Thanks, Put, dah review :D
Disclamer: J. K. Rowling
Spoiler: Harry Potter dan Batu Bertuah, Harry Potter dan Kamar Rahasia, Harry Potter dan Tawanan Azkaban, Harry Potter dan Piala Api, Harry Potter dan Orde Phoenix, Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran dan Harry Potter dan Relikui Kematian.
Warning: Beberapa dialog diambil dari buku-buku Harry Potter.
KISAH RON DAN HERMIONE
Chapter 2 Kamar Rahasia
Hermione POV
Hari ini benar-benar panas dan musim panas di Inggris memang sangat panas. Aku tidak ke mana-mana selama liburan musim panas ini. Mom dan Dad sangat sibuk di tempat praktek masing-masing sehingga kami tidak jadi berlibur ke Majorca sesuai rencana. Aku menyalakan TV dan menikmati tontonan musik popular Muggle yang sedang tren saat ini.
Aku, Hermione Granger, seorang penyihir, tapi tidak diijinkan melakukan sihir. Aku bukannya mengeluh, tapi aku malas berjalan ke lemari es dan mengambil es krim keduaku. Jika saat ini aku sedang di Hogwarts tentu saja aku bisa menggunakan Mantra Panggil untuk mengambil sesuatu yang aku inginkan. Meskipun Mantra Panggil belum diajarkan di kelas satu, tapi aku sudah mempelajarinya dan tahu teorinya, cuma belum pernah mempraktekkannya sih.
Meskipun kelahiran Muggle aku adalah penyihir paling pintar dalam angkatan kami. Bukannya aku menyombongkan diri, tapi aku telah mempelajari semua buku yang belum dipelajari oleh anak-anak lain, jadi aku setingkat lebih maju dari mereka. Ron sering mengataiku sok tahu paling tidak empat kali seminggu kalau kami sedang bertengkar dan dia kalah dalam perdebatan. Biasanya kalau sudah begitu aku akan membalasnya dengan tajam dan membuat seluruh wajahnya bahkan telinganya akan memerah seperti rambutnya. Aku tersenyum sendiri. Jujur saja, sebenarnya aku senang berdebat dengannya karena entah bagaimana dia bisa membuat aku kelihatan cerewet, padahal aku bukan cewek cerewt.
Tuk! Tuk!
Aku menoleh ke sumber suara dan melihat seekor burung hantu yang benar-benar sudah tua dan sangat letih mengetuk jendela ruang keluarga. Aku membuka jendela dan burung hantu itu langsung pingsan ditanganku. Aku meletakannya di meja dan kembali ke dudukku di depan TV sambil membawa surat dengan tulisan cakar ayam Ron. Aku tersenyum sebelum membacanya.
Hermione,
Apa kabar? Apakah kau sedang belajar saat ini? Mudah-mudahan tidak karena kau akan botak sebelum berumur dua puluh tahun. Apakah kau sudah mendapat kabar dari Harry? Aku tidak mendapat kabar apapun darinya, padahal aku sudah mengirim burung hantu dan memintanya datang ke rumahku untuk menghabiskan sisa musim panasnya. Dan akhirnya, semalam saat kembali dari Kementrian Dad mengatakan bahwa dia mendapat surat peringatan Penggunaan Sihir di Bawah-Umur. Menurutmu apa yang telah dilakukannya?
Besok Fred, George dan aku akan menjemputnya. Aku hanya berharap dia baik-baik saja. Aku akan mengirim kabar setelah kami berhasil membawa Harry ke The Burrow.
Ron
Aku mendesah dan berharap dalam hati Hary baik-baik saja. Aku memng tidak mendapat kabar dari Harry selama musim panas ini, aku curiga ini mungkin ada hubungannya dengan paman dan bibinya terlihat sangat tidak ramah itu. Aku sangat berharap Ron dan Harry baik-baik saja, karena kalau Ron melakukan sesuatu yang melanggar hukum waktu menjemput Harry, mereka berdua akan berada dalam kesulitan.
Aku mendekati burung hantu yang pingsan itu dan menyentuhnya perlahan. Aku tidak mungkin membalas surat Ron hari ini, jadi aku memutuskan untuk membalasnya besok.
Ron POV
Hari pertama di tahun keduaku di Hogwarts ini adalah hari yang benar-benar parah. Mom mengirimku Howler.
"... MENCURI MOBIL ,AKU TIDAK KAGET KALAU MEREKA MENGELUARKANMU, TUNGGU SAMPAI AKU KETEMU KAU, PASTI KAU TIDAK BERPIKIR BAGAIMANA KAGETNYA DAN CEMASNYA AYAHMU DAN AKU KETIKA MELIHAT MOBIL SUDAH TIDAK ADA... SURAT DARI DUMBLEDORE SEMALAM, AYAHMU NYARIS MATI SAKING MALUNYA, KAMI TIDAK MEMBESARKANMU UNTUK BERSIKAP SEPERTI INI, KAU DAN HARRY BISA MATI... BENAR-BENAR MENJIJIKKAN, AYAHMU AKAN DIINTEROGASI DI KANTORNYA, SALAHMU SEPENUHNYA DAN KALAU MELANGGAR PERATURAN LAIN SEDIKIT SAJA, KAMI AKAN LANGSUNG MEMBAWAMU PULANG..."
Aku berusaha bersembunyi, duduk serendah mungkin di kursiku, tapi tentu saja tubuhku yang jangkung tidak memungkinkan aku untuk bersembunyi. Aku mendesah dengan penuh penyesalan. Ini memang salahku, kami-Harry dan aku-tidak bisa melalui palang rintang yang menuju ke peron sembilan tiga perempat, jadi aku menerbangkan mobil ke Hogwarts. Aku tidak menduga mobil sialan itu bakal terlihat oleh Muggle dan lebih parah lagi, menabrak Dedalu Perkasa, pohon galak yang ditanam di tengah halaman. Siapa juga yang suka menanam pohon seperti itu di halaman.
Kasihan Dad, pikirku dalam hati. Aku tahu aku tidak akan melanggar peraturan lagi tahun ini karena Mom pasti benar-benar akan menjemputku sesuai ancamannya.
"Aku tak tahu apa yang kau harapkan, Ron, tapi kau..." kata Hermione, setelah menutup buku Vakansi dengan Vampirnya.
"Jangan bilang aku layak menerimanya," gertakku marah. Aku tidak ingin mendengar kata-kata mutiara Hermione setelah Howler dari Mom.
Tahun ini memang benar-benar tahun sial untukku; Howler, tongkat sihir patah, mendapat guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam – Profesor Lockhart – yang paling menyebal dan pemuja diri sendiri, dan muntah siput. Yang terakhir ini gara-gara di brengsek Draco Malfoy, dia menyebut Hermione sesuatu yang sangat tidak pantas dikatakan. Baiklah aku menyebutnya sekarang, Darah-Lumpur. Kalian mendengarnya? Dia menyebutnya itu benar-benar tidak pantas, jadi aku menyihirnya, niatku sih begitu, tapi Mantra Siput-nya malah kena aku dan seharian itu aku menderita sakit leher karena siput-siput itu.
Aku tidak ingin Hermione dikatai seperti itu. Meskipun cerewet, Hermione adalah orang yang berhati lembut. Dia tentu tidak mengerti mengapa dia dikatai seperti itu, tapi aku ingin melindunginya. Aku sudah pernah berjanji untuk melindunginya, dan aku tidak akan membiarkan si brengsek Malfoy menghinanya.
Sambil menghadapi baskom berisi siput aku memandang Hermione yang sedang dihibur oleh Hagrid.
"Dan mereka belum temukan mantra yang tak bisa dilakukan oleh Hermione kita ini," kata Hagrid bangga.
Wajah Hermione langsung memerah dan dia tersenyum.
Syukurlah! Dia bisa tersenyum, dia akan baik-baik saja. Dia sepertinya tidak terlalu terpengaruh dengan apa yang dikatakan Malfoy padanya.
Hermione POV
Apakah aku harus keluar dari Hogwarts? Ataukah sebentar lagi giliranku untuk diserang? Setiap kali melalui koridor kosong pertanyaan-pertanyaan seperti itu selalu ada dalam benakku. Tahun ini terjadi penyerangan pada anak-anak kelahiran Muggle. Semua ini ada hubungannya dengan Kamar Rahasia Slytherin yang telah dibuka. Ron curiga bahwa Malfoy-lah si Pewaris Slytherin, karena Malfoy tampaknya menikmati hari-hari penuh teror setelah kucing Filch, Mrs. Norris diserang. Jadi untuk membuktikan kecurigaan Ron, aku telah mencuri bahan-bahan ramuan dari lemari pribadi Snape dan memutuskan untuk membuat Ramuan Polijus.
"Kasihan Collin!" kataku pada Ron, saat kami sedang berada di toilet rusak Myrtle Merana. Kami baru saja mendengar McGonagall memberitahu Flitwick tentang Colin Creevey, siswa kelas satu Gryffindor. Dia telah dibuat membatu seperti Mrs. Norris. Karena itulah, Ron dan aku memutuskan untuk langsung merebus Ramuan Polijus.
"Dia akan baik-baik saja," kata Ron menenangkan. "Sari Mandrake akan mampu menghidupkannya kembali."
"Ya... aku tahu itu," kataku, tapi tak sepenuhnya tenang karena aku pun adalah kelahiran Muggle, Darah-Lumpur, seperti yang selalu diingatkan oleh Malfoy. Aku tahu suatu saat di hari-hari yang akan datang, pasti akan tiba giliranku untuk diserang, dibuat membatu atau mati dibunuh. Aku menggigil.
"Tenang saja," kata Ron, seperti membaca pikiranku. "Aku sudah berjanji untuk melindungimu, bukan? Kau akan baik-baik saja."
Aku tersenyum sekilas. Ron memang pernah berkata akan melindungiku, tapi aku tidak ingin dilindungi. Aku bukan Putri lemah lembut yang harus dilindungi, aku bisa melindungi diriku sendiri.
"Kalau nanti aku juga membatu, kau harus berjanji untuk melanjutkan membuat ramuan ini, mencatat di kelas Sejarah Sihir dan mencatat PR untukku. Oke!"
"Hermione, kau masih memikirkan PR di saat-saat seperti ini?"
"Mengerjakan PR adalah hal yang paling penting dalam hidup ini."
"Oke... oke, hentikan, aku tidak ingin bicara tentang PR saat ini," kata Ron, memandang ramuan yang berbuih di dalam kuali.
"Ini aku!" terdengar suara Harry dari balik pintu.
"Harry," kataku terkejut, setelah mengintip dan melihat Harry berdiri di depan pintu bilik. "Kau membuat kami terkejut sekali. Masuklah-bagaimana lenganmu?"
"Baik!" jawab Harry, masuk ke dalam bilik.
Harry memang mengalami kecelakaan dengan Bludger saat pertandingan Quidditch melawan Slytherin, tapi kelihatannya lengannya sudah kembali normal. Dia berceritakan tentang Colin ketika aku memotong perkataannya
"Kami sudah tahu, kami mendengar Profesor McGonagall memberitahu Profesor Flitwick tadi pagi. Itulah sebabnya kami memutuskan lebih baik kita segera mulai."
"Lebih cepat kita mendengar pengakuan Malfoy, lebih baik," kata Ron geram. "Tahukah kalian apa pendapatku? Dia marah sekali setelah pertandingan Quidditch itu, lalu membalasnya pada Collin."
Kemudian Harry menceritakan tentang Dobby dan tentang kamar rahasia yang pernah dibuka sebelumnya.
"Jadi, Dobby menghalangi kita naik kereta api dan mematahkan lengamu..." kata Ron, geleng-geleng. "Tahu tidak, Harry? Kalau dia tidak berhenti berusaha menyelamatkan hidupmu, dia akan membunuhmu."
Setelah itu terjadi serangan lain Justin Finch-Fletchley dan Nick Si Kepala-Nyaris-Putus hantu Gryffindor. Kali ini seluruh sekolah menuduh Harry yang telah melakukan penyerangan. Harry, yang telah menunjukkan dirinya sebagai Parselmouth, ditubuh sebagai pewaris Slytherin yang bertanggungjawab pada semua yang telah terjadi di Hogwarts. Jadi, aku tidak pulang liburan Desember ini karena Harry, Ron dan aku telah memutuskan untuk meminum Ramuan Polijus dan menyusup ke ruang rekreasi Slytherin untuk berbicara dengan Malfoy.
"Tunggu," kata Harry, saat kami hendak meminum Ramuan Polijus kami di kamar mandi rusak Myrtle Merana. "Kita sebaiknya tidak meminumnya sama-sama di sini. Begitu kita berubah jadi Crabbe dan Goyle, tempat ini tidak akan cukup. Dan Millicent Bulstrode juga tidak kecil."
"Pemikiran bagus," kata Ron, membuka kunci pintu, "Kita minum dalam bilik yang berlainan."
Dia dan Harry keluar dan meninggalkan aku dalam bilik tempat kami merebus Ramuan Polijus.
Aku menuangkan gelas yang berisi rambur Millicent Bulstrode ke dalam mulutku. Rasanya sungguh menjijikan, seperti rasa selada layu. Segera saja seluruh tubuhku terasa panas dan kepalaku sakit. Sesuatu seperti jarum-jarum tajam kelihatannya sedang tumbuh di permukaan kulit dan mataku juga terasa menusuk dan sakit. Aku bingung, perasaan ini bukan seperti yang tertulis dalam buku Ramuan-Ramuan Paling Mujarab tentang efek Ramuan Polijus. Kelihatannya aku melakukan kesalahan.
Setelah efek Ramuan Polijus itu menghilang dari sekitar kulit dan kepalaku, dia meraba wajahku dan merasakan bulu-bulu tumbuh di sekitar wajah. Aku berusaha untuk tidak menjerit nyaring. Oh, Merlin, sepertinya aku telah meminum Ramuan Polijus yang berisi bulu kicing. Sepertinya Millicent memelihara kucing.
"Ayo, kita harus pergi," seru Ron, menggedor pintu.
"Aku-kurasa aku tidak akan keluar. Kalian jalan saja tanpa aku," seruku. Suaraku terdengar melengking aneh. Hah, aku tidak mungkin keluar dengan tubuh penuh bulu seperti ini kan?
"Hermione, kami tahu Millicent Bulstrode jelek, tak akan ada yang tahu itu kau," kata Ron lagi.
"Tidak-betul-aku tidak akan ikut. Kalian berdua bergegaslah, kalian membuang-buang waktu."
"Hermione, apakah kau tidak apa-apa?" terdengar suara Harrry.
"Baik-aku baik... kalian pergilah..."
Setelah beberapa saat Harry berkata, "Kami akan menemuimu nanti disini, oke?"
Aku mendengar langkah kaki mereka meninggalkan toilet. Merlin! Apakah ini hukuman karena aku telah mencuri? Aku bertanya pada diri sendiri sambil menyandarkan diri di tembok toilet. Harusnya aku tidak mencuri tanduk Bicorn dan kulit Boomslang itu. Aku tidak akan pernah mencuri lagi, hukumanku mungkin akan lebih berat dari ini kalau aku mencuri lagi.
Ron POV
"Kau masih tidur dengan kartu itu di bawah bantalmu?" tanyaku ketika menjenguknya di rumah sakit dengan membawa PR.
Hermione telah tinggal di rumah sakit selama beberapa minggu karena Ramuan Polijus berisi bulu kucing Millicent Bulstrode yang menyebabkan seluruh tubuhnya berbulu. Dan seperti kunjunganku dan Harry sebelumnya, Hermione juga masih menyimpan kartu ucapan semoga cepat sembuh dari Profesor – aku sangat ganteng – Lockhart di bawah bantalnya.
"Biarkan aku Ron... Harry mana?"
"Latihan Quidditch... berikan kartunya padaku!" perintahku, menatap Hermione yang sudah benar-benar sembuh. Kulitnya telah kembali mulus dan matanya telah kembali berwarna coklat seperti biasa.
"Tidak... mana PR-ku," kata Hermione, cepat-cepat menyelipkan kartu ucapan itu dibawa bantalnya, sejak tadi dia memegangnya dan saat aku tiba tadi, dia sedang melihat ulang kartu itu.
"Aku akan menukarnya dengan kartu itu..."
"Ron, jangan mulai bersikap kekanak-kanakan... berikan PR-ku aku harus mengerjakannya," perintah Hermione, menatapku dengan tajam.
Aku bergeming.
"Oh, ini sangat konyol," kata Hermione, menarik jubah hitam Hogwarts-ku ke arahnya. "Berikan PR-ku, Ron!"
Aku terseret ke tempat tidur dan hampir saja menindihnya. Aku berhasil menjaga keseimbanganku dengan menahan tanganku yang bebas di pinggir tempat tidur, tanganku yang memegang perkamen PR berhasil kujauhkan dari jangkauan tangannya.
"Ron, berikan itu sekarang, atau aku akan..."
"Akan apa?" tanyaku menantang.
Hermione memandangku dengan marah, kemudian menarik dasi Gryffindor-ku membuatku terseret ke tempat tidur. Kami bergumul sesaat, tapi Hermione berhasil menduduk diri di atas perutku. Aku langsung mual dan ingin mengeluarkan isi perutku.
"Ugh! Turun sekarang, Hermione, perutku sakit!" kataku dengan nada tinggi.
"Tidak! Berikan PR-ku dulu," katanya licik.
"Oke..." aku mengulurkan perkamennya. Dan saat pertahannya sedang lengah karena sibuk memeriksa perkamen, aku menariknya ke arahku dan membuatnya terbaring di tempat tidur dengan aku berbaring di atasnya.
"Nah, Miss Know-It-All- Miss Sok Tahu, berikan kartu dari Lockhart itu padaku."
"Curang!" desisnya, memandangku dengan marah.
"Tidak juga..." kataku, menatapnya.
Kami bertatapan sesaat, tidak ada yang mau mengalah, dia memandangku dengan aneh, lalu...
"OH, MERLIN! Apa yang kalian lakukan? Dua belas tahun, tapi sudah melakukan hal-hal aneh!" terdengar suara kaget Madam Pomfrey.
Aku segera turun dari tempat tidur.
"Keluar, Mr. Weasley!"
"Kami tidak melakukan hal-hal aneh..." bantahku segera.
"Keluar! Atau aku tidak akan mengijinkanmu datang ke rumah sakit ini lagi," kata Madam Pomfrey dengan marah.
Aku memandang Hermione, yang sedang berusaha menahan tawa. Aku mendelik padanya dan keluar sambil mengumpat dalam hati.
Hermione POV
Beberapa bulan telah berlalu tapi aku tidak diserang atau dibunuh di tempat tidurku. Tetapi, aku curiga si Pewaris Slytherin sedang menunggu saat yang tepat untuk mengincarku. Harry, Ron dan aku sedang menuruni tangga pualam ketika Harry mendengar lagi suara-suara tanpa wujud dari dinding Hogwarts. Sesuatu terlintas dalam benakku. Suara-suara yang tidak kami dengar, tapi bisa didengar Harry. Jangan-jangan itu adalah...
"Harry-kupikir aku barus saja mengerti! Aku harus ke perpustakaan."
Aku berlari menaiki tangga pualam menuju ke perpustakaan. Tidak banyak orang dalam perpustakaan, yang ada di sana hanyalah seorang gadis kelas lima Ravenclaw. Semua rupanya lebih tertarik pada pertandingan Quidditch akhir semester, Gryffindor versus Hufflepuff. Aku segera berjalan ke rak yang bertuliskan Hewan-Hewan Fantasi dan mencari sebuah buku yang aku yakin memuat tentang monster yang sedang bersemayam di kamar rahasia.
Harry bisa mengerti monster ini karena dia bisa bicara bahasa ular, ayam-ayam jantan Hagrid yang mati dicekik, lalu laba-laba ketakutan. Semua anak yang diserang itu tidak mati karena mereka tidak melihat langsung mata monster itu. Akhirnya aku berhasil menemukan buku yang kucari, Hewan-Hewan Fantasi dan Di mana Mereka Bisa Ditemukan karya Newt Scamander. Aku mengeluarkannya dari rak dan mencari data tentang Basilisk. Setelah menemukan halaman yang memuat tentang Basilisk dan merobeknya, kemudian menulis pipa apa ujung perkamen itu. Aku yakin Basilisk pasti menggunakan pipa untuk berkeliaran di dalam Hogwarts karena itulah Harry mendengar suaranya di tembok batu.
"Mengapa kau merusak buku perpustakaan itu?" tanya si anak kelas lima Ravenclaw, memandangku dengan sangat heran.
"Oh, tak usah pedulikan... apakah kau berdarah murni?" tanyaku, memandangnya dengan serius.
"Apa hubungan status darahku dengan semua ini?" tanya si cewek Ravenclaw tersinggung.
"Kumohon ini sangat penting..." kataku dengan frustrasi. Mengapa cewek ini tidak mau bekerja sama?
"Aku kelahiran Muggle," jawabnya, dengan dagu terangkat.
"Oh... aku juga kelahiran Muggle," kataku cepat. "Dengar, aku sudah tahu tentang monster yang menyerang para kelahiran Muggle... dia adalah Basilik."
"APA?" jerit cewek itu terkejut. "Itukan monster yang bisa membunuh dengan pandangannya."
"Ya, kita harus berhati-hati. Kita harus memeriksa setiap koridor dengan cermin untuk memastikan kita tidak diincar oleh makhluk itu."
"Terima kasih sudah memberitahuku," kata cewek itu tersenyum. "Aku Penelope Clearwater."
"Hermione Granger," kataku otomatis.
"Yuk, kita memberitahu para profesor," katanya.
"Baiklah!" kataku.
"Kau punya cermin," tanya Penelope.
"Tidak," jawabku singkat. Aku bukan cewek yang ke mana-mana membawa cermin dalam tas. Aku tidak sepesolek itu.
Dia mengeluarkan sepotong cermin kecil dari tasnya dan memberikannya padaku. "Ini untukmu!"
Dia sendiri mengeluarkan sebuah cermin lain. Wah, ini dia cewek pesolek sejati, punya dua cermin dalam tas.
"Ini bukan punyaku," kata Penelope, seolah membaca pikiran. "Temanku menitipkannya padaku."
"Oh, maaf... aku..."
"Lupakan... yuk, kita harus segera memberitahu para profesor, kan?"
Dengan cermin ditangan masing-masing, kami berjalan menyusuri koridor kosong menuju ruang guru. Tiba-tiba sesuatu dengan bunyi seperti diseret bergerak di belakang kami. Aku memandang ke dalam cermin dan sepasang mata kuning besar muncul dalam cermin, setelah itu kesadaranku hilang.
Ron POV
Hermione telah dibuat membatu. Dan aku adalah orang yang tidak berguna, segala sesuatu yang aku lakukan tidak menghasilkan sesuatu yang berharga. Aku terlalu asyik dengan diriku sendiri sampai melupakan sahabatku yang berharga. Aku bahkan tidak mampu menghadapi para acromantula itu.
Yang paling membuatku sedih adalah Ginny, dia juga telah dibawa oleh si Pewaris Slytherin ke tempat si Basilisk itu. Harry dan aku akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat Lockhart dan membantunya untuk menyelamatkan (mudah-mudahan bisa selamat) Ginny.
Apa yang kami temukan tidak terlalu mencengangkan juga. Gilderoy-aku sangat ganteng-Lockhart ternyata adalah seorang pengecut, yang memanfaatkan kemampuannya dengan Jampi Memori untuk menghapus ingatan semua narasumbernya dan menjadikan dirinya terkenal dengan pengalaman orang lain. Dia juga berniat menghapus ingatan Harry dan aku, tapi kami berhasil menyudutkannya dan membawanya bersama kami ke kamar rahasia.
Tetapi si brengsek itu tidak menyerah juga dia merebut tongkat sihirku yang ber-Spellotape dan mencoba menghapus memori kami dengannya, tapi dia malah terkena mantra yang terbalik. Koridor di depan kami runtuh karena kekuatan mantra itu, menyebabkan kami dan Harry terpisah.
"Ron!" Harry berteriak dari sebelah reruntuhan. "Kau tak apa-apa? Ron!"
"Aku di sini..." jawabku, menyingkirkan kerikil reruntuhan yang menutupi pandanganku. Aku melihat Lockhart terbaring di dekatku, pingsan atau mati, aku tidak tahu. "Aku baik-baik saja, tapi si sinting ini tidak-dia kena ledakan tongkat."
Aku menendang tulang kering Lockhart untuk memastikan dia tidak mati. Lockhart menjerit. Bagus, dia tidak mati.
"Bagaimana sekarang?" tanyaku putus asa. Aku tidak bisa menembus reruntuhan ini. Kalaupun bisa mungkin akan menghabiskan waktu karena aku harus menggalinya dulu-dan Ginny... bisa saja Ginny sudah... aku tak mau memikirkannya.
"Tunggu di situ," terdengar suara Harry, yang dimantap-mantapkan. "Jaga Lockhart. Aku akan jalan terus. Kalau aku tidak kembali dalam waktu satu jam..."
Harry tidak melanjutkan kata-katanya. Aku mengerti, semua terasa tidak pasti.
"Aku akan menggeser beberapa karang ini," kataku mantap. "Supaya kau bisa-bisa lewat nanti. Dan Harry..."
"Sampai nanti..." kata Harry.
Aku mendengar langkah kaki Harry menjauh di sebelah reruntuhan. Kemudian aku membantu Lockhart berdiri dan membersihkannya dari kerikil. Dia sepertinya tidak mampu melakukan apa-apa dengan tangannya sendiri.
"Kau tinggal di sini?" tanya Lockhart, memandang berkeliling.
"Tidak," jawabku singkat, membantunya duduk di pojok ruangan.
"Tempat yang aneh..." katanya lagi.
Aku tidak menjawab, tapi mulai bekerja mengeser reruntuhan karang yang memenuhi koridor.
"Mengapa kau membiarkan temanmu pergi sendiri?" tanya Lockhart.
"Aku tidak bisa lewat, bagaimana kau bisa pergi bersamanya," jawabku, terus bekerja menggeser karang.
"Kalau kau bisa lewat kau akan pergi bersamanya. Artinya kau adalah sahabat yang baik."
"Dia bukan sekedar sahabatku. Dia sudah seperti saudaraku..." kataku.
"Apakah dia menganggapmu seperti saudara juga?"
"Aku tidak tahu, tapi aku yakin Harry pasti menganggapku seperti itu."
"Kukira kau akan selalu bersama disetiap kesempatan."
"Aku mencoba untuk selalu bersamanya setiap saat, tapi aku memang tidak akan selalu ada bersamanya. Dia punya takdirnya sendiri, sedangkan aku punya kehidupanku sendiri. Kau juga begitu, semua orang punya bagian masing-masing dalam kehidupan ini. Ada yang menjadi yang utama ada juga yang menjadi pelengkap saja. Saat ini mungkin kau ada di puncak, tapi setelah itu kau juga akan jatuh pada keadaan yang lebih rendah. Nah, begitulah yang terjadi denganmu, kau dulu adalah seorang penulis terkenal, tapi sekarang kau akan menjadi pasien tetap St. Mungo."
"Bicaramu terlalu panjang. Aku sama sekali tidak mengerti satu katapun."
"Tidak apa-apa... aku juga tidak mengharapkanmu untuk mengerti," kataku, terus menggeser karang.
Hermione POV
Aku membuka mata dan memandang langit-langit. Bau ramuan yang mirip bau antiseptik rumah sakit Muggle tercium di udara. Aku ada di rumah sakit. Aku bergerak bangun dan memandang berkeliling.
"Oh, kau sudah sadar," kata Madam Pomfrey muncul dari pintu kantornya.
"Apa yang terjadi?" tanyaku.
"Kau dibuat membatu oleh Basilisk, dan kau sudah sembuh total berkat Ramuan Restoratif Mandrake."
"Oh, ya, benar..." kataku, teringat mata kuning besar dalam cermin. "Mereka berhasil menyingkirkan Basilisk itu kalau begitu."
"Ya, sekarang mereka sedang berpesta... kau boleh turun mengikuti pesta... semua orang sedang bersantai," kata Madam Pomfrey tersenyum.
"Terima kasih, Madam Pomfrey," kataku tersenyum, turun dari tempat tidur dan berlari keluar dari rumah sakit menuju aula besar.
Aula Besar seperti biasa penuh dengan anak-anak yang ramai berceloteh. Aku berlari ke meja Gryffindor mendapatkan Harry dan Ron.
"Kau memecahkannya! Kau memecahkannya!" kataku berteriak sambil memeluk Harry.
Harry hanya tersenyum, kemudian pandanganya beralih pada Justin yang datang dari meja Hufflepuff untuk berjabat tangan dengannya dan tak henti-hentinya minta maaf karena telah menuduh Harry.
Aku berpaling memandang Ron, yang menatapku. Suasana jadi terasa aneh. Aku berdiri canggung di depannya sambil memandang kakiku. Apakah aku harus memeluknya juga atau tidak, ya?
"Makanlah," kata Ron, mengabaikan sikap canggungku. "Kau sudah berhari-hari tidak makan kan?"
"Benar juga," kataku, menyadari bahwa aku sangat kelaparan. Aku duduk di sampingnya dan mulai menarik semua makanan ke arahku.
"Maafkan aku," kata Ron perlahan sehingga cuma aku yang bisa mendengarnya.
"Untuk apa?" tanyaku heran.
"Aku tidak bisa melindungimu..."
"Oh, Ron, lupakan itu... aku bisa melindungi diriku sendiri... dan sekarang jangan bicara lagi."
"Mengapa kau melarangku untuk bicara?"
"Karena aku ingin makan dengan tenang, oke!"
"Kau tidak ingin mendengar apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Ron lagi.
"Kau bisa menceritakannya padaku nanti... kita punya waktu semalam suntuk, kan?" aku mengabaikan Ron yang sudah ingin menceritakan segala pengalamannya dan beralih pada daging berbumbu di depanku.
Tahun ini memang tahun yang aneh, tapi aku telah berhasil melaluinya. Mudah-mudahan tahun depan kehidupanku di Hogwarts lebih baik dari sekarang.
Howler Mrs. Weasley: Harry Potter dan Kamar Rahasia, hal. 111-112
Muntah siput di pondok Hagrid: Harry Potter dan Kamar Rahasia, hal. 145
Merebus Ramuan: Harry Potter dan Kamar Rahasia, hal. 227-228
Ramuan Polijus: Harry Potter dan Kamar Rahasia, hal. 269-271
Hermione mengerti tentang Basilisk: Harry Potter dan Kamar Rahasia, hal. 316
Ron dalam kamar rahasia: Harry Potter dan Kamar Rahasia, hal. 377
READ AND REVIEW, PLEASE.
Riwa :D
