Title : The Wrong Love Poison
Cast : VIXX - N, Leo, Ken, Ravi, Hongbin, Hyuk
Pairing : Keo, Navi, slight!Hyukbin
Rate : T
Genre : Romance, drama, mystery
Chapter : 1/5
CHAPTER I
=Jealousy=
Pagi di dorm VIXX seperti biasa. Hanya terdengar suara adukkan secangkir kopi dari manager yang memang sudah bersiap untuk pergi entah kemana. Selagi yang lain masih tertidur pulas.
"Ng? Manager hyung?" ujar N yang baru saja keluar dari kamar sambil masih mengusap-usap mata kantuknya.
"Oh. Pagi Hakyeon-ah.."
"Pagi.."
N lalu beranjak mengambil segelas air putih, dan langsung meneguknya habis. Saat itulah ia sadar bahwa manager memakai pakaian yang rapi, dan ada koper di dekat pintu leluar.
"Kau mau pergi, hyung?"
"Oh iya, aku lupa bilang. Aku ada acara keluarga selama beberapa hari di luar kota. Mungkin aku baru akan pulang 5 hari ke depan. Tolong kau jaga dongsaeng-mu, ya." Ujar manager sambil membenahi kembali barang-barangnya.
"Cih. Terlalu mendadak." Gerutu N. "Kapan kau akan berangkat?"
"Sekarang. Sudah, ya? Aku takut ketinggalan kereta. Annyeong, Hakyeon-ah!"
"Ne. Hati-hati di jalan, hyung!"
Manager-pun keluar dari dorm.
Hakyeon menghela nafas sebelum menutup pintu. Sedikit kesal dengan kelakuan manager yang terkadang memang pelupa. Dan akhirnya, semua harus dilakukan mendadak. Tapi dia memaklumi. Manager juga pasti lelah mengatur semua urusan 6 remaja yang terkadang susah diatur. Hyuk yang sering merengek minta ini-itu. Ken yang sering tiba-tiba berisik tanpa alasan. Ravi yang sangat susah untuk dibangunkan. Leo yang hanya diam bila ditanya atau dimintai sesuatu. Hongbin yang setiap hari hanya berkutat dengan gadget atau SLR-nya. Dan N sendiri yang terkadang suka seenaknya memerintah atau memutuskan sesuatu tanpa persetujuan manager.
Adakalanya N merasa kasihan pada pria itu. Dan mungkin liburan 5 hari, bisa sedikit membebaskan manager-nya dari beban.
.
.
.
.
.
N beranjak kembali ke kamar, setelah selesai menyiapkan sarapan untuk dongsaeng-nya. Seperti biasa, Leo dan Hyuk yang pertama ia bangunkan. Karena paling mudah memang membangunkan kedua orang ini. Selanjutnya Hongbin, lalu Ken. Barulah terakhir Ravi yang tidur sendirian di ruang pakaian.
"Wonsik-ah.. Palli ireona.."
Tak ada jawaban.
"Ya! Bangun, Ravi!"
Bukannya bangun, tangan Ravi malah tak sengaja menghempas bahu N. N yang saat itu juga sebetulnya masih lemas pun jatuh. Sedikit meringis karena jatuh di atas Ravi. Dan ketika membuka mata, Ia sadar jarak antara wajah mereka tak begitu jauh. Cukup dekat untuk merasakan hembusan nafas yang keluar dari hidung Ravi. Tak ada yang aneh bagi N, karena memang tak ada apa-apa antara dia dan Ravi. Tapi entah kenapa, Ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari wajah Ravi.
"Jangan menatapku seperti itu, hyung. Cepatlah menjauh. Aku sulit bernafas kalau kau terus ada di atasku." Suara Ravi terdengar, meski sang rapper belum terlihat membuka matanya.
N sedikit kaget, kemudian langsung menjauh dari tubuh Ravi.
"Maaf." Gumamnya pelan. Diperhatikannya Ravi yang tengah mencoba mengangkat tubuhnya sendiri.
"Tak perlu minta maaf. Kau tak melakukan kesalahan, kan?"
N memutar bola matanya.
"Cepat bangun. Sikat gigi dan cuci mukamu. Semua sudah menunggu untuk sarapan. Setelah itu berangkat ke kantor manajemen untuk latihan." Ucap N sembari beranjak dari tempatnya sekarang. Ia berjalan perlahan ke arah pintu. Tapi kemudian berbalik. "Manager tidak ada di dorm selama 5 hari. Tolong urus Hongbin dan Hyuk... Biar aku yang mengatur Leo dan Ken."
"Kenapa harus aku?"
"Karena kau yang paling dewasa di antara dongsaeng line. Kumohon, Ravi.. Aku tak mungkin bisa mengurus kalian semua tanpa manager. Aku percaya padamu."
Ravi merasakan wajahnya memanas. Namun ia tetap mengangguk. "Baiklah."
"Terima kasih." Ucap N lembut sambil tersenyum. Kemudian langsung beranjak keluar dari 'kamar' Ravi.
Oh, betapa Ravi mengagumi senyuman itu.
.
.
.
.
.
"Hyuk! Hongbin! Sampai kapan kalian mau main-main?! Cepat sarapan, lalu bersiap!" Teriak Ravi, mulai menjalankan tugasnya.
"Aku tidak lapar!" Ucap Hyuk sambil masih asyik dengan game di iTouch-nya.
"Lapar atau tidak lapar, kau harus sarapan! Kau tidak mau pingsan saat sedang latihan, kan?!"
Tak ada jawaban dari Hyuk. Maknae itu malah makin asyik dengan game-nya. Ravi menghela nafas singkat. Kemudian matanya menangkap sosok Hongbin yang berlalu begitu saja di sampingnya. Di tangan sang visual, terdapat SLR kesayangannya. Ravi kemudian merebut benda itu.
"Ya! Kembalikan SLR-ku!"
"Tidak, sebelum kau beranjak sarapan!"
Hongbin mencoba meraih SLR-nya, namun Ravi mengangkat lebih tinggi lagi.
"Ya! Kenapa kau belagak seperti leader?! Jangan mentang-mentang manager tidak ada, kau jadi seenaknya!"
"Justru manager yang memintaku untuk mengurusmu dan maknae!"
"Geotjimal! Kembalikaaan!"
.
.
-Sementara itu-
"Taekwoonnie hyung! Kau mau aku suapi? Buka mulutmu! Aaaa~"
Ken membuka mulutnya, mengisyaratkan Leo untuk juga membuka mulutnya. Leo dengan malas membuka mulutnya, dan Ken dengan bangga memasukkan sendok penuh nasi dan lauk ke mulut hyung kesayangannya itu.
N yang duduk di depannya memperhatikan keduanya. N tahu, meski Leo bersikap dingin dalam membalas perlakuan Ken padanya, Leo senang. Ya, N tahu kalau Ken dan Leo saling menyukai. Terlihat jelas dari perlakuan Ken terhadap Leo. Mengikutinya kemana pun ia pergi, dan selalu mencoba mengambil perhatian Leo hanya untuknya. Meski sekilas Leo terlihat kesal, tapi ia tak pernah menolak ataupun mencoba menjauhi Ken. Leo selalu menerima perlakuan Ken. Setidaknya itu yang dinamakan naif, bukan?
Kenapa N tahu? Karena N selalu memperhatikan Leo. Apapun yang main vocal itu lakukan, N tahu apa yang ada di balik otak Leo. Begitu pun senyuman tipis yang Leo perlihatkan ketika Ken tengah ber-aegyo ria di depan semua orang.
Kenapa N memperhatikan Leo? Mudah. N juga menyimpan perasaan pada Leo. Tapi tak pernah ia ungkapkan. Ia tak ingin menyakiti hati Ken, dongsaeng-nya sendiri. Tapi terkadang hatinya yang tersakiti juga sudah tak kuat menahan rasa sakit. Ingin rasanya N menarik Leo menjauh dari Ken. Sejauh mungkin, hingga mereka tak bisa melihat satu sama lain lagi.
Tapi N tak pernah bisa melakukannya.
.
.
.
.
.
Enam jam mereka habiskan di ruang practice. Sudah tak terhitung berapa kali musik berputar di ruangan tersebut. Sudah tak terhitung pula berapa botol air mineral yang dihabiskan oleh setiap member. Semua itu mereka lakukan untuk meningkatkan kualitas bakat mereka, dan demi kesenangan fans.
"Kurasa cukup untuk hari ini." Ucap sang leader.
"Aaa... Akhirnya!" Keluh Hyuk dan Hongbin. Keduanya langsung jatuh lemas ke lantai ketika musik berhenti.
"Aku bisa gila karena perut ini.." Ucap Hongbin, diiringi anggukan dari Hyuk.
"Siapa yang tadi pagi memilih untuk tidak sarapan hanya karena SLR dan iTouch-nya aku sembunyikan?" Sindir Ravi sembari duduk bersandar di tembok dekat Hongbin dan Hyuk tergeletak.
"Setidaknya kami tidak pingsan seperti yang tadi pagi kau katakan." Hyuk me-mehrong-kan lidahnya pada Ravi.
"Ne. Dan Kau berjanji akan mengembalikannya setelah pulang dari sini." Tagih Hongbin.
"Kalau aku masih ingat di mana aku sembunyikan barang-barang itu."
"YAA!"
"Haha! Sudah, sudah.. Jadi kalian lapar? Kalau begitu biar aku belikan makanan untuk kalian." Ucap N, sembari mengaduk-aduk isi tasnya. Mencari dompetnya.
"Yeeyy! Traktiran dari N hyung!" Ucap Hongbin dan Hyuk girang, tanpa beranjak dari posisi mereka.
"Perlu aku temani, hyung?" Ravi menawarkan diri.
Namun N menggeleng. "Tidak. Kau pasti lelah, kan? Biar aku saja."
"Aku tahu kau pasti juga lelah." gumam Ravi dalam hatinya. Tapi senyuman N membuatnya tak bisa membantah lagi, dan membiarkan sang leader melakukan apa yang ingin ia lakukan sendiri.
.
.
.
.
.
N berjalan menuju pintu keluar. Di dekat sana, ia melihat pemandangan yang sungguh tidak ingin ia lihat. Leo dan Ken. Berduaan. Saling berbagi earphone. Kepala Ken tergeletak di bahu Leo. Keduanya menutup mata. Keduanya pun tersenyum. N bisa tahu apa yang mereka dengarkan. Itu pasti potongan lagu yang mereka cover bersama.
N kemudian membayangkan bila ialah main vocal kedua setelah Leo. Mungkin ia yang berada di samping Leo saat ini. Mendengarkan suara mereka berdua menyatu. Tapi keterbatasan memang penghalang dalam group ini. N memang tidak memiliki suara seindah Ken maupun Leo. Padahal dengan menjadi main vocal, mereka bisa lebih sering latihan bersama. Seperti Leo dan Ken saat ini.
Helaan nafas yang lumayan panjang keluar dari mulut N. Ketika ia baru saja siap melangkah, Ken memanggilnya.
"Eo? N hyung mau kemana?"
"Eh? A- aku.." N melirik Leo. Tapi langsung mengalihkan pandangan ketika Leo membuka mata, dan menatapnya juga penuh tanya. Seperti yang Ken lakukan. "Aku mau keluar membeli makanan. Hongbin dan Hyuk kelaparan karena sejak pagi belum makan. Lagi pula ini sudah pukul 2 siang, kalian juga pasti lapar, kan?"
"Mau aku suruh Ravi untuk ikut dengamu?" Ucap Leo tiba-tiba.
"Ah, ti- tidak perlu.. Dia sudah menawarkan diri tadi, tapi aku memang sedang butuh waktu sebentar untuk sendirian. Baiklah, aku pergi. Kalian tolong awasi para dongsaeng ya? Kalau-kalau mereka bertengkar." N tersenyum kikuk, kemudian dengan cepat keluar dari practice room. Menghindari Leo dan Ken yang kini kebingungan dengan tingkahnya.
.
.
.
.
.
To Be Continued
A/N: Okaay, that was the first chapter? What do you think guys?
Oh ya, author mau minta pendapat aja. Kalian mau HyukBin di cerita ini siapa yang uke? Author bingung memutuskan nih... Jujur, kalo author lebih pengen Bin yang uke :p Tapi Hyuk juga nggak masalah sih... Tapi tergantung reader aja deh, kita vote lewat review ya.
Criticsms are allowed as long you guys are not rude! Thanks, and please wait for the next chapter ;)
