Lesson 1

Awalnya, Baekhyun tidak bisa berpikir tentang pelajaran yang dimaksud oleh sang Daddy. Tidak, sampai lelaki tinggi tampan itu melucuti pakaiannya malam itu.

"Daddy…." Baekhyun merengek karena ketakutan. Tubuhnya sudah telanjang bulat, di depan Chanyeol yang tersenyum.

Bagi Baekhyun, senyuman Chanyeol tak lebih dari intimidasi seorang pedofil.

Oh, tentu saja Chanyeol bukan pelaku pedofilia, mengingat jarak usianya dengan Baekhyun hanya sebelas tahun saja.

"Sayang, kau tak perlu malu di hadapanku." Chanyeol perlahan mengelus punggung Baekhyun, memberikan sengatan aneh pada diri gadis itu.

"Tidak, Daddy. Tidak…. Ini salah…" Baekhyun semakin memundurkan tubuhnya.

Naas, semakin Baekhyun mundur, semakin ia terjebak di antara tubuh Chanyeol yang masih mengenakan jas kerjanya, dan semakin pula Chanyeol bisa melakukan apa saja kepadanya.

"Sayang, kau sudah menguasai ciuman dengan baik, sekarang waktunya kita belajar setingkat di atasnya."

Baekhyun menggeleng.

Chanyeol menyerah, dan akhirnya hanya mengecupi tengkuk Baekhyun, terkadang juga turun di bagian pundaknya yang putih bersih itu. Wangi strawberry semerbak dari tubuh mungil itu. Dan tak sadar saja, Chanyeol menghisap kuat curuk leher Baekhyun yang membuat gadis itu mendesah kencang.

"Nghhhhhh, hentikan….."

Chanyeol menyeringai.

"Putri kecil." Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Baekhyun. "Bukankah itu nikmat?" Kecupannya menurun, dan dihisapnya kencang-kencang.

Bohong bila Baekhyun tak merasakan nikmat apapun.

"Daddy akan memberikanmu kenikmatan yang lebih dari ini." Chanyeol kemudian melepaskan tubuh Baekhyun, dan menatap mata indah itu dalam-dalam. "Kau mau sayangku?" tangannya membelai wajah Baekhyun dengan sangat hati-hati.

Apakah Baekhyun punya pilihan lain?

Sebenarnya, iya.

Namun entah setan apa yang merasuki gadis itu sehingga ia mengangguk dengan pasrah.

"Bagus sayang."

Chanyeol membuka belitan tangan Baekhyun yang melindungi tubuh telanjangnya. Diendusnya kulit gadis itu dari kening, turun di seluruh wajah, dagu, leher, dada….kemudian menjilat kedua putingnya secara bergantian. Endusan itu berlanjut ke perut, turun ke selangkangan, dimana Chanyeol mengendusnya dengan intens, membuat bulu kuduk Baekhyun berdiri tegak.

"Sayang, kau merawat tubuhmu dengan sangat baik." Chanyeol tersenyum.

Baekhyun hanya bisa menatap pria di depannya itu dengan takut-takut.

"Tapi sayang, kupikir putingmu masih terlalu gelap untuk menjadi kesukaanku." Kedua tangan Chanyeol dengan ahli memelintir kedua putting Baekhyun, membuat gadis itu menahan racauannya dengan cara menggigit bibir bawahnya kencang-kencang. "Tapi jangan khawatir, aku akan membeli obat oles untuk membuatnya merona sempurna." Chanyeol terkikik, dan mecubit putting Baekhyun dengan kencang.

"Mphhhhh…"

"Kau menikmatinya, sayang…." Chanyeol kembali memainkan kedua putting itu dengan seirama. "Kita lihat, apa kau menikmati ini juga." Kepalanya menunduk, mengecup putting sebelah kiri Baekhyun, dengan tangan kanan yang tidak berhenti memainkan putting sebelah kanan Baekhyun.

"Nghhhhh…" Baekhyun menggeleng karena ia mulai kepayahan.

Chanyeol menyerinyai, "Tidak perlu ditahan, sayang. Mendesahlah….. Dan nikmati apa yang Daddy lakukan untukmu."

Selanjutnya Chanyeol tidak berkata apapun lagi. Lidahnya terjulur keluar menggapai-nggapai putting kiri Baekhyun yang mulai mengeras. Suara desahan Baekhyun yang pelan—gadis itu masih takut-takut melepas hasratnya—menjadi lagu yang sempurna saat Chanyeol mulai menjilat putting sebelah kirinya.

Baekhyun tak dapat berhenti menggelinjang saat kedua putingnya menjadi mainan. Antara nikmat dan sakit, ia juga tak terlalu jelas. Gigitan pertama Chanyeol pada putingnya jelas menyisakan rasa perih, namun dapat segera reda saat pria tampan itu menghisap kuat-kuat putingnya, dan menyisakan erangan-erangan nikmat di bibir Baekhyun.

"Daddy…" tatapan mata Baekhyun tak lagi fokus ketika Chanyeol berbalik mengerjai putting kanannya dengan mulut yang lihai itu. Baekhyun dapat merasakan putting kirinya yang membengkak sedang dielus-elus Chanyeol agar putting itu tetap mengeras.

Dan lagi-lagi, erangan nikmat itu terdengar saat putting kanannya dihisap kuat-kuat.

Hingga saat itu tiba, ya Baekhyun akhirnya merasakan ada yang aneh dari selangkangannya. Kedua kakinya bergerak-gerak tak nyaman, sampai-sampai Chanyeol bangun dari atas dadanya.

"Well, well, nikmat yang luar biasa kan, sayang?" Chanyeol sengaja menyapukan lidahnya di sekitar bibirnya.

Dibukanya selangkangan Baekhyun, dan benar saja, cairan itu sudah mengalir, namun tidak deras dari dalam pusat kewanitaan Baekhyun. Kedua jari Chanyeol kemudian bergerak, merasakan cairan itu, lalu dengan sengaja mengusap-ngusap labia Baekhyun.

Baekhyun tidak tahan untuk tidak mendesah.

"Sensitif sekali ya, sayang?" Chanyeol tersenyum saat ibu jarinya menekan keras klitoris Baekhyun.

Saking kerasnya, hingga Baekhyun merasakan nyeri yang luar biasa saat klitoris itu ditekan. Desahannya mengencang, tentu saja, sembari Chanyeol berharap melepaskan klitorisnya yang perlahan-lahan membengkak, sebesar biji kacang hijau.

Semakin bengkak klitoris Baekhyun, semakin banyak pula cairan yang keluar daridalam vaginanya. Dan semakin juga Chanyeol tak dapat menahan hasratnya untuk memasuki gadis itu.

Ah, tapi tidak….tidak dulu.

Chanyeol masih dapat menahan diri, karena ia ingin meruntuhkan tembok itu di saat Baekhyun sudah 'lulus' dan siap. Chanyeol jelas tak ingin putri kecilnya yang cantik jelita itu pada akhirnya ketakutan dan mengganggapnya sebagai pria bejat.

Oleh karena itu, Chanyeol harus berpuas diri dengan kedua jarinya—telunjuk dan jari tengah yang perlahan-lahan memasuki lubang kewanitaan Baekhyun yang sempit.

"Daddy…. Jangan…." Rintih Baekhyun. Bagaimanapun ini adalah pertama kalinya Baekhyun merasakan benda itu masuk ke vaginanya. Tidak perih sebetulnya, karena cairan yang keluar akibat rangsangan dari putting dan klitorisnya itu lumayan deras.

"Tapi ini nikmat, sayangku…." Chanyeol memaju mundurkan kedua jemarinya di lubang Baekhyun yang licin. Perlahan-lahan…..hingga Baekhyun meracau lirih.

Desahan itu mengencang, seirama dengan bunyi decitan yang diciptakan jemari Chanyeol karena terlalu kencang bergumul di lubang vagina Baekhyun. Semakin dalam jemari itu masuk, seakan vagina Baekhyun adalah vacuum yang dapat menelan siapa saja. Chanyeol bahkan dapat merasakan dinding itu, tapi tentu saja ia tak berminat merusaknya hanya dengan telunjuk dari jari tengah.

"Daddy… jangan… ughhhh…."

"Jangan apa sayang?" Chanyeol kembali menyeringai.

Tentu saja sebenarnya ia mengetahui jawabannya. Gadis kecilnya itu mungkin sedikit kesal karena jemarinya terhenti sebentar karena tak ingin merusak keperawanan Baekhyun.

Karena Chanyeol tak kunjung menambah kecepatan gerakannya, Baekhyun-pun berinisiatif untuk menggoyangkan pinggulnya. Chanyeol? Tentu saja ia senang! Ia tak menyangka saja, putri kecilnya itu dapat segera menerima pelajarannya dengan baik.

"Nikmat ya sayang?"

Vagina itu berkedut, berakibat dengan jemari Chanyeol yang semakin ditarik masuk. Baekhyun menutup matanya dan berteriak semakin kencang. Ada hasrat dari dalam tubuhnya yang mendesak keluar. Rasanya….seperti ingin kencing.

Tapi Baekhyun tak mungkin mengencingi Daddynya, kan?

Karena itu, gadis kecil bermata sipit itu justru menahannya…..mengejang…..dan mengempit kedua jari Chanyeol sedekimian rupa.

Chanyeol tak bodoh, ia tahu Baekhyun akan segera tiba di puncak gairahnya.

"Kau menahannya sayang?" Chanyeol terkikik. "Itu bagus, karena biasanya aku akan meminta gadisku untuk memohon, sebelum membiarkan mereka mengeluarkan cairan cinta."

Baekhyun menggigit bibirnya, mencoba menahan lebih lama lagi.

"Dan aku rasa, aku tak perlu lagi mengajarimu untuk menahan orgamesmu, sayang." Chanyeol mengeluar-masukkan jarinya semakin cepat.

"Daddy….. jangan… Ah… Daddy….Ahhhhh…."

Semakin cepat…. Semakin cepat….

Sampai akhirnya Baekhyun tidak sanggup lagi menahan.

Dan cairan itu-pun datang, membasahi jari-jari Chanyeol, yang dibalas dengan seringaian oleh pria dua puluh sembilan tahun itu. Lalu, ditarik tangannya, dan lidahnya menjilati sisa-sisa cairan Baekhyun di sela-sela jarinya.

Mata Baekhyun tak dapat berkutik, hanya memancarkan cahaya penuh kebingungan yang ditujukannya kepada Chanyeol. Vaginanya masih berkedut-kedut dengan cairan yang masih memenuhi sekitarnya. Nafasnya naik turun dengan berat, dan tiba-tiba saja ia merasa badannya hancur.

Ia diadopsi hanya untuk menjadi budak Daddynya.

Tapi ia bisa apa?

Entahlah, Baekhyun akan memikirkannya nanti. Tapi sekarang yang pasti, ia harus tidur. Ia lelah setelah sesi pelacurannya dengan sang ayah angkat.

Malam-malam berikutnya, Baekhyun juga dihadapkan oleh ayah angkatnya yang menurutnya kurang ajar itu. Namun Baekhyun heran, mengapa Chanyeol tak kunjung mengambil keperawanannya?

"Baby."

Suara berat itu mengagetkan Baekhyun.

"Daddy." Baekhyun sebisa mungkin menyambut ayah angkatnya yang sepertinya baru pulang itu. Gadis itu memakai dress berpola chery dengan tali spaghetti.

Chanyeol memeluk tubuh mungil itu sebelum mengangkatnya dengan mudah. Diciuminya bibir Baekhyun hingga merona hebat.

"Kita makan malam di luar."

Itu bukan suatu ajakan, itu lebih seperti perintah.

"Bibi Kim akan mendadanimu. Dan kuharap, kau sudah siap dalam waktu empat puluh lima menit." Didudukkannya tubuh mungil itu di ranjangnya, dan kembali menyesap bibir merona itu.

"Tapi daddy….. Untuk apa makan malam di luar?"

Chanyeol tersenyum, "Kau perlu mengenal beberapa temanku, sayang."

Hingga tak lama kemudian, kehadiran Chanyeol tergantikan oleh bibi Kim yang bermuka dingin.

Baekhyun tidak pernah mengenal wanita ini. Yang ia kenal hanyalah seorang asisten wanita muda bernama Hwang Miyoung yang memiliki senyuman mata yang indah. Dan Miyoung, tentu berbanding terbalik dengan bibi Kim yang nampak menyebalkan itu.

"Bibi, itu sakit." rintih Baekhyun ketika bibi Kim menarik ikalnya terlalu kencang.

"Kupikir sakitnya tidak ada apa-apanya ketimbang apa yang dilakukan Tuan Park padamu." Kata bibi Kim dengan culas.

Baekhyun memandang nanar wanita tua itu dari depan cermin, "Bibi, apa maksudmu?"

Wanita tua itu mendengus dan balik menatap mata Baekhyun dengan tajam.

"Daddy tidak pernah menyakitiku seperti itu."

Bahkan Chanyeol belum merusak keperawanannya. Dan segala hisapan, jilatan, juga permainan jari itu, tidak satupun yang dapat dikategorikan sebagai siksaan. Toh pada akhirnya Baekhyun juga merasakan enaknya juga.

"Jangan berbohong padaku, pelacur kecil."

"Aku bukan pelacur!"

"Tidak ada seorang pelacur-pun yang mengakui dirinya sendiri." Bibi Kim mengangkat tangannya, memberikan tanda bahwa ia selesai merias gadis itu. "Dan kau pikir Tuan Park mengadopsimu untuk apa kalau bukan untuk tubuh perawanmu?" ia kemudian membereskan peralatannya. "Kita lihat saja, sampai kapan Tuan Park akan menyukaimu, sebelum membuangmu seperti sampah busuk yang tak berharga."

Tangan Baekhyun terkepal, dengan hati penuh luka.

Baekhyun memandang grilled seabass-nya dengan tatapan tidak tertarik. Biasanya, ia akan makan lahap bila dihadapkan oleh hidangan ikan-ikanan. Tapi entahlah, perkataan bibi Kim tadi membuyarkan seluruh moodnya malam bahkan tak sedikitpun membuka mulut saat keempat teman Chanyeol—dua lelaki seumuran Chanyeol, dan dua wanita seumuran Baekhyun—mengobrol dengan penuh kekeluargaan.

"Baekhyun ssi, kau tak memakan seabassmu?" tanya wanita yang mengenalkan dirinya sebagai Kim Junmyeon. "Ah, memang seabass di sini kurang nikmat. Kau mau menukarnya dengan makanan lain?"

Kemudian wanita lain yang bernama Kim Minseok ikut menimbrung, "Foie grass di sini patut diacungi jempol, kau harus mengganti ikanmu dengan itu, Baekhyun ssi."

Chanyeol ikut memandangi Baekhyun dengan muka khawatir. Dielusnya puncak kepala Baekhyun yang semakin menundukkan kepalanya.

"Aku ingin ke toilet." ujar Baekhyun, akhirnya.

"Kami akan menemanimu." Minseok segera menarik tangan Junmyeon untuk mengekori Baekhyun.

Baekhyun tidak melakukan apapun, melainkan terpaku di sudut kanan cermin di toilet mewah itu. Minseok dan Junmyeon segera mengapitnya dengan kuatir.

"Baekhyun ssi, kau kenapa?" Junmyeon kali ini yang membuka mulut.

Baekhyun menggeleng.

"Tak seharusnya kau berduka di malam seindah ini." Minseok menepuk pundak Baekhyun. "Daddy Lu akhirnya pulang dan mengajakku makan malam setelah sebulan ia mengurus perusahaannya di Beijing. Dan kupikir kau juga seharusnya berbahagia karena Daddy-mu akhirnya mengenalkanmu kepada kami."

Mendengar kata Daddy, mata Baekhyun akhirnya membola.

"Minseok ssi, Luhan ssi, adalah Daddymu?"

Minseok mengangguk dengan semangat.

"Dan Kris adalah Daddyku." Junmyeon menimpali.

"Minseok ssi, Junmyeon ssi, kita ini….sebenarnya apa?"

~^~^~Bersambung~^~^~

What the fucking hell I just wrote?! =_= Ini ga sampe 2000words tapi ngetiknya capek bo! Maklum jg, penulis baru, hehehehe. Dan btw, ffn lagi errorkah? Aku ga bisa baca review kalian Y_Y Padahal pengen banget ngebalesin satu-satu. Next, bakalan diupdate kalo reviewnya di atas 25! Gimana? Bisa ga ya kira2?