Harry tidak jelas seperti mengiyakan.
"Aku tahu kau telah bersama bocah Dittory itu hampir selama dua tahun." Harry mengerutkan kening, ia tidak pernah suka saat Silias mengalamatkan 'bocah Dittory' kepada Hendric. "Dia memang kukuh dan berkeras untuk terus menjalin hubungan bersamamu. Bahkan aku pun tak bisa menghentikannya, akan tetapi Harry…" Silias menghela napas lagi. "Ada banyak hal yang memang belum saatnya untuk dilakukan."
Masih sedikit bingung, Harry memandangi wajah ayah baptisnya dengan sedikit tidak percaya. Silias tidak akan membangunkannya tengah malam pada awal hari ulang tahunnya untuk memberikan ceramah edukasi seksual, bukan?
"Aku menyayangimu, Harry. Oleh karenanya aku tidak ingin ada orang yang mengambil keuntungan darimu."
'Sudah terlambat,' pikir Harry. Benaknya melayang kepada sosok vampir pirang yang memaksanya melakukan perjanjian dan gemar melecehkannya.
"Kuakui bocah Dittory itu berwajah tampan, dia juga tahu cara bersikap dan berbicara yang mengesankan. Tetapi Harry, tidak sepatutnya kau luruh kepadanya dan memenuhi segala keinginannya. Kau memang berhati manis dan selalu berusaha menyenangkan orang lain yang kau sayangi, Harry. Hal tersebut memang baik, tetapi ada batasannya."
Harry sungguh-sungguh bingung sekaligus tidak tahan lagi. "Aku mengerti, Silias. Tetapi aku tahu batasan-batasan dalam berpacaran dan menghormati diriku sendiri. Sebaiknya kita hentikan percakapan mengenai itu, oke?"
"Oh ya?" Suara Silias semakin meninggi. "Kalau begitu sekarang katakan padaku, apa bocah Dittory itu pernah merabamu? Apa dia pernah melihatmu tanpa busana? Apa bocah itu pernah menyentuh tubuhmu pada area di bawah pusar dan di atas paha? Apa tangannya pernah menyelinap ke balik bajumu? Apa dia pernah memasukkan anggota tubuhnya ke dalam tubuhmu?"
Harry menganga. Topeng kantuknya sirna sudah. Ayah baptisnya baru saja bertanya tentang hal-hal pribadi dengan kata-kata yang cukup eksplisit. "Si-Silias, sebaiknya kita hentikan pembicaraan ini…"
"Cepat jawab atau aku benar-benar akan melakukan tes keperawanan kepadamu!" bentak Silias.
Ada dua hal yang menyebabkan pemuda berambut hitam itu menjadi pucat pasi seolah tadi ia lupa minum Ramuan Penambah-Darah. Hal yang pertama, Silias tidak pernah membentaknya walau seperti apapun hal-hal yang pernah dilakukannya. Dan hal yang kedua adalah Silias masih memikirkan ide kacau dari Josh Darwin tadi bahkan mengancamnya dengan tes absurd itu. Tentang bagaimana tes itu dilakukan, otak Harry menyediakan jawaban yang berkisar dari penggunaan mantra hingga sampai tes fisik di mana ia harus memperlihatkan bagian-bagian tubuh yang selalu tersembunyi di balik celana kepada pihak yang melakukan tes. Bayangan akan perkiraannya tentang tes fisik itu membuat kulit Harry semakin pucat.
Sayangnya Silias terlihat salah mengartikan kepucatan putra baptisnya. Bibir sang Auror gemetar dan matanya melebar. "K-kau… D-dia…"
Kepalan tangannya yang mengeras dipenuhi guratan urat-urat yang menonjol. Alis tegas dan pangkal hidungnya merapat, membenturkan kulit-kulit di sekitarnya dan membentuk lipatan-lipatan. Giginya yang sempurna terbingkai bibir yang sudut-sudutnya tertarik tajam. Sekilas Silias terlihat menyerupai seekor anjing marah yang siap menerkam.
"AKAN KUBUNUH BOCAH ITU!" Pria itu lalu bangkit berdiri dan membalikkan tubuhnya, siap menghambur ke luar kamar dan Harry tahu pasti bahwa entah bagaimana caranya Silias akan memburu lalu menghajar atau bahkan menghabisi Hendric.
"SILIAS, JANGAN!" Pemuda itu melompat dengan gesit dan melingkarkan tangan langsingnya di sekitar badan tegap pria yang memancarkan aura amukan Auror tersebut.
"Lepas, Harry! Bocah itu harus mati! Beraninya dia-"
"Dia tidak pernah berbuat apa-apa kepadaku! Silias, berhenti!" Harry berjuang mati-matian menahan tubuhnya agar tidak terseret ayah baptisnya yang tetap ngotot ingin pergi.
Pria berambut hitam sebahu itu akhirnya berhenti, tetapi tangan Harry yang memeganginya masih merasakan ketegangan otot dari walinya tersebut. Berlari menuju hadapan Silias, Harry menengadah sambil memegangi sisi lengan pria tersebut dan mengusapnya lembut.
"Aku tidak bohong, Silias. Hendric tidak pernah menyentuhku seperti kata-katamu tadi. Dia juga tidak pernah melihatku tanpa pakaian lengkap. Tadi aku tidak segera menjawab karena terkejut saat kau membentakku. Hanya itu, sungguh." Mata hijaunya bergelimang kerlip karena meningkatnya kelembapan yang menyelubungi bola mata tersebut.
Kerutan ekspresi hewani luruh dari wajah tampan Silias Blake. Dengan lengan yang telah rileks dari segala ketegangan otot, ia memeluk putra baptisnya itu.
"Maafkan aku, anak anjingku. Aku… terlalu berlebihan. Maafkan aku tadi sudah membentakmu."
Mengangguk-angguk, Harry balas memeluk pria yang menjadi figur ayah baginya. Sedikit banyak Harry merasakan ironi. Hendric, kekasihnya selama hampir dua tahun tidak pernah melakukan hal-hal yang disebut Silias sebelum mengancamnya dengan tes tadi, sementara Dragon si vampir pembunuh yang masih asing telah melakukan hampir semua hal tersebut. Kecuali bagian melihatnya tanpa pakaian – setidaknya separuh - dan jikalau menusuknya dengan taring masuk ke dalam hitungan 'memasukkan anggota tubuh ke dalam tubuh Harry'.
Silias berdehem kaku. "Uhm, selamat ulang tahun, Harry." Dirasakannya pipi Harry yang menempel di dadanya dilebarkan oleh senyuman.
"Terima kasih, Silias," respon Harry tulus. Akhirnya ia menerima ucapan selamat dari orang yang dikasihinya.
Setelah cukup lama, pelukan Silias melonggar dan pria itu menggaruk-garuk kepalanya sambil menghembuskan napas panjang dua-tiga kali. Ia terlihat seperti mau mengatakan sesuatu yang akhirnya ditahannya dan memutuskan mengatakan hal yang lain. "Mungkin sebaiknya kita beristirahat. Kau perlu waktu tidur yang cukup untuk menyambut perayaan ulang tahunmu."
Harry kembali mengangguk-angguk dengan menampilkan senyuman ringan. Silias mengacak rambutnya sekilas kemudian berjalan menuju pintu. Dari sikap badannya yang tidak lagi memasang gaya siap tempur Auror-nya, Harry yakin tak akan ada acara Hendric-Hunting – Berburu-Hendric malam ini.
Sungguh malam yang penuh 'perburuan', dimulai dari ancaman Dragon yang akan memburu dua Auror, kemunculan Fynn yang membawa kenangan Harry-Hunting dan bahkan Silias yang berniat untuk memburu Hendric karena kesalahpahaman.
Melihat punggung ayah baptisnya yang makin menjauh, Harry menarik napas lega walau yang bersangkutan masih berada di kamarnya. Kelihatannya acara keluar malamnya masih tidak diketahui Silias, walau Harry masih tidak mengerti kenapa ayah baptisnya melakukan kunjungan ke kamar untuk menanyai hal-hal yang membuat malu pemuda itu.
"Oh ya, Harry?" Silias berhenti sebelum menutup pintu.
Harry mengerjap.
"Kaus kakimu bernoda lumpur. Tanah basah bekas hujan sangat tidak higienis. Sebaiknya kau ganti itu dan cuci kaki sebelum beranjak tidur."
Kemudian pria tersebut pergi meninggalkan putra baptisnya yang menganga sendirian di dalam kamarnya.
Silias tahu. Ups.
To be continued...
Author's Note:
Sesungguhnya chapter ini adalah satu chapter yang saya bagi dua menjadi chapter 2 dan sisanya menjadi chapter 3. Karena jumlah words saya pikir terlalu banyak walau sudah saya potong-potong pula. Dengan ini saya akan merombak chapter berikutnya. :p Maafkan atas kelemotan saya ini, kalau saja saya nggak kelamaan mikir maka fic ini sudah update beberapa hari lalu. Dengan ini perhitungan saya akan jumlah chapter total cerita jadi berubah. Hiks. Dan maaf juga kalau ceritanya mengecewakan. *sembah sujud*
Untuk pertanyaan mengapa cerita ini berjudul The Everlasting Lily, semuanya bisa diketahui seiring cerita berjalan. ^^
Terima kasih atas penghargaan yang telah diberikan kepada saya lewat membaca dan memberi review terhadap chapter sebelumnya. Juga terima kasih atas kepercayaan menempatkan saya dan fic saya ke list favorit juga memberi alert. *Hugs*
Terima kasih kepada Fujoshi Anonim, Nakazawa Ayumu, Yuki Phantomic, anon, HanariaBlack, bcde, CCloveRuki, hatakehanahungry, Geoffrey P M, Phantomhive Black Lupin, YunJae SN, mireira, Sun-T, dmhp. drarry. lover, arklark, Ryuu, queen Victorie, monyet gelantungan, lee hyun mi, Ichie Kurosaki, Ren Aoquest, peterpillar, dan maniac. manga yang telah bersedia meninggalkan sejumlah kata-kata. ^^
See you in the next chapter.
